Anda di halaman 1dari 37

Kelompok 3 :

DEMOKRASI Riko Setiabudi

Idha Maysyaroh

AP516 Permata J. Barus

Devi fevriena N

Beta Dwi Hapsari

Desi D. Anjarsari

Rio Triyana

M. Budiyono
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI……………………………………………………………………......………..1

BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………......……….3

1.1 Latar Belakang…………………………………………………….......……....3


1.2 Masalah..............................................................................................................3
1.2.1 Rumusan Masalah..................................................................................3
1.3 Pembatasan Masalah .…………………………………………….......……….3
1.4 Tujuan......................………………………………………………........……...4
1.4.1 Tujuan Umum........................................................................................4
1.4.2 Tujuan Khusus........................................................................................4
1.5 Manfaat Penelitian..............................................................................................4
1.6 Landasarn Teori..................................................................................................5

BAB II. PEMBAHASAN………………………………………………………….......……6

2.1 Pengertian…………………………………………...........................................6

2.1.1 Menurut para ahli ………………………………………......................7

2.1.2 Prinsip Demokrasi……………………………………..................……8

2.1.3 Asas Pokok Demokrasi…………………………..................................9

2.1.4 Kelebihan Demokrasi………………………..................................….10

2.1.5 Kekurangan Demokrasi……………….........................………......….11

2.1.6 Ciri-ciri pemerintahan demokratis Dalam perkembangannya .............13

2.2 Perkembangan Demokrasi Di indonesia ....………...........................….....….14

2.2.1 Demokrasi PraOrde Baru…………………..............................……...14

2.2.2 Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan .........…………........…….15

2.2.3 Demokrasi parlementer (1945-1959)…………….......…….......……16

2.2.4 Demokrasi Terpimpin (1959-1965).…………................................…16

2.2.5 Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru........................................17


1|Page
2.2.6 Demokrasi Pada Masa Reformasi(1998-sekarang).............................18

2.3 Demokrasi di Indonesia saat ini.........................................................................19

2.3.1 Demokrasi Pancasila...............................................................................22

2.3.2 Pengertian Liberalisme............................................................................25

2.3.3 Pertentangan Pemikiran terhadap Demokrasi Liberal.............................27

2.3.4 Perkembangan Demokrasi Liberalisme di Indonesia.............................28

2.3.5 Pancasila dan Demokrasi Liberalisme....................................................29

2.3.6 Demokrasi Liberal: Suatu Refleksi Teoritik...........................................30

2.3.7 Demokrasi dan Demokrasi Liberalisme..................................................31

2.3.8 Praktek Demokrasi Liberal Di Negara Dunia Ketiga..............................32

2.3.9 Liberallisasi Dalam Suatu Demokrasi.....................................................32

2.3.10 Demokrasi Liberalisme Kebablasan......................................................32

BAB III. PENUTUP…………………………………………………...……………………34

3.1 Kesimpulan……………………………………………………...……………34

3.2 Saran………………………………………………………………...………..35

DAFTAR PUSTAKA………………..………………………………………………....…...36

2|Page
Bab I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah

Pembahasan dalam makalah ini tertuju tentang Demokrasi di Indonesia saat ini.
Fokus pembahasan antara lain: Pengertian Demokrasi, Budaya Demokrasi
Pendidikan,, Sejarah dan Perkembangan Demokrasi di Indonesia, serta
Pelaksanaan Demokrasi di Indonesia.

1.2 Masalah

Demokrasi Indonesia pasca kolonial, kita mendapati peran demokrasi yang makin
luas. Di zaman Soekarno, kita mengenal beberapa model demokrasi. Partai-partai
Nasionalis, Komunis bahkan Islamis hampir semua mengatakan bahwa demokrasi
itu adalah sesuatu yang ideal. Bahkan bagi mereka, demokrasi bukan hanya
merupakan sarana, tetapi demokrasi akan mencapai sesuatu yang ideal. Bebas dari
penjajahan dan mencapai kemerdekaan adalah tujuan saat itu, yaitu mencapai
sebuah demokrasi. Oleh karena itu, orang makin menyukai demokrasi. Namun pada
praktek pelaksaan masih banyak menyimpang dari nilai-nilai Demokrasi itu sendiri.

1.2.1 Rumusan Masalah

Mengacu pada fenomena yang telah dikemukakan di atas, maka perlu dirumuskan
masalah agar penelitian ini terarah dan mengena pada tujuan. Rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah “Demokrasi yang berjalan di indonesia saat ini”

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini dibatasi pada permasalahan :

1. Perkembangan demokrasi di indonesia.

2. Pelaksanaan real demokrasi yang terjadi di indonesia

3|Page
1.4 Tujuan Penelitian

Penilitian ini ditujukan untuk membahas tentang demokrasi yang terjadi saat ini.

1.3.1 Tujuan Umum

Secara umum penelitian ini mempunyai tujuan untuk kita memperoleh gambaran
Demokrasi di indonesia saat ini.

1.3.2 Tujuan Khusus

Secara khusus penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan dan


menjelaskan arti demokrasi itu sendiri, dan demokrasi yang cocok di
implementasikan di indonesia, serta untuk mencari pencerahan untuk pemecahan
masalah tentang demokrasi yang terjadi di indonesia saat ini.

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat secara praktis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan
masukan tentang demokrasi yang sedang terjadi di indonesia saat ini

Adapun manfaat teoritis yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah memberikan
sumbangan untuk perkembangan teori-teori tentang demokrasi dan sedikit
pemecahan masalah untuk hal yang terjadi di indonesia.

4|Page
1.5 Landasan Teori

Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan


pemerintahannya berasal dari rakyat baik secara langsung (demokrasi langsung)
atau melalui perwakilan (demokrasi perwakilan). Istilah ini berasal dari bahasa
Yunani yaitu demokratia (kekuasaan rakyat), yang dibentuk dari kata demos (rakyat)
dan kratos (kekuasaan), merujuk pada sistem politik yang muncul pada pertengahan
abad ke 5 dan ke 4 SM di kota Yunani Kuno khususnya Athena.1 Dapat diartikan
secara umum bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan
untuk rakyat. Begitulah pemahaman yang sederhana tentang demokrasi, yang
diketahui oleh hampir semua orang. Konsep demokrasi sebagai suatu bentuk
pemerintahan, akan tetapi pemakaian konsep ini di zaman modern dimulai sejak
terjadinya pergolakan revolusioner dalam masyarakat Barat pada akhir abad ke-18.
Pada pertengahan abad ke-20 dalam perdebatan mengenai arti demokrasi muncul
tiga pendekatan umum. Sebagai suatu bentuk pemerintahan, demokrasi telah
didefinisikan berdasarkan sumber wewenang bagi pemerintah, tujuan yang dilayani
oleh pemerintah dan prosedur untuk membentuk pemerintahan. Demokrasi
mementingkan kehendak, pendapat serta pandangan rakyat, corak pemerintahan
demokrasi dipilih melalui persetujuan dengan cara mufakat. Sehingga demokrasi
yang kuat adalah demokrasi yang bersumber dari hati nurani rakyat untuk mencapai
keadilan dan kesejahteraan rakyat. Layaknya sebuah sistem, demokrasi juga
mempunyai konsep, ciri-ciri, model dan mekanisme sendiri. Yang mana semuanya
itu merupakan satu kesatuan yang dapat menjelaskan arti, maksud dan praktek
sistem demokrasi.

5|Page
BAB II Pembahasan
DEMOKRASI
2.1 Pengertian

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan yang semua warga negaranya memiliki hak
setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka.
Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau
melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum.
Demokrasi mencakup kondisi sosial, ekonomi, dan budaya yang memungkinkan
adanya praktik kebebasan politik secara bebas dan setara.

Kata ini berasal dari bahasa Yunani δημοκρατία (dēmokratía) "kekuasaan rakyat",
yang terbentuk dari δῆμος (dêmos) "rakyat" dan κράτος (kratos) "kekuatan" atau
"kekuasaan" pada abad ke-5 SM untuk menyebut sistem politik negara-kota Yunani,
salah satunya Athena; kata ini merupakan antonim dari ἀριστοκρατία (aristocratie)
"kekuasaan elit". Secara teoretis, kedua definisi tersebut saling bertentangan,
namun kenyataannya sudah tidak jelas lagi. Sistem politik Athena Klasik, misalnya,
memberikan kewarganegaraan demokratis kepada pria elit yang bebas dan tidak
menyertakan budak dan wanita dalam partisipasi politik. Di semua pemerintahan
demokrasi sepanjang sejarah kuno dan modern, kewarganegaraan demokratis tetap
ditempati kaum elit sampai semua penduduk dewasa di sebagian besar negara
demokrasi modern benar-benar bebas setelah perjuangan gerakan hak suara pada
abad ke-19 dan 20. Kata demokrasi (democracy) sendiri sudah ada sejak abad ke-
16 dan berasal dari bahasa Perancis Pertengahan dan Latin Pertengahan lama.

Suatu pemerintahan demokratis berbeda dengan bentuk pemerintahan yang


kekuasaannya dipegang satu orang, seperti monarki, atau sekelompok kecil, seperti
oligarki. Apapun itu, perbedaan-perbedaan yang berasal dari filosofi Yunani ini[3]
sekarang tampak ambigu karena beberapa pemerintahan kontemporer mencampur
aduk elemen-elemen demokrasi, oligarki, dan monarki. Karl Popper mendefinisikan
demokrasi sebagai sesuatu yang berbeda dengan kediktatoran atau tirani, sehingga
berfokus pada kesempatan bagi rakyat untuk mengendalikan para pemimpinnya dan
menggulingkan mereka tanpa perlu melakukan revolusi.

