Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH AQIDAH ISLAM

“SYI’AH”

OLEH :
Nama : Ryan Pratikto
Stambuk : 09220180039
Jurusan : Teknik Kimia
Fakultas : Teknologi Industri

FAKULTAS TEKNOLOGI
INDUSTRI UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2018
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Syiah adalah madzhab yang pertama lahir dalam Islam. Madzhab
Syiah memiliki visi politiknya sendiri, sebagian dekat dan sebagian lain jauh
dari agama. Madzhab ini tampil pada akhir masa pemerintahan Utsman,
kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali. Setiap kali Ali
berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat,
kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu, para propagandis Syiah
mengeksploitasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarkan
pemikiran-pemikiran mereka tentang dirinya.
Di antara pemikiran itu ada yang menyimpang, dan ada pula yang
lurus. Ketika keturunan Ali yang sekaligus keturunan Rasulullah mendapat
perlakuan zalim yang semakin hebat dan banyak mengalami penyiksaan pada
masa bani Umayyah, rasa cinta mereka terhadap keturunan Ali semakin
mendalam. Mereka memandang Ahlulbait ini sebagai Syuhada dan korban
kedzaliman. Dengan demikian, semakin meluaslah daerah madzhab Syiah dan
pendukungnya semakin banyak. Golongan Syiah beranggapan bahwa
Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan anak keturunannya lebih berhak menjadi
khalifahdaripada orang lain, berdasarkan wasiat Nabi. Masalah khalifah ini
adalah soal politik yang dalam perkembangan selanjutnya mewarnai
pandangan mereka di bidang agama.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan syi’ah ?
2. Bagaimana sejarah munculnya aliran syi’ah ?
3. Apa saja aliran syi’ah ?
4. Bagaimana perkembangan syi’ah dan bahayanya terhadap Indonesia ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui yang dimaksud dengan syi’ah
2. Untuk mengetahui sejarah munculnya aliran syi’ah
3. Untuk mengetahui saja aliran syi’ah
4. Untuk mengetahui perkembangan syi’ah dan bahayanya terhadap
Indonesia
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Syi’ah
Kata Syi’ah menurut bahasa adalah pendukung atau pembela. Syiah
Ali adalah pendukung atau pembela Ali. Syiah Mu’awiyah adalah pendukung
Mu’awiyah. Pada zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman kata Syiah dalam arti
nama kelompok orang Islam belum dikenal. Kalau pada waktu pemilihan
khalifah ketiga ada yang mendukung Ali, tetapi setelah ummat Islam
memutuskan memilih Utsman bin Affan, maka orang-orang yang tadinya
mendukung, Ali, berbaiat kepada Utsman termasuk Ali. Jadi belum terbentuk
secara faktual kelompok ummat Islam Syiah.
Maka ketika terjadi pertikaian dan peperangan antara Ali dan
Mu’awiyah, barulah kata “Syiah” muncul sebagai nama kelompok ummat
Islam. Tetapi bukan hanya pendukung Ali yang yang disebut Syiah, namun
pendukung Mu’awiyah juga disebut Syiah Mu’awiyah.
Kata Syi’ah menurut Istilah atau terminologis bahwa Syiah spesifik
dengan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Tholib), yang membelanya serta
sumpah setia kepadanya, begitu pula percaya serta beri’itiqat terhadap
kepemimpinan sesudah Rasulullah, tanpa suatu pembatas (artinya langsung
setelah Rasulullah) dan menolak kepemimpinan siapa saja yang menjadi
khalifah sebelumnya (yaitu Abu bakar, Umar dan Utsman).
Kepemimpinan umat Islam dan siapa yang menjadi pengganti
Rasulullah SAW menjadi awal permasalahan dan menjadi polemik
pertarungan antar umat Islam saat itu, karena adanya firqah-firqah yang saling
memperebutkan bangku-bangku kekhalifahan, diantaranya kaum Muhajirin
dan kaum Syiah yaitu kelompok Ali Bin Abi Tholib, yang membawa calon
masing untuk menjadikan khalifah Al-Rasul.
Syiah adalah mazhab politik yang pertama lahir dalam Islam. Seperti
telah disinggung, mazhab mereka tampil pada akhir masa pemerintahan,
Utsman, kemudian tumbuh dan berkembang pada masa Ali. Setiap kali Ali
berhubungan dengan masyarakat, mereka semakin mengagumi bakat-bakat,
kekuatan beragama, dan ilmunya. Karena itu, para propagandis Syiah
mengeksplorasi kekaguman mereka terhadap Ali untuk menyebarkan
pemikiran-pemikiran mereka tentang dirinya.

