Anda di halaman 1dari 13

Tugas Individu

Praktik Profesi Keperawatan Jiwa


RSP Unhiversitas Hasanuddin

LAPORAN PENDAHULUAN
“ANSIETAS”

OLEH :
Sumitarianti Bahris
R014 18 2046

Preseptor Lahan Preseptor Institusi

( ) ( )

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
LAPORAN PENDAHULUAN

A. Kasus (Masalah Utama: Ansietas)


1. Definisi
Kecemasan adalah emosi, perasaan yang timbul sebagai respon awal terhadap
stress psikis dan ancaman terhadap nilai-nilai yang berarti bagi individu.
Kecemasan sering digambarkan sebagai perasaan yang tidak pasti, ragu-ragu, tidak
berdaya, kegelisahan, kekhawatiran, tidak tentram yang disertai dengan keluhan
fisik (Azizah, Zainuri, & Akbar, 2016). Ansietas adalah kekhawatiran yang tidak
jelas dan menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya.
Keadaan emosi ini tidak memiliki obyek yang spesifik. Ansietas dialami secara
subjektif dan dikomunikasikan secara intrapersonal (Stuart, 2013).
Kecemasan memiliki nilai yang positif. Menurut Stuart dan Laraia (2005) aspek
positif dari individu berkembang dengan adanya konfrontasi, gerk maju
perkembangan dan pengalaman mengatasi kecemasan. Tetapi pada keadaan lanjut
perasaan cemas dapat mengganggu kehidupan seseorang. Ansietas merupakan
istilah yang sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari yang menggambarkan
keadaan khawatir, gelisah yang tak menentu, tidak tenteram, kadang disertai
berbagai keluhan fisik. Ansietas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan
tidak berdaya. Keadaan emosi ini tidak memiliki objek yang spesifik. Kondisi
dialami secara subyektif dan dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.
Ansietas berbeda dengan rasa takut, yang merupakan penilaian intelektual terhadap
sesuatu terhadap sesuatu yang berbahaya. Kapasitas untuk menjadi cemas
diperlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat ansietas yang parah tidak sejalan
dengan kehidupan
2. Sumber-sumber ansietas
a. Ancaman integritas biologis, meliputi : gangguan terhadap kebutuhan dasar,
misalnya ; makan, minum, kehangatan dan seks
b. Ancaman keselamatan diri, misalnya; tidak menemukan integritas diri, status
dan persepsi, tidak mampu memperoleh self respek dalam mendapatkan
penyaluran orang lain.
3. Kriterian diagnostik ansietas
a. Ansietas berlebihan dan tidak wajar atau ansietas itu dirasakan apabila
individu itu menghadapi objek atau situasi yang ditakuti atau ansietas
dirasakan apabila berusaha melawan obsesi atau kompulsinya.
b. Tidak disebabkan oleh gangguan lain seperti skizofrenia, gangguan afektif
atau gangguan mental organik.
c. Gambaran penyerta :
1) Ketegangan motorik; tegang, nyeri otot, letih, tidak dapat santai,
kelopak mat bergetar kening berkerut, muka tegang, gelisah, tidak
dapat diam,mudah kaget.
2) Hiperaktivitas autonomic; berkeringat, jantung berdebar-debar, rasa
panas dingin, telapak tangan lembab, mulut kering, pusing, kepala
terasa ringan, sering kencing, diare, rasa tidak enak di uluhati,
kerongkongan terasa tersumbat, muka merah/pucat, denyut nadi dan
napas cepat waktu istirahat, menggigil, kesemutan dan bergetar.
3) Kewaspadaan berlebihan; mengamati lingkungan secara berlebihan
sehingga mengakibatkan perhatian mudah teralih, sukar konsentrasi
dan tidak sabaran.
B. Proses terjadinya masalah
1. Rentang Respon Ansietas
Rentang respon ansietas berfluktuasi antara respon adaptif dan maladaptif seperti
terlihat pada gambar berikut ini:

