Anda di halaman 1dari 14

Makalah Hak Asasi Manusia

Diajukan sebagai tugas mata kuliah


Pendidikan Kewarganegaraan

Disusun oleh:
Aulia Putri Utami : 1700016113
Muhammad Faisal Supriansyah : 1700016083
Muhammad Syafarul : 1700016039
Nita Rosiana : 1700016085
Sri Hardianti : 1700016017
Syarul Khori Abrianto : 1700016069

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2017
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................... 1
BAB I PEMBAHASAN
1. Hakikat HAM .......................................................................................... 2
2. HAM dalam Konstitusi Indonesia ........................................................... 4
3. HAM Perspektif Islam ............................................................................. 5
4. Pelaksanaan HAM di Indonesia .............................................................. 6
BAB II ANALISIS KASUS
1. Analisis Kasus Pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia .... 8
2. Analisis Kasus berdasarkan HAM menurut Konstitusi Indonesia .......... 9
3. Analisis Kasus berdasarkan prinsip-prinsip penegakan HAM ................ 10
4. Strategi penegakan HAM sebagai solusi kasus yang dianalisis .............. 11
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan dan Saran ............................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 13

1
BAB 1
PEMBAHASAN

1. Hakikat HAM
1.1 Pengertian HAM
Hak asasi Manusia adalah sejumlah hak yang dimiliki oleh manusia atas
karunia Tuhan Yang Maha Esa. Hak ini diperoleh serta dibawanya sejak dalam
kandungan sampai kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Dikarenakan sifat
kemanusiannya, hak ini tidak dapat dicabut atau dirampas oleh siapapun, sebab
apabila dicabut atau dirampas akan hilang sifat kemanusiannya.

1.2 Macam-macam HAM

1.2.1 Hak Asasi Pribadi (Personal Rights)


Hak Asasi Pribadi adalah hak yang meliputi kebebasan menyatakan pendapat,
kebebasan memeluk agama, bergerak, kebebasan untuk aktif di setiap organisasi,
perkumpulan, atau sebagainya.
Contohnya :

 Hak Kebebasan dalam berpendapat.


 Hak Kebebasan dalam menjalankan kepercayaan dan memeluk agama.
 Hak Kebebasan dalam bepergian, berkunjung, dan berpindah-pindah
tempat.
 Hak Kebebasan ber-organisasi.
 Hak untuk hidup, berperilaku, tumbuh dan berkembang.
 Hak untuk tidak dipaksa dan disiksa.

1.2.2 Hak Asasi Ekonomi (Property Rights)


Hak Asasi Ekonomi adalah hak untuk memiliki, membeli dan menjual, serta
memanfaatkan sesuatu.

Contohnya :

 Hak kebebasan dalam membeli sesuatu.


 Hak kebebasan mengadakan dan melakukan perjanjian kontrak.
 Hak memiliki sesuatu.
 Hak memiliki pekerjaan yang layak.
 Hak kebebasan melakukan transaksi.
 Hak untuk menikmati SDA.
 Hak untuk memperoleh kehidupan yang layak.
 Hak untuk meningkatkan kualitas hidup.

2
1.2.3 Hak Asasi Politik (Political Right)
Hak Asasi Politik adalah hak ikut serta dalam pemerintahan, hak pilih dan dipilih

Contohnya :

 Hak memilih dalam suatu pemilihan, misalnya pemilihan presiden.


 Hak dipilih dalam pemilihan, misalnya pemilihan ketua rt.
 Hak kebebasan ikut serta dalam kegiatan pemerintahan.
 Hak mendirikan partai politik.
 Hak memberikan usulan-usulan atau pendapat yang berupa usulan petisi.
 Hak diangkat dalam jabatan pemerintah.

1.2.4 Hak Asasi Hukum (Rights Of Legal Equality)


Hak Asasi Hukum adalah hak untuk mendapatkan perlakukan yang sama dalam
hukum dan pemerintahan.

