Anda di halaman 1dari 22

KATA PENGANTAR

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.


Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena atas berkat
rahmat dan karunia-Nya makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.

Makalah yang berjudul “Perbandingan Dakwah Jam’iyyah Washliyah dan


Persatuan Umat Islam (PUI)” ini membahas mengenai hal-hal yang berkaitan
dengan sejarah, pengertian, tokoh-tokoh pendiri dan visi misi serta perbandingan
dakwah antara Jam’iyyah Washliyyah dan Persatuan Umat Islam (PUI)

Makalah ini juga dibuat sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliah
Perbandingan Dakwah yang dibimbing langsung oleh Bpk. Dr. Hajir Tajiri, M.Ag.

Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam makalah
ini. Untuk itu masukan dan saran perbaikan, sangat kami harapkan, guna penulisan
makalah yang lebih baik dimasa yang akan datang.

Semoga dengan adanya makalah yang sederhana ini, bisa menjadi bahan referensi,
informasi dan bahan evaluasi khususnya untuk kami, umumnya untuk siapa saja
yang membaca.

Bandung, 18 April 2019


Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................... i


DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii
BAB I .............................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .......................................................................................................... 3
A. LATAR BELAKANG ........................................................................................ 3
B. RUMUSAN MASALAH .................................................................................... 4
C. TUJUAN PENULISAN ...................................................................................... 4
BAB II............................................................................................................................. 5
PEMBAHASAN ............................................................................................................. 5
A. SEJARAH JAM’IYYAH WASHLIYAH ........................................................... 5
B. PENGERTIAN JAM’IYYAH WASHLIYAH ................................................... 9
C. TOKOH JAM’IYYAH WASHLIYAH .............................................................. 9
D. VISI MISI JAM’IYYAH WASHLIYAH ......................................................... 10
E. SEJARAH PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI) ............................................ 11
F. PENGERTIAN PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI) ..................................... 14
G. TOKOH PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI) ................................................ 15
H. VISI MISI PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI) ............................................. 16
I. PERBANDINGAN DAKWAH JAM’IYYAH WASHLIYAH DAN PUI....... 18
BAB III ......................................................................................................................... 21
PENUTUP .................................................................................................................... 21
A. KESIMPULAN ..................................................................................................... 21
B. SARAN ................................................................................................................. 21
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 22

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada tahun 1918 di Medan berdiri sebuah Maktab/Madrasah yang diberi
nama Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT). Maktab ini didirikan atas inisiatif
masyarakat Mandailing (Tapanuli Selatan) yang bertempat tinggal di Medan.
Maktab ini merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang bersifar formal,
yang pertama di Medan. Sebelum ini lembaga pendidikan hanya bersifat non-
formal.

Oleh karena itu mereka memperluas bentuk perhimpunannya, dengan


melebur dirinya menjadi sebuah organisasi yang disebut Al-Jam’iyatul
Washliyah. Organisasi ini bermazhab Syafi’i, berdiri tahun 1930. Sekalipun Al-
Jam’iyatul Washliyah berpegang pada mazhab syafi’i, namun bermazhab bukan
penghambat untuk maju. Hal ini tercermin dari aktivitas organisasi yang
mengutamakan pendidikan, baik formal yang membuka madrasah dan sekolah,
maupun non-formal melalui tabligh. Organisasi ini aktif terutama di Sumatera
Utara dalam memasukkan orang-orang Batak menjadi Islam dan dipandang
sebagai organisasi yang mampu bersaing dengan kalangan missionaries Kristen
di daerah tersebut.

Jika melihat aktivitas Al-Jam’iyatul Washliyah seperti diuraikan di atas,


walaupun ia berpegang teguh dan mengikuti salah satu mazhab (syafi’i), namun
juga mau menerima model pendidikan Barat agar dapat mengikuti
perkembangan zaman.

Adapun dalam Islam persatuan secara umum disebut ukhwah yaitu


persaudaraan. Tidak akan tercipta keindahan dan kedamaian hidup tanpa adanya
sebuah jalinan ukhwah.

Persaudaraan menyebabkan orang dapat berbuat damai dan dengan


perdamaian, maka persatuan dan kesatuan umat akan dapat di wujudkan.

