Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanah adalah bagian yang terdapat pada kerak bumi yang tersusun atas
mineral dan bahan organik. Tanah merupakan salah satu penunjang yang
membantu kehidupan semua mahluk hidup yang ada di bumi. Tanah sangat
mendukung terhadap kehidupan tanaman yang menyediakan hara dan air di
bumi.
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang secara fisik berfungsi
sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran penopang tegak
tumbuhnya tanaman dan menyuplai kebutuhan air dan udara; secara kimiawi
berfungsi sebagai gudang dan penyuplai hara atau nutrisi (senyawa organik
dan anorganik sederhana dan unsur-unsur esensial seperti: N, P, K, Ca, Mg,
S, Cu, Zn, Fe, Mn, B, Cl); dan secara biologi berfungsi sebagai habitat biota
(organisme) yang berpartisipasi aktif dalam penyediaan hara tersebut dan zat-
zat aditif (pemacu tumbuh, proteksi) bagi tanaman.
Untuk bidang pertanian, tanah merupakan media tumbuh tanaman.
Media yang baik bagi pertumbuhan tanaman harus mampu menyediakan
kebutuhan tanaman seperti air, udara, unsur hara, dan terbebas dari bahan-
bahan beracun dengan konsentrasi yang berlebihan. Oleh karena itu,
praktikum ini dilakukan agar mahasiswa mengetahui cara penggunaan alat
dan bahan yang tepat dalam ilmu tanah sehingga hasil pengamatan yang
didapatkan optimal.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini, yaitu :
1. Agar mahasiswa mengetahui alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum dasar-dasar ilmu tanah.
2. Agar mahasiswa mengetahui fungsi dan cara penggunaan alat-alat
praktikum dasar-dasar ilmu tanah.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanah
Tanah adalah suatu benda alami yang terdapat di permukaan kulit bumi,
yang tersusun dari bahan-bahan mineral sebagai hasil pelapukan sisa
tumbuhan dan hewan, yang merupakan medium pertumbuhan tanaman
dengan sifat-sifat tertentu yang terjadi akibat gabungan dari faktor-faktor
iklim, bahan induk, jasad hidup, bentuk wilayah dan lamanya waktu
pertumbuhan (Bale, 2001).
Tanah dalam bahasa inggris disebut soil, tanah adalah suatu benda fisis
yang berdimensi tiga terdiri dari panjang, lebar, dan dalam yang merupakan
bagian paling atas dari kulit bumi. Kata “tanah” seperti banyak kata umum
lainnya, mempunyai beberapa pengertian. Dalam pengertian tradisional,
tanah adalah medium alami untuk pertumbuhan tanaman daratan, tanpa
memperhitungkan tanah tersebut mempunyai horizon yang kelihatan atau
tidak. Tanah menutupi permukaan bumi sebagai lapisan yang sambung
menyambung, terkecuali pada batuan tandus, pada wilayah yang terus
menerus membeku, atau tertutup air dalam, atau pada lapisan es terbuka suatu
gletser (Sutedjo, 1991).
Struktur tanah merupakan susunan ikatan partikel tanah satu sama lain.
Ikatan tanah berbentuk sebagai agregat tanah. Apabila syarat agregat tanah
terpenuhi maka dengan sendirinya tanpa sebab dari luar disebut ped,
sedangkan ikatan yang merupakan gumpalan tanah yang sudah terbentuk
akibat pengerjaan tanah disebut clod. Untuk mendapatkan struktur tanah yang
baik dan valid harus dengan melakukan kegiatan dilapangan, sedang
laboratorium relatif sukar, terutama dalam mempertahankan keasliannya dari
bentuk agregatnya (Hardjowigeno, 1992).
Tanah yang telah berkembang mempunyai sifat yang berbeda-benda
meliputi perbedaan sifat profil tanah seperti jenis dan susunan horizon,
kedalaman solum tanah, kandungan bahan organik dan liat, kandungan air,
dan sebagainya. Ada dua belas ordo tanah menurut Soil Taxonomy yaitu

2
entisol, andisol, inseptisol, vertisol, ultisol, oxisol, alfisol, mollisol, spodosol,
histosol, aridisol, dan gleisol (Saridevi, 2013).