Contohnya :

 Hak mendapatkan layanan dan perlindungan hukum.


 Hak mendapatkan dan memiliki pembelaan hukum pada peradilan.
 Hak yang sama dalam proses hukum.
 Hak dalam perlakuan yang adil atau sama dalam hukum.
 Baca juga: 30 Contoh Sikap Taat Terhadap Hukum

1.2.5 Hak Asasi Sosial dan Budaya (Social and Culture Rights)
Hak Asasi Sosial dan Budaya adalah hak yang menyangkut dalam masyarakat yaitu
untuk memilih pendidikan, hak untuk mengembangkan kebudayaan dan lain
sebagainya.

Contohnya :

 Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.


 Hak untuk mendapat pelajaran.
 Hak untuk memperoleh jaminan sosial
 Hak untuk berkomunikasi
 Hak untuk memilih, menentukan pendidikan.
 Hak untuk mengembangkan bakat dan minat.

3
1.2.6 Hak Asasi Peradilan (Procedural Rights)
Hak Asasi Peradilan adalah hak untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan
perlindungan (procedural rights), misalnya peraturan dalam hal penahanan,
penangkapan dan penggeledahan.

Contohnya :

 Hak memperoleh kepastian hukum.


 Hak menolak digeledah tanpa surat adanya surat penggeledahan.
 Hak mendapatkan pembelaan dalam hukum.
 Hak untuk mendapatkan hal yang sama dalam berlangsungnya proses hukum
baik itu penyelidikan, penggeledahan, penangkapan, dan penahanan
 Hak mendapatkan perlakukan adil dalam hukum

2. HAM dalam Konstitusi Indonesia


2.1. UUD 1945
UUD 1945 sering disebut dengan “UUD Proklamasi”. Dikatakan demikian
karena kemunculannya bersamaan dengan lahirnya Negara Indonesia melalui Proklamasi
kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pergulatan pemikiran,
khususnya pengaturan HAM dalam konstitusi begitu intens terjadi dalam persidangan-
persidangan BPUPKI dan PPKI.
Satu hal menarik bahwa meskipun UUD 1945 adalah hukum dasar tertulis
yang di dalamnya memuat hak-hak dasar manusia Indonesia serta kewajiban-kewajiban yang
bersifat dasar pula, namun istilah perkataan HAM itu sendiri sebenarnya tidak dijumpai
dalam UUD 1945, baik dalam pembukaan, batang tubuh, maupun penjelasannya
Diakui bahwa proses perumusan UUD 1945 sangat tergesa-gesa. Waktu yang
tersedia dirasakan sangat pendek apalagi dalam kenyataanya dihadapkan dengan momentum
Proklamasi Kemerdekaan RI. Atas dasar itu, Presiden Soekarno menandaskan bahwa UUD
1945 adalah “UUD kilat”, yang karenanya harus dilakukan perubahan pada saat Indonesia
merdeka. Jelas kelihatan bahwa pengaturan HAM berhasil dirumuskan dalam UUD 1945. Itu
artinya, bahwa jauh sebelum lahirnya UDHR/DUHAM versi PBB, Indonesia ternyata lebih
awal telah memberlakukan sebuah UUD yang mengatur perihal dan penegakan HAM di
Indonesia.
2.2. Konstitusi RIS 1949
UUDRIS sering disebut dengan Konstitusi Republik Indonesia Serikat (KRIS)
tahun 1949. Secara formal dengan UUDRIS ini perjuangan kemerdekaan nasional dan
pengakuan internasional terhadap Indonesia sebagai negara berdaulat telah tercapai.
Dalam Konstitusi RIS 1949, pengaturan HAM terdapat dalam Bagian V yang
berjudul “Hak-Hak dan Kebebasan-kebebasan Dasar Manusia”. Pada bagian tersebut terdapat
27 pasal dari mulai Pasal 7 sampai dengan Pasal 33. Eksistensi manusia secara tegas
dinyatakan pada Pasal 7 ayat (1) yang berbunyi, “Setiap orang diakui sebagai manusia:.

