Anda di halaman 1dari 16

Implementasi Penegakan Hak Asasi Manusia

Melalui Putusan Mahkamah Konstitusi Terkait dengan Proses


Penyelenggaraan Pemilu

PENDAHULUAN
Konstitusi adalah hukum formil tertinggi yang menjadi dasar hukum suatu negara
atau dapat dikatakan sebagai dokumen hukum tertinggi negara-negara modern yang
merupakan wujud kesepakatan bersama (general agreement) berdasarkan prinsip kedaulatan
rakyat, yang lahir sebagai bentuk perjanjian sosial sebagai dasar pendirian negara untuk dapat
mencapai tujuan bersama yang tertera dalam konstitusi itu sendiri. Di dalam konstitusi juga
berisi kesepakatan tentang prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan negara, hak hak warga
negara yang harus dilindungi, serta organisasi yang dibangun untuk menyelenggarakan
kehidupan bernegara. Berlandaskan pada teori perjanjian sosial, alasan pembentukan negara
adalah untuk memenuhi kebutuhan atau kepentingan seluruh rakyat, yaitu melindungi dan
memenuhi hak dan kepentingan rakyat yang tidak dapat dilakukan oleh rakyat secara
perseorangan.
Sebagai konsekuensi dari kerangka pemikiran bahwa konstitusi merupakan hasil
perjanjian bersama seluruh rakyat, maka konstitusi menjadi hukum tertinggi dalam berbangsa
dan bernegara (the supreme law of the land). Bahwasanya undang-undang yang lain tidak
boleh bertentangan dengan konstitusi dan konstitusilah yang menjadi dasar rujukan semua
peraturan perundang-undangan dalam suatu negara sebagaimana yang diatur dalam undang-
undang No.12 tahun 2011 tentang hierarki peraturan perundang-undangan. Bahkan, konstitusi
yang secara etimologis berasal dari kata “to constitute” yang berarti membentuk, juga dapat
diartikan sebagai dokumen pembentuk organisasi negara. Oleh karena itu konstitusi mengikat
segenap komponen negara, baik penyelenggara maupun warga negara.1 konstitusi juga
merupakan perwujudan gagasan konstitusionalisme, yaitu gagasan pembatasan kekuasaan
yang berkembang atas reaksi terhadap praktik penyalahgunaan kekuasaan sepanjang sejarah
manusia.
Maka dari itu, diperlukan adanya pembatasan kekuasaan oleh konstitusi, jika hal
tersebut tidak diimplementasikan dalam bernegara maka kekuasaan dalam negara akan
disalahgunakan karena tidak adanya kontrol kekuasaan yang diterapkan. Dalam rangka
pembatasan kekuasaan negara inilah diperlukan konstitusi sebagai wujud paham

1
Brian Thompson, Texbook on Constitutional and Administrative Law (London: Blackstone Press Ltd.,
1997), h. 3.

1
konstitusionalisme, yaitu paham bahwa kekuasaan harus dibatasi agar negara dapat
dijalankan sesuai dengan tujuan pembentukan negara itu sendiri. Dari sudut pandang penulis
maka konstitusi memiliki salah satu fungsi penting yaitu sebagai pemisah kekuasaan negara.
Tanpa adanya pembatasan kekuasaan, suatu konstitusi kehilangan ruh
konstitusionalisme dan hanya akan menjadi legitimasi bagi kekuasaan negara yang tak
terbatas. Hal ini dikemukakan oleh Erict Barent bahwa “constitutionalism is a belief in
omposition of restrains on governance by mean a constitution.”2
Salah satu bentuk pembatasan kekuasaan dalam konstitusi adalah adanya jaminan
perlindungan Hak Asasi Manusia (HAM). Jaminan perlindungan HAM di dalam konstitusi
sebagai hukum tertinggi bermakna bahwa negara pun dilarang melakukan pelanggaran HAM
dan bahkan tugas utama perlindungan HAM adalah pada negara. Oleh karena itu
perkembangan paham konstitusionalisme mengandung dua esensi utama. Pertama, konsep
negara hukum yang berarti bahwa hukum mengatasi kekuasaan negara dan politik. Kedua,
konsep hak warga negara, bahwa kebebasan warga negara dijamin oleh konstitusi.3
Konstruksi tersebut menunjukkan bahwa HAM merupakan substansi utama di dalam
konstitusi, baik dilihat dari proses pembentukan konstitusi sebagai hasil kesepakatan bersama
maupun dari sisi gagasan konstitusionalisme.
Secara konsepsional pemikiran HAM tidak terlepas konstelasi historis. Artidjo
Alkostar mengatakan, kesaksian sejarah menyatakan setiap ada krisis HAM selalu ada
revolusi sosial. Setelah ada revolusi sosial selaku diikuti munculnya dokumen HAM, seperti
Charters, Documents, Declarations, Treaties yang berkolerasi dengan krisis HAM.
Munculnya dokumen-dokumen HAM sebagai manifestasi dari kosmos, merupakan
konsekuensi etis dari adanya Chaos, berupa pelanggaran HAM, konflik politik, revolusi
sosial dan sejenisnya. Setelah itu lalu diperlukan adanya logos berupa perangkat hukum.
Dokumen-dokumen sejarah HAM itu diantaranya Piagam Madinah tahun 632, Magna Charta
tahun 1225, Declaration of Independence 1776, Declaration L’Homme Et Du Citoyen tahun
1789, UUD tahun 1945, dan DUHAM tahun 1948.4

2
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013),h. 3.http://google schrooler.com
(19 Juni 2019)
3
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013),h. 4. http://google schrooler.com
(19 juni 2019)
4
M. Syafi’ ie, “Instrumentasi Hukum Ham, Pembentukan Lembaga Perlindungan Ham di Indonesia
dan Peran Mahkamah Konstitusi”, jurnal konstitusi, Vol. 9 no. 4 (desember 2012),h.
684.http://google.schrooler.com (19 juni 2019).

