Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH BIOMEDIK I

KIMIA TANAH

Oleh:

Kelompok 6

Waode Sitti Nurul Aulyah (K011191052)

A. Alief Muadz (K011191224)

Ardyansyah Saputra Basri (K011191162)

Khofifah Indra Nensi (K011191210)

Farah Herlia F.P. (K011191069)

Putri Febrian P (K011191137)

Blessing Gloria (K011191014)

Nur LatifahSalman (K011191139)

Crefty Ainil Haq (K011191154)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HASANUDDIN

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan hidayahnya, sehingga penyusunan makalah ini dapat terselesaikan
dalam waktu yang telah ditentukan. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Penyusunan
makalah in merupakan salah satu bentuk syarat penuntasan tugas Mata Kuliah
Biomedik I dengan judul “Kimia Tanah”

Dalam kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan terima kasih dengan
hati yang tulus kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyelesaian
makalah ini, semoga Tuhan senantiasa membalas kebaikan yang berlipat ganda.

Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun dari semua pihak guna perbaikan dan kelengkapan penyusunan
makalah ini, serta semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 17 September 2019

KELOMPOK 6

i
DAFTAR ISI

Judul Makalah

Kata Pengantar............................................................................................. i

Daftar Isi...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang................................................................................. 1


1.2Rumusan Masalah............................................................................ 1
1.3 Tujuan …………............................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Karakteristik Tanah................................................ 3


2.2 Struktur dan Komposisi Kimia dalam Tanah ………..................... 7
2.3 Fase Penyusun Tanah …………………………………………… 10
2.4 Pencemaran Tanah dan Faktor yang Mempengaruhinya…………. 12
2.5 Unsur dan Senyawa Pencemaran Tanah.......................................... 15
2.6 Dampak Pencemaran Tanah dalam Kesehatan ……………….… 17
2.7 Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Tanah terhadap
Kesehatan…………………………………………………………... 18
2.8 Manfaat Tanah dalam Dunia Kesehatan………………………… 22

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………… 24

3.2 Saran…………………………………………………………….. 24

Daftar Pustaka…………………………………………………………… iii

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kita semua tahu Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumber
daya alamnya. Salah satu kekayaan tersebut, Indonesia memiliki tanah yang
sangat subur dan mengandung banyak unsur hara. Namun seiring berjalannya
waktu, kesuburan yang dimiliki oleh tanah Indonesia banyak yang digunakan
sesuai aturan yang berlaku tanpa memperhatikan dampak jangka panjang yang
dihasilkan dari pengolahan tanah tersebut. Salah satu diantaranya,
penyelenggaraan pembangunan pertambangan yang telah menciptakan
lapangan kerja baru bagi penduduk di sekitarnya. Namun keberhasilan itu
diikuti oleh dampak negatif yang merugikan masyarakat dan lingkungan.
Dampak negatif yang menimpa lingkungan perlu mendapatkan perhatian yang
serius karena limbah industri yang mencemari lahan pertanian tersebut
mengandung sejumlah unsur-unsur kimia berbahaya yang bisa mencemari
badan air dan merusak tanah dan tanaman serta berakibat lebih jauh terhadap
kesehatan makhluk hidup. Jika kita ingin mengetahui tentang pencemaran
tanah, maka kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang lingkungan tanah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tanah dan karakteristik yang dimilikinya?


2. Bagaimana struktur dan kandungan kimia yang terdapat dalam tanah?
3. Bagaimana fase terjadinya penyusunan tanah?
4. Apa yang menyebabkan pencemaran tanah dan faktor yang
mempengaruhinya?
5. Unsur dan senyawa kimia apa yang dapat mencemari tanah?
6. Apa dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan?

1
7. Bagaimana cara mencegah dan menaggulangi masalah kesehatan yang
timbul akibat pencemaran tanah?
8. Apa manfaat tanah dalam dunia kesehatan?

1.3 Tujuan

1.Mengetahui defenisi tanah dan karakteristik yang dimilikinya


2.Mengetahui struktur dan kandungan kimia yang terdapat dalam tanah
3.Mengetahui fase penyusunan tanah
4. Mengetahui penyebab pencemaran tanah dan faktor yang
mempengaruhinya
5. Mengetahui unsur dan senyawa yang mencemari tanah
6. Mengetahui dampak pencemaran tanah terhadap kesehatan
7. Mengetahui cara pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan
akibat pencemaran tanah
8. Mengetahui manfaat tanah dalam dunia kesehatan

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian dan Karakteristik Tanah


A. Pengertian Tanah

Kandungan material utama dari Bumi adalah, batuan dan air atau
cairan serta gas dimana material tersebut mengandung berbagai macam
unsur senyawa kimia yang dinyatakan sebagai material pembentuk kulit
bumi.Kulit bumi merupakan lapisan tanah yang merupakan bagian teratas
permukaan bumi dan sebagai tempat tumbuhnya tumbuh-tumbuhan, tempat
bermukimnya manusia serta makhluk hidup lainnya. Tanah terbentuk
melalui hasil pelapukan dan pengendapan batuan yang banyak mengandung
bahan organic maupun anorganik. Tanah (soil) berasal dari bahasa Latin
“solum” yang berarti bagian teratas dari kerak bumi yang dipengaruhi oleh
proses pembentukan tanah.Tanah merupakan akumulasi partikel mineral
yang tidak mempunyai atau lemah ikatan antar partikelnya, yang terbentuk
karena pelapukan dari batuan. Diantara partikel-partikel tanah, terdapat
ruang kosong yang disebut pori-pori yang berisi air dan atau udara.

Tanah merujuk ke material yang tidak membatu, tidak termasuk


batuan dasar, yang terdiri dari butiran-butiran mineral yang memiliki ikatan
yang lemah serta memiliki bentuk dan ukuran, bahan organik, air dan gas
yang bervariasi.

