Anda di halaman 1dari 18

PANCASILA DALAM KONTEKS KEHIDUPAN

KAMPUS
Dosen: Yayat Hidayat M,M.Pa

DISUSUN OLEH:

1.ASRI AULIYA NURHASANAH 18111027

2.DIMAS EKA PUTRA 18111037

3.JIYA AL PUJIYANTO 18111072

4.RICKY ADVENTUS 18111137

5.SINTIA ANA BELA 18111157


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi rabbil’alamin, Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan banyak kesempatan, sehingga
kami dapat menyelesaikan tugas dengan baik.
Sholawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan besar kita, Nabi
Muhammad SAW, serta para keluarga, sahabat dan orang-orang yang senantiasa telah
menunjukkan kepada kita semua jalan yang lurus berupa ajaran agama islam yang sempurna
dan menjadi anugrah terbesar bagi seluruh alam semesta,Amin.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa nya. Oleh kana itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
ini.
DAFTAR ISI

JUDUL ....................................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... IV


1.1.Latar belakang .................................................................................................... IV
1.2.Rumusan Malsalah ............................................................................................. IV
1.3.Tujuan Pembuatan makalah .............................................................................. IV
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................ IV
2.1. Pancasila Sebagai Dasar Negara ....................................................................... IV
2.2. Aktualisasi Pancasila .......................................................................................... IV
2.3. Tridarma Perguruan Tinggi .............................................................................. IV
2.4. Budaya Akademik ............................................................................................... IV
2.5. Kampus Sebagai Moral Force Pengembangan Hukum Dan HAM ............... IV
BAB III PENUTUP ................................................................................................................ IV
3.1. Kesimpulan .......................................................................................................... IV
3.2. Saran .................................................................................................................... IV
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah

mengalamiperjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut banyak hal

atau peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila, sehingga berdirilah pancasila

seperti sekarang ini didepan semua bangsa Indonesia.

Mulai peristiwa pertama saat pancasila dicetuskan sudah menuai banyak konflik

diinternal para pencetusnya, hingga sekarangpun di era reformasi dan globalisasiPancasila

masih hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan berpendidikan terutama kalangan

Politik dan mahasiswa. Kebanyakan dari para pihak yang memperbincangkan masalah

Pancasila adalah mengenai awal dicetuskannya Pancasila tentang sila pertama.

Memang dari sejarah awal perkembangan bangsa Indonesia dapat kita lihat

bahwa komponen masyarakatnya terbentuk dari dua kelompok besar yaitu kelompok

agamis dalam hal ini didominasi oleh kelompok agama Islam dan yang kedua

adalahkelompok Nasionalis. Kedua kelompok tersebut berperan besar dalam pembuatan

rancangan dasar Negara kita tercinta ini.

Maka, setelah banyak aspek memperbincangkan pancasila sebagai dasar Negara.

Sekarang pancasilapun dijadikan bahan perbincangan sebagai prilaku yang digunakan

didalam kampus. Dimana didalam kampus tersebut akan terdidik dengan kepemimpinan

pancasilan. Baik dalam prilaku bergaul juga dalam proses belajar mengajar didalamnya. Serta

molekul-molekul yang menjadi bagiannya.

Makalah ini dibuat sebagai catatan perjalanan Pancasila dari jaman ke jaman,
agar kita senantiasa tidak melupakan sejarah pembentukan Pancasila sebagai dasarNegara,

dan juga dapat digunakan untuk menjadi penengah bagi pihak yang sedangberbeda pendapat

tentang dasar Negara supaya kedepan kita tetap seperti semboyankita yaitu “Bhineka Tunggal

Ika”. Terutama hal tersebut dalam penerapannya dalam kehidupan kita. Termasuk

dilingkungan kampus.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka makalah ini secara husus membahas permasalahan sebagai

berikut:

1. Apa yang disebut pancasila sebagai dasar negara?

2. Apa yang dimaksud dengan tri darma perguruan tinggi?

3. Bagaimana cara mengaktualisasikan pancasila tersebut di perguruan tinggi atau kampus?

C. Tujuan Penulisan Makalah

Setelah penulis mencoba memahami akan latar belakang serta rumusan masalah diatas, maka

tujuan kepenulisan ini adalah:

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai dasar negara

2. Memahami makna dari pancasila dalam prilaku sehari-hari

3. serta mengenali betul peran dan cara mengaktualisasikan pancasila sendiri dalam

kehidupan, terutama dalam lingkungan kampus


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pancasila Sebagai Dasar Negara

Sebelum kita beranjak mengenali pancasila dalam lingkungan kampus. Maka

terpikir sangatlah perlu bagi kita semua untuk mengetahui posisi, fungsi atau peran pancasila

sebagai dasar negara, sebelum kita akan melanjutkan pemahaman terhadap pancasila dan

aktualisasinya dalam kampus. Karena dengan mengetahui lebih jauh dan lebih dalam

pancasila sebagai dasar Negara kita nanti akan lebih paham untuk mengaktualisasikan dalam

kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam kampus.

Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat Pembukaan

UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9 Juni 1966 yang

menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah dimurnikan dan

dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar negara Republik Indonesia.

Memorandum DPR-GR itu disahkan pula oleh MPRS dengan Ketetapan

No.XX/MPRS/1966 jo. Ketetapan MPR No.V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR

No.IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber

hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.

Inilah sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama, yakni sebagai dasar negara

(philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Pancasila yang terkandung dalam alinea

keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18
Agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai penjelmaan kehendak seluruh rakyat

Indonesia yang merdeka.

Dengan syarat utama sebuah bangsa menurut Ernest Renan: kehendak untuk bersatu

(le desir d’etre ensemble) dan memahami Pancasila dari sejarahnya dapat diketahui bahwa

Pancasila merupakan sebuah kompromi dan konsensus nasional karena memuat nilai-nilai

yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan masyarakat Indonesia.

Maka pancasila merupakan intelligent choice karena mengatasi keanekaragaman dalam

masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya perbedaan. Penetapan Pancasila

sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan perbedaan (indifferentism), tetapi

merangkum semuanya dalam satu semboyan empiris khas Indonesia yang dinyatakan dalam

seloka “Bhinneka Tunggal Ika”.

Mengenai hal itu pantaslah diingat pendapat Prof.Dr. Supomo: “Jika kita hendak

mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak masyarakat

Indonesia, maka Negara kita harus berdasar atas aliran pikiran Negara (Staatside) integralistik

Negara tidak mempersatukan diri dengan golongan yang terbesar dalam masyarakat, juga

tidak mempersatukan diri dengan golongan yang paling kuat, melainkan mengatasi segala

golongan dan segala perorangan, mempersatukan diri dengan segala lapisan rakyatnya …”

Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa negara Indonesia

adalah Negara Pancasila. Hal itu mengandung arti bahwa negara harus tunduk kepadanya,

membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundang-undangan. Mengenai hal itu, Kirdi

Dipoyudo (1979:30) menjelaskan: “Negara Pancasila adalah suatu negara yang didirikan,

dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan

martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan

beradab), agar masing-masing dapat hidup layak sebagai manusia, mengembangkan dirinya

dan mewujudkan kesejahteraannya lahir batin selengkap mungkin, memajukan kesejahteraan


umum, yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa

(keadilan sosial).”

Pandangan tersebut melukiskan Pancasila secara integral (utuh dan menyeluruh)

sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang didirikan di atasnya,

dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi dan mengembangkan

martabat dan hak-hak azasi semua warga bangsa Indonesia. Perlindungan dan pengembangan

martabat kemanusiaan itu merupakan kewajiban negara, yakni dengan memandang

manusia qua talis, manusia adalah manusia sesuai dengan principium identatis-nya.

Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan keseragaman

sistematikanya melalui Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 itu tersusun secara hirarkis-

piramidal. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang saling mengikat dan menjiwai

satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat dipisah-pisahkan. Melanggar satu sila dan

mencari pembenarannya pada sila lainnya adalah tindakan sia-sia. Oleh karena itu, Pancasila

pun harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan utuh, yang tidak dapat dipisah-

pisahkan.

Usaha memisahkan sila-sila dalam kesatuan yang utuh dan bulat dari Pancasila akan

menyebabkan;

Pancasila kehilangan esensinya sebagai dasar negara.

Sebagai alasan mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan yang bulat dan

utuh ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan satu sama lain. Secara

tepat dalam Seminar Pancasila tahun 1959, Prof. Notonagoro melukiskan sifat hirarkis-

piramidal Pancasila dengan menempatkan sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” sebagai basis

bentuk piramid Pancasila. Dengan demikian keempat sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila

“Ketuhanan Yang Mahaesa”. Secara tegas, Dr. Hamka mengatakan: “Tiap-tiap orang

beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, Pancasila bukanlah sesuatu yang perlu
dibicarakan lagi, karena sila yang 4 dari Pancasila sebenarnya hanyalah akibat saja dari sila

pertama yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa.”

