Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Konstruksi bangunan pada saat ini telah berkembang sangat pesat, banyak bangunan-
bangunan baru yang berdiri dengan megah mengisi ruang-ruang kosong di bumi ini.
Konstruksinya pun telah berubah dari yang dulunya hanya menggunakan konstruksi tradisional
hingga sekarang yang telah menggunakan peralatan-peralatan canggih untuk mempermudah
pekerjaan konstruksi bangunan.

Dengan semakin canggihnya teknologi tentu saja, kami sebagai mahasiswa diminta untuk
memenuhi semua tuntutan kurikulum dan yang paling ditutntut adalah saat kegiatan praktek.
Kami diharuskan dapat mengerjakan dan memahami segala bentuk konstruksi yang diberikan
oleh instruktur/dosen.

Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sebagai mahasiswa teknik sipil akan mngikuti
kegiatan praktek dengan judul “Kerja Acuan & Perancah 1”. Dalam kegiatan praktek kali ini
kami diharuskan untuk dapat membuat acuan dan perancah secara berkelompok, dan kegiatan
praktek ini juga masih dilakukan secara manual tanpa menggunakan alat-alat modern, kecuali
alat pemotong kayu dan alat pengetam kayu. Acuan dan perancah pun terdiri dari beberapa
bagian penting, sehingga pada kegiatan praktek kali ini kami harus mampu membuat bagian-
bagian tersebut agar acuan dan perancah (bekisting) yang kami buat dapat berdiri tegak dan kuat.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan praktikun acuan dan perancah 1 adalah sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui kemampuan mahasiswa saat bekerja di lapangan
b. Dapat mengetahui dan menggunakan peralatan praktek dengan baik dan benar
c. Memberi pengajaran tentang kerja acuan dan perancah di lapangan
d. Dapat mengetahui keselamatan kerja di lapangan

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Dasar

2.1.1 Definisi Acuan Perancah / bekisting / form work

Acuan (cetakan) dan tiang acuan (perancah) adalah suatu konstruksi sementara, yang gunanya

untuk mendukung terlaksananya pengerjaan adonan beton yang dicorkan sesuai dengan bentuk

yang dikehendaki. Acuan berfungsi sebagai konstruksi yang diinginkan, Sedangkan Perancah

berfungsi sebagai pembantu memperkuat bentuk konstruksi. Acuan perancah memiliki beberapa

fungsi, yaitu :

1. Memberikan bentuk kepada konstruksi beton


2. Dapat mendapatkan permukaan struktur yang diharapkan
3. Menopang beton sebelum sampai kepada konstruksi yang cukup keras dan mampu
memikul beban sendiri maupun beban luar
4. Mencegah hilangnya air semen ( air pencampur ) pada saat pengecoran
5. Sebagai isolasi panas pada beton

2
2.1.2 syarat-syarat acuan perancah

a. Kuat
Di dalam pekerjaan ini beban-beban beton yang berada pada bekisting dan beban
lain yang dipikul oleh bekisting itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu acuan
perancah yang kuat untuk dapat memikul beban yang diterimanya.
b. Kaku
Kaku atau tidak bergerak sangat penting pada acuan perancah ini, karena apabila
perancah tersebut tidak kaku atau dapat bergerak, maka hasil yang akan dicapai
tidak maksimal karena bentuk yang ingin kita capai tidak sempurna.
c. Mudah dibongkar
Acuan dan perancah harus mudah dibongkar karena hal ini menyangkut efisiensi
kerja, yaitu tidak merusak beton yang sudah jadi dan acuan perancahnya dapat
digunakan berkali-kali.
d. Bersih
Untuk mendapatkan hasil bekisting yang baik cetakan harus dibersihkan sebelum
dilakukan proses pengecoran. Apabila cetakan tidak dibersihkan maka dalam
proses pengecoran kotoran mungkin akan naik dan masuk ke dalam adukan beton
sehingga akan mengurangi mutu beton dan apabila kotoran tidak naik maka
kotoran tersebut akan melekat pada bagian bawah beton sehingga sulit untuk
dibersihkan.
e. Ekonomis
Didalam pembuatan acuan dan perancah tidak perlu bahan yang terlalu bagus,
namun jangan pula bahan yang sudah tidak layak pakai. Karena kita harus
membuat acuan dan perancah sehemat mungkin dengan tidak mengurangi mutu
dari bekisting.
f. Rapat
Kerapatan suatu bekisting sangat mempengaruhi didalam proses pengecoran.
Karena apabila bekisting yang kita pakai tidak rapat maka adukan yang kita pakai
tadi akan keluar dan akan mengakibatkan mutu beton yang kurang bagus karena
pasta semen keluar dari bekisting.

3
2.1.3 Kerugian-Kerugian Jika Acuan Perancah Kurang Baik

a. Perubahan geometrik

b. Waktunya lebih panjang, bertambahnya waktu maka biaya yang digunakan akan
bertambah.
c. Penurunan mutu beton.
d. Terjadinya perubahan dimensi. Hal ini dapat terjadi dikarenakan kurangnya tingkat
ketelitian didalam melakukan pengukuran didalam pembuatan acuan perancah.

2.1.4 Bagian-Bagian Acuan Dan Perancah

Bagian-bagian pada acuan dan perancah (bekisting), antara lain :


1. Acuan; Merupakan bagian bekisting yang berfungsi sebagai pembentuk beton dan
dimensi yang diinginkan, serta merupakan unsur penting untuk menentukan hasil
akhir permukaan beton. Acuan terbuat dari bahan papan yang disambung pada
arah memanjang maupun melebar menggunakan klam.
2. Klam; Merupakan bagian bekisting yang berfungsi sebagai bahan penyambung
papan acuan pada arah memanjang maupuan melebar dan sebagai bahan pengaku
acuan pada arah melebar. Klam dapat terbuat dari papan seperti papan acuan yang
harus dipotong-potong sesuai ukuran yang dikehendaki.
3. Gelagar; Merupakan bagian bekisting yang berfungsi sebagai penopang langsung
dari acuan yang ada dan juga untuk mengatir elevasi yang diinginkan dari acuan.
Gelagar dapat terbuat dari bahan kayu berukuran balok maupun papan.
4. Tiang Penyangga; Merupakan bagian bekisting yang berfungsi sebagai untuk
menopang langsung kedudukan gelagar, sehingga panjang tiang penyangga
merupakan fungsi dari ketinggian kedudukan acaun.Tiang penyangga dapat terbuat
dari bahan kaso, dolken, maupun bambu.
5. Sekur atau Pengaku; Merupakan bagian bekisting yang berfungsi untuk
memeperkokoh atau meperkaku dari sistem bekisting yang ada. Agar didapat suatu
sistem bekisting yang memenuhi persyaratan kekakuan, maka sekur dipasang pada
dua posisi.

