Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“SPEKTRUM ATOM HIDROGEN”

Oleh
Dona Permata Ayu (06101381621040)
Dosen pengampu : Dr.Effendi, M.Si.

JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA 2016


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikannya dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada
baginda tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.

Makalah ini di susun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang “SPEKTRUM
ATOM HIDROGEN”, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.
Dalam menyusun makalah, penulis menyadari begitu banyaknya kekurangan yang terdapat di
dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan,
kritik dan saran dari berbagai pihak agar makalah ini bisa menjadi lebih baik terlebih untuk
penyusunan makalah berikutnya.

Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun.

Terimakasih.

Palembang, Oktober 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...............................................................................................................i


DAFTAR ISI .............................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN .........................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG .............................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH ........................................................................................1
1.3 TUJUAN .................................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN ..........................................................................................................5
2.1 Model Atom..........................................................................................................5
2.2 Spektrum Emisi Atom Hidrogen...........................................................................10
2.3 kelebihan dan kekurangan atom bhor..................................................................11

BAB III PENUTUP.............................................................................................................13


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pada tahun 1900, J.J Thomson mengajukan model atom yang menyerupai roti kismis.
Menurut Thomson, atom terdiri dari materi bermuatan positif dan didalamnya tersebar
elektron bagaikan kismis dalam roti kismis. Ernest Rutherford telah dapat menunjukkan
bahwa atom terdiri dari sebentuk awan difus elektron bermuatan negatif mengelilingi inti
yang kecil, padat, dan bermuatan positif dengan elektron-elektron mengorbit inti seperti
layaknya planet mengorbit matahari. Namun demikian, model sistem keplanetan untuk atom
menemui beberapa kesulitan. Pada tahun 1913, Niels Bohr, fisikawan berkebangsaan Swedia,
mengikuti jejak Einstein menerapkan teori kuantum untuk menerangkan hasil studinya
mengenai spektrum atom hidrogen. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan
sifat-sifat atom. Teori atom Bohr ini pada prinsipnya menggabungkan teori kuantum Planck
dan teori atom dari Ernest Rutherford yang dikemukakan pada tahun 1911.
Jika sebuah gas diletakkan di dalam tabung kemudian arus listrik dialirkan ke dalam
tabung, gas akan memancarkan cahaya. Cahaya yang dipancarkan oleh setiap gas berbeda-
beda dan merupakan karakterisktik gas tersebut. Cahaya dipancarkan dalam bentuk spektrum
garis dan bukan spektrum yang kontinu. Kenyataan bahwa gas memancarkan cahaya dalam
bentuk spektrum garis diyakini berkaitan erat dengan struktur atom. Dengan demikian,
spektrum garis atomic dapat digunakan untuk menguji kebenaran dari sebuah model atom.
Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang gelombang berbeda.
Untuk gas hydrogen yang merupakan atom yang paling sederhana, deret panjang gelombang
ini ternyata mempunyai pola tertentu yang dapat dinyatakan dalam bentuk persamaan
matematis.
1.2. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas maka, rumusan masalah yang akan diteliti adalah :
1. Bagaimana spektrum diskrit pada atom hidrogen
2. Menentukan panjang gelombang pada spektrum atom hidrogen
3. kelebihan dan kekurangan model atom bhor

1.3. Tujuan

Tujuan dari percobaan ini adalah :


1. Menunjukkan adanya spektrum diskrit atom hidrogen
2. Menggunakan rumus Balmer untuk menentukan konstanta Rydberg.
3. Mengetahui kelebihan dan kekurangan model atom bhor
BAB II
SPEKTRUM ATOM HIDROGEN
2.1. Model Atom

Percobaan tabung sinar katoda pertama kali dilakukan William Crookes (1875). Hasil
eksperimennya adalah ditemukannya seberkas sinar yang muncul dari arah katoda menuju ke
anoda yang disebut sinar katoda.
Joseph John Thomson (1897) melanjutkan eksperimen William Crookes yaitu
pengaruh medan listrik dan medan magnet dalam tabung sinar katoda