4
2.3. UUDS 1950
UUDS 1950 terdiri atas 6 bagian dan 43 pasal. Dari tiga UUD yang berlaku
sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, menurut Adnan Buyung Nasution, negara ini
pernah memiliki UUD yang memuat pasa- pasal tentang HAM yang lebih lengkap daripada
UDHR/DUHAM, yaitu UUDS 1950.
Ketentuan HAM diatur pada Bagian V (Hak- hak dan Kebebasan- kebebasan
Dasar Manusia) dari mulai Pasal 7 sampai Pasal33. Menariknya, pemerintah juga memiliki
kewajiban dasar konstitusional yang diatur sedemikian rupa, sebagaimana diatur pada Bagian
VI (Azas- azas Dasar), Pasal 35 sampai dengan Pasal 43. Kewajiban dasar ini dapat dilihat,
misalnya pada Pasal 36.
2.4. Kembali kepada UUD 1945
Pasca keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, praktis hukum dasar
ketatanegaraan Indonesia mengalami suasana setback. Dekrit tersebut menjadi dasar hukum
berlakunya kembali muatan-muatan yang terkandung dalam UUD 1945. Karena itu,
pengaturan HAM adalah sama dengan apa yang tertuang dalam UUD 1945.
2.5. Amandemen UUD 1945
Dalam sejarah UUD 1945, perubahan UUD merupakan sejarah baru bagi masa
depan konstitusi Indonesia. Perubahan UUD 1945 dilakukan sebagai buah dari amanat
reformasi pembangunan nasional sejak turunnya rezim Soeharto (1967-1998). Terdapat
empat kali perubahan yang berturut- turut telah dilakukan sejak tahun 1999 sampai dengan
2002.
Khusus mengenai pengaturan HAM, dapat dilihat pada Perubahan Kedua
UUD 1945 Tahun 2000. Perubahan dan kemajuan signifikan adalah dengan dicantumkannya
persoalan HAM secara tegas dalam sebuah bab tersendiri, yakni Bab XA (Hak Asasi
Manusia) dari mulai Pasal 28A sampai dengan28J.
Berdasarkan ketentuan dari seluruh konstitusi yang berlaku di Indonesia dapat
dikatakan bahwa konseptualisasi HAM di Indonesia telah mengalami proses dialektika yang
serius bdan panjang. Pentingnya pengaturan HAM dalam konstitusi menggambarkan
komitmen atas upaya penegakan hukum dan HAM. Selain itu beragam muatan HAM secara
maksimal telah diupayakan untul mengakomodasi kebutuhan perlindungan HAM secara
keseluruhan.

3. HAM Perspektif Islam


Seiring dengan menguatnya kesadaran global, persoalan tentang universalitas HAM
dan hubungannya dengan berbagai sistem nilai atau tradisi agama terus menjadi perbincangan
wacana HAM kontemporer.
Perkembangan wacana global tentang HAM memberikan penilaian tersendiri bagi
posisi islam. Hubungan antara Islam dan HAM muncul menjadi isu penting , kecuali
didalamnya terdapat interpretasi yang beragam yang terkesan mengandung perdebatan sengit.

