Anda di halaman 1dari 8

1.

Konsep Dasar oleh Paton dan Littleton

Konsep dasar merupakan konsep yang berlaku secara umum sebagai


dasar dalam penalaran dan perekayasaan laporan keuangan. Sebenarnya,
konsep dasar ini bisa disebut dengan berbagai nama seperti Postulat, Asumsi
Dasar, Sifat Dasar, Prinsip Mendasar/umum, dan lain sebagainya. Selain itu,
konsep dasar memiliki beberapa sumber seperti dari IAI/ASC, Paul
Grady, Accounting Principles Board (APB), Paton dan Littleton, dan lain
sebagainya.

Menurut sudut pandang Paton dan Littleton konsep dasar akuntansi ada
tujuh diantaranya entitas bisnis atau kesatuan usaha (business entity),
kontinuitas usaha (continuity of activity), penghargaan sepakatan (measured
consideration), kos melekat (cost attach), upaya dan hasil/capaian (effort and
accomplishment), bukti terverifikasi dan objektif (verifiable, objective
evidence), dan asumsi (assumption).

1) Entitas bisnis atau kesatuan usaha

Dalam konsep ini bisnis perusahaan sebagai suatu organisasi bisnis


diperlakukan berbeda atau secara hukum terpisah dengan pemilik dari bisnis
tersebut. Hal ini termasuk bahwa transaksi-transaksi dalam bisnis tersebut
harus dijaga secara keseluruhannya agar terpisah dari urusan pribadi
seorang pemiliknya

2) Kontinuitas kegiatan atau usaha

Bahwa kalau tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala, atau rencana pasti


di masa datang bahwa kesatuan usaha akan dibubarkan atau dilikuidasi
maka akuntansi menganggap bahwa kesatuan usaha tersebut akan
berlangsung terus sampai waktu tak terbatas.Dalam menghadapi
ketidakpastian kelangsungan usaha, akuntansi menganut konsep ini atas
dasar penalaran bahwa harapan normal atau umum (normal expectation)
pendirian perusahaan adalah untuk berlangsung terus dan berkembang
bukan untuk mati atau likuidasi.

3) Penghargaan sepakatan

Bahwa jumlah rupiah/agregat-harga (price-aggregate) atau


penghargaan sepakatan (measured consideration) yang terlibat dalam tiap
transaksi atau kegiatan pertukaran (exchange activities) merupakan bahan
olah dasar akuntansi (the basic subject matter of accounting) yang paling
objektif terutama dalam mengukur sumber ekonomik yang masuk
(pendapatan) dan sumber ekonomik yang keluar (biaya). Sebagai
konsekuensi, elemen-elemen atau pos-pos pelaporan keuangan diatur atas
dasar penghargaan sepakatan tersebut.

4) Kos melekat

Bahwa kos melekat pada objek yang dipresentasinya hingga kos


bersifat mudah bergerak dan dapat dipecah-pecah atau digabung-
gabungkan kembali mengikuti objek yang didekati. Berbagai kos mempunyai
daya saling mengikat antara yang satu dan yang lainnya ikatan objek-objek
yang disimbolkannya. Bila berbagai komponen digabungkan menjadi suatu
objek atau barang baru, gabungan kos yang baru semata-mata merupakan
penggabungan berbagai kos yang melekat pada tiap komponen tanpa
memperhatikan nilai ekonomik baru yang melekat pada barang baru

5) Upaya dan capaian atau hasil

Bahwa biaya merupakan upaya dalam rangka memperoleh hasil


berupa pendapatan. Dengan kata lain, tidak ada hasil (pendapatan) tanpa
upaya (biaya). Secara konseptual, pendapatan timbul karena biaya bukan
sebaliknya pendapatan menanggung biaya.

6) Bukti Terverifikasi Dan Objektif

Bahwa informasi keuangan akan mempunyai tingkat kebermanfaatan


dan tingkat keterandalan yang cukup tinggi apabila terjadinya data
keuangan didukung oleh bukti-bukti yang objektif dan dapat diuji
kebenarannya (keabsahannya /keautetikannya). Objektivitas bukti harus
dievaluasi atas dasar kondisi yang melingkupi penciptaan, pengukuran, dan
penangkapan atau pengakuan data akuntansi.Jadi, akuntansi tidak
mendasarkan diri pada objektivitas mutlak melainkan pada objektivitas
relatif yaitu objektivitas yang paling tinggi pada waktu transaksi terjadi
dengan mempertimbangkan keadaan dan tersedianya informasi pada waktu
tersebut.