B. Karakteristik Tanah

Tanah memiliki karakteristik yang berbeda tergantung jenisnya

a.Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan daun dan
batang pohon. Tanah ini sangat subur dan sangat cocok untuk digunakan sebagai

3
lahan untuk menanam tanaman serta banyak dijumpai pada daerah hutan hujan
tropis.

Karakteristik tanah humus adalah sebagai berikut :


i.Tanah berwarna gelap, sangat subur dan gembur
ii.Memiliki daya serap yang bagus sehingga cocok untuk lahan bagi
tumbuhnya tanaman
iii.Terbentuk dari hasil pelapukan bagian tumbuhan seperti daun dan batang
iv.Banyak ditemukan pada daerah yang memiliki iklim tropis

b. Tanah Pasir

Tanah pasir adalah tanah tanah yang berasal dari batuan beku dan batuan
sedimen yang terdiri atas butiran kasar dan ada juga yang seperti kerikil.

Ada pun karakteristik tanah berpasir adalah sebagai berikut:

i.Mengandung banyak butiran pasir


ii.Sangat mudah dalam menyerap air
iii.Sangat jarang dijumpai tumbuhan karena tanah pasir sulit untuk ditanami
tumbuhan
iv.Tanah pasir pada umumnya banyak digunakan untuk bahan bangunan
rumah, kantor, tempat beribadah dan lain – lain.

c. Tanah aluvial
Tanah aluvial adalah tanah yang terbentuk dari pengendapan lumpur
sungai dan terletak di dataran rendah. Tanah ini sangat cocok untuk lahan
pertanian karena tanah ini juga sangat subur.

Karakteristik tanah aluvial adalah sebagai berikut:


i.Berwarna cokelat
ii.Banyak mengandung mineral sehingga
iii.Mudah untuk menyerap air
iv.Berbentuk seperti tanah liat

4
v.pH tanah dibawah 6.
vi.Jumlah fosfor dan kalium sangat rendah pada daerah dengan curah hujan
rendah
vii.Sangat mudah untuk proses pengolahannya sehingga dapat menekan biaya
produksi.
viii.Memiliki tekstur tanah liat
ix.Epipedon tanah aluvial tidak memiliki struktur
x.Terdiri atas beberapa bahan induk, yaitu tanah aluvial pasir, lempung,
kapur, basa dan asam.

d. Tanah Podzolit

Tanah podzolit adalah tanah yang terdapat di daerah pegunungan dengan


curah hujan tinggi serta bersuhu rendah dan pada umumnya tanah ini subur.
Tanah jenis ini dapat dijumpai di daerah Sumatra, Jawa Barat, Sulawesi,
Kalimantan dan Papua.

Tanah jenis ini memiliki karakteristik, yaitu:

i.Mengandung sedikit unsur hara


ii.Tidak subur, tanah berwarna merah hingga kuning
iii.Tanah ini juga dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman, seperti jambu
mete.

e. Tanah vulkanik
Tanah vulkanik adalah tanah yang terbentuk akibat letusan gunung
berapi sehingga tanah tersebut sangat subur dan memiliki zat hara yang
banyak.
Adapun karakteristik tanah vulkanik adalah:
i.Memiliki banyak unsur hara seperti N, P, K, Fe dan Al. Sumber unsur hara
tersebut adalah lava gunung berapi.

5
ii.Pada lapisan atas berwarna hitam pekat dan pada lapisan bawah berwarna
cokelat, kemerahan dan kuning. Lapisan tersebut terbentuk dari larva yang
berpijar akibat etusan gunung berapi yang telah mengalami pendinginan
sehingga terbentuk lapisan yang berwarna – warni.
iii.Struktur tanah rentan terhadap erosi
iv.Sangat bagus digunakan untuk lahan pertanian dan perkebunan karena tanah
tersebut emngandung banyak unsur hara.
v.pH tanah 4 – 7.

f. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah yang kehilangan kesuburan dan unsur – unsur
hara karena larut terbawa air hujan dengan intensitas yang tinggi.
Ada pun ciri – ciri dan karakteristik dari tanah laterit adalah sebagai
berikut:
i.Memiliki pH netral
ii.Mengandung bahan organik
iii.Mudah menyerap air
iv.Hanya dapat ditanami oleh tanaman tertentu (Antara lain adalah jagung,
singkong, kopi, coklat, kelapa sawit dan palawija).

g. Tanah Mediteranian
Tanah mediteran adalah tanah yang memiliki tingkat kesuburan yang
rendah dan terbentuk dari proses pelapukan batuan kapur.
Karakteristik dari tanah mediteran adalah sebagai berikut:
i.Tanah ini juga mengandung banyak mineral seperti besi, air, aluminium,
dan senyawa organik lainnya yang membantu menyuburkan tanah.
ii.Tanah ini memiliki pH diatas 7 sehingga termasuk golongan tanah yang
alkalis dan dapat mengikat fosfat.
iii.Warna dari tanah ini adalah merah kekuningan dan ada juga yang berwarna
abu – abu.

6
h. Tanah Organosol
Tanah organosol adalah tanah yang kurang subur untuk ditanami
tanaman. Tanah tersebut terbentuk dari pelapukan tumbuhan rawa.
Adapun ciri- ciri atau karakteristik tanah organosol antara lain adalah:
i.Memiliki unsur hara yang rendah
ii.Tidak terlalu subur apabila dibandingkan dengan tanah humus
iii.Memiliki sifat sangat asam

i. Tanah Andosol
Tanah andosol adalah tanah yang mengandung mineral dan bahan
organik yang tinggi. Selain itu tanah ini juga memiliki karakteristik khusus
yaitu tanahnya gembur, licin, daya absorbsi sedang, memiliki kelembaban
yang tinggi, berwarna cokelat hingga hitam dan lain – lain.

j. Tanah Entisol
Tanah entisol merupakan tanah yang berasal dari pelapukan material
yang berasal dari letusan gunung berapi. Material itu antara lain adalah
debu, pasir, lahar dan lapili. Hal inilah yang menjadikan tanah ini sangat
subur.