B. Sejarah Syi’ah
Golongan Syiah muncul pada akhir masa khalifah ketiga, Utsman
kemudian tumbuh dan berkembang pada masa khalifah Ali. Ali sendiri tidak
pernah berusaha untuk mengembangkannya, tetapi bakat-bakat yang
dimilikinya telah mendorong perkembangan itu. Ketika Ali wafat
perkembangan ke-Syiah-an itu menjadi mazhab-mazhab. Sebagiannya
menyimpang dan sebagian lainnya lurus. Namun, keduanya sama-sama
fanatik terhadap keluarga Nabi.
Biang keladi timbulnya Syiah adalah seorang Yahudi dari Yaman,
bernama Abdullah bin Saba. Ia masuk Islam pada zaman khalifah ketiga
Utsman bin Affan. Ia berkeinginan untuk mendapat kepercayaan dan
kedudukan istimewa dalam pemerintahan Utsman, tetapi hal itu tidak
terlaksana.
Para ahli sejarah menggambarkan bahwa Abdullah bin Saba
menunjukkan keheranannya terhadap umat Islam yang percaya akan
kedatangan kembali Nabi Isa ke dunia. Tetapi mereka tidak bahwa Nabi
Muhammad akan kembali hidup lagi di dunia ini, padahal Muhammad lebih
utama daripada Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Sedikit sekali orang yang
mengetahui tentang Abdullah bin Saba dan madzhabnya. Dalam karangan
Syiah Abdullah bin Saba tidak dikenal, dan orang-orang Syiah menyatakan
berlepas tangan tentang ucapan dan amalannya.
Menurut ajaran Syiah ada beberapa catatan yang mendorong
timbulnya golongan ini, yaitu kejadian-kejadian pada masa awal munculnya
pertumbuhan Islam. Selanjutnya, selama dua puluh tiga masa kenabian, telah
menimbulkan berbagai keadaan yang meniscayakan munculnya kelompok
semacam kaum Syiah di antara para sahabat Nabi.
Pada hari-hari pertama kenabiannya, sesuai dengan ayat al-Quran,
ketika dia diperintahkan untuk mengajak kerabat terdekatnya untuk memeluk
agamanya, Nabi Muhammad SAW menjelaskan kepada mereka bahwa siapa
pun yang pertama-tama memenuhi ajakannya akan menjadi penerus dan
pewarisnya. Ali adalah yang pertama tampil ke depan dan memeluk Islam.
Nabi menerima penyerahan diri Ali dan kemudian memenuhi janjinya.
Bagi kaum Syiah, bukti utama tentang sahnya Ali sebagai penerus
Nabi adalah peristiwa tentang Ghadir Khumm. Kaum Syiah berkeyakinan
bahwa sebenarnya Nabi telah menunjuk calon penggantinya, dan calon
tersebut adalah Ali. Menurut mereka penunjukan tersebut dilakukan Nabi
dalam perjalanannya kembali dari haji wada’, pada tanggal delapan belas
Dzulhijjah tahun kesebelas Hijriah (623 M). Di suatu tempat yang benama
Ghadir Khumm (Kolam Khum), dimana Nabi telah membuat pernyataan
bersejarah yang telah diriwayatkan dalam berbagai versi.
Menurut Abdurrahman Navis dkk, mengutip Abdul Mun’im al-Hafni,
Kelompok Syiah muncul sebagai pengaruh dari agama Yahudi. Sebagian
orang, bahkan mengatakan bahwa kelompok Syiah adalah Yahudinya kaum
Muslimin. Hal ini disebabkan karena mereka sangat membenci Islam
sebagaimana orang-orang Yahudi sangat membenci Nasrani. Mereka masuk
Islam bukan karena ingin mencari ridha Allah SWT, melainkan karena ingin
menyebarkan kerusakan, fitnah dan perpecahan di tubuh kaum Muslimin,
serta menanamkan keraguan atas keimanan di hati kaum Muslimin. Mereka
berkata seperti pekataan orang-orang Yahudi, “tidak ada kekuasaan kecuali
pada keluarga nabi”, sebagaimana kaum Yahudi berkata, “tidak ada kekuasaan
kecuali pada keluarga Dawud”. Syiah sebagai salah satu sekte, pada dasarnya
lahir dari kekacauan yang terjadi di tubuh umat Islam periode awal, yang
direkayasa oleh Yahudi.
Lahirnya kelompok Syiah karena pengaruh agama Nasrani. Pendapat
tersebut didasarkam pada perkataan kelompok Syiah Sabaiyyah, “Ali bin Abi
Thalib tidak mati terbunuh, akan tetapi Allah menyerupakan seseorang dengan
rupanya, dan Ali turun untuk menegakkan keadilan dan menyebarkan.