Gambar Eksperimen J.J Thomson


Hasil percobaannya membuktikan bahwa ada partikel bermuatan negatif dalam suatu
atom karena sinar tersebut dapat dibelokkan ke arah kutub positif medan listrik. berdasarkan
besarnya simpangan sinar katoda dalam medan listrik, Thomson dapat menentukan nisbah
muatan terhadap massa (nilai e/m) dari partikel sinar katoda sebesar 1.76 x 108
Coulomb/gram.
Besarnya muatan dalam elektron ditemukan oleh Robert Andrew Milikan (1908) melalui
percobaan tetes minyak Milikan. Minyak disemprotkan ke dalam tabung yang bermuatan
listrik. Akibat gaya tarik gravitasi akan mengendapkan tetesan minyak yang turun. Bila
tetesan minyak diberi muatan negatif maka akan tertarik kekutub positif medan listrik,
milikan menemukan menemukan bahwa muatan tetes-tetes minyak selalu bulat dari suatu
muatan tertentu, yaitu 1.602 x 10-19 coulomb.

Hasil percobaan Milikan dan Thomson diperoleh muatan elektron –1 dan massa
elektron 0, sehingga elektron dapat dilambangkan
Data Fisis Elektron :
e/m = 1.76 x 108 Coulomb/gram
e = 1.602 x 10-19 coulomb
maka massa elektron = 9.11 x 10-28 gram
Setelah penemuan elektron, maka teori Dalton yang mengatakan bahwa atom adalah
partikel yang tak terbagi, tidak dapat diterima lagi. Pada tahun 1900, J.J Thomson
mengajukan model atom yang menyerupai roti kismis. Menurut Thomson, atom terdiri dari
materi bermuatan positif dan didalamnya tersebar elektron bagaikan kismis dalam roti kismis.
Di awal abad ke-20, percobaan oleh Ernest Rutherford telah dapat menunjukkan bahwa
atom terdiri dari sebentuk awan difus elektron bermuatan negatif mengelilingi inti yang kecil,
padat, dan bermuatan positif. Berdasarkan data percobaan ini, sangat wajar jika fisikawan
kemudian membayangkan sebuah model sistem keplanetan yang diterapkan pada atom,
model Rutherford tahun 1911, dengan elektron-elektron mengorbit inti seperti layaknya
planet mengorbit matahari. Namun demikian, model sistem keplanetan untuk atom menemui
beberapa kesulitan. Sebagai contoh, hukum mekanika klasik (Newtonian) memprediksi
bahwa elektron akan melepas radiasi elektromagnetik ketika sedang mengorbit inti. Karena
dalam pelepasan tersebut elektron kehilangan energi, maka lama-kelamaan akan jatuh secara
spiral menuju ke inti. Ketika ini terjadi, frekuensi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan
akan berubah. Namun percobaan pada akhir abad 19 menunjukkan bahwa loncatan bunga api
listrik yang dilalukan dalam suatu gas bertekanan rendah di dalam sebuah tabung hampa akan
membuat atom atom gas memancarkan cahaya (yang berarti radiasi elektromagnetik) dalam
frekuensi-frekuensi tetap yang diskrit.
Pada tahun 1913, Niels Bohr, fisikawan berkebangsaan Swedia, mengikuti jejak
Einstein menerapkan teori kuantum untuk menerangkan hasil studinya mengenai spektrum
atom hidrogen. Bohr mengemukakan teori baru mengenai struktur dan sifat-sifat atom. Teori
atom Bohr ini pada prinsipnya menggabungkan teori kuantum Planck dan teori atom dari
Ernest Rutherford yang dikemukakan pada tahun 1911. Bohr mengemukakan bahwa apabila
elektron dalam orbit atom menyerap suatu kuantum energi, elektron akan meloncat keluar
menuju orbit yang lebih tinggi. Sebaliknya, jika elektron itu memancarkan suatu kuantum
energi, elektron akan jatuh ke orbit yang lebih dekat dengan inti atom.
· Gagasan Kunci Model atom Bohr
Dua gagasan kunci adalah:
1. Elektron-elektron bergerak di dalam orbit-orbit dan memiliki momentum yang
terkuantisasi, dan dengan demikian energi yang terkuantisasi. Ini berarti tidak setiap orbit,
melainkan hanya beberapa orbit spesifik yang dimungkinkan ada yang berada pada jarak
yang spesifik dari inti.
2. Elektron-elektron tidak akan kehilangan energi secara perlahan-lahan sebagaimana
mereka bergerak di dalam orbit, melainkan akan tetap stabil di dalam sebuah orbit yang tidak
meluruh.
· Postulat Dasar Model Atom Bohr
Ada empat postulat yang digunakan untuk menutupi kelemahan model atom Rutherford,
antara lain :
1. Atom Hidrogen terdiri dari sebuah elektron yang bergerak dalam suatu lintas edar
berbentuk lingkaran mengelilingi inti atom ; gerak elektron tersebut dipengaruhi oleh gaya
coulomb sesuai dengan kaidah mekanika klasik.
2. Lintas edar elektron dalam hydrogen yang mantap hanyalah memiliki harga momentum
angular L yang merupakan kelipatan dari tetapan Planck dibagi dengan 2π.
dimana n = 1,2,3,… dan disebut sebagai bilangan kuantum utama, dan h adalah konstanta
Planck.
3. Dalam lintas edar yang mantap elektron yang mengelilingi inti atom tidak
memancarkan energi elektromagnetik, dalam hal ini energi totalnya E tidak berubah.
4. Jika suatu atom melakukan transisi dari keadaan energi tinggi EU ke keadaan energi
lebih rendah EI, sebuah foton dengan energi hυ = EU-EI diemisikan. Jika sebuah foton
diserap, atom tersebut akan bertransisi ke keadaan energi rendah ke keadaan energi tinggi.