2.2 Struktur dan KandunganKimia dalam Tanah

A. Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan karakteristik fisik tanah yang terbentuk


melalui proses agregasi berbagai partikel tanah yaitu agregat (butir) tanah
dan ruang antaragregat (porus atau jamak pori) sertamenghasilkan bentuk
atau susunan tertentu pada tanah.Struktur tanah menentukan ukuran dan
jumlah rongga antar partikel tanah yang mempengaruhi pergerakan
air,udara,akar tumbuhan,dan organisme tanah.Struktur tanah dibedakan
menjadi dua, yaitu tanah berstruktur dan tanah tidak berstruktur. Tanah
berstruktur terdiri dari granular, prismatic, platy, blocky, dan columnar.
Sedangkan tanah tidak berstruktur terdiri dari single grained dan massive.

7
B. Kandungan Kimia dalam Tanah

Kandungan kimia dalam tanah terdiri atas beberapa unsur, yaitu Karbon
(CO32-, HCO3-), Hidrogen (OH-, H+), Nitrogen (NH4+, NO2-, NO32-), Fosfor
(HPO42-, H2PO4-), Kalium (K+), Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg2+),
Belerang (SO32-, SO42-), Besi (Fe2+, Fe3+), Molibden (MoO42-), Mangan (Mn+,
Mn2+), Tembaga (Cu+, Cu2+), Seng (Zn2+), Boron (BO32-), dan Klor (Cl).
Berdasarkan kandungan yang dimiliki oleh tanah dibagi menjadi dua, yaitu
kandungan makro dan kandungan mikro.

a. Kandungan Makro
Kandungan makro adalah kandungan yang terdapat pada tanah dalam
jumlah yang besar seperti nitrogen,fosfor, kalium, sulfur, kalsium, dan
magnesium.

i. Bahan organik
Bahan organik di dalam tanah adalah hasil dekomposisi organisme hidup
yang tersusun dari campuran polisakarida, lignin, dan protein, serta berasal
dari batuan dan mineral. Di dalam bahan organik selalu mengalami
penguraian sebagai aktivitas mikroba tanah. Bahan organik ini biasanya
berwarna coklat dan bersifat koloid yang dikenal dengan humus sehingga
semakin gelap warna suatu tanah maka kandungan bahan organiknya akan
semakin tinggi. Humus terdiri dari bahan organik halus yang berasal dari
hancuran bahan organik kasar serta senyawa-senyawa baru yang dibentuk
dari hancuran bahan organik tersebut melalui suatu kegiatan mikroorganisme
di dalam tanah. Tanah yang mengandung banyak humus atau mengandung
banyak bahan organik adalah tanah-tanah lapisan atas atau tanah-tanah
topsoil. Tanpa bahan organik, tanah dapat mengalami degradasi yang dapat
merusak agregat tanah dan menyebabkan terjadinya pemadatan tanah.
ii.Nitrogen
Nitrogen dalam tanah berasal dari bahan organik tanah, pupuk, air hujan,
dan pengikatan oleh mikroorganisme dari nitrogen udara. Nitrogen terdapat di

8
dalam tanah dalam bentuk organik dan anorganik. Dalam siklusnya, nitrogen
organik di dalam tanah mengalami mineralisasi sedangkan bahan mineral
mengalami imobilisasi. Sebagian Nitrogen terangkut, sebagian kembali
scbagai residu tanaman, hilang ke atmosfer dan kembali lagi, hilang melalui
pencucian dan bertambah lagi melalui pemupukan, serta ada yang hilang atau
bertambah karena pengendapan.
iii. Fosfor
Unsur Fosfor dalam tanah berasal dari bahan organik, pupuk buatan dan
mineral-mineral di dalam tanah. Bentuk fosfor organik biasanya terdapat
banyak di lapisan atas yang lebih kaya akan bahan organik. Kadar Fosfor
organik dalam bahan organik kurang lebih sama kadarnya dalam tanaman
yaitu 0,2 – 0,5 %. Jika kadar Fosfor dalam tanah kurang, maka akan
berdampak pada tanaman yang pembelahan selnya terhambat dan
pertumbuhannya kerdil.
iv.Kalium
Kalium dalam tanah terbentuk dari pelapukan batuan dan mineral-
mineral yang mengandung kalium dan melepaskan ion-ion kalium. Melalui
proses dekomposisi bahan tanaman dan jasad renik maka kalium akan larut
dan kembali ke tanah, selanjutnya sebagian besar kalium tanah yang larut
akan tercuci atau tererosi dan proses kehilangan ini akan dipercepat lagi oleh
serapan tanaman dan jasad renik. Beberapa tipe tanah mempunyai kandungan
kalium yang melimpah.
v.Kalsium
Kalsium tergolong dalam unsur-unsur mineral esensial sekunder seperti
Magnesium dan Belerang. Kalsium dalam tanah yang berbentuk larutan
(Ca2+) dapat habis karena diserap tanaman, diambil jasad renik, terikat oleh
kompleks adsorpsi tanah, mengendap kembali sebagai endapan-endapan
sekunder dan tercuci. Kalsium dalam tanah berperan penting dalam
mengaktifkan pembentukan bulu-bulu akar dan biji serta menguatkan batang
dan membantu keberhasilan penyerbukan, membantu pemecahan sel, serta
membantu aktivitas beberapa enzim.

