Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE

CHEEK BITING, DUCTUS STENSEN PROMINENT, FORDYCE GRANULE,


SCALLOPED TONGUE, PIGMENTASI FISIOLOGIS DAN TORUS PALATINUS

Disusun Oleh:

Khaerunnisa Yulia Nurdianti

2018-16-057

Dosen Pembimbing:

Sarah Mersil, drg., Sp.PM

UNIVERSITAS PROF. DR. MOESTOPO (BERAGAMA)

JAKARTA

2018
LAPORAN KASUS ORAL MEDICINE
CHEEK BITING, DUCTUS STENSEN PROMINENT, FORDYCE GRANULE,
SCALLOPED TONGUE, PIGMENTASI FISIOLOGIS DAN TORUS PALATINUS
Khaerunnisa Yulia Nurdianti, S.KG
Bagian Penyakit Mulut, Fakultas Kedokteran Gigi,
Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Pembimbing: Sarah Mersil, drg., Sp.PM

PENDAHULUAN normal dan susunan gigi yang tidak sesuai


pada lengkungnya.5 Secara klinis kondisi ini
Variasi normal merupakan suatu
terlihat sebagai lesi putih yang sedikit
kondisi dengan ciri-ciri fisik yang berbeda
menonjol dan tidak beraturan atau
dari keadaan normalnya, tetapi tidak
bergelombang dalam pola diffuse yang
dianggap sebagai kondisi patologis.1 Variasi
menutupi daerah trauma.2,5 Lesi hampir
normal sebagian besar tidak memerlukan
secara universal timbul asimtomatik. Lesi
terapi.1,2 Dokter harus memiliki pemahaman
dapat ditemukan secara unilateral atau
tentang temuan ini untuk memberikan
bilateral, di sekitar lateral permukaan oklusal
perawatan yang tepat untuk pasien.3
gigi. Penampilan histologis konsisten dengan
Beberapa macam variasi normal, yaitu cheek
hiperkeratosis.3 Pasien mungkin sadar atau
biting, ductus stensen prominent, fordyce
tidak sadar dengan adanya kebiasaan
granule, scalloped tongue, pigmentasi
menggigit atau tergigit. Keadaan ini tidak
fisiologis dan torus palatinus.
memerlukan perawatan, melainkan edukasi
pasien mengenai penyebab yang
TINJAUAN PUSTAKA
mendasarinya. Tidak ada konsekuensi jangka
Cheek biting merupakan kebiasaan
panjang dari kondisi jinak ini.2
berulang dari aktivitas pengunyahan terhadap
Ductus stensen prominent adalah
jaringan mukosa bukal yang dapat
peninggian jaringan yang menandai
menyebabkan timbulnya lesi putih.3 Menurut
pembukaan saluran kelenjar parotis pada
Bouqot dan Gorlin, cheek biting merupakan
mukosa bukal yang biasanya terletak
kebiasaan buruk yang terjadi sekitar 3,44%
berlawanan dengan molar kedua rahang atas.
dari semua lesi putih dan sepertiganya adalah
Ductus stensen merupakan saluran ekskretori
laki-laki.4 Cheek biting juga dapat
dari kelenjar parotis.2 Terkadang dapat
disebabkan karena bentuk gigi yang tidak
muncul sebagai pertumbuhan berlebih yang
tampak seperti kondisi patologis.6 Tampilan untuk menentukan diagnosis granula
klinis terlihat sebagai papula berbentuk fordyce.5 Pada kondisi ini perawatan tidak
segitiga berwarna merah muda terletak pada diperlukan.1
mukosa bukal yang berdekatan dengan molar Scalloped tongue merupakan kondisi
pertama atau kedua rahang atas secara normal yang disebabkan oleh kombinasi
bilateral.1,5 Terkadang trauma bisa terjadi berbagai faktor, yaitu ukuran lidah yang
karena tergigit, alat ortodontik atau penyebab besar, ada tidaknya gigi, dan tekanan pada
lainnya.7 lidah karena keadaan gigi di sekitarnya.9
Fordyce granule merupakan kelenjar Kondisi ini ditandai dengan indentasi pada
sebasea yang terlihat pada mukosa mulut. tepi lateral lidah. Tekanan abnormal pada
Kondisi ini adalah koristoma atau ektopik lidah menimbulkan cetakan dengan pola
yaitu jaringan normal pada lokasi yang yang khas, tampak berupa bentuk oval yang
abnormal karena lokasi normalnya berada di terdepresi, kadang dikelilingi tepi menonjol
lapisan atas dermis pada kulit.3,5 Kelenjar dan berkelok-kelok. Biasanya lesi bersifat
sebasea disini tidak memiliki hubungan bilateral, bisa juga unilateral atau terisolasi
dengan folikel rambut dan tidak memiliki pada regio. Pola ini akan semakin nyata pada
fungsi.2,8 Granula fordyce 80% terjadi pada pada daerah-daerah diastema. Kondisi ini
orang dewasa. Kepadatan granula pada setiap tidak berbahaya dan asimtomatik.5
