Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN FLU BURUNG

Laporan pendahuluan ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan
Medikal Bedah B

Dosen Pengampu : Sri Andayani, M.Kes

Disusun oleh :

LIA HIYASARI

17613058

D III KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
2018

1
LAPORAN PENDAHULUAN

FLU BURUNG

A. DEFINISI
Flu burung adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus
influenza yang menyerang burung/unggas dan manusia. salah satu tipe yang
diwaspadai adalah yang disebabkan oleh influenza dengan kode genetik H5N1 (H : H
aemagglutinin, N : Neuramidase). (WHO = Avian influenza, 2004 )
Penderita konfirm H5N1 dapat dibagi menjadi 4 kategori sesuai beratnya penyakit
(MOPH Thailand, 2005)
1) Derajat I : Penderita tanpa pneumonia
2) Derajat II : penderita dengan pneumonia derajat sedang dan tanpa gagal nafas
3) Derajat II : penderita dengan pneumonia berat dan dengan gagal nafas
4) Derajat IV : penderita dengan pneumonia berat dan Acute Respiratory Distress
Syndrom (ARDS) atau dengan Multiple Organ Failure (MOF)
B. KLASIFIKASI
Penderita konfirm H5N1 dapat dibagi menjadi 4 kategori sesuai beratnya
penyakit (MOPH Thailand, 2005)
1) Derajat I : Penderita tanpa pneumonia
2) Derajat II : penderita dengan pneumonia derajat sedang dan tanpa gagal nafas
3) Derajat II : penderita dengan pneumonia berat dan dengan gagal nafas
4) Derajat IV : penderita dengan pneumonia berat dan Acute Respiratory Distress
Syndrom (ARDS) atau dengan Multiple Organ Failure (MOF)
Ada banyak sub tipe dari virus flu ini :
a. Tipe H1N1. Sub tipe ini lebih banyak ditemukan di babi sebagai vektor
utamanya. Di kemudian hari, virus tipe ini lebih dikenal sebagai penyebab flu
babi. Berbeda dengan penyebab flu unggas, sub tipe ini justru lebih efektif
ditularkan lewat manusia. Dalam setiap bersin pasien flu babi, setidaknya
terkandung 100.000 virus H1N1. Untungnya, daya bunuh H1N1 hanya 1/12 dari

2
flu burung. Flu babi hanya memiliki kemungkinan fatal sebesar 6%, jauh di
bawah angka 80 persen mili flu unggas.
b. H1N2 adalah sub tipe berikutnya. Sub tipe ini merupakan subtipe dari virus
influenza A yang juga disebut virus flu burung. Oleh para ahli, virus ini
dinyatakan sebagai virus pandemik pada manusia dan hewan, khususnya babi.
c. H2N2 adalah sub tipe yang lainnya. Virus H2N2 ini sudah termutasi menjadi
banyak sekali variasi virus flu ini. Salah satu bentuk mutasi dari H2N2 adalah
H3N2 dan banyak lagi subtipe virus flu lainnya yang sering ditemukan pada
unggas. Virus model ini dicurigai sebagai penyebab pandemik pada manusia di
tahun 1889.
d. H2N3. Berdasarkan struktur penyusunnya, H2N3 terdiri atas proteins sebagai
“casing”nya, hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Pada umumnya, virus
ini dapat menginfeksi manusia dan unggas.
e. Sub tipe virus Avian Influenza yang paling berbahaya. Dikenal sebagai
penyebab utama flu unggas. H5N1 adalah virus yang sangat berbahaya.
Berdasarkan penelitian para ahli, pasien yang terjangkiti virus H5N1 hanya
memiliki kemungkinan sembuh kurang dari 20%. Meskipun hanya ditularkan
lewat unggas, H5N1 merupakan pembunuh yang efektif. Daya bunuhnya 12
kali lebih dahsyat dibanding sub tipe virus avian influenza yang lain. Virus ini
merupakan jenis virus yang bersifat epizootik atau bersifat epidemik untuk
golongan di luar manusia dan juga bersifat panzootik yang mampu
mempengaruhi beragam spesies hewan. Hasil penelitian menyebutkan bahwa
virus ini sudah “sukses” membunuh setidaknya 10 juta unggas di seluruh dunia
serta menginfeksi ratusan juta lainnya.Pada bulan Desember tahun 2009,
badan kesehatan dunia, WHO mengumumkan bahwa setidaknya terjadi 447
kasus flu yang terjadi pada manusia dan tingkat kematian pada periode ini
sangat tinggi, lebih dari 50% dengan angka kematian mencapai 267 orang.
f. Sub tipe lain yang dianggap patogenik untuk manusia adalah H7N3, H7N7 dan
H9N2. Ketiga jenis ini dianggap sebagai virus avian influenza yang memiliki
daya rusak tingga hingga dapat membunuh pengidapnya. Menurut update
terbaru dari FAO, virus-virus ini secara perlahan tapi pasti memperkuat
kemampuan merusak mereka. Untuk virus H7N7 sendiri bisa menginfeksi
manusia, burung, babi, anjing laut serta kuda. Pada uji laboratorium, virus ini
bisa mengifeksi tikus yang digunakan dalan percobaan. Virus H9N2

