Anda di halaman 1dari 4

Karakter Remaja Penentu Masa Depan

Bangsa

Hadirnya era globalisasi telah membuka wawasan dan kesadaran masyarakat, betapa masa itu
membawa harapan sekaligus mencemaskan. Kecemasan itu disebabkan, selain karena adanya
perubahan dan tantangan, juga banyaknya tayangan di media yang tidak semuanya sesuai
dengan nilai moral dan agama, sehingga tidak menutup kemungkinan dapat mengubah
karakter yang dimiliki suatu bangsa.

Perubahan dan tantangan, merupakan suatu yang mesti terjadi dan tak dapat dielakkan oleh
siapa pun di muka bumi. Hanya bagaimana menyikapinya, agar berbagai perubahan dan
tantangan itu dapat dimanfaatkan menjadi peluang.

Remaja adalah sosok yang sangat berperan dalam proses pembangunan bangsa dan mental
bangsa. Banyak harapan yang diletakkan di pundak remaja. Sementara itu, banyak tantangan
yang dihadapi oleh remaja, ke dalam ia harus menghadapi dirinya sendiri yang sedang
mencari jati diri, dan keluar dia harus menghadapi dunia dengan tantangan yang begitu
beragam.

Pada era globalisasi yang ditandai dengan perubahan yang begitu cepat dan tak terduga,
akibat kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, bumi menjadi sempit, begitupun batas
negara. Nilai-nilai asing, baik yang positif maupun yang negatif masuk tanpa bisa disensor,
mulai dari cara hidup materialistis, film-film yang menampilkan kekerasan, pornografi, dan
sebagainya. Dan remajalah kelompok yang cukup rentan terhadap berbagai pengaruh negatif.
Apalagi dengan semakin luas dan canggihnya teknologi komunikasi, yang memudahkan
remaja untuk mengakses informasi tentang apa saja, dan dari mana saja, tanpa ada filternya.

Remaja mudah menjadi korban dari setiap perubahan dan perkembangan. Perubahan yang
paling besar pengaruhnya bagi kehidupannya, adalah kegiatan ekonomi dan perkembangan
teknologi. Lihatlah sebagai contoh, ketika seorang remaja ditawarkan sesuatu yang bersifat
tradisional, mereka akan ragu-ragu untuk menerimanya. Namun ketika ditawarkan sesuatu
yang bernuansa Barat mereka dengan sigap mengambilnya. Ketika disuruh mencari sosok
idola, mereka enggan membaca biografi tokoh-tokoh nasional, namun lebih suka mencarinya
di internet, yang rata-rata tokohnya berasal dari luar negeri, bahkan tak diketahuinya dengan
baik. Mereka ikut-ikutan temannya tanpa tahu sebenarnya siapa tokoh idolanya itu. Mereka
hampir tidak perduli, untuk apa mengetahui atau mempunyai sosok idola. Budaya dan sesuatu
yang berasal dari Barat, seolah sudah menjadi kiblat kemodernan. Hal itu, tentunya akan
mengesampingkan keluhuran nilai karakter bangsa.

Karena itu, sangat beralasan apabila muncul kerisauan orangtua dan masyarakat tentang
kehidupan remaja di masa kini maupun di masa depan.
Melihat situasi dan kondisi lingkungan masyarakat kita saat ini, sangat rentan bagi
tumbuhnya perilaku agresif dan menyimpang di kalangan remaja. Dari sudut lain, kita
saksikan mulai melemahnya keteladanan guru dan orangtua di mata remaja.

Terdapat dua macam tipe remaja pada masa keremajaannya. Pertama, remaja yang memiliki
identitas diri, yaitu remaja yang memiliki keyakinan bahwa apa yang mereka miliki dan apa
yang mereka lakukan sesuai dengan kaidah dan kebiasaan yang berlaku di suatu lingkungan
sosial tertentu. Dengan keyakinan ini, dia dapat diterima oleh lingkungannya tanpa harus
terjadi pertentangan. Kedua, remaja yang tidak memiliki identitas diri, remaja ini mudah
terbawa arus perubahan oleh lingkungannya. Dia tidak punya kekuatan untuk menghindar
dari pengaruh lingkungan. Dia mudah larut, tidak memiliki pendirian, sehingga mudah
tergoyahkan oleh keadaan.

Dunia remaja dewasa ini, semakin sering dihadapkan pada berbagai masalah yang kompleks
dan perlu mendapat perhatian kita. Salah satu masalah tersebut, adalah semakin menurunnya
tatakrama sosial dan moral remaja dalam perilaku kehidupannya, baik di rumah, di sekolah,
maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini mengakibatkan timbulnya efek negatif, seperti
maraknya penyimpangan berbagai norma kehidupan baik agama maupun sosial, tawuran,
penyalahgunaan narkoba, penganiayaan, serta berbagai perbuatan amoral lainnya. Semua itu
berakibat pada menurunnya nilai-nilai karakter yang menjadi benteng mental para remaja.

Dalam proses perubahan dan perkembangan, remaja mulai meninggalkan kegiatan-kegiatan


yang sering dilakukan di masa kanak-kanaknya, misalnya bermain petak umpet. Tontonan
mereka pun bukan lagi Doraemon. Secara umum , bukan kegiatan itu saja yang ingin mereka
tinggalkan, tetapi juga hubungan dengan masa kanak-kanaknya.

