Anda di halaman 1dari 12

i

i
KATA PENGANTAR

Segala puji kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat rahmat
dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang “NOx Emission Standards for
Marine Diesel Engines” ini. Tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ir.
Hesty Anita Kurniawati, M.Sc, Bapak Imam Baihaqi, S.T., M.T selaku dosen pengampu
Mata Kuliah Peraturan Statutori Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan
Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang telah membimbing dan kepada pihak-pihak yang
telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Kami sangat berharap bahwa makalah ini dapat berguna bagi para pembaca dan dalam
rangka menyelesaikan tugas Mata Kuliah Peraturan Statutori yang diberikan ini juga dapat
menambah ilmu pengetahuan dan wawasan kepada para pembaca dan kepada kami selaku
tim penyusun.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu
segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat kami harapkan. Demikian makalah
ini kami buat, semoga dapat memberi manfaat dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Surabaya, 30 April 2019

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................................... I

DAFTAR ISI............................................................................................................................. II

1. PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1

1.1. Latar Belakang ........................................................................................................... 1

1.2. Tujuan ........................................................................................................................ 1

2. STANDAR EMISI NOX MESIN DIESEL KAPAL ......................................................... 2

2.1. Bahaya Emisi Gas Buang Mesin Kapal ..................................................................... 2

2.2. Pengendalian Emisi Gas Buang Kapal Melalui MARPOL 73/78 Aneks VI ............. 3

2.3. Standar Emisi Tier I, II, dan III.................................................................................. 3

2.4. Emission Control Area (ECA) ................................................................................... 6

2.5. Alat Bantu untuk Memenuhi Persyaratan Emisi NOx................................................ 6

3. PENUTUP.......................................................................................................................... 8
1
1. PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Ditemukannya mesin uap pada abad ke-18 membawa peradaban manusia menuju
tingkatan yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya. Perlahan-lahan, semua kegiatan yang
biasanya membutuhkan waktu lama dalam pengerjaannya menjadi jauh lebih cepat. Perputaran
ekonomi semakin meningkat. Pada masa itu, mesin uap dianggap menjadi juruselamat yang
membawa manusia ke derajat paling tinggi pada masa itu.

Penggunaan mesin uap untuk penggerak kapal mulai diterapkan secara luas pada abad
ke-19. Penyebab populernya penggunaan kapal uap pada masa itu adalah kemampuannya
untuk beroperasi tanpa harus bergantung pada kondisi angin. Kapal uap juga memungkinkan
pelayaran jarak jauh menjadi lebih mudah dilakukan.

Selama perkembangan zaman, teknologi mesin penggerak juga mulai berkembang.


Saat ini, terdapat berbagai tipe mesin penggerak kapal, seperti mesin diesel, mesin turbin, dan
lain-lain. Akan tetapi, manusia mulai sadar dampak dari penggunaan mesin-mesin tersebut.
Asap pembuangan mesin-mesin tersebut ternyata dapat membahayakan manusia dan
lingkungan. Oleh karena itu, dibuatlah aturan untuk meregulasi gas buang yang diakibatkan
oleh mesin-mesin kapal ini.

1.2. TUJUAN

Tujuan dari makalah ini untuk membahas regulasi untuk mengurangi polusi udara
yang dihasilkan oleh kapal. Topik yang dibahas antara lain:

- Bahaya polusi NOx


- MARPOL 73/78 Aneks VI
- Standar emisi NOx mesin kapal (Tier I, II, III)
2. STANDAR EMISI NOX MESIN DIESEL

2
KAPAL

Dalam pengoperasiannya, kapal berpotensi untuk mengeluarkan polusi. Polusi yang


ditimbulkan dapat berupa tumpahan minyak, limbah beracun, dan gas buang. Seberapa
berbahayakah limbah gas buang ini? Regulasi apakah yang digunakan untuk mengurangi gas
buang?

2.1. BAHAYA EMISI GAS BUANG MESIN KAPAL

Emisi gas buang hasil pembakaran mesin pada umumnya terdiri dari beberapa
komponen, antara lain gas karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), partikel kecil
(particulate matter/PM), gas nitrogen oksida (NOx) dan gas sulfur oksida (SOx). Untuk mesin
kapal, gas buang yang dihasilkan juga mengandung semua zat diatas.

Gas nitrogen oksida (NOx) memiliki dampak yang buruk bagi makhluk hidup. Gas ini
beracun bagi manusia dan menghirup gas ini dapat menyebabkan peradangan pada saluran
pernapasan. Selain itu, gas nitrogen oksida juga dapat menyebabkan hujan asam, yang dapat
menyebabkan kerusakan pada lingkungan hidup baik di darat maupun di air.

