Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW berupa wahyu, yang mana dikumpulkan pada satu
mushaf mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat An-Naas dengan perantara
malaikat Jibril yang disampaikan kepada kita secara mutawatir, yang mana
jika kita membaca dan mempelajarinya merupakan suatu ibadah yang tak
terhitung jumlah pahalanya.
Banyak sekali sumber-sumber ilmu yang terdapat didalam Al-
Qur’an, kita sendiri sebagai umat islam yang beriman perlu mengetahui
pengertian dari Al-Qur’an itu sendiri. Selain itu, kita wajib memahami apa
saja yang terkandung didalam Al-Qur’an, sejarah turunnya, nama-namanya,
ilmu-ilmunya bahkan kita wajib untuk mempelajarinya.
Mempelajari isi Al-Qur’an dapat menambah pengetahuan, wawasan,
memeperluas pandangan mengenai agama islam. Lebih pentingnya lagi, kita
lebihyakin akan keunikan isinya yang menunjukkan betapa Maha Besarnya
Allah sebagai Maha Cipta semua yang ada di bumi ini.
Al-Qur’an diturunkan di bumi ini dalam bentuk bahasa
Arab.sebagaimana yang kita ketahui, bahasa Arab adalah suatu bahasa yang
tidak mudah untuk dipelajari karena beragam dan banyaknya variasi
bentuknya. Banyak orang yang bisa membaca Al-Qur’an, akan tetapi
banyak pula yang tidak bisa memahami dan menafsirkan kandungan dari
Al-Qur’an itu sendiri. Padahal orang Arab sendiri banyak yang tidak
mengerti kandungan Al-Qur’an. Maka dari itu, untuk dapat mengetahui isi
dari kandungan Al-Qur’an, diperlukanlah ilmu yang mempelajari
bagaimana tata cara menafsiri Al-Qur’an yaitu Ulumul Qur’an. Dengan
adanya pembahasan ini, kita sebagai orang islam bisa dengan mudah
mengenal lebih jauh tentang isi sekaligus arti dari ayat suci tersebut.

1
Kita sebagai umat islam wajib mengetahui sejarah turunnya Al-
Qur’an itu sendiri. Selain itu, kita harus memahami apa yang terkandung
didalam Al-Qur’an.
Didalam makalah ini, kita akan membahas semua persoalan-
persoalan yang menyangkut dengan sejarah turunnya Al-Qur’an serta isi
kandungan yang ada didalam Al-Qur’an. Dengan tujuan, kita dapat
mengetahui sekaligus memahami kandungan yang ada didalam Al-Qur’an.
Objek, metode dan tujuan dari Ulumul Qur’an, kita akan memepelajari hal-
hal yang berhubungan dengan Ulumul Qur’an.

Pada dasarnya Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam


sampai akhir zaman. Oleh karena itu, marilah kita mengenal lebih jauh apa
yang menjadi objek Al-Qur’an sehingga banyak ilmu tentang Al-Qur’an
yang lebih kita kenal dengan Ulumul Qur’an.

Dengan adanya pembahasan ini, kita sebagai generasi-generasi islam


supaya lebih mengenal semua yang ada didalam Al-Qur’an.

B. Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Apa Sejarah dan Pengertian Al-Qur’an ?
2. Apa macam-macam Ilmu-ilmu Al-Qur’an ?
3. Apa Nama-nama dari Al-Qur’an ?
4. Apa Pengertian dan macam-macam Ulumul Qur’an ?
5. Apa Objek, metode dan tujuan dari Ulumul Qur’an ?
C. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui dan memahami Sejarah dan Pengertian Al-Qur’an


2. Mengetahui dan memahami Ilmu-ilmu yang ada dalam Al-Qur’an
3. Mengetahui Nama-nama Al-Qur’an
4. Mengetahui dan memahami pengertian dan macam-macam Ulumul
Qur’an
5. Mengetahui Objek, metode dan tujuan Ulumul Qur’an

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah dan Pengertian Al-Qur’an

Al-Qur’an mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ketika


Nabi sedang menyendiri di Gua Hira pada malam Senin 17 Ramadhan tahun
41 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW bersamaan dengan 6 Agustus 610
M.