2
Secara teoritik, hukum HAM pada dasarnya mengatur hubungan antara individu-
individu dengan negara. HAM telah disepakati sebagai hukum internasional yang telah
menjadi standar yang kuat bagaimana negara harus memberlakukan individu-individu di
dalam wilayah yurisdiksinya. HAM memberikan jaminan moral dan hukum kepada individu–
individu setiap manusia untuk melakukan kontrol dan mendorong aturan dan praktek-praktek
kekuasaan yang menghormati HAM, memastikan adanya kebebasan individu dalam
berhubungan dengan negara dan meminta negara untuk melakukan pemenuhan terhadap hak-
hak dasar individu dalam wilayah yurisdiksinya. Dalam konteks ini, negara dapat ditegaskan
sebagai petugas dan pemangku kewajiban (duty-bearer) untuk menghormati (to respect),
melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfil), sedangkan individu-individu yang berdiam
dalam wilayah yurisdiksinya adalah sebagai pemangku hak (rights holder) daripada
kewajiban dan tanggungjawab negara.5
Eksistensi tanggungjawab negara terhadap jaminan pemenuhan dan perlindungan
HAM, tidak terlepas dari prinsip-prinsip pokok HAM yang menjadi acuan standar
pelaksanaan HAM secara internasional dan nasional, meliputi :6
1. Universal dan tidak dapat dicabut (Universality and inalienability). Hak asasi merupakan
hak yang melekat, dan seluruh umat manusia di dunia memilikinya. Hak-hak tersebut
tidak bisa diserahkan secara sukarela atau dicabut. Hal ini selaras dengan Pasal 1 DUHAM
yang berbunyi “Setiap umat manusia dilahirkan merdeka dan sederajat dalam harkat dan
martabatnya.”
2. Tidak bisa dibagi (indivisibility). HAM baik sipil, politik, sosial, budaya dan ekonomi
semuanya inheren, menyatu sebagai bagian dari harkat martabat umat manusia yang tidak
terpisahkan. Konsekwensinya, semua orang memiliki status hak yang sama dan sederajat,
dan tidak bisa digolong-golongkan berdasarkan tingkatan hirarkis. Pengabaian pada satu
hak akan berdampak pada pengabaian hak-hak lainnya. Hak setiap orang untuk
memperoleh penghidupan yang layak adalah hak tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hak
tersebut merupakan modal dasar bagia setiap orang agar mereka bisa menikmati hak-hak
lainnya, seperti hak atas pendidikan atau hak atas kesehatan.
3. Saling bergantung dan berkaitan (interdependence and interrelation). Baik secara
keseluruhan maupun sebagian, pemenuhan dari satu hak seringkali bergantung kepada
pemenuhan hak-hak lainnya. Contoh, dalam situasi tertentu, hak untuk mendapatkan
pendidikan atau hak memperoleh informasi adalah hak yang saling bergantung satu sama
lain
4. Keseteraan dan Non Diskriiminasi (equality and non discrimination). Setiap individu
sederajat sebagai umat manusia dan memiliki kebaikan yang inheren dalam harkat

5
M. Syafi’ ie, “Instrumentasi Hukum Ham, Pembentukan Lembaga Perlindungan Ham di Indonesia
dan Peran Mahkamah Konstitusi”,h. 685. http://google.schrooler.com (19 juni 2019).
6
Muhammad Firdaus, Pembangunan Berbasis Hak Asasi Manusia (Jakarta : Komnas HAM, 2007), h.
14-16.

3
martabatnya masing-masing. Setiap manusia berhak sepenuhnya atas hakhaknya tanpa
pembedaan dengan alasan apapun, seperti pembedaan dengan alasan ras, warna kulit, jenis
kelamin, etnis, usia, bahasa, agama, pandangan politik dan pandangan lainnya,
kewarganegaraan dan latar belakang sosial, cacat dan kekurangan, tingkat kesejahteraan,
kelahiran dan status lainnya.
5. Partisipasi dan Kontribusi (participation and contribution). Setiap orang dan seluruh
masyarakat berhak untuk turut berperan aktif secara bebas dan berarti dalam partisipasi
dan berkontribusi untuk menikmati kehidupan pembangunan, baik kehidupan sipil, politik,
ekonomi, sosial dan budaya
6. Tanggungjawab Negara dan Penegakan Hukum (state responsibility and rule of law).
Negara bertanggungjawab untuk menaati HAM. Mereka harus tunduk pada normanorma
hukum dan standar yang tercantum dalam instrumeninstrumen HAM. seandainya negara
gagal dalam melaksanakan tanggungjawabnya, pihak-pihak yang dirugikan berhak untuk
mengajukan tuntutan secara layak, yang sesuai dengan aturan dan prosedur yang berlaku.

Perkembangan HAM dan paham konstitusionalisme melahirkan dokumen konstitusi


modern yang pada umumnya memuat jaminan perlindungan dan pemajuan HAM. Jaminan di
dalam konstitusi sebagai hukum tertinggi bermakna bahwa HAM tidak dapat dilanggar atau
dikesampingkan oleh aturan hukum yang lebih rendah maupun oleh tindakan negara yang
harus tunduk pada konstitusi. Di sinilah dapat dilihat fungsi jaminan perlindungan dan
pemajuan HAM sebagai pembatas bagi kekuasaan negara.
Bahkan, sesuai dengan hakikat HAM sebagai hak yang melekat pada keberadaan
manusia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, maka HAM bukan pemberian negara. Oleh
karena itu, kalaupun di dalam hukum dan konstitusi suatu negara tidak terdapat dijamin
perlindungan dan pemajuan HAM, tidak dapat menjadi dasar legitimasi adanya pelanggaran
dan pengabaian terhadap HAM. HAM tetap hidup dan harus dilindung karena keberadaannya
bersumber dan melekat pada keberadaan manusia bahkan sebelum terbentuknya negara. Pada
posisi seperti ini HAM menjadi prinsip-prinsip universal yang menjadi landasan kritik dan
kontrol terhadap konstitusi dan praktik bernegara.

