Anda di halaman 1dari 10

Sebuah Kekuatan dibalik Kesulitan

Judul buku : I’m Possible


Penulis : Luthfie Ludino
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun : 2016
Jumlah halaman : 168

I. Ringkasan isi buku


1. Live the Possible : Possible Success
Ketika kita merasa tertantang, seringkali kita akan melakukan persiapan
yang benar-benar matang agar mampu melakukan sesuatu itu dengan sangat
sempurna dan berhasil. Saat kita merasa kesulitan, kita juga sering kali
memanjatkan doa kepada Tuhan, dengan harapan Tuhan akan memberikan
pertolongan yang singkat agar impian atau cita-cita yang diinginkan tercapai.
Tetapi, pada saat kita tidak merasa kesulitan, apakah kita merasa ingin
mendekatkan diri juga kepada Tuhan? Jujur saja, jawabannya tidak. Mengapa?
Karena kita kurang tertantang. Kita sudah merasa mudah, lalu kita melupakan
Tuhan yang memberikan nikmat yang ada.
Kesulitan bisa membuat diri kita semakin dekat dengan Sang Pencipta,
dengan kesulitan yang menantang, kita menjadi semakin dekat kepada Tuhan.
Maka dari itu, Apa pun bentuk dan ragam sebuah kesulitan yang kita lalui wajib
kita terima, kita sambut dan syukuri dengan cara meminta pertolongan kepada
Tuhan agar diberi kekuatan dan kemampuan keluar dari kesulitan yang sedang
kita hadapi. Selain itu, mengusahakan untuk selalu berprasangka baik kepada
Tuhan dengan menganggap setiap kesulitan itu adalah sapaan manis dari Sang
Pencipta, dan sebagai bentuk refleksi Cinta Kasih Tuhan kepada diri kita, dan
terus meminta semoga kesulitan yang dihadapi merupakan bentuk pemanasan dan
pembelajaran langsung dari-Nya, dan berharap bahwa kesulitan ini membimbing
kita ke arah yang lebih baik lagi.
Kesulitan merupakan tamu keberuntungan yang akan memberi keberkahan
kepada diri kita kelak, kesulitan bukan musuh, tapi bagian dari kita yang turut

1
membangun, memperkuat karakter diri kita hingga seperti saat ini. Kita perlu
menghadapi persoalan hidup jika ingin lebih baik, lebih berkualitas dan lebih
sukses. Setiap kesulitan, pasti datang silih berganti. Hidup tidak mungkin berjalan
datar begitu saja, terkadang kita berjalan diatas permukaan air, kadang di atas
pasir, kadang di atas rumput, kadang di atas bebatuan, kadang di permukaan kasar
dan setiap permukaan tersebut memiliki kualitasnya masing-masing. Terhadap
semua itu, diperlukan sikap, cara dan keahlian kita, maka dari itu kita perlu
memiliki pengalaman, kemauan, dan kemampuan dari diri kita sendiri untuk
melewati kesulitan tersebut.
Saat kita melewati kesulitan, kita tidak dianjurkan untuk menghindar dari
permasalahan tersebut, karena kalau sekali saja kita berusaha menghindar, kita
akan terus dikejar akan masalah tersebut dan masalah akan menjadi semakin
menumpuk dan runyam karena tidak ada niatan baik kita untuk menghadapi dan
menyelesaikan masalah kita sendiri. Jangan sekali-kali membebani diri kita
dengan masalah dan kesulitan baik yang ringan maupun yang berat, jangan pernah
menunda-nunda masalah yang harus diselesaikan, selesaikan masalah sekarang
selagi masih sempat untuk diselesaikan.
Kesulitan terbagi menjadi dua, yaitu kesulitan yang tampak dan kesulitan
yang tidak tampak. Kesulitan tampak adalah segala kesulitan yang memang
benar- benar bisa dirasakan, bisa dilihat, bisa diraba, didengar. Kesulitan tampak
juga terbagi menjadi tiga, yaitu kesulitan ringan, sedang, dan berat. Sedangkan
kesulitan yang tak tampak adalah kesulitan yang belum dan tidak diketahui
keberadaannya, kita tidak menyadari kalau itu akan mendatangkan kesulitan,
karena mungkin tingkat pengetahuan, tingkat pengalaman dan sebagainya,
misalnya, mengonsumsi mi instan yang berlebihan akan mendatangkan penyakit
kanker di kemudian hari.
2. Live the Possible : Becoming Possible
Dalam memahami kesulitan hidup, kita harus bisa menghadapi dan sebisa
mungkin menuntaskan setiap kesulitan satu persatu sesuai dengan prioritasnya
dan bobotnya masing-masing. Tapi, jangan pernah berpikir jika kita sudah
menyelesaikan satu kesulitan lalu berhenti disitu, kesulitan akan semakin berat
setelah kita lepas dari satu belenggu kesulitan tibalah kesulitan yang lebih bagus