Gas karbon dioksida (CO2) memilki kontribusi besar dalam perubahan iklim, karena
gas ini memiliki sifat gas rumah kaca. Gas rumah kaca adalah gas yang dapat memantulkan
panas dari matahari dan bumi, sehingga panas tersebut tidak dapat meninggalkan bumi.
Akibatnya, cuaca dan iklim di bumi dapat berangsur-angsur berubah.

Gas sulfur oksida (SOx) adalah gas yang juga bersifat racun terhadap makhluk hidup.
Menghirup gas ini dapat menyebabkan iritasi mata, radang saluran pernapasan, reaksi alergi
bagi penderita asma, dan kerusakan jantung dan paru-paru. Gas ini juga berkontribusi terhadap
pembentukan hujan asam.

Particulate matter (PM) adalah partikel kecil berupa karbon yang dapat membahayakan
manusia. PM disinyalir dapat menyebabkan penyakit jantung, paru-paru, dan kanker. PM juga
memiliki kontribusi dalam perubahan iklim karena PM dapat menyerap panas dari matahari,
sehingga panas dari matahari terjebak di bumi.
2.2. PENGENDALIAN EMISI GAS BUANG KAPAL MELALUI

3
MARPOL 73/78 ANEKS VI

Konvensi International Convention for the Prevention of Pollution from Ships, 1973 as
modified by the Protocol of 1978 regarding thereto (MARPOL 73/78) diadopsi pada
September 1973 (MARPOL 73) dan Februari 1978 (MARPOL 78). Tujuan dari konvensi ini
adalah untuk mencegah dan mengurangi polusi yang ditimbulkan oleh kapal, baik secara
sengaja (operasional) maupun tidak sengaja (kecelakaan).

MARPOL 73/78 memiliki enam bagian yang masing-masing membahas regulasi dari
beberapa zat polutan yang dihasilkan oleh kapal, seperti:

- Aneks I mengenai polusi akibat minyak;


- Aneks II mengenai polusi akibat zat cair beracun dalam bentuk curah;
- Aneks III mengenai polusi akibat zat berbahaya dalam bentuk paket;
- Aneks IV mengenai polusi akibat limbah kotoran dari kapal;
- Aneks V mengenai polusi akibat sampah dari kapal; dan
- Aneks VI mengenai polusi udara dari kapal.

Aneks VI dari MARPOL 73/78 membahas lebih dalam regulasi polusi udara dari kapal.
Zat polutan udara yang diatur dalam aneks ini mencakup:

- Ozone-depleting substances (ODS), misalnya gas freon;


- Gas nitrogen oksida (NOx);
- Gas sulfur oksida (SOx);
- Partikel kecil (PM); dan
- Zat kimia organik yang mudah menguap.

Regulasi mengenai kadar gas nitrogen oksida yang dihasilkan oleh mesin kapal diatur
dalam MARPOL 73/78 Aneks VI regulasi 13.

2.3. STANDAR EMISI TIER I, II, DAN III

Standar emisi mesin kapal pertama kali diperkenalkan pada protokol 1997 MARPOL
73/78 yang diadopsi pada 27 September 1997. Protokol ini menciptakan aneks VI dari
MARPOL 73/78. Standar emisi yang diperkenalkan pada tahun 1997 adalah standar Tier I.
Standar ini diberlakukan efektif pada tahun 2005. Standar Tier II dan III diperkenalkan pada

4
amandemen yang dilakukan pada tahun 2008. Amandemen ini berisi standar emisi NOx untuk
mesin kapal baru (Tier II dan III), persyaratan emisi NOx Tier I untuk mesin lama dengan tahun
produksi sebelum 2000, dan persyaratan kualitas bahan bakar kapal.

Standar Tier I, II, dan III dibagi berdasarkan tahun kapal dibangun dan daerah operasi
kapal. Tier ini terdiri dari:

a. Tier I

Standar ini berlaku untuk mesin yang dipasang pada kapal yang dibangun
pada/setelah 1 Januari 2000 dan sebelum 1 Januari 2011. Nitrogen oksida (dihitung
sebagai emisi total dari NO2) dari mesin harus memenuhi batas berikut, dimana n = rpm
mesin:

- 17.0 g/kWh ketika n < 130 rpm

- 45.n(-0.2) g/kWh ketika 130 ≤ n < 2000 rpm

- 9.8 g/kWh ketika n ≥ 2000 rpm

b. Tier II

Standar ini berlaku untuk mesin yang dipasang pada kapal yang dibangun
pada/setelah 1 Januari 2011. Emisi dari nitrogen oksida (dihitung sebagai emisi total
dari NO2) dari mesin harus memenuhi batas berikut, dimana n = rpm mesin:

- 14.4 g/kWh ketika n < 130 rpm

- 44.n(-0.2) g/ kWh ketika 130 ≤ n < 2000 rpm

- 7.7 g/kWh ketika n ≥ 2000 rpm

c. Tier III

Hanya berlaku untuk kapal-kapal tertentu yang beroperasi di daerah emission


control area. Dan berlaku untuk kapal yang dibangun pada/setelah 1 Januari 2016.
Nitrogen oksida (dihitung sebagai emisi total dari NOX) dari mesin harus memenuhi
batas berikut, dimana n = rpm mesin:

- 3.4 g/kWh ketika n < 130 rpm


- 9 n(-0.2) g/kWh kWh ketika 130 ≤ n < 2000 rpm

5
- 2.0 g/kWh ketika n ≥ 2000 rpm

Tier III tidak diterapkan untuk kapal dengan panjang kurang dari 24 meter dan
digunakan khusus untuk tujuan rekreasi(kapal pribadi).

Untuk mesin yang dipasang pada kapal yang dibangun antara 1 Januari 1990 dan 31
Desember 1999, mesin tersebut harus memiliki sertifikasi minimal Tier I dengan cara
memasang alat yang dibutuhkan untuk menurunkan kadar NOx dalam asap pembuangan.

Di Indonesia, MARPOL Aneks VI diratifikasi melalui PP nomor 29 tahun 2013


bersama dengan aneks III, IV, dan V. Ketentuan mengenai batas emisi NOx pada kapal
dijabarkan dalam Permenhub nomor 29 tahun 2014 pasal 31 ayat (2) dan pasal 32.

Tabel 2.1 Batas emisi NOx menurut MARPOL Annex VI

Gambar 2.1 Grafix batas emisi NOx


2.4. EMISSION CONTROL AREA (ECA)

6
Emission Control Areas (ECA), atau Sulfur Emission Control Area (SECA), adalah
area laut dimana kontrol yang lebih ketat dibuat untuk meminimalkan emisi udara dari kapal
sebagaimana didefinisikan oleh MARPOL Annex VI Reg. 2.8.

Emisi ini secara spesifik mencakup SOx, NOx, ODS dan VOC dan peraturan mulai
berlaku pada Mei 2005. Aneks VI berisi ketentuan untuk persyaratan emisi dan kualitas bahan
bakar mengenai SOx dan PM, atau NOx, persyaratan global dan kontrol yang lebih ketat di
Emission Control Areas (ECA). Peraturan tersebut berasal dari kekhawatiran tentang "polusi
udara lokal dan global dan masalah lingkungan" sehubungan dengan kontribusi industri
pelayaran. Pada bulan Juli 2010, Annex VI yang lebih ketat dan telah direvisi diterapkan di
Emission Control Areas dengan batas emisi yang diturunkan secara signifikan.

Pada 2011 terdapat empat daerah ECA: Laut Baltik, Laut Utara, Amerika Utara,
termasuk sebagian besar AS dan pantai Kanada dan laut Karibia AS. Juga area lain dapat
ditambahkan melalui protokol yang didefinisikan dalam aneks VI. ECA dengan ambang batas
nitrogen oksida ditandai sebagai Nitrogen Oxide Emission Control Areas (NECA).

2.5. ALAT BANTU UNTUK MEMENUHI PERSYARATAN EMISI


NOX

1. Selective Catalytic Reduction (SCR)


Dalam sistem ini, urea atau amonia diinjeksikan ke dalam gas buang sebelum melewati
unit, yang terdiri dari lapisan katalis khusus, pada suhu antara 300 dan 400oC. Reaksi kimia
antara urea / amoniak dan NOx dalam gas buang mengurangi NOx (NO dan NO2) ke N2. Unit
SCR dipasang antara exhaust manifold / receiver dan turbocharger.
Turbocharger efisiensi tinggi diperlukan untuk sistem ini karena ada penurunan
tekanan pada Reaktor SCR. Beban mesin harus 40% ke atas, karena NOx dikurangi menjadi
N2 dalam jendela suhu spesifik (300-400oC).
Jika suhu di atas 400oC, amonia akan terbakar dan bereaksi dengan NOx yang akan
menyebabkan sistem menjadi tidak efektif. Jika suhu di bawah 270oC, laju reaksi akan menurun
dan amonium sulfat yang terbentuk akan menghancurkan katalis.
Beberapa mesin Wartsila dan MAN B&W menggunakan teknologi ini. Pengurangan

7
lebih dari 90% dicapai dengan menggunakan teknologi SCR untuk memenuhi standar emisi
Tier III.