PEMBAHASAN
A. Hak Asasi Manusia yang Tertuang dalam Konstitusi
Kesadaran tentang pentingnya HAM telah menjadi bagian penting dalam konstitusi
sehingga harus ditegakkan seadil-adilnya. Perjuangan kemerdekaan yang dilakukan oleh
seluruh warga negara merupakan sebuah kesadaran bahwa bangsa indonesia sejajar dengan
bangsa lain yang juga bisa merdeka dan berdiri sendiri sehingga penjajahan merupakan
bentuk nyata dari adanya pelanggaran HAM. Pembukaan UUD 1945 menyatakan dengan

4
tegas bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan kemerdekaan untuk membentuk
negara itu dimaksudkan antara lain untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah
darah dan untuk ikut serta menciptakan perdamaian dunia.
Moh. Mahfud MD menyatakan bahwa jika dilihat dari perdebatan pembentukan UUD
1945, para pembentuk bangsa telah menempatkan persoalan HAM sebagai prioritas utama.
Perdebatan yang terjadi tidak terkait dengan apakah negara yang akan dibentuk melindungi
dan memajukan HAM atau tidak, tetapi lebih kepada apakah ketentuan tentang HAM perlu
dirumuskan secara detail atau tidak yang oleh beberapa ahli disebut sebagai perdebatan antara
paham individualisme dan kolektivisme, atau antara konsep negara liberal dan negara
integralistik. Perbedaan hanya pada tataran apakah jaminan perlindungan perlu dirumuskan
secara eksplisit dan detail atau tidak. Kedua, perdebatan dalam pembahasan di BPUPKI
menghasilkan rumusan berupa UUD 1945 yang secara tegas mengakomodasi adanya
rumusan HAM di beberapa pasal, walaupun tidak secara mendetail. Rumusan jaminan
perlindungan HAM yang hanya terdapat dalam 7 butir ketentuan tidak dimaksudkan bahwa
hak-hak selain yang dirumuskan dalam UUD dapat dilanggar atau tidak harus dilindungi dan
dimajukan. Pengakuan HAM di dalam UUD 1945 ini mendahului keberadaan Deklarasi
Universal Hak Asasi Manusia Tahun 1948.7
Sekarang, setelah perubahan kedua UUD 1945 pada tahun 2000, ketentuan mengenai
hak asasi manusia dan hak-hak warga negara dalm UUD 1945 telah banyak mengalami
perubahan yang sangat mendasar. Materi yang semula hanya bersifat tujuh butir ketentuan
yang juga tidak seluruhnya tidak dapat disebut sebagai jaminan konstitusional hak asasi
manusia, sekarang telah bertambah secara signifikan. Ketentuan baru yang diadopsikan ke
dalam UUD 1945 setelah perubahan kedua adalah termuat dalam pasal 28A-28J di tambah
ketentuan lainnya yang tersebar di berbagai pasal. Oleh karena itu, permusan tentang hak-hak
asasi manusia dalam konstitusi republik indonesia dapat dikatakan sangat lengkap dan
menjadikan UUD 1945 sebagai salah satu undang-undang yang paling lengkap memuat
ketentuan yang memberikan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia.
Pasal-pasal tentang hak asasi manusia itu sendiri, terutama yang termuat dalam pasal
28 A sampai pasal 28 J, pada pokoknya berasal dari rumusan TAP MPR nomor
XVII/MPR/1998 tentang hak asasi manusia yang kemudian isinya menjadi materi UU nomor
39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia. Oleh karena itu, untuk memahami konsepsi tentang

7
Janedjri M. Gaffar, “Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia terkait
Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013), h. 3 http://google schrooler.com (diakses
tgl 19 juni 2019)

5
hak-hak asasi manusia itu secara lengkap dan historis, ketiga instrumen hukum UUD 1945,
TAP MPR Nomor XVII/MPR/1998 dan UU Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia
tersebut dapat dilihat dalam satu kontinum. Secara keseluruhan dapat diakatakan bahwa
ketentuan-ketentuan tentang hak-hak asasi manusia yang telah diadopsikan ke dalam sistem
hukum dan konstitusi indonesia itu berasal dari berbagai konvensi internasional dab
dekalarasi universal tentang hak asasi manusia serta sebagai instrumen hukum internasional
lainnya.8

