Anda di halaman 1dari 10

Nama : Ade Ayu Khulfiah

Kelas : S1-2.2

NIM : 12118042

Aldehid dan keton slide 28-31

Oksidasi aldehid dan keton (slide 28)

 Oksidasi menjelaskan pelepasan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion.
 Reduksi menjelaskan penambahan elektron oleh sebuah molekul, atom, atau ion.

Walaupun cukup tepat untuk digunakan dalam berbagai tujuan, penjelasan di atas tidaklah
persis benar. Oksidasi dan reduksi tepatnya merujuk pada perubahan bilangan oksidasi karena
transfer elektron yang sebenarnya tidak akan selalu terjadi. Sehingga oksidasi lebih baik
didefinisikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi, dan reduksi sebagai penurunan bilangan
oksidasi.

Senyawa-senyawa yang memiliki kemampuan untuk mengoksidasi senyawa lain


dikatakan sebagai oksidatif dan dikenal sebagai oksidator atau agen pengoksidasi. Oksidator
melepaskan elektron dari senyawa lain, sehingga dirinya sendiri tereduksi. Oleh karena ia
"menerima" elektron, ia juga disebut sebagai penerima elektron. Oksidator bisanya adalah
senyawa-senyawa yang memiliki unsur-unsur dengan bilangan oksidasi yang tinggi (seperti
𝐻2 𝑂2 , 𝑀𝑛𝑜4 − , 𝐶𝑟2 𝑂7 2− , 𝐶𝑟𝑂3, atau senyawa-senyawa yang sangat elektronegatif, sehingga
dapat mendapatkan satu atau dua elektron yang lebih dengan mengoksidasi sebuah senyawa
(misalnya oksigen, fluorin, klorin, dan bromin).

Keton tak mudah dioksidasi, tetapi aldehid sangat mudah teroksidasi menjasi asam
karboksilat. Hampir setiap reagensia yang mengoksidasi suatu alkohol juga mengoksidasi
suatu aldehid. Garam permanganat atau dikromat merupakan zat pengoksidasi yang
terpopuler, tetapi bukanlah satu-satunya reagensia yang dapat digunakan. Berikut contoh
reaksi oksidasi pada suatu aldehid dan keton :

Atom H pada reaksi diatas akan terputus karena hidrogen alfa bersifat asam dan mudah
terlepas kemudian putus dan digantikan dengan OH yang kemudian terbentuk suatu asam
karboksilat.
Pada keton reaksi ini tidak berlansung dikarenakan pada struktur keton tidak memiliki
atom H yang akan dilepas sehingga tidak terjadi reaksi.

Disamping oksidasi oleh permanganat dan dikromat, aldehid dapat dioksidasi oleh zat
pengoksidasi yang sangat lembut, seperti 𝐴𝑔+ 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐶𝑢2+ . Reagensia Tollens ( suatu larutan
basa dari ion kompleks perak-amonia ) digunakan sebagai reagensia uji untul aldehida.
Aldehida itu dioksidasi menjadi anion karboksilat; ion 𝐴𝑔+ dalam reagensia tollens direduksi
menjadi logam Ag. Uji positif ditandai oleh terbentuknya cermin perak pada dinding dalam
tabung reaksi. Reaksi cermin perak adalah sebagai berikut :

Sumber : fessenden & fessenden edisi 3 jilid 2, 1986

https://www.ilmukimia.org/2013/03/reaksi-reduksi-oksidasi-aldehida-dan-keton.html
Pembuatan keton (Slide 29)