Orangtua perlu mengerti perubahan-perubahan ini, jangan membiarkan remaja mulai


menemukan caranya sendiri. Bila kegiatan lama digantikan dengan minat yang baru, remaja
akan mulai tumbuh dan berkembang dalam perubahan-perubahan itu. Misalnya, anak mulai
menyukai menulis di buku harian, mengenal pacaran, berteman melalui jejaring sosial, dan
lain-lain.

Terjadinya berbagai tindakan yang kurang terpuji di tengah masyarakat, telah membangun
persepsi dan tingkah laku yang mendua pada remaja kita. Satu sisi dia diajarkan tentang
kebaikan, baik di sekolah maupun di rumah. Di sisi lain mereka menyaksikan suguhan
informasi melalui media elektronik maupun media cetak tentang perilaku yang bertentangan
dengan nilai-nilai kebaikan. Situasi ini sangat membingungkan, antara harapan dan kenyataan
yang mereka rasakan dan saksikan di tengah kehidupannya sehari-hari.

Menghadapi kenyataan ini, remaja sebaiknya dituntun untuk memahami dan menyelami
lingkungannya, supaya tidak terjadi konflik dalam diri remaja. Dengan demikian, remaja
perlu dibimbing untuk bersikap profesional dalam menghadapi masalah yang kompleks
tersebut.

Berkaitan dengan apa yang harus dimiliki seorang remaja, maka:


Pertama, remaja harus memiliki nilai sebagai pedoman hidupnya, dan nilai kehidupan yang
dimilikinya haruslah baik, artinya dapat dijadikan panutan oleh sesama remaja. Karena gerak
langkah seorang remaja akan dinilai oleh lingkungan sebagai ciri khas pribadinya. Dalam hal
ini, peran orang tualah yang paling besar untuk selalu memantau perkembangan anak,
mendampingi, dan memberikan solusi yang sesuai dengan keremajaannya.

Kedua, remaja harus mempunyai tanggung jawab untuk bertindak, apabila melihat sesuatu
yang berlawanan dengan rasa keadilan. Karenanya remaja harus berani mengambil sikap dan
menentukan langkahnya secara bijak dalam mengambil keputusan. Hal inilah yang akan
menentukan kematangan sikap seorang remaja. Untuk itu, orangtua harus melatih dan
memberikan kepercayaan kepada remaja untuk dapat bertanggung jawab, minimal pada
dirinya sendiri.

Ketiga, remaja harus memiliki semangat belajar, kompetitif, dan energik. Bukan remaja yang
hanya menunggu dan menerima apa yang diberikan padanya tanpa usaha. Orangtua harus
menjadi motivator, inspirator dan pelopor bagi anak-anaknya.

Untuk semua hal tersebut, maka karakter yang baik merupakan syarat mutlak yang harus
dimiliki seorang remaja.

Pembinaan terhadap remaja dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Pembinaan oleh keluarga dari dalam rumah, merupakan tahap dasar pembinaan selanjutnya.
Di sini peran orangtua sangat besar dalam membekali mental remaja, seperti: akhlak mulia,
budi pekerti, etika, dan adat istiadat melalui keteladanan orang tuanya. Di dalam keluargalah
pertama kali anak-anak mendapat pengalaman. Pengalaman langsung itu akan digunakan
sebagai bekal hidupnya di kemudian hari melalui latihan fisik, sosial, mental, emosional, dan
spiritual.

Jika keluarga gagal melakukan pendidikan karakter kepada anak-anaknya, selanjutnya akan
sulit bagi lembaga-lembaga lain( termasuk sekolah) untuk memperbaikinya. Kegagalan
keluarga dalam membentuk karakter akan berakibat pada tumbuhnya masyarakat yang tidak
berkarakter.

Peran sekolah pun demikian, karena melalui sekolah remaja dididik dan dilatih menjadi
pribadi yang berakhlak mulia, cerdas, dan mandiri. Mengingat besarnya tantangan yang
dihadapi, sekolah sebagai media pendidikan sumber daya remaja yang berkualitas, harus
mengembangkan kualitas para gurunya. Guru sebagai ujung tombak yang berhadapan
langsung dengan remaja hendaknya menyiapkan diri secara luwes, efektif, dan efisien untuk
menjawab kebutuhan dan tantangan yang ada, dan pada gilirannya akan mempunyai dampak
positif kepada anak didiknya. Harapan masyarakat dari kualitas guru adalah terciptanya suatu
sistem nilai, norma, dan aturan yang akan menghadirkan suasana kondusif saat
berlangsungnya pendidikan. Yang tak kalah penting, guru juga harus dapat menjadi teladan
dan contoh nyata bagi para siswanya. Karena anak adalah penduplikat yang baik dari
lingkungan yang ada di sekitarnya.

Lingkungan masyarakat termasuk berperan juga dalam membentuk karakter remaja.


Lingkungan yang aman, nyaman, kondusif, agamis, dan motivatif akan membawa dan
memacu remaja untuk berperilaku positif serta menjunjung tinggi nilai moral sebagai
pengendali kepribadiannya.

Bila kehidupan di masyarakat teratur, semua bertindak sesuai norma yang dibentuk, dan
disepakati bersama sebagai pelindung dari tindakan merusak, maka akan tercipta masyarakat
yang teratur serta harmonis. Dengan sendirinya karakter sebuah bangsa akan terjaga
kelestariaannya, harapan menjadi negara yang bermartabat pun akan terwujud. Semoga.