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara

sesungguhnya berisi:

Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan

Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/perwakilan, serta ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Persatuan

Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Persatuan Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil

dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam

permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan,

yang ber-Ketuha nan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-

Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-

Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Kerakyatan yang

dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan.

2.2 Aktualisasi Pancasila


Aktualisasi berasal dari kata aktual, yang berarti betul-betul ada, terjadi, atau sesungguhnya,

hakikatnya. Dimana pancasila memang sudah jelas berdiri di Negara Indonesia sebagai dasar

Negara dan ideologi Negara.0

Aktualisasi Pancasila adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar dapat tercermin

dalam sikap dan perilaku seluruh warga negara mulai dari aparatur dan pimpinan nasional

sampai kepada rakyat biasa.

Nilai-nilai Pancasila yang bersumber pada hakikat Pancasila adalah bersifat universal, tetap

dan tak berubah. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan dalam setiap aspek dalam

penyelenggaraan Negara dan dalam wujud norma-norma, baik norma hukum, kenegaraan,

maupun norma-norma moral yang harus dilaksanakan dan diamalkan oleh setiap warga

Negara Indonesia.

Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu :

A. Aktualisasi objektif

Aktualisasi Pancasila yang objektif adalah aktualisasi pancasila dalam berbagai bidang

kehidupan kenegaraan yang meliputi kelembagaan Negara antara lain, legislatif, eksekutif,

maupun yudikatif. Selain itu juga meliputi bidang-bidang aktualisasi lainnya. Seperti politik,

ekonomi, hokum terutama dalam penjabaran kedalam undang-undang, garis-garis besar

haluan Negara, hankam, pendidikan maupun bidang kenegaraan lainnya.

B. Aktualisasi Subjektif
Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah aktualisasi pancasila pada setiap individu

terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan hidup Negara dan masyarakat.

Aktualisasi yang subjektif tersebut tidak terkecuali baik warga Negara biasa, aparat

pentelenggara Negara, penguasa Negara, terutama kalangan elit politik dalam kegiatan

politik, maka dia perlu mawas diri agar memiliki moral ketuhanan dan kemanusiaan

sebagaimana terkandung dalam pancasila.

Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

memerlukan kondisi dan iklim yang memungkinkan segenap lapisan masyarakat yang dapat

mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dan dapat terlihat dalamperilaku. Perpaduan ciri

tersebut di dalam kehidupan kampus melahirkan gaya hidup tersendiri yang merupakan

variasi dari corak kehidupan yang menjadikan kampus sebagai pedoman dan harapan

masyarakat.

2.3 Tridarma Perguruan Tinggi


Pembangunan di Bidang Pendidikan yang dilaksanakan atas falsafah Negara

Pancasila diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang berjiwa

Pancasila, membentuk manusia-manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya,

memiliki pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi

disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan negara dan mencintai sesama manusia.

Peranan perguruan tinggi dalam usaha pembangunan mempunyai tugas pokok

menyelenggarakan pendidikan dan pegajaran di atas perguruan tingkat menengah

berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia dengan cara ilmiah yang meliputi: pendidikan dan

pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang disebut Tri Darma

Perguruan Tinggi.

Peningkatan peranan Perguruan Tinggi sebagai satuan pendidikan yang

menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam usaha pembangunan selain diarahkan untuk

menjadikan Perguruan Tinggi sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta seni, juga mendidik mahasiswa untuk berjiwa penuh

pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar pada masa depan bangsa dan Negara,

serta menggiatkan mahasiswa, sehingga bermanfaat bagi usaha pembangunan nasional dan

pengembangan daerah.

Perlu diketahui, bahwa pendidikan tinggi sebagai institusi dalam masarakat bukanlah

merupakan menara gading yang jauh dari kepentingan masyarakat, melainkan senantiasa

mengembangkan dan mengabdi kepada masarakat. Maka menurut PP. No. 60 Th. 1999,

bahwa Perguruan Tinggi mempunyai 3 tugas pokok, yaitu:

1. Pendidikan tinggi

2. Penelitian

3. Pengabdian terhadap masyarakat


Jadi, di Perguruan Tinggi atau yang biasa disebut dengan kampus, tidak hanya mengajar akan

tetapi mendidik. Dimana dengan didikan tersebut mahasiswa akan lebih didampingi baik

secara intelektual dan emosional. Contoh umumnya adalah bagaimana cara mahasiswa

bergaul dalam sehari-hari mereka dengan berpedoman pada pancasila.

2.4 Budaya Akademik

Budaya merupakan nilai yang dilahirkan oleh warga masyarakat yang mendukungnya.

