Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG TERAPI


OTOT AUTOGENIK

OLEH :
LULU’UL ARIFAH
S16037

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


STIKES KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Topik : Penyuluhan Kesehatan Tentang Terapi Otot Autogenik


Pelaksana : Tim mahasiswa
Hari, tanggal : 28 Mei 2019
Waktu : 08.00 - Selesai
Tempat : Bangsal Dadap Serep RSUD Boyolali
Sasaran : Anak Dengan Keluhan Nyeri dan Gangguan Pola Tidur

I. Tujuan Instruksional Umum (TIU)


Setelah diadakan penyuluhan diharapkan anak dan keluarga mengetahui
terapi otot autogenik

II. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)


1. Anak dan keluarga pengertian terapi otot autogenic
2. Anak dan keluarga mengetahui tujuan terapi otot autogenik
3. Anak dan keluarga mengetahui manfaat terapi otot autogenik
4. Anak dan keluarga menegtahui prosedur terapi otot autogenik

III. Materi Pembelajaran


1. Pengertian terapi otot autogenik
2. Tujuan terapi otot autogenik
3. Manfaat terapi otot autogenik
4. Prosedur terapi otot autogenik

IV. Metode Pembelajaran


1. Ceramah dan Demonstrasi
Metode ini digunakan sebagai pengantar untuk memberikan penekanan
pengertian serta pelaksanaan tentang nutrisi untuk anak post operasi
2. Diskusi/tanya jawab
Metode ini digunakan baik pada saat dilangsungkannya penyuluhan
atau pada saat diakhirinya penyuluhan yang memungkinkan peserta
mengemukakan hal-hal yang belum dimengerti.
V. Media
1. Media : Leaflet

VI. Kegiatan Penyuluhan


Tahap Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta
Pendahuluan 13 Januari 2018 Pembukaan acara oleh moderator Mendengarkan
(5 menit) 09.00-09.05 WIB 1. Salam Pembuka pembukaan yang
2. Memperkenalkan diri disampaikan oleh
3. Kontrak waktu moderator.
4. Menjelaskan mekanisme
kegiatan
Pelaksanaan 09.05-10.05 WI B Penyampaian materi oleh Mendengarkan dan
(60 menit) pemateri: memberikan umpan
1. Pengertian terapi otot autogenik balik tehadap materi
2. Tujuan terapi otot autogenik yang disampaikan.
3. Manfaat terapi otot autogenik
4. Prosedur terapi otot autogenik
10.05-10.25 WIB 1. Sesi tanya jawab 1. Mengajukan
2. Evaluasihasil yang dipandu pertanyaan
oleh moderator mengenai materi
yang kurang
paham
2. Menjawab
pertanyaan yang
diajukan
Penutup 10.25-10.30 WIB Moderator: Mendengarkan
(5 menit) 1. Mempersilahkan fasilitator dari dengan seksama
pembimbing lapangan untuk
menambahkan ataupun
menjelaskan kembali jawaban
pertanyaan peserta yang belum
terjawab.
2. Menjelaskan kesimpulan dari
materi penyuluhan
3. Ucapan terima kasih
4. Salam penutup
VII. Pengorganisasian
Precentator : Lulu’ul Arifah

VIII. Job Description


1. Presentator :Menyampaikan materi penyuluhan dan menjawab
pertanyaan

IX. Setting

PRESENTATOR

AUDIENCE

X. Evaluasi
a. Evaluasi struktur
1. Kesiapan panitia
2. Kesiapan media dan tempat
3. Peserta yang hadir minimal 70% dari jumlah undangan
4. Pengorganisasian dilakukan 1 hari sebelumnya.
a. Evaluasi proses
1. Kegiatan dilaksanakan sesuai dengan waktunya
2. Peserta antusias terhadap penjelasan
3. Peserta tidak meninggalkan tempat sebelum kegiatan selesai
4. Peserta terlibat aktif dalam kegiatan diskusi
b. Evaluasi hasil
Undangan mampu mengerti dan memahami :
1. Memahami maksud dan tujuan kegiatan
2. Mengetahui pokok masalah yang telah didiskusikan
Lampiran materi
1. Pengertian Terapi Otot Autogenik
Relaksasi merupakan suatu keadaan dimana seseorang merasakan
bebas mental dan fisik dari ketegangan dan stres. Teknik relaksasi
bertujuan agar individu dapat mengontrol diri ketika terjadi rasa
ketegangan dan stres yang membuat individu merasa dalam kondisi yang
tidak nyaman (Potter & Perry, 2010). Relaksasi psikologis yang mendalam
memiliki manfaat bagi kesehatan yang memungkinkan tubuh menyalurkan
energi untuk perbaikan dan pemulihan, serta memberikan kelonggaran
bagi ketegangan akibat pola-pola kebiasaan (Goldbert, 2011).
Autogenik memiliki makna pengaturan sendiri. Autogenik
merupakan salah satu contoh dari teknik relaksasi yang berdasarkan
konsentrasi pasif dengan menggunakan persepsi tubuh (misalnya, tangan
merasa hangat dan berat) yang difasilitasi oleh sugesti diri sendiri (Stetter,
2013). Menurut Aryanti (2007) dalam Pratiwi (2012), relaksasi autogenik
merupakan relaksasi yang bersumber dari diri sendiri dengan
menggunakan kata-kata atau kalimat pendek yang bisa membuat pikiran
menjadi tenang. Widyastuti (2012) menambahkan bahwa relaksasi
autogenik membantu individu untuk dapat mengendalikan beberapa fungsi
tubuh seperti tekanan darah, frekuensi jantung dan aliran darah. Kang et
al(2009) mendefinisikan relaksasi autogenik sebagai teknik atau usaha
yang disengaja diarahkan pada kehidupan individu baik psikologis maupun
somatik menyebabkan perubahan dalam kesadaran melalui autosugesti
sehingga tercapailah keadaan rileks.