2.2 Komponen dan Profil Tanah


Tanah mempunyai sifat kompleks, terdiri atas komponen padat yang
berinteraksi dengan cairan dan udara. Komponen pembentuk tanah
merupakan padatan, cairan dan udara jarang berada dalam kondisi setimbang,
selalu berubah mengikuti perubahan yang terjadi di atas permukaan tanah
yang dipengaruhi oleh suhu udara, angin dan sinar matahari (Lugito, 2012).
Tanah terdiri dari lima komponen yaitu bahan mineral, bahan organik,
udara, air, dan jasad renik. Bahan penyusun tanah yakni bahan organik, bahan
mineral, dan air merupakan satu kesatuan yang bercampur didalam tanah
sehingga sulit dipisahkan satu sama lainnya (Lugito, 2012).
Profil tanah merupakan irisan vertikal tanah pada tubuh tanah dari
lapisan paling atas hingga ke bebatuan induk tanah (regolit), yang biasanya
terdiri dari horison-horison O-A-E-B-C-R. Empat lapisan teratas yang masih
dipengaruhi cuaca disebut solum tanah, horison O-A disebut lapisan tanah
atas dan horison E-B disebut lapisan tanah bawah (Hanafiah, 2005).
Horison O merupakan horison organik yang terbentuk di atas lapisan
tanah mineral. Di daerah rawa-rawa, horison O merupakan horison utama
pada tanah gambut. Horison A, merupakan horison di permukaan tanah yang
terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral berwarna lebih gelap
daripada horison di bawahnya. Horison E, pada horison E terjadi pencucian
(eluviasi) maksimum terhadap liat, Fe, Al, bahan organic dan berwarna pucat
(Hanafiah, 2005).
Horison B, suatu horison mineral bawah muka yang dicirikan oleh
pemekatan lempung halus, besi, aluminium, atau humus secara illuvial, baik
sendiri-sendiri atau penggabungan. Horison C dicirikan dengan bahan induk
yang sedikit terlapuk, sehingga lunak dan dapat ditembus akar tanaman.
Sedangkan horison R merupakan batuan keras yang belum dilapuk dan tidak
dapat ditembus akar tanaman (Hanafiah, 2005).

3
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari Rabu, 02 Oktober 2019 pukul
11.20-13.00 WIB bertempat di Laboratorium Bioteknologi,
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum ini antara lain ring sample, buku
“Munsell Soil Color Chart”, abney level, cawan petri, altimeter, soil moisture
level, bor biopori, timbangan analitik, desikator, gegep, mesh diameter, set
buret, pipet ukur, pipet volume, erlenmeyer, gelas ukur, gelas piala, labu ukur,
botol kocok, shaker, pH meter, dan hot plate.
Bahan yang digunakan pada praktikum ini antara lain KCl, indikator
phenolptalein, indikator ferroin, NaOH, HCl, NaF, K2Cr2O7, H2SO4, FeSO4,
H2O2, dan Na4P2O7.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada ini adalah sebagai berikut :
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dijelaskan nama, fungsi, dan cara pemggunaan alat dan bahan oleh asisten
laboratorium.
3. Informasi yang didapatkan dicatat oleh praktikan.
4. Dibuat dalam bentuk tabel.

4
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Pengenalan Alat-Alat Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah
No. Gambar Fungsi

Ring sample berfungsi untuk


1. mengambil sampel tanah di
lapangan.

Ring sample

Munsell soil color chart berfungsi


2. untuk menentukan warna sampel
tanah yang diamati.

Munsell soil color chart

Abney level berfungsi untuk


3. mengetahui derajat kemiringan
lereng suatu areal tanah.
Abney level

Cawan petri berfungsi sebagai


4. wadah untuk menempatkan tanah
yang akan diamati.
Cawan petri

Altimeter berfungsi untuk


mengukur ketinggian suatu tempat
5.
yang dihitung dari permukaan
laut.
Altimeter

5
Soil moisture meter berfungsi
untuk mengetahui suhu,
6. kelembaban, pH, dan intensitas
cahaya pada suatu areal tanah
yang diukur.
Soil moisture meter

Bor biopori berfungsi untuk


7. mengambil sampel tanah di
lapangan.