B. Hak Asasi Manusia dalam Pemilu


Penyelenggaraan Pemilu sangat terkait dengan persoalan HAM. Pemilu sebagai
mekanisme demokrasi modern indonesia adalah wujud dari prinsip kedaulatan rakyat yang
menempatkan manusia dalam derajat yang sama. Kesederajatan tersebut mengharuskan
pembentukan kekuasaan yang memonopoli dan pembagian kekuasaan yang terpisah sehingga
bersifat memaksa hanya dapat dilakukan oleh atau setidak-tidaknya dengan persetujuan
manusia yang diperintah. Pemilu adalah upaya mewujudkan pemerintahan dari, oleh, dan
untuk rakyat sebagaimana semboyang dari negara demokrasi. Oleh karena itu,
penyelenggaraan Pemilu adalah wujud nyata pengakuan HAM dalam kehidupan berbangsa
dan bernegara.
Di sisi lain, Pemilu yang demokratis hanya mungkin diselenggarakan jika ada
perlindungan HAM. Pemilu membutuhkan adanya jaminan hak-hak politik antara lain
kebebasan berkeyakinan, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan berserikat dan
berkumpul, hak persamaan dihadapan hukum dan pemerintahan serta hak pilih.9
Adapun dalam undang-undang dasar 1945 terdapat Delapan pasal yang mengatur
tentang pemilihan umum yakni sebagai berikut:10
1. Pasal 27 ayat (1) “Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada
kecualinya”.
2. Pasal 28 “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan
dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”.
3. Pasal 28C ayat (2) “Setiap orang berhak untuk memajukan dirinya dalam
memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa, dan
negaranya”.
4. Pasal 28D ayat (1) “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”.

8
Jimly Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2015), h. 360.
9
Moh. Mahfud, Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi (Yogyakarta: Gema Media, 1999), h. 221-222.
10
Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Bab X dan Bab XA.

6
5. Pasal 28 D ayat (3) “setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama
dalam pemerintahan”.
5. Pasal 28D ayat (3) “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama
dalam pemerintahan”.
6. Pasal 28E ayat (2) “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan,
menyatakan pikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”.
7. Pasal 28E ayat (3) “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan
mengeluarkan pendapat”.
8. Pasal 28I ayat (1) “hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani yang dikategorikan sebagai
hak yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apapun”.
Sedangkan undang-undang yang mengatur hak asasi manusia adalah undang-undang
nomor 39 tahun 1999 yang salah satu pasalnya mengatur secara khusus mengenai hak terkait
penyelenggaraan pemilu, yaitu hak turut serta dalam pemerintahan bagi siapa pun warga
negara indonesia yang meliputi :
a. Setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan
persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
b. Setiap warga negara berhak turut serta dalam pemerintahan dengan langsung atau dengan
perantaraan wakil yang dipilihnya dengan bebas, menurut cara yang ditentukan dalam
peraturan perundang-undangan.
c. Setiap warga negara dapat diangkat dalam setiap jabatan pemerintahan.
Pada penyelenggaraan pemilu yang terkait dengan hak asasi manusia adalah
termasuk didalamnya kategori hak politik. Kategori hak politik yang dimaksud adalah bahwa
hak ini telah melekat pada diri masing-masing manusia sebagai warga negara yang
merupakan hak milik setiap orang. Sehingga kewajiban negara harus melindungi (obligation
to protect) agar kiranya hak negara dapat menjamin hak tersebut dinikmati dan dilakukan
oleh setiap warga negara. Peran negara sangatlah penting dan bersifat pasif, bahwasanya
negara harus menjaga agar tidak ada pihak lain yang melanggar hak tersebut. Namun negara
harus lebih bisa melakukan hal-hal lain dari perannya tersebut seperti negara memfasilitasi
penggunaan hak pilih rakyat sehingga terdapat persamaan akses antar warga negara dalam
menjalankan haknya.

C. Peran Mahkamah Konstitusi Sebagai Penegak Hak Asasi Manusia (The Protector Of
Human Rights)
Mahkaman Konstitusi terbentuk karena adanya kesepakatan MPR pada amandemen
ketiga UUD 1945, 9 November 2001. Pada konstitusi terdapat pada pasal 24 ayat 2 UUD
1945 menyatakan, “Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan
badan peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan

7
peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan
oleh sebuah Mahkamah Konstitusi”. Sedangkan wewenang Mahkamah Konstitusi diatur pada
pasal 24 c UUD 1945, yang berbunyi :
Ayat 1 “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar,
memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran partai politik, dan memutus perselisihan
tentang hasil pemilihan umum”. Ayat 2 “Mahkamah Konstitusi wajib memberikan putusan
atas pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh Presiden
dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-undang Dasar.”
Dapat kita analisis bahwa pembentukan MK sebagai akibat konsekuensi dari negara
hukum demokratis dan negara demokrasi yang berdasarkan hukum. Kenyataan menunjukkan
bahwa tidak semua keputusan yang diambil secara demokrasi sesuai dengan undang-undang
dasar yang merupakan hukum tertinggi negara. Sehingga dibentuklah peradilan konstitusi
yang mampu menjamin supremasi konstitusi, dan mampu mengawasi sekaligus menjamin
tegaknya prinsip-prinsip yang ada dalam konstitusi.
Hal itu menunjukkan bahwa pembentukan MK merupakan implementasi dari gagasan
negara hukum yang salah satu cirinya adalah menempatkan konstitusi sebagai hukum
tertinggi. Kewenangan yang dimiliki MK merupakan sarana untuk menjadikan konstitusi
sebagai dokumen hidup (a living document) yang menentukan bentuk dan arah kekuasaan
negara sesuai dengan prinsip dasar dalam konstitusi berdasarkan demokrasi. Dengan
demikian MK memberi kontribusi bagi terciptanya kehidupan bernegara berdasarkan hukum
dan demokrasi.11
Adanya fungsi MK sebagai the protector of human rights merupakan konsekuensi
tertuangnya hak asasi manusia dalam konstitusi. Terlebih bahwa negara indonesia adalah
negara demokrasi yang mana dalam penyelenggaraan saja juga harus berjalan tanpa adanya
pelanggaran HAM. Dengan adanya jaminan HAM dalan konstitusi maka negara memiliki
kewajiban hukum konstitusional utuk melindungi, menghormati dan memajukan hak-hak
tersebut.
Pasal 10 ayat 1 huruf a sampai dengan d Undang-Undang Nomor 24 tahun 2003
juncto Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK)
mempertegas kewenangan kewenangan MK dengan menyebut empat kewenangan, yaitu:

11
I Dewa Gede Palguna, “Pengaduan Konstitusional: Upaya Hukum Terhadap Pelanggaran Hak-Hak
Konstitusional Warga Negara (Studi Kewenangan Mahkamah Konstitusi Indonesia dalam Perspektif
Perbandingan)”, Disertasi, Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Indonesia, 2011, h.
157.http://www.google schrool.com (22 Juni 2019)

8
pertama, kewewenang mahkamah konstitusi untuk menguji undang-undang merupakan salah
satu bentuk perlindungan HAM dalam UUD 1945 agar tidak melanggar ketentuan undang-
undang yang diatasnya. Dengan wewenang tersebut MK dapat mencegah tindakan
penyelenggara negara dan pemerintah dalam pelanggaran HAM. Kedua, Mahkamah
Konstitusi juga berwenang memutus perkara pembubaran partai politik yang dimaksudkan
agar pemerintah tidak dapat secara sewenang-wenang membubarkan partai politik yang
melanggar hak berserikat dan mengeluarkan pendapat. Ketiga, Mahkamah Konstitusi juga
berwenang memutus perkara pembubaran partai politik yang dimaksudkan agar pemerintah
tidak dapat secara sewenang-wenang membubarkan partai politik yang melanggar hak
berserikat dan mengeluarkan pendapat. Dan keempat, Memutus sengketa kewenangan antar
lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD 1945.

D. Putusan Mahkamah Konstitusi Sebagai Pelindung Hak Politik Terkait Proses


Penyelanggaraan Pemilu
Sejak berdiri pada tahun 2003, MK telah banyak menerima permohonan pengujian
Undang-Undang terkait dengan penyelenggaraan Pemilu, antara lain UU Pemilihan Umum,
baik Pemilu anggota DPR, DPD, DPRD, Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, maupun
Pemilu Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
Hingga saat ini rekapitulasi perkara pengujian undang-undang mulai dari tahun 2003
sampai 2019 adalah berjumlah 632 perkara yang diuji.12 Selain itu juga terdapat Putusan-
Putusan PHPU yang juga berperan dalam melindungi HAM terkait dengan penyelenggaraan
Pemilu. Beberapa putusan MK yang berperan dalam perlindungan HAM antara lain adalah
sebagai berikut:
1. Pemulihan adanya Hak Pilih Bekas Anggota PKI
Putusan Nomor 011 – 017/PUU-I/2003 terkait dengan pengujian UndangUndang
Nomor 12 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD. Ketentuan
yang dinyatakan bertentang dengan UUD 1945 dan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat
adalah Pasal 60 huruf g UndangUndang Nomor 12 Tahun 2003 yang menentukan salah satu
syarat menjadi calon anggota DPR, DPD, dan DPRD adalah bukan bekas anggota organisasi
terlarang PKI, termasuk organisasi massanya, atau bukan orang yang terlibat langsung
ataupun tak langsung dalam G30S/PKI, atau organisasi terlarang lainnya.13

12
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Rekapitulasi Perkara Pengujian Undang-Undang.
https://mkri.id/index.php (22 Juni 2019)
13
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013), h. 15.http://google schrooler.com
(diakses tgl 19 juni 2019)

9
MK menyatakan bahwa ketentuan persyaratan tersebut bersifat diskrimantif terhadap
warga negara, padahal dalam UUD 1945 melarang adanya tindakan diskrimatif sebagaimana
pada pasal 27 ayat 1, pasal 28 D ayat 1, pasal 28 I ayat 2. Hal tersebut lebih ekspilisit
dibahasa dalam UU nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia yang tidak
memperbolehkan adanya tindakan diskriminasi berdasarkan perbedaan agama, suku, ras,
etnik, kelompok, golongan status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan
politik. Pasal 6 huruf g undang-undang nomor 12 tahun 2003 merupakan pasal yang bersifat
mendeskriminasikan hak pilih warga negara berdasarkan perbedaan keyakinan politik yang
pernah dianutnya.
Pada akhirnya MK memutuskan bahwa ketentuan pada pasal 6 huruf g undang-
undang nomor 12 tahun 2003 merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia sekaligus
tindakan deskriminasi terhadap anggota eks PKI karena pilihan politik yang dianutnya dulu.
Dengan adanya putusan tersebut, seluruh anggota organisasi terlarang PKI, termasuk
organiasasi massanya, atau orang-orang yang tidak terlibat langsung ataupun langsung dalam
G30S/PKI memperoleh hak pilihnya kembali terutama terhadap pemilihan anggota DPR,
DPD, dan DPRD.

2. Penggunaan KTP dalam Pemilu Presiden


Putusan selanjutnya adalah putusan terhadap ketentuan Pasal 8 dan Pasal 111 ayat (2)
Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil
Presiden. Pasal tersebut menyatakan bahwa warga negara yang dapat menggunakan hak
memilih adalah yang telah terdaftar sebagai pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang
disusun oleh KPU. Di sisi lain, masih banyak warga negara yang memenuhi syarat menjadi
pemilih, tetapi tidak terdaftar sebagai pemilih dalam DPT.
Pada putusan Nomor 102/PUU-VII/2009, MK memutuskan bahwa ketentuan Pasal 28
dan Pasal 111 ayat 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 konstitusional bersyarat
(conditionally constitutional) sepanjang tidak menghilangkan hak pilih warga negara yang
tidak terdaftar dalam DPT dalam Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Putusan ini
juga memberikan pedoman berupa syarat dan cara yang harus dipenuhi bagi warga Negara
yang tidak terdaftar dalam DPT apabila akan menggunakan hak pilihnya.
3. Persamaan Hak Dalam Pengajuan Pasangan Calon Pemilukada
Salah satu syarat partai politik yang dapat mengajukan pasangan calon kepala daerah
dan wakil kepala daerah berdasarkan Penjelasan Pasal 59 ayat 1 Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 adalah partai politik atau gabungan partai politik yang memiliki kursi di DPRD,