2. Tujuan Terapi Otot Autogenik


Tujuan dari Terapi otot autogenik itu sendiri akan membantu tubuh
untuk membawa perintah melalui autosugesti untuk rileks sehingga dapat
mengendalikan pernafasan, tekanan darah, denyut jantung serta suhu
tubuh. Imajinasi visual dan mantra-mantra verbal yang membuat tubuh
merasa hangat, berat dan santai merupakan standar latihan relaksasi
autogenik (Varvogli, 2011). Dan juga memberikan tujuan lain seperti :
a. Memberikan perasaan nyaman.
b. Mengurangi strees, khususnya strees ringan/sedang.
c. Memberikan ketenangan.
d. Mengurangi kecemasan
e. Mengurangi ketegangan

3. Manfaat Terapi Otot Autogenik


Menurut Pratiwi (2012), seseorang dikatakan sedang dalam
keadaan baik atau tidak, bisa ditentukan oleh perubahan kondisi yang
semula tegang menjadi rileks. Kondisi psikologis individu akan tampak
pada saat individu mengalami tekanan baik bersifat fisik maupun mental.
Teknik relaksasi autogenik mengacu pada konsep baru. Selama ini,
fungsi-fungsi tubuh yang spesifik dianggap berjalan secara terpisah dari
pikiran yang tertuju pada diri sendiri. Teknik relaksasi ini membantu
individu dalam mengalihkan secara sadar perintah dari diri individu
tersebut. Hal ini dapat membantu melawan efek akibat stres yang
berbahaya bagi tubuh. Teknik relaksasi autogenik memiliki ide dasar yakni
untuk mempelajari cara mengalihkan pikiran berdasarkan anjuran sehingga
individu dapat menyingkirkan respon stres yang mengganggu pikiran
(Widyastuti, 2012)

4. Prosedur Terapi Otot Autogenik


Tata Cara Pelaksanaan Relaksasi Autogenik
Persiapan :
a. Atur posisi dalam posisi duduk atau berbaring
b. Carilah/ciptakan lingkungan senyaman dan setenang mungkin agar
pasien/ klien mudah berkonsentrasi
Prosedur :
a. Pilihlan suatu kata / kalimat yang dapat membuat kita tenang
misalnya “ Astaghfirullah” Jadikan katakata / kalimat tersebut
sebagai “mantra” untuk mencapai kondisi rileks.
b. Tutup mata secara perlahan – lahan.
c. Lemaskan seluruh anggota tubuh dari kepala, bahu, punggung,
tangan sampai dengan kaki secara perlahanlahan.
d. Tarik nafas secara perlahan: tarik nafas melalui hidung – buang
nafas melalui mulut.
e. Pada saat menghembuskan nafas melalui mulut, ucapkan dalam
hati “mantra“ tersebut.
f. Lakukan berulang selama ± 10 menit, bila tiba-tiba pikiran
melayang, upayakan untuk memfokuskan kembali pada kata kata
“mantra”.
g. Bila dirasakan sudah nyaman/ rileks, tetap duduk tenang dengan
mata masih tetap tertutup untuk beberapa saat.
h. Langkah terakhir, buka mata perlahan-lahan sambil rasakan kondisi
rileks.
Perhatian :
a. Untuk mencapai hasil yang optimal dibutuhkan konsentrasi penuh
terhadap kata-kata “mantra” yang dapat membuat rileks
b. Lakukan prosedur ini sampai 2– 3 kali agar mendapatkan hasil
yang optimal
DAFTAR PUSTAKA

Potter dan Perry, 2010. Fundamental Keperawatan Konsep, Proses dan


Praktik. Jakarta: EGC. Hlm 1502-1533
Smeltzer & Bare. 2013. Keperawatan Medikal Bedah : Buku Ajar. Edisi 8.
Jakarta : EGC.
Pratiwi, YA, Fitriyani,A, Natalia, D.(2012). Pengaruh teknik relaksasi
autogenik terhadap tingkat kecemasan orang tua dengan anak retardasi
mental di sekolah luar biasa (SLB) Yakut Purwokerto. Skripsi Fakutas
Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, Unsoed.(Tidak dipublikasi).
Kang, E., Park, J., Chung, C., Yu, B. (2009). Effect of biofeedback assissted
autogenic training on headache activity and mood states in korean
female migraine patients. Journal Korean medicine Sciences Vol. 24:
936-40.