Respon Adaptif Respon Maladaptif

I I I
Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik

Respon Adaptif adalah suatu keadaan dimana terjadi stresor dan bila individu
mampu untuk menghambat dan mengatur hal tersebut, maka akan menghasilkan
hal yang positif.
Hal positif tersebut antara lain :
a. Dapat memecahkan masalah dan konflik.
b. Adanya dorongan untuk bermotivasi.
c. Terjadinya peningkatan prestasi.
Respon Maladaptif adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi pertahanan
perilaku individu secara otomatis terhadap ancaman kecemasan. Apabila terjadi
ancaman terhadap individu, kemudian individu tersebut menggunakan respon
adaptif, maka ia dapat beradaptasi terhadap ancaman tersebut dengan demikian
maka kecemasan tidak terjadi. Tetapi apabila menggunakan respon maladaptif,
maka yang akan terjadi adalah individu akan menggalami kecemasan secara
bertahap, mulai dari sedang, ke tingkat berat dan akhirnya menjadi panik.
2. Tingkatan ansietas dan karakteristiknya
Videbeck (2015) mengelompokan ansietas kedalam empat tingkat sesuai dengan
rentang respon ansietas yaitu :
a) Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan kehidupan sehari-
hari. Pada tingkat ini lapang persepsi meningkat dan individu akan berhati-
hati dan waspada. Pada tingkat ini individu terdorong untuk belajar dan akan
menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
1) Agak tidak nyaman
2) Gelisah
3) Insomnia ringan
4) Perubahan nafsu makan ringan
5) Pengulangan pertanyaan
6) Perilaku mencari perhatian
7) Peningkatan kewaspadaan
8) Peningkatan kewaspadaan
9) Peningkatan persepsi dan pemecahan masalah
10) Mudah marah
11) Gerakan tidak tenang
b) Ansietas sedang
Pada tingkat ini lapang persepsi terhadap lingkungan menurun. Individu
lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal
lain.
1) Perkembangan dari ansietas ringan
2) Perhatian terpilih pada lingkungan
3) Ketidaknyamanan subjektif sedang
4) Peningkatan ketegangan otot
5) Perubahan dalam nada suara
6) Konsentrasi hanya pada tugas-tugas individu
7) Peningkatan jumlah waktu yang digunakan pada situasi masalah
8) Takipnea
9) Takikardi
10) Gemetaran
11) Suara bergetar
c) Ansietas berat
Pada ansietas berat, lapang persepsi menjadi sangat menurun. Individu
cenderumng memikirkan hal yang kecil saja dan mengabaikan hal yang lain.
Individu tidak mampu berfikir berat lagi dan membutuhkan banyak
pengarahan.

1) Perasaan terancam
2) Ketegangan otot berlebihan
3) Diaphoresis
4) Perubahan pernafasan ; nafas panjang, hyperfentilasi, dispnea dan
pusing
5) Perubahan gastro intestinal ; mual, muntah, rasa terbakar pada ulu hati,
sendawa, anoreksia, diare atau konstipasi
6) Perubahan kardiovaskuler ; tachycardia, palpitasi, rasa tidak nyaman
pada precordial, ketidakmampuan untuk belajar, ketidakmampuan
untuk konsentrasi
7) Rasa terisolasi
8) Kesulitan atau ketidaktepatn pengungkapan
9) Aktivitas yang tidak berguna
10) Bermusuhan
d) Ansietas panik
Pada tingkat ini individu sudah tidak dapat mengontrol diri lagi dan tidak
dapat melakukan apa-apa lagi walaupun sudah diberi pengarahan.
1) Hyperaktifitas atau mobilitas berat
2) Rasa terisolasi yang ekstrim
3) Kehilangan identitas, desintegrasi kepribadian
4) Sangat goncang dan otot tegang
5) Ketidakmampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat yang lengkap
6) Distorsi,persepsi penilaian yang tidak realitas terhadap lingkungan dan
ancaman
7) Perilaku kacau dalam usaha melarikan diri
8) Menyerang.
3. Faktor predisposisi