9
vi. Magnesium

Magnesium yang terkandung dalam tanah sangat berperan penting dalam


proses fotosintesis pada tanaman karena merupakan unsur pembentuk
klorofil. Seperti halnya dengan beberapa unsur hara lainnya, kekurangan
magnesium mengakibatkan perubahan warna yang khas pada daun, sehingga
terkadang terjadi pengguguran daun sebelum waktunya akibat dari
kekurangan magnesium.
vii.Belerang
Sebagian besar belerang di dalam tanah berasal dari bahan organik yang
telah mengalami dekomposisi dan belerang elemental (bubuk/batu/belerang)
dari aktivitas vulkanis. Belerang dari dalam tanah diserap oleh tumbuhan
dalam bentukion sulfat SO4-.

b. Kandungan Mikro
Kandungan mikro pada tanah adalah unsur hara adalah unsur hara yang
dibutuhkan tanaman dalam jumlah yang kecil, tapi sangat berperan penting
pada pertumbuhan, antara lain Besi (Fe), Mangan (Mn), Seng (Zn), Tembaga
(Cu), Molibden (Mo), Boron (B) dan Klor(Cl).

2.3 Fase Penyusun Tanah

Sifat kimia tanah dipengaruhi oleh fenomena kimia yang terutama terjadi
antara fase padat dan fase cairnya. Menurut hukum aksi masa berbagai
bahan dibentuk menjadi larutan. Kesetimbangan terjadi di dalam tanah
antara bagian padat dan larutannya, bila kadarnya di dalam larutan
mengecil, sebagian bahan yang dalam fase padat masuk kedalam larutan dan
sebaliknya bila kadar dalam larutan meningkat sebagian bahan mengendap
dan bergabung lagi dalam fase padat di dalam tanah. Pada umumnya
komposisi tanah diketahui berdasarkan 3 fase yaitu :

1. Fase padat (50%) : bahan anorganik (45%) dan bahan organic (5%)
2. Fase cair (25%)

10
3. Fase gas (25%)

A. Fase Padat

a. Bahan Anorganik (Mineral)


Bahan ini merupakan kerangka tanah. Bahan ini berasal dari mineral
hasil pelapukan bahan induk (biasa disebut sebagai mineral primer).

b. Bahan Organik
Bahan organik tanah terdiri dari sisa-sisa tumbuhan maupun hewan yang
berada di dalam tanah. Bahan organik ini termasuk dalam fase padat karena
berbentuk koloid. Bahan organik tanah berdasarkan pengetahuan kimia
yaitu: senyawa karbonat, protein, lignin, humus serta sejumlah kecil
senyawa lain. humus merupakan hasil perombakan bahan organik dalam
tanah. Humus ini terbentuk melalui proses biokimia majemuk yang rumit,
dalam proses inipun peranan jasad renik ternyata penting.

c. Partikel Tanah
Fase padat terdiri atas partikel tanah yang merupakan butir-butir bahan
yang menyusun tanah dalam berbagai ukuran yang disebut fraksi.

d. Fraksi Tanah
Fraksi tanah adalah sekelompok partikel-partikel tanah yang mempunyai
kisaran ukuran yang sama, serta dibagi menjadi 3 macam :

i.Fraksi pasir
ii.Fraksi debu
iii.Fraksi lempung

Secara umum fase padat merupakan campuran mineral dan bahan


organik dan membentuk jaringan kerangka tanah. Dalam jaringan ini
terbungkus sistim ruang pori yang ditempati bersama fase cairan dan gas.
Komposisi, perilaku kimia fase cairan dan gas ditentukan oleh interaksi
dengan fase padat. Fase gas atau udara tanah merupakan campuran dari

11
berbagai gas. Kandungan dan komposisi udara tanah ditentukan oleh
hubungan air tanah-tanaman. Kebanyakan reaksi biologi di dalam tanah
menggunakan oksigen yang menghasilkan karbon dioksida yang memuat
aerasi tanah penting bagi tanaman.

B. Fase Cair

Fase cair penyusun tanah adalah air yang menempati pori mikro tanah
dan biasa disebut sebagai larutan tanah. Fase cairan terdiri atas air dan zat-
zat terlarut.Zat-zat terlarut ini kadang-kadang berupa garam bebas, bahan-
bahan koloid lainnya dan kaloid zat oranik terlarut. Larutan tanah adalah air
yang terdapat diantara pori-pori tanah, larutan ini mengandung ion-ion
terlarut yang dapat diserap oleh akar tanaman diantaranya terdapat juga ion-
ion yang tidak berguna atau bersifat racun bagi tanaman seperti aluminium.
Larutan tanah identik larutan garam yang mudah berubah konsentrasinya
(kepekatan) dan susunan kimianya. Bagian cair tanah mengacu pada tanah
yang mengandung zat larut. Juga secara ketat didefinisikan sebagai
kelembaban tanah. Zat larut, zat gas, garam-garam anorganik organik dan
sederhana, beberapa di antaranya fase padat terserap oleh tanah. Sistem
tanah-fase dalam larutan tanah dipadatkan dan fase cair pada antarmuka,
beberapa proses kimia tanah, termasuk transformasi hara dan proses migrasi
yang dilakukan dalam hal ini.

C. Fase Gas

Fase gas adalah udara yang menempati pori makro tanah dan berfungsi
dalam respirasi akar.

2.4 Faktor Pembentukan Tanah

A. Iklim

Iklim memiliki unsur -unsur yang memengaruhi proses pembentukan


tanah. Unsur iklim tersebut terutama adalah suhu dan curah hujan. Suhu

12
mempengaruhi proses pelapukan bahan induk. Apabila suhu tinggi, maka
proses pelapukan dapat berlangsung dengan lebih cepat sehingga
pembentukan tanah juga akan semakin cepat.Sementara itu, curah hujan
sangat mempengaruhi kekuatan erosi serta pencucian tanah. Padahal,
pencucian tanah yang berlangsung cepat dapat mengakibatkan tanah
menjadi asam atau pH tanah semakin rendah sehingga proses pembentukan
tanah pun juga semakin cepat.