Sesuai dengan kemuliaan dan kebesaran Al-Qur’an, Allah


menjadikan malam permulaan turunnyaAl-Qur’an itu malam “Al Qadar”,
yaitu malam yang tinggi derajatnya, lebih baik daripada seribu bulan.1

Hadist yang diriwayatkan oleh Bukhary dari ‘Aisyah r.a. mengatakan


bahwa, permulaan wahyu yang diterima Rasulullah, ialah melalui mimpi
(Arru’yah Ash Shodiqoh). Beliau bermimpi seakan-akan melihat sinaran
shubuh, dan terjadi persis sebagai yang dimimpikan.

Hadist yang kedua diriwayatkan oleh Ath Thabary dari Abdullah


Ibnu Zubair, dia menyebutkan bahwa, Bersabdalah RasulullahSAW, “Maka
datanglah kepadaku Jibril, dan aku kala itu sedang tidur, dia membawa
selembar nambath (kain berwarna) dari sutera, padanya ada tulisan
(suratan). Ia berkata : “Iqra’ (bacalah)”. Maka akupun menjawab bahwa aku
tak dapat membaca. Karena itu aku dipeluknya erat-erat, hingga aku sangka
aku bakal mati. Kemudian dia lepaskan aku seraya berkata pula : Iqra
(bacalah). Aku menjawab : apa yang akan aku baca ? Aku mengatakan

M. hasbi Ash Shiddieqy, SejarahdanpengantarIlmu Al-Qur’an danTafsir, (Jakarta ; NV.


1

BulanBintang, 1954) Hal 26

3
demikian, hanya supaya dia jangan kembali lagi memeluk aku erat-erat dan
kuat-kuat sebagai yang sudah. Dia berkata :

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,Dia Telah


menciptakan manusia dari segumpal darah, yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam,Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.”

Sesudah itu Allah menurunkan QS. Al-Muddatstsir ayat 1-7 yang


artinya :

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah khabar takut dan
besarkanlah Tuhanmu, dan sucikanlah kainmu, dan jauhilah berhala-hala
dan janganlah kamu memberi nikmat untuk memandang banyak nikmat itu,
dan bersabarlah karena Tuhamu. Apabila telah ditiup sangkakala, maka
itulah hari yang sangat sulit dan sukar, terhadap segala orang kafir tidak
pula mudahnya”. (QS. Al-Muddatstsir 1-7).

Sesudah Nabi menerima tugas yang terang untuk menyampaikan


undang-undang Islam kepada para manusia dengan firman :

“Bangunlah engkau lalu berilah pengajaran” (menerangkan khabar yang


menakutkan)”. (QS. Al Muddatstsir : 2).

Wahyu itupun berhenti, tidak turun lagi. Menurut pendapat Ibn


Ishaq, tiga tahun lamanya wahyu terus-menerus tidak di turunkan. Pada saat
itu ada yang mengatakan selama dua tahun setengah. Ada yang mengatakan
selama lima belas hari, sebagaimana ada yang mengatakan selam tiga hari
saja. Setelah Nabi merasa sangat kecewa atas ketiadaan turun wahyu yang
telah sangat dirindunya, turunlah surat Adl Dluha.

Dan dapat dipahamkan dari keadaan-keadaan yang mengitari turun


surat ini, bahwa dia diturunkan dalam tahun ke tiga, atau ketika Nabi
berumur empat puluh tiga tahun. Dialah surat yang ketiga yang diturunkan
dalam tahunyang ketiga dari kebangkitan Nabi.

4
Sesudah itu barulah terus beriring-iring Al-Qur’an diturunkan
menurut kejadian-kejadian dan tidak pernah lagi wahyu putus2).2

Adapun “ Al-Qur’an “ menurut bahasa ialah bacaan atau yang


dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul,
yaitu “maqru = yang dibaca”

Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’), ialah “Nama bagi


kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang ditulis
dalam mashhaf” (1)
Al-Qur’an menurut pendapat ahli kalam, ialah : yang ditunjuk oleh
yang dibaca itu, yakni : “ kalam azali yang berdiri pada dzat Allah yang
senantiasa, bergerak (tak pernah diam) dan tak pernah ditimpa sesuatu
bencana”.3