Teori yang dikembangkan untuk menjelaskan penyebab ansietas menurut Stuart


(2013) adalah :
a) Teori Psikoanalitik.
Psikoanalitik adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen
kepribadian id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls
primitif seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang
dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego atau Aku,
berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan, dan
ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
b) Teori Interpersonal.
Menurut pandangan interpersonal ansietas timbul dari perasaan takut
terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas
juga berhubungan dengan perkembangan trauma, sperti perpisahan dan
kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang dengan harga diri
rendah terutama mudah mengalami perkembangan ansietas yang berat.
c) Teori Perilaku.
Perilaku ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang
mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Pakar perilaku lain menganggap ansietas sebagai suatu dorongan untuk
belajar berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan,
Pakar tentang pembelajaran meyakini bahwa individu yang terbiasa dalam
kehidupan dirinya dihadapkan pada ketakutan yang berlebihan lebih sering
menunjukkan ansietas pada kehidupan selanjutnya.
4. Faktor presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi 2 menurut Stuart (2013):
a. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis
yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas
hidup sehari-hari.
b. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas ,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
5. Perilaku
Ansietas dapat diekspresikan langsung melalui perubahan fisiologis dan
perilaku secara tidak langsung melalui timbulnya gejala atau mekanisme koping
dalan uapaya mempertahankan diri dari ansietas. Intensitas dari perilaku akan
meningkat sejalan dengan peningkatan ansietas.
a. Respon fisiologi terhadap Ansietas menurut Azizah, Zainuri, & Akbar
(2016) yaitu:
Sistem Tubuh Respon
Palpitasi
Jantung berdebar
Tekanan darah meninggi
Kardiovaskuler Rasa mau pingsan
Pingsan
Tekanan darah menurun
Denyut nadi menurun
Napas cepat
Napas pendek
Pernapasan Tekanan pada dada
Napas dangkal
Pembengkakan pada tenggorok
Terengah-engah
Refleks meningkat
Reaksi kejutan
Mata berkedip-kedip
Insomnia
Tremor
Neuromuskular Rigiditas
Gelisah
Wajah tegang
Kelemahan umum
Kaki goyah
Gerakan yang janggal
Kehilangan nafsu makan
Gastrointestinal Menolak makanan
Rasa tidak nyaman pada abdomen
Mual
Rasa terbakar pada jantung
Diare
Traktus urinarius Tidak dapat menahan kencing
Sering berkemih
Wajah kemerahan
Berkeringan setempat (telapak tangan)
Gatal
Kulit Rasa panas dan dingin pada kulit
Wajah pucat
Berkeringat seluruh tubuh

b. Respon perilaku, kognitif dan afektif terhadap ansietas menurut Azizah,


Zainuri, & Akbar (2016) yaitu sebagai berikut:

Sistem Respon
Gelisah
Ketegangan fisik
Tremor
Gugup
Bicara cepat
Perilaku Kurang koordinasi
Cenderung mendapat cedera
Menarik diri dari hubungan interpersonal
Menghalangi
Melarikan diri dari masalah
Menghindar
Hiperventilasi
Perhatian terganggu
Konsentrasi buruk
Pelupa
Salah dalam memberikan penilaian
Preokupasi
Hambatan berpikir
Kognitif Bidang persepsi menurun
Bingung
Sangat waspada
Kesadaran diri meningkat
Kehilangan objektivitas
Takut kehilangan kontrol
Takut pada gambaran visual
Takut cedera atau kematian
Mudah terganggu
Tidak sabar
Gelisah
Tegang
Nervus
Afektif Ketakutan
Ketakutan/ Gugup
Gelisah /Teror
Alarm
6. Sumber Koping
Individu dapat mengatasi stres dan ansietas dengan menggerakan sumber
koping di lingkungan. Sumber koping tersebut sebagai modal ekonomik,
kemampuan penyelesaian masalah, dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat
membantu seseorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stres dan
mengadopsi strategi koping yang berhasil.
7. Mekanisme Koping
Ketika mengalami ansietas, individu menggunakan berbagai kemampuan
mengatasi ansietas secara konstruktif merupakan penyebab utama terjadinya
perilaku patologis. Pola yang cenderung digunakan seseorang untuk mengatasi
ansietas ringan cenderung tetap dominan ketika ansietas menghebat. Ansietas
ringkat ringan sering ditanggulangi tanpa pemikiran yang serius.
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping :
a. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan
berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan situasi
stres.
1) Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi
hambatan pemenuhan kebutuhan.
2) Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik
untuk memindahkan seseorang dari sumber stres.
3) Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang
mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek
kebutuhan personal seseorang.
b. Mekanisme pertahanan ego, membantu mengatasi ansietas ringan dan
sedang, tetapi jika berlangsung pada tingkat tidak sadar dan melibatkan
penipuan diri dan distorsi realitas, maka mekanisme ini dapat merupakan
respon maladaptif terhadap stres.
8. Penanganan
Yang pertama yang harus dilakukan pada pasien adalah edukasi pasien untuk
mengatasi panik dan ansietas. Pasien dicoba untuk dapat menghilangkan gejala
ansietas dengan berbagai cara. Cara yang mudah adalah relaksasi, latihan nafas,
hipnosis, desensitisasi, latihan fisik yang sedang (jangan latihan berat), seperti jalan
3 – 4 km sehari. Selain itu pasien harus ditingkatkan rasa percaya diri. Pengobatan
ini merupakan terapi tambahan dan bukan substitusi dari terapi farmakologik. Satu
hal yang penting adalah bahwa pengobatan non farmakologik sendiri, tanpa
pengobatan farmakologik kurang khasiatnya.

