Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Angka anemia pada kehamilan di Indonesia cukup tinggi sekitar 67% dari

semua ibu hamil dengan variasi tergantung pada daerah masing-masing. Sekitar

10-15% tergolong anemia berat yang sudah tentu akan mempengaruhi tumbuh

kembang janin dalam rahim (Manuaba, I.B.G, 2002 hal 90).

Anemia dalam kehamilan merupakan salah satu masalah kesehatan yang

banyak dialami dan cukup tinggi yang berkisar antara 10-20% (Sarwono

Prawiharjo, 2005 hal 450 ).

Menurut WHO kejadian anemia saat hamil berkisar antara 20% sampai

89% dengan menetapkan Hb 11 gr % sebagai dasarnya. Angka anemia kehamilan

di Indonesia menunjukkan nilai yang cukup tinggi. (Manuaba.I.B.G, hal 29 ).

Menurut sistem kesehatan nasional (SKN ) tahun 2001 angka anemia pada

ibu hamil sebesar 40%, kondisi ini mengatakan bahwa anemia cukup tinggi di

Indonesia bila di perkirakan pada tahun 2003-2010 prevalensi anemia masih tetap

di atas 40% maka angka kematian ibu sebanyak 18.000 pertahun yang disebabkan

perdarahan setelah melahirkan. Hal ini terlihat dari tingginya angka kematian ibu

(AKI) di Asia Tenggara pada tahun 2005 yaitu berkisar 290,8 per 100.000

kelahiran hidup. (anonim, 2010).

Dari hasil survey di Indonesia maka di ketahui angka kematian ibu (AKI)

di Indonesia saat ini berkisar antara 300-400 kematian ibu per 100.000kelahiran
hidup. Angka kematian ibu di Indonesia menunjukkan masih buruknya tingkat

kesehatan ibu dan bayi baru lahir. (anonym,2010).

Berdasarkan dari data yang di peroleh di dinas propinsi Sulawesi tahun

2005, anemia pada ibu hamil didapatkan 45.410 dari 104.271 ibu hamil yang

memeriksakan dirinya, yang terbagi atas ; anemia ringan sebanyak 42.043 orang

(40,32%). Anemia berat dengan sebanyak 3.467 orang (3,32%) dan tidak

mengalami anemia sebanyak 58.761 orang (56,35%). Sedangkan data anemia dari

hasil pencatatan rekam medik tahun 2009 sekitar 1201 orang yang melakukan

pemeriksaan ibu hamil di RSUD Ciamis yang terbagi atas ; Anemia ringan 31

orang (56,6%), Anemia sedang 22 orang (36,6%),Anemia berat 36 orang (10%)

dan yang tidak mengalami anemia 1170 orang (93,36%).

Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian anemia ini adalah ; kurang

gizi, selain itu anemia pada ibu hamil disebabkan karena kehamilan berulang

dalam waktu singkat, cadangan zat besi ibu sebenarnya belum pulih, terkuras oleh

keperluan janin yang di kandung berikutnya.

Tingginya anemia yang menimpa ibu hamil memberikan dampak negative

terhadap janin yang di kandung dari ibu dalam kehamilan, persalinan maupun

nifas yang di antaranya akan lahir janin dengan berat badan lahir rendah (BBLR),

partus premature, abortus, pendarahan post partum, partus lama dan syok. Hal ini

tersebut berkaitan dengan banyak factor antara lain ; status gizi, umur, pendidikan,

dan pekerjaan ( Sarwono Prawirohardjo, 2005 hal. 450 ).


Karena masalah anemia pada anemia pada ibu hamil merupakan masalah

penting yang erat hubungannya dengan masalah mortalitas maternal, maka

dianggap penting untuk dilakukannya suatu identifikasi mengenai gambaran

karakteristik anemia pada ibu hamil yang dibatasi pada masalah paritas dan status

gizi.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana gambaran Anemia pada ibu hamil menurut umur ibu hamil di RSUD

Ciamis pada tahun 2015.