Al-Qur’an menurut istilah adalah firman Allah yang diturunkan oleh


Allah dengan perantaraan malaikat jibril ke dalam hati Rasulullah
Muhammad bin Abdullah dengan lafal arab dan makna yang pasti sebagai
bukti bagi Rasulullah bahwasannya dia adalah utusan Allah SWT, sebagai
undang-undang sekaligus petunjuk bagi manusia, dan sebagai sarana
pendekatan (seorang hamba kepada Tuhannya) sekaligus sebagai ibadah
bila dibaca. Al-Qur’an disusun diantara dua lembar, diawali surat Al-
Fatihah dan diakhiri surat An-Naas, yang sampai kepada kita secara teratur
(tidak terputus) secara tulisan maupun lisan, dari generasi ke generasi,
terpelihara dari adanya perubahan dan penggantian yang dibenarkan dengan
firman Allah SWT :

(QS.Al-Hijr ayat 9)4

2
Ibid., Hal 30-31.
Keterangan : (1) Bandingkan dengan uraian Dr. Shubhi dalam kitabnya Mabahits hal. 39
(2) Baca Mabahits fie ‘ulumil Qur’an hal. 36.
3
Ibid.,Hal 1-2.
4
Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Jakarta; Pustaka Amani, 2003), hal
17.

5
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya
Kami benar-benar memeliharanya”

Ada beberapa pendapat dari para ulama yang menerangkan


pengertian Al-Qur’an menurut bahasa, yakni :

1. Al-Lihyani, berkata bahwa Al-Quran merupakan kata jadian dari kata


dasar qara’a (‫ ) قرأ‬yang artinya membaca, sebagai mana kata rujhan dan
ghufran. Kata ini kemudian dijadikan sebagai nama bagi firman Allah
yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penamaan ini dalam
kategori “tasmiyah al-maf’ul bi al-mashdar” (penamaan isim maf’ul
dengan isim masdhar). Mereka merujuk dalam firman Allah yang
Artinya : “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya
(di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila kami telah
selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu.”(QS. Al-
Qiyamaah 17-18)
2. Az-Zujaj, menjelaskan bahwa kata Al-Quran merupakan kata sifat,
diambil dari kata dasar al-qar’ ‫القرأ‬yang artinya menghimpun. Kata ini
kemudian dijadikaan nama bagi firman Allah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW yang menghimpun surat, ayat, kisah, perintah
dan larangan, atau menyimpan intisari dari kitab-kitab sucisebelumnya.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT (QS. An-Nahl : 89) :

َ ‫ث فِي ُك ِل أ ُ َّم ٍة‬


‫ش ِهيدًا َعلَ ْي ِه ْم ِم ْن أ َ ْنفُ ِس ِه ْم ۖ َو ِجئْنَا ِب َك‬ ُ ‫َو َي ْو َم نَ ْب َع‬

ْ ‫اب تِ ْبيَانًا ِل ُك ِل ش‬
ٍ‫َيء‬ َ َ ‫ش ِهيدًا َعلَ ٰى ٰ َهؤ ََُل ِء ۚ َون ََّز ْلنَا َعلَي َْك ْال ِكت‬ َ
َ‫َو ُهدًى َو َر ْح َمةً َوبُ ْش َر ٰى ِل ْل ُم ْس ِل ِمين‬

“(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat
seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu
(Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami
turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu

6
dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri.” (QS. An-Nahl : 89)

(QS. Al-An’am : 38)

‫ير ِب َجنَا َح ْي ِه إِ ََّل أ ُ َم ٌم أ َ ْمثَالُ ُك ْم ۚ َما‬ ِ ‫َو َما ِم ْن دَابَّ ٍة فِي ْاْل َ ْر‬
َ ‫ض َو ََل‬
ُ ‫طائِ ٍر َي ِط‬
َ‫ش ْيءٍ ۚ ث ُ َّم إِلَ ٰى َربِ ِه ْم يُ ْحش َُرون‬ ِ ‫طنَا فِي ْال ِكتَا‬
َ ‫ب ِم ْن‬ ْ ‫فَ َّر‬
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung
yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat (juga) seperti kamu.
Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada
Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am : 38)
3. Abu Musa Al-Asy’ari, menjelaskan bahwa lafal Qur’an itu adalah isim
musytaq ikut wazan fu’lan, yang diambil dari kata al-qarnu seperti dari
kalimat : Qarantu Asy-Sya’ia bis Sya’i, yang berarti : “Saya
mengumpulkan sesuatu dengan sesuatu yang lain.” Kitab Al-Qur’an
dinamakan demikian, karena ayat-ayat, surah-surah, dan huruf-hurufnya
berkumpul menjadi satu dalam mushaf Al-Qur’an itu. Jadi, menurut
pendapat ini, lafal Qur’an itu bukan isim mahmuz, sehingga “nun”nya
asli, sedang hamzahnya zaidah.