2
dan bermutu. Agar mampu mengukir keberhasilan, kita memerlukan sebuah
senjata hidup agar mampu menyerang balik menghadapi masalah dan tidak hanya
pintar menerima masalah. Maka dari itu, kita perlu mempelajari cara-cara
melewati kesulitan agar kita dapat terus melanjutkan apa yang sudah dimulai ,
mempertahankan dan meningkatkan apa yang sudah kita peroleh dalam hidup ini.
Pengarang pernah membaca diinternet bahwa Dalai Lama pernah berkata
“dalam keadaan aman, banyak orang kaya menjadi orang miskin, sedangkan
dalam keadaan krisis banyak orang miskin menjadi kaya” Ungkapan tersebut
menunjukkan bukti bahwa jangan pernah puas, jangan pernah lelah untuk terus
meningkatkan pengetahuan skill kehidupan, walaupun kita saat ini sudah merasa
hidup aman, sejahtera dan berkecukupan. Oleh karena itu, inilah beberapa kiat
dari pengarang yang dapat menggerakkan diri kita setelah berhasil menangkap
masalah dan kesulitan hidup.
1. Memulai dari akhir.
Memulai dipastikan dari awal, tapi kiat ini berlawanan dengan cara
berpikir orang biasa, ini adalah cara berpikir orang yang sukses memiliki kualitas
keberhasilan di atas rata-rata daripada orang biasa. Konsep memulai dari akhir ini
adalah cara berpikir bukan dengan mengesampingkan pentingnya sebuah
persiapan, persiapan itu penting bahkan sangat penting, tidak bisa diremehkan,
tetapi bukan final dari segalanya, bukan sekedar proses tapi ujung dari semua
perencanaan itu. Kita perlu meyakini bahwa sebuah akhir adalah awal langkah
kita, konsep memulai dari akhir, ternyata tidak mengecewakan, bahkan
menguatkan nyali, mental dan menambah semangat. Dan seandainya tidak
tercapai sampai 100 pesen yang ditargetkan, setidaknya kita masih beruntung, kita
hidup lebih sehat, karena kita berpikir optimis, positif terhadap upaya hidup kita,
dan semakin tegar untuk mencari kesuksesan. Sukses tidak datang sendiri, sukses
itu diupayakan, apalagi diimbangi dengan kekuatan doa, maka hasilnya akan jauh
lebih baik.
2. Berdiri lebih tinggi dari kesulitan itu sendiri
Yang dimaksudkan dari pengarang adalah bagaimana kita mampu merasa
besar jiwa, besar hati agar kesulitan dan masalah hidup yang kita hadapi saat ini
dan saat yang akan datang akan terasa kecil karena kita sudah terbiasa dengan

3
masalah hidup yang beraneka macam jenis dan tingkat kualitas serta bobotnya.
Kualitas kesulitan ternyata sangat relatif, tetapi meskipun begitu kita tidak boleh
meremehkan kesulitan yang paling ringan sekalipun, karena setiap masalah, setiap
kesulitan jika tidak dihadapi akan ada dampaknya, meskipun tidak serius. Jika kita
memelihara dan meneruskan kebiasaan spele, maka cepat atau lambat akan
berakibat fatal. Untuk mendapatkan karakter yang seperti itu tidaklah mudah, kita
harus terus-menerus mengasah dengan pengalaman pribadi atau membaca buku
dari pengalaman orang lain, atau mempelajari bagaimana orang-orang sukses
menghadapi kesulitan dan memiliki kekuatan pribadi yang lebih besar dari
kesulitan itu sendiri. “semakin sulit kita meraih sebuah kesuksesan, semakin ber-
kualitas diri kita nantinya.” Jika kita hanya mencari sesuatu yang biasa-biasa, dan
nyaman-nyaman saja, maka akan berbeda kualitas diri seseorang. Menempa diri
menjadi semakin tegar dan kuat, bukan hanya sekedar untuk alasan materi,
menempa diri adalah kewajiban, dan karena Tuhan suka kepada hamba yang
optimis, kuat, dan bekerja keras.
3. Tidak merasa gentar dengan kritik tajam
Jangan sekali-kali menengok ke belakang dan menjadi mengendur niat kita untuk
maju. Anggaplah kritik itu seakan pecut yang terbuat dari api, bukannya kita
semakin melambat, tetapi kita semakin melaju kencang. Selama impian dan cita-
cita itu positif dan bisa diraih, teruskanlah, jangan berhenti. Karena jika kita gagal
meraih impian yang positif, itu lebih baik dan lebih berharga untuk kehidupan kita
kelak. Dimana pengalaman itu akan menjadi modal yang tidak bisa dirupiahkan
karena tidak mungkin terulang, akan tetapi sebagai tuntunan agar kita tidak jatuh
di jurang yang sama. Jika kita menerima makian, kritikan selama kita yakin kita
bisa dan mampu, jangan pernah mau berhenti dan menjadi melambat. Pertahankan
kecepatan, dan bila perlu dipercepat agar hasilnya cepat terlihat.
4. Memaklumi dan “Haus” akan ujian
Haus ujian, bukan berarti mengada-ada kesulitan atau menciptakan masalah. Haus
ujian berarti kita selalu dalam posisi siap jika ada masalah dan ujian yang akan
datang secara tiba-tiba. Seolah kita sudah menyiapkannya meskipun kita tidak
tahu kapan terjadinya. Haus ujian ini lebih dari sekedar menyiapkan diri, tetapi
kita sudah seolah mengimajinasikan di otak kita. Cara yang paling efektif adalah