2. Exhaust Gas Recirculation (EGR)


Dalam teknologi ini, bagian dari gas buang setelah turbocharger diresirkulasi ke
scavenge penerima setelah melewati unit scrubber (pencucian gas buang). Sekitar 50-60%
pengurangan NOx dari tier I diklaim dengan memanfaatkan EGR. Namun pembuangan air
pembersih membutuhkan pengolahan seperti pemurnian dan memisahkan lumpur pembersih
gas buang. Karena beberapa negara menentang pembuangan air ini, penggunaan kembali air
ini menimbulkan masalah korosi.
Pengurangan NOx terjadi karena pengurangan udara berlebih (kandungan oksigen)
yang digunakan untuk pembakaran, penambahan CO2 dan uap air mengurangi suhu puncak
karena keduanya memiliki panas spesifik yang lebih tinggi daripada udara.

3. CSNOx
CSNOx dikembangkan oleh Ecospec untuk mengurangi kadar CO2, NOx, dan SOx
dalam satu alat yang cukup ringkas.Alat ini menggunakan air laut atau air tawar yang melewati
elektrolisis frekuensi ultra rendah. Ait yang telah diolah ini kemudian dicampurkan agar dapat
bereaksi dengan gas buang untuk mengurangi kadar NOx. Alat ini memiliki efisiensi tinggi
dengan penggunaan energi dan perawatan yang rendah.

4. Penggunaan Mesin Gas Tekanan Rendah


Penggunaan mesin gas tekanan rendah akan menghasilkan emisi gas buang yang sangat
rendah. Mesin ini biasanya menggunakan dua jenis bahan bakar, yaitu LNG dan minyak.
3. PENUTUP

8
Emisi gas buang dari kapal memiliki dampak yang buruk bagi makhluk hidup dan
lingkungan, sehingga perlu ada regulasi untuk menguranginya. MARPOL 73/78 dibuat untuk
membatasi/mengurangi polusi yang diakibatkan oleh kapal,baik operasional maupun
insidental. MARPOL 73/78 Aneks VI membahas regulasi mengenai polusi udara kapal.
Standar emisi mesin kapal dikelompokkan menjadi 3 kelompok berdasarkan waktu
pembangunan dan daerah berlayar, yaitu Tier I, II, dan III. Pelayaran melalui perairan ECA
harus mengikuti standar Tier III. Untuk mengurangi emisi, terdapat alat yang dadpat dipakai
untuk mengurangi konten zat polutan yang dihasilkan mesin kapal.
DAFTAR PUSTAKA
Chogle, T. (2017, October 7). 7 Ways For Ships To Meet MARPOL NOx Tier III Regulation.
Retrieved from Marine Insight: https://www.marineinsight.com/tech/different-ways-
meet-nox-tier-iii-standards/

ClearSeas. (2019). Air Pollution & Marine Shipping. Retrieved from ClearSeas:
https://clearseas.org/en/air-pollution/

DieselNet. (2018). IMO Marine Engine Regulations. Retrieved from DieselNet:


https://www.dieselnet.com/standards/inter/imo.php

Direktorat Jendral Perhubungan Laut. (2014). PM 29 Tahun 2014. Retrieved from Portal
Hubla:
http://hubla.dephub.go.id/kebijakan/Transportasi%20Laut/pm_29_tahun_2014.pdf

International Maritime Organization. (2019). Prevention of Air Pollution from Ships.


Retrieved from International Maritime Organization:
http://www.imo.org/en/OurWork/Environment/PollutionPrevention/AirPollution/Page
s/Air-Pollution.aspx

Kurniawati, H. A. (2018). Statutory Regulations. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh


Nopember.

United States Environmental Protection Agency. (2019). Nitrogen Dioxide (NO2) Pollution.
Retrieved from United States Environmental Protection Agency:
https://www.epa.gov/no2-pollution/basic-information-about-no2

United States Environmental Protection Agency. (n.d.). The Act To Prevent Pollution From
Ships (APPS) Enforcement Case Resolutions. Retrieved from United States
Environmental Protection Agency: https://www.epa.gov/enforcement/act-prevent-
pollution-ships-apps-enforcement-case-resolutions