Bor biopori

Timbangan analitik berfungsi


untuk menimbang bahan dengan
8.
ketelitian tinggi.

Timbangan analitik

Desikator berfungsi untuk


mengeringkan alat dan bahan
9.
yang telah atau akan dipakai
dalam praktikum atau penelitian.
Desikator

Gegep berfungsi untuk mencapit


tabung reaksi, membantu untuk
memindahkan tabung reaksi
10.
ataupun gelas piala setelah atau
akan dipanaskan.

Gegep

6
Mesh berfungsi untuk mengayak
11. tanah sampai dengan ukuran yang
kita inginkan.
Mesh diameter 50.00μl dan
<1.00 mm

Set buret berfungsi untuk


meneteskan sebuah cairan reaksi
12. dalam percobaan yang
memerlukan presisi yang tinggi,

Set buret misalnya percobaan titrasi.

Pipet ukur berfungsi untuk


mengambil atau menambahkan
13. larutan dengan ukuran tertentu
sesuai kebutuhan yang teramati
Pipet ukur pada skala.

Pipet volume berfungsi untuk


mengambil larutan sejumlah
14.
kapasitas volume pipet tersebut.

Pipet volume

Erlenmeyer berfungsi untuk


mereaksikan atau melarutkan
15.
campuran agar homogen.

Erlenmeyer

Gelas ukur berfungsi untuk


mengukur cairan atau larutan
16. yang akan digunakan dalam
praktikum.

Gelas ukur

7
Gelas piala berfungsi untuk
mengukur cairan atau larutan
17. yang akan digunakan dalam
praktikum dan sebagai

Gelas piala penampungan sementara.

Labu ukur berfungsi untuk


18. melakukan reaksi pencampuran.

Labu ukur

Botol kocok berfungsi untuk


19. menghomogenkan tanah dengan
suatu larutan.

Botol kocok

Berfungsi untuk mencampurkan


atau menghomogenkan sejumlah
20.
bahan dalam suatu wadah
berukuran kecil.
Shaker

pH meter berfungsi untuk


mengukur keasaman atau
21.
kebasaan suatu larutan.

pH meter

Hot plate berfungsi untuk


22.
memanaskan suatu larutan.

Hot plate

8
Tabel 2. Pengenalan Bahan-Bahan Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah
No. Gambar Fungsi

Untuk mengevaluasi kesuburan


1.
tanah.
KCl 1 M

Untuk menentukan titik ekuivalen


2.
saat proses titrasi.
Indikator phenolptalein

Untuk menentukan titik akhir saat


3.
proses titrasi.

Indikator ferroin

4. Menyerap uap air dan CO2

NaOH 0,1 N

Mengetahui unsur kapur di dalam


5.
tanah.

HCl

Berperan dalam proses


6.
pembukaan stomata.

NaF

9
Untuk memecah karbon di dalam
7.
tanah.

K2Cr2O7

Untuk mengikat karbon dalam


8.
tanah.

H2SO4

9. Untuk penitrasi larutan.

FeSO4

Untuk membasmi jamur yang


hidup di tanah dan membantu
10.
proses dispersi tanah.