B. Organisme (Vegetasi dan Jasad Renik)

Organisme seperti vegetasi dan jasad renik memberikan pengaruh yang


cukup besar terhadap proses pembentukan tanah. Pengaruh tersebut, antara
lain :

a. Membantu proses pelapukan, khususnya proses pelapukan organik.

b. Membantu proses pembentukan humus. Sebab, tumbuh -tumbuhan akan


menghasilkan dedaunan serta ranting -ranting yang menumpuk pada
permukaan tanah. Dedaunan dan ranting yang menumpuk ini akan
membusuk dengan bantuan jasad renik atau mikroorganisme yang ada di
dalam tanah.

c. Jenis vegetasi sangat berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Misalnya,


pada vegetasi hutan, dapat membentuk tanah hutan yang memiliki warna
merah. Sementara untuk vegetasi rumput, dapat mengakibatkan
pembentukan tanah yang berwarna hitam karena banyak mengandung bahan
organik.

d. Kandungan unsur-unsur kimia yang ada pada tanaman dapat


mempengaruhi sifat-sifat tanah. Hal ini dapat terjadi contohnya, bila ada
tanaman jenis cemara, maka tanaman ini akan memberikan unsur-unsur
kimia, seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah. Akibatnya, tanah yang ada
di bawah pohon cemara akan memiliki derajat keasaman yang lebih tinggi
daripada tanah yang ada di bawah pohon jati.

13
C. Bahan Induk

Bahan induk tanah adalah bahan pembentuk utama atau asal dari tanah
tersebut. bahan induk terdiri dari batuan vulkanik, batuan beku, batuan
sedimen, serta batuan metamorf. Batuan induk ini akan hancur menjadi
bahan induk, lalu mengalami pelapukan, dan menjadi tanah.Umumnya,
tanah yang ada di permukaan bumi, akan memperlihatkan adanya sifat yang
sama dengan bahan induknya, terutama dalam sifat kimianya. Bahan induk
yang masih terlihat ini umumnya seperti tanah dengan struktur pasir yang
berasal dari bahan induk dengan kandungan pasir tinggi.

Selain itu, susunan kimia dan mineral dari bahan induk dapat memengaruhi
intensitas dari tingkat pelapukan dan vegetasi yang ada di atasnya. Bahan
induk yang banyak mengandung unsur Ca akan membentuk tanah yang juga
memiliki kadar ion Ca yang banyak.Hal ini menghindarkan tanah dari
penyucian asam silikat yang dapat menyebabkan tanah berwarna kelabu.
Sebaliknya, apabila bahan induk memiliki kandungan kapur yang kurang,
maka hasilnya dapat terbentuk tanah yang warnanya lebih merah.

D. Topografi atau Relief

Keadaan relief dari suatu daerah dapat memengaruhi pembentukan tanah.


Pengaruh topografi ini seperti :

a. Tebal atau tipisnya lapisan tanah. Dalam hal ini, untuk daerah dengan
topografi yang miring dan berbukit, maka lapisan tanah di atasnya menjadi
lebih tipis akibat erosi. Sementara pada daerah yang datar, lapisan tanah
cenderung lebih tebal karena terjadi proses sedimentasi.

14
b. Sistem drainase atau pengaliran. Daerah yang memiliki sistem drainase
yang cukup jelek biasanya akan lebih sering tergenang air. Kondisi inilah
yang dapat menyebabkan tanah menjadi cendeng asam.

E. Waktu

Tanah merupakan suatuu benda yang ada di alam, yang terus menerus
mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi ini diakibatkan oleh
pelapukan dan penyucian yang terjadi secara terus menerus pula. Proses
yang terus berlangsung inilah yang menyebabkan tanah akan menjadi
semakin tua dan kurus.Jika ini terjadi, mineral tanah yang banyak
mengandung unsur hara akan habis akibat adanya proses pelapukan.
Kemudian yang tertinggal hanyalah mineral yang sukar lapuk, seperti
kuarsa.

2.5 Pencemaran Tanah dan Faktor yang Mempengaruhinya

A. Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah merupakan sebuah kondisi dimana berbagai unsur


yang yang bersifat merusak tercampur dalam kandungan tanah, dapat
berupa bahan kimia, atau zat-zat berbahaya lainnya yang tentunya tidak baik
dan bisa membahayakan makhluk hidup. Pencemaran tanah dapat terjadi
secara alamiah maupun secara tidak sengaja dan terjadi secara alamiah serta
secara tidak sengaja dan terjadi secara tidak alamiah

Pencemaran tanah yang terjadi secara alamiah tidak lain diakibatkan oleh
beberapa proses alami yang akhirnya menyebabkan adanya akumulasi tanah
dengan bahan kimia beracun, namun hal ini tidak banyak terjadi. Sedangkan
untuk yang tidak di sengaja namun tidak terjadi secara alami adalah
sebagaimana adanya kebocoran limbah, atau masuknya air tercemar dalam
permukaan tanah. Adapun untuk pencemaran tanah secara di sengaja dan
tidak alami diantaranya seperti adanya penggunaan pestisida yang
berlebihan dan pembuangan limbah sembarangan.

15
B. Faktor yang Mempengaruhi Pencemaran Tanah

Secara umum, penyebab pencemaran tanah dapat dibedakan menjadi 2


faktor, yaitu faktor buatan manusia dan faktor alam. Yang termasuk faktor
buatan manusia meliputi pencemaran yang disebabkan oleh limbah
(polutan) yang dihasilkan dari segala aktivitas manusia, misalnya
pembuangan sampah anorganik, penggunaan pestisida dan pupuk anorganik,
serta pembuangan limbah cair ke tanah. Sedangkan yang termasuk faktor
alam meliputi pencemaran tanah yang disebabkan secara natural oleh
fenomena alam, misalnya hujan asam.

