Anda di halaman 1dari 4

MEKANISME PEMBENTUKAN dan PENGELUARAN PANAS

Panas diproduksi didalam tubuh melalui metabolisme, yang merupakan reaksi kimia
pada semua sel tubuh. Makanan merupakan sumber bahan bakar utama bagi metabolisme.
Termoregulasi membutuhkan fungsi normal dari proses produksi panas reaksi kimia seluler
membutuhkan energi untuk membentuk adenosin trifospat (atp). Bila metabolisme
meningkat, panas tambahan akan diproduksi. Ketika metabolisme menurun, panas yang
diproduksi lebih sedikit. Produksi panas terjadi selama istirahat, gerakan otot polos, getaran
otot dan termogenesis tanpa menggigil.1

a. Metabolisme basal menghasilkan panas yang di produksi tubuh saat istirahat. Jumlah rata-
rata laju metabolik basal (BMR) bergantung pada luas permukaan tubuh. Hormon tiroid juga
mempengaruhi BMR. Dengan cara meningkatkan pemecahan glukosa dan lemak tubuh,
hormon tiroid meningkatkan laju reaksi kimia pada hampir seluruh sel tubuh. Bila hormon
tiroid di sekresi dalam jumlah besar, BMR dapat meningkat 100% di atas normal. Tidak
adanya hormon tiroid dapat mengurangi setengah jumlah BMR, yang menyebabkan
penurunan produksi panas. Stimulasi sistem saraf simpatis oleh norepinefrin dan epinefrin
juga dapat meningkatkan laju metabolik jaringan tubuh. Mediator kimia ini menyebabkan
glukosa darah turun, yang akan menstimulasi sel untuk menghasilkan glukosa. Hormon seks
pria testosteron meningkatkan BMR. Pria memiliki BMR lebih tinggi dari pada wanita.

b. Gerakan volunteer seperti aktivitas otot selama latihan, membutuhkan tambahan energi. Laju
metabolik dapat meningkat diatas 2000 kali nomal. Produksi panas dapat meningkat 50 kali
normal.

c. Menggigil merupakan respon tubuh involunter terhadap suhu yang berbeda dalam tubuh.
Gerakan otot skelet selama menggigil membutuhkan energi yang signifikan. Menggigil dapat
meningkatkan produksi panas 4 sampai 5 kali lebih besar dari normal. Panas di produksi
untuk mempertahankan suhu tubuh.
Menurut Potter dan Perry (2005), pengeluaran dan produksi panas terjadi secara
konstan, pengeluaran panas secara normal melalui radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi.
a. Radiasi
Adalah perpindahan panas dari permukaan suatu objek ke permukaan objek lain tanpa
keduanya bersentuhan. Panas berpindah melalui gelombang elektromagnetik. Aliran darah
dari organ internal inti membawa panas ke kulit dan ke pembuluh darah permukaan. Jumlah
panas yang dibawa ke permukaan tergantung dari tingkat vasokonstriksi dan vasodilatasi
yang diatur oleh hipotalamus. Panas menyebar dari kulit ke setiap objek yang lebih dingi
disekelilingnya. Penyebaran meningkat bila perbedaan suhu antara objek juga meningkat.
b. Konduksi
Adalah perpindahan panas dari satu objek ke objek lain dengan kontak langsung. Ketika kulit
hangat menyentuh objek yang lebih dingin, panas hilang. Ketika suhu dua objek sama,
kehilangan panas konduktif terhenti. Panas berkonduksi melalui benda padat, gas, cair.
c. Konveksi
Adalah perpindahan panas karena gerakan udara. Panas dikonduksi pertama kali pada
molekul udara secara langsung dalam kontak dengan kulit. Arus udara membawa udara
hangat. Pada saat kecepatan arus udara meningkat, kehilangan panas konvektif meningkat.
d. Evaporasi
Adalah perpindahan energi panas ketika cairan berubah menjadi gas. Selama evaporasi, kira-
kira 0,6 kalori panas hilang untuk setiap gram air yang menguap. Ketika suhu tubuh
meningkat, hipotalamus anterior member signal kelenjar keringat untuk melepaskan keringat.
Selama latihan dan stress emosi atau mental, berkeringat adalah salah satu cara untuk
menghilangkan kelebihan panas yang dibuat melalui peningkatan laju metabolik. Evaporasi
berlebihan dapat menyebabkan kulit gatal dan bersisik, serta hidung dan faring kering.
e. Diaforesis
Adalah prespirasi visual dahi dan toraks atas. Kelenjar keringat berada dibawah dermis kulit.
Kelenjar mensekresi keringat, larutan berair yang mengandung natrium dan klorida, yang
melewati duktus kecil pada permukaan kulit. Kelenjar dikontrol oleh sistem saraf simpatis.
Bila suhu tubuh meningkat, kelenjar keringat mengeluarkan keringat, yang menguap dari
kulit untuk meningkatkan kehilangan panas. Diaphoresis kurang efisien bila gerakan udara
minimal atau bila kelembaban udara tinggi.
KEHILANGAN ATAU PEMINDAHAN PANAS

Walaupun suhu tubuh normal yaitu sebesar 37°C, hanya sebagian kecil orang yang
benar-benar memiliki suhu tubuh tepat seperti itu. Suhu bergantung pada waktu. Suhu lebih
rendah di pagi hari, suhu lingkungan, serta aktivitas fisik yang baru dilakukan, ketebalan
baju, dan kesehatan individu. Suhu setelah olahraga berat dapat mencapai 40°C. Suhu dapat
diukur pada beberapa tempat di tubuh melalui rute oral, rektal, aksila, kulit, atau membran
thympani.

Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan


regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik yang
diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus
mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik.
Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh
untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh
dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih
dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk
mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan
pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap [5].

Oleh karena itu, dilakukan praktikum suhu tubuh manusia ini untuk mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan suhu tubuh manusia dan dapat mempraktekkan
bagaimana penggunaan thermometer.
REFERENSI

http://nursenovaashinta.blogspot.com/2012/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html