2. Bagaimana gambaran Anemia pada ibu hamil menurut Paritas di Rumah Sakit

Umum Ciamis tahun 2015.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran Anemia pada ibu hamil di Rumah Sakit Umum

Ciamis Tahun 2015.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk memperoleh gambaran anemia pada ibu hamil menurut umur.

b. Untuk memperoleh gambaran anemia pada ibu hamil menurut paritas.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Praktis

Sebagai salah satu sumber informasi bagi penentu kebijakan dan

pelaksanaan program bagi Instansi Depertemen khususnya Rumah Sakit (RSU)


Ciamis dalam menyusun program perencanaan berkaitan dengan upaya

pencegahan anemia pada ibu hamil.

2. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan menjadi sumber informasi dan memperkaya

khasanah ilmu pengetahuan dan bahan acuan bagi peneliti selanjutnya.

3. Manfaat bagi Peneliti

Hasil penelitian ini merupakan pengalaman ilmiah yang dapat

meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan tentang anemia pada ibu

hamil.

4. Manfaat bagi Institusi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimamfaatkan sebagai informasi

berharga tentang anemia ibu hamil terutama dalam mengembangkan ilmu

kebidanan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Tentang Anemia Pada Ibu Hamil

1. Pengertian Anemia Menurut Para Ahli

a. Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin di bawah 11 gr % pada

trismester I dan II atau kadar hemoglobin kurang dari 10,5 gr % pada trimester II

( Saifuddin. A. B. 2001 hal 281 ).

b. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi dimana kadar hemoglobin kurang dari

10 gr / 100 ml ( Wiknjaksatro, 2002. Hal 405 ).

c. Anemia adalah Kondisi dimana berkurangnya sel darah merah(eritrosit) dalam

sirkulasi darah atau massa hemoglobin sehingga tidak mampu memenuhi

fungsinya sebagai pembawa oksigen keseluruh jaringan.(Wasnidar, 2007.hal 20).

d. Anemia adalah kekurangan kadar hemoglobin atau sel darah merah < 11 gr %

atau suatu keadaan dengan junlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi

hemoglobin menurun (Maimunah 2005 ).

e. Anemia adalah turunnya kadar hemoglobin < dari 12,0 g/100 ml darah pada

wanita yang tidak hamil dan kurang dari 10,0 g/100 ml darah pada wanita hamil

(varney Helen, 2002 hal 152)

2. Patofisiologi

Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah (hypervolemia).

Hypervolemia merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel

darah merah) yang berada dalam tubuh tetapi peningkatan ini tidak seimbang
yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga member efek yaitu

konsentrasi hemoglobin berkurang dari 12 g/100 ml. (Sarwono,2002 hal 450-451).

Pengenceran darah (hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan

peningkatan volume plasma 30%-40%, peningkatan sel darah 18%-30% dan

hemoglobin 19%. Secara fisiologis hemodilusi untuk membantu meringankan

kerja jantung.

Hemodulusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya

pada kehamilan 32-36 minggu. Bila hemoglobin ibu sebelum hamil berkisar 11

gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil

fisiologis dan Hb ibu akan menjadi 9,5-10 gr%.

3. Klasifikasi Anemia dalam kehamilan

Berdasarkan klasifikasi dari WHO kadar hemoglobin pada ibu hamil dapat

di bagi menjadi 4 kategori yaitu : (Manuaba I.B.G,1998.HAL 30)

Hb > 11 gr%Tidak anemia (normal)

Hb 9-10 gr% Anemia ringan

Hb 7-8 gr% Anemia sedang

Hb <7 gr% Anemia berat

4. Macam-macam anemia (Sarwono,2006.hal 451)

a. Anemia Defisiensi Besi

Anemia yang paling sering di jumpai yang di sebabkan karena kekurangan unsur

zat besi dalam makanan, karena gangguan absorpsi, kehilangan zat besi yang

keluar dari badan yang menyebabkan perdarahan.


b. Anemia megaloblastik

Anemia karena defisiensi asam folik, jarang sekali karena defisiensi vitamin B

Hal ini erat hubungannya dengan defisiensi makanan.

c. Anemia Hipoplastik

Disebabkan oleh karena sum-sum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah

baru. Etiologi anemia hipoplastik karena kehamilan hingga kini diketahui dengan

pasti, kecuali yang disebabkan oleh sepsis, sinar roentgen, racun dan obat-obatan.

d. Anemia hemolotik

Disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari

pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila ia

hamil maka anemianya biasa menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin pula pada

kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak

menderita anemia.menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya

tidak menderita anemia.