5
Islam dan Barat, menurut A.K Brohi, sebenarnya mengupayakan tercapainya
pemeliharaan HAM dan kemerdekaan fundamental individu dalam masyarakat, namun
perbedaan terletak padapendekatan yang digunakan.
Menurut Supriyanto Abdi, setidaknya terdapat tiga varian pandangan tentang
hubungan Islam dan HAM, baik yang dikemukakan oleh para sarjana Barat atau pemikir
Muslim sendiri, yakni: pertama, menegaskan bahwa Islam tidak sesuai dengan gagasan dan
konsepsi HAM modern. Kedua, menyatakan bahwa Islam menerima semangat kemanusiaan
HAM modern, tetapi pada saat yang sama menolak landasan sekulernya dan menggantinya
dalam landasan islami. Ketiga, menegaskan bahwa HAM modern adalah khazanah
kemanusiaan universal dan Islam (bisa dan seharusnya) memberikan landasan normatif yang
sangat kuat terhadapnya.
Pandangan pertama, berangkat dari asas esensialisme dan relativisme kultural.
Esensialisme menunjukkan kepada paham yang menegaskan bahwa suatu gagasan atau
konsep pada dasarnya mengakar atau bersumber pada satu sistem nilai, tradisi, atau
peradaban tertentu. Relativisme kultural adalah paham yang berkeyakinan bahwa satu
gagasan yang lahir atau terkait dengan sistem nilai tertentu tidak bisa berlaku atau tidak bisa
diterapkandalam masyarakat dengan sistem nilai yang berbeda.
Pandangan kedua, lebih dikenal dengan gerakan islamisasi HAM. Pandangan ini
muncul sebagai reaksi “gagal”nya HAM versi Barat dalam mengakomodasi kepentingan
terbesar masyarakat muslim. Gerakan ini merupakan alternatid yang diyakini mampu
menjembatani pemikiran HAM dalam perspektif Islam.
Pandangan ketiga, menegaskan bahwa HAM modern adalah khazanah kemanusiaan
universal dan Islam (bisa dan seharusnya) memberikan landasan normatif yang sangat kuat
terhadapnya. Berbeda dengan dua pandangan sebelumnya, varian ketiga ini menegaskan
bahwa universitalitas HAM sebagai khazanah kemanusiaan yang landasan normatif dan
filosofinya bisa dilacak dan dijumpai dalam berbagai sistem nilai dan tradisi agama, termasuk
Islam didalamnya.

4. Pelaksanaan HAM di Indonesia


Melihat perkembangan zaman, palaksanaan HAM di Indonesia masih menglami maju
mundur. HAM masih baru pada tahap kebijakan dan belum menjadi bagian dari sendi-sendi
dasar kehidupan berbangsa untuk dijadikan sebagai factor pemersatu bangsa. Pelanggaran
HAM yang sering terjadi pada semua aspek kehidupan. Mulai dari hak asasi pribadi, hak asasi
ekonomi, politik, social, budaya bahkan keadilan turut menjadi korban akan keserakahan
perampasan hak dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Selain itu, menurut jumlahnya jenis pelanggaran HAM yang dilaporkan kepada
Komnas yang paling banyak terjadi pada masyarakat. Antara lain kasus persengketaan tanah,
kasus perburuan, kasus perbuatan tidak terpuji oleh aparat negara berupa pelanggaran HAM,
kasus peruumahan dan kasus-kasus di bidang agama. Namun ternyata kasus pelanggaran HAM
yang banyak justru terjadi antara sesama warga masyarakat sendiri.
Bahkan para korban HAM telah memberikan peringkat nomor 1 kepada Indonesia
sebagai negara terburuk dalam menyikapi setiap pelanggaran HAM. Keperihatinan melanda
Karena ternyata belum ada perubahan yang berarti dalam pelaksanaan HAM di Indonesia.
Keperihatinan yang terdalam bahkan dirasakan oleh para korbannya. Hal ini Karena komitmen
pemerintahan terhadap pelaksanaan HAM masih rendah,

6
Dari fakta dan paparan contoh-contoh pelanggaran HAM di atas dapat disimpulkan
bahwa HAM di Indonesia masih sangat memprihatinkan. HAM yang diseur-serukan sebagagi
Hak Asasi Manusia yang paling mendasarpun hanya menjadi sebuah wacana dalam suatu
teks dan implementasinya pun (pengalamannya) kurang efisien. Banyak HAM yang secara
terang-terangan dilanggar seakan-akan hal tersebut sebagai sesuatu yang legal.