Dari tiga pendapat tersebut, pendapat pertama yang lebih tepat.


Sebab, pendapat pertama tersebut relevan dengan kaidah-kaidah bahasa
Arab dan ilmu sharaf. Sedangkan dua pendapat yang lain tersebut lepas dari
kaidah-kaidah nahwu dan sharaf serta tidak relevan dengan ungkapan
bahasa Arab.5

B. Manfaat Mempelajari Al Qur’an


1. Ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca setiap hari akan memberikan motivasi
dan penyemangat bagi si pembacanya.
2. Ketika membaca al-Qur’an, Allah akan menegur diri kita pada setiap
ayat-ayat-Nya.

5
Prof. Dr. H. Abdul djalal. H. A., Ulumul Qur’an, (Surabaya; Dunia Ilmu , 2000), hal 4-6.

7
3. Bacaan al-Qur’an yang melibatkan emosi akan memberikan kedamaian
dan ketenangan yang tidak bisa dilukiskan, seperti yang dialami dan
dirasakan oleh Sayyid Quthb Rahimahullah.
4. Orang yang membaca al-Qur’an akan senantiasa ingat Allah dan kembali
kepada-Nya.
5. Orang yang membaca al-Qur’an akan selalu berada dalam kecukupan dan
nikmat Allah meski ia merasakan serba kurang di dunia.
6. Ayat-ayat Alloh akan menjadi penjaganya selama ia hidup di dunia,
karena ia telah menjaga ayat-ayat-Nya.
7. Orang yang paham al-Qur’an adalah orang yang memiliki banyak ilmu.
8. Orang yang membaca al-Qur’an bagaikan orang yang sedang menyelami
samudera kehidupan, dan mengambil manfaat darinya.
9. Orang yang selalu akrab dengan ayat-ayat akan diberikan jiwa yang
sejuk, hati yang damai dan pikiran yang jernih, sehingga membuatnya ingin
selalu beramal, kreatif, inovatif dan produktif.
10. Orang yang membaca al-Qur’an akan selalu berada dalam kegembiraan
dan penuh harapan, di saat orang lain merasakan kesedihan, kecemasan dan
rasa pesimis. Karena diri mereka selalu dipompa dengan siraman ayat-ayat-
Nya yang lembut.
11. Orang yang rajin membaca al-Qur’an akan selalu diberikan jalan
kemudahan dan petunjuk sehingga tidak mudah untuk menyimpang dan
menyerah karena ayat-ayat Allah akan selalu mengingatkan dirinya ketika
dirinya ‘tersandung dosa dan maksiat.’
12. Orang yang membaca dan menjaga al-Qur’an selalu berada dalam
lindungan dan penjagaan Allah.
Ayat-ayat al-Qur’an mengajak pembacanya untuk senantiasa berpikir,
merenung dan beramal sebanyak-banyaknya.
Keutamaan membaca Al Qur’an adalah sebagai berikut:
13. Dapat mencerahkan lahir dan batin.
Termasuk di sini juga untuk menyembuhkan penyakit fisik dan kejiwaan.
Allah SWT berfirman,

8
Artinya:
14. Hai ahli Kitab, Sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami,
menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kamu sembunyi kan,
dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu
cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.
15. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.
(QS. Al-Maidah: 16-17).
16. Sebagai Syafaat Hari Kiamat.
Rasulullah SAW pun pernah bersabda bahwa dengan membaca Al Qur’an,
dapat menjamin keselamatan di hari kiamat kelak.
Dari An-Nawwas bin Sam’an ra katanya, AKu pernah mendengar Rasululah
SAW bersabda,
“Didatangkan padahari kiamat Al Qur’an dan para pembacanya yang
mereka dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului surat Al
Baqarah dan Ali Imran yang membela pembaca kedua surat ini.”
(HR. Muslim).
17. Dapat menghindarkan azab kubur.
Rasulullah SAW bersabda,
“Bacalah Al Qur’an karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai
pembela pada orang yang mempelajari dan mentaatinya.”
(HR. Muslim).
18. Akan mendapat petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