7) Asumsi

Bahwa asumsi di sini merupakan penjelasan bahwa keenam dasar


sebelumnya merupakan asumsi atau didasarkan atas asumsi tertentu
dengan segala keterbatasannya.

Asumsi – asumsi tersebut adalah :

(1)Kesatuan usaha : terbatas penggunaannya jika diterapkan pada


kegiatan departemen, operasi unit pemerintahan, kegiatan usaha
perseorangan atau firma dan kegiatan usaha perusahaan afiliasi
(anak).
(2)Kontinuitas usaha : asumsinya didasarkan atas pengalaman
perusahaan pada umumnya.
(3)Periode satu tahun : satu tahun adalah waktu yang tepat untuk
pelapran , karena tidak terlalu pendek, juga tidak terlalu panjang.
(4)Harga Pokok sebagai bahan olah akuntansi : harga pokok faktor
produksi tersebut adalah HP pada saat terjadinya.
(5)Daya beli uang stabil.

Tujuannya adalah mencari laba : perusahaan dipandang sebagai suatu


organisasi yang dibentuk untuk menghasilkan pendapatan.

2. Gambaran Umum Konsep Dasar Oleh FASB

1) Kerangka Konseptual FASB


Rerangka konseptual dipandang sebagai teori akuntansi yang terstruktur
(Belkaouli, 1993). Hal ini disebabkan struktur rerangka konseptual sama
dengan struktur teori akuntansi yang di dasarkan pada proses penalaran
logis (logical normative). Atas dasar penalaran ini, teori merupakan proses
pemikiran menurut rerangka konseptual tertentu untuk menjelaskan apa
yang harus di lakukan apabila ada fakta atau fenomena baru.

FASB (1978) mendefinisikan rerangka konseptual sebagai suatu format yang


saling berkait sebagai berikut : “suatu format yang koheren tentang tujuan
(objectives) dan konsep dasar yang saling berkaitan, yang di harapkan dapat
menghasilkan standar-standar yang konsisten dan memberi pedoman
tentang jenis, fungsi, serta keterbatasan akuntansi keuangan dan pelaporan
keuangan”.

Ada beberapa pihak yang memandang rerangka konseptual sebagai “


konsistensi” (Undang-Undang Dasar), yang merupakan landasan dalam
proses penentuan standar akuntansi. Tujuannya adalah untuk memberi
pedoman bagi badan yang berwenang dalam memecahkan masalah yang
muncul selama proses penentuan standar. Hal ini di lakukan dengan cara
mempersempit permasalahan sehingga dapat di tentukan apakah standar
tertentu sesuai dengan rerangka konseptual.

2) Perumusan Rerangka Konseptual

Selanjutnya hanya ditekankan pada kerangka konseptual FASB. Adanya


kebutuhan akan rerangka konseptual mendorong FASB mengeluarkan
Discussion Memorandum berjudul “ Conceptual Rerangka for Financial
Accounting and Reporting : Elements of Financial Statements and Their
Measurement “ pada tahun 1976. Hasil kerja dan tulisan tersebut akhinya
pada perioda 1978-1985 dihasilkan enam komponen rerangka konseptual
dan diberi nama Statement of Financial Accounting Concept (SFAC) sebagai
berikut :
(a). SFAC No. 1 : Objectives of Financial Reporting by Business Enterprise
tahun 1978. Isi : tujuan pelaporan keuangan.

(b). SFAC No. 2 : Qualitative Charateristics of Accounting Information tahun


1980. Isi : kualitas informasi yang harus dipenuhi dalam pelaporan
keuangan.

(c). SFAC No. 3 : Elemennts of Financial Statements of Business Enterprises


tahun 1980. Isi : tujuan yang akan dicapai dalam pelaporan keuangan
organisasi nir laba.

(d). SFAC No. 4 : Objectives of Financial Reporting by Nonbusiness


Organizations tahun 1980. Isi : kriteria pengakuan dan atribut pengukuran
elemen laporan keuangan.

