Anda di halaman 1dari 12

SEMINAR JOURNAL READING DEPARTEMEN KONSERVASI GIGI

REVASKULARISASI GIGI NONVITAL PERMANEN MUDA MENGGUNAKAN PLATELET-RICH FIBRIN PADA ANAK-ANAK

Diterjemahkan oleh :

Nafisa Diniwati

160112160059

Pembimbing :

drg. Fajar Fatriadi, M.Kes

160112160059 Pembimbing : drg. Fajar Fatriadi, M.Kes UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2019

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG

2019

Revaskularisasi Gigi Nonvital Permanen Muda Menggunakan Platelet-rich Fibrin Pada Anak-anak

N.B. Nagaveni; P. Poornima; Jooie S. Joshi; Sidhant Pathak; D.B. Nandini

Abstrak Tujuan dari makalah ini adalah untuk menyajikan pendekatan baru di mana revaskularisasi gigi nonvital permanen muda menggunakan platelet-rich fibrin (PRF) sebagai bahan scaffold baru. Tindakan ini dilakukan setelah disinfeksi ruang saluran akar dengan menggunakan pasta antibiotik tripel diikuti dengan menempatkan membran PRF di saluran akar. Kontrol pasien dilakukan rutin selama 3, 6, 9, dan 12 kali kunjungan. Peninjauan setelah 12 bulan, pemeriksaan klinis menunjukkan respon negatif terhadap tes perkusi dan palpasi, tetapi respon positif terhadap tes dingin dan positif terhadap electric pulp test (EPT). Pemeriksaan radiografi memperlihatkan penebalan dinding dentin akar berlanjut, penyempitan ruang saluran akar, pemanjangan akar, dan penutupan apeks akar dengan arsitektur periradikular yang normal. Bagaimanapun, penelitian klinis yang lebih banyak menggunakan sampel besar diperlukan untuk membuktikan keuntungan dari terapi endodontik regeneratif pada anak-anak.

Kata Kunci: Apex tebuka, Platelet-Rich Fibrin, Gigi Nonvital, Revaskularisasi.

Penatalaksanaan dari gigi permanen muda dengan nekrosis pulpa yang disebabkan karena trauma atau karies pada anak-anak, merupakan sebuah tantangan klinis untuk dokter gigi anak. Sulit untuk merawat gigi muda dengan teknik konvensional endodontik, ini disebabkan karena dinding dentinal yang tipis, apikal yang terbuka dan ruangan saluran akar yang lebar. Pembersihan mekanik menggunakan instrumen yang mengangkat dentin tidak direkomendasikan, karena akan merusak lebih jauh dinding saluran akar yang sudah tipis. 1 Apeks yang terbuka sulit atau bahkan tidak mungkin untuk menutup jika menggunakan metode pengisian saluran akar konvensional, karena tidak adanya apical stop. Akibatnya, metode tradisional apeksifikasi dengan kalsium hidroksida (Ca(OH) 2 ) telah dikembangkan untuk menginduksi pembentukan barier apikal. 2 Bagaimanapun, studi jangka pendek 3 dan jangka panjang 4 terhadap apeksifikasi Ca(OH) 2 menunjukkan bahwa Ca(OH) 2 yang membantu apeksifikasi ini, dapat mengurangi kekuatan akar karena menyebabkan denaturasi kolagen, sehingga diperlukan pengembangan untuk perawatan tersebut.

Untuk mengatasi kekurangan yang terkait dengan Ca(OH) 2 , Shabahang dan Torabinazed 5 menyarankan teknik apeksifikasi satu tahap menggunakan Mineral Trioksida Agregat (MTA). Namun, beberapa penulis, 6, 7 menunjukkan bahwa apeksifikasi satu tahap dengan MTA ini, tidak menginduksi pengembangan akar lebih lanjut. Bahkan menimbulkan risiko fraktur akar karena dinding dentin yang tipis dan perbandingan antara mahkota- akar tidak adekuat, menimbulkan kemungkinan buruk untuk prosedur restoratif, sehingga penggunaan MTA ini masih membutuhkan pendekatan alternatif biologis lainnya. Oleh karena itu, telah ada pergeseran paradigma di bidang endodontik kontemporer dari apeksifikasi ke prosedur regeneratif.