6|Page
Ada beberapa jenis demokrasi, tetapi hanya ada dua bentuk dasar. Keduanya
menjelaskan cara seluruh rakyat menjalankan keinginannya. Bentuk demokrasi yang
pertama adalah demokrasi langsung, yaitu semua warga negara berpartisipasi
langsung dan aktif dalam pengambilan keputusan pemerintahan. Di kebanyakan
negara demokrasi modern, seluruh rakyat masih merupakan satu kekuasaan
berdaulat namun kekuasaan politiknya dijalankan secara tidak langsung melalui
perwakilan; ini disebut demokrasi perwakilan. Konsep demokrasi perwakilan muncul
dari ide-ide dan institusi yang berkembang pada Abad Pertengahan Eropa, Era
Pencerahan, dan Revolusi Amerika Serikat dan Perancis.

2.1.1 MENURUT PARA AHLI

Abraham Lincoln
Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diselenggarakan dari rakyat, oleh
rakyat, dan untuk rakyat.

Charles Costello
Demokrasi adalah sistem sosial dan politik pemerintahan diri dengan kekuasaan-
kekuasaan pemerintah yang dibatasi hukum dan kebiasaan untuk melindungi hak-
hak perorangan warga negara.

John L. Esposito

Demokrasi pada dasarnya adalah kekuasaan dari dan untuk rakyat. Oleh karenanya,
semuanya berhak untuk berpartisipasi, baik terlibat aktif maupun mengontrol
kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Selain itu, tentu saja lembaga resmi
pemerintah terdapat pemisahan yang jelas antara unsur eksekutif, legislatif, maupun
yudikatif.

Hans Kelsen
Demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang melaksanakan
kekuasaan Negara ialah wakil-wakil rakyat yang terpilih. Dimana rakyat telah yakin,
bahwa segala kehendak dan kepentingannya akan diperhatikan di dalam
melaksanakan kekuasaan Negara.

7|Page
Sidney Hook
Demokrasi adalah bentuk pemerintahan dimana keputusan-keputusan pemerintah
yang penting secara langsung atau tidak didasarkan pada kesepakatan mayoritas
yang diberikan secara bebas dari rakyat dewasa.

C.F. Strong
Demokrasi adalah Suatu sistem pemerintahan di mana mayoritas anggota dewan
dari masyarakat ikut serta dalam politik atas dasar sistem perwakilan yang menjamin
pemerintah akhirnya mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya pada
mayoritas tersebut.

Hannry B. Mayo
Kebijaksanaan umum ditentukan atas dasar mayoritas oleh wakil-wakil yang diawasi
secara efektif oleh rakyat dalam pemilihan-pemilihan yang didasarkan atas prinsip
kesamaan politik dan diselenggarakan dalam suasana di mana terjadi kebebasan
politik.

Merriem
Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat; khususnya, oleh
mayoritas; pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada rakyat dan
dilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui sebuah sistem
perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang
diadakan secara periodik; rakyat umum khususnya untuk mengangkat sumber
otoritas politik; tiadanya distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau
kesewenang-wenangan.

Samuel Huntington
Demokrasi ada jika para pembuat keputusan kolektif yang paling kuat dalam sebuah
sistem dipilih melalui suatu pemilihan umum yang adil, jujur dan berkala dan di
dalam sistem itu para calon bebas bersaing untuk memperoleh suara dan hampir
seluruh penduduk dewasa dapat memberikan suara.

8|Page
2.1.2 Prinsip-prinsip demokrasi

Prinsip demokrasi dan prasyarat dari berdirinya negara demokrasi telah


terakomodasi dalam konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.Prinsip-prinsip
demokrasi, dapat ditinjau dari pendapat Almadudi yang kemudian dikenal dengan
"soko guru demokrasi". Menurutnya, prinsip-prinsip demokrasi adalah:

a. Kedaulatan rakyat;
b. Pemerintahan berdasarkan persetujuan dari yang diperintah
c. Kekuasaan mayoritas
d. Hak-hak minoritas
e. Jaminan hak asasi manusia
f. Pemilihan yang bebas, adil dan jujur
g. Persamaan di depan hukum
h. Proses hukum yang wajar
i. Pembatasan pemerintah secara konstitusional
j. Pluralisme sosial, ekonomi, dan politik
k. Nilai-nilai toleransi, pragmatisme, kerja sama, dan mufakat

2.1.3 Asas pokok demokrasi

Gagasan pokok atau gagasan dasar suatu pemerintahan demokrasi adalah


pengakuan hakikat manusia, yaitu pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan
yang sama dalam hubungan sosial. Berdasarkan gagasan dasar tersebut terdapat
dua asas pokok demokrasi, yaitu:

Pengakuan partisipasi rakyat dalam pemerintahan, misalnya pemilihan wakil-wakil


rakyat untuk lembaga perwakilan rakyat secara langsung, umum, bebas, dan
rahasia serta jujur dan adil dan Pengakuan hakikat dan martabat manusia, misalnya
adanya tindakan pemerintah untuk melindungi hak-hak asasi manusia demi
kepentingan bersama.

9|Page
2.1.4 Kelebihan Demokrasi

1. Melindungi kepentingan rakyat


Demokrasi merupakan sistem yang melindungi kepentingan rakyat. Kekuasaan yang
sesungguhnya terletak di tangan orang-orang yang mewakili rakyat banyak. Para
wakil rakyat dipilih dan harus bertanggung jawab kepada rakyat yang memilihnya.
Dengan cara ini, kepentingan sosial, ekonomi dan politik rakyat menjadi lebih
terjamin di bawah demokrasi.
2. Berdasarkan prinsip kesetaraan
Demokrasi didasarkan pada prinsip kesetaraan. Semua warga negara memiliki
kedudukan sama di mata hukum. Semua rakyat memiliki hak sosial, politik dan
ekonomi yang sama dan negara tidak boleh membedakan warga negara atas dasar
kasta, agama, jenis kelamin, atau kepemilikan.
3. Stabilitas dan tanggung jawab dalam pemerintahan
Demokrasi dikenal sebagai sistem yang stabilitas dan efisien. Pemerintahan berjalan
stabil karena didasarkan pada dukungan publik. Dalam demokrasi perwakilan, wakil
rakyat mendiskusikan masalah negara secara menyeluruh dan mengambil
keputusan berdasarkan aspirasi rakyat. Di bawah sistem monarki, elit kerajaan
mengambil keputusan sesuai keinginannya sendiri. Sedangkan di bawah
kediktatoran, diktator tidak melibatkan rakyat sama sekali dalam pengambilan
keputusan.
4. Pendidikan politik kepada rakyat
Demokrasi bisa berfungsi sebagai sekolah pendidikan politik bagi rakyat. Rakyat
akan ikut terdorong untuk mengambil bagian dalam urusan negara. Pada saat
pemilihan umum, partai politik mengusulkan kebijakan dan program untuk dinilai
oleh rakyat. Hal ini pada akhirnya menciptakan kesadaran politik di kalangan
masyarakat.
5. Sedikit peluang revolusi
Karena demokrasi didasarkan pada kehendak publik, terdapat kemungkinan kecil
terjadi pemberontakan rakyat. Para wakil dipilih oleh rakyat untuk melakukan urusan
negara dengan dukungan rakyat. Jika mereka tidak bekerja dengan baik atau tidak
memenuhi harapan rakyat, para wakil bisa saja tidak dipilih lagi dalam pemilu
berikutnya. Dengan cara ini, rakyat tidak perlu melakukan pemberontakan saat
menginginkan perubahan.

10 | P a g e
6. Pemerintahan stabil
Demokrasi didasarkan pada kehendak rakyat sehingga penyelenggaraan negara
berjalan didasarkan atas dukungan rakyat. Oleh karena itu, demokrasi dianggap
lebih stabil daripada bentuk pemerintahan lain.
7. Membantu membentuk rakyat menjadi warga negara yang baik
Keberhasilan demokrasi terletak pada bertumbuhnya warga negara yang baik.
Demokrasi menciptakan lingkungan yang tepat untuk pengembangan kepribadian
dan menumbuhkan kebiasaan yang baik. Dalam demokrasi, rakyat dilatih untuk
memahami hak dan kewajiban mereka.
8. Berdasarkan opini public
Pemerintahan demokrasi didasarkan pada keinginan publik dan tidak didasarkan
pada ketakutan pada penguasa. Demokrasi berdiri di atas konsensus, bukan pada
kekuasaan; dengan warga negara memiliki kesempatan mengambil bagian aktif
dalam pemerintahan.

2.1.5 Kekurangan Demokrasi

1. Lebih menekankan pada kuantitas daripada kualitas


Demokrasi tidak didasarkan pada kualitas tetapi pada kuantitas. Partai mayoritas
memiliki wewenang memegang pemerintahan. Selain itu, orang yang tidak memiliki
kecerdasan, visi dan korup bisa saja terpilih menjadi penyelenggara negara.
2. Pemerintahan oleh orang tidak kompeten
Demokrasi bisa saja dijalankan oleh orang-orang yang tidak kompeten. Dalam
demokrasi, setiap warga negara diperbolehkan untuk mengambil bagian, sedangkan
tidak semua orang cocok dengan peran itu. Segerombolan manipulator yang dapat
mengumpulkan suara bisa mendapatkan kekuasaan dalam demokrasi. Hasilnya,
demokrasi dijalankan oleh orang bodoh dan tidak kompeten.
3. Berdasarkan kesetaraan yang tidak wajar
Konsep kesetaraan dalam demokrasi dianggap bertentangan dengan hukum alam.
Alam memberi setiap individu dengan kecerdasan dan kebijaksanaan yang berbeda.
Faktanya, kemampuan tiap orang berbeda. Sebagian orang berani, lainnya
pengecut. Sebagian sehat, yang lain tidak begitu sehat. Sebagian cerdas, yang lain
tidak. Kritik berpendapat bahwa akan bertentangan dengan hukum alam untuk
memberikan status yang sama kepada semua orang.