10
pernyataan tersebut memberikan pembatasan terhadap hak-hak partai politik yang lain. Hal
ini berbeda dengan bunyi ketentuan Pasal 59 ayat 1. Ketentuan Pasal 59 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tersebut tidak memberikan batasan bahwa yang dapat mengajukan
pasangan calon adalah partai politik yang memiliki kursi tersebut.
Maka berdasarkan hal tersebut diajukanlah permohonan pengujian undang-undang ke
MK dalam perkara Nomor 005/PUU-III/2004.14 MK menyatakan bahwa Penjelasan Pasal 59
ayat 1 UU Nomor 32 Tahun 2004 bertentangan dengan norma yang terkandung dalam Pasal
59 ayat 1 dan 2, dan bahkan telah menegasikan norma di dalam Pasal yang dijelaskan itu.
Sehingga pada akhir peradilan MK memutuskan bahwa penjelasan Pasal 59 ayat 1 Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004 bertentangan dengan UUD 1945 dan menyatakan tidak lagi
mempunyai kekuatan hukum mengikat.

4. Adanya Pengakuan Calon Perseorangan


Putusan ini mengalami perkembangan dari semula MK menyatakan bahwa ketentuan
yang menyatakan bahwa pencalonan hanya melalui partai politik tidak bertentangan dengan
UUD 1945 karena merupakan wilayah kebijakan hukum (legal policy) pembentukan undang-
undang, kemudian berkembang dengan putusan yang mengharuskan calon perseorangan
diakomidir dalam pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah.
Putusan yang menyatakan bahwa pembatasan pengajuan calon hanya melalui partai
politik tidak bertentangan dengan UUD 1945 adalah Putusan 006/PUU-III/2005.15 Ketentuan
pembatasan tersebut merupakan penjabaran pasal 14 ayat 4 UUD 1945. Pada pertimbangan
putusan hakim nomor 005/PUU-III/2005 menyatakan bahwa prinsip persamaan dan
kedudukan kesempatan yang sama dalam pemerintahan adalah hak semua warga negara yang
dilindungi oleh konstitusi sepanjang orang tersebut memenuhi syarat-syarat yang ditentutkan
dalam undang-undang seperti usia, pendidikan, kesehatan jasmani dan rohani serta yang
lainnya. Persyaratan tersebut berlaku bagi semua orang tanpa ada membeda-bedakan ras,
etnis, agama, warna kulit, suku, budaya, keyakinan politik dan yang lainnya sehingga tidak
bersifat diskriminatif sebagai yang diatur dalam pasal 27 ayat 1 dan 28 D ayat 3 UUD 1945
yang lebih eksplisit dibahas pada undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi
manusia.

14
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013), h. 17 http://google schrooler.com
(diakses tgl 19 juni 2019)
15
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013), h. 18 http://google schrooler.com
(diakses tgl 19 juni 2019)

11
Kemudian, putusan tersebut berkembang menjadi Putusan MK Nomor 5/PUU-
V/2007. Dalam putusan ini MK berpendapat bahwa pencalonan kepala daerah dan wakil
kepala daerah secara perseorangan di seluruh daerah indonesia kecuali daerah provinsi
Nangroe Aceh Darussalam harus dibuka agar tidak terdapat dualisme dalam melaksanakan
ketentuan Pasal 18 Ayat 4 UUD 1945 karena dapat menimbulkan terlanggarnya hak warga
negara yang dijamin oleh Pasal 28 D Ayat 1 dan Ayat 3 UUD 1945.

5. Pemulihan Hak Pilih Mantan Terpidana


putusan ini juga mengalami perkembangan dari sisi amar putusan Dalam
pertimbangan hukum Putusan Nomor 14-17/PUU-V/2007 ini MK berpendapat bahwa jabatan
publik adalah jabatan kepercayaan sehingga setiap calon pejabat publik harus memenuhi
persyaratan-persyaratan tertentu. Pencalonan seseorang untuk jabatan publik dengan tidak
membeda-bedakan seseorang telah terjamin dalam UUD 1945 namun bukan berarti bahwa
tidak ada syarat-syarat yang ditetapkan asalkan tidak bersifat diskriminatif. Berdasarkan hal
tersebut, MK menyatakan bahwa persyaratan tidak pernah dipidana hanya bersifat
konstitusional bersyarat, sepanjang pidana tersebut bukan kealpaan dan tindak pidana politik.
Perkembangan lebih lanjut terkait dengan syarat tidak pernah dipidana terbentuk
melalui Putusan MK Nomor 04/PUU-VII/2009 yang menguji persyaratan itu di dalam Pasal
12 huruf g dan Pasal 50 ayat 1 huruf g UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum
Anggota DPR, DPD, dan DPRD, dan Pasal 58 huruf f Undang-Undang Nomor 12 Tahun
2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah. Dalam putusan ini telah diperoleh kesepakatan bahwa seseorang yang
pernah dipidana dengan penajara lima tahun atau lebih merupakan pelanggaran terhadap
prinsip pemilu dan bertentangan pula dengan asas persamaan dihadapan hukum serta
melanggar hak untuk memperoleh kesempatan yang sama didalam hukum dan pemerintahan.