Model Atom Bohr


”Bohr menyatakan bahwa elektron-elektron hanya menempati orbit-orbit tertentu disekitar
inti atom, yang masing-masing terkait sejumlah energi kelipatan dari suatu nilai kuantum
dasar. (John Gribbin, 2002)”

Model Bohr dari atom hidrogen menggambarkan elektron-elektron bermuatan negatif


mengorbit pada kulit atom dalam lintasan tertentu mengelilingi inti atom yang bermuatan
positif. Ketika elektron meloncat dari satu orbit ke orbit lainnya selalu disertai dengan
pemancaran atau penyerapan sejumlah energi elektromagnetik hf.
Menurut Bohr :
” Ada aturan fisika kuantum yang hanya mengizinkan sejumlah tertentu elektron dalam
tiap orbit. Hanya ada ruang untuk dua elektron dalam orbit terdekat dari inti. (John Gribbin,
2005)”
Gambar Model Atom Bohr
Model ini adalah pengembangan dari model puding prem (1904), model Saturnian
(1904), dan model Rutherford (1911). Karena model Bohr adalah pengembangan dari model
Rutherford, banyak sumber mengkombinasikan kedua nama dalam penyebutannya menjadi
model Rutherford-Bohr.
Kunci sukses model ini adalah dalam menjelaskan formula Rydberg mengenai garis-
garis emisi spektral atom hidrogen, walaupun formula Rydberg sudah dikenal secara
eksperimental, tetapi tidak pernah mendapatkan landasan teoritis sebelum model Bohr
diperkenalkan. Tidak hanya karena model Bohr menjelaskan alasan untuk struktur formula
Rydberg, ia juga memberikan justifikasi hasil empirisnya dalam hal suku-suku konstanta
fisika fundamental.
Model Bohr adalah sebuah model primitif mengenai atom hidrogen. Sebagai sebuah
teori, model Bohr dapat dianggap sebagai sebuah pendekatan orde pertama dari atom
hidrogen menggunakan mekanika kuantum yang lebih umum dan akurat, dengan demikian
dapat dianggap sebagai model yang telah usang. Namun demikian, karena kesederhanaannya,
dan hasil yang tepat untuk sebuah sistem tertentu, model Bohr tetap diajarkan sebagai
pengenalan pada mekanika kuantum.
Ø Lintasan yang diizinkan untuk elektron dinomori n = 1, n = 2, n =3 dst. Bilangan ini
dinamakan bilangan kuantum, huruf K, L, M, N juga digunakan untuk menamakan lintasan
Ø Jari-jari orbit diungkapkan dengan 12, 22, 32, 42, …n2. Untuk orbit tertentu dengan jari-jari
minimum a0 = 0,53 Å
Ø Jika elektron tertarik ke inti dan dimiliki oleh orbit n, energi dipancarkan dan energi
elektron menjadi lebih rendah sebesar.