4
6. Papan Alas Tiang Perancah; Papan alas yang dimaksud disini bukan berarti papan
alsa harus terbuat dari papan, tetapi bisa saja papan alas tersebut terbuat dari balok
kayu, baja atau beton.
7. Baji; Merupakan suatu perlengkapan bekisting yang berfungsi untuk membuat
acuan balok maupun lantai menjadi horizontal. Dengan adanya baji yang dipasang
di bawah tiang dan behubungan dengan papan alas, maka dengan mudah bekisting
disetel kedatarannya.
8. Alat Sambung; Alat sambung yang digunakan untuk pekerjaan bekisating,
khususnya Acuan dan Perancah I, pada umumnya hanya dipakai satu.

2.1.5 Metode Yang Digunakan Dalam Acuan Dan Perancah

1. Metode tradisional
Yaitu suatu metode yang masih menggunakan material lokal, sedangkan
konstruksinya konvensional. Penggunaan terbatas hanya sampai pada beberapa
kali penggunaan untuk bentuk yang rumit akan banyak memakan waktu dan
tenaga.
2. Semi Sistem
Yaitu suatu metode dimana material dan konstruksinya sudah merupakan
campuran antara material lokal dan buatan pabrik akan bisa kita pakai terus-
menerus, oleh karena itu penggunaan metode ini hanya untuk pekerjaan yang
mengalami beberapa kali pembuatan terus-menerus.
3. Full Sistem
Yaitu suatu metode dimana semua materialnya merupakan buatan pabrik dan
konstruksinya tidak lagi konstruksi konvensional. Materialnya bisa digunakan
secara terus-menerus dan penggunaannya sangat mudah dan sesuai dengan
petunjuk dari pabrik pembuatannya. Untuk menginvestasikannya memerlukan
banyak pertimbangan karena harga bekisting ini cukup mahal. Sebelum pekerjaan
dimulai kita harus menghitung terlebih dahulu beban-beban yang akan diterima
oleh bekisting dan sehingga kita tahu jarak tiang-tiang perancah balok-balok yang
akan kita pasang.

5
2.1.6 Konstruksi Sambungan Pada Pekerjaan Acuan Dan Perancah

1. Sambungan papan dengan papan


Sambungan ini harus dibuat sedemikian rupa agar tidak terjadi kebocoran pada
saat terjadi/ pembuatan beton berlangsung. Bagian tepi ketam lurus dan bila
dihubungkan dengan tepi papan yang lain tidak kelihatan rongga yang lain/ udara
di sela-sela sambungan yang baru disambung.
2. Sambungan Antar Gelagar Dengan Tiang
a) Sambungan papan tiang dolken dengan gelagar. Sambungan ini digunakan
untuk konstruksi yang labil, pemasangan gelagarnya cukup dengan dipakukan
pada tiang tanpa memerlukan penguat seperti klem.
b) Sambungan gelagar balok dengan tiang balok. Sambungan ini digunakan untuk
konstruksi yang memikul beban berat, pemasangan gelagar langsung di atas
tiang dan pada setiap sambungannya diberi klem yang dipakukan pada tiang
dan gelagar.
3. Sambungan Antara Tiang Dengan Tiang
a) Sambungan tiang bulat
Karena ketinggian lantai yang tidak terjangkau oleh panjang tiang atau untuk
memanfaatkan potongan-potongan tiang, yaitu dengan memasang klem
penyambung di sekeliling klem penyambung bagian tiang yang disambung.
b) Sambungan tiang persegi
Cara penyambungan tiang persegi sama dengan penyambungan sambungan
kayu bulat.

6
2.2 Keselamatan Kerja

Berikut ini keselamatan kerja yang perlu diperhatikan pada praktikum kali ini diantaranya:
1. Tempatkan alat-alat kerja pada tempatnya.
2. Pergunakan alat dengan cara yang benar dan sesuai dengan fungsinya.
3. Pakailah pakaian kerja yang lengkap dan benar, sepatu kerja menutupi mata kaki, serta
pakailah helm kerja.
4. Konsentrasikan perhatian pada waktu kerja.
5. Tempatkan bahan-bahan dan alat sedemikian rupa, sehingga tidak saling terganggu
selama pekerjaan berlangsung.
6. Perhatikan dan ikuti petunjuk atau petunjuk instruktur.
7. Periksalah kondisi alat, apakah layak dipakai atau tidak, atau perlu dilakukan perbaikan.

2.3 Job I: Pemasangan Bowplank/Papan Duga


2.3.1 Pengertian dasar

Bowplank adalah papan yang dipakai untuk pedoman sementara dari dasar bangunan,

ketinggian bangunan ,letak bangunan agar sesuai dengan rencana. Wujud dari bowplang adalah

lembaran papan yang diratakan salah satu sisinya. Kemudian papan tersebut dipakukan pada

tiang-tiang yang telah ditancapkan pada tempat nya dengan ketinggian yang telah ditentukan.

Pembuatan bowplang biasanya dilakukan setelah observasi lapangan dan setelah dilakukan

pemetaan. Syarat pembuatan bowplank yaitu :

a. Harus kuat dan kokoh


b. Jarak antara bowplang dengan dinding kerja tidak terlalu rapat
c. Bowplang harus berhadapan dengan bangunan
d. Semua elevasi harus sama

7
2.3.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan


1. Gergaji tangan 6. Benang 1. Tiang bowplank 5/7 x 400

2. Meteran 7. Waterpass 2. Balok bowplank 5/7 x 400

3. Pensil 8. Palu besi 3. paku 3 cm dan 7 cm

4. Slang plastik 9. Siku

5. Mesin pemotong 10. Besi gali

2.3.3 Langkah kerja

1. Survei lokasi lapangan yang akan digunakan.


2. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
3. Menentukan dimensi bowplank yang diinginkan
4. Pasang patok-patok dengan jarak sesuai gambar kerja.
5. Setelah semua patok terpasang, tunjuk salah satu patok yang akan dijadikan acuan.
6. Ukurlah dari patok satu ke patok yang lain dengan menggunakan waterpass/selang
air dan bubuhi tanda pada patok.
7. Ambillah papan yang sudah diratakan dengan bagian atasnya.
8. Pasanglah papan tersebut ke patok yang sudah dibubuhi tanda garis permukaan
papan yang rata (harus tepat pada tanda garis).
9. Pasang paku pada setiap papan, kemudian tarik lurus benang dari bowplank satu ke
bowplank yang lain untuk menentukan as bangunan.
10. Membuat sudut siku pada masing-masing sudut bangunan.
11. Memberi tanda as bangunan.