Prosedur endodontik regeneratif adalah prosedur berbasis biologis yang dirancang untuk mengembalikan fungsi pulpa yang rusak dan tidak berfungsi, dengan merangsang stimulasi stem cell dan progenitor yang ada di saluran akar dalam kondisi yang menguntungkan bagi proses diferensiasinya. 8 Revaskularisasi ini merupakan pendekatan yang paling banyak dipelajari dan cukup berhasil dalam endodontik regeneratif . 8

Tiga komponen sangat penting yang berperan dalam kesuksesan hasil dari prosedur ini diantaranya: stem cell; faktor pertumbuhan (growth factor); dan pembentuk scaffold fisik tiga dimensi, yang tanpa itu ruang saluran akar kosong tidak dapat mendukung pertumbuhan jaringan baru dari daerah periapikal. Banyak peneliti telah menggunakan bekuan darah 10 kolagen 11 dan platelet rich plasma (PRP) 12 sebagai material struktur untuk revaskularisasi. Meskipun metode konvensional revaskularisasi menggunakan bekuan darah atau revaskularisasi yang dimediasi PRP telah menunjukkan hasil sukses, terdapat prediktabilitas jangka panjang yang masih dipertanyakan terkait antisipasi manfaat moderat telah diamati dengan teknik tersebut. 8,13,14

Platelet-rich fibrin (PRF), konsentrat trombosit generasi kedua yang baru-baru ini dikembangkan di Perancis oleh Choukroun dkk, 15 telah digunakan oleh berbagai spesialisasi kedokteran gigi seperti periodontologi, implantologi, dan bedah mulut maksilofasial. Penggunaan PRF sebagai bahan scaffold dalam prosedur endodontik regeneratif adalah pendekatan baru di arena

endodontik non-bedah kontemporer. Ulasan yang luas dengan pencarian Medline (Tabel 1) mengungkap mengenai tiga publikasi 16-18 yang menunjukkan laporan kasus individual tentang penggunaan PRF dalam prosedur endodontik regeneratif.

Tujuan dari makalah ini adalah untuk membahas hasil klinis dan hasil radiologis dari sebuah kasus, di mana PRF digunakan sebagai bahan scaffold dalam prosedur revaskularisasi pada gigi permanen muda yang nekrosis.

Tabel 1. Literatur mengenai Platelet-Rich Fibrin- Mediasi Revaskularisasi Gigi Muda Nekrotik

Penulis dan tahun

Nomor

Pasien, usia

Gigi yang

Hasil Klinis

Hasil Radiografis

Periode

gigi yang

dan gender

dirawat

Kontrol

dirawat

(nomenklatur

(bulan)

 

gigi universal)

dan diagnosa

preoperatif

Shivashankar dkk., 18 2012

1 9, laki-laki

8, periodontitis

Respon (-) pada perkusi dan palpasi;

Penebalan kontinyu dinding dentinal, pemanjangan akar, regresi lesi periapikal, penutupan apikal

12

apikalis

 

(+) pada es CO 2 atau EPT

Mishra dkk., 17

1 11, laki-laki

9, periodontitis

Respon (-) pada perkusi dan palpasi;

Resolusi penghalusan periapikal, perkembangan akar, penutupan apikal

12

2013

apikalis

 

(+) pada tes dingin dan EPT

Keswani dan Pandey, 16 2013

1 7, laki-laki

8, periodontitis

(-) pada perkusi dan palpasi;

(-) sensitivitas perkusi dan palpasi,

15

apikalis

(+) pada tes dingin dan EPT

(+) tes dingin dan EPT

Laporan Kasus Seorang anak laki-laki berumur 10 tahun datang ke Departemen PedodontikPreventif, Sekolah Kedokteran Gigi Davangere, Karnataka, India, dengan keluhan utama gigi anterior rahang atas rusak dan terdapat perubahan warna. Terdapat riwayat trauma pada gigi tersebut, akibat terjatuh satu tahun lalu. Pasien tidak melakukan perawatan pada gigi yang patah. Tidak terdapat staus medis pemberat (medical record). Pada pemeriksaan intraoral, gigi insisivus sentral kanan rahang atas mengalami perubahan warna disertai fraktur Ellis Kelas IV dan nyeri saat di lakukan tes perkusi. Gigi tidak merespon pada tes dingin ataupun EPT, dan kedalaman probing periodontal dalam batas normal. Pemeriksaan radiografi periapikal intraoral menunjukkan

