Anda di halaman 1dari 11

etika kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 .Pengertian Etika

Filsafat dibagi menjadi beberapa cabang menurut lingkungan bahasannya masing-masing.Cabang-cabang


itu dibagi menjadi dua kelompok bahasan pokok yaitu filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis
membahas tentang segala sesuatu yang ada, sedangkan filsafat praktis membahas bagaimana manusia
bersikap terhadap apa yang ada tersebut. Dalam hal ini filsafat teoritispun juga mempunyai maksud-
maksud dan berkaitan erat dengan hal-hal yang bersifat praktis.

Etika termasuk kelompok filsafat praktis dan dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika umum dan etika
khusus.Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-
pandangan moral.Etika adalah suatu ilmu yang membahas tentang bagaimana dan mengapa kita
mengikuti suatu ajaran moral tertentu, atau bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung
jawab berhadapan dengan berbagai ajaran moral (Suseno, 1987).Etika umum mempertanyakan prinsip-
prinsip yang berlaku bagi setiap tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip itu
dalam hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan manusia (Suseno, 1987). Etika khusus dibagi
menjadi etika individual yang membahas tentang kewajiban manusia terhadap diri sendiri dan etika
sosial yang membahas tentang kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam hidup masyarakat, yang
merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.

Sebenarnya etika lebih banyak bersangkutan dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan
dengan tingkah laku manusia (Kattsoff, 1986).Dapat juga dikatakan bahwa etika berkaitan dengan tingkah
laku manusia.

Pancasila menjadi semacam etika perilaku para penyelenggara negara dan masyarakat Indonesia agar
sejalan dengan nilai normatif Pancasila itu sendiri. Pengalaman sejarah pernah menjadikan Pancasila
sebagai semacam norma etik bagi perilaku segenap warga bangsa. Ketetapan MPR No.II/MPR/1978
tentang P4 dapat dianggap sebagai etika sosial dan etika politik bagi bangsa Indonesia yang didasarkan
pada nilai-nilai Pancasila (Achmad Fauzi, 2003).

Di era sekarang ini, tampaknya kebutuhan akan norma etik untuk kehidupan bernegara masih perlu
bahkan penting untuk ditetapkan. Hal ini terwujud dengan keluarnya ketetapan MPR No.VI/MPR/2001
tentang Etika Kehidupan Berbangsa, Bernegara, dan Bermasyarakat.

2.2. Tujuan Etika


Etika ini bertujuan untuk :

1. Memberikan landasan etik moral bagi seluruh komponen bangsa dalam menjalankan kehidupan
kebangsaan dalam berbagai aspek.

2. Menentukan pokok-pokok etika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

3. Menjadi kerangka acuan dalam mengevaluasi pelaksanaan nilai-nilai etika dan moral dalam
kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

2.3. Etika dalam Bermasyarakat

Etika Masyarakat adalah segala hal yang mengatur masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan,
adat-istiadat, watak, perasaan, sikap dan cara berpikir. Etika terkadang dibentuk dari kebiasaan yang
telah terjadi secara turun temurun atau sudah dilakukan oleh nenek moyang.Etika juga terkadang
berasal dari nilai-nilai keagamaan yang dipercayai masyarakat.Sehingga etika pada umumnya adalah
segala jenis hukum yang mengatur moral, adat dan kesopanan dalam bermasyarakat.

Dalam bersosialisasi di masyarakat, manusia memerlukan etika sebagai pedoman dalam berkata, berpikir
dan melakukan suatu kebiasaan yang baik untuk dianut sehingga dapat diwariskan dari satu generasi ke
generasi selanjutnya. Maka dari itu, pemahaman akan etika dalam kehidupan bertetangga dan
bermasyarakat sangat penting untuk dalam mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Etika menjadi tolak ukur dalam menghadapi berbagai perbedaan moral yang ada di
masyarakat.Sehingga masyarakat dapat berargumentasi secara rasional dan kritis serta dapat mengambil
sikap wajar dalam menghadapi sesamanya.

Etika memiliki cakupan yang sangat luas dalam kehidupan manusia. Etika dalam masyarakat berkembang
sesuai dengan adat istiadat , kebiasaan, nilai dan pola perilaku manusia terkait dengan situasi dan
realitas yang membudaya dalam kehidupan masyarakat.