Budaya akademik merupakan nilai yang dilahirkan oleh masyarakat akademik yang

bersangkutan.

Pancasila merupakan nilai luhur bangsa Indonesia.

Masyarakat akademik di manapun berada, hendaklah perkembangannya dijiwai oleh

nilai budaya yang berkembang di lingkungan akademik yang bersangkutan. Suatu nilai

budaya yang mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja sama, santun, mencintai

kemajuan ilmu dan teknologi, serta mendorong berkembangnya sikap mencintai seni.

Perguruan tinggi sebagai suatu institusi dalam masyarakat memiliki cirri khas tersendiri

disamping lapisan-lapisan masyarakat lainnya. Warga dari suatu perguruan tinggi adalah

insane-insan yang memiliki wawasan dan integritas ilmiah. Oleh karena itu masyarakat

akademik harus senantiasa mengembangkan budaya ilmiah yang merupakan esensi pokok

dari aktivitas perguruan tinggi. Terdapat sejumlah cirri masyarakat ilmiah sebagai budaya

akademik. Yaitu, 1. kritis 2. kreatif 3. objektif 4. analitis 5. konstruktif 6.

dinamis 7. dialogis 8. menerima kritik 9. menghargai prestasi ilmiah/akademik 10. bebas

dari prasangka 11. menghargai waktu 12. memiliki dan menjunjung tinggi tradisi ilmiah 13.
berorientasi ke masadepan 14. kesejawatan/kemitraan (PPMB 1990 II-2). Masyarakat ilmiah

inilah yang harus dikembangkan dan merupakan budaya dari suatu masyarakat akademik.

2.5 Kampus Sebagai Moral Force Pengembangan Hukum Dan HAM

Kampus merupakan wadah kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian

masyarakat, sekaligus merupakan tempat persemaian dan perkembangan nilai-nilai

luhur. Kampus merupakan wadah perkembangan nilai-nilai moral, di mana seluruh warganya

diharapkan menjunjung tinggi sikap yang menjiwai moralitas yang tinggi dan dijiwai oleh

pancasila. Kampus merupakan wadah membentuk sikap yang dapat memberikan kekuatan

moral yang mendukung lahir dan berkembangnya sikap mencintai kebenaran dan keadilan

dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.

Masarakat kampus sebagai masyarakat ilmiah harus benar-benar mengamalkan

budaya akademik. Masarakat kampus wajib senantiasa bertanggung

jawab secara moral atas kebenaran obyektif, bertanggung jawab terhadap masarakat bangsa

dan negara, serta mengabdi pada kesejahteraan kemanusiaan. Oleh karena itu sikap masarakat

kampus tidak boleh tercemar oleh kepentingan-kepentingan politik penguasa sehingga benar-

benar luhur dan mulia.

A. Kampus Sebagai Sumber Pengembangan Hukum

Dalam rangka bangsa Indonesia melaksanakan reformasi dewasa ini suatu agenda

yang sangat mendesak untuk mewujudkan adalah reformasi dalam bidang hukum dan
peraturan perundang- undangan. Negara indonesia adalah negara yang berdasarkan hukum,

oleh karena itu dalam rangka melakukan penataan Negara untuk mewujudkan masyarakat

yang demokratis maka harus menegakkan supremasi hukum. Agenda reformasi yang pokok

untuk segera direalisasikan adalah untuk melakukan reformasi dalam bidang hukum.

Konsekuensinya dalam mewujudkan suatu tatanan hukum yang demokratis, maka harus

dilakukan pengembangan hukum positif.

Sesuai dengan tatib hukum Indonesia dalam rangka pengembangan hukum harus

sesuai dengan tatib hukum Indonesia. Berdasarkan tatib hukum Indonesia maka dalam

pengembangan hukum positif Indonesia, maka falsafah negara merupakan sumber materi dan

sumber nilai bagi pengembangan hukum. Hal ini berdasarkan Tap No. XX/MPRS/1966, dan

juga Tap No. III/MPR/2000. namun perlu disadari, bahwa yang dimaksud dengan sumber

hukum dasar nasional, adalah sumber materi dan nilai bagi penyusunan peraturan perundang-

undangan di Indonesia. Dalam penyusunan hukum positif di Indonesia nilai pancasila sebagai

sumber materi, konsekuensinya hukum di Indonesia harus bersumber pada nilai-nilai hukum

Tuhan (sila I), nilai yamh terkandung pada harkat, martabat dan kemanusiaan seperti jaminan

hak dasar (hak asasi) manusia (sila II), nilai nasionalisme Indonesia (sila III), nilai demokrasi

yang bertumpu pada rakyat sebagai asal mula kekuasaan negara (sila IV), dan nilai keadilan

dalam kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan (sila V).