4

penampakan akar muda, dinding dentin tipis, dan apeks akar terbuka lebar. Berdasarkan temuan klinis dan radiografi, ditentukan diagnosis fraktur Ellis Kelas IV dengan periodontitis apikalis, dan ditentukan keputusan klinis untuk perawatan endodontik regeneratif menggunakan PRF. Langkah-langkah perawatan dijelaskan kepada orang tua, dan diperoleh informed consent. Langkah-langkah perawatan dan informed consent telah disetujui oleh Lembaga Komite Etik College of Dental Sciences.

Anestesi lokal diperoleh menggunakan lidocaine 2% dengan epinefrin 1: 100000 disertai dengan pemasangan rubber dam. Akses kavitas dipreparasi menggunakan bur bundar endo-access (Dentsply Maillefer, Swiss); ketika open akses dibuat, tidak ditemukan perdarahan dari saluran akar. Instrumentasi minimal dilakukan dalam perawatan ini, dan irigasi saluran menggunakan 10 ml larutan natrium hipoklorit 5,25% (Laboratorium Rasayan, Mumbai, Maharashtra, India). Panjang kerja ditentukan dengan menempatkan k-file berukuran 70 (MN, Mani, Inc., Tochigi, Jepang), dan saluran dikeringkan menggunakan paper point. Campuran ciprofloxacin (Cifran 500 mg, Ranbaxy Laboratories Ltd., Mumbai), metronidazole (Metrogyl 400 mg, JB Chemicals, Mumbai), dan minocycline (Minoz 50 mg, Ranbaxy Ltd., Mumbai) dengan proporsi yang sama disiapkan, dicampur dengan air suling dan ditempatkan ke dalam saluran akar pada kedalaman 2

mm dari apeks menggunakan endodontik plugger (Mani, Inc.). Pasta antibiotik tripel

mengandung minocycline yang dapat menyebabkan perubahan warna mahkota, sehingga untuk

meminimalkan pewarnaan, pastikan penempatan antibiotik 1 mm di bawah cementoenamel junction (CEJ). Cotton pellet ditempatkan, dan akses kavitas ditutup dengan tambalan sementara

Cavit (3M ESPE, St. Paul, Minn., USA).

tambalan sementara Cavit (3M ESPE, St. Paul, Minn., USA). Gambar 1.(A) Tiga lapis didapatkan setelah sentrifrufasi:

Gambar 1.(A) Tiga lapis didapatkan setelah sentrifrufasi: PRP (panah hitam), PRF (panah kuning) dan sel darah merah (panah merah). (B) Gumpalan PRF

Pasien dipanggil kembali untuk melakukan kontrol setelah tujuh hari, keadaan gigi menjadi asimptomatik. Dalam isolasi rubber dam, akses kavitas dibuka kembali, dan irigasi saluran dilakukan secara menyeluruh menggunakan larutan saline untuk membersihkan pasta antibiotik, setelah itu saluran dikeringkan dengan paper point. Untuk persiapan PRF, 5 ml darah utuh

diambil secara intravena dari lengan bawah pasien (vena antecubital) menggunakan jarum ukuran 18. Darah disimpan dalam plastik vaccutube steril tanpa menambahkan antikoagulan apa pun. Segera setelah itu, tabung segera disentrifugasi (Remi Model, Mumbai) dengan kecepatan 3.000 putaran per menit selama 15 menit. Hal ini menghasilkan pemisahan darah utuh menjadi tiga lapisan (Gambar 1A): (1) lapisan atas yang terdiri dari cairan aseluler berwarna kekuning- kuningan-platelet-poor plasma (PPP); (2) lapisan tengah berisi bekuan fibrin kaya trombosit (PRF, platelet-rich fibrin); dan (3) lapisan bawah terdiri dari sel darah merah.