3
Manusia tidak dapat hidup seorang diri tanpa pertolongan orang lain. Hubungan
di antara manusia adalah saling membantu dan menolong (ta’awun), saling
mengenal (ta’aruf) dan saling memenuhi kebutuhan bersama. Karena hal ini lah
terbentuknya sebuah organisasi bernama Persatuan Umat Islam (PUI).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana sejarah Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam (PUI)?
2. Apa pengertian dari Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam (PUI)?
3. Siapa tokoh-tokoh dari Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam
(PUI)?
4. Bagaimana visi misi Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam
(PUI)?
5. Bagaimana perbandingan dakwah dari Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan
Umat Islam (PUI)?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui sejarah Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam (PUI)
2. Mengetahui pengertian, para tokoh pendiri beserta visi misi dari Jam’iyyah
Washliyah dan Persatuan Umat Islam (PUI)
3. Mengetahui perbandingan antara Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat
Islam (PUI)?
4. Sebagai salah satu tugas kelompok mata kuliah Perbandingan Dakwah yang
dibimbing langsung oleh Bpk. Dr. Hajir Tajiri, M.Ag.
5. Sebagai bahan referensi tambahan mengenai Jam’iyyah Washliyah dan
Persatuan Umat Islam (PUI)?

4
BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH JAM’IYYAH WASHLIYAH


Awal berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah merupakan perluasan dari
sebuah perkumpulan pelajar. Pada awal pertumbuhannya ia banyak mengalami
rintangan, terutama dalam hal keuangan dan penataan organisasi. Maktab
Islamiyah Tapanuli (MIT) merupakan sebuah lembaga pendidikan agama yang
didirikan pada tahun 1918 oleh orang-orang Tapanuli Selatan. MIT sebagai
madrasah dianggap modern pada zamannya, namun masih tetap mempunyai
cirri-ciri tradisional. Pelajar-pelajar MIT inilah yang kemudian mendirikan suatu
kelompok diskusi yang diberi nama “Debating Club” pada tahun 1928.

Perkumpulan pelajar merupakan hal yang umum di kalangan pelajar-


pelajar sekolah umum. Di Medan, misalnya saat itu terdapat perkumpulan
pemuda Jong Islamieten Bond (JIB) cabang Medan, yang didirikan oleh pelajar-
pelajar Indonesia yang belajar di sekolah Belanda pada tahun 1926. Tetapi
pelajar-pelajar MIT tidak bergabung dalam perkumpulan ini, karena belum
mampu berkomunikasi dalam bahasa Belanda, yang sering kali dipergunakan
JIB.

Debating Club dalam perkembangannya bukan hanya mengadakan


diskusi pelajaran, tetapi juga membahas persoalan di masyarakat, terutama
mengenai perbedaan faham di antara golongan-golongan. Agar bisa bergerak
lebih luas, mereka bermaksud mendirikan sebuah organisasi Islam, yang
kemudian berhasil mereka dirikan setelah mengadakan pertemuan sebanyak tiga
kali membahas hal tersebut, di ujung tahun 1930. Pemberian nama organisasi
tersebut mereka serahkan kepada guru kepala MIT, Syekh Muhammad Yunus.
Beliau memberikan nama perhimpunan ini, Al-Jam’iyatul Washliyah
(Perhimpunan yang menghubungkan dan Mempertalikan). Kemudian para
pelajar membentuk panitia persiapan untuk merumuskan dan menyusun
Anggaran Dasar. Duduk sebagai ketua dan sekretaris dalam panitia tersebut

5
adalah Ismail Banda dan Arsyad Talib Lubis. Sehingga pada tanggal 30
November 1930 Al-Jam’iyatul Washliyah secara resmi berdiri.

Duduk sebagai pengurus I adalah Ismail Banda (Ketua), Abdurrahman Syihab


(Wakil Ketua), Arsyad Talib Lubis (Sekretaris) dan Syekh Muhammad Yunus
(Penasehat). Anggota pengurus seluruhnya berasal dari suku Tapanuli Selatan.
Dalam pembentukan pengurus disepakati pergantian pengurus setiap enam bulan
sekali. Sebenarnya masa kerja pengurus untuk satu periode ini relatif terlalu
singkat, tetapi organisasi ini ingin lebih cepat mengadakan evaluasi kerja.
Ternyata dalam periode pertama organisasi ini tidak dapat bergerak banyak,
hanya maengadakan tabligh yang bersifat insidentil saja.