2.2. Spektrum Emisi Atom Hidrogen


Tabung sinar hidrogen adalah suatu tabung tipis yang berisi gas hidrogen pada
tekanan rendah dengan elektroda pada tiap-tiap ujungnya. Jika didalam tabung dialirkan
tegangan tinggi (seperti 5000 volt), tabung akan menghasilkan sinar berwarna merah muda
yang terang. Jika sinar tersebut dilewatkan pada prisma atau kisi difraksi, sinar akan terpecah
menjadi beberapa warna. Warna yang dapat dilihat merupakan sebagian kecil dari spektrum
emisi hidrogen. Sebagian besar spektrum tak terlihat oleh mata karena berada pada daerah
infra-merah atau ultra-violet. Pada gambar dibawah ini, menunjukkan bagian dari tabung
sinar katoda, sebelah kanan menunjukkan tiga garis yang paling mudah dilihat pada daerah
tampak (visible) dari spektrum.

Ada lebih banyak lagi spektrum hidrogen selain tiga garis yang dapat dilihat dengan mata
telanjang. Hal ini memungkinan untuk mendeteksi pola garis-garis pada daerah ultra-violet
dan infra-merah spektrum dengan baik. Hal ini memunculkan sejumlah "deret" garis yang
dinamakan dengan nama penemunya. Gambar di bawah menunjukkan tiga dari deret garis
tersebut, deret lainnya berada di daerah infra-merah.
Deret Lyman merupakan deret garis pada daerah ultra-violet. Perhatikan bahwa garis
makin merapat satu sama lain dengan naiknya frekuensi. Akhirnya, garis-garis makin rapat
dan tidak mungkin diamati satu per satu, terlihat seperti spektrum kontinu. Hal itu terlihat
sedikit gelap pada ujung kanan tiap spektrum. Kemudian pada titik tertentu, disebut sebagai
deret limit (limit series), deret terhenti. Jika dilihat deret Balmer atau Paschen, membentuk
pola yang sama tetapi deretnya menjadi makin dekat. Pada deret Balmer, perhatikan posisi
tiga garis yang tampak pada gambar di atas.
Pola deret-deret ini ternyata serupa dan dapat dirangkum dalam satu persamaan.
Persamaan ini disebut deret spektrum hidrogen.
Dimana R adalah konstanta Rydberg yang nilainya 1,097 × 107 m−1.
- Deret Lyman (m = 1)

dengan n = 2, 3, 4, ….
- Deret Balmer (m = 2)

dengan n = 3, 4, 5 ….

- Deret Paschen (m = 3)
dengan n = 4, 5, 6 ….

2.3. kelebihan dan kekurangan teori bhor.

Kelebihan
o Keberhasilan teori Bohr terletak pada kemampuannya untuk meeramalkan garis-garis
dalam spektrum atom hidrogen
o Salah satu penemuan adalah sekumpulan garis halus, terutama jika atom-atom yang
dieksitasikan diletakkan pada medan magnet

Kelemahan
 Struktur garis halus ini dijelaskan melalui modifikasi teori Bohr tetapi teori ini tidak
pernah berhasil memerikan spektrum selain atom hydrogen
 Belum mampu menjelaskan adanya stuktur halus(fine structure) pada spectrum, yaitu 2
atau lebih garis yang sangat berdekatan
 Belum dapat menerangkan spektrum atom kompleks
 Itensitas relatif dari tiap garis spektrum emisi.
 Efek Zeeman, yaitu terpecahnya garis spektrum bila atom berada dalam medan magnet.

Gambar dibawah ini seperti pelangi atau spectrum cahaya putih yang dilewatan pada prisma.