); dan (3) lapisan bawah terdiri dari sel darah merah. Gambar 2. (A) Membran PRF didapatkan
); dan (3) lapisan bawah terdiri dari sel darah merah. Gambar 2. (A) Membran PRF didapatkan

Gambar 2. (A) Membran PRF didapatkan setelah pengocokan gumpalan PRF. (B) Membran PRF yang ukurannya telah disesuaikan

Pipet Pasteur digunakan untuk mengambil lapisan PPP berwarna kekuningan yang telah terpisah. Penjepit steril dimasukkan ke dalam tabung reaksi untuk menghilangkan bekuan PRF (Gambar 1B). Gel PRF ditekan di antara kasa kering steril untuk memeras cairan, yang menghasilkan membran (Gambar 2A). Membran PRF ditempatkan pada ukuran panjang kerja saluran akar yang telah ditentukan (Gambar 2B), dan didorong 1 mm di luar panjang kerja sampai ke tingkat CEJ secara koronal menggunakan hand plugger endodontik (Dentsply Maillefer, Swiss). Tiga milimeter MTA putih (Pro Root MTA, Dentsply Maillefer) ditempatkan langsung di atas membran PRF, diikuti dengan penempatan cotton pellet basah, dan gigi direstorasi sementara menggunakan Cavit. Pasien dipanggil kembali satu hari setelahnya, untuk mengkonfirmasi pengerasan MTA. Akses kavitas direstorasi menggunakan semen glass ionomer (Universal Restorative, Tokyo). Pasien melakukan kontrol setiap satu, tiga, enam, sembilan, dan 12 bulan untuk penilaian klinis dan radiologis. Penilaian dalam kontrol menunjukkan temuan klinis yang serupa. Respon normal untuk perkusi, palpasi, dan kedalaman poket probing normal dengan respon positif untuk tes pulpa dingin dan EPT, menunjukkan hasil yang mirip dengan gigi yang berdekatan. Pemeriksaan radiografi (Gambar 3) memperlihatkan perkembangan akhiran akar secara kontinyu, dinding dentin tebal dengan penyempitan ruang saluran, penutupan periapikal berlanjut, dan arsitektur periradikular yang normal. Temuan klinis dan radiologis yang diperoleh dari kasus ini diuraikan dalam Tabel 2 dan 3.

Tabel 2. Temuan Klinis Pasien yang dirawat dengan PRFMediasi Revaskularisasi

Usia dan

Kontrol Post

Respon tes perkusi dan palpasi

Kedalaman Poket

Respon tes dingin dan EPT

Jenis Kelamin

perawatan (bulan)

dan Mobiliti

10 tahun, laki-laki

1

-

Normal

+

3

-

Normal

+

6

-

Normal

+

9

-

Normal

+

12

-

Normal

+

+ 9 - Normal + 12 - Normal + Gambar 3.(A) Radiografi periapikal preoperatif

Gambar 3.(A) Radiografi periapikal preoperatif memperlihatkan gigi insisif sentral kiri maksila dengan apeks

terbuka dan ruang saluran akar lebar, dinding dentin tipis. Penentuan panjang kerja dilakukan setelah akses opening.

(B) Kontrol 3 bulan menunjukkan perkembangan saluran akar dan penutupan periapikal yang baik. (C) Radiografi

setelah 6 bulan menunjukkan perkembangan kontinyu akar dengan penebalan dinding dentinal dan penutupan apikal yang terbuka. (D) Radiografi pasca 9 bulan dan. (E) Radiografi 12 bulan menunjukkan penutupan yang sangat baik dari apeks, ditandai peningkatan panjang akar dengan penebalan lateral dinding dental, saluran akar menyempit dan

arsitektur periradikular yang normal.

Tabel 3. Temuan Radiografi Pada Pasien yang dirawat dengan PRFMediasi Revaskularisasi

Usia dan

Kontrol

Pemanjangan

Penebalan

Penutupan

Penyembuhan

Resorpsi

jenis

Post

akar

dinding

periapikal

periapikal

internal/eksternal

kelamin

perawatan

dentinal

akar

(bulan)