Setelah enam bulan kepengurusan pertama berjalan, sesuai dengan peraturan


yang telah ditetapkan, maka Al-Jam’iyatul washliyah membentuk pengurus baru
sebagai berikut:

a. Ketua I : H. Ilyas (qadhi), (suku Mandailing)


b. Ketua II : Ismail Banda, (suku Mandailing)
c. Penulis I : H. Mahmud (qadhi) (suku Mandailing)
d. Penulis II : Adnan Nur, (suku Mandailing)
e. Bendahara : H.M. Ya’cub, (suku Mandailing)
f. Pembantu : Abdurrahman Syihab, (suku Mandailing)
g. Penasehat :
- Syekh Hasan Maksum, (mufti) (suku Melayu).
- Syekh Muhammad Junus, (suku Mandailing)

Pada periode kedua ini muncul ide baru untuk menggerakkan Al-
Jam’iyatul washliyah dengan mengikut sertakan qadhi (ulama kerajaan). Qadhi
mempunyai pengaruh atas Sultan, kare ia adalah aparat kerajaan dan mera
bermazhab sama. Pada periode ini Al-Jam’iyatul washliyah diminta oleh
masyarakat Firdaus dekat Rampah untuk membuka madrasah. Madrasah
tersebut diberi nama Hasaniyah. Nama ini dipakai karena nama Syekh Hasan
Maksum sangat terkenal di Sumatera Timur.

6
Pada akhir tahun 1931, Al-Jam’iyatul washliyah kembali mengadakan
pergantian pengurus untuk periode ketiga. Dalam periode III ini, Ismail Banda
mantan ketua Al-Jam’iyatul washliyah pada periode I, berangkat ke Makkah
untuk melanjutkan belajarnya. Mantan penulis II Adnan Nur, masuk menjadi
anggota Gerindo (gerakan Indonesia). Oleh karena kedua orang tersebut
mempunyai pengalaman lebih banyak dalam bidang oraganisasi, maka
kepergian mereka melemahkan penataan kegiatan Al-Jam’iyatul washliyah.
Pada tahun 1932 Al-Jam’iyatul washliyah kembali mengadakan pemilihan
pengurus untuk periode IV dengan susunan sebagai berikut:

a. Ketua I : T.M. Anwar (bangsawan), suku melayu.


b. Ketua II : Abdurrahman Syihab, suku Mandailing
c. Sekretaris I : Udin Syamsuddin (aktivis muda), suku Mandailing.
d. Sekretaris II : H. Yusuf Ahmad Lubis (qadi) suku Mandailing
e. Penasehat :
- Syekh Hasan Maksum (Imam Paduka Tuan) suku
melayu,
- H. Ilyas (qadhi) suku Mandailing,
- Syekh Muhammad Yunus (Kepala MIT) suku
Mandailing.

Pada masa ini Al-Jam’iyatul washliyah lebih aktif bergerak karena ada
dua pendatang baru dalam kepengurusan organisasi yakni T.M. Anwar seorang
bangsawan berasal dari Tanjung Balai, ia dikenal ramah, dermawan dan
tergolong kaya. Abdurrahman Syihab mengajak T.M. Anwar untuk turut
bersama membina dan membantu Al-Jam’iyatul washliyah dengan membiayai
sewa rumah untuk kantor organisasi. Bantuan tersebut hanya setahun, namun
sangat berarti bagi organisasi ini. Dalam masa 7 tahun Al-Jam’iyatul washliyah
berpindah-pindah kantor sebanyak 10 kali. Pendatang kedua adalah Udin
Syamsuddin. Dengan dana yang kecil, sekretaris ini berusaha menata organisasi
dengan baik.

Al-Jam’iyatul washliyah berhasil membuka cabang di daerah Bedagai


pada tahun 1931, di wilayah kerajaan Asahan didirikan cabang di Tanjung Balai

7
pada akhir tahun 1932, cabang Aek Kanopan didirikan pada awal tahun 1933,
dan membentuk berbagai ranting di sekitar kota Medan (Kampung Baru, Titi
Kuning, Sungai Kerah dan Pulau Brayan). Pada tahun 1934 menyusul di daerah
Porsea, tapanuli Utara dan Simalungun, juga di daerah Deli yakni Belawan dan
Labuhan. Jumlah cabang Al-Jam’iyatul washliyah terus bertambah. Oleh karena
itu dirasa perlu membentuk Pengurus Besar agar kegiatan organisasi dapat
berjalan dengan baik dan terkoordinasi.