11 | P a g e
4. Pemilih tidak tertarik pada pemilu
Pemilih tidak selalu menunaikan hak pilihnya sebagaimana seharusnya. Umum
ditemukan tingkat partisipasi pemilih hanya berada pada kisaran angka 50 sampai
60 persen saja.
5. Menurunkan standar moral
Satu-satunya tujuan kandidat adalah memenangkan pemilihan. Mereka sering
menggunakan politik uang dan praktik bawah tangan lainnya agar terpilih. Kekuatan
otot dan uang bekerja bahu-membahu untuk memastikan kemenangan seorang
kandidat. Dengan demikian, moralitas adalah korban pertama dalam pemilu. Apa
yang bisa diharapkan setelah moralitas dikorbankan?
6. Demokrasi adalah pemerintahan orang kaya
Demokrasi modern pada kenyataannya adalah kapitalistik. Pemilu dilakukan dengan
uang. Para calon kaya membeli suara. Pada akhirnya, rakyat mendapatkan
pemerintahan plutokrasi yang berbaju demokrasi. Pada kondisi ini, orang kaya
menguasai media untuk keuntungan mereka sendiri. Kepentingan pemilik modal
bisa saja mempengaruhi keputusan politik yang diambil pemerintah.
7. Penyalahgunaan waktu dan dana public
Demokrasi bisa terjerumus pada pemborosan waktu dan sumber daya. Dibutuhkan
banyak waktu dalam perumusan undang-undang. Banyak uang yang dihabiskan
selama pemilu.
8. Tidak terjadi pemerintahan yang stabil
Ketika tidak ada partai yang manjadi mayoritas mutlak, pemerintahan koalisi harus
dibentuk. Koalisi partai politik dengan pembagian kekuasaan hanya merupakan
perkawinan semu. Setiap kali terjadi benturan kepentingan, koalisi hancur dan
pemerintahan runtuh. Dengan demikian, pemerintah stabil di bawah demokrasi bisa
sulit dicapai.
9. Kediktatoran mayoritas
Demokrasi dikritik karena menjadi legitimasi kediktatoran mayoritas. Mayoritas
diharuskan melindungi kepentingan minoritas tetapi dalam praktiknya tidak selalu
demikian. Mayoritas setelah mendapatkan kesuksesan saat pemilu terkadang
melupakan minoritas dan menjalankan pemerintahan sesuai dengan kehendak
mereka sendiri.

12 | P a g e
10. Pengaruh buruk dari partai politik
Partai politik merupakan dasar demokrasi. Partai politik bertujuan merebut
kekuasaan dengan cara yang sah. Namun terkadang, anggota partai politik lebih
mendahulukan kepentingan partai dibanding kepentingan negara.

2.1.6 Ciri-ciri pemerintahan demokratis Dalam perkembangannya

Demokrasi menjadi suatu tatanan yang diterima dan dipakai oleh hampir seluruh
negara di dunia. Ciri-ciri suatu pemerintahan demokrasi adalah sebagai berikut:

a. Adanya keterlibatan warga negara (rakyat) dalam pengambilan keputusan


politik, baik langsung maupun tidak langsung (perwakilan)
b. Adanya pengakuan, penghargaan, dan perlindungan terhadap hak-hak asasi
rakyat (warga negara).
c. Adanya persamaan hak bagi seluruh warga negara dalam segala bidang.
d. Adanya lembaga peradilan dan kekuasaan kehakiman yang independen
sebagai alat penegakan hukum
e. Adanya kebebasan dan kemerdekaan bagi seluruh warga negara.
f. Adanya pers (media massa) yang bebas untuk menyampaikan informasi dan
mengontrol perilaku dan kebijakan pemerintah.
g. Adanya pemilihan umum untuk memilih wakil rakyat yang duduk di lembaga
perwakilan rakyat.
h. Adanya pemilihan umum yang bebas, jujur, adil untuk menentukan (memilih)
pemimpin negara dan pemerintahan serta anggota lembaga perwakilan
rakyat.
i. Adanya pengakuan terhadap perbedaan keragamaan (suku, agama,
golongan, dan sebagainya).

13 | P a g e
2.2 PERKEMBANGAN DEMOKRASI DI INDONESIA

2.2.1 Demokrasi PraOrde Baru

Semenjak dikeluarkannya maklumat wakil presiden No. X 3 november 1945, yang


menganjurkan pembentukan partai-partai politik, perkembangan demokrasi dalam
masa revolusi dan demokrasi pearlementer dicirikan oleh distribusi kekuasaan yang
khas. Presiden Soekarno ditempatkan sebagai pemilik kekuasaan simbolik dan
ceremonial, sementara kekuasaan pemerintah yang riil dimiliki oleh Perdana
Menteri, Kabinet dan, Parlemen. Partai politik memainkan peranan sentral dalam
kehidupan politik dan proses pemerintahan. Kompetisi antar kekuatan dan
kepentingan politik mengalami masa keleluasaan yang terbesar sepanjang sejarah
Indonesia merdeka. Pergulatan politik ditandai oleh tarik menarik antara partai di
dalam lingkaran kekuasaan dengan kekuatan politik di luar lingkungan kekuasaan,
pihak kedua mncoba menarik pihak pertama ke luar dari lingkungan kekuasaan.

Kegiatan partisipasi politik di masa ini berjalan dengan hingar bingar, terutama
melalui saluran partai politik yang mengakomodasikan ideologi dan nilai
primordialisme yang tumbuh di tengah masyarakat, namun hanya melibatkan
segelintir elit politik. Dalam masa ini yang dikecewakan dari Soekarno adalah
masalah presiden yang hanya sebagai simbolik semata begitu juga peran militer.

Akhirnya massa ini mengalami kehancuran setelah mengalami perpecahan antar elit
dan antar partai politik di satu sisi, serta di sisi lain akibat adanya sikap Soekarno
dan militer mengenai demokrasi yang dijalankan. Perpecahan antar elit politik ini
diperparah dengan konflik tersembunyi antar kekuatan parpol dengan Soekarno dan
militer, serta adanya ketidakmampuan setiap kabinet dalam merealisasikan
programnya dan mengatasi potensi perpecahan regional ini mengindikasikan krisis
integral dan stabilitas yang parah. Keadaan ini dimanfaatkan oleh Soekarno untuk
merealisasikan nasionalis ekonomi, dan diberlakukanya UU Darurat pada tahun
1957, maka sebuah masa demokrasi terpimpin kini telah mulai.

Periode demokrasi terpimpin ini secara dini dimulai dengan terbentuknya Zaken
Kabinet pimpinan Ir. Juanda pada 9 April 1957, dan menjadi tegas setelah Dekrit
Presiden 5 Juli 1959. Kekuasaan menjadi tersentral di tangan presiden, dan secra
signifikan diimbangi dengan peran PKI dan Angkatan Darat. Kekuatan-kekuatan
Suprastruktur dan infrastruktur politik dikendalikan secara hampir penuh oleh
14 | P a g e
presiden. Dengan ambisi yang besar PKI mulai menmperluas kekuatannya sehingga
terjadi kudeta oleh PKI yang akhirnya gagal di penghujung September 1965,
kemudian mulailah pada massa orde baru.

Dari uraian diatas dapat di simpulkan, antara lain:

Stabilitas pemerintah dalam 20 tahun bereda dalam kedaan memprihatinkan.


Mengalami 25 pergantian kabinet, 20 kali pergantian kekuasaan eksekutif dengan
rata-rata satu kali pergantian setiap tahun.

Stabilitas politik sevara umum memprihatinkan. Ditandai dengan kuantitas konflik


politik yang amat tinggi. Konflik yang bersifat ideologis dan primordial dalam masa
20 tahun pasca merdeka.

Krisis ekonomi. Dalam masa demokrasi parlementer krisis dikarenakan karena


kabinet tidak sempat untuk merealisasika program ekonomi karena pergantian
kekuasaan yang sering terjadi. Masa demokrasi terpimpin mengalami krisis ekonomi
karena kegandrungannya terhadap revolusi serta urusan internasional sehingga
kurangnya perhatian disektor ekonomi.

Perangkat kelembagaan yang memprihatinkan. Ketidaksiapan aparatur pemerintah


dalam proses politik menjaadikan birokrasi tidak terurus.

2.2.2 Demokrasi Masa Revolusi Kemerdekaan.

Implementasi demokrasi pada masa pemerintahan revolusi kemerdekaan baru


terbatas pada interaksi politik diparlemen dan berfungsinya pers yang mendukung
revolusi kemerdekaan. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang menyangkut
perkembangan demokrasi pada periode ini, akan tetapi pada periode tersebut telah
diletakkan hal-hal mendasar. Pertama, pemberian hak-hak politik secara
menyeluruh. Kedua, presiden yang secara konstitusional ada kemungkinan untuk
menjadi dictator. Ketiga, dengan maklumat Wakil Presiden, maka dimungkinkan
terbentuknya sejumlah partai politik yang kemudian menjadi peletak dasar bagi
system kepartaian di Indonesia untuk masa-masa selanjutnya dalam sejarah
kehidupan politik kita.

