Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH AIK III

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ISLAM YANG BERWATAK TAJDID

Dosen pembimbing :

Disusun oleh : Kelompok 2

1. Riska Nur Fadhila 201710160311387

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

JURUSAN MANAJEMEN

2019
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu‘alaikum wr. wb.

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami. Shalawat serta salam senantiasa tercurah pada
junjungan Nabi Muhammad SAW. Kami ucapkan syukur kepada Allah atas limpahan
Nikmat sehat-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah sebagai tugas
dari mata kuliah AIK III dengan judul “Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam Yang
Berwatak Tajdid” dengan baik meskipun masih banyak kekurangan .

Dan kami ucapkan terima kasih kepada Ibu sebagai dosen pembimbing kami yang telah
membimbing dan memberikan tugas ini serta tidak lupa kami juga mengucapkan banyak
terimakasih atas bantuan dari pihak yang memberikan sumbangan baik materi maupun
pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb

Malang, 16 Oktober 2019

Kelompok 2

II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... II

DAFTAR ISI...................................................................................................................... III

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

A. Latar belakang ........................................................................................................... 1


B. Rumusan masalah ...................................................................................................... 1
C. Tujuan ........................................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3

A. Tajdid Menurut Faham Muhammadiyah .............................................................. 3


B. Model-model Tajdid dalam Muhammadiyah ....................................................... 4

BAB III PENUTUP ......................................................................................................... 9

Kesimpulan .................................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 10

III
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modernitas muhammadiyah lahir sebagai respon atas sejarah, pukan spontanitas.


Ketika rakyat tenggelam dalam kemiskinan dan kebodohan semasa rezim kolonial,
muhammadiyah lahir dengan banyak respon; pendidikan modern dan mengembangkan
spirit PKO ( Pertolongan Kesengsaraan Oemoem) ketikamassyarakat terlena dalam
tradisional dan pencampuradukan ajaran agama, muhammadiyah memberikan wacana
dan spirit baru, tajdid dan purifikasi.

Muhammadiyah sebagai gerakan islam merumuskan gerakan pembaharuannya


dalam bentuk purifikasi dan dinamisasi. Purifikasi didasarkan pada sumsi bahwa
kemunduran umat islam terjadi karena umat islam tidak mengembangkan aqidah islam
yang benar, sehingga harus dilakukan purifikasi dalam bidang aqidah-ibadah dengan teori
“ segala sesuatu dalam ibadah madlah dilaksanakan bila ada perintah dalam Al-Qur’an
dan Hadist” sedangkan dinamisasi dilakukan dalam bidang muamalah, dengan
melakukan gerakan modernisasi sesuai dengan teori “ segala sesuatu boleh dikerjakan
selama tak ada larangan dala Al-qur’an dan Hadist”.

Muhammadiyah dalam gerakan pembaharuannya delakukan bersamaan antara


gerakan purifikasi dengan gerakan muamalah. Purifikasi dalam bidang aqidah yang
dilakukan oleh muhammadiyah adalah aqidah yang memiliki keterkaitan dengan aspek
sosial kemasyarakatan. Dalam konteks purifikasi Muhammadiyah mendahulukan nash
yang otentik sebagai landasan dan pelaksanaan ibadah, dan setiap orang yang
melanggarnyaakan dikategorikan sebagai ahlu bid’ah. Sedangkan konteks rasionalistik
dapat menerima konsep dan bentuk pengamalan amaliah dari mana saja asalnya,
sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran agama islam.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat ditentukan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Jelaskan Tajdid menurut faham Muhammadiyah!

1
2. Sebutkan dan jelaskan model-model tajdid dalam Muhammadiyah
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dari penulisan ini untuk mengetahui :
1. Tajdid menurut faham Muhammadiyah
2. Model-model tajdid dalam Muhammadiyah

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Tajdid menurut faham Muhammadiyah