daerah mukosa lebih besar pada pria Torus palatinus 20% terdapat pada
dibandingkan wanita. Gambaran klinis yang orang dewasa, lebih sering terjadi pada
tampak berupa makulopapula yang wanita dibandingkan pria. Faktor keturunan
berdiameter 1-2 mm, berwarna putih ikut berperan pada pembentukan torus.10
kekuningan, lokasinya berada pada mukosa Torus palatinus merupakan massa tulang
bukal atau vermilion bibir atas.1,2,5 Lesi keras yang muncul di garis tengah palatum
biasanya multipel dan berkelompok.2,5 keras, Sebagian besar gambaran klinis dari
Fordyce granule terkadang konfluen dan torus adalah nodular yang keras dengan
membentuk plak yang diameternya mencapai mukosa yang halus, berkontur bulat, tampak
beberapa sentimeter.1 Lesi timbul secara sedikit pucat atau normal. Torus juga bisa
asimtomatik, namun terkadang pasien sadar muncul dalam bentuk lobular. Perawatan
akan kondisi ini saat bercermin atau saat tidak diperlukan, kecuali jika akan dilakukan
teraba dengan lidah.2 Gambaran klinis cukup pembuatan protesa.5,10 Bila ukuran torus
sangat besar dapat dilakukan prosedur hal tersebut mengganggu estetik rongga
pembedahan agar dapat memaksimalkan mulutnya.11
retensi dari protesa.2,11
Perubahan warna yang terjadi di LAPORAN KASUS
dalam rongga mulut dihasilkan oleh
Seorang pasien laki-laki berusia 24
melanosit yang mengandung pigmen melanin
tahun datang ke RSGM FKG UPDM(B)
pada lapisan sel basal dari epitel mulut.
ingin dilakukan pemeriksaan. Tidak ada
Pigmentasi terjadi karena deposisi pigmen
keluhan saat pasien datang, namun
melanin ke jaringan ikat tanpa disertai
ditemukan garis putih di pipi bagian dalam
peningkatan jumlah dan ukuran dari
kanan dan kiri pada saat pemeriksaan awal.
melanosit. Pigmentasi fisiologis merupakan
Pasien mengaku tidak menyadari adanya
kasus yang paling banyak ditemukan pada
garis putih di pipi, dan tidak mengeluhkan
individu berkulit gelap seperti pada populasi
sakit. Pasien mengatakan bahwa terkadang
Afrika dan Asia.11 Pigmentasi fisiologis lebih
pipi tergigit saat sedang makan, dan daerah
sering ditemukan pada individu berkulit
yang tergigit pernah sariawan sebelumnya.
gelap, namun dapat ditemukan juga pada
Kondisi ini tidak pernah dilakukan
individu berkulit cerah.2 Secara umum
perawatan. Pasien memiliki kebiasaan
gambaran klinis pigmentasi fisiologis berupa
mengunyah satu sisi di sebelah kanan. Pada
makula berwarna coklat atau hitam pada
riwayat perawatan gigi, pasien menyikat gigi
jaringan mukosa rongga mulut dan paling
satu atau dua kali sehari tanpa memakai obat
banyak ditemukan di daerah gingiva.2,12
kumur.
Diagnosis banding dari pigmentasi fisiologis
adalah pigmentasi akibat obat-obatan atau Saat pemeriksaan rongga mulut
karena merokok.11 Diagnosis dapat diketahui kebersihan mulut pasien buruk.
ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, Ditemukan adanya garis putih bergelombang
namun terkadang biopsi diperlukan untuk pada kedua pipi kiri dan kanan di sepanjang
menyingkirkan melanoma, terutama jika ada garis oklusi. Ditemukan juga adanya papula
perubahan dalam ukuran, bentuk, atau tingkat berukuran 1cm berwarna merah muda di
pigmentasi.2 Pigmentasi itu sendiri tidak mukosa bukal kanan dan kiri dekat gigi 16
membahayakan dan termasuk kedalam disertai garis hitam ditengahnya (gambar 1
variasi normal, tetapi untuk sebagian orang dan 2). Pada mukosa bukal bagian posterior
atas, ditemukan makula berwarna putih
kekuningan berukuran 1-2 mm, temuan
serupa ini juga tampak pada bibir atas
(gambar 1, 2, dan 3). Pada gingiva pasien di
daerah gigi anterior atas dan bawah
Gambar 3. Gambaran klinis bibir atas.
ditemukan perubahan warna kecoklatan
(gambar 4). Pada daerah palatum ditemukan
nodul berukuran 1 cm dengan palpasi keras
dan tidak sakit (gambar 5). Temuan lainnya
yaitu pada lidah, terdapat cetakan gigi geligi
Gambar 4. Gambaran klinis gingiva.
di seluruh tepi lateral lidah (gambar 6). Pada
regio gigi posterior bawah kanan, gigi 48
tampak bukoversi, dan terdapat sisa akar gigi
46.