15 | P a g e
2.2.3 Demokrasi parlementer (1945-1959)

Periode kedua pemerintahan negara Indonesia adalah tahun 1950 sampai 1959,
dengan menggunakan UUD Sementara (UUDS) sebagai landasan
konstitusionalnya. Pada masa ini adalah masa kejayaan demokrasi di Indonesia,
karena hampir semua elemen demokrasi dapat ditemukan dalam perwujudan
kehidupan politik di Indonesia. Lembaga perwakilan rakyat atau parlemen
memainkan peranan yang sangat tinggi dalam proses politik yang berjalan.
Perwujudan kekuasaan parlemen ini diperlihatkan dengan adanya sejumlah mosi
tidak percaya kepad pihak pemerintah yang mengakibatkan kabinet harus
meletakkan jabatannya. Sejumlah kasus jatuhnya kabinet dalam periode ini
merupakan contoh konkret dari tingginya akuntabilitas pemegang jabatan dan
politisi. Ada hampir 40 partai yang terbentuk dengan tingkat otonomi yang tinggi
dalam proses rekruitmen baik pengurus, atau pimpinan partainya maupun para
pendukungnya.

Demokrasi parlementer gagal karena (1) dominannya politik aliran, sehingga


membawa konsekuensi terhadap pengelolaan konflik; (2) basis sosial ekonomi yang
masih sangat lemah;(3) persamaan kepentingan antara presiden Soekarno dengan
kalangan Angkatan Darat, yang sama-sama tidak senang dengan proses politik
yang berjalan.

2.2.4 Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Sejak berakhirnya pemillihan umum 1955, presiden Soekarno sudah menunjukkan


gejala ketidaksenangannya kepada partai-partai politik. Hal itu terjadi karena partai
politik sangat orientasi pada kepentingan ideologinya sendiri dan dan kurang
memperhatikan kepentingan politik nasional secara menyeluruh.disamping itu
Soekarno melontarkan gagasan bahwa demokrasi parlementer tidak sesuai dengan
kepribadian bangsa indonesia yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan dan gotong
royong. Politik pada masa ini diwarnai oleh tolak ukur yang sangat kuat antara ketiga
kekuatan politik yang utama pada waktu itu, yaitu: presiden Soekarno, Partai
Komunis Indonesia, dan Angkatan Darat. Karakteristik yang utama dari demokrasi
terpimpin adalah: menggabungkan sistem kepartaian, dengan terbentuknya DPR-
GR peranan lembaga legislatif dalam sistem politik nasionall menjadi sedemikian
lemah, Basic Human Right menjadi sangat lemah, masa demokrasi terpimpin adalah

16 | P a g e
masa puncak dari semnagt anti kebebasan pers, sentralisasi kekuasaan semakin
dominan dalam proses hubungan antara pemerintah pusat dengan pemerintah
daerah.

Pandangan A. Syafi’i Ma’arif, demokrasi terpimpin sebenarnya ingin menempatkan


Soekarno seagai “Ayah” dalam famili besar yang bernama Indonesia dengan
kekuasaan terpusat berada di tangannya. Dengan demikian, kekeliruan yang besar
dalam Demokrasi Terpimpin Soekarno adalah adanya pengingkaran terhadap nilai-
nilai demokrasi yaitu absolutisme dan terpusatnya kekuasaan hanya pada diri
pemimpin. Selain itu, tidak ada ruang kontrol sosial dan check and balance dari
legislatif terhadap eksekutif. (Sunarso, dkk. 2008:132-136)

2.2.5 Demokrasi dalam Pemerintahan Orde Baru

Wajah demokrasi mengalami pasang surut sejalan dengan perkembangan tingkat


ekonomi, poltik dan, ideologi sesaat atau temporer. Tahun-tahun awal pemerintahan
Orde Baru ditandai oleh adanya kebebasan politik yang besar. Presiden Soeharto
yang menggantikan Ir. Soekarno sebagai Presiden ke-2 RI dan menerapkan model
Demokrasi yang berbeda lagi, yaitu dinamakan Demokrasi Pancasila (Orba), untuk
menegaskan klaim bahwasanya model demokrasi inilah yang sesungguhnya sesuai
dengan ideologi negara Pancasila. Dalam masa yang tidak lebih dari tiga tahun ini,
kekuasaan seolah-olah akan didistribusikan kepada kekuatan masyarakatan. Oleh
karena itu pada kalangan elit perkotaan dan organisasi sosial politik yang siap
menyambut pemilu 1971, tumbuh gairah besar untuk berpartisipasi mendukung
program-program pembaruan pemerintahan baru.

Perkembangan yang terlihat adalah semakin lebarnya kesenjangan antara


kekuasaan negara dengan masyarakat. Negara Orde Baru mewujudkan dirinya
sebagai kekuatan yang kuat dan relatif otonom, dan sementara masyarakat semakin
teralienasi dari lingkungan kekuasaan danproses formulasi kebijakan. Kedaan ini
adalah dampak dari (1) kemenangan mutlak dari kemenangan Golkar dalam pemilu
yang memberi legitimasi politik yangkuat kepada negara; (2) dijalankannya regulasi-
regulasi politik semacam birokratisasai, depolitisasai, dan institusionalisasi; (3)
dipakai pendekatan keamanan; (4) intervensi negara terhadap perekonomian dan
pasar yang memberikan keleluasaan kepda negara untuk mengakumulasikan modal
dan kekuatan ekonomi; (5) tersedianya sumber biaya pembangunan, baik dari

17 | P a g e
eksploitasi minyak bumi dan gas serta dari komoditas nonmigas dan pajak domestik,
mauppun yang berasal dari bantuan luar negeri, dan akhirnya (6) sukses negara
orde baru dalam menjalankan kebijakan pemenuhan kebutuhan pokok rakya
sehingga menyumbat gejolak masyarakat yang potensinya muncul karena sebab
struktural.

Pemberontakan G-30-S/PKI merupaka titik kulminasi dari pertarungan atau tarik


tambang politik antara Soekarno, Angkatan Darat, dan Partai Komunisme Indonesia.
Ciri-ciri demokrasi pada periode Orde Lama antara lain presiden sangat
mendominasi pemerintahan, terbatasnya peran partai politik, berkembangnya
pengaruh komunis, dan meluasnya peranan ABRI sebagai unsur sosial politik.
Menurut M. Rusli Karim, rezim Orde Baru ditandai oleh; dominannya peranan ABRI,
birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik, pembatasan peran dan
fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam persoalan partai politik dan
publik, masa mengambang, monolitisasi ideologi negara, dan inkorporasi lembaga
nonpemerintah. Beberapa karakteristik pada masa orde baru antara lain: Pertama,
rotasi kekuasaan eksekutif boleh dikatakan hamper ridak pernah terjadi. Kedua,
rekruitmen politik bersifat tertutup. Ketiga, PemilihanUmum. Keempat, pelaksanaan
hak dasar waega Negara. (Rukiyati, dkk. 2008:114-117)

2.2.6 Demokrasi Pada Masa Reformasi (1998-Sekarang).

Sejak runtuhnya Orde Baru yang bersamaan waktunya dengan lengsernya Presiden
Soeharto, maka NKRI memasuki suasana kehidupan kenegaraan yang baru,
sebagai hasil dari kebijakan reformasi yang dijalankan terhadap hampir semua
aspek kehidupan masyarakat dan negara yang berlaku sebelumnya. Kebijakan
reformasi ini berpuncak dengan di amandemennya UUD 1945 (bagian
Batangtubuhnya) karena dianggap sebagai sumber utama kegagalan tataan
kehidupan kenegaraan di era Orde Baru.

Amandemen UUD 1945, terutama yang berkaitan dengan kelembagaan negara,


khususnya laginya perubahan terhadap aspek pembagian kekuasaan dan aspek
sifat hubungan antar lembaga-lembaga negaranya, dengan sendirinya
mengakibatkan terjadinya perubahan terhadap model demokrasi yang dilaksana-kan
dibandingkan dengan model Demokrasi Pancasila di era Orde Baru. Dalam masa
pemerintahan Habibie inilah muncul beberapa indicator kedemokrasian di Indonesia.

18 | P a g e
Pertama, diberikannya ruang kebebasan pers sebagai ruang publik untuk
berpartisipasi dalam kebangsaan dan kenegaraan. Kedua, diberlakunya system
multi partai dalam pemilu tahun 1999.

Demokrasi yang diterapkan Negara kita pada era reformasi ini adalah demokresi
Pancasila, tentu saja dengan karakteristik tang berbeda dengan orde baru dan
sedikit mirip dengan demokrasi perlementer tahun 1950-1959. Pertama, Pemilu
yang dilaksanakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dari yang sebelumnya. Kedua,
ritasi kekuasaan dilaksanakan dari mulai pemerintahan pusat sampi pada tingkat
desa. Ketiga, pola rekruitmen politik untuk pengisian jabatan politik dilakukan secara
terbuka. Keempat, sebagian besar hak dasar bisa terjamin seperti adanya
kebebasan menyatakan pendapat

2.3 Demokrasi di Indonesai saat ini

Berdasarkan sistem pemerintahaan yang terjadi di indonesia saat ini dapat di secara
garis besar dapat di katakan bahwa indonesia menganut sistem demokrasi
pancasila, namum pada pelaksaannya melenceng dari nilai-nilai demokrasi
pancasila itu sendiri, mengapa demikian? Berikut sedikit penjelasaan berdasarkan
pemilikiran analis kelompok kami.

2.3.1 Demokrasi Pancasila

Demokrasi Pancasila adalah demokrasi yang mengutamakan musyawarah mufakat


tanpa oposisi [dalam doktrin Manipol USDEK disebut pula sebagai demokrasi
terpimpin merupakan demokrasi yang berada dibawah komando Pemimpin Besar
Revolusi kemudian dalam doktrin repelita yang berada dibawah pimpinan komando
Bapak Pembangunan arah rencana pembangunan daripada suara terbanyak dalam
setiap usaha pemecahan masalah atau pengambilan keputusan, terutama dalam
lembaga-lembaga negara.