Pada tahun 1934 seluruh cabang Al-Jam’iyatul washliyah menghadiri


rapat pembentukan Pengurus Basar, sehingga hasil rapat tersebut menentukan
kepengurusan besar; Ketua I Abdurrahman Syihab, Ketua II Arsyad Talib Lubis,
Sekretaris Udin Syamsuddin, Bendahara M. Ali.

Aljam`Iyatul Washliyah merupakan organisasi Islam yang lahir pada 30


November 1930 dan bertepatan 9 Rajab 1349 H di Kota Medan, Sumatera Utara.
Aljam'iyatul Washliyah yang lebih dikenal dengan sebutan Al Washliyah lahir
dari kompilasi bangsa Indonesia masih dalam penjajahan Hindia Belanda
(Nederlandsh Indie), sehingga membuat Al Washliyah kompilasi membantu
turut berperang demi penjajah Belanda. Tidak sedikit tokoh Al Washliyah yang
ditangkap Belanda dan dijebloskan ke penjara.Tujuan utama untuk mendirikan
organisasi Al Washliyah kompilasi itu untuk memudahkan umat yang berpisah
dan berbeda pandangan.

Perpecahan dan perpecahan ini merupakan salah satu strategi Belanda


untuk terus berkuasa di bumi Indonesia. Oleh karena itu, Organisasi Al
Washliyah turut membantu meraih kemerdekaan Indonesia dengan menggalang
persatuan umat di Indonesia.

Penjajah Belanda yang menguasai bumi Indonesia terus membangkitkan


agar bangsa Indonesia tidak bersatu, sehingga mereka terus mengadu domba
rakyat. Segala cara dilakukan penjajah agar rakyat Indonesia terpecah belah.
Karena rakyat Indonesia bersatu maka dikhawatirkan bisa melawan pejajah
Belanda.Upaya memecah belah rakyat terus merasuk hingga ke sendi-sendi
agama Islam. Umat Islam kala dapat dipecah belah lantaran perbedaan
pandangan dalam hal ibadah dan cabang dari agama (furu'iyah). Kondisi ini terus

8
meruncing, hingga umat Islam terbagi menjadi dua kelompok yang disebut
dengan kaum tua dan kaum muda. Perbedaan paham di bidang agama ini
semakin hari kian meningkat dan sampai pada tingkat meresahkan.

Dengan mengeluarkan perselisihan di kalangan umat Islam di Sumatera


Utara, di Kota Medan, pelajar yang menimba ilmu di Maktab Islamiyah Tapanuli
Medan, meminta untuk menggabungkan kembali umat yang terpecah belah itu.
Upaya untuk mempersatukan umat Islam terus dilakukan dan akhirnya
terbentuklah organisasi Al Jam'iyatul Washliyah yang berarti perkumpulan yang
menghubungkan. Maksudnya adalah menghubungkan manusia dengan Allah
SWT (hablun minallah) dan menghubungkan manusia dengan manusia (sesama
umat Islam) atau hablun minannas.

B. PENGERTIAN JAM’IYYAH WASHLIYAH


Al Jam'iyatul Washliyah adalah salah satu organisasi Islam di Indonesia.
Kata Al jam'iyatul Washliyah berasal dari Bahasa Arab yang artinya
Perkumpulan atau perhimpunan yang menghubungkan, baik yang
menghubungkan Manusia dengan Allah (hablun minAllah) dan yang
menghubungkan Manusia dengan Manusia(hablun minannas).Al Jam'iyatul
washliyah sekarang lebih di kenal dengan Al Washliyah.Al wasliyah khusus
aktif membela kemaslahatan umat Islam dan Indonesia pada umumnya.