Sangat minimnya penegakan HAM di Indonesia bisa disebabkan oleh beberapa faktor,
antara lain :
a. Faktor kondisi sosial budaya
Dimana adanya perbedaan strata sosial yang heterogen pada masyarakat, norma adat atau
budaya lokal yang kadang bertentangan terhadap HAM serta banyaknya masalah-masalah yang
rumit pada masyarakat yang hanya disebabkakn oleh hal-hal sepele.
b. Faktor komunikasi dan Informasi
Dimana terdapat perbedaan letak geografis perbatasan Indonesia yang membatasi
komunikasi, sarana dan prasarana komunikasi yang belum terbangun secara menyeluruh
sehingga informasi yang diperoleh terkadang masih simpang siur sehingga penegakan HAM
sulit diterapkan.
c. Faktor kebijakan pemerintah
Yakni tidak semua penguasa memiliki kebijakan yang sama tentang pentingnya jaminan
hak asasi manusia dan adakalanya demi kepentingan stabilitas nasional, persoalan hak asasi
manusia sering diabaikan. Bahkan pengawasan legislatif dan kontrol sosial oleh masyarakat
pemerintah sering diartikan oleh penguasa sebagai tindakan ‘Pembangkangan’
d. Faktor perangkat perundangan
Penanggulangan pelanggaran HAM sering tidak terselesaikan akibat pemerintahan tidak
segera mensahkan hukum konvensi internasional tentang hak asasi manusia dan kalaupun ada
peraturan perundang-undangannya masih sulit diimplementasikan,
e. Faktor aparat dan penindakan
Masalah oknum dalam menegakan HAM sangat kental negatifnya di masyarakat.
Seringkali oknum aparat terkesan tidak peduli dengan masalah hak asasi manusia. Selain itu
masyarakat menganggap pihak aparat hanya sibuk memperkaya diri dan ketika pihak aparat
sendiri melakukan pelanggaran (seperti KKN), masalah tersebut seakan cepat menghilang
tanpa adanya peradilan yang jelas dalam menangani kasus tersebut.

7
BAB 2
ANALISIS KASUS

1. Analisis Kasus Pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia

1.1. Kasus Marsinah


Marsinah adalah seorang wanita yang bekerja pada PT Catur Putera Surya
(CPS) yang berlokasi di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Namun, perusahaan tempatnya
bekerja membandel dan menolak untuk menaikkan upah buruh sesuai dengan surat
edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992.Isi dari surat tersebut berupa himbauan
kepada pengusaha untuk menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan kenaikan gaji
sebesar 20 persen gaji pokok.Karena itu, bersama rekan buruhnya yang lain dia
membahas terkait surat edaran ini dan menuntut perusahaannya untuk memenuhi hak
mereka. Akhrinya, karyawan PT CPS berunjuk rasa pada tanggal 3 dan 4 Mei 1993
untuk menuntut kenaikan upah dari Rp 1.700,00 menjadi Rp 2.250,00.
Karena gerakan buruh ini, sebanyak 13 orang buruh PT CPS diserang militer.
Mereka telah dianggap menghasut sehingga terjadi unjuk rasa dan digiring ke Komando
Distrik Militer (Kodim)Sidoarjo.Mendengar ini, Marsinah langsung mengunjungi
markas Kodim untuk mengetahui keadaan rekan-rekannya. Namun, sejak itu dia tak
pernah kembali dan diketahui menghilang sekitar pukul 22.00 WIB.
Pada tanggal 6-8 Mei, rekan-rekan Marsinah tidak dapat menemukannya.
Perempuan berusia 24 tahun ini sama sekali tak terdengar kabarnya.Dan Akhirnya
mereka menemukan Marsinah dalam kondisi sudah menjadi mayat. Jasadnya terbujur
kaku di sebuah hutan yang berlokasi di Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan
Nganjuk.Berdasarkan visum dari Rumah Sakit Umum Daerah Nganjuk, di bagian leher
dan kedua tangan Marsinah ditemukan luka memar akibat benturan benda keras.
Melihat bercak-bercak darah di tubuhnya, diduga Marsinah diperkosa sebelum
dibunuh.
Marsinah mendapat kepercayaan dari kawan-kawannya untuk menjadi juru
runding dengan pihak perusahaan terkait kenaikan upah ini. Sebelumnya, para buruh
sempat mogok total dan mengajukan 12 tuntutan. Salah satu isi tuntutan berupa
kenaikan upah pokok mereka. Marsinah melarang satu buruh bekerja, jika tuntutan
tersebut tidak disetujui. Marsinah tewas akibat siksaan berat. Namun, hingga saat ini
pelaku pembunuhan masih belum jelas. Walaupun sudah ada tiga satpam PT CPS yang
mengaku membunuh Marsinah. Tetapi, dalam sesi persidangan, ketiganya kompak
membantah pengakuan yang sudah ditulis dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Di
depan majelis hakim, Suprapto (salah seorang tersangka) mengaku menandatangani
BAP karena tak mampu menahan siksaan fisik oleh petugas keamanan, antara lain
dipaksa minum air seni setengah cangkir. Puncak dari kasus Marsinah terjadi ketika
pada 29 April 1995, Mahkamah Agung membatalkan semua keputusan pengadilan di
bawahnya dan membebaskan semua terdakwa dari semua tuduhan. Alasannya, karena
semua saksi memberikan keterangan yang terus berganti. Selain itu, hampir semua
tersangka mencabut BAP. Pencabutan BAP itu, menurut MA, memiliki alasan yang
cukup kuat, yakni para tersangka mendapat tekanan fisik dan psikis.