Prinsip dalam demokrasi Pancasila sedikit berbeda dengan prinsip demokrasi


secara universal. Ciri demokrasi Pancasila

a. pemerintah dijalankan berdasarkan konstitusi


b. adanya pemilu secara berkesinambungan
c. adanya peran-peran kelompok kepentingan
d. adanya penghargaan atas HAM serta perlindungan hak minoritas.
19 | P a g e
e. demokrasi Pancasila merupakan kompetisi berbagai ide dan cara untuk
menyelesaikan masalah.
f. ide-ide yang paling baik akan diterima, bukan berdasarkan suara terbanyak.

Demokrasi Pancasila merupakan demokrasi konstitusional dengan mekanisme


kedaulatan rakyat dalam penyelenggaraan negara dan penyelengaraan
pemerintahan berdasarkan konstitusi yaitu Undang-undang Dasar 1945, Sebagai
demokrasi pancasila terikat dengan UUD 1945 dan pelaksanaannya harus sesuai
dengan UUD 1945.

Prinsip Demokrasi Pancasila

Prinsip pokok demokrasi Pancasila adalah sebagai berikut:

a. Perlindungan terhadap hak asasi manusia


b. Pengambilan keputusan atas dasar musyawarah
c. Peradilan yang merdeka berarti badan peradilan (kehakiman) merupakan
badan yang merdeka, artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah
dan kekuasaan lain contoh Presiden, BPK, DPR atau lainnya
d. adanya partai politik dan organisasi sosial politik karena berfungsi untuk
menyalurkan aspirasi rakyat
e. Pelaksanaan Pemilihan Umum
f. Kedaulatan adalah ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-
Undang Dasar (pasal 1 ayat 2 UUD 1945)
g. Keseimbangan antara hak dan kewajiban
h. Pelaksanaan kebebasan yang bertanggung jawab secara moral kepada
Tuhan YME, diri sendiri, masyarakat, dan negara ataupun orang lain
i. Menjunjung tinggi tujuan dan cita-cita nasional
j. Indonesia ialah negara berdasarkan hukum (rechtstaat) dan tidak
berdasarkan kekuasaan belaka (machtstaat)
k. pemerintah berdasar atas sistem konstitusi (hukum dasar) tidak bersifat
absolutisme (kekuasaan tidak terbatas)
l. kekuasaan yang tertinggi berada di tangan rakyat.

20 | P a g e
Namun dalam praktek di pemerintahaan saat ini dapat kita lihat bahwa demokrasi
yang berjalan di Indonesia saat ini dapat dikatakan adalah Demokrasi Liberal.
Mengapa demikian? Karena Dalam sistem Pemilu mengindikasi sistem demokrasi
liberal di Indonesia antara lain sebagai berikut:

1. Pemilu multi partai yang diikuti oleh sangat banyak partai. Paling
sedikit sejak reformasi, Pemilu diikuti oleh 24 partai (Pemilu 2004),
paling banyak 48 Partai (Pemilu 1999). Pemilu bebas berdiri sesuka
hati, asal memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan KPU. Kalau
semua partai diijinkan ikut Pemilu, bisa muncul ratusan sampai
ribuan partai.
2. Pemilu selain memilih anggota dewan (DPR/DPRD), juga memilih
anggota DPD (senat). Selain anggota DPD ini nyaris tidak ada guna
dan kerjanya, hal itu juga mencontoh sistem di Amerika yang
mengenal kedudukan para anggota senat (senator).
3. Pemilihan Presiden secara langsung sejak 2004. Bukan hanya
sosok presiden, tetapi juga wakil presidennya. Untuk Pilpres ini,
mekanisme nyaris serupa dengan pemilu partai, hanya obyek yang
dipilih berupa pasangan calon. Kadang, kalau dalam sekali Pilpres
tidak diperoleh pemenang mutlak, dilakukan pemilu putaran kedua,
untuk mendapatkan legitimasi suara yang kuat.
4. Pemilihan pejabat-pejabat birokrasi secara langsung (Pilkada),
yaitu pilkada gubernur, walikota, dan bupati. Lagi-lagi polanya
persis seperti pemilu Partai atau pemilu Presiden. Hanya sosok
yang dipilih dan level jabatannya berbeda. Disana ada penjaringan
calon, kampanye, proses pemilihan, dsb.
5. Adanya badan khusus penyelenggara Pemilu, yaitu KPU sebagai
panitia, dan Panwaslu sebagai pengawas proses pemilu. Belum
lagi tim pengamat independen yang dibentuk secara swadaya.
Disini dibutuhkan birokrasi tersendiri untuk menyelenggarakan
Pemilu, meskipun pada dasarnya birokrasi itu masih bergantung
kepada Pemerintah juga.
6. Adanya lembaga surve, lembaga pooling, lembaga riset, dll. yang
aktif melakukan riset seputar perilaku pemilih atau calon pemilih
dalam Pemilu. Termasuk adanya media-media yang aktif
21 | P a g e
melakukan pemantauan proses pemilu, pra pelaksanaan, saat
pelaksanaan, maupun paca pelaksanaan.
7. Demokrasi di Indonesia amat sangat membutuhkan modal (duit).
Banyak sekali biaya yang dibutuhkan untuk memenangkan Pemilu.
Konsekuensinya, pihak-pihak yang berkantong tebal, mereka lebih
berpeluang memenangkan Pemilu, daripada orang-orang idealis,
tetapi miskin harta.Akhirnya, hitam-putihnya politik tergantung
kepada tebal-tipisnya kantong para politisi.

2.3.2 Pengertian Liberalisme

Liberalisme atau Liberal adalah sebuah pandangan dan tradisi politik yang
didasarkan pada pemahaman bahwa nilai politik yang utama. Secara umum,
liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan
berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan,
khususnya dari pemerintah dan agama. definisi singkat dari liberlisme itu sendiri
cukup sulit untuk dipaparkan dalam sebuah bentuk kalimat, namun kita bisa
mencoba menggaris bawahi makna penting dari liberlisme itu sendiri dimana paham
ini labih jauh berbicara mengenai kebebasan, yang baik gagasan tentang negara
konstitusional yang dilandaskan pada kedaulatan hukum dalam demokrasi,
perlindungan atas hak milik pribadi dalam praktek kapitalisme modern, serta
perlindungan atas kebebasan individu melalui gagasan besar tentang civil liberties
kesemuanya adalah bagian dari kebajikan umum yang lahir dari filsafat liberal.
Budaya Politik yang kita perlukan adalah kesetaraan antara individu, keluarga dan
negara. Namun harus kita sadari bahwa dalam Reformasi telah masuk pengaruh
dari globalisasi dan universalisme yang telah diuraikan sebelumnya. Sebagai akibat
dari kegagalan rezim Soekarno dengan Demokrasi Terpimpinnya dan rezim
Soeharto dengan Demokrasi Pancasilanya, maka sekarang nampak kuat sekali
kecenderungan menuju ke Demokrasi Liberal. Pada banyak pihak timbul pikiran
bahwa sistem demokrasi yang berlaku di Barat adalah demokrasi yang universal. Itu
sebabnya sekarang banyak cendekiawan atau elit politik berteguh hati bahwa
demokrasi liberal yang harus digunakan dan disukseskan di Indonesia. Para pemikir
dari paham Liberal itu sendiri adalah antara lain Karl R. Popper, Ludwig Von Mises,
John Locke, Adam Smith, David Hume dan lain sebagainya yang selanjutnya dalam

22 | P a g e
berbagai tesis dan pendapatnya mereka banyak berbicara mengenai catatan
keberhasilan liberalisme, pasar bebas, hak individu, toleransi, kepentingan, keadilan
dan lain sebagainya yang kemudian menjadikan Liberalisme memiliki argumentasi
tersendiri dalam menjawab kritisasi dari para penentangnya yang biasanya datang
dari golongan atau pemikir sosialis ataupun komunis.

Dari berbagai pemaparan sebelumnya kita sudah mencoba memahami definisi


mengenai demokrasi dan liberalisme dari sudut pandang penulis itu tersendiri,
selanjutnya berbicara mengenai demokrasi liberal adalah satu bentuk dari demokrasi
yang beragam telah disebutkan sebelumnya. berdasarkan kosakata mungkin
demokrasi liberal bisa dikatakan pertemuan antara sebuah sistem pemerintahan
atau paham dengan sebuah paham lain atai ideologi yaitu antara demokrasi dan
liberalisme yang selanjutnya menjadi demokrasi liberal.

Dalam demokrasi liberal peran utama dipegang oleh partai politik. Permainan partai
politik untuk memenangkan tujuannya menggunakan berbagai cara dan alat,
termasuk yang kurang cocok dengan etika dan moralitas. Anggapan banyak orang
Indonesia bahwa keadaan demokrasi sekarang sedang [I]kebablasan[/I], tidak
didukung oleh pakar politik Barat sebagaimana sering kita baca di koran-koran. Buat
mereka ini adalah demokrasi yang sedang tumbuh dan tidak boleh diganggu
prosesnya sekalipun mungkin terasa aneh serta merugikan kepentingan umum.
Namun juga ada pendapat lain dari [I]Dr. Raj Vasil, [/I]yaitu seorang pakar ilmu
politik di Selandia Baru yang mempelajari Asia Tenggara selama 45 tahun terakhir.