Tajdid berarti pembaharuan, peningkatan, dan pengembangan. Dalam arti
pemurnian, tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matan ajaran islam yang berazas
al-quran dan as Sunah magbullah. Dalam arti peningkatan pengembangan dan
modernisasi, tadjid demaksudkan sebagai penafsiran pengalaman. Dalam melaksanakan
tadjid diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan budi pekerti yang bersih dan
dijiwai ajaran islam. Tadjid juga merupakan proses pembaharuan umat islam menuju
pada kondisi yang lebih baik. Tadjid oleh Muhammadiyah memaknai tajdid mengandung
dua pengertian yakni purifikasi ( pemurnian ) dan dinamisasi (pembaharuan). Tajdid
bersifat purifikasi yaitu “Tandhif al-Aqidah”, yaitu purifikasi dalam aqidah. Dalam
aqidah islam harus benar-benar dibersihkan dari elemen- elemen syirik ”Rowasyia asy-
syirik”. Akidah yaitu keyakinan hidup atau keimanan dengan meliputi semua hal yang
harus diyakini oleh semua muslim.
Langkah dakwah dan tadjid muhammadiyah tercermin dalam berbagai keploporan
diantranya:
1. kepeloporan mendirikan sekolah islam modern.
2. Kepeloporan mendirikan pelayanan kesehatan.
3. Keppeloporan kegiatan penyantunan anak yatim miskin melalui gerakan Al-Ma’un
4. Kepeloporan dalam mendobrak pemikiran islam yang jumud (statis,beku) dengan
istihad. Karena kepeloporan muhammadiyah dalam pembaharuan maka
muhammadiyah juga dikenal sebagai gerakan reformisme atau modernisme islam.
(Nashir, 2006n : xxii – xxiv).
Dalam hal pembaharuan Muhammadiyah memaknai tadjid dengan pembaharuan
islam yang membangun, mengembangkan,memperbaharui potensi SDM dalam hal ilmu
pengetahuan dan teknologi umat islam.
Sedangkan dalam pembaharuan yang menyangkut organisasi muahammadiyah
merujuk pada pesan al-Qur’an yang terkandung dalam QS. 3: 104, yang menegaskan
bahwa melakukan gerakan dakwah harus melalui “ waltakum minkum ummatan”. Jadi

3
berdakwah di era global seperti sekarang dakwah dilakukan secara organisasi dimana
organisasi dilengkapi manjement modern.
Muhammadiyah sebagai organisasi mengartika diri sebagai gerakan islam,
dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Salah satu perioritas program muhammadiyah periode
yang lalu ialah pengembangan tajdid dibidang tarjih dan tajdid secara itensif dengan
menguatkan kembali rumusan teologis seperti tauhid sosial, sera gagasan operasional
seperti dakwah jamaah, dengan tetap memperhatikan prinsip dasar organisasi dan nilai
islam yang hidup dang menggerakkan. Sejak berdirinya muhammadiyah ia menyatakan
dirinya sebagai gerakan yang memperluas ajaran islam yang berdasarkan al-qur’an dan
as-sunah shahihah sekaligus membersihkan berbagai amalan yang secara jelas
menyimpang dari ajaran islam baik berupa khurafat, syirik maupun bid’ah.
Sifat tajdid muhammadiyah tidak hanya bersifat memurnikan, melaikan juga
termaksuk upanya pembaharuan dalam tata cara pelaksanaan ajaran islam dalam
kehidupan bermasyarakat.
Karakter gerakan muhammadiyah yaitu dakwah dan tajdid, yang juga
mengandung demensi pemurnian sekaligus pembaharuan. Bukan hanya semata-semata
dakwah tetapi juga pembaharuan. Bukan semata-semata pembaharuan , tetapi juga
dakwah. Bukan semata-semata pemurnian , tetapi juga pembaharuan. Bukan hanya
semata-mata pembaharuuan tetapi juga pemurnian. Permurnian berarti pengontentikan
kembali pada islam yang benar-benar murni atau asli sebagai ajaran al-Qur’an dan Sunah
Nabi yang shahihah dengan ijtihat sesuai dengan manhaj tarjih.
Ketika muhammadiyah didirikan dan para tokohnya termahsuk K.H. Ahmad
Dahlan belum memikirkan landasan konsepsional dan teoritis tentang apa yang harus
dilalkukan, yang terjadi pada saat itu mereka melakukan penyebaran ajaran agama islam
secara praktis dan pragmatis, dengan cara yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan
Rosulloloh.seperti pembetulan arah kiblat. Jargon yang diusung pada saat itu adalah
kembali kepada Al- Qur’an dan sunah Nabi.
B. Model-model tajdid dalam Muhammadiyah
Model tajdid muhammadiyah secara ringkas dapat dibagi dalam tiga bidang, yaitu bidang
keagamaan, pendidikan dan kemasyarakatan.