Gambar 5. Gambaran klinis palatum.

Gambar 1. Gambaran klinis mukosa


bukal kanan.
Gambar 6. Gambaran klinis lidah.

Gambar 2. Gambaran klinis mukosa


Gambar 7. Gambaran klinis gigi posterior
bukal kiri.
bawah kanan.
Berdasarkan anamnesis dan beradaptasi dengan keadaan bukal gigi molar
pemeriksaan klinis, temuan dalam mulut rahang atas dan bawah sehingga terhindar
pasien didiagnosis sebagai cheek biting, dari tergigitnya pipi. Sears dalam
ductus stensen prominent, fordyce granules, penelitiannya mengatakan keluhan yang
pigmentasi fisiologis, torus palatinus, dan biasa terdapat pada kasus cheek biting adalah
scalloped tongue. Pasien diberikan berkaitan dengan gigi molar. Pada kasus
penjelasan bahwa temuan dalam mulut pasien ini, terlihat gigi 48 bukoversi, dan
tersebut merupakan variasi normal dan tidak terdapat sisa akar gigi 46.13
berbahaya. Pasien juga dijelaskan bahwa
Diagnosis lainnya merupakan
garis putih di pipi disebut dengan cheek
scalloped tongue. Diagnosis ditegakkan
biting yang disebabkan karena sering
karena sesuai dengan gambaran klinisnya
tergigitnya pipi. Selain itu pasien diberikan
yaitu adanya cetakan berbentuk gigi yang
penjelasan bahwa kelainan tersebut tidak
menyerupai kerang (scalloped) pada tepi
membutuhkan perawatan jika tidak ada
lidah. Hal ini dapat terjadi karena ukuran
keluhan. Pasien diiinstruksikan untuk
lidah yang besar, ada tidaknya gigi, dan
membiasakan diri mengunyah dua sisi dan
tekanan pada lidah karena keadaan gigi di
meningkatkan kebersihan gigi dan mulut
sekitarnya. Pada kasus ini, scalloped tongue
dengan menyikat gigi dua kali sehari dan
dapat terjadi karena ukuran lidah pasien yang
membersihkan karang gigi.
besar. Jumlah gigi tidak menyebabkan
terjadinya scalloped tongue karena pasien
PEMBAHASAN tidak pernah mencabut gigi. Pada kasus
kehilangan beberapa gigi, scalloped tongue
Cheek biting biasanya dikaitkan
dapat terjadi karena lidah cenderung
dengan psikogenik yang menyebabkan
berkembang ke daerah yang tidak ada gigi,
kebiasaan parafungsional seperti menggigit
yang menyebabkan adanya tekanan pada gigi
pipi, dimana kebiasaan tersebut merupakan
tetangga yang masih ada sehingga terbentuk
kebiasaan yang tidak disadari oleh pasien.4
scalloped tongue.9
Cheek biting juga dapat dikaitkan dengan
bentuk gigi yang tidak normal, dan susunan Diagnosis selanjutnya adalah dustus
gigi yang tidak rapi. Pada keadaan gigi stensen prominent. Diagnosis ditegakkan
normal, yang sesuai pada lengkungnya, pipi karena sesuai dengan gambaran klinisnya
yaitu adanya papula berbentuk segitiga banyak pasien dengan fordyce granule pada
berwarna merah muda terletak pada mukosa dewasa muda atau pertengahan. Menurut
bukal yang berdekatan dengan molar Olivier banyaknya kasus pada usia 20 dan 29
pertama. Pada kasus ini, tanda klinis tahun.15 Pasien dalam kasus ini berusia 24
ditemukan secara bilateral di mukosa bukal tahun.
kanan dan kiri. Denny dkk dalam
Diagnosis lainnya adalah torus
penelitiannya mengatakan struktur anatomis
palatinus. Etiologi yang tepat dari munculnya
dalam rongga mulut muncul secara bilateral
torus belum jelas, namun langlais dalam
dan ciri ini biasanya memberikan petunjuk
bukunya mengatakan torus seringkali
vital bagi dokter untuk membedakan antara
diwariskan.10 Dalam tiga kasus klinis yang
6