1. Pembuangan Sampah Anorganik


Pembuangan sampah anorganik ke badan tanah merupakan penyebab
utama pencemaran tanah. Sampah-sampah anorganik seperti pecahan kaca,
plastik, logam, dan material karet akan sulit terdekomposisi oleh
mikroorganisme tanah dalam waktu yang singkat. Keberadaan sampah-
sampah tersebut pada akhirnya dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah
serta daya guna lahan. Tumbuhan tidak dapat hidup pada lingkungan yang
demikian sehingga akan dapat mengganggu keseimbangan ekosistem mikro
dalam jangka waktu yang lama.
2. Penggunaan Pestisida

Penggunaan pestisida secara masif pada lahan-lahan pertanian akan


meninggalkan residu berupa racun-racun anorganik. Residu tersebut akan
membuat matinya organisme tanah, baik yang berupa mikrofauna,
mikroflora, makrofauna, hingga makroflora. Tanah dengan tingkat
kesuburan biologis yang rendah akibat kematian mikroorganisme tanah
akan membuat daya guna tanah sebagai tempat hidup tumbuh-tumbuhan
sebagai organisme produsen tidak maksimal.

16
3. Penggunaan Pupuk Anorganik

Selain pestisida, pupuk anorganik yang selalu digunakan dalam industri


pertanian juga merupakan penyebab pencemaran tanah yang perlu mendapat
perhatian serius. Penggunaan pupuk anorganik yang sebetulnya ditujukan
supaya tanaman dapat tumbuh optimal akan meninggalkan residu yang
berdampak pada kerusakan struktur tanah dan tingkat kesuburan tanah.

4. Pembuangan Limbah Cair Industri dan Rumah Tangga

Penyebab pencemaran tanah lainnya adalah pembuangan berbagai


limbah cair rumah tangga seperti sisa deterjen dan sabun, serta limbah cair
industri ke badan tanah. Limbah-limbah semacam ini tidak bisa diuraikan
dalam jangka waktu singkat oleh mikroba tanah. Hal tersebut disebabkan
karena mikorba-mikroba tersebut justru akan mati akibat sifat racun yang
dimiliki limbah cair.

5. Penimbunan Senyawa Asam


Hujan asam yang diakibatkan abu vulkanik hasil letusan gunung berapi
menimbulkan efek samping yang cukup serius dalam jangkauan wilayah
yang luas bagi kerusakan tanah. Kandungan asam yang terlalu tinggi pada
air hujan membuat pH tanah akan mengalami penurunan drastis. Akibatnya,
mikroorganisme tanah yang tidak mampu beradaptasi akan mati. Selain itu,
struktur tanah juga akan mengalami perubahan dan menyebabkan tumbuhan
menjadi tidak mampu bertahan hidup.

2.6 Dampak Pencemaran Tanah dalam Kesehatan

Dalam jangka waktu yang lama, polusi tanah dapat membawa dampak
buruk terhadap kesehatan, seperti:

1. Paparan benzene dalam konsentrasi tinggi sering dihubungkan dengan


meningkatnya risiko leukemia dan kanker sel darah lain.

17
2. Polusi tanah yang disebabkan merkuri dapat memicu kerusakan ginjal,
kerusakan saraf, penyakit jantung, dan kerusakan fungsi kekebalan tubuh.
3. Paparan timbal pada tanah yang tercemar berdampak buruk pada
kesehatan beberapa organ tubuh, seperti hati, ginjal, limpa, dan paru.
4. Polusi tanah yang disebabkan oleh zat arsenik dalam jangka panjang
dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes, paru, kardiovaskular,
dan kanker kulit.
5. Paparan pestisida dan herbisida dalam jangka panjang dapat
meningkatkan risiko penyakit kanker dan masalah sistem saraf atau hormon.

Dalam kadar paparan yang sangat tinggi, pencemaran tanah bahkan dapat
menyebabkan kematian. Keracunan bahan kimia dari polutan tanah seperti
timbal dapat menumpuk dalam tubuh hingga hitungan bulan dan tahun.
Padahal timbunan bahan ini dalam kadar sedikit pun dalam tubuh dapat
mendatangkan gangguan kesehatan serius. Pada anak usia di bawah 6 tahun,
timbunan timbal dapat mengganggu perkembangan kesehatan mental dan
fisik.
Pada kasus pencemaran tanah yang menyebabkan pencemaran pada air,
memasak air tersebut hingga mendidih bukanlah solusi. Air tanah yang
tercemar timbal misalnya, jika direbus justru akan menyebabkan konsentrasi
timbal meningkat.

2.7 Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Tanah Terhadap


Kesehatan

Pencegahan dan penanggulangan merupakan dua tindakan yang tidak


dapat dipisahkan. Biasanya kedua tindakan ini dilakukan untuk saling
menunjang, apabila tindakan pencegahan sudah tidak dapat dilakukan, maka
dilakukan penanggulangan. Namun, tindakan pencegahan lebih baik dan
lebih diutamakan dilakukan sebelum pencemaran terjadi, apabila
pencemaran sudah terjadi baik secara alami maupun akibat aktivisas

18
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baru kita lakukan tindakan
penanggulangan.