6. Syarat Pengunduran Diri Calon Petahana


Syarat ini terdapat dalam Pasal 58 huruf q Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah. Pengujian terhadap syarat tersebut dilakukan dalam Perkara Nomor 17/ PUU –
VI/2008.16

16
Janedjri M. Gaffar, “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi Manusia
terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret 2013), h. 22 http://google schrooler.com
(diakses tgl 20 juni 2019)

12
Adanya penamabahan syarat akan semakin merugikan hak-hak para pejabat kepala
daerah walapun MK juga memahami hal tersebut sebagai cara utnuk mencegah
penyalahgunaan kekuasaan. Bagi seseorang yang telah terpilih diberikan oleh undang-undang
masa jabatan selama 5 tahun namun dengan adanyana ketentuan atau syarat tambahan pada
huruf q pasal 58 UU nomor 12 tahun 2008 “mengundurkan diri sejak pendaftaran bagi
kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang masih menduduki jabatannya”. akan
mengakibatkan seorang kepala daerah yang ingin menjabat lagi pada periode berikutnya akan
hilang hak-haknya untuk menduduki jabatan selama 5 tahun penuh dalam periodenya.
Sebagaimana yang diatur dalam huruf q pasal 58 UU nomor 12 tahun 2008
menimbulkan ketidakpastian hukum, melanggar hak-hak politik seseorang dan perlakuan
tidak sama antar sesama pejabat negara sehingga dikatakan bertentangan dengan pasal 28 D
ayat 1 UUD 1945.

7. Perlindungan Warga Negara Terhadap Rasa Aman dalam Menjalankan Hak Pilih
Untuk dapat menggunakan hak pilih maka diperlukan adanya rasa keamanan terhadap
diri setiap orang. Maka dari itu, segala macam bentuk teror, intimidasi, kekerasan ataupun
ancaman merupakan bentuk pelanggaran hak-hak asasi manusia terhadap hak politiknya
sekaligus bertentangan dengan prinsip pemilu yang demokratis. Sehingga saat terjadi kasus
seperti ini MK tekah memutus untuk membatalkan dan mendiskualifikasi pemenang.
Sebagai contoh terjadi pada perkara perselisihan hasil pemilukada kota waringin barat
yang tertuang pada Putusan Nomor 45/ PHPU.D-VIII/2010. MK menyatakan bahwa selain
pemilukada dilakukan dengan asas jurbel dan adil, pemilukada juga harus dilakasanakan
tanpa ada intimidasi ataupun tekanan dari pihak lain terhadap pemilih karena hal tersebut
dapat menciderai demokrasi. Setiap orang mempunyai hak pilihnya masing-masing sehingga
harus terhindar dari rasa takut karena intimidasi seseorang berupa ancaman dan lain-lain
dalam proses pemilu, karena hal ini telah teramanatkan dalam Pasal 28G ayat 1 UUD 1945
dan Pasal 30 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

8. Legalitas Pemungutan Suara Berdasarkan Hukum Adat


Pada umumnya tata cara pemungutan suara yang kita ketahui selama ini adalah
dengan cara pencontrengan atau pencoblosan oleh setiap pemilih secara jujur dan rahasia.
Tetapi hal tersebut berkembang dalam Putusan Nomor 3/PHPU.D-X/2012 mengenai
perselisihan hasil Pemilukada Kabupaten Dogiyaki yang menyatakan bahwa pemungutan
suara yang dilakukan dengan mekanisme dan tata cara hukum adat adalah cara yang sah.

13
Hal ini didasari bahwa adanya tindakan KPU kabupaten Dogiyaki yang
membatalakan rekapitulasi hasil perhitungan suara PPD distrik piyaiye pada pembacaan
rekapitulasi hasil perhitungan suara di tingkat KPU kabupaten Dogiyaki pada tanggal 14
Januari 2012 , selain itu juga menyatakan pembatalan suara di distrik piyaiye karena tidak
ada tanda pencoblosan ataupun pencontrengan serta tidak ada hasil rekapitulasi suara
sehingga tidak memenuhi tata cara pemungutan suara yang telah diatur dalam Peraturan KPU
Nomor 16 Tahun 2010. Sedangkan MK mengemukakan bahwa KPU tidak boleh
membatalkan,menghilangkan dan menghapuskan hak pilih masyarakat sebagai hak
konstitusinya pemegang kedaulatan negara yang telah dijamin pada pasa 1 ayat 1 UUD 1945.
Penyelenggaraan pemilu tidak dapat melanggar pengakuan dan perlindungan kesatuan
masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sebagaimana yang tercantum dalam
pasal 18 B ayat 2 UUD 1945. Di distrik piyaiye pemilihan memang dilakukan dengan cara
adat yakni keputusan yang diambil dengan sistem kesepakatan masyarakat (sistem noken)
sehingga tata cara pemilu di distrik tersebut sangat berbeda karena berdasarkan tradisi adat
sehingga hal tersebut tidak tercantum dalam undang-undang pemilu dan undang-undang
peraturan daerah, meski demikian konstitusi telah memberikan hak tersebut kepada
masyarakat hukum adat sebagaimana dalam pasal 18 B ayat 2 UUD 1945. Sehingga MK
memberikan legalitas terhadap tata cara pemilihan adat tersebut dengan dikeluarkannya
putusan Nomor 47-81/PHPU.A-VII/2009, tanggal 9 Juni 2009.