8
2.4 Job II : Acuan Pondasi
2.4.1 Pengertian dasar

Pembuatan acuan pondasi sangatlah sedehahana. Pada kenyataannya acuan pondasi terdiri
dari dua jenis yaitu acuan pondasi beton tak bertulang dan acuan pondasi beton bertulang. Pada
pondasi beton tak bertulang acuan antara pondasi dan sloop dapat dikerjakan terpisah, sedangkan
pada pekerjaan acuan pondasi beton bertulang dilakukan pekerjaan pembuatan acuan yang
menyatukan antara acuan pondasi dan sloop. Pada acuan pondasi beton bertulang, papan acuan
hanya untuk sisi tegaknya saja sedangkan pada sisi miringnya tidak terlalu curam dan tidak perlu
dipasang.

2.4.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan

6. Benang 1. Kaso 5/7 x 400


1. Gergaji tangan

7. Unting-unting 2. Papan 2/20 x 400


2. Meteran

8. Besi gali 3. Paku 3 cm dan 7 cm


3. Pensil

9. Palu besi
4. Slang plastic

5. Ketam tangan

9
2.4.3 Langkah kerja

1. Pelajari gambar kerja secara seksama.


2. Pilihlah dan hitunglah kebutuhan bahan yang diperlukan.
3. Persiapkan bahan tersebut serta alat yang diperlukan.
4. Potonglah bahan tersebut sesuai dengan ukurannya dan rangkaikan bahan-bahan
sesuai gambar kerja.
5. Buatlah papan duga pada kedua ujung rencana pondasi untuk mendapatkan ukuran
mendatar maupun ukuran vertikal dan beri tanda digergaji dengan kedalaman 1
mm atau di cat bentuk segitiga maupun dengan dua buah paku yang dipasang
miring.
6. Tentukan letak galihan pondasi dengan menggunakan benang sebagai as pondasi
tersebut yang dipasang diatas rencana pondasi.
7. Tandailah dengan kapur pasng atau kapur tembok batas kedua tepi lebar galihan
pondasi, yang ditentukan dari as pondasi.
8. Lakukan penggalian dengan menggunakan besi gali, buanglah tanah hasil galiahn
tersebut ketepian galihan.
9. Buatlah patok atau tiang pendukung acuan pondasi darai bahan kaso 5/7 x 400 cm
sesuai dengan aturan yang dibutuhkan. Runcingkan pada bagian ujung yang akan
ditancap kedalam tanah.
10. Pancangkan patok-patok tersebut dengan jarak klam acuan pada kedua tepi dalam
galian. Sampai kedalam tertentu, sehingga kedudukan menjadi kuat
11. Tariklah dua helai benang dari kedua ujung papan duaga sebagai pedoman
pemasangan papan penggantung.

10
12. Pasanglah papan 2/20 dengan panjang secukupnya, dipasang melintang diatas
rencana acuan pondasi dban dipakukan pada tiang-tiang yang telah dipancang pada
bagian tepi kanan dan kiri galihan. Papan-papan tersebut dipasang dan
diperhitungkan tidak menggangu atau menghalangi sisi atas dengan jarak lebih
kurang 10 cm.

13. Pasanglah dan pakukan ke papan penggantung patok pendukung acuan pada kedua
sisi mirirng simetris yang telah disesuaikan dengan lebar bagian bawah dan atas
pondasi.
14. Pasanglah papan acuan menempel pada patok pendukung dan dipaku secukupnya,
yang berpedoman benang pada langkah ke 11.
15. Control kedataran sisi atas pondasi dengan menggunakan selang plastis berisi air
lebar bagian atas pondasi (lebar sis dalam cetakan) berdasrakan benang as pondasi.
16. Pasanglah papan-papan penyetop acuan sisi atas pondasi menumpuk pada sisi atas
acuan dipakukan ke patok dan patok pendukung yang jarak keduanya disesuaikan
dengan ukuran lebar bagian atas pondasi.
17. Pasang papan-papan acuan pondasi bagian atas (sloof) dipakukan kepapan
penyetop dan control kedataran serta kontinuitas jarak keduanya menggunakan
benang.
18. Perkuatlah system perancah pondasi menerus ini dengan sekur-sekur yang
menumpuh pada tanah.
19. Pasanglah papan ukuran 2 x 3cm pada sisi atas acuan dengan posisi melintang zig-
zag agar kedudukan cetakan semakin kokoh serta tidak mengalami perubahan dan
semakin kuat terhadap gaya samping yang ditimbulkan oleh beton segar yang
sedang dituangkan.
20. Periksa sekali lagi kekohan, ukuran, kedataran, maupun segala hubungan kayu
yang ada.

11
2.5 Job III : Kolom
2.5.1 Pengertian dasar

Fungsi dari kolom adalah untuk meneruskan beban yang berada di atasnya dan
meneruskannya ke pondasi. Adapun bentuk-bentuk penampangan kolom yaitu: bujur sangkar,
empat persegi panjang, lingkaran, segi banyak, dan masih ada bermacam bentuk dan ukuran
lainnya yang disesuaikan dengan beban yang berada di atasnya dan dari segi estetika. Selain itu,
suatu acuan kolom yang baik harus memenuhi syarat-syarat acuan kolom, yaitu: tegak dan posisi
tepat/As.
Bagian-bagian dari Acuan Kolom yaitu:
a) Papan Acuan
Papan acuan merupakan bagian bekisting yang berhubungan dan memebentuk langsung
terhadap kolom beton yang di buat.Papan acuan dapat terbuat dari multiplek atau papan
acuan.
b) Klem-klem Perangkai
Papan perangkai merupakan bagian bekisting yang berfungsi merangkaikan papan-papan
acuan agar dapat menjadi satu kesatuan. Papan perangkai dipasang pada jarak.jarak tertentu
melalui proses perhitungan dan bias juga tergantung dari besarnya penampang kolom yang
akan dibuat.
c) Papan Penjepit Dinding
Papan ini dipasang sesuai dengan jarak klem yang dibuat. Papan terpasang satu dengan yang
lainnya pada tiang yang telah dipasang. Fungsi papan penjepit adalah agar papan cetakan
tidak pecah ketika beton di cor dan dipasang dengan jarak 40 – 65 cm.