10 tahun,

1

*

*

*

*

§

laki-laki

3

+

+

+

+

§

6

++

++

++

++

§

9

++

++

++

++

§

12

++

++

++

++

§

*Kepuasan

+ Baik

++Sangat Baik

§Tidak ada

Pembahasan Revaskularisasi gigi nekrotik muda merupakan prosedur endodontik yang minimal invasif namun secara teknis menantang. Ada tiga komponen penting yang mengatur keberhasilan hasil dari modalitas perawatan ini 9 : (1) stem cell yang dapat membedakan dan mendukung perkembangan akar yang berkelanjutan; (2) sinyal molekul untuk induksi proliferasi seluler dan diferensiasi; dan (3) material scaffold fisik untuk mendorong pertumbuhan dan; diferensiasi seluler. Bekuan darah, 10 kolagen, 11 dan PRP 12 telah digunakan sebagai bahan scaffold yang berbeda dan menunjukkan hasil yang sukses. Tetapi, ada masalah dan kerugian yang masih diperdebatkan terkait dengan penggunaannya. 8, 13, 14 Oleh karena itu; PRF digunakan sebagai bahan scaffold baru dalam kasus revaskularisasi gigi permanen muda nonvital ini, seperti yang jelas dari data sebelumnya bahwa PRF memenuhi banyak kriteria untuk bahan scaffold yang ideal. 16-18

PRF dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan PRPsuatu bekuan darah tradisional yang digunakan untuk media revaskularisasiyang melibatkan metode persiapan dengan lebih sederhana tanpa perlu dilakukan penambahan bahan kimia untuk pelepasan faktor pertumbuhan (growth factor). Dalam PRF tidak terdapat antikoagulan ataupun penggumpalan darah setelah kontak dengan permukaan kaca. Oleh karena itu, untuk keberhasilan persiapan PRF, dilakukan pengumpulan darah yang cepat dan sentrifugasi yang segera, sebelum pembekuan awal dimulai sangat penting. PRF dapat diperoleh dalam bentuk membran dengan memeras cairan dalam bekuan fibrin.

Dalam metode konvensional, revaskularisasi diperoleh dengan menginduksi perdarahan ke dalam saluran pulpa dengan cara mekanis, yakni dengan melukai jaringan periapikal. Telah dihipotesiskan bahwa, pada gigi muda dengan pulpa nekrotik, sejumlah jaringan pulpa bersama dengan selubung akar epitelium Hertwigs (HERS, Hertwigs epithelial root sheathmungkin bertahan hidup secara apikal, dan jaringan ini dapat beproliferasi jika kondisi peradangan diterapi dan saluran akar telah terdisinfeksi sempurna. 1,10 Bekuan darah yang diinduksi bertindak sebagai bahan scaffold untuk pertumbuhan jaringan baru ke dalam ruang saluran yang kosong. Tetapi, prosedur ini dapat menyebabkan trauma dan ketidaknyamanan bagi pasien, terutama anak-anak, ketika secara mekanis jaringan periapikalnya dilukai. 13 Selain itu, induksi dan pemeliharaan bekuan darah sangat sulit dalam prosedur revaskularisasi dan tampaknya merugikan. Petrino dkk. 13 dan Ding dkk., 19 berdasarkan rangkaian kasus mereka, menyampaikan bahwa kegagalan untuk menginduksi perdarahan ke dalam saluran di beberapa pasien mereka, menyebabkan hasil pengobatan yang tidak menguntungkan. Selain itu, penempatan terkontrol MTA ke tingkat yang diinginkan dan penempatan optimal atas gumpalan darah secara teknis, sulit dilakukan. 13 Hal ini menyebabkan perkembangan pendekatan biologis baru, seperti PRF, untuk prosedur revaskularisasi.

Penelitian 20-23 telah menunjukkan bahwa PRF sangat signifikan menghasilkan growth factor yang lambat dan berkelanjutan, seperti growth factor yang berasal dari trombosit dan mengubah growth factor beta, kurang lebih selama satu minggu dan hingga 28 hari; hal ini menunjukkan

bahwa PRF dapat melepaskan growth factor dengan scaffold biologisnya sendiri untuk proses penyembuhan luka. Tidak seperti PRP, PRF tidak larut dengan cepat setelah aplikasi; sebagai gantinya, matriks fibrin yang kuat secara perlahan diubah dengan cara yang mirip dengan gumpalan darah alami. 20-23 Keuntungan lain menggunakan PRF sebagai bahan scaffold adalah PRF memiliki sambungan cabang fibrin trimolekul atau ekilateral, yang membuat arsitekturnya fleksibel dan dapat mendukung penangkapan sitokin serta migrasi seluler. 21 Leukosit dalam PRF bertindak sebagai agen anti-inflamasi, memainkan peran kunci dalam regulasi kekebalan, dan menyediakan faktor pertumbuhan vaskular endotel untuk mempromosikan angiogenesis. 23,24