4
dengan menyambutnya, bukan dengan menolaknya secara tiba-tiba. Sambutlah,
tangkaplah masalah itu, rasakan, olah dalam pikiran dan diri kita, cari solusi dan
bergerakklah. Jangan sampai masalah itu membuat kita menjadi stress dan tidak
mau berupaya. Karena bisa jadi masalah yang kita hadapi merupakan anugerah
Ilahi yang datang terlihat kurang menyenangkan, tetapi ujungnya akan membuat
diri kita menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan tidak mudah menyerah. Ujian
yang diberikan juga tidak sebanding dengan pemberian Tuhan yang luar biasa
seperti otak, hati, penglihatan mata, pendengaran telinga. Jadi jika ujian dan
kesulitan datang menghampiri, itu hanya datang untuk menyempurnakan kekuatan
fisik, mental, pikiran, perasaan diri kita, Tuhan Maha Kuat, tunjukkan jika kita
pun kuat sebagai hamba-Nya yang disayang dan dicintainya.
5. Bersikap optimis
Kesulitan pasti ada karena kita manusia tidak luput dari kesalahan, kekhilafan
kecil maupun besar, Namun jika kita berdoa, minta ampun atas segala dosa dan
kekhilafan yang disengaja maupun tidak disengaja, Insya Allah Tuhan akan
mengampuni kita. Tapi bukan berarti kita sudah terlepas dari masalah dan
kesulitan, hidup bagaikan roda yang berputar, kadang kita di atas, kadang di
bawah. Dibalik kesulitan, terdapat kebahagiaan yang akan kita dapatkan sebagai
anugerah dari Tuhan. Kebahagiaan itu bisa kita raih jika kita menyadari akan
hukum alam dan ketetapan yang sudah digariskan oleh Tuhan. Jadi jelas kesulitan
apa pun sudah melekat erat dalam diri manusia. Dan itulah cara Tuhan mendidik,
mengajar, dan melatih hamba-Nya.
6. Tidak berusaha mati-matian untuk mengalahkan kesulitan
Pada dasarnya, kita tidak mampu mengalahkan kesulitan, karena kesulitan,
hambatan pasti selalu ada, baik karena ulah sendiri atau ulah perilaku orang lain.
Jadi kita tidak perlu sempurna betul untuk menyelesaikannya. Karena jika kita
merasa puas sudah menyelesaikan, kemudian kita tertimpa masalah kesulitan yang
baru, kita tidak akan menghiraukan masalah yang baru dan lebih fokus pada
masalah yang sedang kita hadapi. Masalah itu datang silih berganti, tetapi jika kita
mampu menyeimbangkan antara kepentingan diri, orang lain, dan Tuhan. Pasti
kita akan mampu menghadapi kesulitan itu satu per satu meskipun kita tidak perlu
mengalahkannya dengan sempurna. Biarkan kesulitan dan masalah itu

5
bersamayam di diri kita. Dengan berupaya terus, kemungkinan masalah tersebut
akan bosan juga mengganggu kita, bukan karena masalah tersebut sirna, tetapi
karena kita sudah biasa dan terbiasa mengalaminya.
7. Mempertajam magnet rezeki dengan bekerja sungguh-sungguh.
Siapa saja yang mau bekerja keras, Tuhan akan melimpahkan rezeki setimpal.
Kuncinya adalah jika ingin rezeki, kita harus berupaya. Namun tidak setengah-
setengah. Sering kali orang yang berupaya setengah-setengah malah tidak
mendapatkan apa-apa kecuali kelelahan, karena ia tidak fokus, bekerja hanya
setengah-setengah karena terkadang orang yang bekerja dengan sungguh-sungguh
saja kadang tidak mendapatkan sampai setengah dari yang diharapkan, apalagi
bekerja hanya setengah-setengah.