12
2.5.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan

1. Gergaji tangan 7.Mesin pembelah 1. Kaso 5/7 x 400

2. Meteran 8. Benang 2. Papan 2/20 x 400

3. Pensil 9. Unting-unting 3. Paku 3 cm dan 5 cm

4. Slang plastic 10. Palu besi

5. Mesin pemotong 11. Penyiku

6. Mesin ketam

2.5.3 Langkah kerja


1. Pelajari gambar kerja secara seksama.
2. Piihlah dan kalkulasikan kebutuhan bahan yang diperlukan.
3. Persiapkan bahan tersebut serta alat yang diperlukan.
4. Potonglah bahan tersebut sesuai dengan ukurannya dan rangkaikan bahan-bahan
tersebut.
5. Buatlah papan duga pada keempat sisinya dengan ketinggian tettentu di atas
permukaan tanah.

13
6. Tentukan letak as pondasi dengan menarik benang dari keempat papan duga yang
persilangan siku. Persilangan tersebut merupakan as pondasi, sedangkan untuk
membuat persilangan siku dengan metode segitiga siku-siku yang mempunyai
panjang sisi 3:4:5.
7. Tentukanlah batas galian pondasi dan tandailah dengan kapur tembok
8. Lakukanlah penggalian dengan menggunakan cangkul dan sekop, buanglah tanah
hasil galian tersebut ke tepi galian sejauh 1 meter.
9. Butlah patok atau tiang pendukung acuan pondasi dari bahan kaso 5/7 x 400cm
sesuai dengan ukuran panjang yang dibutuhkan. Runcingkan pada bagian jujung
yang akan ditancapkan kedalam tanah.
10. Pancangkan patok-patok tersebut pda bagian luar acuan telapak pondasi terutama
pada pertemuan antar acuan pondasi maupun pertemuan antar acuan pondasi
dengan balok. Pada acuan balok yang memanjang patok dipasang pada setiap
kedudukan klam acuan.
11. Pasanglah papan acuan telapak pondasi yang membentuk bujur sangkar diatas
dasar galian serta acuan samping balok pengikat pada keempat sisi yang
mempunyai elevasi dasar sama dengan pondasi.
12. Pasanglah papan-papan gelagar pada sekeliling tiang atau patok pada bagian
bawah dan atas untuk acuan bagian bawah balok.
13. Pasanglah acuan ujung bawah kolom tepat di as telapak pondasi dengan bantuan
unting-unting.
14. Pasanglah papan-papan penjepit 2/10 dalam posisi mendatar yang menjepit
keempat sisi acuan kolom yang menumpuh diatas gelagar, dipaku secukupnya.
15. Pasang pula klam mendatar diatas acuan balok pengikat menyerong zig-zag.

14
2.6 Job IV : Balok
2.6.1 Pengertian dasar

Balok adalah salah satu elemen konstruksi bangunan yang berfungsi untuk menyalurkan
beban lantai atau tembok ke kolom. Syarat-syarat acuan balok yaitu: ketepatan posisi/as, elevasi
dan kedataran.

2.6.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan

1. Gergaji tangan 6. Mesin pembelah 1. Kaso 5/7 x 400

2. Meteran 7. Benang 2. Papan 2/20 x 400

3. Pensil 8. Unting-unting 3. Paku 3 cm dan 5 cm

4. Mesin ketam 9. Palu besi

5. Mesin pemotong 10. Penyiku

2.6.3 Langkah kerja

1. Persiapkan lokasi kerja, singkirkan bahan/barang yang mengganggu.


2. Pelajari gambar kerja secara seksama.
3. Pilihlah dan hitunglah kebutuhan bahan yang diperlukan.
4. Persiapkan bahan tersebut serta alat yang diperlukan.

15
5. Potonglah bahan sesuai dengan ukurannya dan rangkaikan bahan-bahan acuan
dengan menggunakan bahan papan 2/10 cm sesuai dangan gambar kerja.
6. Rencanakan jarak tiang perancanya agar didapat jarak yang sama dan segaris lurus
dengan tiang perancah kolom jika ada.
7. Pasanglah papan landasan tiang perancah yang membujur diatas tanah/lantai
sepanjang bawah acuan balok.
8. Mendirikan tiang perancah pertama dari 5/7 yang berkedudukan dekat dengan
bekisting kolom. Untuk tiang perancah berikutnya dapat didirikan disepanjang
balok arah membujur pada kedua sisi luar acuan (kanan dan kiri).
9. Agar tiang perancah tersebut bisa berdiri, maka pasanglah sekur mendatar dan
miring membujur disenjang balok yang akan dibuat acuannya.
10. Pada bagian atas dan kedua tiang perancah sebelah kanan dan kiri yang berdekatan
denngan kolom diapsang papan gelagar horizontal melintang terhadap balok
dengan elevasi sama dengan sisi bawah papan acuan balok.
11. Tentukan elevasi gelagar yang bedekatan dengan kedua kolom yang dibuat pada
langkah 8 dengan menggunakan selang plastic berisi air`
12. Tariklah dengan kencang dua helai benanng pada sisi atas kedua gelagar tersebut
dan ikatkan pada sebuah paku. Dua helai benag tersebut selain untuk menentukan
elevasu gelagar juga berguan untuk menetukan batas lebar acuan bagian bawah
balok
13. Pasanlah gelagar-gelagar dari papan yang berpedoman pada benang yang telah
ada, pada setiap pasangan tiang perancah.
14. Pasanglah acuan bagian bawah balok diatas gelagar, berpedoman pada benang
yang ada dan perkuat memakai paku secukupnya terhadap gelagar.
15. Pasanglah rangkaian papan acuan samping pada kedua sisi samping balok.
16. Pasanlah papan penjepit 2/10 cm pada bagian bawah acuan, doronglah kearah
dalam agar hubungan antara acuan samping dan acuan bawah menjadi rapat,
pakukan bagian penjepit dengan gelagar.

16
17. Pad atepi luar atas acuan samping dipasang gelagar/pengaku memanjang dan
dipaku diatas klam.
18. Papan acuan samping diukur kesikuannya dan diprkokoh dengan sekur-sekur dari
bahan kaso 5/7 cm atau papan 2/10 cm menghubungkan pengaku sisi dengan tiang
perancah.
19. Pasangkah papan 2/4 cm dengan panjang secukupnya diatas acuan balok agar
kontinyuitas lebar balok beton dan kelurusan acuan tetap terjaga. Papan ini
dipasang pada setiap jarak lebih kurang satu meter dengan posisi zig-zag.
20. Kontrol semua bagian bekisting balok, sesuai atau tidak dengan gambar rencana
tau peraturan yang berlaku. Jika terjadi penyimpangan segeralah diselesaikan.
21. Bersihkan permukaan papan acuan dari semua kotoran misalnya potongan kayu,
kawat ikat, lumpur dan sebagainya.