C. TOKOH JAM’IYYAH WASHLIYAH


1. Haji Ismail Banda (1910-1951)
2. Haji Muhammad Arsyad Thalib Lubis (1908-1972)
3. Haji Abdurrahman Syihab (1910-1955)
4. Syekh H. Muahmmad Yunus (1889-1950)
5. Syekh Hasan Maksum (1884-1937)
6. H. Muh Ismail Lubis (1900-1937)

9
D. VISI MISI JAM’IYYAH WASHLIYAH
Visi

“Menciptakan Jam’iyah yang kokoh populis dan Mandiri Menuju Masyarakat


yang Cerdas dan Berakhlak”

Misi

1. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah


untuk pedoman hidup umat manusia.
2. Mengembangkan pendidikan yang unggul dalam rangka membentuk
karakter keislaman, kebangsaan serta kecendekiaan siswa kader Al
Washliyah
3. Meningkatkan penguatan konsolidasi internal di struktur organisasi dan
kader Al Washliyah

10
4. Mengembangkan sumber daya yang dimiliki dalam rangka meningkatkan
kemandirian organisasi untuk kemaslahatan umat

E. SEJARAH PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI)


Persatuan Ummat Islam (PUI) lahir pada tahun 1952 sebagai ”anak
zaman” dalam mematri persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya persatuan dan
kesatuan ummat Islam. Dikatakan sebagai anak zaman karena pada waktu
lahirnya, yaitu pada tanggal 5 April 1952 di Bogor, Jawa Barat situasi dan
kondisi keorganisasian sosial dan masyarakat di Indonesia saat itu cenderung
berpecah-belah. Tetapi PUI lahir justru sebagai hasil fusi (penggabungan) antara
dua organisasi besar, yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) yang berpusat di
Majalengka, pendirinya K.H. Abdul Halim dan Persatuan Ummat Islam
Indonesia (PUII) yang berpusat di Sukabumi, pendirinya K.H. Ahmad Sanusi.
Fusi kedua organisasi tersebut dideklarasikan pada tanggal 5 April 1952 M
bertepatan dengan tanggal 9 Rajab 1371 H bertempat di Gedung Nasional Kota
Bogor.

Perikatan Ummat Islam (PUI) adalah organisasi yang pada awal


didirikannya oleh K.H. Abdul Halim di Majalengka, bernama Hayatul Qulub
(1912). Perhimpunan Hayatul Qulub mengelola lembaga pendidikan yang
mengintegrasikan pesantren dengan sistim madrasah/sekolah. Di madrasah para
siswa juga diajarkan pengetahuan umum dan bahasa asing (Belanda dan
Inggris). Hayatul Qulub tidak hanya bergerak di bidang pendidikan tetapi juga
banyak bergerak di bidang sosial dan ekonomi untuk membela rakyat dari
tekanan kapitalisme Belanda. Dalam mencapai tujuannya, organisasi ini telah
mengalami beberapa kali penyempurnaan dan pergantian nama.

Pada tanggal 16 Mei 1916 perhimpunan Hayatul Qulub berubah menjadi


I’anatul Muta’allimin. Berkat kerja keras dan besarnya perhatian serta dukungan
masyarakat, dalam waktu yang sangat singkat, telah berdiri cabang-cabang
I’anatul Muta’allimin di seluruh Kecamatan dalam Kabupaten Majalengka, dan
organisasi ini termasyhur sebagai satu-satunya pusat pendidikan Islam modern
di Majalengka.

11
Pada bulan Nopember 1916, atas saran dari HOS Tjokroaminoto teman
karib K.H. Abdul Halim, I’anatul Muta’allimin diubah lagi namanya menjadi
Persyarikatan Oelama (PO). Pada tanggal 21 Desember 1917 Persyarikatan
Oelama (PO) mendapat pengakuan Badan Hukum dari Pemerintah Belanda.

Meskipun PO sudah diakui dan disahkan menjadi Badan Hukum, tetapi


pemerintah kolonial Belanda tetap saja mencurigai kegiatan dan gerak langkah
PO karena para pemimpin PO konsisten dengan sikapnya yang non koperatif
serta senantiasa menentang dan memprotes setiap peraturan atau usaha
pemerintah Belanda yang merugikan atau merendahkan umat Islam dan rakyat
Indonesia. Para pemimpin PO baik di kalangan Pengurus Besar maupun Cabang-
Cabangnya, terutama K.H. Abdul Halim selalu diintai oleh PID (polisi rahasia).
Kecurigaan dan kekhawatiran pemerintah Belanda semakin memuncak setelah
beliau ikut serta dalam kegiatan politik bersama Sayarikat Islam (SI) memimpin
aksi massa pemogokan buruh pabrik gula di Kadipaten dan Jatiwangi pada tahun
1918.