Ia menulis di [I]Sunday Review [/I]bahwa demokrasi liberal bukan pilihan yang tepat
bagi Indonesia. Memang dari dulu para pendiri Republik Indonesia, khususnya
Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohamad Hatta, selalu memberikan
peringatan jangan sampai di Indonesia berlaku demokrasi liberal. Sebab demokrasi
liberal hanya menguntungkan pihak yang kuat belaka dan mengabaikan nasib pihak
lemah sesuai dengan pandangan liberal [I]laissez fair, laissez passer. [/I]Selain itu
demokrasi liberal tidak mempersoalkan moralitas sebab menjadikan hal itu urusan
individual belaka yang tidak perlu dan bahkan tidak boleh mencampuri urusan
umum. Sebab itu buat Bung Hatta, sebagaimana beliau tegaskan dalam pidato
pengukuhan sebagai [I]doctor honoris causa [/I]oleh Universitas Gajah Mada,
demokrasi tidak cukup hanya berjalan di bidang politik, tetapi juga harus ada

23 | P a g e
demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. Tentu pandangan demikian tidak disetujui
para penganut paham demokrasi liberal.

Amerika Serikat sebagai salah satu negara dengan demokrasi liberal yang terbilang
sukses dengan indikasi bahwa AS merupakan negara yang tergolong maju dan
menjadi negara adidaya di dunia di era globalisasi ini, dengan berbagai macam
cerita sejarah yang tidak bisa dilepaskan dari perjalanan panjang negara demokrasi
liberal ini dari berbagai peperangan dunia yang telah dilewati dari Perang Dunia I,
Perang Dunia II dan Perang Dingin yang sangat menentukan bagi AS dan
demokrasi liberalnya, ketika dunia dan negara-negara dunia ketiga sedang dalam
masa-masa yang sulit ketika berbicara ideologi karena terjadi perang dingin antara
dua kutub besar antara AS dan Uni Sovyet atau biasa disebut dengan perang
Ideologi antara AS dengan demokrasi liberalnya dan Uni Sovyet dengan sosialis-
komunisnya.

Berkaitan dengan ideologi demokrasi liberal yang banyak dipakai negara-negara di


dunia saat ini ada baiknya kita mengacu pada suatu cerita mengenai perdebatan
suatu debat yang dinamakan The End of Ideology Debate, debat itu dipicu oleh
jatuhnya fasisime sesudah Perang Dunia II, disusul dengan mundurnya komunisme.
Dua sarjana Amerika yang perlu disebut dalam fenomena ini adalah Daniel Bell dan
Francis Fukuyama. Daniel Bell (1960) dalam bukunya The End of Ideology: On the
Exhaustion of Political Ideas in the Fifties, menguraikan bahwa: Di Barat ada
konsensus diantara para intelektual tentang masalah politik, yaitu: diterimanya
negara kesejahteraan; diidamkanya desentralisasi kekuasaan; sebuah sistem
ekonomi campuran dan pluralism politik. Konsensus ini menurut Bell, telah
mengakhiri debat mengenai ideology secara tuntas,

Kemudian kira-kira tiga puluh tahun kemudian, Francis Fukuyama (1989),


meneruskan pemikiran ini dan memaparkan idenya dalam tulisanya The End of
History. Fukuyama melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan bahwa globalisasi
yang sedang melanda seluruh dunia akan mendorong tersebarnya demokrasi ala
Barat di dunia luas, dan bahwa majunya ekonomi pasar akan diikuti dengan
diterimanya prinsip-prinsip demokrasi liberal secara universal. Teori Fukuyama
kemudian banyak dikritik oleh berbagai kalangan karena dianggap terlalu
meremekan segi-segi negative dari globalisasi. Karena itu Fukuyama merasa perlu

24 | P a g e
memberikan penejelasan dan kemudian Fukuyama menulis suatu penjelasan dalam
The End Of History and The Last Man (1992).

Dengan beragam kerangka pemikiran tersebut mengenai ideologi demokrasi liberal


menjadi suatu acuan yang menarik untuk kita selanjutnya menganalisa negara
demokrasi liberal seperti AS yang sampai saat ini masih menjadi negara Adidaya di
dunia Globalisasi dan dengan berbagai instrumen politik luar negerinya AS terus
berupaya melakukan upaya demokratisasi terhadap negara-negara di dunia, dengan
dominasi dalam hal perekonomian global merupakan suatu dorongan tersendiri
dalam uapaya AS tersebut dan begitu pula para penentangnya yang banyak
melakukan kritik-kritik terhadap upaya AS tersebut karena banyak cara-caranya
terkadang dinilai kurang manusiawi, menjadi ensensi tersendiri untuk
menganalisanya secara komperhensif sehingga selanjutnya kita mampu mengkaji
dan menilainya dengan perspektif dan paradigma kita masing-masing.

2.3.3 Pertentangan Pemikiran terhadap Demokrasi Liberal

Walaupun memang seolah-olah menurut berbagai kalangan Demokrasi Liberal akan


terus berkembang ke berbagai penjuru, menurut Francis Fukuyama yaitu harus
dikatakan, untuk sebagian besar dunia bahwa kini tidak ada ideologi dengan
pretensi-pretensi terhadap universalitas yang ada dalam posisi untuk menantang
demokrasi liberal, dan tidak ada prinsip legitimasi universal selain dari kedaulatan
rakyat, bahkan menurutunya fasisme dan komunisme, yang merupakan pesaing
utama demokrasi liberal telah mendiskreditkan diri mereka sendiri.

Akan tetapi demokrasi liberal bukan berarti dengan semudah itu melakukan klaim-
klaim positif atas ideologinya karena banyak pertentangan yang memang sampai
saat ini tetap demonstratif dalam menentang demokrasi liberal anatara lain datang
dari pemikiran strukturalisme atau marxisme yang beranggapan antara lain struktur
kapitalisme global yang tidak adil dan eksploitatif yang menciptakan tatanan
ekonomi dan sosial yang bersifat konfliktual dan disharmonis juga mereka melihat
bahwa ketimpangan kesejahteraan yang sangat besar antara negara maju dan
negara berkembang. Keterlambatan dan kegagalan pembangunan negara-negara
Dunia Ketiga yang menyebabkan terciptanya pembangunan global yang tidak
merata.

25 | P a g e
Begitu juga penentangan datang dari pemikir realis yang beranggapan bahwa
Liberalisme sangatlah normatif dan tidak berdasarkan kepada realita. ketika kita
berbicara mengenai AS sebagai salah satu negara demokrasi liberal dan menjadi
negara adidaya yang selanjutnya memiliki kewenagan untuk menentukan nasib
bangsa-bangsa di dunia sudah barang tentu tidak semua kalangan mampu
menerima hal tersebut dan hingga saat ini sentimen kebencian terhadap AS selalu
ada dan bahkan juga berkembang terus aksi-aksi terorisme yang mengatasnamakan
“Islam” dan berbagai kelompok-kelompok yang melakukan aksi-aksinya dengan
sasaran sektor-sektor yang berhubungan dengan AS tentu ini membuktikan banyak
penentangan terhadap negara AS tersebut, begitu juga seruan-seruang boikot
terhadap produk AS terkadang bisa kita dengarkan ketika AS melakukan tindakan
yang tidak sesuai atau banyak merugikan negara-negara terkait.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa sejarah nampaknya akan terus menempuh
perjalanan yang panjang dan apa yang dicoba dikemukan Francis Fukuyama
tentunya mendapat pertanyaan besar dalam prediksi demokrasi liberal di masa
depan. Seperti apa yang dipaparkan sekilas seputar sejarah, proses dan
pertentangan terhadap demokrasi liberal dengan Amerika Serikat sebagai sudut
pandang negara yang menjalankan demokrasi liberal, tentunya banyak hal yang
dapat kita kaji secara lebih analitis, kritis dan skeptic dikarenakan banyak faktor yang
perlu kita pertimbangakan lebih lanjut.

Di satu sisi saat ini Amerika Serikat memang negara yang mampu maju dengan
demokrasi liberalnya namun nampaknya disisi lain kita juga menemukan hal-hal
yang negatif yang tentunya perlu kita cegah dan kita tanggapi secara kritis karena
memang walaupun saat ini fenomena-fenomena tetap memerlukan konsepsi yang
juga matang untuk mampu melakukan filter terhadap fenomena dunia. Mengambil
hal positif dari Demokrasi liberal AS dan mereduksi pengaruh negatif dari globalisasi
merupakan langkah yang sekiranya tepat namun tentunya untuk mengambil
tindakan tersebut perlu konsepsi yang sangat matang karena tidak selalu demokrasi
liberal dapat mengatarkan bangsa pada suatu kesejahteraan seperti apa yang
dicapai AS.

26 | P a g e
2.3.4 Perkembangan Demokrasi Liberalisme di Indonesia

Dalam kamus politik Indonesia, liberalisme bukanlah konsep yang diterima banyak
orang. Seharusnya tidak begitu, sebab ide pokoknya hanya kebebasan individu, baik
ekonomi maupun politik, sebagai dasar utama masyarakat modern. Ia tidak berarti
kebebasan tanpa batas, seperti sering dituduhkan. Seorang liberal bisa mendukung
undang-undang anti-judi atau anti-pornografi, seperti sering terjadi di Amerika, dan ia
belum tentu melawan peran negara dalam ekonomi nasional. Pada umumnya kaum
liberal di seluruh dunia masa kini mendukung apa yang dinamakan mixed economy,
peran utama diberikan kepada pasar tetapi negara juga penting untuk mengatur dan
mengarahkan para pelaku ekonomi swasta. Peran negara juga penting untuk
membangun dan mengurus sistem pendidikan, kesehatan, komunikasi dan fasilitas
umum lainnya.