2.7 Job V : Plat Lantai


2.7.1 Pengertian dasar

Yang perlu diperhatikan ketinggian dari lantai itu sendiri disamping cetakan konstruksi yang
harus kuat dan kokoh.
a) Syarat-syarat Acuan Lantai ada 2 yaitu: Kedataran dan Elevasi
b) Bagian-bagian yang penting dari plat lantai :
 Tiang acuan dan pengaku
Tiang acuan dipasang di atas papan landasan yang berada di atas tanah. Pemasangan
tiang ini bersamaan dengan sebagian papan pengaku yang berfungsi sebagai perangkai-
perangkai tiang itu sendiri dan sisanya dipasang setelah gelagar.
 Gelagar
Gelagar-gelagar yang dipasang pada tiang bagian atas sesuai dengan ketinggian yang
dibutuhkan. Pemasangan dimulai dengan gelagar-gelagar bagian tepi dan kemudian
bagian tengah. Bagian atas gelagar ini kita hubungkan dengan dua atau tiga benang yang
fungsinya untuk pedoman ketinggian dari gelagar-gelagar bagian tengah. Jika papam
gelagar sudah dipasang, maka papan pengaku dipasang semuanya.

17
 Lantai cetakan
Lantai cetakan dipasang di atas tiang gelagar. Apabila pada pekerjaan ini menggunakan
papan, maka sisi papan harus diketam terlebih dahulu. Untuk pekerjaan beton yang tidak
memerlukan finishing biasanya lantai cetakan memakai plywood lebih licin dari pada
permukaan papan.

2.7.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan

1. Gergaji tangan 7. Mesin pembelah 1. Kaso 5/7 x 400

2. Meteran 8. Benang 2. Papan 2/20 x 400

3. Pensil 9. Waterpass 3. Paku 3 cm dan 7 cm

4. Slang plastic 10. Palu besi

5. Mesin pemotong 11. siku

6. Mesin ketam

2.7.3 Langkah kerja


1. Persiapan ruang atau tempat kerjah
2. Pelajari gambar kerjah secarah saksama
3. Pililah dan hitunglah kebutuhan bahan yang di perlukan
4. Persiapan bahan tersebut serta alat yang di perlukan
5. Potong bahan-bahan kaso 4/6 sebagai bahan tiang perancah, dalam melakukan
pemotongan perlu di igat bawa panjang tiang tidak bole melebihi elafasi sisi atas
gelagar tangga.

18
6. Pasanglah papan landasan yang membujur di atas tana atau lantai di bawa acuan
lantai yang di sesuaikan dengan jarak tiang perancah
7. Buatlah acuan elefasi gelagar lantai yang terbuat dari benang dan papan atau kaso
di pasang sedemikian rupa. Sehinga benang acuan mempunyai elefasi setinggi sisi
bawa lantai di kuranggi tebal papan cetakan lantai.
8. Mendirikan tiang-tiang perancah dari kaso 5/7 cm diatas papan landasan dengan
jarak disesuaikan dengan gambar kerjah atau sesuai dengan hasil perhitungan
9. Agar tiang perancah dapat berdiri dengan tegak dan bekistin secarah keseluruhan
menjadi koko. Maka perlu di pasang sekur perancah horisontal maupun sikur
miring pada dua arah.
10. Pasanglah gelagar- gelagar dari papan-papan pada ujung atas tiang perancah yang
telah berdiri. Ketinggian gelagar berpedoman pada acuan elefasasi yang telah ada.
Pemasangan gelagar searah dan sesuai dengan baris tiang perancah.

2.8 Job VI : Tangga


2.8.1 Pengertian dasar

Pada dasar teori tangga hampir sama dengan dasar teori pelat lantai, karena harus
sama-sama memperhitungkan kekuatan dan daya lentur momennya serta tegangan tumpuan dari
tangga bagian bawah (dasar tangga/ujung bawah tangga). Ketebalann tangga juga ditetapkan dan
distandarkan adalah berkisar antara 10 cm-15 cm tetapi kebiasaan yang diterapkan adalah 12 cm.
Ditetapkan sedemikian rupa untuk mengingat gaya dan momen yang diterima oleh tumpuan
tangga. Seandainya lantai tangga agak terlalu tebal tentu saja tumpuan tangga dari berat sendiri
belum lagi ditambah beban tambahan (beban hidup dan benda lain yang berada diatasnya).
Dalam pembuatan perencanaan tangga harus diperhatikan untuk mengetahui dan mengerti
akan bentuk tangga yang ada kesetimbangan dan keserasian untuk menjaga kestabilan dan
keindahan untuk bentuk tangga tersebut.

19
Adapun bagian-bagian dari tangga adalah sebagai berikut:
1) Pondasi Tangga
Pondasi tangga adalah sebagai dasar tumpuan agar tangga tidak mengalami penurunan dan
pergeseran kearah mendatar.
2) Anak tangga (Trede)
Anak tangga adalah konstruksi yang berfungsi untuk berpijak atau melangkah pada arah
orizontal atau vertikal.
3) Ibu Tangga (Boom)
Ibu tangga merupakan bagian yang berfungsi untuk mendukung anak tangga.
4) Bordes
Bordes adalah suatu antrede yang mempunyai lebar minimum sama dengan lebar tangga
(Antrede yang terpanjang). Fungsinya adalah sebagai tempat istirahat/berhenti sementara dan
daerah belokan/putar
5) Pegangan Tangga
Ditinjau dari segi bahan yang digunakan, yaitu tangga kayu, tangga besi/baja dan tangga
beton. Ditinjau dari segi bentuknya, yaitu tangga yang berbentuk lurus, tangga dengan
belokan 180o, tangga dengan belokan 90o, tangga dengan belokan 270o, tangga dengan
belokan 360o dan tangga lengkung
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembuatan tangga:
1) Penempatan tangga diletakkan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan
2) Ruangan untuk tangga dibatasi sekecil kecilnya atau sesuai syarat yang ditentukan
3) Tempat tangga harus mendapatkan sinar matahari yang cukup pada siang hari.
4) Bentuk dibuat sederhana dan konstruksi yang mudah.
Perencanaan tangga dibutuhkan data-data antara lain:
1) Jenis material tangga (kayu, baja dan beton)
2) Bentuk tangga
3) Ukuran Antredre dan optrede
Rumus umum untuk mengetahui dari optrede dan antrede:
 2 Optrede + Antrede = berkisar antara (60 cm-70 cm)
 Optrede x Antrede = berkisar antara (400 cm-450 cm)
 Jika Optrede = n maka An = n-1