Contoh Etika dalam Bermasyarakat

1. Hukum Pidana

Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusakkan, membikin tak dapat
dipakai atau menghilangkan barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian milik orang lain, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua tahun delapan bulan atau pidana denda paling banyak empat
ribu lima ratus rupiah. Menggunakan Pasal 406 Ayat (1) KUHP
Contoh dari Hukum Pidana:

Ketika seseorang/sekelompok orang melakukan pengrusakan/pencurian barang milik orang lain.

2. Hukum Perdata

Hukum Perdata pada etika masyarakat merupakan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi
pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.Bisa disebut sistem nilai
moral.Misalnya etika dalam agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu dan Budha.Etika bisa disebut sebagai
kumpulan asas atau nilai moral (kode etik).Misalnya kode etik kedokteran, kode etik peneliti, kode etik
jurnalis, kode etik pengacara dll.Selain itu, etika juga mengandung hal tentang yang baik atau buruk.Etika
mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.

Contoh dari Hukum Perdata

Seorang pejabat pemerintah (Negara) dipercaya untuk mengelola uang negara.Uang milik Negara berasal
dari rakyat dan untuk rakyat.Pejabat tersebut ternyata melakukan penggelapan uang Negara utnuk
kepentingan pribadinya (korupsi), dan tidak dapat mempertanggungjawabkan uang yang dipakainya itu
kepada pemerintah.Perbuatan pejabat tersebut adalah perbuatan yang merusak etika sosial.Selain itu,
hukuman sosial yang biasanya timbul adalah dikucilkan dari masyarakat.

2.4. Etika dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Etika ini meliputi sebagai berikut:

a. Etika sosial dan budaya

Etika ini bertolak dari rasa kemanusiaan yang mendalam dengan menampilkan kembali sikap jujur, saling
peduli, saling memahami, saling menghargai, saling mencintai, dan tolong-menolong di antara sesama
manusia dan anak bangsa.

b. Etika pemerintahan dan politik

Etika ini dimaksudkan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, efesien, dan efektif serta
menumbuhkan suasana politik yang demokratis yang bercirikan keterbukaan, tanggung jawab, tanggap
akan aspirasi rakyat, menghargai perbedaan, jujur dalam persaingan, serta menjujunjung tinggi hak asasi
manusia.
c. Etiaka ekonomi dan bisnis

Etika ini bertujuan agar prinsip dan prilaku ekonomi baik oleh pribadi, institusi, maupun keputusan
dalam bidang ekonomi dapat melahirkan ekonomi dengan kondisi yang baik dan realitas.

d. Etika penegakan hukum yang berkeadilan

Etika ini bertujuan agar penegakan hukum secara adil, perlakuan yang sama dan tidak diskriminatif
terhadap setiap warga Negara di hadapan hukum, dan menghindarkan peggunaan hukum secara salah
sebagai alat kekuasaan.

e. Etika keilmuan dan disiplin kehidupan

Etika ini diwujudkan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu
berpikir rasional, kritis, logis, dan objektif.

Dengan berpedoman pada etika kehidupan berbangsa tersebut, penyelenggara Negara dan warga
Negara berprilaku secara baik bersumber pada nilai-nilai pancasila dalam kehidupannya.Etika kehidupan
berbangsa tidak memiliki sanksi hukum.Namun sebagai semacam kode etik, pedoman etik berbangsa
memberikan sanksi moral bagi siapa saja yang berprilaku menyimpang dari norma-norma etik yang baik.
Etika kehidupan berbangsa ini dapat kita pandang sebagai norma etik Negara sebagai perwujudan dari
nilai-nilai dasar Pancasila.

Etika dan moral bagi manusia dalam kehiduan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, senantiasa
bersifat relasional. Hal ini berarti bahwa etika serta moral yang terkandung dalam sila-sila Pancasila,
tidak dimaksudkan untuk manusia secara pribadi, namun secara relasioanal senantiasa memiliki
hubungan dengan yang lain baik kepada Tuhan yang maha esa maupun kepada manusia lainnya.