3. Live the Possible : Possible Mind


Selanjutnya, kita diajak untuk memikirkan suatu keberhasilan. Salah
satunya adalah satu potongan gambar, salah satu sinyal kesuksesan saat
melakukan pendekatan dengan orang lain adalah dengan melihat dan mendengar
passion/gairah mereka, jika kita merasakan gairah, berarti kesuksesan sedang
menghampiri diri kita. Ibarat sebuah potongan-potongan gambar yang harus kita
susun kembali hingga kita menemukan gambar yang utuh, kita hanya tinggal
mencari satu potongan yang tersisa. Yang kedua, Think big, start small, do now.
Jika menunggu kapan saatnya kita siap, kita tak akan pernah siap secara
sempurna. Mulai dan lakukanlah walaupun kita merasa belum siap betul, karena
sering kali sebuah langkah awal yang kecil sekalipun akhirnya dapat berubah
menjadi kesuksesan yang besar. Selanjutnya, Universitas semesta alam. Selama
kita masih bisa berpikir, bernapas dan bergerak, Tuhan akan memberikan peluang
yang sama kepada setiap hamba-Nya yang ingin maju dan sukses. Mungkin itulah
cara Tuhan untuk melatih pribadi kita agar bergerak maju dengan cara dan strategi
yang lebih baik. Tak mungkin Tuhan membiarkan para hamba-Nya yang paling
mulia ini terus hidup dalam kesengsaraan dan kemelaratan jika mereka masih mau
bergerak dan meminta kepada-Nya. Lalu, Menyeimbangkan kekuatan. Jika kita
terlalu rileks terhadap diri sendiri, itu akan membahayakan diri kita sendiri,
karena akan mengakibatkan rasa malas untuk bergerak lebih maju. Tetapi jika kita

6
terlalu keras memaksakan diri, dikhawatirkan kita lelah. Kelelahan itu
membosankan. Jadi kunci meraih hidup sukses adalah keseimbangan. Yang ke
empat, Land of rapport, jika kita tidak terkoneksi dengan apa yang kita lakukan,
dijamin kita pasti gagal, jadi kunci kesuksesan adalah terkoneksi. Komunikasi
terjadi jika ada interaksi yang terkoneksi. Selanjutnya, menyadari kebahagiaan
sempurna tak pernah ada. Orang yang percaya bahwa dirinya pasti gagal dalam
meraih impiannya pasti merupakan orang yang tidak bahagia, begitu juga orang
yang sangat terlalu percaya dan yakin dengan impiannya pasti bisa meraihnya
dengan sempurna, ia termasuk orang yang tidak bahagia juga. Orang yang paling
bahagia adalah orang yang percaya bisa meraih sebagian impiannya dan yang
mendapatkan rasa puas melalui proses pencapaianya.

4. Selling : Hidup itu Menjual


Setelah kita memikirkan suatu keberhasilan, kita perlu menumpahkan
kedalam wadah dalam bisnis penjualan. Terdapat sebuah renungan terhadap suatu
penjualan, penjualan dilakukan dengan menggunakan kepedulian dan hati nurani
yang tulus. Hidup itu menjual, Kita menjual untuk kepentingan sendiri, yaitu
untuk mendapatkan keuntungan. Dan untuk kepentingan orang lain, yaitu untuk
memahami apa yang orang lain butuhkan. Menjual itu membantu, dengan tujuan
untuk memenuhi kebutuhan yang orang lain butuhkan. Menjual juga memberi,
memberi segala sesuatu seperti informasi yang bermanfaat, sampel, bonus, dan
hadiah. Menjual juga merupakan suatu pekerjaan, yakni ekspresi rasa percaya diri
dan mandiri dari pribadi seseorang terhadap bagaimana dia berkewajiban untuk
mencukupi kebutuhan sendiri dan orang lain. Menjual itu bersyukur, maksudnya
adalah dengan bertindak, yaitu menjual dengan cara, tehnik serta strategi yang
lebih baik, lebih cerdas, dan lebih produktif. Menjual juga tentang kepercayaan.
Faktor suatu penjualan yang terpenting adalah kejujuran, tanpa kejujuran orang
akan ragu untuk membeli suatu barang.