4
1. Bidang keagamaan
Pembaharuan dalam bidang keagamaan adalah penemuan kembali ajaran
atau prinsip dasar yang berlaku abadi, yang karena waktu lingkungan situasi dan
kondisi mungkin menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas dan tertutup oleh
kebiasan dan pemikiran tambahan lain. Pembaharuan dalam bidang kaagamaan
adalah memurnikan kembali atau mengembalikan kepada aslinya, oleh karena itu
dalam pelaksanaan agama baik yang menyangkut akidah atau pun ibadah harus
sesuai dengan aslinya, yang sebagai mana diperintahkan dalam Al-Qur’an dan as
sunah.
Pembaharuan teologi yang dilakukan muhammadiyah meliputi : dimensi
kelasyarakatan, agar islam tetap berada di tengah tengah masyarakat bahkan dapat
memiliki kontribusi yang sangat positif dalam memecahkan masalah-masalah
kemasyarakatan. Muhammadiyah secara teologis bedasarkan islam yang
berkemajuan, namun secara sosiologis memiliki korelasi dengan konteks hidup
umat islam dan masyarakat indonesia yang berada dalam keterbelakangan.
Muhammadiyah berorientasi pada kemajuan dalam pembaharuannya, yang
mengarahkan hidup umat islam untuk beagama secara benar dan melahirkan
rahmat bagi kehidupan.
Dalam masalah akidah muhammadiyah bekerja untuk tegaknya akidah
islam yang murni, bersih dari gejala kemusyrikan, bid’ah dan curafat tanpa
mengabaikan prinsip toleransi menurut islam. Sedangkan dalam ibadah,
muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah tersebut sebagaimana yang
dituntunkan Rasullah tanpa perubahan dan tambahan dari manusia. Usaha
permurnian yang dilakukan muhamaadiyah terhadap keadaan keagamaan yang
tampak dari serapan berbagai unsur kebudayaan yang ada di indonesia yaitu
a. Penentuan arah kiblat dalam sholat, yang sebelumnya mengarah tepat ke arah
barat.
b. Penggunaan perhitungan astronomi dalam menentukan awal dan akhir bulan
romadhon ( hisab) sebagai kebalikan dari pengamatan perjalanan bulan oleh
petugas agama

5
c. Menyelenggarakan shalat bersama di lapangan terbuka pada hari raya islam,
idul fitri dan idul adha, sebagai ganti seperti sholat yang serupa dalam jumlah
jamaah yang lebih kecil, yang diselenggarakan di masjid
d. Perngumpulan dan pembagian zakat fitrah dan kurban pada hari raya tersebut
diatas, oleh panitian khusus, mewakili masyarakat islam setempat, yang dapat
dibandingkan sebelumnya dengan memberikan hak istimewa dalam persoalan
ini pada pegawai tau petugas agama( penghulu , naib, kaum, modin dan lain
sebagainya)
e. Penyampaian kutbah dalam bahasa indonesia/daeerah, sebagai ganti dari
penyampaian khutbah dalam bahasa arab.
f. Penyerderhanaan upacara dan ibadah dalam upacara kelahiran, khitanan,
perkawinan dan pemakaman, dengan menghilangkan hal hal yang bersifat
politheistis.
g. Penyerderhanaan makam yang semula dihiasi secara berlebihan
h. Menghilangkan kebiasaan berjiarah kemakam-makam orang suci (wali)
i. Membersihkan adanya berkah yang bersifat ghoib, yang dimiliki oleh
beberapa kiay terteentu, dan perngaruh ekstrim pemujaan terhadap mereka.
j. Penggunaan kerudung untuk wanita, dan pemisahan laki-laki dan wanita
dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan.
2. Bidang Pendidikan
Dalam bidang ini Muhammadiyah mempelopori dan meyelenggarakan
sejumlah pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata. Bagi Muhammdiyah
pendidikan memiliki arti yang penting dalam penyebaran ajaran islam, karena
melalui bidang pendidikan pemahaman tentang islam dapat diwariskan dan
ditanamkan dari generasi kegenerasi.
Pembaharuan dari segi pendidikan memiliki dua segi yaitu
a. Segi cita-cita
Dari segi ini ingin membentuk manusia muslim yang baik budi, alim
dalam agama, luas dalam pandangan dan paham masalah ilmu keduniaan, dan
bersidia berjuang untuk kemajuan masyarakatnya.
b. Segi teknik pengajaran