C. Macam-macam Aliran Syi’ah


Dalam sekte Syi’ah terdapat beberapa kelompok, ada yang ekstrim
(gulat), moderat, dan ada juga yang liberal. Di antara kelompok yang ekstrim
ada yang menempatkan Sayyidina Ali pada derajat kenabian, bahkan ada yang
sampai mengangkat Ali pada derajat keTuhanan. Kaum Syi’ah, sejak menjadi
pengikut Ali sesudah peristiwa perang jamal dan shiffin, pasukan Ali terpecah
menjadi empat golongan :
Kelompok pertama, Syi’ah yang mengikuti Sayyidina Ali, mereka
tidak mengecam para sahabat. Dalam diri mereka terdapat rasa cinta dan
memuliakan para sahabat Nabi SAW. Mereka sadar betul bahwa yang mereka
perangi adalah saudara sendiri. Oleh sebab itu, mereka segera berhenti
memerangi mereka, bahkan ketika terjadi tahkim mereka menerima
keputusan-keputusan yang dibuat oleh kelompok lainnya.
Kelompok kedua, mereka yang mempercayai bahwa Sayyidina Ali
memiliki derajat yang lebih tinggi daripada para sahabat lainnya. Kelompok
ini disebut tafdhiliyah. Ali memperingatkan mereka dengan keyakinan ini dan
akan menghukumi dera bagi para sahabat yang masih berkeyakinan tersebut.
Kelompok Syi’ah sekarang, mereprentasikan kelompok ini.
Kelompok ketiga, yang berpendapat bahwa semua sahabat Nabi
adalah kafir dan berdosa besar. Mereka disebut Saba’iyah, mereka adalah para
pengikut Abdullah bin Saba’.
Kelompok keempat, kelompok gulat, yaitu mereka yang paling sesat,
paling bid’ah di antara empat kelompok di atas. Mereka berpendapat bahwa
Allah telah masuk pada diri Nabi Isa.
Sementara, Abu Zahrah menjelaskan bahwa kelompok ekstrim yang
karena keekstrimannya telah keluar dari Islam, sementara kelompok Syi’ah
dewasa ini menolak untuk memasukkan mereka dalam golongan madzhabnya.
Di antara aliran-aliran Syi’ah itu adalah sebagai berikut:
1. Saba’iyah.
Aliran Syi’ah Saba’iyah adalah pengikut Abdullah bin Saba’
seorang Yahudi dari suku al-Hirah yang masuk Islam. Ia termasuk yang
paling keras menentang Utsman dan para pejabatnya. Banyak pemikiran
sesat yang disebarluaskan secara bertahap oleh Abdullah bin Saba’.
Temanya adalah mengenai Ali bin Abu Thalib. Ia mengembangkan
pemikiran di tengah-tengah masyarakat sebagaimana di muat dalam
Taurat, setiap Nabi mempunyai penerima wasiatnya, dan Ali adalah
penerima wasiat Muhammad. Ketika Ali terbunuh, Abdullah berusaha
merangsang kecintaan rakyat kepada Ali dan perasaan menderita karena
kehilangan Ali dengan cara menyebarkan kebohongan-kebohongan. Di
antaranya, bahwa yang terbunuh bukanlah Ali, namun setan yang
menyerupai Ali, sedangkan Ali naik ke langit sebagaimana dinaikkannya
nabi Isa ke langit. Yang lebih parah adalah keyakinan Sabaiyah bahwa
Tuhan bersemayam dalam diri Ali dan diri imam sesudah wafatnya.
2. Ghurabiyah
Aliran Ghurabiyah ini keyakinannya tidak sampai menempatkan
Ali sebagai Tuhan, akan tetapi lebih memuliakan Ali ketimbang Nabi
Muhammad. Mereka beranggapan bahwa risalah kenabian seharusnya
jatuh kepada Ali, namun Jibril salah menurunkan wahyu kepada
Muhammad. Kelompok ini disebut Ghurabiyah karena mereka
berpendapat bahwa Ali mirip dengan Nabi Muhammad, sebagaimana
miripnya seekor burung gagak (ghurab), dengan burung gagak lainnya.
Pandangan aliran ini disanggah oleh Ibnu Hazim, pandangan ini muncul
karena ketidaktahuan mereka tentang sejarah dan keadaan yang
sebenarnya. Pada waktu Muhammad diangkat menjadi rasul Ali masih
kanak-kanak, belum pantas untuk mengemban risalah kenabian.
3. Kaisaniyah.
Penganut aliran Kaisaniyah ini adalah pengikut al-Mukhtar ibn
‘Ubaid al-Tsaqa. Al-Mukhtar asal mulanya berasal dari kalangan khawarij,
kemudian masuk ke dalam kelompok Syi’ah yang mendukung Ali. Nama
Kaisaniyah berhubungan erat dengan nama Kaisan, yang menurut satu
kalangan adalah nama lain dari al-Mukhtar. Aliran ini mempunyai
keyakinan ketidaktuhanan para imam dari ahlul bait sebagaimana yang
dianut aliran Saba’iyah, namun didasarkan atas paham bahwa seroang
imam adalah pribadi yang suci dan wajib dipatuhi. Mereka percaya
sepenuhnya akan kesempurnaan pengetahuannya dan keterpeliharaannya
dari dosa karena ia merupakan simbol dari ilmu Ilahi. Para penganut aliran
Kaisaniyah juga berkeyakinan adanya doktrin bada’,
yaitu keyakinan bahwa Allah mengubah kehendak-Nya sejalan dengan
perubahan ilmu-Nya, serta dapat memerintahkan suatu perbuatan
kemudian memerintahkan sebaliknya.