20
2.8.2 Daftar alat dan bahan yang diperlukan

a) Daftar Alat b) Daftar Bahan


1. Gergaji tangan 7. Mesin pembelah 1. Kaso 4/6 x 400

2. Meteran 8. Benang 2. Papan 2/20 x 400

3. Pensil 9. Waterpass 3. Paku 3 cm dan 7 cm

4. Slang plastic 10. Palu besi

5. Mesin pemotong 11. siku

6. Mesin ketam

2.8.4 Langkah kerja

1. Persiapkan lokasi kerja dengan membersikan dan menyingkirkan bahan yang


mengganggu.
2. Pelajari gambar kerja secara seksama.
3. Pilihlah dan kalkulasikan kebutuhan bahan yang diperlukan.
4. Persiapkan bahan tersebut serta alat yang diperlukan.
5. Rencanakan ukuran dan jumlah optrade maupun antrede, lebar tangga maupun
ukuran bordes.
6. Tentukan letak dan posisi, serta as dari tangga.
7. Tentukan tempat duduk bordes dan buatlah profil untuk mengikat benang-benang
sebagai pedomannya.
8. Potonglah bahan sesuai dengan ukuran dan jumlah yang diperlukan.
9. Pasang tiang perancah seperti pemasangan tiang perancah pada balok.
10. Tarik 2 helai benang dari sisi acuan balok sampai dengan permukaan tanah atau
lantai, sesuai dengan kemiringan tangga. Benang ini akan dipakai sebagai
pedoman dalam pemasangan gelagar acuan yang berkedudukan dibawah sisi
bawah lantai tangga dengan jarak setebal papan lante acuan.

21
11. Pasanglah papan gelagar dan dipakukan pada tiang perancah yang berpedoman
pada benang yang ada.
12. Pasanglah papan lantai dari papan 2/20 diatas gelagar dan diperkuat dengan paku
secukupnya.
13. Pasanglah rangkaian papan acuan pada kedua sisi bekisting tangga.
14. Pasanglah papan penjepit 2/10 cm pada bagian bawah acuan yang berhubungan
langsung dengan gelagar.
15. Pada tepi luar atas dipasang gelagar pengaku sepanjang acuan tangga, dipakukan
diatas klam acuan.
16. Papan sisi samping acuan diukur kesikuannya dan diperkokoh dengan skur yang
berhubungan dengan gelagar sisi atas acuan dan tiang perancah.
17. Lukislah kedudukan optrede dan antrede pada sisi dalam acuan dengan
menggunakan pensil dan waterpass.
18. Pasang papan-papan optrede dari papan-papan tebal 2 cm yang telah dipotong dan
dibelah sesuai ukuran yang dikehendaki. Agar kedudukan papan optrede bisa
kokoh, maka hubungannya dengan papan samping diperkuat dengan klos.
19. Guna memperkaku papan optrede, maka perlu dipasang penyokong ditengahnya
yang terletak diatas papan optrede memanjang dari atas sampai bawah. Bahan
penyokong terdiri atas kaso dan papn yang dipakukan pada setiap papn optrede.
20. kontrol semua hasil pekerjaan sesuai dengn gambar kerja dan peraturn yang
berlaku.
21. bersihkan semua acuan dari potongan kayu dan kawat serta bentuk kotoran
lainnya.
22. bersihkan lokasi pekerjaan dan tempatkan kembali alat-alat yang digunakan pada
tempat yang semestinya.

22
2.9 Pembongkaran Acuan Dan Perancah

Dalam pembongkaran harus diperhatikan syarat-syarat berikut :


1. Syarat konstruktif
Berdasarkan waktu
 Untuk beton yang menahan momen pembongkaran acuan dan perancahnya dilakukan
setelah beton mencapai kekuatan 100 %.
 Untuk beton yang tidak menahan momen pembongkaran acuan dan perancahnya
dilakukan setelah beton memiliki bentuk yang stabil.
Metode-metode yang digunakan dalam pembongkaran acuan dan perancah adalah:
a. Urutan-urutan pembongkaran acuan dan perancah harus sesuai dengan momen yang
telah direncanakan, sehingga momen yang terjadi akibat pembongkaran sana dengan
momen yang telah direncanakan.
b. Pembongkaran acuan dan perancahnya dimulai dari ujung untuk mendapatkan bidang
momen yang sama.
c. Pembongkaran tiang perancahnya harus dimulai dari tengah dan diteruskan di kiri
kanannya sampai ke tepi.
2. Syarat Keamanan
Hal ini sangat penting sekali, jangan sampai dalam bekerja urutan pembongkaran tidak
diperhatikan sehingga bagian yang belum terbongkar atau yang sudah terbongkar dapat
mencelakai pekerja yang sudah bekerja. Gunakan perlengkapan kerja guna mencegah
terjadinya kecelakaan kerja.
3. Syarat Ekonomis
Dalam pembongkaran juga perlu diperhatikan material yang digunakan supaya material
bekas bongkaran bisa untuk dipakai lagi, paku yang digunakan dalam pelaksanaan acuan dan
perancah, yaitu :

23
a. Bentuk paku yang digunakan ialah paku yang bertampang bulat. Hal ini dapat
mempermudah dalam pembongkaran.
b. Panjang paku yang dipakai harus sesuai dengan tebal sambungan yang dibuat atau
maksimal sepanjang tebal sambungan. Paku yang terlalu panjang jangan dilakukan
pembengkokan, karena hal ini akan mempersulit didalam melakukan pembongkaran.
c. Kekuatan paku bertampang bulat terdapat dalam daftar yang berlaku untuk tebal kayu
yang akan disambung.
d. Jarak minimum pemakuan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
o Dalam arah gaya : 12 . d untuk tepi kayu yang dibebani, 5 . d untuk tepi yang tidak
dibebani dan 10 . d untuk jarak antar paku
o Dalam arah tegak lurus arah gaya : 5. d untuk jarak sampai tepi kayu dan 5 .d untuk
jarak barisan kayu