Kerugian yang terkait dengan PRF adalah prosedur invasif untuk pengambilan darah pada anak- anak dan kebutuhan peralatan khusus untuk prosesnya. 15,16 Selain itu, dokter harus percaya diri dalam mengambil darah dari anak, dan membutuhkan teknisi lab berpengalaman atau perawat untuk mengambil darah. Selain itu, untuk keberhasilan persiapan PRF, pengumpulan darah yang cepat dan sentrifugasi yang segera sebelum fase pembekuan awal dimulai sangat penting. 15 Oleh karena itu, memiliki mesin sentrifugasi di laboratorium gigi adalah wajib dalam memperoleh

PRF untuk prosedur revaskularisasi.

Kerugian lain yang dilaporkan adalah kesulitan dalam menangani dan menempatkan membran PRF di dalam saluran akar, karena konsistensinya seperti jeli dan menempel pada instrumen. 16,18 Pada kasus sebelumnya 17,18 membran PRF secara keseluruhan (sebagaimana ukuran panjang kerja yang telah ditetapkan) diinsersi dan dipadatkan dengan plugger. Dalam kasus ini, membran PRF digulung dan dibentuk menjadi ukuran khusus, dimana ukurannya dibuat lebih panjang dari panjang kerja yang ditetapkan, kemudian ditempatkan dan didorong kedalam saluran akar sekitar 1 mm di luar panjang kerja menggunakan hand plugger . Sebuah laporan kasus oleh Keswani dan Pandey 16 menunjukkan bahwa memotong membran PRF menjadi fragmen kecil

dan kemudian menempatkan setiap fragmen secara bertahap ke dalam saluran, adalah metode

yang lebih mudah. Tetapi, masih kurangnya bukti mengenai teknik dan penempatan dari PRF di ruang saluran akar, pada akhirnya penempatan PRF ini hanya didasarkan pada pengalaman klinis dokter. PRF harus ditempatkan dalam ukuran panjang penuh atau di luar ukuran panjang kerja.

Kontrol infeksi di ruang saluran akar adalah langkah pertama yang penting dalam prosedur

revaskularisasi. Berbagai penulis 9,13,19 telah menyelidiki penggunaan kombinasi pasta antibiotik tripel yang terdiri dari ciprofloxacin, metronidazole, dan minocycline; pasta ini telah ditemukan efektif dalam mengatasi beragam flora mikroba yang ada di saluran akar. Kombinasi obat ini

juga efektif dalam membunuh bakteri di lapisan dalam dari dentin saluran akar. Tetapi, kerugian

utama adalah potensi perubahan warna mahkota yang dihasilkan dari minocycline. 13,25 Dalam kasus ini, perawatan dilakukan untuk memastikan bahwa pasta antibiotik tripel ditempatkan 1

mm di bawah CEJ untuk meminimalkan pewarnaan. Berbagai penulis 13,16,26 telah menyarankan

penutupan tubulus dentin di ruang pulpa dan penggunaan bahan pengikat dentin untuk mencegah

atau mengurangi intensitas perubahan warna yang disebabkan oleh aplikasi pasta antibiotik tripel. Dalam kasus yang ditemukan dengan perubahan warna, perawatan dengan pemutihan intracoronal menggunakan natrium perborate dapat dilakukan.

Berdasarkan pernyataan American Association of Endodontists 27 tentang prosedur regeneratif, saat ini tidak ada pedoman pengobatan standar berbasis bukti untuk prosedur regenerasi endodontik. Banyak penelitian 8,10-13,16-18 telah menunjukkan hasil yang menguntungkan, dengan bukti radiografi lanjutan dari perkembangan pulpa dentin kompleks dan tidak adanya gejala klinis. Dalam kasus kami, baik tindak lanjut klinis dan radiografi dari gigi yang dirawat dengan regenerasi PRF menunjukkan tidak adanya gejala klinis seperti respon negatif terhadap palpasi dan tes perkusi, respon positif untuk tes pulpa dingin dan EPT (berdasarkan pemeriksaan klinis) mirip dengan gigi yang berdekatan, dan pertumbuhan akar yang berlanjut dengan dinding dentin tebal dan penutupan apikal (berdasarkan pemeriksaan radiografi).