Meskipun tidak sedikit rintangan dan hambatan dari pemerintah Belanda


dan orang-orang yang tidak suka, namun Persyarikatan Oelama (PO) terus
berkembang dengan sangat pesat. Tahun 1919 Cabang dan madrasah-madrasah
PO sudah bertebaran di berbagai pelosok Majalengka, Cirebon, Kuningan,
Indramayu, Jatibarang, Bandung, Cianjur, sampai ke Tegal (Jawa Tengah).
Untuk memenuhi kebutuhan guru di madrasah-madrasah tersebut maka
didirikanlan Kweekschool (sekolah guru). Para santri dan pelajar yang sudah
tamat dari madrasah melanjutkan ke Kweekschool untuk menjadi guru. Setelah
mendapat penetapan Badan Hukum untuk seluruh Indonesia dari pemerintah
Belanda pada tanggal 18 Agustus 1937, maka PO mulai melebarkan sayapnya
ke Semarang, Purwokerto, Banyumas, sampai ke Tebing Tinggi dan Sumatera
Selatan.

Pada awal masa pendudukan Jepang tahun 1942, semua partai politik dan
organisasi pergerakan dibubarkan oleh penguasa Jepang. Akan tetapi beberapa
bulan kemudian Jepang mengeluarkan maklumat bahwa parpol dan ormas
diizinkan aktif kembali. Federasi MIAI aktif lagi dan diubah namanya menjadi

12
Majlis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Sedangkan Persyarikatan Oelama
(PO) diganti namanya menjadi Perikatan Oemmat Islam (POI) yang kemudian
dengan perubahan ejaan bahasa Indonesia sistem Soewandi menjadi Perikatan
Ummat Islam (PUI).

Sementara itu di Sukabumi juga telah berdiri organisasi Persatuan


Ummat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh K.H. Ahmad Sanusi. Seperti
halnya Perikatan Ummat Islam (PUI), sejarah perjuangan Persatuan Ummat
Islam Indonesia (PUII) juga melalui proses perkembangan dan pergantian nama.
Pada awal didirikannya, organisasi ini bernama Al-Ittihadiyatul Islamiyah (AII).
Pada tahun 1942 AII berganti nama menjadi Persatuan Oemat Islam Indonesia
(POII), dan pada tahun 1947 disesuaikan dengan ejaan Soewandi menjadi
Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII).

Khittah perjuangan PUII pimpinan K.H. Ahmad Sanusi di Sukabumi


secara pripsipil sama dengan khittah perjuangan PUI pimpinan K.H. Abdul
Halim di Majalengka. Kesamaan visi dan missi serta cita-cita kedua organisasi
tersebut akhirnya mendorong kedua belah pihak untuk melebur organisasi
mereka menjadi satu organisasi. Setelah melalui proses yang cukup panjang
serta beberapa kali pertemuan dan perundingan, akhirnya kedua belah pihak
sepakat untuk mendeklarasikan fusi (peleburan) organisasi Perikatan Ummat
Islam (PUI) dan Persatuan Ummat Islam Indonesia (PUII) menjadi Persatuan
Ummat Islam (PUI) pada tanggal 5 April 1952 M bertepatan dengan tanggal 9
Rajab 1371 H bertempat di Gedung Nasional Kota Bogor.

Semasa hidupnya, baik K.H. Abdul Halim maupun K.H. Ahmad Sanusi
terus-menerus berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat rakyat. Pada
masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, keduanya aktif dalam pasukan
Pembela Tanah Air (PETA) serta menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-
usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Berkat jasa-jasanya itu maka pada tanggal 12 Agustus 1992 berdasarkan Kepres
No. 048/PK/1992 kedua orang pendiri PUI tersebut yaitu K.H. Abdul Halim di
anugerahi gelar sebagai Pahlawan nasional oleh Presiden RI Susilo bambang
Yudhoyono di Istana Negara pada tanggal 10 November 2008. Sementara K.H.