(e). SFAC No. 5 : Recognition dan Measurement in Financial Statement of


Business Enterprises tahun 1984. Isi : Definisi dan karakteristik elemen
laporan keuangan.

(f). SFAC No. 6 : Elements of Financial Statements: A Replacement of FASB


Concepts Statement No. 3 tahun 1985. Isi : mengganti SFAC No. 3 dan
berlaku juga bagi organisasi nirlaba.

3) TUJUAN DASAR

Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk


menyediakan informasi:

(1) yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang
aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta
kredit;

(2) untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan
potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan
ketidakpastian arus kas masa depan;
(3) tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan
perubahan di dalamnya.

Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada


informasi yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat
keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor
atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari
pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan
berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna
untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus
kas yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal
sebagai kegunaan keputusan (decision usefulness).

Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan,


profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-
purpose financial statement), yaitu men yediakan informasi paling
bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai

3. Joint Project FASB- IASB

1) Sejarah Proyek Sewa FASB

Sejarah Proyek Sewa FASB Pernyataan Nomor 13, Akuntansi Sewa Guna
Usaha, yang diterbitkan pada tahun 1976,memberikan pedoman akuntansi
sewa untuk kedua lessor dan lessee. Menurut ketentuanPernyataan 13,
lessee harus mengakui baik aset dan liabilitas untuk sewa yang
mengalihkan secarasubstansial seluruh manfaat dan risiko insiden dengan
kepemilikan properti, dan lessor harusmengakui sewa tersebut sebagai
penjualan atau pembiayaan. Berdasarkan Pernyataan 13, sewayang tidak
mengalihkan secara substansial semua manfaat dan risiko insiden dengan
kepemilikanproperti diklasifikasikan sebagai sewa operasi oleh lessee. Dalam
klasifikasi operating lease, lesseetidak mengakui unsur sewa di neraca
(yaitu, tidak mengakui aset untuk hak untuk menggunakan asetatau
kewajiban terkait untuk pembayaran sewa di masa depan), melainkan,
lessee mengakui biayasewa karena menjadi hutang.

IAS 17, Sewa, dikeluarkan oleh IASC pada tahun 1982 dan sangat mirip
dengan Pernyataan 13 karenadidasarkan pada sejauh mana risiko
dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset sewaanberada pada
lessor atau lessee. Meskipun IAS 17 telah mengalami beberapa
kali perubahan, versiterbaru yang mempertahankan pendekatan mendasar
untuk akuntansi sewa yang terkandung dalamstandar asli

Permasalahan mengenai Akuntansi sewa (lease) menjadi perhatian


besar bagi duastandardsetter di dunia yaitu IASB dan FASB. Kedua lembaga
ini menjalankan proyek bersama untukterus mengembangkan dan
menyempurnakan akuntansi untuk sewa (lease). Perkembangan
terakhir adalah diterbitkannya Exposure Draft : Leases pada bulan Agustus 2
010 dandiharapkan penyempurnaan atas Exposure draft : Leases ini pada
kuartal ke-2 tahun 2013.

Dasar pemikiran dan tujuan dari proyek bersama ini antara lain adalah :

(1) . Akuntansi sewa yang sekarang ada kurang memenuhi kebutuhan


user.

(2) . Kompleksitas – > kesulitan untuk mendefinisikan garis batas


pembeda antara finance danoperating lease.

(3). Menghilangkan klasifikasi dan akuntansi untuk operating lease (di


sisi lessee), namun tetapada bagi lessor dalam kasus tertentu.

Yang tidak termasuk ruang lingkup standar ini adalah :

(1)Kontrak yang mewakili pembelian/penjualan underlying asset


(2)Sewa aset tak berwujud atau aset agricultural
(3)Sewa terkait eksplorasi atau penggunaan sumber daya alam
Komponen jasa dari kontrak yang mengandung unsur komponen jasa
dan sewa, jika memenuhi kriteria tertentu

DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. 2008. Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan.


Yogyakarta: BPFE

Sumbogo, Anton . Tugas Teori Akuntansi Konsep Dasar.

https://kurniawanbudi04.wordpress.com/2013/01/11/kerangka-konseptual-
fasb/. Diakses pada tanggal 16 September 2019

http://suharianihabibah.blogspot.com/2015/11/krangka-konseptual-fasb.html
Diakses pada tanggal 16 September 2019