Ketika membandingkan temuan ini dengan laporan sebelumnya 8,10-13 (baik teknik konvensional menggunakan bekuan darah atau PRP), ditemukan bahwa perubahan secara radiografi terlihat lebih cepat. Hal ini dapat dikaitkan dengan pelepasan growth factor secara berkelanjutan dari PRF (selama periode 7 hingga 14 hari), meningkatkan perekrutan, retensi, proliferasi sel mesenkimal dan sel-sel endotel yang tidak berdiferensiasi pada daerah periapikal. (Sebaliknya, PRP menunjukkan pelepasan growth factor secara tiba-tiba dalam waktu sekitar 7 hingga 14 jam. 28 Setelah itu, pelepasan growth factor dari PRP tiba-tiba berkurang.) Setelah regresi peradangan dan di bawah pengaruh HERS, sel pulpa gigi mungkin telah terdiferensiasi menjadi odontoblas seperti sel, hal ini menghasilkan perkembangan jaringan keras dan lunak yang baru di dalam saluran akar. 21,29

Oleh karena itu, berdasarkan hasil klinis dan radiografi, diasumsikan bahwa jaringan di saluran akar telah kembali ke keadaan vital. Namun, pemeriksaan histologis diperlukan untuk menilai jenis jaringan yang terbentuk, seperti dalam penelitian Ritter dkk. 30 menunjukkan bahwa hanya ada sekitar 30% kemungkinan jaringan pulpa masuk kembali ke ruang kanal. Penelitian lain yang dilakukan pada gigi avulsi 31 dan gigi 32 yang terinfeksi menunjukkan bahwa jaringan yang ditemukan di ruang pulpa lebih mirip dengan ligamen periodontal daripada jaringan pulpa.

Akhirnya, berdasarkan hasil klinis dan radiologis yang diperoleh dari kasus ini, kita dapat menyimpulkan bahwa PRF adalah bahan scaffold yang berpotensi valid dalam meregenerasi jaringan pada gigi nekrotik muda. Namun, uji klinis jangka panjang sangat penting untuk membandingkan efektivitas PRF dengan bekuan darah alami atau PRP untuk membuktikannya sebagai material yang menguntungkan dalam perawatan endodontik regeneratif.

Daftar Pustaka

1. Cotti E, Mereu M, Lusso D. Regenerative treatment of an immature, traumatized tooth with apical periodontitis: report of a case. J Endod 2008;34:611-6.

2. Rafter M. Apexification: a review. Dent Traumatol 2005; 21:1-8.

3. Resenberg B, Murry PE, Namerow K. The effect of cal-cium hydroxide root filling on dentine fracture strength. Dent Traumatol 2007;23:26-9.

4. Andreasen JO, Farik B, Munksgaard EC. Long-term cal-cium hydroxide as a root canal dressing may increase risk of root fracture. Dent Traumatol 2002;18:134-7.

5. Shabahang S, Torabinezad M. Treatment of teeth with open apices using mineral trioxide aggregate. Pract Perio-dontics Aesthet Dent 2000;12:315-20.

6. Deutssch AS, Musikant BL, Cavallari J, dkk. Root frac-ture during insertion of prefabricated posts related to root size. J Prosthet Dent 1985;53:786-9.

7. Trabert KC, Caput AA, Abou-Rass M. Tooth fracture: a comparison of endodontic and restorative treatments. J Endod 1978;4:341-5.

8. Wiggler R, Kaufman AY, Lin S, dkk. Revascularization: a treatment for permanent teeth with necrotic pulp and incomplete root development. J Endod 2013;39:319-26.

9. Hargreaves K, Geisler T, Henry M. Regeneration potential of the permanent tooth: what does the future hold? J Endod 2008;34:51-6.

10. Thibodeau B, Teixeira F, Yamauchi M, dkk. Pulp revas-cularization of immature dog teeth with apical periodon-titis. J Endod 2007;33:680-9.

11. Nevins A, Crespi P. A clinical study using the collagen gel Zyplat in endodontic treatment. J Endod 1998;24: 610-3.

12. Jadhav G, Shah N, Logani A. Revascularization with and without platelet-rich plasma in nonvital, immature, an-terior teeth: a pilot clinical study. J Endod 2012;38: 1581-7.