4. Hakimiyah dan Druz
a) Syi’ah Imamiyah
Dewasa ini, kelompok-kelompok Syi’ah yang berada di dunia
Islam seperti Iran, Irak, Suriah, dan negara Islam lainnya, adalah
golongan yang membawa nama Syi’ah Imamiyah. Dalam masalah
imamah, kelompok Syi’ah Imamiyah sepakat bahwa Ali adalah
penerima wasiat Nabi Muhammad melalui nash. Syi’ah Imamiyah
merupakan kelompok Syi’ah orang-orang Syi’ah yang
mempromosikan keimaman Ali ras langsung sesudah Rasulullah SAW,
dan menyatakan bahwa terdapat dalil yang sahih dan eksplisit
mengenai keimaman Ali ra. Kelompok ini bersepakat tentang
keimaman Ali ra dan diteruskan kepada kedua putranya (Hasan dan
Husain), lalu kepada putra Husain Zainal Abidin, terus kepada,
anaknya, Muhammad al-Baqir, dilanjutkan oleh anaknya, Ja’far ash-
Shadiq. Setelah imam Ja’far ini, mereka berselisih pendapat mengenai
siapakah selanjutnya yang berhak menjadi imam setelah itu. Mereka
membagi keimaman itu dari kalangan mereka sendiri.
Pada masa berikutnya, kelompok Syi’ah Imamiyah ini
menjadi Imamah Itsna Asyriyah (juga disebut dengan Syi’ah
Ja’fariyah). Aliran ini berpendapat bahwa setelah Ja’far ash-Shadiq,
imamah berpindah kepada putranya, Musa al-Kazhim, lalu kepada
putranya Ali Ridha, kemudian kepada putranya Muhammad al-
Jawwad, selanjutnya kepada putranya, Ali al-Hadis, berlanjut kepada
putranya Hasan al-‘Askary, kemudian kepada putranya, Muhammad
al-Mahdi al-Muntadzar (al-Mahdi yang ditunggu-tunggu) yang
merupakan imam kedua belas bagi mereka. Aliran Syi’ah Itsna
Asyriyah ini berkeyakinan bahwa imam yang kedua belas (al-mahdi)
tidak mati, tapi menghilang selama masa tertentu, dan kelak akan
muncul kembali untuk memenuhi dunia dengan keadilan dan
keamanan, setelah merajalelanya kedzaliman dan kegelapan.
Selain kelompok Syi’ah Ja’fariyah, terdapat kelompok Syi’ah
Itsna Asyriyah lain yaitu kelompok Syi’ah Isma’iliyah, kelompok ini
berpendapat bahwa imamah setelah Ja’far ash-Shadiq berpindah
kepada putranya Ismail, berdasarkan nash dari bapaknya, lalu beralih
atau diwariskan kepada putranya Muhammad al-Maktum, yang
merupakan imam pertama dari imam-imam lain yang hilang menurut
keyakinan mereka. Imam-imam sesudah al-Maktum semuanya
tersembunyi, sampai akhirnya mereka menganggap bahwa Abdullah,
kepala kaum Fathimiyah, sebagai imam mereka. Syi’ah Imamiyah
Ismailiyah terkenal pula dengan bermacam-macam sebutan lain, di
antaranya: Bathiniyah, Qaramithah, Haramiyah, Sab’iyah dan lain-
lainnya.
Pada masa kekinian, penganut madzhab Syi’ah Imamiyah
secara umum, menempati daerah-daerah Irak, Iran, Suriah, Lebanon
dan beberapa negara lainnya. Hampir setengah penganutnya berada di
Iran dan Iraq. Mereka hidup menjalankan agama Islam bermadzhab
Syi’ah sesuai aturan yang mereka tetapkan baik dalam bidang aqidah,
aturan-aturan perdata, hukum waris, wasiat, zakat, dan seluruh bidang
ibadah. Pada mulanya mereka secara rukun, bisa hidup berdampingan
dengan kelompok sunni (ahlussunnah wa al-jama’ah).
b) Syi’ah Zaidiyah
Secara genelogi, Zaidiyah adalah salah satu sekte Syi’ah yang
dinisbatkan kepada Imam Zaid bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abu
Thalib. Ia menyatakan perang terhadap khalifah Hisyam ibn Abd
Malik, dan akhirnya disalib di Kufah. Di masa hidupnya, Zaid
berkecimpung dalam dunia ilmu pengetahuan dan memiliki hubungan
baik dengan para ulama di zamannya. Di antara ulama yang
berhubungan dan menjadi gurunya adalah Washil ibn ‘Atha’ dan Abu
Hanifah.