C. Pohon masalah

Gangguan pola tidur


Akibat
Core
Ansietas
Problem

Ketidakberdayaan

Etiologi Gangguan konsep diri : HDR

Koping individu inefektif Perubahan status kesehatan

D. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


Masalah keperawatan :
1. Ansietas
2. Ganggun pola tidur
3. Harga diri rendah situasional
4. Ketidakberdayaan
5. Koping individu inefektif
Data:
1. Respon Physiologic
a. Palpitasi jantung
b. Mulut kering
c. Sulit bernafas
d. Nausea
e. Respiration meningkat
f. Tremors
g. Nadi meningkat
h. Tekanan darah meningkat
i. Menangis
j. Sulit untuk tidur
k. Sulit untuk makan
2. Respon Psychologic
a. Ekspresi sedih
b. Rasa takut
c. Marah
d. Tidak percaya pada org lain
e. Ketidakmampuan memperhatikan
f. Rasa tidak berdaya
g. Tidak punya harapan
h. Perubahan sexual
3. Respon sosial
a. Menarik diri dari interaksi dengan orang lain
b. Rasa bermusuhan terhadap orang lain
c. Berpakaian tidak sesuai
d. Perubahan komunikasi
E. Diagnosa Keperawatan
1. Ansietas
2. Koping individu inefektif
3. Harga diri rendah
4. Ketidakberdayaan
F. Rencana Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan utama pada ansietas adalah :
1. Membina hubungan saling percaya
2. Menyadari dan mengontrol perasaan klien
3. Meyakinkan klien tentang manfaat mekanisme koping yang bersifat
melindunginya tetapi tidak memfokuskan klien pada perilaku yang maladaptif.
4. Mengidentifikasi situasi yang dapt menimbulkan ansietas pada klien
5. Menganjurkan klien melakukan aktifitas/kegiatan sehari-hari yang telah
dijadwalkan.
6. Tingkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraan klien
H. Evaluasi
1. Ancaman terhadap integritas fisik dan harga diri klien sudah menurun
2. Tingkah laku klien merefleksikan tingkat ansietas ringan atau sedang
3. Sumber koping dikaji dan digunakan
4. Klien mengenal ansietasnya dan menyadari perasaan tersebut
5. Klien menggunakan respon koping yang adaptif
6. Klien mempelajari strategi adaptif yang baru untuk menurunkan ansietasnya
7. Klien menggunakan ansietas untuk meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan
diri

Daftar Pustaka

Azizah, L. M., Zainuri, I., & Akbar, A. (2016). Buku Ajar Keperawatan Jiwa: Teori dan
Aplikasi Praktik Klinik. Yogyakarta: Indomedia Pustaka.
Stuart, G. W. (2013). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
Suliswati. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Videbeck, S. L. (2015). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.