5. Tanda dan Gejala Anemia ( Varney Helen, 2002, Hal. 152 )

Berkurangnya konsentrasi hemoglobin selama masa kehamilan

mengakibatkan suplay oksigen keseluruh jaringan tubuh berkurang sehingga

menimbulkan tanda dan gejala anemia secara umum, sebagai berikut :Lemah,

mengantuk, pusing, lelah, malaise, sakit kepala, nafsu makan turun, mual dan

muntah, konsentrasi hilang dan nafas pendek ( pada anemia yng parah ).

Pada pemerikasaan tanda-tanda dan gejala anemia dapat meliputi : kulit

pucat, mukosa, gusi, dan kuku-kuku jari pucat, takikardi/murmut lambat ( pada
anemia yang parah ), rambut dan kuku rapuh ( pada anemia yang parah ) dan juga

lidah licin ( pada anemia yang parah ).

6. Pengaruh Anemia pada Kehamilan, Persalinan, Nifas, dan Janin ( Manuaba,

1998. Hal. 31-32 ).

a. Bahaya Anemia dalam Kehamilan

1. Resiko terjadi abortus

2. Persalinan permaturus

3. Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim

4. Mudah menjadi infeksi

5. Ancaman dekompensasi kordis (Hb <6 gr %)

6. Mengancam jiwa dan kehidupan ibu

7. Mola hidatidosa

8. Hiperemesis gravidarum

9. Perdarahan anterpartum

10. Ketuban pecah dini(KPD)

b. Bahaya Anemia dalam Persalinan

1. Gangguan kekuatan his

2. Kala pertama dapat berlangsung lama, dan terjadi partus terlantar

3. Kala dua berlangsung lama sehingga dapat melelahkan dan sering memerlukan

tindakan operasi kebidanan.


4. Kala tiga dapat di ikuti retensio placenta dan perdarahan post partum karena

atonia uteri.

5. Kala empat dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri.

c. Bahaya anemia dalam masa nifas

1. Perdarahan post partum karena atonia uteri dan involusio uteri memudahkan

infeksi puerperium

2. Pengeluaran ASI berkurang

3. Terjadi dekompensasi kordis mendadak setelah persalinan

4. Mudah terjadi infeksi mammae

d. Bahaya anemia terhadap janin

Sekalipun tampaknya janin mampu menyerap berbagai keutuhan dari ibunya,

tetapi dengan anemia akan mengurangi kemampuan metabolism tubuh sehingga

menggangu pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Akibat anemia

dapat terjadi gangguan dan bentuk :

1. Abortus

2. Terjadi kematian intra uteri

3. Persalinan prematuritas tinggi

4. Berat badan lahir rendah (BBLR)

5. Kelahiran dengan anemia

6. Dapat terjadi cacat bawaan

7. Bayi mudah mendapat infeksi sampai kematian perinatal


8. Intelengensi rendah, oleh karena kekurangan oksigen dan nutrisi yang

menghambat pertumbuhan janin

6. Diagnosa anemia

Diagnosa anemia dalam kehamilan dapat di tegakkan dengan :

a. Anamnese

Pada anemnese akan didapatkan keluhan lelah, sering pusing, mata berkunang -

kunang dan keluhan mual, muntah lebih berat pada hamil muda. ( Manuaba,

I.B.G, 1998,hal.30). Bila terdapat keluhan lemah, Nampak pucat, mudah

pingsan,sementara masih dalam batas normal, maka perlu dicurigai anemia

defesiensi zat besi ( Saifuddin A.B, 2002 hal.282 ).

b. Pemeriksaan darah

Pemeriksaan darah Hb dan darah tepi akan memberikan kesan pertama.

Pemeriksaan Hb dengan Spektofotometri merupakan standar, kesulitan adalah alat

ini hanya tersedia di kota. Di Indonesia penyakit kronik seperti : malaria dan

tuberculosis (TBC) masih relatife sering dijumpai sehingga pemeriksaan khusus

darah tepi dan sputum perlu dilakukan. Dengan pemeriksaan khusus untuk

membedakan dengan defisiensi asam folat dan thalassemia. Pemeriksaan Mean

Corpuscular Volume (MCV) penting untuk menyingkirkan thalassemia. Bila

terdapat batas MCV < 80 uL dan kadar ROW (red cell distribution width) > 14%

mencurigai akan penyakit ini kadar Hemoglobin Fetal (HbF) >2% dan HbA2 yang

abnormal akan menentukan jenis thalassemia.