9
C. Ilmu-ilmu Al-Qur’an
Didalam Al-Qur’an terdapat beberapa ilmu yang mana ilmu-ilmu
tersebut mampu membantu kita dalam mencapai tahapan yang diperlukan,
seperti halnya jembatan yang mampu membantu kita untuk menyebrangi
sungai. Jembatan tersebut berfungsi sebagai alat yang membantu kita dan
memudahkan kita untuk menyebrangi sungai tersebut. Sama halnya
memahami Al-Qur’an, kita memerlukan jembatan untuk mencapai tujuan
yang kita perlukan.
Ilmu-ilmu yang memepelajari tentang Al-Qur’an, terbagi menjadi 2
diantaranya :
1. Ilmu yang membahas tentang lafal (pengucapan)
2. Ilmu yang membicarakan tentang makna-maknanya.
Adapun yang dibahas dalam ilmu tentang lafal-lafal Al-Qur’an
adalah ilmu-ilmu tajwid dan qira-ah, diantaranya :
 Ilmu tentang cara melafalkan huruf-huruf dan ketentuan-ketentuan
khusus yang harus diberlakukan terhadap huruf-huruf itu ketika
sendirian atau tersusun, seperti mendengung (idgham), mengganti
(ibdal), hukum-hukum berhenti (waqaf), mulai dan semacamnya
 Ilmu tentang pemeliharaan dan pengarahan terhadap qira-ahtujuh dan
tiga qira-ah lainnya serta qira-ah - qira-ah para sahabat, qira-ah
yang tidak biasa (syadz).
 Ilmu tentang jumlah surat, ayat, kata dan huruf Al-Quran, dan ilmu
tentang pembatasan jumlah semua surat, ayat, kata dan huruf Al-
Quran.Ilmu tentang kekhususan aturan penulisan Al-Quran dan per-
bedaannya dengan bentuk tulisan Arab yang dikenal dan digunakan.

Adapun ilmu-ilmu yang membahas tentang makna-makna


Al-Quran diantaranya :
 Ilmu yang membahas makna-makna yang umum, seperti tanzil,
ta'wil,makna lahir dan batin, muhkam dan mutasyabih, nasikh
dan mansukh

10
 Ilmu yang membahas ayat-ayat hukum. Ilmu ini pada hakikatnya
merupakan cabang dari pembahasan-pembaliasan fikih.
 Ilmu yang membahas makna-makna Al-Quran, dikenal dengan
nama tafsir.6
D. Nama-nama Al-Qur’an

Selain nama Al-Quran, ada beberapa nama lain dari Al-Quran. Yaitu :
1) Al-Furqan.
Al-Quran juga disebut Al-Furqan, yaitu pembeda antara yang hak dan
yang batil.
“Dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
(Muhammad) di hari Furqan Yaitu di hari bertemunya dua pasukan. dan
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”(QS. Al-Anfal 41)
2) Al-Burhan.
Artinya ialah bukti yang menunjukkan kebenaran.
”Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran
dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami
turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran).” (QS.
An-Nisaa 174)
3) Al-Kitab
Artinya tulisan atau buku.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya petunjuk bagi mereka
yang bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah 2)
4) Al-Huda.
Artinya petunjuk

6
Allamah Sayyid Muhammad Husain Thabathaba'i, Mengungkap Rahasia Al-
Qur’an,(Bandung; Penerbit Mizan, 1997), BAB IV.

11
Artinya: “Dan sesungguhnya ketika kami (jin) mendengar petunjuk (Al
Qur’an), kami beriman kepadany. Maka barangsiapa beriman
kepadaTuhan maka tidak perlu ia takut rugi atau berdosa.”(QS.Al-
Jin[72]:13)

5) Adz-Zikir
Artinya pemberi peringatan.

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan


Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr 9)
6) Al-Mau’idhah
Artinya pelajaran atau nasihat.

Artinya : “Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran


dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada)
dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman.” (QS. Yunus 57)
7) Al-Hukm
Peraturan atau hukum.
Artinya : “Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al Quran itu
sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab[776]. dan
seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang
pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan
pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah.” (QS. Ar-Ra’d 37)
8) Al-Hikmah
Kebijaksanaan.