2.5. Faktor – Faktor Yang Menjadikan Terkikisnya Bangsa

konflik sosial yang berkempanjangan, berkurangnya sopan santun dan budi luhur dalam pergaulan sosial,
melemahnya kejujuran dan sikap amanah dalam kehidupan berbangsa, pengabaian terhadap ketentuan
hukum dan peraturan, dan sebagainya yang di sebabkan oleh beberapa faktor yang berasal baik dari
dalam maupun luar negeri yaitu :

Faktor - faktor yang berasal dari dalam negeri antara lain:

1. Masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama dan munculnya pemahaman terhadap
ajaran agama yang keliru dan sempit, serta tidak harmonisnya pola interaksi antara umat beragama
2. Sistem sentralisasi pemerintahan di masa lampau yang mengakibatkan terjadinya penumpukan
kekuasan di pusat dan pengabdian terhadap kepentingan daerah dan timbulnya fanatisme kedaerahan

3. Tidak berkembangya pemahaman dan penghargaan atas kebinekaandan kemajemukan dalam


kehidupan berbangsa

4. Kurangnya keteladanan dalam sikap dan prilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa.

Faktor – faktor yang berasal dari luar negeri meliputi, anatara lain

1. Pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas dengan persaingan antar bangsa yang
semakin tajam

2. Makin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional.

Faktor – faktor penghambat dan yang sekaligus merupakan ancaman tesebut dapat mengakibatkan
bangsa indonesia mengalami kemunduran dan ketidakmampuan dalam mengaktualisasikan segenap
potensi yang dimilikinya untuk mencapai persatuan, mengembangkan kemandirian, keharmonisan dan
kemajuan. Oleh sebab itu, diperlukan upaya sungguh – sungguh untuk meningkatkan kembali warga
bangsa dan mendorong revitalisasi khazanah etika dan moral yang telah ada dan bersemi dalam
masyarakat sehingga menjadi salah satu acuan dasar dalam kehidupan berbangsa.

2.6. Prinsip - Prinsip Etika:

1. Prinsip Keindahan

Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap
keindahan.Misalnya dalam berpakaian, penataan ruang, dan sebagainya sehingga membuatnya lebih
bersemangat untuk bekerja.

2. Prinsip Persamaan

Setiap manusia pada hakikatnya memiliki hak dan tanggung jawab yang sama, sehingga muncul tuntutan
terhadap persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, persamaan ras, serta persamaan dalam
berbagai bidang lainnya.

3. Prinsip Kebaikan

Prinsip ini mendasari perilaku individu untuk selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi
dengan lingkungannya

4. Prinsip Keadilan

Pengertian keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa
yang semestinya mereka peroleh.
5. Prinsip Kebebasan

Kebebasan dapat diartikan sebagai keleluasaan individu untuk bertindak atau tidak bertindak sesuai
dengan pilihannya sendiri.

Untuk itu kebebasan individu disini diartikan sebagai

1. kemampuan untuk berbuat sesuatu atau menentukan pilihan

2. kemampuan yang memungkinkan manusia untuk melaksana-kan pilihannya

3. kemampuan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya

6. Prinsip Kebenaran

Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang
logis/rasional.Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh
individu dan masyarakat.

2.7. Dasar Prinsip Etika Bernegara

Etika merupakan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan etika adalah barometer peradaban
bangsa. Suatu bangsa dikatakan berperadaban tinggi ditentukan oleh bagaimana warga bangsa
bertindak sesuai dengan aturan main yang disepakati bersama. Perilaku dan sikap taat pada aturan main
memungkinkan aktifitas dan relasi antar sesama warga berjalan secara wajar, efisien, dan tanpa
hambatan apapun. Masyarakat Jawa misalnya, dituntut dan diajarkan untuk memahami benar tentang
arti penting etika seperti dalam berbicara di jawa memiliki berbagai macam tingkatan bahasa, jadi ketika
mereka itu berbicara dengan orang yang lebih tua dan ataupun dengan orang yang lebih muda itu
tingkatan bahasanya sangatlah berbeda. Sebab etika yang juga sering disebut unggah-ungguh, tata
krama, sopan santun, dan budi pekerti membuatnya mampu secara baik menempatkan diri dalam
pergaulan sosial dan itu akan sangat menentukan keberhasilan dalam hidup bermasyarakat.