13. Petrino JA, Boda KK, Shambarger S, Bowles WR, McClanahan SB. Challenges in regenerative endodontics: a case series. J Endod 2010;36:536-41.

14. Bose R, Nummikoski P, Hargreaves K. A retrospective evaluation of radiographic outcomes in immature teeth with necrotic root canal systems treated with regenerative endodontic procedures. J Endod 2009;35:1343-9.

15. Choukroun J, Adda F, Schoeffler C, Vervelle A. An opportunity in paroimplantologie: the PRF. Implanto-dontie 2001;42:55-63-2.

16. Keswani D, Pandey RK. Revascularization of an immature tooth with a necrotic pulp using platelet-rich fibrin: a case report. Int Endod J 2013;46:1096-104

17. Mishra N, Narang I, Mittal N. Platelet-rich fibrin medi-ated revitalization of immature necrotic tooth. Contemp Clin Dent 2013;4:412-5.

18. Shivanshankar VY, Johns DA, Vidyanath S, Kumar MR. Platelet-rich fibrin in the revascularization of tooth with necrotic pulp and open apex. J Conserv Dent 2012;15: 395-8.

19. Ding RY, Cheung GSP Chen J, dkk. Pulp revasculari-zation of immature teeth with apical periodontitis: a clinical study. J Endod 2009;35:745-9.

20. Dohan DR, Choukroun J, Diss A, dkk. Platelet-rich fibrin (PRF): a second-generation platelet concentrate. Part I: Technological concepts and evolution. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2006;101: e37-e44.

21. Huang FM, Yang SF, Zhao JH, Chang YC. Platelet-rich fibrin increases proliferation and differentiation of hu-man dental pulp cells. J Endod 2010;36:1628-32.

22. Dohan DM, Choukroun J, Diss A, dkk. Platelet-rich fibrin (PRF): a second-generation platelet concentrate. Part II: Platelet-related biologic features. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2006;101: e45-e50.

23. Tsay R, Vo J, Burke A, Eisig S, Lu H, Landesberg R. Dif-ferential growth factor retention by platelet-rich plasma composites. J Oral Max Surg 2005;63:521-8.

24. Lucarelli E, Beretta R, Dozza B, dkk. A recently deve-loped bifacial platelet rich fibrin matrix. Eur Cell Mater 2010;20:13-23.

25. Kim JH, Kim Y, Shin SJ, Park JW, Jung IU. Tooth disco-loration of immature permanent incisor associated with triple antibiotic therapy: a case report. J Endod 2010;36: 1086-91.

26. Reynolds K, Johnson JD, Cohenca N. Pulp revasculari-zation of necrotic bilateral bicuspids using a modified novel technique to eliminate potential coronal discolora-tion: a case report. Int Endod J 2009;42:84-92.

27. American Association of Endodontics. AAE Considera-tions for regenerative procedures. Available at: “http:// www.aae.org/uploadedfiles/publications_and_research/ research/currentregenerativeendodonticconsiderations.pdf ”. Accessed January 23, 2015.

28. He L, Lin Y, Hu X, Zhang Y, Wu H. A comparative study of platelet-rich fibrin (PRF) and platelet-rich plasma (PRP) on the effect of proliferation and differentiation of rat osteoblasts in vitro. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod 2009;108:707-13.

29. Chueh LH, Huang GT. Immature teeth with periradi-cular periodontitis or abscess undergoing apexogenesis: a paradigm shift. J Endod 2006;32:1205-13.

30. Ritter AL, Ritter AV, Murrach V, Sigurdsson A, Trope M. Pulp revascularization of replanted immature dog teeth after treatment with minocycline and doxycycline as-sessed by laser Doppler flowmetry, radiography, and his-tology. Dent Traumatol 2004;20:75-84.

31. Trope M. Treatment of the immature teeth with non-vital pulps and apical periodontitis. Dent Clin North Am 2010;54:313-24.

32. Wang X, Thibodeau B, Trope M, Trope M, Lin LM, Huang GT. Histologic characterization of regenerated tissues in canal space after the revitalization/revascularization pro-cedure of immature dog teeth with apical periodontitis. J Endod 2010;36:56-63