12
“Itulah sebagian Hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. dan
janganlah kamu Mengadakan Tuhan yang lain di samping Allah, yang
menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam Keadaan
tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Israa’ 39)
9) At-Tanzil
Yang diturunkan.

“Dan Sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan


semesta alam.” (QS. Asy-Syura 192)
10) Ar-Rahmat
Karunia.
“Dan Sesungguhnya Al qur'an itu benar-benar menjadi petunjuk dan
rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. An-Naml 77)
11) Ar-Ruh
Al Qur’an disebut juga Ar-Ruh karena ia mampu menghidupkan akal
pikiran dan membimbing manusia kepada jalan yang lurus.

“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran)


dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah
Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi
Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia
siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan
Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang
lurus.” (QS. Asy-Syura 52)

13
12) Al-Bayan
Penerang.

Artinya : “inilah (Al Quran) adalah penerangan bagi seluruh manusia,


dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS.
Ali Imran 138)
13) Al-Kalam
Ucapan atau firman.

“dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta


perlindungan kepadamu, Maka lindungilah ia supaya ia sempat
mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman
baginya. demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak
mengetahui.”(QS. At-Taubah 6)
14) Al-Busyraa.
Kabar gembira.

“Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari


Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang
telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-
orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Nahl 102)
15) An-Nur.
Cahaya

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran


dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami

14
turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Quran)". (QS.
An-Nisaa 174)
16) Al-Bashair
Pedoman

“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat
bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al-Aljatsiyah 20)
17) Al-Balagh
Penyampaian atau kabar.

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan
supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka
mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan agar
orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim 52)
18) Al-Qaul
Perkataan.

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah menyampaikan perkataan ini (Al


Qur’an) kepada mereka agar mereka selalu mengingatnya.” (QS Al
Qasas [28] 51)7

E. Pengertian dan macam-macam Ulumul Qur’an


Ulum ialah jamak dari ilmu yang artinya faham atau pengetahuan,
menurut terminologinya ialah persoalan yang ditetapkan secara sistematis,
analisis dan radikal.8 Menurut sebagian pendapat, kata ilmu itu merupakan
isim jins yang berarti pengetahuan. Kemudian pengertian kata ilmu ini

7
Drs. H. M. Shalahuddin Hamid, MA., Study Ulumul Qur’an, ( Jakarta, PT. Intimedia Cipta
Nusantara, 1 Juli 2002), hal 23-24
8
Ibid,. hal 19.

15
berkembang dalam berbagai istilah dan dipakai sebagai nama dari
pengetahuan tentang Al-Qur’an ini.9
Sedangkan pengertian Al-Qur’an adalah firman Allah yang
diturunkan kepada Nabi muhammad, tertulis dalam mushaf, dipindahkan
secara teratur menurut riwayat, serta bacaannya termasuk ibadah, yang
menjadi petunjuk dalam hidup manusia.10

Ulumul Qur’an adalah prosedur-prosedur dan aturan main dalam


membangun Al-Qur’an. Dalam hal ini Ulumul Qur’an merupakan sesuatu
yang wajib dimiliki setiap mufassir Qur’an agar tidak sembarangan dalam
menfsirkan Al-Qur’an. Karena kitab-kitab tafsir yang ada sekarang ialah
suatu produksi yang dihasilkan dari interaksi pengarang (author) dengan
teks Al-Qur’an dengan berpedoman pada aturan main tafsir Qur’an yaitu
Ulumul Qur’an sendiri. Maka Ulumul Qur’an merupakan hal yang paling
penting dalam tradisi tafsir Qur’an.

Dari uraian tersebut, Ulumul Qur’an terbagi menjadi dua macam :

a) Ulumul Qur’an Bi Ma’nal Idhafi/ Laqabi


Yaitu sekelompok ilmu pengetahuan agama islam dan ilmu bahasa
arab yang masih berdiri sendiri-sendiri, seperti Ilmu Tafsir, Ilmu Rasmil
Qur’an, Ilmu I’rabil Qur’an, Ilmu Qira’atil Qur’an dan lain-lain.
b) Ulumul Qur’an Bi Ma’nal Mudawwan
Yaitu ilmu yang terdiri dari beberapa pembahasan mengenai Al-
Qur’an dari segi turunnya, pengumpulannya, penerbitannya,
penulisannya, bacaannya, penafsirannya, kemukjizatannya, nasikh-
mansukhnya, i’rabnya, gharibnya, majaznya, sumpah-sumpahnya dan
lain-lain.