7. Pencegahan dan penanganan Anemia


a. Pencegahan Anemia

Untuk menghindari terjadinya anemia sebaiknya ibu hamil melakukan

pemeriksaan sebelum hamil sehingga dapat di ketahui data dasar kesehatan ibu

tersebut, dalam pemeriksaan kesehatan di sertai pemeriksaan laboratorium

termasuk pemeriksaan tinja sehingga di ketahui adanya infeksiparasit. (Manuaba,

I. B. G. 1998, hal.30)

b. Penanganan pada Anemia sebagai berikut :

1. Anemia Ringan

Pada kehamilan dengan kadar Hb 9-10 gr% masih di anggap ringan sehingga

hanya perlu di perlukan kombinasi 60 mg/hari zat besi dan 500 mg asam folat

peroral sekali sehari. ( Arisman, 2004 Hal. 150 – 151 ).

2. Anemia Sedang

Pengobatan dapat di mulai dengan preparat besi feros 600-1000 mg/hari seperti

sulfat ferosus atau glukonas ferosus.

( Wiknjosastro, 2005 Hal. 452 ).

3. Anemia Berat

Pemberian preparat besi 60 mg dan asam folat 400 mg, 6 bulan selama hamil,

dilanjutkan sampai 3 bulan setelah melahirkan. ( Arisman, 2004 hal 153 ).

B. Tinjauan Tentang Faktor yang Berhubungan dengan Anemia

1. Umur
Umur ibu adalah lama waktu hidup atau sejak dilahirkan sampai ibu tersebut

hamil. Ada banyak hal yang menyebabkan terjadinya berbagai komplikasi pada

masa kehamilan diantaranya adalah umur ibu pada saat hamil. Jika umur ibu

terlalu muda yaitu usia kurang dari 20 tahun, secara fisik dan panggul belum

berkembang optimal sehingga dapat mengakibatkan resiko kesakitan dan

kematian pada masa kehamilan, dimana pada usia kurang dari 20 tahun ibu takut

terjadi perubahan pada postur tubuhnya atau takut gemuk. Ibu cenderung

mengurangi makan sehingga asupan gizi termasuk asupan zat besi kurang yang

berakibat bisa terjadi anemia. Sedangkan pada usia di ats 35 tahun, kondisi

kesehatan ibu mulai menurun, fungsi rahim mulai menurun, serta meningkatkan

komplikasi medis pada kehamilan sampai persalinan (Anonim, 2010).

2. Paritas

Paritas adalah jumlah persalinan yang pernah di alami oleh ibu baik

lahir hidup maupun lahir mati. Paritas 1-3 merupakan paritas I paling aman di

tinjau dari sudut kematian maternal paritas I dan parits tinggi (lebih dari 3)

mempunyai angka kematian lebih tinggi. Resiko pada paritas 1 dapat di kurangi

atau di cegah dengan keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi

adalah tidak direncanakan. ( Sarwono, 1999, Hal. 23 ).

Setelah kehamilan yang ketiga resiko anemia (kurang darah) meningkat. Hal di

sebabkan karena pada kehamilan yang berulang menimbulkan kerusakan pada

pembuluh darah dan dinding uterus yang biasanya mempengaruhi sirkulasi nutrisi

ke janin.
3. Status Gizi Ibu Hamil

Anemia merupakan salah satu masalah utama penyebab angka

kematian ibu di Indonesia dan sering terjadi pada ibu hamil. Biasanya Anemia di

temukan pada wania hamil yang jarang mengkonsumsi sayuran segar, khususnya

jenis daun-daunan hiaju yang mentah ataupun makanan yang kandungan protein

hewani.

Status gizi dinilai berdasarkan perhitungan Antropometri WHO

NCHS ( National Center Of Health Statistic ), yaitu pengukuran dan berbagai

dimensi fisik tubuh seperti barat terhadap umur (BB/U), tinggi badan terhadap

umur (TB/U) dan berat badan terhadap tinggi badan terhadap tinggi badan

(BB/TB) dan di kelompokkan. Menurut klasifikasi Departemen Kesehatan

Indonesia menjadi gizi buruk (BB/U < 60 %), gizi kurang (BB/U 60-80%) dan

gizi lebih (BB/U > 110%).