13
Ahmad Sanusi dianugerahi Bintang Maha Putra Utama oleh Presiden Republik
Indonesia.

Persatuan Ummat Islam (PUI) memiliki dua buah Badan Otonom yaitu Wanita
PUI dan Pemuda PUI. Kedua Badan Otonom tersebut adalah lembaga-lembaga
kaderisasi untuk menyiapkan kepemimpinan PUI di masa depan.

F. PENGERTIAN PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI)


Persatuan Ummat Islam (PUI) adalah organisasi massa Islam di
Indonesia yang lahir pada 5 April 1952 di Bogor sebagai hasil fusi (penyatuan)
dua organisasi besar, yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) pimpinan K.H. Abdul
Halim Majalengka, yang berpusat di Majalengka, dengan Persatuan Ummat
Islam Indonesia (PUII) pimpinan K.H. Ahmad Sanusi yang berpusat di
Sukabumi. Pimpinan pusat PUI saat ini, Ketua Majelis Syuro Ustadz Dr. H.
Ahmad Heryawan, Lc, M.Si dan Ketua Dewan Pengurus Pusat, H. Nazar Harits,
MBA periode kepengurusan 2014-2019.

Ketua Majelis Syura Ketua Dewan Pengurus Pusat

H. Ahmad Heryawan, Lc H. Nazar Harits, MBA

Ormas ini melakukan kegiatannya di sejumlah bidang, yaitu pendidikan,


sosial, kesehatan masyarakat, ekonomi dan dakwah. Bahkan ormas ini sekarang
telah merintis kegiatan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek).

Saat diketuai oleh Ustadz Dr.H. Ahmad Heryawan, Lc, M.Si selaku
Ketua Majelis Syuro dan H. Nazar Harits, MBA selaku Ketua Dewan Pengurus
Pusat. Kedua tokoh ini adalah aset terbaik umat yang diharapkan mampu
meneruskan api perjuangan para pendirinya. Dengan kapasitas sebagai Gubernur
Jabar, Ahmad Heryawan telah mampu membawa perubahan PUI ke arah
organisasi yang modern dengan tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.
Dia adalah kader militan PUI yang diharapkan mampu melanjutkan amanah
kepemimpinannya di level yang lebih tinggi setelah purna tugas dari gubernur.

Sosok H. Nazar Harits dengan kapasitas keulamaannya yang mumpuni


telah membawa angin optimisme selama ini bahwa PUI bisa lebih berkembang
dan maju seiring dengan tantangan umat yang lebih banyak di masa mendatang.

14
jaringan luas yang dimilikinya, baik nasional maupun internasional, telah
membawa ekspansi ke Hongkong, Malaysia, Brunei dan negara lainnya dengan
membentuk cabang PUI di luar negeri.

Lembaga Pendidikan PUI telah memiliki ribuan madrasah dalam berbagai


tingkatan:

 Raudlatul athfal,
 Madrasah ibtidaiyah dan yang sederajat,
 Madrasah tsanawiyah atau SLTP, dan
 Madrasah Aliyah atau SLTA sampai tingkat
 Perguruan Tinggi. sosok santrinya yang kental menambah kuat langkah
keduanya untuk memajukan dan menjaga marwah (gengsi) umat di
tengah tantangan yang melilit umat saat itu.

Keanggotaan. PUI memiliki heteroginitas anggota yang tersebar pada daerah


tingkat I (provinsi), yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
DI Yogyakarta, Lampung, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Aceh, Riau,
Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur,
Sulawesi Selatan dan Bali.

Pergerakan yang masif dari kader PUI adalah kunci utama bagaimana roda
organisasi terus melaju ke arah kemajuan yang diharapkan. Dengan dukungan
SDM yang ada, tidak mustahil jika kader PUI pun berhak dan pantas terlibat
dalam kepempinan nasional secara konstitusional. tak ada kata aneh bahkan
mustahil, jika santri PUI siap melenggang di jalur eksekutif, legislatif dan
yudikatif secara elegan dan profesional.