anatomi normal dan patologi klinis.
diteliti oleh Curran dkk, torus palatinus
Diagnosis lain pada kasus ini adalah ditemukan pada anak perempuan, ibu dan
fordyce granule. Diagnosis ditegakkan dari nenek yang memiliki sifat osteoklerosis
tampilan klinisnya yang sesuai yaitu berupa dominan autosom. Haugen dalam
papula putih kekuningan, multiple, pada penelitiannya mengungkapkan bahwa bentuk
mukosa bukal atau vermilion bibir atas.5 torus palatinus yang paling sering ditemukan
Shahzad dkk dalam penelitiannya adalah nodular dengan ukuran kecil,
menemukan 61% fordyce granule pada sedangkan bentuk lobular lebih jarang
mukosa bukal, 20% pada bibir atas, 10% di ditemukan.16 Pada kasus ini tampilan klinis
daerah retromolar, 6% bibir bawah, 1,5% torus palatinus yang ditemukan juga berupa
vermilion border, dan 0,76% pada gingiva.14 bentuk nodular.
Pada kasus ini fordyce granule ditemukan di
Diagnosis terakhir dari kasus ini
mukosa bukal dan bibir atas. Fordyce
adalah pigmentasi fisiologis. Diagnosis
granule biasanya tidak ditemukan pada anak-
ditegakkan karena adanya perubahan warna
anak.14 Langlais dalam bukunya menjelaskan
kecoklatan pada gingiva bagian gigi anterior
bahwa fordyce granule muncul dari kelenjar
atas dan bawah. Pigmentasi dilaporkan sering
sebasea yang pada waktu embrio terjebak
terjadi pada kulit Asia dan India.17
selama penggabungan prosesus maksila dan
Pigmentasi fisiologis terjadi karena adanya
mandibula, kemudian baru terlihat setelah
pengendapan melanin ke jaringan ikat tanpa
pematangan seksual sewaktu sistem sebasea
peningkatan jumlah atau ukuran melanosit.3
5
telah berkembang. Lee dkk menemukan
Diagnosis banding dari pigmentasi fisiologis atau susunan gigi yang buruk, pada kasus ini
adalah pigmentasi akibat obat-obatan atau susunan gigi molar rahang bawah kanan
karena merokok. Jenis obat-obatan yang pasien tidak sesuai pada lengkungnya,
seringkali menyebabkan pigmentasi obat sehingga dapat dikaitkan dengan etiologi
antimalarial, diantaranya chloroquine, tersebut. Ductus stensen prominent pada
hydroxychloroquine, dan quinacrine. kasus ini tampak peninggian jaringan yang
Pigmentasi oleh karena obat-obatan tidak sakit, menandai pembukaan saluran
lokasinya paling sering muncul pada daerah kelenjar parotis pada mukosa bukal. Fordyce
palatum.11 Pada kasus ini pigmentasi granule merupakan kelenjar sebasea ektopik
fisiologis tampak pada gingiva. Smoker’s ditandai dengan papula putih kekuningan
melanosis meningkat secara mencolok saat yang pada kasus ini muncul di mukosa bukal
tahun pertama merokok.11 Menurut dan bibir atas. Scalloped tongue ditandai
penelitian Yosadi, prevalensi Smoker’s dengan adanya cetakan gigi di seluruh tepi
Melanosis terbanyak diderita oleh individu lateral lidah. Pada kasus ini scalloped tongue
yang sudah merokok lebih dari 10 tahun.18 dapat terjadi karena ukuran lidah pasien yang
Pada kasus ini, pasien tidak memiliki besar. Pigmentasi fisiologis pada kasus ini
kebiasaan merokok dan tidak mengonsumsi berupa perubahan warna gingiva yang
obat-obatan, sehingga diagnosis drug- kecoklatan yang terjadi karena pengendapan
induced dan smoking-induced melanosis melanin ke jaringan ikat tanpa peningkatan
disingkirkan. jumlah atau ukuran melanosit. Torus
palatinus pada kasus ini berupa nodula
KESIMPULAN dengan palpasi keras dan tidak sakit.