9. Suket diperbolehkan untuk pencoblosan dalam pemilu


Berdasarkan hasil uji materi terhadap beberapa pasal pada Undang-Undang nomor 7
Tahun 2017 Tentang Pemilu, MK membacakan putusannya pada hari kamis tanggal 28 Maret
2019, bernomor 20/PUU-XVII/2019, yang diajukan oleh tujuh pemohon.17
Uji materi terhadap 348 ayat 9 terkait penggunaan E-KTP untuk memilih. Dalam
pasal memberikan batasan terhadap warga negara yang tidak memiliki E-KTP untuk memilih
sehingga mereka dapat kehilangan hak pilihnya sehingga akan melanggar hak politik warga
negara, sehingga MK melalui putusan nomor 20/PUU-XVII/2019 memutuskan bagi mereka
yang belum memiliki E-KTP dapat menggunakan surat keterangan (suket) perekaman untuk
mencoblos. Sepanajng surat keterangan tersebut tidak dimaknai termasuk pula surat
keterangan perekaman kartu tanda penduduk elektronik oleh Dinas Kependudukan dan
Catatab Sipil atau Instansi lain yang sejenisnya yang memiliki kewenangan untuk itu.

17
Devina Halim, “4 Putusan MK untuk Hari Pencoblosan Pemilu 2019,” Kompas.com, 29 Maret 2019.
https://nasional.kompas.com (20 Juni 2019)

14
10. Pemilih tertentu diperbolehkan pindah memilih
Berdasarkan putusan MK nomor 20/PUU-XVII/2019 bahwa pemilih yang ingin
pindah memilih dapat mengajukannya paling lambat tujuh hari sebelum pencoblosan. Namun
ketentuan ini hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus seperti sakit,
tertimpa bencana atau menjalankan tugas.18
Sementara, untuk pemilih lainnya berlaku seperti Pasal 210 ayat (1) bahwa pindah
TPS hanya dapat diajukan paling lambat 30 hari sebelum pemungutan suara. Dalam
pertimbangan MK, disebutkan bahwa terdapat potensi sejumlah warga yang tidak terlayani
hak politiknya dengan ketentuan tersebut. MK berpendapat bahwa pemilih dapat mengalami
kejadian tidak terduga yang membuat mereka harus pindah TPS. Sehingga hak rakyat berupa
hak pilih dan hak diberi kesempatan yang sama dapat diperoleh dalam pemilihan umum,
sehingga hak konstitusional rakyat tetap terpenuhi.

PENUTUP
Konstitusi merupakan hukum formil tertinggi yang menjadi dasar hukum suatu
negara, salah satu penyebab lahirnya konstitusi akibat adanya perjanjian sosial yang harus
menempatkan setiap manusia pada derajat yang sama. Berdasarkan perspektif negara hukum
bahwa konstitusi lahir karena sebagai pengakuan terhadap hak asasi manusia, sehingga salah
satu isi penting dalam konstitusi itu sendiri adalah mengenai pasal-pasal HAM yang akan
memenuhi dan menjamin hak-hak asasi yang sekaligus menjadi tanggung jawab negara untuk
merealisasikan semua itu kepada setiap warga negaranya.
Lahirnya MK merupakan sebuah resolusi yang sangat dibutuhkan karena memang
negara memerlukan pengadilan konstitusi untuk senantiasa menjaga prinsip supremasi
konstitusi. Hal tersebut telah sesuai dengan salah satu wewenang atau substansi MK dalam
konstitusi untuk senantiasa menjaga dan melindungi HAM. Dimana substansi tersebut
dijalankan dengan wewenangnya seperti menguji undang-undang dan memutus PHPU.
Sudah banyak contoh peran putusan-putusan MK yang terbukti dapat melindungi hak
asasi manusia yang terkait dengan penyelenggaraan pemilu seperti pemulihan hak pilih
anggota PKI, pencoblosan dengan KTP, syarat pengunduran diri kepala daerah,
dibolehkannya suket dalam pencoblosan pemilu, serta pemungutan suara dengan cara hukum
adat.

18
Devina Halim, “4 Putusan MK untuk Hari Pencoblosan Pemilu 2019,” Kompas.com, 29 Maret 2019.
https://nasional.kompas.com (20 Juni 2019)

15
DAFTAR PUSTAKA
Brian, Thompson. Texbook on Constitutional and Administrative Law, London: Blackstone
Press Ltd, 1997.

M. Gaffar, Janedjri. “Peran Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Perlindungan Hak Asasi
Manusia terkait Penyelenggaraan Pemilu”, jurnal konstitusi, vol 10 no 1 (Maret
2013), .https://google schrooler.com (19 Juni 2019).

Syafi’ie, M. “Instrumentasi Hukum Ham, Pembentukan Lembaga Perlindungan Ham di


Indonesia dan Peran Mahkamah Konstitusi”, https://google.schrooler.com (19 juni
2019).

Firdaus, Muhammad. Pembangunan Berbasis Hak Asasi Manusia, Jakarta : Komnas HAM,
2007.

Ashiddiqie, Jimly. Pengantar Hukum Tata Negara, Cet. VII, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
2015.

Mahfud MD, Moh. Hukum dan Pilar-Pilar Demokrasi, Yogyakarta: Gema Media, 1999.

Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Bab X dan Bab XA.

Gede Palguna, I Dewa. “Pengaduan Konstitusional: Upaya Hukum Terhadap Pelanggaran


Hak-Hak Konstitusional Warga Negara (Studi Kewenangan Mahkamah Konstitusi
Indonesia dalam Perspektif Perbandingan)”, Disertasi, Program Doktor Ilmu Hukum
Universitas Indonesia, 2011. http://www.google schrool.com (22 Juni 2019).

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Rekapitulasi Perkara Pengujian Undang-Undang.


https://mkri.id/index.php (22 Juni 2019).

Halim, Devina. “4 Putusan MK untuk Hari Pencoblosan Pemilu 2019,” Kompas.com, 29


Maret 2019. https://nasional.kompas.com (20 Juni 2019).

16