3
merupakan jenis virus yang menginfeksi bebek. Pada perkembangannya, virus
ini juga menginfeksi manusia. Pada Desember 2009, ditemukan kasus anak-
anak terinfeksi H9N2 di Hongkong.

C. ETIOLOGI
Merupakan virus influenza tipe A, termasuk famili orthomyxoviridae dengan
penyebaran melalui udara (droplet infection) dan dapat berubah-ubah bentuk. Virus
ini terdiri dari hemaglutinin (H) Neuramidase (N). Kedua huruf digunakan sebagai
identifikasi kode subtipe flu burung yang banyak jenisnya. Pada manusia hanya
terdapat jenis H1N1, H3N3, H5N1, H9N2, H7N7, Sedangkan pada binatang H5N1
dan N1N9. Strain yang sangat virulen/ ganas dan menyebabkan flu burung adalah dari
subtipe A H5N1 dan virus tersebut dapat bertahan di air sampai 4 hari pada suhu 22̊ C
dan lebih dari 30 hari pada 0 ̊ C. Virus akan mati pada pemanasan 60̊ C selama 30
menit/ 56 ̊ C sealama 3 jam dan dengan detergen, desinfektan missal formalin cairan
yang mengandung iodine. (Sudoyo aru)

D. MANIFESTASI KLINIS
1. Masa inkubasi 3 hari dengan rentang 2-4 hari
2. Batuk, pilek, demam >38̊ C
3. Sefalgia, nyeri tenggorokan, mialgia dan malaise
4. Diare, konjungtivitas
5. Flu ringan hingga bera, pneumonia, dan banyak yang berakit dengan ARDS.
6. Kelainan laboratorium, leucopenia, limfopenia, dan trombositopenia
7. Gangguan (sebagian besar)
8. Gejala pada unggas :
- Jengger berwarna biru
- Borok di kaki
- Kematian mendadak
9. Tanda dan gejala lain pada anak-anak
- Nafas terengah-engah
- Kulit menjadi kehitaman/ keabuan
- Malas minum
- Muntah-muntah
- Tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik

4
- Tidak mau disentuh
- Terkadang gejala hilang tetapi demam & batuk masih ada
-
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan kimia darah
Albumin, Globulin, SGOT,SGPT, Ureum, Kreatinin, Kreatin kinase, Analisis gas
darah. Umumnya dijumpai penurunan albumin, peningkatan SGOT Dan SGPT,
peningkatan ureum dan kreatinin, peningkatan Kreatin kinase, Analisis gas darah
dapat normal atau abnormal. Kelainan laboratorium sesuai dengan perjalanan
penyakit dan komplikasi yang ditemukan.
2. Pemeriksaan hematologi
Hemoglobin, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit, limfosit total.umumnya
ditemukan leukopeni, limfositopeni dan trombositopeni.
3. Uji RT-PCR (Reverse Transcription Polymerase Chain Reaction) untuk H5
4. Baiakan dan identifikasi virus Influenza A subtipe H5N1
5. Uji serologi
6. Uji penapisan
- Rapid test untuk mendeteksi influenza A
- ELISA untuk mendeteksi H5N1
7. Pemeriksaan radiologik
Pemeriksaan foto thoraks PA dan lateral harus dilakukan pada setiap tersangka flu
burung. Gambaran infiltrat di paru menunjukkan bahwa kasus ini adalah
pneumonia. Pemeriksaan lain yang dianjurkan adalah pemeriksaan CT Scan untuk
kasus dengan gejala klinik flu burung tetapi hasil foto thoraks normal sebagai
langkah diagnostik dini.
8. Pemeriksaan post Mortem
Pada pasien meninggal sebelum diagnosis flu burung tertegakkan, dianjurkan
untuk mengambil sediaan postmortem dengan jalan biopsi pada mayat (necropsi),
specimen dikirim untuk pemeriksaan patologi anatomi dan PCR.
F. PENATALAKSANAAN MEDIS
Untuk penatalaksanaan umum dapat dilakukan pelayanan di fasilitas kesehatan non
rujukan dan di rumah sakit rujukan flu burung.
1. Untuk pelayanan di fasilitas kesehatan non rujukan flu burung diantaranya adalah:

5
a. Pasien suspek flu burung langsung diberikan Oseltamivir 2 x 75 mg (jika anak,
sesuai dengan berat badan) lalu dirujuk ke RS rujukan flu burung.
b. Untuk puskesmas yang terpencil pasien diberi pengobatan oseltamivir sesuai
skoring di bawah ini, sementara pada puskesmas yang tidak terpencil pasien
langsung dirujuk ke RS rujukan. Kriteria pemberian oseltamivir dengan sistem
skoring, dimodifikasi dari hasil pertemuan workshop “Case Management” &
pengembangan laboratorium regional Avian Influenza, Bandung 20 – 23 April
2006.
2. Pelayanan di Rumah Sakit Rujukan
Pasien Suspek H5N1, probabel, dan konfirmasi dirawat di ruang isolasi.
a. Petugas triase memakai APD, kemudian segera mengirim pasien ke ruang
pemeriksaan.
b. Petugas yang masuk ke ruang pemeriksaan tetap mengunakan APD dan
melakukan kewaspadaan standar.
c. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik.
d. Setelah pemeriksaan awal, pemeriksaan rutin (hematologi dan kimia) diulang
setiap hari sedangkan HI diulang pada hari kelima dan pada waktu pasien
pulang.
e. Pemeriksaan PCR dilakukan pada hari pertama, kedua, dan ketiga perawatan.
f. Pemeriksaan serologi dilakukan pada hari pertama dan diulang setiap lima hari.
g. Penatalaksanaan di ruang rawat inap.
3. Keperawatan:
a. Perhatikan :
1) Keadaan umum.
2) Kesadaran.
3) Tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu).
4) Bila fasilitas tersedia, pantau saturasi oksigen dengan alat pulse oxymetry.
b. Terapi suportif : terapi oksigen, terapi cairan, dll. Mengenai antiviral maka
antiviral sebaiknya diberikan pada awal infeksi yakni pada 48 jam pertama.
Adapun pilihan obat :
1) Penghambat M2 : Amantadin (symadine), Rimantidin (flu madine). Dengan
dosis 2x/hari 100 mg atau 5 mg/kgBB selama 3-5 hari.
2) Penghambatan neuramidase (WHO) : Zanamivir (relenza), Oseltamivir (tami
flu). Dengan dosis 2x75 mg selama 1 minggu.

6
Departemen Kesehatan RI dalam pedomannya memberikan petunjuk sebagai
berikut :
a. Pada kasus suspek flu burung diberikan Oseltamivir 2x75 mg 5 hari,
simptomatik dan antibiotik jika ada indikasi.
b. Pada kasus probable flu burung diberikan Oseltamivir 2x75 mg selama 5 hari,
antibiotic spectrum luas yang mencakup kuman tipik dan atipikal, dan steroid
jika perlu seperti pada kasus pneumonia berat, ARDS. Respiratory care di ICU
sesuai indikasi.
Sebagai profilaksis, bagi mereka yang beresiko tinggi, digunakan Oseltamivir
dengan dosis 75 mg sekali sehari selama lebih dari 7 hari (hingga 6 minggu).
4. Pengobatan
Pengobatan bagi penderita flu burung adalah:
a) Oksigenasi bila terdapat sesak napas.
b) Hidrasi dengan pemberian cairan parenteral (infus).
c) Pemberian obat anti virus oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 7 hari.
d) Anti replikasi neuramidase (inhibitor): Tamiflu dan Zanamivir.
e) Amantadin diberikan pada awal infeksi, sedapat mungkin dalam waktu 48 jam
pertama selama 3-5 hari dengan dosis 5 mg/kg BB perhari dibagi dalam 2
dosis. Bila berat badan lebih dari 45 kg diberikan 100 mg 2 kali sehari.

7
G. PATOFISIOLOGI

- Melalui udara, air


Unggas terinfeksi
virus influenza A
makanan unggas yang H5N1
terinjeksi Hambatan mobilitas fisik
- Kontak dengan kotoran Infeksi sel epitel
unggas
saluran nafas Kelemahan
- Kontak dengan unggas
hidup yang sakit atau
terinfeksi flu burung Pembentukan Malaise
- Menyentuh produk
proinflammatory
cytocine termasuk
unggas yang terinfeksi Myalgia
interleukin-1,
flu burung interleukin-6 dan
Tn alfa Nyeri
Hipertermia

Demam Kerusakan jaringan


paru
Evaporasi
Evaporasi
Eksudasi edema intra Gangguan difusi oksigen
alveolar
Kekurangan volume
Hipoksia
cairan
Ketidakefektifan jalan
nafas
Gangguan pertukaran gas

8
9