Cheek biting, ductus stensen Penyebabnya belum diketahui, namun faktor
prominent, fordyce granule, scalloped genetik mungkin terkait. Perawatan variasi
tongue, pigmentasi fisiologis dan torus normal tersebut berupa komunikasi, instruksi
palatinus merupakan variasi normal dan dan edukasi, dan tidak perlu diberikan obat
bukan merupakan suatu penyakit. Diagnosis atau perawatan khusus lainnya.
ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis yang sesuai dengan DAFTAR PUSTAKA
kriteria variasi normal tersebut. Cheek biting 1. Aghel S, Esfehani M, Zarabadipour
dapat terjadi karena kebiasaan menggigit pipi M. The Frequency of Normal
Variations of Oral Mucosa in Patients Pathology at a Glance. Blackwell
Referred to Qazvin School of Publishing ltd; 2010: 14.
Dentistry, Spring, 2015. International 8. Leung AKC, Barankin B. Fordyce
Journal of Ayurvedic Medicine. 2018; Spot. Clin Case Rep Rev. 2015; 1(6):
9(1): 34-8. 121-2.
2. Bruch JM, Treister NS. Clinical Oral 9. Mattoo KA. Tongue Crenation
Medicine and Pathology. 2nd Ed. (Scalloped Tongue) – Case Report.
Switzerland: Springer. Journal of Medical Science And
2017;1,17,19,28,48. Clinical Research. 2017; 5(9): 28201-
3. Madani FM, Kuperstein AS. Normal 3.
Variations of Oral Anatomy and 10. Langlais RP, Miller CS, Nield-gehrig
Common Oral Soft Tissue Lessions: JS. Color Atlas of Common Oral
Evaluation and Management. Med Disease. 5th ed. Philadelphia: Wolters
Clin North Am. 2014; 98(6): 1281-98. Kluwer; 2016: 140.
4. Boras V, Arambasin A, Svub K. 11. Greenberg MS, Glick M, Ship JA.
Parafunctional Cheek Biting. Acta Burket’s Oral Medicine. 12th ed.
Stomat Croat. 2000; 34(3): 335-6. Shelton: People’s Medical Publishing
5. Langlais RP, Miller CS, Nield-gehrig House; 2015: 133-4,148.
JS. Atlas Berwarna: Lesi Mulut yang 12. Kaur H, Jain S, Mahajan G, Saxena
Sering Ditemukan. Jakarta: EGC; D. Oral Pigmentation. International
2014: 104, 172. Dental & Medical Journal of
6. Denny C, Ahmed J, Ongole R, Advanced Research. 2015; 1: 1–7.
Shenoy N, Binnal A. Bilaterally 13. Sears SH. DDS, Vallejo, Calif. Cheek
Occuring Mucosal Alterations of The Biting. The Journal of the American
Oral Cavity-A literature review. Dental Association. 1960; 60(4): 479-
International Journal of Medical 81.
Research and Health Sciences. 2015; 14. Shahzad M, Moosa Y, Jehangir AW.
4(3): 680-5. Prevalence of Fordyce’s Granules-a
7. Scully C, Amelda CP, Bagan J, Dios Karachi Sample. Pakistan Oral &
PD, Taylor AM. Oral Medicine and Dental Journal. 2015; 35(2):183-5.
15. Lee JH, Lee JH, Kwon NH, Yu DS,
Kim GM, Park CJ, et al.
Clinicopathologic Manifestations of
Patients with Fordyce’s Spots. Ann
Dermatol. 2012; 24(1): 103-6.
16. Garcia ASG, Gonzales JMM, Font
RG, Rivadeneira AS, Roldan LO.
Current status of the torus palatinus
and torus mandibularis. Med Oral
Patol Oral Cir Bucal. 2010; 15 (2):
e353-60.
17. Nouveau S, Agrawal D, Kohli M,
Bernerd F, Misra N, Nayak CS. Skin
Hyperpigmentation in Indian
Population: Insights and Best
Practice. Indian Journal of
Dermatology; 61(5): 487-495.
18. Yosadi ZD, Rompas S, Bawotong J.
Hubungan Kebiasaan Merokok
Dengan Terjadinya Smoker’s
Melanosis Pada Kalangan Petani Di
Desa Tutuyan 1 Kecamatan Tutuyan
Kabupaten Bolaang Mongondow
Timur. ejournal Keperawatan.
2015;3(3)