24
BAB III
PRHITUNGAN BAHAN

2.1 Job I : Pemasangan Bowplank/ Papan Duga


2.1.1 Volume Usuk
 Volume 1 batang ususk adalah:
V = (p x l x t)
= (0.05m x 0.07m x 4m)
= 0.014𝑚3
 Volume usuk yang di butuhkan adalah:
V = (p x l x t) x 3
= (0.05m x 0.07m x 1m)
= 0.035𝑚3 x 3 tiang
= 0.0105 𝑚3
 Karena ada 4 sudut yang dipasang bowplank maka total kayu 5/7 untuk pemasangan
bowplank sebanyak :
= 0.0105𝑚3 x 4 sudut
= 0.042 𝑚3
 Maka banyaknya batang kayu 5/7 yang dibutuhkan untuk 1 kelompok adalah:
= Volume usuk yang dibutuhkan : volume 1 batabg usuk
= 0.042 𝑚3 ∶ 0.014𝑚3
= 3 batang
 Jadi, jumlah usuk yang di butuhkan dalam pembuatan acuan bowplank adalah :
= 3 x 2 kelompok
= 6 batang usuk
2.1.2 Volume Papan
 Volume1 lembar papan
V = (p x l x t)
= (0.03m X 0.2m X 4m)
= 0.024𝑚3

25
 Voume papan yang di butuhkan
V = (p x l x t)
= 0.025m x 0.04m x 0,8 m)
= 0.0008 𝑚3 x 2 untuk satu sudut
 Volume untuk pemasangan papan 3/20 sebanyak 4 sudut adalah :
V = 0.0016𝑚3 x 4 sudut
= 0,0064𝑚3

 Volume Untuk pemasangan papan 3/20 sebanyak 2 kelompok adalah:


V = 0.0064𝑚3 x 2 kelompok
= 0.0128𝑚3

 Maka banyaknya volume batang kayu 5/7 yang dibutuhkan untuk 1 kelompok
adalah:
= Volume papan yang dibutuhkan : volume 1 lembar papan
= 0.0128𝑚3 : 0.024𝑚3
= 0.53 𝑚3
 Jadi, jumlah total papan 3/20 yang di butuhkan dalam pembuatan acuan bowplank
adalah:
= 1 𝑚3 : 0.53 𝑚3
= 1.8 lembar
= 3 lembar papan
3.1 Job II: Pemasangan Acuan Kolom
Diketahui: Dimensi kolom = 30 cm x 30 cm; Jumlah kolom = 4 buah
3.1.1 Volume Multiplek
 Volume 1 lembar multiplek adalah:
V = (p x l x t)
= (0.12m x 2.44m x 1.22m)
= 0.35𝑚3

26
 Volume multiplek lebar 30cm untuk pemasanan 4 kolom adalah: (8 buah)
V = (p x l x t) x 8
= (0.3m x 0.12m x 2.44m ) x 8
= 0.08𝑚3 x 8
= 0.64𝑚3
 maka, jumlah lembar triplek lebar 30 cm yang dibutuhkan adalah:
V = Volume untuk 30 cm : volume 1 lembar multiplek
= (0.64𝑚3 : 0.35𝑚3 )
= 1.8 lembar
= 2 lembar
 Volume multiplek lebar 27 cm untuk pemasanan 4 kolom adalah: (8 buah)
V = (p x l x t) x 8
= (0.27 cm X 0,12cm X 2,44cm) x 8
= 0.07 𝑚3 x 8
= 0,56m3
 maka jumlah lembar triplek yang dibutuhkan adalah:
= Volume untuk 27 cm : volume 1 lembar multiplek
= (0,56𝑚3 : 0,35 𝑚3 )
= 1,6 lembar
= 2 lembar
 Jadi jumlah total multiplek yang di pakai dalam pembuatan acuan untuk 4 buah
kolom adalah:
= (2 + 2) lembar
= 4 lembar

27
3.1.2 Volume Usuk Pengunci
Diketahui :
 Volume1 lembar papan adalah:
V = (p x l x t)
= (0.03m x 0.2m x 4m)
= 0.024𝑚3
 Volume 1 usuk pengunci adalah :
V = (p x l x t)
= 0.04m x 0,25 m x 2.44 m
= 0.00244𝑚3
 Volume usuk pengunci Untuk 1 buah kolom adalah :
V = (p x l x t) x 4
= 0.00244𝑚3 x 4 sudut kolom yang di kunci
= 0.00976𝑚3
 Volume usuk pengunci Untuk 4 buah kolom adalah :
V = (p x l x t) x 4
= 0.976𝑚3 x 4 kolom
= 0.03904𝑚3
 maka banyaknya usuk pengunci yang dibutuhkan yang dibutuhkan adalah:
= Voume usuk pengunci yang di butuhkan : Volume 1 lembar papan
= 0.03904𝑚3 ∶ 0.024𝑚3
= 1.6 lembar
= 2 lembar
Jadi, jumlah total usukpengunci yang di butuhkan dalam pembuatan acuan 4 buah kolam
adalah sebanyak 2 lembar papan.

28
3.2 Job III : Pemasangan Acuan Balok
3.2.1 Volume Multiplek
 Volume 1 lembar multiplek adalah:
V = (p x l x t)
= (0.12m X 2.44m X 1.22m)
= 0.35𝑚3
 Volume multiplek yang dibutuhkan Untuk acuan luar adalah :
V = (p x l x t)
= (0.4m X 0.12m X 7.27m)
= 0.34𝑚3
 Volume multiplek yang dibutuhkan Untuk acuan dalam adalah :
V = (p x l x t)
= (0.3m x 0.12m x 7.27m)
= 0.26𝑚3
 Volume multiplek yang dibutuhkan Untuk acuan dalam adalah :
V = (p x l x t)
= (0.27m x 0.12 m x 7.27)
= 0,23𝑚3
 Maka total volume acuan balok adalah:
= (0.34𝑚3 + 0.26𝑚3 + 0.23𝑚3 )
= 0.83 𝑚3
 Maka banyaknya multiplek yang dibutuhkan adalah:
= Total volume acuanbalok : volume 1 lembarmultiplek
= 0.83𝑚3 : 0`35𝑚3
= 2.37 lembar
= 3 lembar
Jadi, total keseluruhan multiplek yang di butuhkan pada pembuatan acuan balok adalah
sebanyak 3 lembar