Jika dibandingkan dengan kelompok Syi’ah lainnya,
kelompok Syi’ah Zaidiyah ini lebih moderat dan lebih dekat dengan
paham Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebab mereka tidak mengangkat
para imam kepada derajat kenabian, bahkan tidak sampai mendekati
itu. Menurut mereka, para imam merupakan manusia paling utama
setelah Nabi Muhammad. Mereka juga tidak mengkafirkan para
sahabat, khususnya mereka yang telah dibai’at Ali ra, mereka juga
mengakui kepemimpinan mereka. Zaidiyah berpendapat bahwa
Sayyidina Ali merupakan orang yang paling pantas menjadi Imam
sepeninggal Rasulullah SAW, karena ialah orang yang paling dekat
dan mirip dengan sifat-sifat yang pernah disebutkan Rasulullah
sebelumnya. Dan untuk Imam sesudah Ali haruslah dari keturunan
Fatimah. Itulah sifat-sifat yang terbaik seorang Imam (al-afdal).
Namun, jika sifat-sifat itu tidak dapat dipenuhi, maka bolehlah yang
lain diangkat menjadi imam. Imam bentuk kedua ini disebut dengan
istilah al-mafdul. Berdasarkan pendapat ini, Syi’ah Zaidiyah bisa
menerima Abu Bakar, Umar dan Utsman. Di sisi lain, Imam Zaid
dalam pandangan hukum tidak jauh berbeda dengan imam
Ahlussunnah lainnya, kalaupun ada perbedaan tidaklah banyak.
Dalam metode istinbath juga tidak jauh beda dengan dari metode para
ulama semasanya seperti Abu Hanifah, Ibnu Abu Laila, Utsman al-
Bitti, az-Zuhri, dan lain baik ulama Madinah maupun Ulama Irak.
Menurut madzhab Zaidiyah peranan akal dalam masalah akidah sama
dengan golongan Mu’tazilah yang menggunakan akal sebagai
kekuatan besar untuk memahami wahyu dan syariat.
Syi’ah Zaidiyah mempunyai doktrin tentang bolehnya
memba’iat dua imam dalam dua daerah kekuasaan yang berbeda
selama mereka memiliki sifat-sifat yang sah menjadi imam, dan
selama keduanya dipilih secara bebas oleh ahl al-hall wa al-aqd.
Berangkat dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa mereka tidak
membenarkan adanya dua imam dalam satu daerah kekuasaan, karena
hal itu akan mengakibatkan rakyat membaiat dua orang imam,
semenatara perbuatan itu dilarang oleh hadis shahih.
Dalam doktrin aqidah, mereka berkeyakinan bahwa aliran
Zaidiyah percaya bahwa orang yang melakukan dosa besar akan kekal
dalam neraka, selam mereka belum bertaubat dengan taubat yang
sebenarnya. Dalam hal ini mereka mengikuti faham Mu’tazilah. Hal
ini disebabkan tokoh Mu’tazilah bernama Washil ibn Atha’
merupakan guru dari Imam Zaid. Namun, hubungan ini pulalah yang
membuat sebagian penganut Syi’ah marah terhadap Zaid karena
Washil ragu-ragu ketika menentukan posisi Ali dalam perang Jamal
melawan pendukung Mu’awiyah dari Syam. Sebab, Washil tidak
sepenuhnya yakin, Ali dalam posisi yang benar.
Pada era berikutnya, akibat kelemahan aliran Zaidiyah dan
serangan pemikiran dari aliran-aliran Syi’ah lainnya, dasar-dasar
pemikiran aliran ini menjadi goyah atau kalah dan mati. Karena itu,
generasi berikutnya dari Zaidiyah tidak membenarkan pengangkatan
imam yang mafdul (bukan yang terbaik), sehingga mereka dianggap
termasuk aliran yang ekstrim. Mereka adalah yang menolak dan
menentang kekhalifahan atau keimaman Abu Bakar dan Umar dengan
begitu hilanglah ciri khas dari aliran Zaidiyah generasi pertama.
Berdasarkan realitas ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa aliran
Zaidiyah terbagi menjadi dua: 1) para penganut aliran Zaidiyah
generasi pertama, kelompok ini tidak dianggap sebagai kelompok
yang ekstrim dan mengakui keimaman Abu Bakar dan Umar 2)
penganut Zaidiyah generasi belakanganan, mereka inilah yang
dipandang ekstrim. Sementara, penganut aliran Zaidiyah yang berada
di Yaman dewasa ini, lebih dekat kepada aliran Zaidiyah generasi
pertama yang moderat.