H2O2

Untuk membersihkan air limbah


11. yang tercampur dengan polusi dan
membantu proses dispersi tanah.
Na4P2O7

10
4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini praktikan mempelajari tentang alat dan bahan yang
digunakan dalam praktikum dasar-dasar ilmu tanah. Pertama, untuk
mengambil sampel tanah kita bisa menggunakan ring sample dan bor biopori.
Teknik mengambil sampel tanah ada tiga, yaitu : (1) komposit, teknik ini bisa
dilakukan pada areal yang berbeda dan sampelnya dapat berupa campuran
antara tanah dan pasir; (2) zigzag, teknik ini digunakan pada areal yang sama;
(3) random, teknik ini dapat dilakukan pada areal yang berbeda. Namun,
kedalaman dalam proses pengambilan sampel tanah harus sama. Jika
sebelumnya mengambil sampel tanah dengan kedalaman 50 cm maka
pengambilan selanjutnya juga harus 50 cm.
Penggunaan ring sample dan bor biopori sekilas sama. Untuk ring
sample, taruh bagian yang tajamnya terlebih dahulu pada tanah kemudian
ditekan agar terisi penuh, pastikan tidak ada kekosongan ruang. Kemudian,
sampel tanah yang berlebih dibuang menggunakan pisau atau benda lainnya
yang dapat membuang kelebihan sampel tanah yang diambil. Lalu, ring
sample ditutup dengan tutup yang telah disediakan. Untuk penggunaan bor
biopori sama dengan ring sample, cukup tekan bor kedalam tanah kemudian
diangkat dan pastikan tidak ada kekosongan ruang serta tanah yang berlebih
harus dibuang. Tanah yang diambi berupa tanah utuh, untuk memudahkan uji
sifat fisik tanah. Jika tanah yang diambil tanah terganggu maka proses
pengamatan tentang sifat fisik tanah akan terganggu pula.
Untuk mengamati wana tanah dapat digunakan buku Munsell Soil Color
Chart. Warna tanah ditentukan dengan membandingkan warna tanah tersebut
dengan warna standar pada buku Munsell Soil Color Chart. Diagram warna
baku ini disusun tiga variabel, yaitu: (1) hue, (2) value, dan (3) chroma. Hue
adalah warna spektrum yang dominan sesuai dengan panjang gelombangnya.
Value menunjukkan gelap terangnya warna, sesuai dengan banyaknya sinar
yang dipantulkan. Chroma menunjukkan kemurnian atau kekuatan dari warna
spektrum. Chroma didefiniskan juga sebagai gradasi kemurnian dari warna
atau derajat pembeda adanya perubahan warna dari kelabu atau putih netral
(0) ke warna lainnya (19).

11
Hue dibedakan menjadi 10 warna, yaitu: (1) Y (yellow = kuning), (2)
YR (yellow-red), (3) R (red = merah), (4) RP (red-purple), (5) P (purple =
ungu), (6) PB (purple-brown), (7) B (brown = coklat), (8) BG (grown-gray),
(9) G (gray = kelabu), dan (10) GY (gray-yellow). Selanjutnya setiap warna
ini dibagi menjadi kisaran hue sebagai berikut: (1) hue = 0-2,5; (2) hue = 2,5-
5,0; (3) hue = 5,0-7,5; (4) hue = 7,5-10. Nilai hue ini dalam buku hanya ditulis:
2,5 ; 5,0 ; 7,5 ; dan 10.
Berdasarkan buku Munsell Saoil Color Chart nilai hue dibedakan
menjadi: (1) 5 R; (2) 7,5 R; (3) 10 R; (4) 2,5 YR; (5) 5 YR; (6) 7,5 YR; (7) 10
YR; (8) 2,5 Y; dan (9) 5 Y, yaitu mulai dari spektrum dominan paling merah
(5 R) sampai spektrum dominan paling kuning (5 Y), selain itu juga sering
ditambah untuk warna-warna tanah tereduksi (gley) yaitu: (10) 5 G; (11) 5
GY; (12) 5 BG; dan (13) N (netral).
Value dibedakan dari 0 sampai 8, yaitu makin tinggi value menunjukkan
warna makin terang (makin banyak sinar yang dipantulkan). Nilai value pada
lembar buku Munsell Soil Color Chart terbentang secara vertikal dari bawah
ke atas dengan urutan nilai 2; 3; 4; 5; 6; 7; dan 8. Angka 2 paling gelap dan
angka 8 paling terang.
Chroma juga dibagi dari 0 sampai 8, dimana makin tinggi chroma
menunjukkan kemurnian spektrum atau kekuatan warna spektrum makin
meningkat. Nilai chroma pada lembar buku Munsell Soil Color Chart dengan
rentang horisontal dari kiri ke kanan dengan urutan nilai chroma: 1; 2; 3; 4; 6;
8. Angka 1 warna tidak murni dan angka 8 warna spektrum paling murni.
Untuk mengetahui derajat kemiringan lereng atau suatu daerah kita
dapat menggunakan abney level. Beberapa kelebihan abney level adalah
mudah untuk digunakan, relatif murah dan akurat. Abney level digunakan
untuk mengukur derajat dan elevasi topografi. Alat ini berupa teropong yang
dilengkapi dengan busur setengah lingkaran. Cara penggunaan abney level
adalah sebagai berikut : (1) pegang alat abney level, letakkan lubang tempat
membidiknya di mata; (2) bidikan ke suautu sasaran yang lebih tinggi dari
mata kita; (3) atur atau gerakan setengah lingkaran berskalanya ke atas atau
ke bawah sampai gelembung nivo yang terlihat di teropong tepat di benang

