Anda di halaman 1dari 4

PENATALAKSANAAN ASFIKSIA BAYI

BARU LAHIR
No. Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :
Sunarya,AM.Kep, SKM, MM
UPTD Puskesmas NIP. 196802191989021003
Buniwangi

1. Pengertian Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi


baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur.
2. Tujuan Suatu intervensi tindakan yang dilakukan untuk membantu bayi
baru lahir yang tidak bernafas spontan dan teratur.
3. Referensi 1. Direktorat Kesga, Dirjen Kesmas, Kemenkes RI, 2018, Modul
Pelatihan Bagi Pelatih (TOT) Penanganan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal Bagi Dokter Umum, Bidan dan Perawat,
Kemenkes RI, Jakarta.
2. Kementerian Kesehatan RI, WHO (2013), Buku Saku Pelayanan
Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar Dan Rujukan Untuk
Tenaga Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, Jakarta.
4. Prosedur/ A. Persiapan Resusitasi
Langkah- 1. Informed Concent dan komunikasi
langkah 2. Menyusun tim
3. Pengenalan Faktor Risiko Ibu dan Bayi Baru Lahir
4. Menyiapkan alat dan memastikan berfungsi
5. Mengetahui indikasi melakukan resusitasi (langkah awal)
B. Resusitasi Pada Bayi Baru Lahir
6. Penilaian awal (bernafas, menangis, tonus otot) jika salah
satu jawaban tidak maka bayi perlu tindakan resusitasi.
7. Melakukan langkah awal
a. Memastikan bayi tetap hangat (meletakan bayi baru lahir
dibawah penghangat dengan pemancar panas) dan
melakukan pemasangan plastic dan topi bayi sebagai
metode kehangatan.
b. Atur posisi dan bersihkan jalan nafas
c. Membersihkan jalan nafas
d. Mengeringkan, mengganti kain basah
e. Melakukan stimulasi
f. Reposisi kepala (memposisikan kembali)
8. Melakukan evaluasi (usaha nafas, laju denyut jantung dan
tonus otot)
9. Membuat keputusan untuk langkah selanjutnya
10. Mengetahui indikasi melakukan Ventilasi Tekanan Positif
a. Jika bayi baru lahir tidak bernafas atau megap-megap
atau laju denyut jantung <100 x /menit maka lakukan
VTP dan pasang sensor pulseoxymetri di tangan kanan
(saturasi oksigen)
b. Jika bayi baru lahir bernafas spontan dan denyut
jantung >100 x /menit tetapi ada distress respirasi
(takipnea, tarikan dinding dada, merintih) maka lakukan
pemasangan CPAP dan pasang pulseoxymetri di tangan
kanan.
11. Melakukan Ventilasi Tekanan Positif dengan balon
sungkup+katup PEEP
12. Menentukan ukuran sungkup yang sesuai
13. Memastikan jalan nafas terbuka
14. Melekatkan sungkup dengan benar
15. Melakukan VTP
16. Melakukan koreksi jika dada tidak mengembang
17. Melakukan VTP dengan frekuensi 20-30 x per 30 detik
18. Melakukan evaluasi setelah VTP selama 30 detik
19. Setelah VTP 30 detik, evaluasi jalan nafas, denyut jantung
dan saturasi oksigen
20. Membuat keputusan untuk melakukan langkah berikutnya
a. Bila nafas spontan, denyut jantung > 100 x /menit dan
tidak ada tanda-tanda distress respirasi, lakukan
perawatan pasca resustasi
b. Bila nafas spontan, denyut jantung > 100 x /menit dan
ada tanda-tanda distress respirasi, berikan CPAP
c. Bila belum ada nafas spontan, denyut jantung > 60 x
/menit lanjutkan VTP
d. Bila bayi belum bernafas dan denyut jantung < 60 x
/menit lakukan VTP dan kompresi dada
e. Jika sudah kompeten lanjutkan ke VTP berkelanjutan
dengan t-piece resuscitator, jika tidak kompeten dalam
melakukan kompresi dada maupun VTP dengan t-piece
lakukan rujukan dengan tetap melakukan VTP sampai
ketempat rujukan
21. Melakukan persiapan alat untuk melakukan VTP lanjutan
dengan t-piecedengan mengatur tekanan positif akhir
respirasi (end-expiratory pressure/PEEP yang akan
diberikan Antara 5-8 cm H2O (umumnya dimulai dengan 7,
hingga manometer menunjukkan PEEP yang diinginkan.
22. Melekatkan sungkup dengan ukuran yang sesuai pada
wajah bayi.
23. Melakukan pengamatan saturasi oksigen pada pulse
oksymetri
24. Melakukan evaluasi saturasi oksigen
a. Jika setelah pemberian PEEP, saturasi oksigen masih
belum naik, maka pemberian FiO2 dinaikan bertahap
b. Pada bayi cukup bulan pemberian oksigen diulai dari
konsentrasi 21% dan pada bayi kurang blan pemberian
oksigen diulai dari konsentrasi 30%, kemudian bias
dinaikkan bertahap sesuai denga table yan telah
ditentukan
c. Pikirkan pemasangan LMA bila VTP dengan t-piece