D. Perkembangan Syi’ah di Indonesia dan Bahayanya


Menurut Jalaluddin Rahmat, perkembangan Syiah di Indonesia
mengalami empat gelombang (periodisasi). Gelombang pertama, Syiah sudah
masuk ke Indonesia mulai masa awal masuknya Islam di Indonesia, yaitu
melalui para penyebar Islam awal dari orang-orang persia yang tinggal di
Gujarat. Syiah pertama kali datang ke Aceh. Raja pertama Kerajaan Samudra
Pasai yang terletak di Aceh, Marah Silu, adalah memeluk Islam versi Syiah
dengan memakai gelar Malikul Saleh. Penyebaran Syiah di Aceh juga
ditunjang oleh tokoh-tokoh ulama terkemuka Hamzah Fansuri, dan
Syamsuddin bin Abdullah as Samatrani, Nuruddin ar-Raniry, Burhanuddin,
dan Ismail bin Abdullah. Akan tetapi pada zaman Sultan Iskandar Tsani,
kekuasaan kerajaan di Aceh dipegang oleh ulama Ahli Sunnah (Sunni),
sehingga sejak saat itu kelompok Syiah tidak lagi menampakkan diri, memilih
berdakwah secara taqiyah.
Pada tahap awal penyebaran Syiah, perkembangan Syiah tidak banyak
mengalami benturan dengan kelompok lain, karena pola dakwah yang
dilakukan. Prinsip taqiyah digunakan untuk menghindari tekanan dari pihak
penguasa. Selama periode pertama, hubungan antara Sunni-Syiah di Indonesia,
pada umumnya, sangat baik dan bersahabat tidak seperti yang terjadi di negeri-
negeri lain seperti, misalnya, Pakistan, Irak, atau Arab Saudi. Meskipun
demikian pernah terjadi insiden seperti dibunuhnya Hamzah Fansuri karena,
dituduh menyebarkan faham waḥdat alwujûd.
Lalu datanglah gelombang kedua masuknya Syiah ke Indonesia, yaitu
setelah revolusi Islam di Iran pada 1979. Ketika itu orang Syiah mendadak
punya negara, yaitu Iran. Sejak kemenangan Syiah pada Revolusi Iran, muncul
simpati yang besar di kalangan aktivis muda Islam di berbagai kota terhadap
Syiah. Figur Ayatullah Khomeini menjadi idola di kalangan aktivis pemuda
Islam. Buku-buku tulisan Ali Syari’ati, seperti buku Tugas Cendekiawan
Muslim menjadi salah satu “inspirator” Revolusi Iran, dibaca dengan penuh
minat. Bahkan tokoh cendekiawan Muhammadiyah, Amin Rais, dengan
sengaja menerjemahkan dari versi Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Naiknya popularitas Syiah itu membuat khawatir dan was-was negeri


yang selama ini menjadi “musuh” bebuyutan Iran, yakni Arab Saudi. Melalui
lembaga-lembaga bentukan pemerintah, Saudi Arabia melakukan upaya untuk
menangkal perkembangan Syiah, termasuk penyebarannya di Indonesia.
Sejumlah buku yang anti-Syiah diterbitkan, baik karangan sarjana klasik
seperti Ibn Taymiyah (1263-1328), atau pengarang modern, seperti Ihsan Ilahi
Zahir, seorang propaganda anti-Syiah yang berasal dari Pakistan.
Meski telah begitu banyak buku-buku diterbitkan untuk menghadang
faham Syiah, kekhawatiran masuknya Syiah tidak juga surut. Kemudian pada
Rapat Kerja Nasional Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun 1984 M, melalui
surat ketetapan tanggal 7 Maret 1984 M yang ditandatangani oleh Prof. K.H.
Ibrahim Hosen, merekomendasikan tentang faham Syiah, yang isinya sebagai
berikut: Faham Syiah sebagai salah satu faham yang terdapat dalam dunia
Islam mempunyai perbedaan-perbedaan pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah) yang dianut oleh umat Islam Indonesia.
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syiah dan Ahlus
Sunnah Wal Jama’ah seperti tersebut di atas, terutama mengenai perbedaan
tentang imâmah (pemerintahan), Majelis Ulama Indonesia mengimbau kepada
umat Islam Indonesia yang berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar
meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya faham yang
didasarkan atas ajaran Syiah. Reaksi yang ditunjukkan oleh MUI tersebut
adalah bentuk kekhawatiran terhadap berkembangnya faham Syiah di
Indonesia secara berlebihan. Akan tetapi upaya-upaya untuk membendung
perkembangan Syiah itu, tidak membuahkan hasil apa-apa. Ketertarikan
masyarakat kepada Syiah semakin kuat. Hal ini dibuktikan dengan semakin
terus terangnya pengagum-pengagum Syiah menunjukkan eksistensinya
dengan mendirikan lembaga pendidikan berhaluan Syiah. Seperti Alumni
Qum, Ustad Ahmad Baraqbah, mendirikan Pesantren Al-Hadi di Pekalongan.