9
Prof. Dr. H. Abdul djalal. H. A., Ulumul Qur’an, (Surabaya; Dunia Ilmu , 2000), hal 2.
10
Prof. Dr. Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqih, (Jakarta; Pustaka Amani, 2003), hal
27.

16
F. Objek, metode dan tujuan Ulumul Qur’an
1. Objek dari Ulumul Qur’an
Pembicaraan tentang objek dari Ulumul Qur’an setidaknya dapat
ditinjau dari segi idhafy dan istilahiynya. Dari segi idhafy, ruang lingkup
Ulumul Qur’an adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Qur’an,
apapun itu. Maka segala sesuatu yang ada hubungannya dengan Al-Qur’an
termasuk ke dalam wilayah operasi Ulumul Qur’an. Sebagian ahli bahasa
mengatakan bahwa istilah Ulumul Qur’an dengan arti lengkap baru lahir
setelah disusun kitab setebal 30 jilid yang bernama Al-Burhan fi Ulumil
Qur’an, oleh Al-Hufiy. Di dalamnya diterangkan tentang lafadz-lafadz yang
gharib, i’rab, dan tafsir. Ditinjau dari segi Isthilahy, yang kita golongkan ke
dalam ruang lingkup Ulumul Qur’an adalah ilmu-ilmu Arabiyah yang
terkait dengan keperluan untuk membahas Al-Qur’an11.
2. Metode dari Ulumul Qur’an
Adapun metode dari Ulumul Qur’an adalah menafsirkannya,
menafsirkan Al-Qur’an berarti menerangkan ayat-ayatnya secara
komperhensif. Seorang mufassir baru dapat memberikan uraian dan
keterangan sesuai dengan maksud ayat tersebut secara tepat dan dapat
dipertanggungjawabkan kebenarannya, apabila ia telah menguasai Ulumul
Qur’an.
Jika dilihat dari segi lain, maka Ulumul Qur’an juga dapat menjadi
measure (tolok ukur) bagi kualitas tafsir Al-Quran. Artinya, semakin dalam
seseorang menguasai Ulumul Qur’an, maka tafsir yang dihasilkannya akan
lebih berkualitas. Pemaham ini “ kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah
” kiranya menimbulkanpertentangan pemaknaan.
3. Tujuan dari Ulumul Qur’an

` Ulumul Qur’an sendiri dirancang para Ulama untuk mencegah


penafsiran ilegal yang tidak sepantasnya dan tidak sesuai dengan ajaran
Rasulullah. Sebagaimana dipaparkan oleh Dr. Muhammad Husain Ad-
Dzahbi, bahwa Sepeninggal Rasulullah SAW, munculah segolongan orang

11
TM Hasbi as-Shiddieqy.Ilmu-Ilmu Al-Qur’an, (Semarang,PustakaRizki Putra, 2010), hal
1.

17
yang mencoba menceraiberaikan umat Islam, membuat bid’ah-bid’ah dalam
agama, yang hanya bisa diatasi dengan “ar-ruju’ ila kitabillah wa as-
sunnati rasulihi ” . Mereka mengabaikan Hidayah Al-Qur’an dan
menafsirkan Al-Qur’an sembarangan tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.
Di samping itu muncul pula golongan lain yang di lisan mereka mengaku
orang islam tetapi dengan hati yang memuja kekufuran, yakni para zanadiq.
Kemudian mereka menyebarkan tafsir-tafsir palsu yang di dalamnya
terdapat doktrin-doktrin kekufuran yang dengan mudah dapat mendoktrin
orang-orang awam yang dangkal pemahamannya. Melihat fenomena ini,
para Ulama mulai menyusun langkah kongkrit untuk melenyapkan syubhat-
syubhat ini. Mereka berjuang seoptimal mungkin dengan mengerahkan
seluruh kemampuannya demi menjaga kemurnian kitab suci.Akhirnya,
melalui para ulama, Allah menyelamatkan kaum musimin dari malapetaka
itu. Allah menjaga kaum muslimin melalui para ulama dari kemudaratan.12
Hal inilah kiranya yang melatarbelakangi penyusunan Ulumul Qur’an.
Maka jelaslah bahwa relevansi Keduanya sangatlah erat.