Dalam konteks itu, para politisi di Indonesia pada awal tahun 1950-an berusaha
untuk menerapkan cita-cita liberal melalui sistem pemerintahan Demokrasi
Parlementer dan mixed economy. Sistem pemerintahan yang menyusul, Demokrasi
Terpimpin, sama sekali tidak liberal. Orde Baru tidak liberal dari segi politik, tetapi
dari segi ekonomi ada usaha untuk menerapkan cita-cita liberal. Kebijakan Profesor
Wijoyo cs untuk membuka pasar bersifat liberal, tetapi diselewengkan oleh dua
macam tindakan proteksionis, yakni perlindungan terhadap para pengusaha kroni
dan pejabat negara yang membawahi BUMN seperti B. J. Habibie. Kedua jenis
proteksionisme ini tidak bersifat liberal sebab mengurangi kebebasan orang lain
untuk bersaing.

2.3.5 Pancasila dan Demokrasi Liberalisme

Partisipasi itu terwujud bukan hanya dalam pemilihan umum, tetapi juga dalam
proses pengambilan keputusan pemerintah, seperti terlihat kini dengan perdebatan
tentang RUU APP. Kebebasan individu, termasuk kebebasan pers, hak untuk
mengemukakan pendapat, hak untuk membentuk atau menjadi anggota organisasi
sosial dan politik, dan ciri-ciri negara hukum diperlukan sebagai fondasi untuk
partisipasi yang bermakna.

Pancasila adalah doktrin negara yang diciptakan oleh Sukarno dkk pada tahun 1945
sebagai kompromi antara politisi yang mendambakan negara Islam dan politisi yang
menginginkan negara sekuler. Selain agama, ada unsur-unsur lain yang merupakan

27 | P a g e
komitmen para politisi jaman itu kepada cita-cita bersama, termasuk kebangsaan
Indonesia, pertanggungjawaban kepada dunia internasional, demokrasi, dan
pemerataan ekonomi dan sosial. Pada masa Reformasi dan ke depan, Pancasila
tetap menjadi sumber atau dapur cita-cita bersama yang berharga, menurut
pendapat saya. Pengentasan kemiskinan, misalnya, sebagai pengejawantahan sila
keadilan sosial, sangat memerlukan perhatian para pemikir, ilmuwan sosial, dan
aktivis.

2.3.6 Demokrasi Liberal: Suatu Refleksi Teoritik

Kembali kepada tesis Fukuyama memaparkan bahwa runtuhnya rezim-rezim


komunis di Eropa Timur dan Uni Soviet pada tahun 1989 dan 1990 yang berarti
berakhirnya Marxisme-Leninisme sebagai ideologi politik tidak menandai apapun
kecuali “titik akhir dari evolusi ideologis umat manusia”. Kondisi terakhir ini disebut
Fukuyama sebagai “pertama kali terjadi dengan kehancuran total alternatif
sistematis terhadap demokrasi liberal Barat”. Meski ia bersepakat dengan gagasan
Daniel Bell yang menyatakan bahwa dunia akan mengalami deideologisasi, namun
ia menolak ramalan Bell akan terjadinya korvergensi ideologis antara liberalisme dan
sosialisme. Bagi Fukuyama, “kemenangan telak liberalisme politik dan ekonomi
adalah bentuk final dari pemerintahan umat manusia” (Steger, 2005: 4).

Penguatan teoritik dan [I]supply [/I]energi politik di kalangan negara liberal Barat
meneguhkan kebijakan mereka untuk mempercepat laju gelombang demokrasi
liberal ke negara-negara Selatan ataupun negara-negara yang belum menganut
paham demokrasi liberal. Maka, berbagai program pun diluncurkan untuk
menyokong perkembangan demokrasi dan pembentukan sistem politik dan tata
pemerintahan di dunia ketiga yang sejalan dengan garis liberal dalam corak
pembangunannya.

Pelacakan Abrahamsen (2000: 56) membuktikan pada tahun 1990 [I]Democracy


Initiative [/I]dari US [I]Agency for International Development[/I] (USAID) diluncurkan
untuk membantu mendorong dan mengonsolidasikan demokrasi sebagai prinsip
pengelolaan sistem politik yang [I]legitimate[/I] di seluruh dunia. Satu tahun
sebelumnya, 1989, World Bank mengintrodusir untuk pertama kali istilah “[I]good
governance[/I]”, sebagai doktrin pembangunan baru dan tata kelola pemerintahan
yang segaris dengan demokrasi liberal. Doktrin ini meyakini bahwa demokrasi tidak

28 | P a g e
hanya dikehendaki dari perspektif hak asasi manusia, tetapi juga dibutuhkan sebagai
syarat untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan berkelanjutan. Demokrasi
liberal dan “anak ideologisnya”, good governance, lantas menjadi tawaran baru bagi
pembangunan negara di berbagai belahan dunia, terutama dunia ketiga.

Setelah didorong secara global oleh Amerika Serikat dengan negara Barat pada
umumnya, Demokrasi dan good governance lantas menjadi buzzword dalam studi
politik dan pembangunan di tahun 1990-an. Di Indonesia, terutama istilah good
governance, menjadi salah satu kosakata paling populer di kalangan petinggi negara
dan akademisi, sebagai tawaran baru dalam pembenahan pemerintahan yang
secara sistemik begitu rusak. Keasyikan melafalkan suatu kosakata baru dengan
berbagai “bujuk rayu” yang menggiurkan dari negara-negara Barat akan
pembaharuan tata pemerintahan dan progresifitas pembangunan menyebabkan kita,
masyarakat dunia ketiga, mengesampingkan daya kritis dalam merespons berbagai
tawaran Barat.

2.3.7 Demokrasi dan Demokrasi Liberalisme

Meski telah disebarkan secara global, namun demokrasi liberal tetap merupakan
konsep yang ambigu, terbuka pada banyak interpretasi. Begitu banyak defenisi yang
dilekatkan padanya, sehingga ia dapat digolongkan sebagai konsep yang secara
esensial diperebutkan. Tidak ada pengertian yang netral terhadapnya, karena
sejatinya, setiap definisi memiliki ikatan sosial dan politiknya masing-masing dan
beroperasi dalam perspektif sosial dan politis tertentu. Di pentas studi ilmu politik
dewasa ini, demokrasi liberal (elektoral-prosedural) telah memenangi pertarungan
pemaknaan tentang konsep demokrasi. Demokrasi prosedural meraih
kemenangannya pada tahun 1970-an setelah berhasil menggeser pemahaman
subtantifis demokrasi. Pemahaman subtantifis demokrasi lebih menekankan
pemaknaan demokrasi pada sisi utopia dan ideal, yang mengadvokasi nilai-nilai
kesetaraan dalam berdemokrasi (Mas’oed, 1999: 8).

Tesis demokrasi liberal ini telah melenceng dari gagasan-gagasan awal demokrasi
yang mensyaratkan pentingnya partisipasi dalam pembangunan diri dan komunitas
warga negara, sebagaimana rumusan Rousseau, yang masyhur dengan teori
kontrak sosialnya. Dalam rumusan Rousseau, kehendak umum, melalui partisipasi
luas, akan menjadi kebenaran kehendak dari masing-masing-masing warga negara,

29 | P a g e
dan berkebalikan dengan kehendak “private” atau kehendak yang egois
(Heywood,1988:72) . Fungsi partisipasi dalam alam demokrasi juga menjadi
penegasan John Stuart Mill. Tuturnya, tanpa partisipasi nyaris semua semua orang
ditelan ragam kepentingan pribadi dan pemuasan kebutuhan pribadi mereka sendiri.

Wacana politik maenstream yang mengekang partisipasi publik dalam proses


pembangunan serta pembuatan dan kontrol kebijakan publik, senyatanya
merupakan upaya mengekang kehendak rakyat akan perbaikan keadilan sosial,
memangkas harapan peningkatan kesejahteraan dan ragam kebutuhan subtantif
lain. Pendekatan demokrasi liberal lebih menekankan pada penciptaan hak-hak
formal, persamaan dihadapan hukum, dan lahirnya stabilitas politik. Jadi, menurut
kaum liberalis, tak relevan melekatkan isu ketimpangan ekonomi dan keadilan sosial
dengan demokrasi. Dalam banyak literatur kontemporer, selanjutnya, demokrasi
tidak bertemali dengan strategi dan struktur ekonomi; atau dalam bahasa Diamond
et.al (Abrahamsen:2004), “a political system, separate apart to the economic system
to wich it is joine ”sejenis sistem politik yang berjarak dan berpisah dengan sistem
ekonominya. Hak-hak subtantif warga negara lantas tergusur oleh agenda formal
demokrasi.

Jika demokrasi liberal tidak mempedulikan partisipasi masyarakat dalam meraih hak-
hak politik selain kebebasan individu untuk memilih dalam pemilu, mendapatkan
jaminan sosial, dan hak perbaikan ekonomi mereka sebagaimana dibutuhkan oleh
mayoritas masyarakat dunia ketiga, di mana relevansi demokrasi liberal dengan
pembangunan negara berkembang?

2.3.8 Praktek Demokrasi Liberal Di Negara Dunia Ketiga

Mengikuti rentetan argumentasi demokrasi liberal secara total jelas akan


menghadirkan problematika tersendiri, terutama bagi kebanyakan dunia ketiga, tak
terkecuali Indonesia. Sebagai contoh, studi Sorensen (1993, dalam Syihabuddin,
2004) telah menunjukkan bahwa India merupakan salah satu negara terbesar di
Selatan yang paling stabil dalam melaksanakan demokrasi elektroral. Namun, tidak
ada perubahan kesejahteraan pada 40% masyarakat India akibat kemiskinan akut,
dengan ratusan ribu penduduk mati tiap tahunnya karena parahnya kekurangan gizi
dan kelaparan.