Begitu pula dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, etika akan menjelaskan mana tingkah laku
yang baik, apa yang pantas dan apa yang secara substansi mengandung kebaikan dan sebaliknya. Bagi
bangsa timur seperti Indonesia, etika telah mendarah daging dimiliki dari para leluhur dan diterapkan
dalam kerangka penghormatan terhadap nilai kebaikan, kemanusiaan dan keadilan bersama. Karena itu,
kita masih yakin dan percaya, etika mengalir menjadi bagian dari kultur sosial dan antropologis bangsa
Indonesia. Bahkan secara natural-genetis itu sendiri, di dalam diri anak bangsa telah mengalir sifat-sifat
luhur manusia, yang pada perkembangannya dirumuskan oleh orang-orang dulu ke dalam Pancasila,
dan selanjutnya disepakati sebagai dasar dan orientasi bernegara atau sebagai tanda pengenal
sebuah negara.

Melalui Pancasila inilah, para pendiri negara menggariskan prinsip-prinsip dasar etis bernegara yang
demikian jelas dan visioner. Prinsip-prinsip dasar Pancasila yang dituangkan dalam UUD 1945 dan
disahkan PPKI pada 18 Agustus 1945, tidaklah hadir hanya sebagai intuitif dan tiba-tiba jatuh dari
langit, melainkan melewati proses penggalian mendalam.

Meskipun baru dibahas dan dikemukakan dalam sidang BPUPKI menjelang Indonesia merdeka,
pemikiran mengenai prinsip-prinsip dasar berbangsa dan bernegara sebenarnya telah muncul dan
dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya. Jauh sebelum Indonesia merdeka, berbagai pemikiran yang
mengarah kepada gagasan terciptanya konstruksi kebangsaan dan kemerdekaan Indonesia. Beragam
pemikiran dan gagasan mengenai politik, fundamen etis dan moral bangsa, ideologi, dan visi
kebangsaan itu kemudian bersintesis dalam karakter keindonesiaan. Akhirnya, para penyusun UUD
berhasil menggali dan mengakomodasi nilai-nilai etika dan moral dalam berbagai bidang kehidupan
berbangsa dan bernegara, baik di bidang politik, sosial, ekonomi, dan lain -lain untuk dituangkan
ke dalam UUD 1945.

2.8. Pengertian Nilai, Norma, dan Moral

Di dalam kehidupan sehari-hari telah banyak nilai, norma, maupun moral yang berkembang dalam
kehidupan masyarakat. Nilai-nilai tersebut biasa kita menyebutkanny adalah etika. Etika itu lah yang
melambangkan suatu negara itu bisa dikatakan baik atau tidak baiknya, seperti Indonesia, bangsa luar
selalu menganggap bangsa kita itu rahmah-ramah, murah senyum, sopan, jika berbicara unggah-
ungguhnya ada, itu semua dikarenakan etika yang telah diajarkan sejak nenek moyang kita terdahulu
dan tanpa disadari telah diterapkan sampai sekarang.

1. Pengertian Nilai

Nilai (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu benda untuk memuaskan
manusia.Sifat dari suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok.Nilai
bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku
manusia.Nilai sebagai suatu sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial
dan karya.

Pandangan para ahli tentang nilai-nilai yang terdapat dalam masyarakat :

a. Alport membagi nilai-nilai yang terdapat dalam kehidupanmasyarakat

1. Nilai teori

2. Nilai ekonomi

3. Nilai estetika

4. Nilai sosial

5. Nilai politik

6. Nilai religi
b. Max Scheler, mengelompokkan nilai menjadi enam tingkatan, yaitu:

1. Nilai kenikmatan

2. Nilai kehidupan

3. Nilai kejiwaan

4. Nilai kerohanian

c. Notonagoro, membedakan nilai menjadi tiga, yaitu :

1. Nilai material

2. Nilai vital

3. Nilai kerokhanian

Nilai berperan sebagai pedoman menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai manusia berada dalam
hati nurani, kata hati dan pikiran sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan yang bersumber pada
berbagai sistem nilai. Macam-macam nilai:

a. Nilai Dasar

Meskipun nilai bersifat abstrak dan tidak dapat diamati oleh panca indra manusia, namun dalam
kenyataannya nilai berhubungan dengan tingkah laku manusia. Setiap memiliki nilai dasar yaitu berupa
hakikat, esensi, intisari atau makna yang dari nilai-nilaitersebut.Nilai dasar bersifat universal karena
menyangkut kenyataan obyek dari segala sesuatu.Contohnya tentang hakikat Tuhan, manusia serta
mahkluk hidup lainnya.