Selain itu, tidak kalah pentingnya dalam penyusunan dan pengembangan hukum aspirasi dan

realitas kehidupan masyarakat serta rakyat adalah merupakan sumber materi dalam

penyusunan dan pengembangan hukum.


B. Kampus Sebagai Kekuatan Moral Pembangunan Hak Asasi Manusia

Dalam penegakan hak asasi manusia tersebur, mahasiswa sebagai kekuatan

moral harus bersikap obyektif, dan benar-benar berdasarkan kepentingan moral demi harkat

dan martabat manusia, bukan karena kepentingan politik terutama kepentingan kekuasaan

politik dan konspirasi kekuatan internasional yang ingin menghancurkan negara Indonesia.

Perlu kita sadari bahwa dalam penegakan hak asasi tersebut, pelanggaran hak asasi dapat

dilakukan oleh seseorang, kelompok orang termasuk aparat negara, penguasa negara baik

disengaja ataupun tidak disengaja (UU. No. 39 Tahun 1999).

Dasawarsa ini, kita melihat dalam menegakkan hak asasi seringkali kurang adi.

Misalnya kasus pelanggaran di Timur-timur, banyak kekuatan yang mendesak untuk

mengusut dan mernyeret bangsa sendiri ke Mahkamah Internasional. Namun, ratusan ribu

rakyat kita. Seperti korban kerusuhan Sambas, Sampit, Poso dan lainnya tidak ada kelompok

yang mau memperjuangkannya. Padahal hak asasi mereka sudah diinjak-injak, jelaslah

kejadian serta menderitanya mereka sama. Akan tetapi tetap tidak ada yang mau menolong.

Jadi, marilah kita sebagai mahasiswa pencetus terjadinya reformasi, mari kita tujukan pada

dunia bahwa kita mampu dalam merealisasikan semua cita-cita dan tujuan dasar dari

reformasi. Akan tetapi disamping itu, perlu kita sadari juga bahwasanya kita merupakan

mahasiswa sebagai tonggak dari penjunjung tinggi hak asasi manusi masihlah belum

maksimal kinerjanya untuk hal yang disebutkan diatas. Maka, dari detik ini. Kita sebagai

generasi bangsa haruslah benar-benar menanamkan nilai-nilai pancasila dalam setiap prilaku

kita. Dimanapun, dan pada siapapun.


BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Pancasila sebagai paradigma pembangunan merupakan suatu sumber nilai, kerangka

piker, model, orientasi dasar, sumber asas serta arah dan tujuan pembangunan. Yang meliputi

pembangunan politik, IPTEK, pengembangan bidang politik, poembangunan ekonomi,

pembangunan social budaya, pengembangan hankam, pembangunan pertahanan keamanan,

dan sebagai reformsi, baik itu reformasi hukum ataupun reformasi politik. Semuanya

ditujukan untuk membuat menjadikan bangsa yang semakin berkembang dan masyarakat

yang semakin mapan.

Pancasila sebagai aktualisasi diri yang berarti betul-betul ada, terjadi atau

sesungguhnya. Sehingga terbentuklah aktualisasi objektif dan subjektif. Aktualisasi Pancasila

yang objektif adalah pelaksanaan Pancasila dalam bentuk realisasi dalam setiap aspek

penyelenggaraan negara, baik di bidang legislatif, eksekutif, yudikatif maupun semua bidang

kenegaraan lainnya. Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah pelaksanaan dalam sikap

pribadi, perorangan, setiap warga negara, setiap individu, setiap penduduk, setiap penguasa,

dan setiap orang Indonesia.

Aktualisasi diripun meliputi mencakup dalam tridarma perguruan tinggi, budaya

akademik dan lingkungan kampus sebagai moral force pengembangan hukum dan HAM,

yang mencerminkan bahwa aktualisasi diri itupun benar-benar ada dan terjadi disekitar kita.

Terrmasuk dalam lingkungan kampus.

3.2 SARAN
Sebelum kita terlampau melangkah jauh, menyisakan jejak yang tidak pantas bagi

seorang mahasiswa. Marilah kita kembali pahami arti dari keberadaan pancasila itu sendiri.

Serta kita harus sadar diri, bahwa kitalah yang akan memegang Negara kita ini. Maka dari itu,

mulai saat ini, biasakanlah berprilaku, bertindak bahkan menganbil keputusan dengan jiwa

pancasila kita. Karena dengan itulah, akan terwujud bangsa yang makmur serta tujuan Negara

akan mudah dicapai.