Spektrum cahaya seperti gambar diatas disebut sebagai “spectrum kontinu”, spectrum
jenis ini terdiri dari semua panjang gelombang cahaya tampak (visible light). Hal yang
berbeda terjadi apabila kita melihat spectrum dari gas hydrogen, gas hydrogen dalam wadah
tertutup diberi percikan api yang bersal dari dari sumber listrik bertegangan tinggi, maka
molekul-molekul gas hydrogen akan menyerap energi ini yang menyebabkan sebagian ikatan
H-H dalam H2 terputus, sehingga dihasilkan atom hydrogen yang “tereksitasi”, yaitu atom
hydrogen yang kelebihan energi.
Kelebihan energi ini nantinya akan di emisikan dalam bentuk cahaya dalam berbagai
macam panjang gelombang, dan apabila cahaya tampak yang dihasilkan dari emisi atom
hydrogen ini dilewatkan pada prisma akan dihasilkan spectrum seperti gambar dibawah:
Spectrum seperti gambar diatas disebut sebagai “spectrum garis” dan gambar diatas adalah
spectrum atom hydrogen.
Pada pertengahan abad ke-19, studi tentang spektra cahaya yang dipancarkan dari
pembakaran dan lecutan listrik pada gas telah menunjukkan karakteristik spektra atom dari
unsur kimia. Pada masa awal abad ke-20, studi terhadap struktur dalam suatu atom telah
berkembang dan menjelaskan mekanisme dari karakteristik spektra atom. Lecutan listrik pada
gas hidrogen memberikan spektrum atom hidrogen yang berupa garis-garis yang terang yang
membentuk sebuah deret yang terdiri dari 4 panjang gelombang pada daerah cahaya tampak
(400 ~ 800 nm); nilai panjang gelombang yang dikoreksi terhadap vakum adalah λ1 = 656,47
nm, λ2 = 486,28 nm, λ3= 434,17 nm, λ4 = 410,29 nm. Pada tahun 1885, Balmer menemukan
rumus berikut (Rumus Balmer), yang memenuhi panjang gelombang garis cahaya terang dari
spektra.
BAB III

PENUTUP

Jika sebuah gas diletakkan di dalam tabung kemudian arus listrik dialirkan ke dalam
tabung, gas akan memancarkan cahaya. Cahaya yang dipancarkan oleh setiap gas berbeda-
beda dan merupakan karakterisktik gas tersebut. Cahaya dipancarkan dalam bentuk spektrum
garis dan bukan spektrum yang kontinu. Kenyataan bahwa gas memancarkan cahaya dalam
bentuk spektrum garis diyakini berkaitan erat dengan struktur atom. Dengan demikian,
spektrum garis atomic dapat digunakan untuk menguji kebenaran dari sebuah model atom.
Sejak ditemukannya partikel-partikel dasar atom, teori atom banyak mengalami
perubahan. Hal ini menggoyahkan teori atom Dalton yang menyatakan bahwa atom tidak
dapat dibagi-bagi. Atom dalam suatu unsur dapat menghasilkan spektrum emisi (spektrum
diskrit) dengan menggunakan alat spektrometer, sebagai contoh spektrum hydrogen. Atom
hydrogen memiliki struktur yang paling sederhana. Spektrum garis atom hydrogen berhasil
dijelaskan oleh Niels Bohr, pada tahun 1913.
Spektrum garis membentuk suatu deretan warna cahaya dengan panjang gelombang
berbeda. Untuk gas hydrogen yang merupakan atom yang paling sederhana, deret panjang
gelombang ini ternyata mempunyai pola tertentu yang dapat dinyatakan dalam bentuk
persamaan matematis. Seorang guru matematika Swiss bernama Balmer menyatakan deret
untuk gas hidrogen sebagai persamaan dibawah ini.
Dimana panjang gelombang dinyatakan dalam satuan nanometer (nm). Beberapa
orang yang lain kemudian menemukan deret-deret yang lain selain deret Balmer sehingga
dikenal adanya deret Lyman, deret Paschen, Bracket, dan Pfund. Pada akhir abad ke-
sembilan belas ditemukan bahwa panjang gelombang yang terdapat pada spektrum atomic
jatuh pada kumpulan tertentu yang disebut deret spectral. Panjang gelombang pada setiap
deret dapat dispesifikasikan dengan rumus empiris yang menyatakan spektrum yang
sederhana dengan keserupaan yang mengherankan antara rumusan dari berbagai deret yang
menyatakan spektrum lengkap suatu unsur.
DAFTAR PUSTAKA

Gribbin, John. 2003. Fisika Kuantum. Jakarta : Erlangga


Krane, Kenneth. 1992. Fisika Modern. Jakarta : Universitas Indonesia.
Kusminarto. 1994. Pokok – Pokok Fisika Modern. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada.
2005. Bengkel Ilmu : Fisika Modern. Jakarta : Erlangga
http://id.wikipedia.org/wiki/Model_Bohr