Apabila nilai dasar itu berkaitan dengan hakikat Tuhan maka nilai dasar itu bersifat mutlak karena Tuhan
adalah kausa prima (penyebab pertama). Nilai dasar yang berkaitan dengan hakikat manusia maka nilai-
nilai itu harus bersumber pada hakikat kemanusiaan yang dijabarkan dalam norma hukum yang
diistilahkan dengan hak dasar (hak asasi manusia). Dan apabila nilai dasar itu berdasarkan kepada
hakikat suatu benda (kuatutas,aksi, ruang dan waktu) maka nilai dasar itu juga dapat disebut sebagai
norma yang direalisasikan dalam kehidupan yang praksis. Nilai Dasar yang menjadi sumber etika bagi
bangsa Indonesia adalah nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila, sebagaimana diketahui nilai-nilai
tersebut telah diketahui sejak zaman dahulu, nenek moyang kita telah menerapkannya dalam
kehidupannya sehari-hari.

a. Nilai Instrumental

Nilai instrumental adalah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai dasar.Nilai dasar belum
dapat bermakna sepenuhnya apabila belum memiliki formulasi serta parameter atau ukuran yang jelas
dan konkrit. Apabila nilai instrumental itu berkaitan dengan tingkah laku manusia dalam kehidupan
sehari-hari makan itu akan menjadi norma moral. Namun apabila nilai instrumental itu berkaitan dengan
suatu organisasi atau Negara, maka nilai instrumental itu merupakan suatu arahan, kebijakan, atau
strategi yangbersumber pada nilai dasar sehingga dapat juga dikatakan bahwa nilai instrumental itu
merupakan suatu eksplisitasi dari nilai dasar.Dalam kehidupan ketatanegaraan Republik Indonesia, nilai-
nilai instrumental dapat ditemukan dalam pasal-pasal undang-undang dasar yang merupakan
penjabaran Pancasila.

b. Nilai Praksis

Nilai praksis merupakan penjabaran lebih lanjut dari nilai instrumental dalam kehidupan yang lebih nyata
dengan demikian nilai praksis merupakan pelaksanaan secara nyata dari nilai-nilai dasar dan nilai-nilai
instrumental.

2. Pengertian Norma

Norma adalah perwujudan martabat manusia sebagai mahluk budaya, moral, religi, dan sosial.Norma
merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh karena
itu norma dalam perwujudannya norma agama, norma filsafat, norma kesusilaan, norma hukum dan
norma sosial. Norma memiliki kekuatan untuk dipatuhi karena adanya sanksi.

Norma-norma yang terdapat dalam masyarakat antara lain :

1. Norma agama merupakan ketentuan hidup masyarakat yang bersumber pada agama.

2. Norma kesusilaan merupakan ketentuan hidup yang bersumber pada hati nurani, moral atau filsafat
hidup.

3. Norma hukum merupakan ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku dan bersumber pada UU
suatu Negara tertentu.

4. Norma sosial merupakan ketentuan hidup yang berlaku dalam hubungan antara manusia dalam
masyarakat.

3.Pengertian Moral
Pengertian moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan, kelakuan.Moral adalah
ajaran tentang hal yang baik dan buruk, yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia.

Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan norma-norma yang berlaku dalam
masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak secara moral.Jika sebaliknya yang terjadi maka pribadi itu
dianggap tidak bermoral.

Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan dan atau prinsip-prinsip yang benar, baik terpuji
dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan, kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2.9 Hubungan Nilai, Norma, Moral dan Etika

Keterkaitan nilai, norma dan moral merupakan suatu kenyataan yang seharusnya tetap terpelihara di
setiap waktu pada hidup dan kehidupan manusia. Keterkaitan itu mutlak digarisbawahi bila seorang
individu, masyarakat, bangsa dan Negara menghendaki fondasi yang kuat tumbuh dan berkembang.