12
mendatar; dan (4) lihat angka skala pada setengah lingkarang tadi. angka
tersebut menunjukkan kemiringan atau bidikan yang kita lakukan.
Selanjutnya, cawan petri. Alat ini berbentuk seperti mangkuk namun
dengan dasar yang rata. Selain digunakan untuk menempatkan sampel tanah
yang akan digunakan untuk penelitian, alat ini juga digunakan untuk kultur
media ataupun pengembangbiakkan mikroorganisme. Hal ini seperti yang
diungkapkan oleh Andriani (2016) bahwa cawan petri yaitu wadah yang
menyerupai mangkuk dengan dasar rata. Cawan ini digunakan sebagai wadah
penyimpanan dan pembuatan kultur media. Prinsip kerjanya yaitu medium
dapat dituangkan ke cawan bagian bawah dan cawan bagian atas sebagai
penutup.
Selanjutnya, altimeter. Altimeter merupakan sebuah alat yang di pakai
untuk mengukur ketinggian suatu titik tertentu dari permukaan laut. Alat ini
biasanya di pakai untuk berbagai keperluan seperti pendakian, penerbangan
serta berbagai kegiatan yang berhubungan dengan yang bernama ketinggian.
Altimeter ini bekerja dengan beberapa prinsip yaitu : (1) tekanan udara (yang
paling umum dipakai); (2) magnet bumi (dengan sudut inclinasi); dan (3)
gelombang (ultra sonic ataupun infra merah dan lain sebagainya). Penggunaan
altimeter biasanya dibarengi dengan penggunaan kompas.
Selanjutnya, soil moisture level. Alat ini berfungsi untuk mengukur
suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan pH. Dalam pengoperasiannya, alat
ini ditaruh di kedalaman tanah sekitar 0 cm-20 cm pada daerah perakaran
tanaman. Kekurangan dari alat ini adalah untuk pengukuran intensitas cahaya
dan kelembaban hanya disajikan data kualitatif bukan kuantitatif. Untuk
intensitas cahaya hanya ada low dan high. Umtuk kelembaban hanya ada dry,
normal, dan wet.
Selanjutnya, timbangan analitik. Alat ini berfungsi untuk menimbang
suatu objek penelitian dengan ketelitian yang tinggi. Dalam proses
pengukuran berat, alat ini tidak boleh tersenggol karena dikhawatirkan akan
memengaruhi hasil dari pengukuran objek yang diamati. Prinsip kerjanya
yaitu dengan penggunaan sumber tegangan listrik yaitu stavolt dan dilakukan
peneraan terlebih dahulu (kalibrasi) sebelum digunakan kemudian bahan