Ustadz Husain al-Habsyi mengubah haluan Pesantren Yayasan Pesantren
Islam (YAPI) yang didirikannya pada tahun 1974 dari ideologi Ihwanul
Muslimin pada ideologi Syiah.
Pada tahun 1997, perkembangan Syiah di Indonesia kembali
mendapatkan reaksi negatif kembali dari kalangan di luar Syiah. Penolakan
kembali terhadap Syiah digelar melalui sebuah seminar nasional di Masjid
Istiqlal Jakarta. Melalui seminar itu peserta merekomendasikan dan mendesak
kepada pemerintah untuk melarang Syiah berada di Indonesia. Dari kalangan
Syiah pun tidak mau ketinggalan, respon negatif yang ditunjukkan dari hasil
seminar itu, ditanggapi kembali oleh kalangan Syiah dengan menerbitkan
sebuah buku Syiah Ditolak, Syiah Dicari, karya Hashem.
Seiring dengan bergulirnya era Reformasi, gelombang perkembangan
Syiah di Indonesia memasuki fase ketiga. Menurut Jalaluddin Rahmat,
penyebaran Syiah di Indonesia pada fase ketiga, didorong oleh meminat
pengagum Syiah secara falsafi ke arah pemahaman fiqih. Fase ketiga ini
dimotori oleh para Habib (keturunan arab/Nabi) atau orang-orang Syiah yang
pernah mengenyam pendidikan di Universitas Qum, Iran. Karena, pemahaman
Syiah sudah masuk ke ranah fiqih, maka pada tahap ini benih-benih konflik
sudah mulai tumbuh secara terbuka. Era Reformasi sebagai era keterbukaan,
membawa perubahan besar pada prinsip-prinsip dakwah kelompok Syiah.
Syiah tidak lagi tersembunyi dalam doktrin taqiyah. Di berbagai daerah,
kelompok Syiah secara terang-terangan menunjukkan eksistensinya kepada
publik melalui perayaan hari besar Syiah, seperti peringatan Tragedi Karbala
(Asyuro), Hari Arbain, Yaum al-Quds, dan Hari al-Ghadir (perayaan
pengangkatan Sayyidina Ali sebagai Imam pertama).
Syiah memasuki fase gelombang keempat, yaitu ketika orang Syiah
mulai membentuk ikatan, yaitu Ikatan Jemaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI),
berdiri 1 Juli 2000. Sehingga secara terbuka Syiah eksistensinya semakin
diakui oleh sebagian masyarakat Indonesia. Perkembangan Syiah secara
terbuka ini didorong oleh semangat keterbukaan dan pluralisme sebagai buah
dari semangat reformasi.
Dengan semakin meningkatnya penganut yang mengamalkan ajaran
fiqih Syiah, maka tingkat ketegangan kelompok Sunni dengan Syiah semakin
meningkat. Perseteruan pertama terjadi pada pesantren milik Ustad Ahmad, di
Desa Brayo, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, 8
April 2000. Ketika itu, massa menyerbu pesantren seusai shalat Jumat, sekitar
pukul 14.00 hingga 16.30. Akibatnya, tiga rumah di Pondok Pesantren al-Hadi
dirusak dan satu dibakar massa. Tahun 2006 muncul konflik secara beruntun,
terulang kembali di desa Brayo, Batang, aksi kekerasan terhadap
Syiah di Sampang, dan muncul konflik di Bondowoso dengan sasaran
pesantren milik Kiai Musowir yang sedang menggelar yasinan pada malam
Jumat.
Penyerbuan kemudian terjadi lagi pada rumah pengurus Masjid Jar
Hum di Bangil, Jawa Timur, November 2007. Massa merusak rumah itu
lantaran menolak kehadiran pengikut Syiah. Usaha menyerang penganut
Syiah terjadi juga di Jember, Jawa Timur. Pada bulan Ramadhan, Agustus
2012, muncul sejumlah spanduk yang menyebutkan ajaran Habib Syiah
adalah sesat. Namun kain propaganda itu berhasil diturunkan warga dan
petugas Pamong Praja sebelum memicu konflik. Dan pada tahun yang sama,
kasus Syiah di Sampang mencuat, yang berbuntut di hukumnya Tajul dengan
tuduhan penodaan agama.
Kalau ditelusuri lebih jauh, persebaran Syiah di Indonesia yang sudah
berlangsung permulaan Islam datang ke nusantara, telah banyak memberikan
warna keagamaan di Indonesia. Banyak sekali ritus Islam Indonesia yang
terindentifikasi terpengaruh dari ajaran Syiah. Ritual dan tradisi Syiah
mempunyai pengaruh yang mendalam di kalangan komunitas Islam Indonesia,
bukan saja di kalangan Syiah sendiri, tetapi juga di kalangan Sunni. Salah
satunya ialah praktik perayaan 10 Muharram yang biasa dirayakan oleh
pengikut Syiah untuk memperingati terbunuhnya Husain ibn Ali, cucu Nabi
Muhammad. Husein terbunuh dalam Perang Kabala pada 10 Muharram 61 H.