Sebagaimana tersebut diatas maka nilai akan berguna menuntun sikap dan tingkah laku manusia bila
dikonkritkan dan diformulakan menjadi lebih obyektif sehingga memudahkan manusia untuk
menjabarkannya dalam aktivitas sehari-hari. dalam kaitannya dengan moral maka aktivitas turunan dari
nilai dan norma akan memperoleh integritas dan martabat manusia. Derajat kepribadian itu amat
ditentukan oleh moralitas yang mengawalnya.Sementara itu hubungan antara moral dan etika seringkali
disejajarkan arti dan maknanya. Namun demikian, etika dalam pengertiannya tidak berwenang
menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seseorang. Wewenang itu dipandang berada di
tangan pihak yang memberikan ajaran moral.

2.10 Mengaplikasikan Etika Pancasila Dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam kehidupan kita akan selalu berhadapan dengan istilah nilai, norma dan juga moral dalam
kehidupan sehari-hari. Dapat kita ketahui bahwa yang dimaksud dengan nilai sosial merupakan nilai yang
dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh
masyarakat. Sebagai contoh, orang menanggap menolong memiliki nilai baik, sedangkan mencuri
bernilai buruk dan dapat juga dicontohkan, seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi
nafkah kepada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab.
Demikian pula, guru yang melihat siswanya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik anak
tersebut.

Bagi manusia, nilai berfungsi sebagai landasan, alasan, acuan atau motivasi dalam segala tingkah laku
dan perbuatannya.Nilai mencerminkan kualitas pilihan tindakan dan pandangan hidup seseorang dalam
masyarakat.Itu adalah yang dimaksud dan juga contoh dari nilai.

Dapat di jelaskan juga bahwa yang dimaksud norma sosial adalah patokan perilaku dalam suatu
kelompok masyarakat tertentu. Norma sering juga disebut dengan peraturan sosial.Norma menyangkut
perilaku-perilaku yang pantas dilakukan dalam menjalani interaksi sosialnya. Keberadaan norma dalam
masyarakat bersifat memaksa individu atau suatu kelompok agar bertindak sesuai dengan aturan sosial
yang telah terbentuk. Pada dasarnya, norma disusun agar hubungan di antara manusia dalam
masyarakat dapat berlangsung tertib sebagaimana yang diharapkan.

Tingakat norma dasar didalam masyarakat dibedakan menjadi 4 yaitu:

1. Cara, misalkan cara makan yang wajar dan baik apabila tidak mengeluarkan suara.

2. Kebiasaan, misalkan memberi hadiah kepada orang-orang yang berprestasi dalam suatu
kegiatan atau kedudukan, memakai baju yang bagus pada waktu pesta.

3. Tata kelakuan, misalkan melarang pembunuhan, pemerkosaan, atau menikahi saudara kandung.

4. Adat istiadat, misalnya orang yang melanggar hukum adat akan dibuang dan diasingkan ke
daerah lain.,upacara adat (misalnya di Bali)

Dan ada beberapa norma yang lain yang belum di sebutkan dalam hal ini. Setelah masuk pada nilai dan
norma. Dalam aplikasi yang terakhir akan membahas tentang moral. Moral (Bahasa Latin Moralitas)
adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai
positif.Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki
nilai positif di mata manusia lainnya.

Sehingga moral adalah halmutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal
yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses
sosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai
moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di
sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral
adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.

Contoh moral adalah : Tidak terdapat adanya pemaksaan suatu agama tertentu kepada orang lain,
dengan demikian masyarakat dan bangsa Indonesia menjunjung tinggi nilai nilai HAM. Dapat dicontoh
dalam hal nya pendidikan. Seorang siswa yang ingin bersekolah tapi dengan tidak dana maka ia tak dapat
sekolah sampai cita-citanya tidak terwujud.

Contohnya moral dalam halnya kehidupan sehari kalau kita menemukan tas yang berisikan dokumen
penting dan juga sejumlah uang yang tersapat dalam tas tersebut. Seandainya kita memiliki moral yang
baik maka kita akan memberikan tas itu pada kepemiliknya kalau tidak pada yang berwajib.