Tindakan pencegahan dan tindakan penanggulangan terhadap terjadinya


pencemaran dapat dilakukan dengan berbagai cara sesuai dengan bahan
pencemar yang perlu ditanggulangi. Langkah-langkah pencegahan dan
penanggulangan terhadap terjadinya pencemaran antara lain dapat dilakukan
sebagai berikut:

A. Langkah pencegahan

Pencegahan pada prinsipnya adalah berusaha untuk tidak menyebabkan


terjadinya pencemaran, misalnya mencegah atau mengurangi terjadinya
bahan pencemar, langkah yang dapat dilakukan antara lain:

a. Sampah organik yang dapat membusuk oleh mikroorganisme dapat


dikubur dalam tanah secara tertutup dan terbuka, kemudian dapat diolah
sebagai kompos atau pupuk. Untuk mengurangi terciumnya bau busuk dari
gas- gas yang timbul pada proses pembusukan, maka penguburan sampah
dilakukan secara berlapis-lapis dengan tanah.
b. Pengolahan terhadap limbah industri yang mengandung logam berat
yang akan mencemari tanah, sebelum dibuang ke sungai atau ke tempat
pembuangan agar dilakukan proses pemurnian.
c. Sampah zat radioaktif sebelum dibuang, disimpan dahulu pada tangki
dalam jangka waktu yang cukup lama sampai tidak berbahaya, baru dibuang
ke tempat yang jauh dari pemukiman
d. Penggunaan pupuk, pestisida tidak digunakan secara sembarangan
namun sesuai dengan aturan dan tidak sampai berlebihan.

19
B. Langkah Penanganan

Penanganan khusus terhadap limbah domestik yang berjumlah sangat


banyak diperlukan agar tidak mencemari tanah. Pertama sampah tersebut
kita pisahkan ke dalam sampah organik yang dapat diuraikan oleh
mikroorganisme (biodegradable) dan sampah yang tidak dapat diuraikan
oleh mikroorganisme (non-biodegradable). Akan sangat baik jika setiap
rumah tangga bisa memisahkan sampah atau limbah atas dua bagian yakni
organik dan anorganik dalam dua wadah berbeda sebelum diangkut
ketempat pembuangan akhir.

Sampah organik yang terbiodegradasi bisa diolah, misalnya dijadikan


bahan urukan, kemudian kita tutup dengan tanah sehingga terdapat
permukaan tanah yang dapat kita pakai lagi; dibuat kompos; khusus kotoran
hewan dapat dibuat biogas dll sehingga dalam hal ini bukan pencemaran
tanah yang terjadi tetapi proses pembusukan organik yang alami.

Sampah anorganik yang tidak dapat diurai oleh mikroorganisme. Cara


penanganan yang terbaik dengan daur ulang. Kurangilah penggunaan pupuk
sintetik dan berbagai bahan kimia untuk pemberantasan hama seperti
pestisida. Limbah industri harus diolah dalam pengolahan limbah, sebelum
dibuang kesungai. atau kelaut. Kurangilah penggunaan bahan-bahan yang
tidak bisa diuraikan oleh mikroorganisme (non-biodegradable). Salah satu
contohnya adalah dengan mengganti plastik sebagai bahan
kemasan/pembungkus dengan bahan yang ramah lingkungan seperti dengan
daun pisang atau daun jati.

Ada beberapa langkah penanganan untuk mengurangi dampak yang


ditimbulkan oleh pencemaran tanah. Diantaranya:

a. Remediasi
Remediasi adalah kegiatan untuk membersihkan permukaan tanah yang
tercemar. Ada dua jenis remediasi tanah, yaitu in-situ dan ex-situ.

20
Pembersihan on-site adalah pembersihan di lokasi. Pembersihan ini lebih
murah dan lebih mudah, terdiri dari pembersihan dan venting (injeksi)

Pembersihan off-site meliputi penggalian tanah yang tercemar dan


kemudian dibawa ke daerah yang aman. Setelah itu di daerah aman, tanah
tersebut dibersihkan dari zat pencemar. Caranya yaitu, tanah tersebut
disimpan di tangki yang kedap, kemudian zat pembersih dipompakan ke
tangki tersebut. Selanjutnya zat pencemar dipompakan keluar dari bak yang
kemudian diolah dengan instalasi pengolah air limbah. Pembersihan off-site
ini jauh lebih mahal dan rumit.

b. Bioremediasi
Bioremediasi adalah proses pembersihan pencemaran tanah dengan
menggunakan mikroorganisme (jamur, bakteri). Bioremediasi bertujuan
untuk memecah atau mendegradasi zat pencemar menjadi bahan yang
kurang beracun atau tidak beracun.

c. Fitoromediasi.
Fitoremediasi adalah teknologi pembersihan, penghilangan atau
pengurangan polutan berbahaya, seperti logam berat, pestisida, dan senyawa
organik beracun dalam tanah dengan menggunakan bantuan tanaman
(hiperakumulator plant). Terdapat beberapa keunggulan dari karakteristik
tanaman hiperkumulator yaitu, mampu menyerap lebih dari 10.000 ppm
Mn, Zn, Ni; menyerap lebih dari 1.000 ppm untuk Cu dan Se; dan menyarap
lebih dari 100 ppm untuk Cd, Cr, Pb, dan Co.

Proses Fitoremediasi

i.Phytoacumulation : tumbuhan menarik zat kontaminan sehingga


berakumulasi disekitar akar tumbuhan
ii.Rhizofiltration : proses adsorpsi / pengendapan zat kontaminan oleh akar
untuk menempel pada akar.

21
iii.Phytostabilization : penempelan zat-zat contaminan tertentu pada akar yang
tidak mungkin terserap kedalam batang tumbuhan.
iv.Rhyzodegradetion : penguraian zat-zat kontaminan oleh aktivitas microba
v.Phytodegradation : penguraian zat kontamin
vi.Phytovolatization : transpirasi zat contaminan oleh tumbuhan dalam bentuk
yang telah menjadi larutan terurai sebagai bahan yang tidak berbahaya

2.8 Manfaat Tanah dalam Dunia Kesehatan

Jenis tanah yang memiliki banyak manfaat dalam dunia kesehatan adalah
tanah liat. Selain digunakan sebagai bahan baku pembuatan keranik, tanah
liat juga memiliki beberapa manfaat untuk kesehatan, diantaranya:

1. Lulur Alami
Tanah liat diketahui dapat digunakan sebagai lulur atau masker tubuh alami
karena mengandung zat baik yang bermanfaat untuk kulit.