Ibu hamil memerlukan jumlah zat gizi yang relative besar. Hal ini

berkaitan dengan pertumbuhan janin di dalam kandungan. Peningkatan kebutuhan

zat gizi ini terutama berupa vitamin B1, (Thiamin), Vitami E2 (Riboflapin),

Vitamin A,D dan B1, Mineral,La, dan Fe.

Kondisi gizi dan komsumsi ibu hamil yang kurang akan

menyebabkan anemia dan berpengaruh terhadap kondisi janin dan bayi yang di

lahirkan. Kekurangan gizi pada saat hamil akan menimbulkan berbagai kesulitan.

Oleh karena itu, kecukupan gizi yang dianjurkan bayi ibu hamil harus dapat

terpenuhi. ( Hadju Veni, 2004 hal 11 ).


BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan deskriptif bertujuan untuk

memperoleh informasi mengenai gambaran karakterisitik anemia pada ibu hamil

yang berkunjung ke Rumah Sakit Umum Ciamis Tahun 2015.

B. Waktu dan Lokasi Penelitian

a. Waktu penelitian

Penelitian di laksanakan di Rumah Sakit Umum Ciamis bulan Januari 2015.

b. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Ciamis

C. Populasi dan sampel

1. Populasi

Populasi penelitian adalah semua ibu hamil yang di layani di RSUD Ciamis

Tahun 2015.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian adalah semua ibu hamil yang menderita Anemia di

RSUD Ciamis .
D. Cara Pengambilan Sampel

Sampel yang diambil dengan cara total sampling, yaitu semua ibu hamil yang

menderita anemia yang tercantum didalam buku register.

E. Jenis Data Dan Cara Pengumpulan Data

Jenis data adalah data sekunder yang di kumpulkan dari register pasien dengan

bantuan cek list.

F. Pengolahan dan Penyajian Data

Pengolahan dan penyajian data dengan cara menetukan presentase dengan

menggunakan kalkulator, kemudian disajikan dalam bentuk presentase dengan

menggunakan rumus :

P = -------------------- x 100%

Dimana :

P = Persentase yang dicari

F = Frekuensi

N = Jumlah Sampel
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan di RSUD Ciamis , seluruh ibu

hamil yang memeriksakan kehamilannya di RSUD Ciamis berjumlah 1201 orang

dan yang menjadi sampel adalah semua ibu hamil yang menderita anemia ringan

sebanyak 31 orang, selengkapnya di gambarkan pada tabel berikut ini :

1. Karakteristik Anemia ibu hamil

Table 1 : Karakteristik Kejadian Anemia pada ibu Hamil di Rumah Sakit

Umum Haji Makassar Tahun 2009.

Kejadian Frekuensi Persen

(%)

Anemia ringan 31 2,58%

Tidak anemia 1170 97,42%

Jumlah 1201 100%

Sumber : Data sekunder dari RSUD Ciamis 2009

Dari data tabel di atas memperlihatkan bahwa dari 1201 ibu yang hamil di

periksa di RSUD Ciamis didapatkan ibu hamil yang anemia ringan 31 orang atau

2,58%,sementara ibu hamil yang tidak anemia sebanyak 1170 orang atau 97,42%.
2. Karakteristik Anemia menurut Umur

Tabel 2 : Karakteristik kejadian anemia ringan pada ibu hamil menurut Paritas di RSUD

Ciamis Tahun 2015.

Umur Frekuensi Persen

(%)

Resiko tinggi < 20 tahun > 35 tahun 4 12,91%

Resiko rendah 20 – 35 tahun 27 87,09%

Jumlah 31 100

Sumber : Data sekunder dari RSUD Ciamis 2015

Dari data tabel 2 di atas dapat dilihat bahwa dari 31 ibu hamil yang anemia

ringan dan di layani di Rumah Sakit Umum Ciamis di dapatkan pada kelompok

Resiko tinggi <20 tahun >35 tahun sebanyak 4 ibu hamil (12,91%) dan Resiko

rendah 20 – 35 tahun sebanyak 27 ibu hamil (87,09%).

3. Karakteristik Anemia Menurut Paritas

Tabel 3: Karakteristik kejadian anemia ringan pada ibu hamil menurut Paritas di RSUD

Ciamis Tahun 2015.