Keton aril dapat dibuat dengan reaksi asilasi Friedel-Crafts. Reaksi Friedel-Crafts merujuk
pada sekelompok reaksi kimia yang dikembangkan oleh Charles Friedel dan James
Crafts pada tahun 1877. Terdapat dua kelompok besar reaksi Friedel-Crafts, yakni
reaksi alkilasi dan reaksi asilasi. Reaksi-reaksi ini termasuk dalam reaksi substitusi aromatik
elektrofilik. Untuk pembuatan keton menggunakan reaksi asilasi.
Asilasi Friedel-Crafts adalah asilasi cincin aromatik dengan asil klorida menggunakan
katalis asam lewis yang kuat. Asilasi Friedel-Crafts dapat terjadi dengan asam anhidrida.
Kondisi reaksi ini sama dengan alkilasi Friedel-Crafts di atas. Reaksi ini memiliki beberapa
keuntungan dari reaksi alkilasi. Oleh karena efek penarikan elektron dari gugus karbonil,
hasil reaksi keton selalu kurang reaktif dari reaktan, oleh karena itu asilasi berganda tidak
terjadi. Selain itu, juga tidak terjadi penataan-ulang karbokation karena ion karbonium
distabilkan oleh struktur resonans dengan muatan positif pada oksigen.

Reaksi asilasi Freidel-Crafts sangat bergantung pada stabilitas reagen asil klorida. Formil
klorida, sebagai contohnya, sangat tidak stabil untuk diisolasikan. Oleh karena itu
sintesis benzaldehida via lintasan Friedel-Crafts memerlukan sintesis formil klorida secara in
situ. Ini dapat dilakukan melalui reaksi Gatterman-Koch yang
mereaksikan benzena dengan karbon monoksida dan hidrogen klorida pada tekanan tinggi
dan dikatalisasikan dengan campuran aluminium klorida dan kupro klorida.

Mekanisme reaksi
Tahap pertama reaksi terdiri dari disosiasi atom klor menjadi kation asil:

Kemudian diikuti dengan serangan nukelofilik arena terhadap gugus asil:

Pada akhirnya atom klor bereaksi menjadi HCl dan katalis AlCl3 terbentuk kembali seperti
semula:
Sumber : fessenden & fessenden edisi 3 jilid 2, 1986

https://id.wikipedia.org/wiki/Reaksi_Friedel-Crafts

https://www.slideshare.net/fhyaalfiah/reaksi-friedelcrafts
Oksidasi alkohol sekunder ( slide 30 )

Reaksi oksidasi pada alkohol

Alkohol sederhana mudah terbakar membentuk gas karbondioksida dan uap air. Oleh
karena itu, etanol digunakan sebagai bahan bakar (spiritus). Reaksi pembakaran etanol
sebagai berikut:

C2H5OH(l) + 3O2(g) → 2CO2(g) + 3H2O(g) + kalor

Dengan zat-zat pengoksidasi sedang, seperti larutan K2Cr2O7 dalam lingkungan asam,
alkohol teroksidasi sebagai berikut :
1. Reaksi oksidasi alkohol primer
akan menghasilkan alkanal (aldehida), jika dibiarkan beberapa lama, maka proses oksidasi
akan berlanjut menghasilkan suatu asam karboksilat. Jika kita ingin memperoleh aldehida
dari proses oksidasi ini, maka secepatnya dilakukan destilasi untuk menghindari proses
oksidasi berlanjut.

Reaksi oksidasi etanol dapat dianggap berlangsung sebagai berikut:

senyawa dengan 2 gugus OH terikat pada suatu atom karbon bersifat tidak stabil, dan terurai
dengan melepaskan1 molekul air. Jadi, senyawa yang terbentuk pada reaksi diatas segera
terurai sebagai berikut:

Etanal yang dihasilkan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam asetat. Hal ini terjadi
karena oksidasi aldehida lebih mudah daripada oksidasi alkohol.
2. Reaksi oksidasi alkohol sekunder
Alkohol sekunder dioksidasi menjadi keton. Tidak ada reaksi lebih lanjut yang terjadi
seperti pada oksidasi alkohol primer. Sebagai contoh jika alkohol sekunder, 2-propanol,
dipanaskan atau dioksidasi, maka akan terbentuk 2-propanon.