2. Menyehatkan Pencernaan
Tanah liat memiliki kandungan alami seperti kaolin dan zat yang berbentuk
seperti sponge yang dapat membersihkan racun jahat bernama
aflatoxin.Manfaat kaolin dalam tanah liat juga bisa digunakan untuk
mengobati diare, menguatkan pencernaan, dan menjaga sistem kekebalan
tubuh.

3. Detoksifikasi Tubuh
Secara alami, tanah liat memiliki fungsi detoksifikasi yang bagus karena
mengandung muatan listrik negatif untuk menangkal racun dari
tubuh.Masalah racun adalah penyebab utama timbulnya alergi makanan,
masalah pencernaanm hingga sakit kepala kronis.

4. Pemurni Air
Tanah liat bentonit dapat membantu mengurangi racun yang terdapat dalam
makanan ataupun lingkungan.Anda bisa memanfaatkan tanah liat yang

22
dicampur dengan magnesium klorida untuk membersihkan florida pada air
minum agar aman dikonsumsi.

5. Menyembuhkan Luka
Mengatasi sakit kepala akut, menyembuhkan luka, serta menyamarkan
bekas luka dapat diatasi dengan mudah menggunakan tanah liat.Semua
manfaat di atas bisa didapatkan karena adanya kandungan zink serta zat besi
yang baik pada tanah liat.

6. Mencegah Infeksi
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tanah liat mengandung zat positif
yang dapat mencegah infeksi serta menghambat berbagai jeni bakteri
berbahaya pada luka.Bakteri tersebut di antaranya Escherichia coli,
Salmonella typhimurium, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aerus,
dan Mycobacterium marinum.

7. Anti Kanker
Manfaat terakhir sekaligus manfaat paling besar dari penggunaan tanah liat
adalah untuk mencegah dan mengobati kanker.Tanah liat bersifat anti-
karsinogenik sehingga secara medis dapat mencegah munculnya sel kanker
dalam tubuh dan bahkan mampu membersihkannya.

23
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Tanah berasal dari kata “solum”yang berarti bagian teratas dari kerak
bumi yang dipengaruhi oleh proses pembentukan tanah. Tanah memiliki
karakteristik yang berbeda tergantung pada jenisnya. Adapun jenis tanah ialah
tanah humus, tanah pasir, tanah alluvial, tanah podzolit, tanah vulkanik, tanah
laterit, tanah mediteranian, tanag organosol, tanah andosol, dan tanah entisol.
Struktur tanah dibedakan menjadi dua yakni tanah berstruktur dan tidak
berstruktur. Tanah berstruktur terdiri dari granular, prismatic, platy, blocky, dan
columnar. Sedangkan tanah tidak berstruktur teridiri daro single grained dan
massive. Kandungan zat kimia dalam tanah terbagi menjadi dua yakni
kandungan makro dan kandungan mikro. Pada umumnya komposisi tanah
diketahui berdasarkan 3 fase, yaitu fase padat 50% : bahan anorganic (45%) dan
bahan organic (5%), fase cair 25%, dan fase gas 25%. Pembentukan tanah
dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya iklim, organisme (vegetasi dan
jasad renik), bahan induk tanah itu sendiri, topografi/relief, dan waktu. Dewasa
ini pencemaran tanah marak terjadi. Adapun faktor yang mempengaruhi
pencemaran tanah ialah pembuangan sampah anorganik, penggunaan pestisida,
penggunaan pupuk anorganik, pembuangan limbah cair industry dari rumah
tangga, dan penimbunan senyawa asam. Pencemaran tanah itu sendiri membawa
dampak yang cukup serius dalam dunia kesehatan. Namun hal tersebut dapat
diminimalisirkan dengan melakukan langakh pencegahan dan penanggulan.
Ternyata, tanah juga dapat membawa manfaat terutama dalam dunia kesehatan.
Manfaat tersebut diantaranya sebagai lulur alami, menyehatkan pencemaran,
detoksifikasi tubuh, pemurni air, menyembuhkan luka, mencegah infeksi, dan
anti kanker.

3.2. Saran

Untuk lebih memahami semua tentang tanah dan pencemaran tanah,


disarankan para pembaca mencari referensi lain yang berkaitan dengan materi
pada makalah ini. Selain itu, diharapkan para pembaca setelah membaca
makalah ini mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari- hari dalam
menjaga kelestarian tanah beserta penyusun yang ada di dalamnya

24
10
DAFTAR PUSTAKA

Sania Dinata. 2014. Makalah Kimia Lingkungan (Tanah).


https://www.academia.edu/9975673/MAKALAH_KIMIA_LINGKUNGAN_TA
NAH . (18 September 2019)

Desti Putri. 2013. Bahan Organik Tanah.


https://www.academia.edu/9388143/Bahan_Organik_Tanah . ( )

Elmi Rahmatika. 2019. Ternyata, Sebanyak ini Manfaat Tanah


Liat Bagi Rumah dan Kesehatan. https://www.99.co/blog/indonesia/manfaat-
tanah-liat. (18 September 2019)

Dr. Allert Benedicto Leuna Noya. 2018. Waspadai Penyakit Akibat


Polusi Tanah di Sekitar Anda. https://www.alodokter.com/waspdai-gangguan-
kesehatan-akibat-polusi-tanah-di-sekitar-anda. (16 September 2019)

iii