6
Dari segi ini lebih banyak berhubungan dengan cara penyelenggaraan
pengajaran. Dengan mengambil unsur-unsur yang baik dari sistem pendidikan
barat dan sistem pendidikan tradisonal, muhammadiyah berhasil membangun
sistem pendidikan sendiri. Seperti sekolah model barat yang dimasukkan
pelajaran agama didalamnya, sekolah agama dengan menyertakan perlajaran
umum.
Selain pembaharuan dalam pendidikan formal, Muhammadiyah juga telah
mempebaharui pendidika tradisional non formal yaitu pengajian. Dimana yang
semula pengajarnya hanya mengajar ngaji dan ibadah oleh muhammadiyah
diperluas dan pengajian di sistematiskan dan diarahkan pada masalah kehidupan
sehari-hari.
Begitupula muhammadiyah telah mewujudkan bidang bimbingaan dan
penyuluhan agama dalam masalah-masalah yang diperlukan dan mungkin bersifat
pribadi.
3. Bidang Kemasyarakatan
Muhammadiyah merintis bidang sosial kemasyarakatan dengan
mendirikan rumah sakit, piklinik, panti auhan, rumah singgah, panti jompo, Pusat
kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), posyandu lansia yang dikelola melalui
amal usahanya dan bukan secara individual sebagai mana dilakukan orang pada
umumnya. Usaha pembaharuan dalam bidang sosial kemasyarakatan ditandai
dengan didirikannya Pertolongan Kesengsaraan Oemoen (PKO)di tahun 1923.
Perhatian terhadap kesengsaraan orang lain merupakan kewajiban orang muslim,
sebagai perwujudan tuntunan agama yang jelas untuk ber amal ma’ruf dan juga
sebagai bentuk pengamalan firman Allah dalam surat Al-ma;un 107: 1-7
Yang artinya
“ Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama, itulah orang yang
menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makanan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,(yaitu) orang yang lalai dari
sholatnya, orang-orang berbuat riya dan enggan(menolong dengan) barang
berguna.”.

7
Pesan yang terkandung dalam surat Al-Ma’un adalah ajaran tolong
menolong sebagai bentuk dari amal shaleh yang dapat menunculkan solidaritas
yang berujung pada mahabbah atau saling mencintai yang dimulai dari
ta’aruf(mengenal), tafahum(memahami), lalu tadhamun (saling menghargai).
Tadhamun akan melahirkan trahum dan akhirnya terbentuklah suasana ta’awun
saling tolong menolong. Pembaharuan sosial masyarakatan yang dilakukan oleh
muhammadiyah merupakan salah satu wujud dari ketaatan beragama dalam
dimensi sosialnya unutk tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi agama islam
sehingga terwujud masyarakat islam yang sebenar benarnya.

8
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat difahami, bahwa tajdid dalam Muhammadiyah
mengalami perubahan yang sangat berarti. Tajdid dalam Muhammadiyah pada tataran praktis dan
gerakan aksi yang mengarah pada pemurnian akidah dan ibadah, sebagai reaksi terhadap
penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam. Model model Tajdid dalam Muhammadiyah
digolongkan dalam tiga bidang diantaranya

(a) bidang keagarmaan yaitu Pembaharuan dalam bidang keagamaan adalah penemuan
kembali ajaran atau prinsip dasar yang berlaku abadi, yang karena waktu lingkungan situasi dan
kondisi mungkin menyebabkan dasar-dasar tersebut kurang jelas dan tertutup oleh kebiasan dan
pemikiran tambahan lain.

(b) bidang pendidikan yaitu Muhammadiyah mempelopori dan meyelenggarakan sejumlah


pembaharuan dan inovasi yang lebih nyata dimana bidang pendidikan dipandang sangat penting
dalam penyebaran ajaran agama islam.

(c) bidang sosial masyarakat Muhammadiyah merintis bidang sosial kemasyarakatan


dengan mendirikan rumah sakit, piklinik, panti auhan, rumah singgah, panti jompo, Pusat kegiatan
Belajar Masyarakat (PKBM), posyandu lansia yang dikelola melalui amal usahanya dan bukan
secara individual sebagai mana dilakukan orang pada umumnya

9
DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Syamsul.2017.AIK III.UMM : Malang

10