resuscitator tidak efektif
25. Petugas mampu mengetahui indikasi dilakukannya
pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA)
26. Melakukan persiapan alat
27. Kempiskan cuff dan jaga agar tidak terlipat
28. Mengolesi bagian belakang dan samping LMA dengan air
liur bayi
29. Peganglah LMA seperti memegang pensil dengan bagian
sungkup menghadap kedepan
30. Masukan LMA menyusuri bagian tengah langit-langit mulut
31. Dorong sungkup dengan jari telunjuk menyusuri langit-
langit mulut kea rah faring sampai terasas ada tahanan
32. Pegang pipa LMA agar tidak berubah posisi dengan tangan
kiri, jari telunjuk kanan ditarik dari mulut bayi
33. Kembangkan cuff dengan memasukkan 4 ml udara dengan
spuit, pada waktu tersebut tampak LMA sedikit terdorong
keluar
34. Hubungkan dengan alat resusitasi ventilasi
35. Peserta mengetahui indikasi dilakukannya kompresi dada
36. Kompresi dada dilakukan terkoordinasi dengan VTP satu
orang melakukan kompresi dada dan satu oranf melakukan
VTP
37. Posisi penolong dalam melakukan kompresi dada
menghadap ke kepala dengan kedua tangannya dalam posisi
yang benar
38. Tempat melakukan kompresi dada di sepertiga distal
sternum tepat di kaudal linea intermamillaria dengan
kedalaman penekanan sepertiga diameter anteroposterior
rongga dada
39. Bisa menggunakan dua teknik yaitu teknik ibu jari dengan
menggunakan ujung ibu jari, jari-jari yang lain melingkari
dada dan teknik dua jari dengan menggunakan ujung dua
jari (jari tengah dan telunjuk) sedangkan tangan yang
satunya menopang di punggung bayi
40. Rasio kompresi dada 3:1 dengan total 90 kali kompresi dan
30 nafas setiap menitnya
41. Konsentrasi oksigen dinaikkan 100%, perhatikan efektifitas
ventilasi
42. Melakukan kompresi dada dan VTP selama 1 menit dan
menjaga konsistensi
43. Melakukan evaluasi (laju denyut jantung, usaha nafas)
setiap 60 detik
44. Petugas mampu memutuskan dan melakukan
a. Menghentikan VTP – kompresi dada jika laju denyut
jantung > 100 x /menit bayi bernafas spontan
b. Menghentikan kompresi dada dan melanjutkan VTP jika
laju denyut jantung > 60 x /menit dan bayi belum
bernafas spontan
c. Opsi hanya perlu diketahui; Memberikan larutan
adrenalin 1:10.000 dengan dosis 0,1 – 0,3 mL/KgBB
melalui vena umbilical, melanjutkan kompresi dada dan
VTP jika laju denyut jantung < 60 x /menit dan bayi
belum bernafas spontan:
1) Melakukan pemasangan kateter vena umbilical
2) Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
3) Melakukan stabilisasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
4) Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
45. Mengetahui indikasi dilakukannya kateterisasi umbilical
46. Petugas melakukan kateterisasi umbilical
a. Persiapan alat
b. Cuci tangan dengan antiseptic
c. Memakai sarung tangan steril
d. Isi lebih dahulu kateter ukuran 3,5 F atau 5 F yang telah
disambung dengan semprit dan stopcock dengan garam
fisiologis
e. Pasang sebuah keran 3 arah (3 way stopper) steril dan
semprit pada kateter 5 FG dan isi dengan saline normal,
lalu tutup keran
f. Bersihkan umbilicus dan kulit sekelilingnya dengan
larutan antiseptic, lalu ikat longgar dengan benang
mengelilingi dasar umbilicus
g. Potong umbilicus 1-2cm dari batas kulit dan Wharton
jelly dengan pisau steril. Tentukan vena umbilicus
(pembuluh darah yang menganga lebar) dan arteri
umbilicus (dua pembuluh darah berdinding tebal)
h. Pegang umbilicus yang dekat
47. Mengidentifikasi kebutuhan pemberian volume
48. Melakukan stabilisasi pada bayi baru lahir pasca resusitasi
49. Melakukan transportasi pada bayi baru lahir pasca
resusitasi
5. Diagram Alir -
6. Hal-hal yang
perlu
diperhatikan
7. Unit Terkait
8. Dokumen
Terkait
9. Rekaman No Yang Isi perubahan Tgl. mulai diberlakukan
Historis dirubah
Perubahan
JUDUL

No. Dokumen :
DAFTAR No. Revisi :
TILIK Tanggal Terbit :
Halaman :

UPTD Puskesmas Sunarya,AM.Kep, SKM, MM


Buniwangi NIP. 196802191989021003

No Kegiatan Ya Tidak
1. ………………………………………………………………………………..
2. ……………………………………………………………………………………….
3. ……………………………………………………………………………………….
4. ……………………………………………………………………………………….
5. ……………………………………………………………………………………….
6. ……………………………………………………………………………………….
7. ……………………………………………………………………………………….
8. ……………………………………………………………………………………….