Status Frekuensi Persen

(%)

Resiko tinggi paritas 1 dan >3 15 48,39%

Resiko rendah 2 -3 paritas 16 51,61%

Jumlah 31 100

Sumber : Data sekunder dari RSUD Ciamis 2015


Dari tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa 1201 ibu hamil yang melakukan

pemeriksaan antenatal di RSUD Ciamis di dapatkan pada kelompok paritas 1 dan

>3 sebanyak 15 ibu hamil ( 48,39%) sementara dari ibu hamil anemia dengan

paritas

2 – 3 kali sebanyak 16 (51,61%)

B. Pembahasan

Setelah melakukan penelitian gambaran karakteristik anemia ringan pada

ibu hamil di RSUD Ciamis , maka hasil penelitian menunjukkan bahwa 1201 ibu

hamil yang melakukan pemeriksaan antenatal dipoli KIA RSUD Ciamis terdapat

31 ibu hamil (2,58%) menderita anemia Ringan.

Hasil analisa pada table di atas selanjutnya dapat di gambarkan karakteristik

anemia pada ibu hamil berdasarkan dua faktor yang menjadi variable independen

melalui pembahasan berikut:

1. Umur ibu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian anemia ternyata paling tinggi

pada kelompok umur 20 -35 tahun yaitu 27 ibu hamil (87,09%), dan terendah

pada kelompok pada kelompok umur <20 tahun dan >35 tahun sebanyak 31 ibu

hamil (2,58%). Pada table 2.

Secara umum kemungkinan terjadi anemia kemungkinan terjadi anemia bisa

pada usia berapa pun ibu tersebut hamil. Usia reproduksi yang sehat bagi seorang

wanita untuk hamil dan melahirkan yaitu 20 -35 tahun, karena pada usia ini alat-

alat reproduksi sudah cukup matang dan siap untuk proses kehamilan dan
persalinan.pada umur ibu yang kurang dari 20 tahun merupakan resiko tinggi

karena selain alat reproduksi belum siap untuk menerima hasil konsepsi, secara

psikologis belum cukup dewasa untuk menjadi seorang ibu, sedangkan pada umur

di atas 35 tahun merupakan umur resiko tinggi karena alat-alat reproduksi telah

mengalami kemunduran fungsinyaberupa elastisitas otot-otot panggul dan sekitar

organ-organ reproduksi lainnya.

2. Paritas

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 31 ibu hamil anemia ringan yang

Mi9oelakukan pemeriksaan antenatal di poli KIA di RSUD Ciamis , lebih banyak

di dapatkan ibu hamil anemia paritas 1 dan >3 sebanyak 15 (48,39). Sedangkan

paritas 2 – 3 sebanyak 16 (51,61%). Pada table 3.

Hasil penelitian sesuai dengan teori bahwa pada ibu hamil dengan paritas 1

dan >3 resiko anemia lebih tinggi bila di banding pada paritas 2-3. Paritas 1 dan

paritas >3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi.

(Prawirohardjo,2007. Hal 23).


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil penelitian distribusi Anemia Ringan pada ibu hamil terhadap Umur

ibu dan Paritas di RSUD Ciamis , setelah data di olah dan di bahas maka penulis

mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Gambaran kejadian Anemia pada ibu hamil terbanyak pada resiko rendah.

2. Gambaran kejadian Anemia pada ibu hamil terbanyak pada Paritas rendah.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian diatas, maka disarankan :

1. Melakukan penyuluhan tentang pentingnya pendewasaan kehamilan karena telah

benar didapatkan pada ibu dengan usia <20 dan >35 tahun cukup beresiko untuk

terjadinya Anemia yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehamilan.

2. Pada ibu hamil trimester 2 dan 3 perlu perhatikan khusus dalam pemberian Fe

untuk mengimbangi terjadinya hemodilusi.

3. Khusus pada ibu hamil dengan paritas >4 sebaiknya mengikuti program Keluarga

berencana untuk meningkatkan kesehatan reproduksi pada ibu, guna mencegah

terjadinya anemia yang secara tidak langsung dapat menimbulkan berbagai

komplikasi.
4. Pada petugas kesehatan, perlu penyampaian khusus pada ibu hamil bagaimana

cara pengolahan makanan yang baik agar zat gizi yang terkandung dalam

makanan tetap terjaga.