Terjadi protonasi atom H pada proses oksidasi alkohol sekunder

Perubahan-perubahan pada kondisi reaksi tidak akan dapat merubah produk yang terbentuk.
Jika melihat kembali tahap kedua reaksi alkohol primer, ada sebuah atom oksigen yang
"disisipkan" antara atom karbon dan atom hidrogen dalam gugus aldehid untuk menghasilkan
asam karboksilat. Untuk alkohol sekunder, tidak ada atom hidrogen semacam ini, sehingga
reaksi berlangsung lebih cepat.

Mekanisme oksidasi :
• Keton inert terhadap oksidator pada umumnya.
• Keton bereaksi lambat dengan KMnO4 dalam suasana basa panas  terjadi
pemutusan ikatan.

3. Reaksi oksidasi alkohol tersier


Alkohol-alkohol tersier tidak dapat dioksidasi oleh natrium atau kalium dikromat(VI).
Bahkan tidak ada reaksi yang terjadi.
Jika anda memperhatikan apa yang terjadi dengan alkohol primer dan sekunder, anda akan
melibat bahwa agen pengoksidasi melepaskan hidrogen dari gugus -OH, dan sebuah atom
hidrogen dari atom karbon terikat pada gugus -OH. Alkohol tersier tidak memiliki sebuah
atom hidrogen yang terikat pada atom karbon tersebut.
Anda perlu melepaskan kedua atom hidrogen khusus tersebut untuk membentuk ikatan
rangkap C=O.

Sumber : https://www.scribd.com/document/238714216/Reaksi-Oksidasi-Pada-Alkohol-Dan-
Reaksi-Pada-Asam-Karboksilat
Reaksi adisi ( slide 31)

Reaksi hidrogenasi aldehid dan keton

Ikatan pi pada gugus karbonil (antara C = O) suatu aldehid dan keton dapat
dihidrogenasi oleh H2, mirip dengan reaksi hidrogenasi alkena.

Reaksi umum :

O
||
RCH + H2 ===> RCH2OH
Aldehid Alkohol primer

O OH
|| |
RCR + H2 ===> RCHR’
Keton alkohol sekunder

Reaksi dengan Hidrogen Sianida

HCN juga merupakan reagen yang dapat mengadisi gugus karbonil suatu aldehid atau keton.
Senyawa yang dihasilkan dinamakan sianohidrin.

Reaksi umum :

O OH

|| |

RCH/R’ + HCN<===> R – C – H/R’

CN

Suatu sianohidrin

Reaksi diatas tidak dapat berlangsung begitu saja. Suasana reaksi harus dibuat sedikit basa.
Biasanya HCN nya ditemukan dalam campuran larutan NaCN-HCN. Dalam larutan ini, tentu
konsentrasi ion CN- akan besar (NaCN juga menyumbang ion CN-) sehingga reaksi adisi
dapat berlangsung dimana ion CN- nya menyerang gugus karbonil. Reaksi diatas termasuk
reaksi nukleofilik. Reaksi nukleofilik oleh CN- tidak membutuhkan katalis karena CN-
merupakan nukleofil yang kuat.

Contoh reaksi :

O OH

|| CN- |

CH3CCH2CH2CH3 + HCN =====> CH3CCH2CH2CH3

CN

Binatang –binatang beracun seperti kelabang bisanya memiliki racun yang mengandung
sianohdrin yang disimpan dalam tubuhnya dalam bentuk senyawa mandelonitril. Ketika
dalam bahaya, senyawa ini akan terdisosiasi oleh suatu enzim yang menghasilkan HCN.
HCN yang bersifat beracun ini kemudian disemburkan ke mangsa dan dapat membuatnya
mati atau kesakitan. Seekor kelabang yang menyemprotkan HCN bisa membunuh seekor
tikus.

Suatu keton ketika direaksikan dengan pereaksi fehling maupun tollens maka tidak bereaksi
hal ini terjadi dikarenakan pada struktur keton tersebut tidak mempunyai atom H sehingga
reaksi tidak dapat berlangsung seperti yang terjadi pada aldehid.

Sumber : https://www.avkimia.com/2017/04/reaksi-reaksi-aldehid-dan-keton.html

fessenden & fessenden edisi 3 jilid 2, 1986