8
1.2.Analisis Kasus berdasarkan HAM menurut konstitusi Indonesia
Jika merujuk pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD NRI 1945), jelas bahwa tindakan pembunuhan merupakan upaya berlebihan
dalam menyikapi tuntutan marsinah dan kawan-kawan buruh. Jelas bahwa tindakan
oknum pembunuh melanggar hak konstitusional Marsinah, khususnya hak untuk
menuntut upah sepatutnya. Hak tersebut secara tersurat dan tersirat ditegaskan dalam
Pasal 28D ayat (2) UUD NRI tahun 1945, bahwa setiap orang berhak untuk bekerja serta
mendapat imbalan dan perlakuan yang adil dan layak dalam hubungan kerja.

Memperoleh kenaikan upah agar layak dan adil merupakan hak konstitusional.
Implikasinya, pelanggaran terhadap amanah konstitusi tersebut merupakan
pelanggaran HAM, mengingat fungsi konstitusi salah satunya mengatur dan melindungi
HAM. Terkhusus dalam kasus marsinah, dasar hukum secara eksplisit para penuntut
pun telah ada, yaitu Surat Edaran Gubernur Jawa Timur No. 50/Th. 1992 yang berisi
himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya.

Berkumpul ataupun berkelompok dengan tujuan melakukan


tindakan pemogokan dan unjuk rasa pun telah mendapat perlindungan hukum, bahkan
dimasukkan HAM golongan hak atas kebebasan pribadi. Tentu dengan syarat bahwa
kumpulan massa tersebut tidak melakukan tindakan anarkis. Pasal 24 ayat (1) Undang-
Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyatakan; setiap orang
berhak untuk berkumpul, berapat, dan berserikat untuk maksud-maksud yang damai.

Jika melihat kasus Marsinah, tindakan unjuk rasanya tidak menunjukkan dugaan
kecenderungan pada aksi anarkis. Rapat, mogok kerja, dan unjuk rasa merupakan hak
konstitusional dalam sebuah negara demokratis seperti di Indonesia. Selain atas dasar
hukum, perlindungan terhadap hak menyatakan pendapat tersebut tentu untuk
mewujudkan nilai-nilai keadilan dalam masyarakat, termasuk dalam persoalan upah
buruh. Terlebih lagi, pada kasus Marsinah, jelas bahwa pihak perusahaan memang tidak
mematuhi keputusan gubernur mengenai peningkatan upah buruh.