13
diletakkan pada neraca lalu dilihat angka yang tertera pada layar, angka itu
merupakan berat dari bahan yang ditimbang.
Selanjutnya, desikator. Desikator adalah wadah untuk mengeringkan
suatu spesimen dan menjaganya dari kelembaban udara. Di bagian bawah
desikator terdapat silica gel yang berfungsi untuk menyerap air. Desikator
dilengkapi dengan penutup kaca yang dilapisi oleh vaselin. Vaselin atau
petroleum jelly merupakan hidrokarbon golongan alkana dengan 20 hingga
30 atom karbon yang berasal dari minyak bumi. Vaselin berfungsi sebagai
penutup celah antara penutup dan wadah desikator sehingga tidak ada aliran
udara masuk atau keluar dari desikator. Vaselin juga berfungsi sebagai zat anti
mikroorganisme.
Selanjutnya, gegep. Gegep atau yang biasa disebut pencapit adalah alat
yang digunakan untuk mengambil tabuk reaksi pada saat berisi larutan panas
atau larutan yang berbahaya. Ada dua tipe gegep yang pertama seperti tang
dan yang kedua seperti pencapit makanan. Kemudian, mesh diameter 50.00μl
dan <1.00 mm yang digunakan untuk mengayak tanah. Biasanya dalam proses
pengayakan, alat ini disusun dari yang terbesar sampai yang terkecil. Ukuran
yang digunakan dalam pengayakan bisa dinyatakan dengan mesh maupun mm
(metrik), yang dimaksud mesh adalah jumlah lubang yang terdapat dalam satu
inchi persegi (square inch), sementara jika dinyatakan dalam mm maka angka
yang ditunjukkan merupakan besar material yang diayak. Ayakan dengan
nomor mesh kecil memiliki lubang ayakan yang besar berarti ukuran partikel
yang melewatinya juga berukuran besar. Dan sebaliknya ayakan dengan
nomor mesh besar memiliki lubang ayakan kecil berarti ukuran partikel yang
melewatinya kecil. Tujuan penyusunan ayakan adalah memisahkan partikel
sesuai dengan ukuran partikel masing-masing sehingga bahan yang lolos
ayakan pertama akan tersaring pada ayakan kedua dan seterusnya hingga
partikel itu tidak dapat lagi melewati ayakan dengan nomor mesh tertentu.
Saat pengayakan sebaiknya granul tidak menumpuk pada satu sisi saja agar
kesempatan granul untuk lolos dari ayakan berjalan dengan baik.
Selanjutnya, set buret. Set buret berfungsi untuk meneteskan sebuah
cairan reaksi dalam percobaan yang memerlukan presisi yang tinggi, misalnya

14
percobaan titrasi. Selanjutnya, alat untuk mengukur dan mengambil larutan
yaitu pipet ukur dan pipet volume. Pipet adalah alat berbentuk silinder kecil
dan panjang mirip dengan sedotan. Terbuat dari bahan gelas yang dilengkapi
dengan ukuran dalam mililiter (ml). Pipet ukur berfungsi untuk memindahkan
larutan atau cairan ke dalam suatu wadah dengan berbagai ukuran volume.
Untuk ukuran volume pada pipet ukur yang paling besar adalah pipet ukur
dengan volume 50ml. Sedangkan pipet volume mempunyai bentuk yang
berbeda dengan pipet lainnya dengan bentuk menggelembung ditengahnya.
Bentuk yang menggelembung berfungsi untuk menyimpan larutan dengan
volume tepat sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang
menggelembung (gondok) pada bagian tengah pipet. Pipet ukur dan pipet
volume harus digunakan bersama dengan bulp pipet.
Senyawa KCl dapat digunakan dalam campuran pupuk. Pupuk KCL
atau MOP mengandung kadar kalium (K2O) sebesar 60% serta klorida
sebesar 46%. Pupuk ini memiliki warna merah maupun putih, dengan tekstur
yang menyerupai kristal. Pupuk KCL memiliki sifat mudah larut dalam air.
Pupuk KCL (MOP) memiliki konsentrasi nutrisi yang sangat tinggi. Oleh
karena itu ia memiliki harga yang relatif kompetitif dengan jenis-jenis pupuk
lain yang mengandung kalium.
Unsur hara yang terdapat dalam pupuk KCL merupakan senyawa
kalium yang dapat dengan mudah diserap tanaman. Namun sebelum dapat
terserap dengan baik, pupuk KCl akan terlebih dahulu terurai menjadi
senyawa K2O dan ion Cl dalam tanah. K2O memiliki berbagai macam manfaat
untuk pertumbuhan dan menguatkan daya tahan tanaman terhadap berbagai
serangan penyakit, sedangkan jika ion Cl diaplikasikan secara berlebih pada
tanaman, justru dapat merugikan tanaman.
Selain itu, penggunaan senyawa KCl pada tanah yang nantinya akan
diserap oleh tanaman dapat memberikan hasil seperti peningkatan hasil panen,
peningkatan kesuburan tanah, tanaman lebih tahan stress dan rentan terhadap
penyakit, serta untuk mengetahui kebutuhan kapur dalam tanah. Hal ini
sejalan dengan yang disampaikan oleh Kabala (2016) bahwa penggunaan KCl