29
3.2.2 Volume Usuk Pengunci
Diketahui: Dimensi balok = 40 cm x 27cm; Jumlah balok = 4; dan Luas bangunan = 7.27𝑚2
 Volume 1 lembar papan 3/20 adalah:
V = (p x l x t)
= (0.03m x 0.2m x 4m)
= 0.024𝑚3
=
 Volume 1 usuk pengunci adalah:
V = (p x l x t)
= 0.04m x 0.25 m x 7.27 m
= 0.0727 𝑚3
=
 Maka volume usuk pengunci yang di butuhkan untuk 3 sudut adalah :
V = 0.0727 𝑚3 x 3
= 0.2181𝑚3
Jadi, banyaknya lembar papan yang di butuhkan dalam pembuatan acuan balokk adalah :

= (0.2181𝑚3 ∶ 0.024𝑚3 )
= 9 lembar papan

3.3 Job V: Pemasangan Acuan Plat Lantai


Diketahui: - Luas bangunan = (p x l) = (2.45m x 2,97m ) = 7.27𝑚2

- Tebal plat = 10 cm

- Luas 1 lembar multiplek = (p x l) = (2.44 m x 1.22m) = 2.97𝑚2

30
 Jadi, banyaknya multiplek yang dibutuhkan adalah:
Luasbangunan :luas 1 lembar multiplek
= (7.27𝑚2 : 2.97𝑚2 )
= 2.4 lembar
= 3 lembar
3.4 Job VI : Pemasngan Acuan Tangga
3.4.1 Perencanaan Tangga
A + 2o = 30 + 2 x 15 = 60
Jumlah anak tangga = 400 : 15 = 26.6 = 27 anak tangga = 27 - 1 = 26
15
Sudut kemiringan optrade/antrade 𝑡𝑔 ∝= 30 = 𝑡𝑔 ∝ = 0,5 = ∝ = 26.5 = 27°

3.4.2 Volume Multiplek Untuk Acuan Tangga


 Volume multiplek optrad adalah:
V = (p x l x t) x 26
= (0,12 m X 0,15m X 0.8m) x 26
= 0.014 𝑚3 x 26
= 0.364 𝑚3
 Bahan untuk anak tangga = 0.364 : 0.35 = 1.04 lembar
 Volume multiplek bordes adalah:
V = (p x l x t)
= (0.12m X 0.8m X 0.8)
= 0.0768
 Bahan untuk bordes = 0.0768𝑚3 : 0.35 = 0.2 lembar
 Voume multiplek pengangan samping = 0.12m x 2 m x 0.35m = 0.084 𝑚3
 Bahan untuk pegangan samping = 0.084𝑚3 : 0.35 𝑚3 = 0.24 lembar
 Jadi, jumlah multiplek yang dipakai untuk pembuatan acuan tangga adalah:
= (1.04 + 0.2 + 0.24)
= 1.48 lembar
= 2 lembar

31
3.5 Perhitungan Volume Usuk Tiang Skur Dan Penyokong Acuan
- Skur vertikal = 40 batang
- Skur horizontal = 40 batang

- Skur diagonal = 8 batang

 Volume 1 batang usuk = (p x l x t) = ( 0.05m x 0.07m x 4m) = 0.014𝑚3


 Volume skurvertikal = (40 x 0.014𝑚3 ) = 0.56 𝑚3
 Volume skur horizontal = (40 x 0.014𝑚3 ) = 0.56 𝑚3
 Volume skur diagonal = (8 x 0.014𝑚)3 = 0.112 𝑚3
 Maka, total volume skur yang dibutuhkan adalah:
= (0.56𝑚3 + 0.56𝑚3 + 0.112𝑚3 )
= 1.232𝑚3
 Jadi, banyaknya usuk pengunci yang dibutuhkan yang dibutuhkan adalah:
= Total voumeskur : volume1 batang usuk
= (1.232𝑚3 : 0,014𝑚3 )
= 8 batang

3.7 Total Kebutuhan Bahan Yang Di Butuhkan Dalam Praktek Acuan perancah 1
3.7.1 Total Jumlah Papan
= (9 + 2 + 2) lembar
= 13 lembar
3.7.2 Total Jumlah Usuk
= (44 + 6 ) batang
= 50 batang
3.7.3 Total Jumlah Multiplek
= (2 + 3 + 3 + 4)
= 12 lembar

32
BAB IV
BESTEK (GAMBAR KERJA)

33
BAB V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari praktek kerja Acuan dan Perancah ini, kami dapat menyimpulkan bahwa:
1. Dengan Praktek Acuan dan Perancah, mahasiswa dapat mengetahui betapa pentingnya
Acuan dan Perancah dalam sebuah kosnstruksi,
2. Dengan praktek Acuan dan Perancah mahasiwa dapat membuat acuan dan perancah
yang biasa digunakan dalam dunia konstruksi.

34
3. Pekerjaan Acuan dan Perancah adalah pekerjaan yang sederhana dan sementara, namun
sangat menentukan keberhasilan dari sebuah konstruksi.

4.2 Saran

Dalam pelaksanaan sering dijumpai permasalahan-permasalahan di lapangan dan


permasalahan tersebut harus kita sesuikan demi keselamatan pengerjaan acuan dan perancah
tersebut. Oleh karena itu kami memberikan beberapa saran untuk permasalahan-permasalahn
tersbut;
1. Mempergunakan waktu seefesien mungkin.
2. Mengutamakan keselamtan kerja.
3. Mengikuti petunjuk dan prosedur pelaksanaan kerja.
4. Menempatkan peralatan-peralatan pada tempat yang aman.
5. Berkonsentrasi pada pekerjaan dan tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam
praktek.
6. Mengmbil inisiatif jika menmukan permasalahan yang tidak ada dalam petunjuk praktek.
7. Pada saat pembongkaran acuan dan perancah hendaknya jangan sembarangan, lakukanlah
sesuai dengan prosedur yang ada.
8. Menempatkan bahan-bahan pembongkaran dengan rapi.

DOKUMENTASI

35
(Pembuatan Kolom) (Kolom yang sudah jadi)

(Menggali lubang tiang pancang) (Pemasangan tiang pancang)

36
(Tiang pancang telah jadi) (Pemasangan kolom)

(Mengapit kolom menggunakan tiang skur) (Kolom telah selesai dipasang)

37
(Pemsangan balok) (Balok telah selesai dipasang)

(Pemasangan plat lantai) (Plat lantai telah selesai dipasang)

38
(Pemasangan tangga) (Tangga telah selesai dipasang)

(Hasil akhir Kerja Acuan & Perancah 1) (Pembongkaran plat lantai)

39
(Pembongkaran kolom)

(Hasil pembongkaran tiang skur)

40
41