9
Keseimbangan beban kerja dengan upah buruh memang merupakan keniscayaan
dalam sebuah sistem perekonomian yang berbasis pada kekuatan modal, termasuk di
Indonesia. Keengganan pihak perusahaan membiarkan aksi pemogokan terjadi karena
berakibat kerugian sangat tidak mendasar. Aksi pemogokan pun merupakan konsekwensi
sistem pengupahan yang tidak adil dan tidak sesuai aturan. Sebagai jaminan
keseimbangan beban kerja dan upah, dalam UU No. 39 tahun 1999 tentang HAM
menggolongkan aksi mogok sebagai HAM. Pasal 25
undang-undang tersebut menyatakan; setiap orang berhak untuk menyampaikan
pendapat di muka umum, termasuk hak untuk mogok sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.

1.3.Analisis kasus berdasarkan prinsip-prinsip penegakan HAM


Setiap manusia yang lahir kedunia selalu mempunyai hak yang sama. Semua
manusia terlahir mempunyai kesetaraan dalam Hak Asasi Manusia sesaui dengan Pasal
1 DUHAM. Konsekuensi pemenuhan hak-hak sangat berikatan dengan kebutuhan
dasar seseorang. Persamaan, merupakan hak yang harus dimiliki setiap orang dengan
kewajiban yang sama pula. Salah satu hal penting dalam negara hukum adalah
persamaan dimuka hukum, untuk memperoleh keadilan dalam proses suatu keadilan.
Semua orang terlahir didunia dengan hak asasi yang setara tidak ada
perbedaan sama sekali dari segi haknya. Prinsip kesetaraan merupakan prinsip
yang mengartikan bahwa semua hak dan kewajiban manusia dimata hukum adalah
sama. Tidak ada hal-hal yang dapat membedakannya.
Martabat manusia
Hak asasi merupakan hak yang melekat,dan dimiliki setiap manusia
didunia.Prinsip HAM ditemukan pada pikiran setiap induvidu,tanpa
memperhatikan umur,budaya,keyakinan,etnis,ras,jender,orientasi seksual,bahasa
kemampuan setiap manusia.Oleh karenanya,harus dihormati dan dihargai hak
asasinya.konsekuensinya,semua orang yang dimiliki status hak yang sama dan
sederajat dan tidak bisa digolong-golongkan berdasarkan tingkatan hirarkis.
Prinsip ini menegaskan perlunya setiap orang untuk menghormati hak orang
lain,hidup damai dalam keberagaman yang bisa menghargai satu sama
lainnya,serta membangun toleransi sesama manusia.

10
1.4.Strategi penegakan HAM sebagai solusi kasus Marsinah

Terkait kasus marsinah, solusi dari pemerintah sendiri, pemerintah semestinya


segera menyusut tuntas kasus pebunuhan marsinah sampai selesai hingga
mendapatkan hasil yang nyata, dan menegakkan tiang keadilandan ketegasan dalam
kerapuhan hukum di indonesia sehingga rakyat dapat kembali mempercayai peranan
dari pemerintah dan aparat penegak hukum dalam penegakkan HAM di Indonesia.
Sementara solusi dari hasil rangkuman kami sekelompok, adalah adanya kepastian
hukum dalam menjamin keamanan setiap orang. Setiap orang perlu menghargai hak-
haknya sendiri dan hak orang lain.
Adapun Mekanisme yang harus di ambil dakam penyelesaian kasus ini yakni
mekanisme yang mengarah kepada departemen apa yang berhak untuk melakukan
proses penyelesaian kasus ini. Departemennya yakni Komnas HAM dan jaksa agung
sebagai departemen tertinggi dalam penyelesaian kasus pelanggaran HAM Berat.
Adapun proses yang akan dilakukan oleh Komnas HAM dan juga jaksa agung sendiri
yakni sebagai berikut:
1.4.1. Tahap Penyelidikan (Komnnas HAM)
1.4.2. Tahap Penyidikan (Jaksa Agung)
1.4.3. Tahap Penuntutan (Jaksa Agung)
1.4.4. Pemeriksaan Di Pengadilan HAM
Sumber: Diolah dari UU No 26 Tahun 2000