15
pada tanah sebagai solusi untuk mengevaluasi kesuburan tanah, kebutuhan
pengapuran, dan tanah yang terkontaminasi.
Selanjutnya, indikator phenolptalein. Fungsi penambahan indikator
phenolptalein pada titrasi asam basa yaitu untuk menentukan titik ekuivalen.
Indikator phenolptalein berubah warna di sekitar titik ekuivalen dan
merupakan indikator yang sesuai. Indikator phenolptalein akan terurai
menjadi bentuk tidak berwarna dan kemudian dengan hilangnya proton kedua
menjadi ion dengan sistem terkonjugat alan menghasilkan warna merah.
Sedangkan indikator ferroin digunakan untuk menentukan titik akhir titrasi
yaitu disaat warna hijau biru larutan berubah menjadi coklat merah.
Selanjutnya, NaOH. Senyawa NaOH ini membantu mencegah
terjadinya penguapan atau evaporasi. NaOH menyerap dan mempertahankan
air di dalam tanah dan juga tanaman. Namun, NaOH tidak baik untuk tanaman
apabila keadaannya berlebih. Selain itu, NaOH juga dapat menyerap CO 2,
dimana karbondioksida ini merupakan salah satu senyawa yang dibutuhkan
oleh tanaman dalam proses fotosintesis. Sedangkan HCl berfungsi untuk
mengetahui unsur kapur di dalam tanah. Dimana zat kapur sendiri
mempumyai peranan dalam meningkatkan sifat fisik, kimia, dan biologi tanah
serta meningkatkan ketersediaan nutrisi bagi tanaman dan juga tanah itu
sendiri.
Senyawa NaF ini memiliki kemampuan dalam mebantu pembukaan
stomata daun yang artinya akan mempermudah proses pertukaran gas di
dalam tanaman. NaF yang akan terurai menjadi ion Na dan F ternyata tidak
semua memberikan dampak positif. Contohnya saja senyawa Na dapat
menggantikan peran senyawa K, tetapi apabila senyawa F berlebihan maka
akan menimbulkan kerusakan pada tanaman seperti tanaman layu. NaF juga
berfungsi sebagai bahan campuran indikator fenilamin dan aquades.
Larutan K2Cr2O7 dan H2SO4 yang masing-masing berfungsi sebagai
pemecah dan pengikat atom karbon ini sangat membantu dalam proses
penetapan kadar C-organik di dalam tanah. Sedangkan FeSO4 berperan
sebagai penitrasi larutan dalam proses titrasi. Untuk larutan H2O2 berfungsi
sebagai anti jamur. H2O2 akan melepaskan atom oksigen yang bersifat anti

16
fungal and anti bacterial. H2O2 juga dapat membantu dalam proses dispersi
tanah melalui proses oksidasi. Sedangkan larutan Na4P2O7 berfungsi untuk
mebersihkan air limbah dan membantu proses dispersi tanah dengan cara
menghilangkan ion atau senyawa perekat.

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Simpulan pada praktikum identifikasi dan klasifikasi gulma ini adalah
praktikan dapat membedakan dan mengelompokkan gulma golongan teki,
gulma golongan rumput, dan gulma golongan daun lebar. Dari ketiga gulma
yang dibawa, gulma teki dan gulma rumput merupakan tanaman tahunan

17
(perennial) sedangkan gulma berdaun lebar termasuk tanaman semusim
(annual).

5.2 Saran
Saran untuk praktikum identifikasi dan klasifikasi gulma selanjutnya
cukup dipertahankan saja sistemnya karena sudah berjalan dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Ririn. 2016. Pengenalan Alat-Alat Laboratorium Mikrobiologi untuk


Mengatasi Keselamatan Kerja dan Keberhasilan Praktikum. Jurnal
Mikrobiologi. Vol. 1 (1).
Bale, A. 2001. Ilmu Tanah I. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Hardjowigeno. 1992. Klasifikasi Tanah. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada
Press.
Lugito. 2012. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
Hanafiah. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta: Rajawali Pers.
Sutedjo. 1991. Mikrobiologi Tanah. Jakarta: Rineka Cipta.
Kabala, Cezary. 2016. Conversion of Soil pH 1:2.5 KCl and 1:2.5 H2O to 1:5 H2O:
Conclusions for Soil Management, Environmental Monitoring, and
International Soil Databases. Journal of Environmental Studies. Vol. 25 (2).

18
19