Ulumul Qur’an berfungsi sebagai kunci pembuka terhadap


penafsiran Al-Qur’an sesuai dengan maksud apa yang terkandung di
dalamnya. Sedangkan kedudukannya ialah sebagai ilmu pokok yang
merupakan alat yang mutlak diperlukan bagi setiap mufassir untuk
menafsirkan Al-Qur’an. Dengan demikian, Ulumul Qur’an memang sangat
urgen untuk dipelajari, disebabkan keduanya memiliki relevansi yang sangat
erat.

Faidah kita mempelajari Ulumul Qur’an ialah supaya kita


mempunyai senjata yang ampuh yang dapat kita pergunakan untuk membela
kesucian Al-Qur’an dan supaya kita mudah mendalami tafsir Al-Qur’an.

12
Muhammad Husain ad-Dzahby, at-TafsirwalMufassirun, (Kairo, Dar el-Hadits, 2005), hal
11-12.

18
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Al-Qur’an mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, ketika


Nabi sedang menyendiri di Gua Hira pada malam Senin17 Ramadhan tahun
41 dari kelahiran Nabi Muhammad bersamaan dengan 6 Agustus 610 M.
Sedangkan pengertian Al-Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan oleh
Allah dengan perantaraan malaikat jibril ke dalam hati Rasulullah
Muhammad bin Abdullah dengan lafal arab dan makna yang pasti sebagai
bukti bagi Rasulullah bahwasannya dia adalah utusan Allah SWT, sebagai
undang-undang sekaligus petunjuk bagi manusia, dan sebagai sarana
pendekatan (seorang hamba kepada Tuhannya) sekaligus sebagai ibadah
bila dibaca. Al-Qur’an disusun diantara dua lembar, diawali surat Al-
Fatihah dan diakhiri surat An-Naas.

Ilmu tentang Al-Qur’an terbagi menjadi 2, pertama, Ilmu yang


membahas tentang lafal (pengucapan). Kedua,Ilmu yang membicarakan
tentang makna-maknanya. Adapun nama-nama Al-Qur’an adalah Al-
Furqon, Al-Kitab, Al-Burhan, Al-Huda, Adz-Zikir, Al-Hikmah, At-Tanzil,
dan lain-lain.

Ulumul Qur’an adalah prosedur-prosedur dan aturan main dalam


membangun Al-Qur’an.Ulumul Qur’an terbagi menjadi dua macam Ulumul
Qur’an Bi Ma’nal Idhafi/ Laqabi dan Ulumul Qur’an Bi Ma’nal
Mudawwan.

Objek dari Ulumul Qur’an adalah segala sesuatu yang berhubungan


dengan Al-Qur’an, sedangkan metode yang ada dalam Ulumul Qur’an
adalah menafsirkan Al-Qur’an berarti menerangkan ayat-ayatnya secara
komperhensif. Dan tujuan dari Ulumul Qur’an adalahuntuk mencegah
penafsiran ilegal yang tidak sepantasnya dan tidak sesuai dengan ajaran
Rasulullah.

19
DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzahaby, Muhammad Husain. At- Tafsir wal Mufassirun. Kairo : Dar


el Hadits.2005.

Ash Shiddieqy, Hasbi. Sejarah dan pengantar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir.
Jakarta : NV. Bulan Bintang. 1954

Ash-shiddieqy, TM Hasbi. Ilmu-ilmu Al-Qur’an. Semarang : PT. Pustaka


Rizki Putra. 2010.

Djalal, Abdul. Ulumul Qur’an. Surabaya: Duni Iilmu. 2000.

Hamid , Shalahuddin. Study Ulumul Qur’an. Jakarta : PT. Intimedia Cipta


Nusantara. 2002.

Husain Thabathaba'i, Allamah Sayyid Muhammad. Mengungkap Rahasia


Al-Qur’an. Bandung : Penerbit Mizan. 1997.

Khallaf, Abdul Wahhab. Ilmu Ushul Fiqih. Jakarta: Pustaka Amani. 2003.

20