30 | P a g e
Pemaparan yang sangat menarik dilakukan oleh Abrahamsen (2004) dengan
mendedahkan praktek good governance anak kandung demokrasi liberal yang
bertugas meliberalisasi struktur pemerintahan negara dunia ketiga di Afrika. Dengan
memotret tumbuhnya kembali demokrasi dan hadirnya harapan masa depan cerah
dari masyarakat beberapa negara Afrika seperti Zambia, Pantai Gading, Ghana, dan
Kenya, Abrahamsen sampai pada kesimpulan bahwa demokrasi liberal yang
bergeliat dibalik kerja good governance gagal total memenuhi janji-janjinya.

Kemenangan demokrasi liberal hanya bisa dinikmati oleh kalangan elit dan kelas
menengah yang mampu terserap dalam struktur politik demokratis dan lembaga-
lembaga donor dan kreditor global yang menggelontorkan bantuan pembangunan
dengan kompensasi terintegrasinya Afrika dengan pasar bebas dunia. Bagi
mayoritas masyarakat miskin di Afrika, demokratisasi hanya melahirkan penderitaan
dan kemiskinan yang lebih parah. Hal ini yang menyebabkan beragam kerusuhan
dan instabilitas sosial yang menjangkiti banyak negara di Afrika Sub Sahara.

Kekhawatiran munculnya ragam ketimpangan yang tak pernah dijawab oleh


kalangan demokrasi liberal direkam oleh Bentham (Abrahamsen:2000) bahwa
persoalan demokrasi representatif bukanlah pada pembatasannya terhadap aktivitas
untuk memilih dalam pemilu, namun lebih pada tipisnya peluang untuk bisa terlibat
dan mempengaruhi kebijakan, karena peluang itu akan sangat tergantung pada
pelbagai sumberdaya, terutama uang, waktu, dan tingkat pendidikan. Kesemuanya
itu jelas tidak merata di negara-negara selatan, termasuk Indonesia.

2.3.9 Liberallisasi Dalam Suatu Demokrasi

Liberalisme sangat mempercayai pluralitas dan menempatkan individu sebagai aktor


utama. Pada abad ke-18 terjadi perpecahan di tubuh liberalisme dan munculah
paham libertarianisme dan demokrasi sosial. Perpecahan ini muncul karena adanya
perbedaan pendapat mengenai konsep penanganan pasar. Perpecahan semakin
membesar pada abad ke-20 berkenaan dengan terjadinya beberapa revolusi dan
perang. Libertarianisme berpendapat pasar yang ideal adalah pasar yang bebas
tanpa ada intervensi dari pemerintah dan kebebasan atas kepemilikan pribadi.
Libertarianisme sangat antipati terhadap konsep power yang terkonsentrasi karena
mengacu pada pernyataan Lord Acton bahwa “Power tends to corrupt and absolute
power corrupts absolutely”. Pembatasan kekuasaan negara ini juga ditujukan untuk

31 | P a g e
perlindungan hak-hak individu dan warga negara dari tekanan represi pemerintah.
Mengenai dasar filosofi pasar bebas, Boaz menyatakan bahwa untuk bertahan dan
berkembang individu membutuhkan aktivitas ekonomi. Sebetulnya faham liberalisme
klasik tidak pernah diterapkan sepenuhnya dalam kenyataan. Justru di negara-
negara yang menerapkan demokrasi liberal, terdapat kesadaran yang kuat bahwa
untuk mencapai maksud dan tujuan dari liberalisme itu sendiri negara perlu berperan
aktif dalam bidang ekonomi dengan membuat regulasi bagaimana pasar bekerja.
Terutama yang berhubungan dengan aspek distributif kekayaan demi terciptanya
persamaan dan kebaikan bidup bermasyarakat.

2.3.10 Demokrasi Liberalisme Kebablasan

Demokrasi liberalisme yang diterapkan di Negara kita telah mengalami demokrsi


yang kebablasan, artinya adalah demokrasi yang tidak dibatasi lagi oleh nilai-nilai itu
sendiri. Setiap orang boleh untuk merusak atau anarkisme atas dasar demokrasi,
jalan menuju anarkisme atas nama demokrasi. Munculnya era reformasi yang
sebelumnya kran berbicara, berkumpul dan penpendapat ditutup oleh rezim
Soeharto, tapi begitu reformasi muncul ini kembali dibuka sebebas bebasnya, yang
outputnya adalah demokrasi yang kebablasan.

Dalam konteks ini, penulis tidak anti akan demokrasi, tapi yang menjadi kegelisahan
kita akhir-akhir ini adalah demokrasi yang liberal (kebablasan), kebebasan yang
sebebas- bebasnya, demokrasi yang sudah bertentangan dengan nilai-nilai humanis
pancasila, sehingga demokrasi gagal menciptakan kondisi yang teratur dalam
masyarakat, sebaliknya yang terjadi kondisi, ketidak- teraturan dis-order, tidak bisa
dipungkiri untuk saat ini demokrasi yang relatif baik dibandingkan dengan sistem
yang ada.

Tulisan ini hendak merefleksikan kembali diskursus demokrasi liberal dan sekilas
good governance yang telah membuncah di pelataran negeri ini sebagai resep baru
pembangunan politik, juga ekonomi, yang hampir-hampir tanpa reserve. Refleksi ini
diharapkan dapat membuka selubung kepentingan yang begitu kental membonceng
pada kosakata tersebut sehingga kita bersama lebih berhati-hati memperlakukan
ragam konsep baru yang hadir di hadapan kita. Di akhir tulisan ini, akan
dipertimbangkan satu preskripsi akademik yang relevan sebagai penyeimbang

32 | P a g e
gagasan-gagasan liberal yang telah merasuk begitu dalam pada denyut nadi
pemerintahan di republik miskin nan korup ini.

Apakah realitas emperis diatas adalah buah dari demokrasi liberalisme (demokrasi
yang menjungjung nilai-nilai kebebasan). Tentu kita telah mengalami demokrasi
liberalisme yang tidak bisa dihambat atau dibendung lagi karena kita sudah terlanjur
berdemokrasi. Semoga demokrasi di negeri ini dapat dikontrol, seperti Amerika
Serikat sebagai mbahnya demokrasi tidak sebebas-bebas seperti Indonesia,
meskinya dalam beberapa hal demokrasi bisa diberi kebebasan yang seluas-
luasnya.

33 | P a g e
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pesta demokrasi yang kita gelar setiap 5 tahun ini haruslah memiliki visi
kedepan yang jelas untuk membawa perubahan yang fundamental bagi
bangsa Indonesia yang kita cintai ini, baik dari segi perekonomian,
pertahanan, dan persaiangan tingkat global. Oleh karena itu, sinkronisasi
antara demokrasi dengan pembangunan nasional haruslah sejalan bukan
malah sebaliknya demokrasi yang ditegakkan hanya merupakan untuk
pemenuhan kepentingan partai dan sekelompok tertentu saja. Dari
pengalaman masa lalu bangsa kita, kelihatan bahwa demokrasi belum
membudaya. Kita memang telah menganut demokrsai dan bahkan telah di
praktekan baik dalam keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan
bebangsa dan bernegara. Akan tetapi, kita belum membudanyakannya.
Membudaya berarti telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging.
Mengatakan “Demokrasi telah menjadi budaya” berarti penghayatan nilai-nilai
demokrasi telah menjadi kebiasaan yang mendarah daging di antara warga
negara. Dengan kata lain, demokrasi telah menjadi bagian yang tidak dapat
dipisah-pisahkan dari kehidupanya. Seluruh kehidupanya diwarnai oleh nilai-
nilai demokrasi.Namun, itu belum terjadi. Di media massa kita sering
mendengar betapa sering warga negara, bahkan pemerintah itu sendiri,
melanggar nilai-nilai demokrasi. Orang-orang kurang menghargai kebabasan
orang lain, kurang menghargai perbedaan, supremasi hukum kurang
ditegakan, kesamaan kurang di praktekan, partisipasi warga negara atau
orang perorang baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan
pilitik belum maksimal, musyawarah kurang dipakai sebagai cara untuk
merencanakan suatu program atau mengatasi suatu masalah bersama, dan
seterusnya. Bahkan dalam keluarga dan masyarakat kita sendiri, nilai-nilai
demokrasi itu kurang di praktekan. Semua ini dan indikasi-indikasi lainnya
telah terlembagakan secara kuat dengan payung UU Politik yang direvisi
setiap 5 tahunan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem demikian telah
menjadi realitas politik legal dan memiliki posisi sangat kuat dalam kehidupan
politik nasional.
34 | P a g e
3.2 Saran

Di era reformasi sekarang ini maysarakat perlu mengkaji ulang dan lebih mendalami
makna dari Demokrasi pancasila dengan harapan untuk mengetahui dan bisa
membedakan antara demokrasi di Indonesia dengan Negara lain, khususnya
pemerintahan di indonesia saat ini yang seperti kita ketahui bahwa demokrasi yang
terjadi saat ini jauh menyimpang dari paham demokrasi pancasila yang menjadi
landasan negara Indonesia.

35 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

https://kewarganegaraanblog.wordpress.com/2013/11/10/pengertian-dan-jenis-jenis-
demokrasi/
https://id.wikipedia.org/wiki/Demokrasi_Pancasila
https://abigdream.wordpress.com/2010/04/01/indonesia-pada-masa-demokrasi-
liberal-1950-1959/
https://tifiacerdikia.wordpress.com/lecture/lecture-1/ilmu-
kewarganegaraan/perkembangan-demokrasi-di-indonesia/
https://rogerhannes.wordpress.com/2014/04/16/soft-skill-keadaan-demokrasi-di-
indonesia-saat-ini/

36 | P a g e