11
BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pelanggaran HAM di Indonesia, setiap individu
mempunyai keinginan agar HAM-nya terpenuhi, tapi satu hal yang perlu kita ingat
bahwa jangan pernah melanggar atau menindas HAM orang lain. Dalam kehidupan
bernegara HAM diatur dan dilindungi oleh perundang-undangan RI, dimana setiap
bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh seseorang, kelompok atau suatu
instansi atau bahkan suatu Negara akan diadili dalam pelaksanaan peradilan HAM,
pengadilan HAM menempuh proses pengadilan melalui hukum acara peradilan HAM
sebagaimana terdapat dalam Undang-Undang pengadilan HAM.
Sementara menyangkut Kasus Marsinah yang merupakan dikategorikan sebagai
pelanggaran HAM berat, karena merupakan kasus penghilangan seseorang secara
paksa. Marsinah adalah tumbal dari apa yang namanya penindasan atas nama stabilitas
keamanan dan politik pada zaman Orde Baru. Penindasan kepada Marsinah adalah
bentuk ketakutan negara pada sosok-sosok yang berani berjuang dan mengobarkan
semangat kebebasan, kesejahteraan dan kesetaraan. Negara juga telah mengabaikan
kasus ini, membiarkannya menjadi misteri yang tak terpecahkan selama bertahun-
bertahun. Marsinah hanyalah satu dari ribuan potret buruh perempuan di Indonesia
yang seringkali harus dihadapkan dengan berbagai persoalan pelik yang mendasar.
persoalan kesejahteraan, kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi seolah terus menjadi
pekerjaan rumah yang menumpuk bagi pemerintah untuk diselesaikan.

2. Saran
Sebagai makhluk sosial kita harus mampu mempertahankan dan
memperjuangkan hak kita sendiri. Di samping itu kita juga harus bisa menghormati dan
menjaga hak orang lain jangan sampai kita melakukan pelanggaran HAM. Sudah
saatnya pemerintah membuka mata lebar-lebar akan kasus Marsinah dan kasus-kasus
yang dialami oleh buruh saat ini. Pemerintah sebaiknya berani membuka ulang kasus
Marsinah atas nama demokrasi dan HAM. Hilang dan matinya Marsinah sudah barang
tentu adalah sesuatu yang “direkayasa” sehingga sampai saat ini kasusnya tidak pernah
menemui titik terang. Padahal keadilan yang tertinggi adalah keadilan terhadap HAM.

12
DAFTAR PUSTAKA

Winarno.2007.Paradigma Baru Pendidikan


Kewarganegaraan.Jakarta:PT Bumi Aksara
El-muhtaj Majda.2009.hak asasi manusia dalam konstitusi
indonesia.Jakarta:Kencana
https://hepikampus.wordpress.com/2010/01/15/latar-belakang-hak-asasi-
ham-kehidupan-ham-pancasila-ham-dalam-uud-1945/
http://itanahri.blogspot.co.id/2011/06/pelaksanaan-ham-di-
indonesia.html?m=1
http://sarubanglahaping.blogspot.co.id/2013/10/analisis-kasus-
pembunuhan-marsinah.html?m=1
http://ekaadiary.blogspot.co.id/2015/03/kasus-pelanggran-ham-di-
indonesia.html?m=1
http://fuad.myers.blogspot.co.id/2011/11/analisa-kasus-pelanggaran-
ham-berat.html?m=1
https://www.rappler.com/indonesia/ayo-indonesia/132331-5-hal-
mengenai-aktivis-buruh-marsinah

13