Perayaan 10 Muharam dipandang sebagai ritual suci bagi kelompok
Syiah juga berkembang di beberapa komunitas Islam Indonesia di luar Syiah.
Sebagai contoh, terdapat perayaan serupa yang disebut dengan “tabot
tebuang”. Di Pariaman, Sumatera Barat, dan ada perayaan “ritual tabuik”. Jika
ditelusuri tabot atau tabuik berasal dari kata tabut dalam Bahasa Arab kotak.
Kata tabut ini dalam peraaan diwujudkan dengan peti sebagai simbol peti
jenazahnya imam-imam kaum Syiah yang telah dibunuh secara kejam semasa
pemerintahan Bani Umayyah.
Ritual di kalangan Sunni seperti tradisi ziarah kubur dan membuat
kubah pada kuburan adalah tradisi Syiah. Tradisi itu lahir di Indonesia dalam
bentuk mazhab Syafi’i padahal sangat berbeda dengan mazhab Syafi’i yang
dijalankan di negara-negara lain. Berkembangnya ajaran pantheisme (kesatuan
wujud, union mistik, Manunggaling Kawula Gusti), di Jawa dan Sumatera
merupakan pandangan teologi dan mistisisme (tasawuf falsafi) yang sinkron
dengan akidah Syiah. Infiltrasi Syiah dalam penyebaran Islam di Indonesia
tampak jelas pada masyarakat NU sebagai representasi kelompok Alhus
Sunnah, pengaruh tradisi Syiah pun cukup kuat di dalammya. Dr. Said Agil
Siraj sebagai Wakil Katib Syuriah PBNU secara terang mengatakan bahwa
kebiasaan Barjanji dan Diba’I adalah berasal dari tradisi Syiah. Dan bahkan
KH Abdurrahman Wahid pernah mengatakan bahwa Nahdatul Ulama secara
kultural adalah Syiah.
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Aliran Syi’ah merupakan aliran pertama yang muncul di kalangan
umat Islam. Aliran ini dilatarbelakangi oleh pendukung ahlul bait yang tetap
menginginkan pengganti Nabi adalah dari ahlul bait sendiri yaitu Ali bin Abi
Thalib. Mereka mempunyai doktrin sendiri dalam alirannya, salah satunya
tentang Imamah. Mereka berpendapat bahwa pengganti Nabi yang pantas
menjadi pemimpin adalah seseorang yang ma’shum(terhindar dari dosa).
Bahkan dalam sekte yang ekstrim yaitu Syi’ah Ghulat, mereka telah
menuhankan Ali. Mereka menganggap bahwa Ali lebih tinggi daripada Nabi
Muhammad SAW.
Dalam perkembangannya, Syi’ah dianggap aliran sesat. Banyak yang
menganggap bahwa Syi’ah adalah Islam. Hal ini sangat berbeda sekali, karena
antara Islam dan Syi’ah sangat jauh sekali tentang ajaran aqidahnya.

B. Saran
Sangatlah diperlukan bagi kita untuk mempelajari Aliran syi’ah
ini,karena dengan belajar aliran ini kita bisa mengetahui seluk beluk dari
ajaran Syi’ah. Misalnya tentang tokoh-tokoh Syi’ah. Dan agar kita juga bisa
mengambil kekurangan dan kelebihan dari aliran Syi’ah.
DAFTAR PUSTAKA

Abbas, Sirojuddin. 1992. I’itiqad Ahlussunnad Wal-Jama’ah. Jakarta:


Pustaka Tarbiyah.
Abu Zahrah, Imam Muhammad. 1996. Aliran Politik dan Aqidah
dalam Islam. Jakarta: Logos Publishing House.
Amin, Samsul Munir. 2010. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta:
Amzah.
Anwar, Rosihan, DR; M.Ag., Rozak, Abdul, Drs. 2010. Ilmu Kalam.
Bandung: CV Pustaka Setia.
A. Nasir, K.H. Sahilun. 2010. Pemikiran Kalam (Teologi Islam).
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Atjeh, Aboebakar. 1977. Aliran Syiah di Indonesia. Jakarta: Islamic
Research Institute.
Dahri, Harapandi. 2009. Tabot: Jejak Cinta Keluarga Nabi di
Bengkulu. Jakarta: Citra.
Nursaymsuriati. 2011. Berkelanjutan dan Perubahan Tradisi
Keagamaan Syiah (Studi Masyarakat Santri YAPI Bangil Pasuruan). Thesis
Pasca Sarjana UIN Malang.
Subhani, Ja’far. 2012. Syiah: Ajaran dan Praktiknya. Jakarta: Nur Al-
Huda.