5. Selling : Motivasi Penjualan


Salah satu kunci keberhasilan dalam menjual adalah dengan menerapkan
dan menanamkan dalam pikiran dengan berpura pura kalau kita sudah menjual,

7
maka dari itu diperlukan sebuah konsentrasi yang kuat dan fokus pada satu titik.
Berikut kiat agar kita tetap fokus :
1. Mencintai pekerjaan yang dilakukan
2. Menikmati pekerjaan yang dilakukan
3. Membuat target penjualan yang masuk akal
4. Meningkatkan rasa percaya diri
5. Memahami lebih spesifik produk yang ingin dijual

Dalam upaya menuju keberhasilan terdapat penghambat dan pemicu keberhasilan.


Berikut penghambat keberhasilan :
 Putus asa, putus asa adalah ketika kita berhenti pada satu titik dan merasa
tidak mampu lagi untuk berusaha melewati suatu masalah.
 Mimpi semu, sebaiknya kita tidak perlu membayangkan sesuatu yang
tinggi, karena ujung ujungnya hanya tinggal harapan, kenangan dan
membuat anda kecewa dan lelah.
 Boros, Kita perlu memiliki bekal tabungan yang cukup karena pencapaian
sukses bukan datang secara tiba-tiba.
 Kurang bersyukur, orang yang tidak bersyukur akan menghalangi nikmat
tuhan yang lain datang.

Berikut pemicu sukses dalam menjual


 Kejujuran dan keramahan
 Ketekunan
 Memiliki sikap dan pendirian
 Berani dan tegas
 Antusias

8
II. Keunggulan dan Kekurangan
Berikut keunggulan buku ini :
 Cover buku yang menarik, sehingga menarik perhatian pembaca untuk
membeli dan membaca buku ini.
 kertas yang digunakan bukan berbahan koran, sehingga tidak mudah
sobek.
 Judul buku yang menarik. Sehingga pembaca penasaran ingin membeli
dan membaca buku ini.
 Pembagian materi dijelaskan secara detail dan bertahap, sehingga pembaca
tidak bingung akan urutan materi yang disampaikan.

Berikut kekurangan buku ini :


 Isi buku tidak terlalu sesuai dengan judul yang ditentukan. Buku ini
merupakan sambungan dari buku tentang sebuah bisnis, sehingga pembaca
dianjurkan untuk membaca buku terbitan sebelumnya.
 Terdapat beberapa kalimat dan tata bahasa yang sulit untuk dimengerti,
 Terdapat beberapa kata yang letaknya tidak sesuai dengan kalimat.
 Buku ini sama sekali tidak memiliki gambar atau ilustrasi sehinggga
pembaca mudah bosan untuk membaca buku yang berbentuk teks dan
tidak memiliki gambar.
 Target pembaca buku ini ditujukan kepada orang yang sedang ingin
bekerja dan sudah menikah, karena terdapat unsur istri yang menurut saya
agak canggung jika dibaca oleh pelajar remaja.

III. Kesimpulan dan Saran


Kesimpulan pada buku ini :
 Bertanya pada diri kita, sudah siapkah kita sukses. Jika belum, maka
introspeksi diri, lihat disekeliling, mendeteksi masalah, mencari
penyelesaian dari masalah tersebut, lalu coba tuangkan ide keberhasilan
kedalam bisnis penjualan, karena kita tidak tahu nikmat apa yang akan
diberikan oleh-Nya selanjutnya.

9
 Upaya menjadi orang sukses adalah berkoneksi terus dengan Tuhan dan
berprasangka baik kepada-Nya, baik dalam kesulitan maupun kemudahan.
 Jika kita mendapatkan ujian maka perbesar rasa kesabaran, jika
mendapatkan kenikmatan perbesar syukur.
 Tidak perlu menjadi orang yang pintar dalam menjalani hidup, tetapi
menarik, agar dapat menarik perhatian orang disekelilingnya.

Saran saya untuk buku ini :


 Sebaiknya, penulis menambahkan beberapa gambar sebagai penjelas suatu
materi.
 Sebaiknya penuils lebih memperhatikan kalimat dan tata bahasa yang
digunakan agar kalimat tidak berbelit-belit, dan mudah dimengerti.

10