G. TOKOH PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI)


Sejak berdiri PUI dipimpin oleh ketua majlis syura dan dewan pengurus pusat,
antara lain:

1. KH. Abdul Halim Majalengka, sebagai pendiri sekaligus ketua PUI pada
priode kepengurusan 1944-1945
2. KH. Ahmad Sanusi, sebagai pendiri sekaligus ketua PUII pada priode
kepengurusan 1944-1945

15
3. Mr. Syamsuddin, sebagai pendiri PUI
4. H. Nurhasan Zaidi, sebagai ketua umum pada periode
2009-2014
5. Dr.(HC) Ahmad Heryawan, Lc., sebagai ketua majelis
syura pada periode 2014-2019
6. KH. Nazar Haris, sebagai ketua umum pada periode
2014-2019

H. VISI MISI PERSATUAN UMAT ISLAM (PUI)


Visi dan Misi PUI

Tujuan Organisasi Terwujudnya pribadi, keluarga, masyarakat, negara dan


peradaban yang diridhai Allah subhanahu wa ta'ala.

Visi Menjadi organisasi dan komunitas gerakan Islam yang unggul, mandiri dan
bermartabat.

Misi Umum Mewujudkan ummatan wasathan dengan menjalankan delapan


perbaikan (ishlah al-tsamaniyah).

Misi Khusus

1. Menjadi organisasi (jam'iyah) dan komunitas (jama'ah) gerakan Islam yang


mandiri dan amanah.

16
2. Meningkatkan kegiatan organisasi di bidang dakwah, pendidikan dan
pelayanan kepada masyarakat dengan berorientasi keummatan.

Strategi dan Program PUI

1. Menjadi organisasi Islam yang mengakar di masyarakat dan berorientasi


keummatan.
2. Efektiivitas struktur organisasi PUI baik jumlah maupun mutu, dengan
dukungan kader yang loyal, militan dan berdedikasi.
3. Memetakan sumberdaya, memberikan dukungan fasilitas manajemen, dan
kaderisasi
4. Pemetaan sumberdaya PUI berdasarkan kewilayahan dengan melihat
keberadaan, pengabdian dan statusnya di tengah-tengah masyarakat
setempat selama lima tahun terakhir
5. Peningkatan jumlah jamaah/anggota PUI melalui perekrutan anggota
bermutu secara proaktif.
6. Percepatan pertumbuhan struktur organisasi dan pembentukan kantor-
kantor PUI di wilayah-wilayah dan daerah-daerah potensial di seluruh
Tanah Air
7. Pemberian dukungan fasilitas manajemen/pengelolaan organisasi.
8. Melakukan kunjungan dan silaturahim pimpinan PUI di semua tingkatan
secara lebih teratur dan berbobot.
9. Meningkatnya peran dan kontribusi PUI secara proaktif dan responsif dalam
kehidupan ummat, berbangsa dan bernegara.
10. Membentuk kelembagaan ekonomi dan sosial serta pemberdayaan
jamaahnya.
11. Peningkatan kepedulian dan pelayanan kepada masyarakat.
12. Peningkatan pemberdayaan jama'ah dan organisasi PUI dalam berpartisipasi
diberbagai bidang kehidupan.
13. Pemberdayaan ekonomi mikro dan usaha kecil.
14. Pembentukan dan pengembangan lembaga amil zakat, infaq sedekah dan
wakaf (LAZIS & WAKAF) PUI yang dikelola secara profesional.

17
15. Ikut serta PUI pada lembaga-lembaga yang bersifat kolektif diantaranya:
MUI, DDII, BAZNAS, Badan Hisab dan Rukyat, Komite Pendidikan, MES,
dst.
16. Program peningkatan mutu pendidikan Islam di lingkungan madrasah-
madrasah PUI, terutama fokus pada peningkatan mutu guru-gurunya
sehingga berdampak signifikan bagi peningkatan mutu murid-muridnya.
17. Berpartisipasi dan berperan aktif dalam mengarahkan kebijakan publik.
18. Meningkatnya jejaring kerjasama nasional dan internasional.
19. Meningkatkan akses dan kerja sama dengan sumberdaya nasional dan
internasional.
20. Meningkatkan akses dan kerja sama dengan sumberdaya nasional dan
internasional.

I. PERBANDINGAN DAKWAH JAM’IYYAH WASHLIYAH DAN PUI

PUI dan dan Jam'iyah Washliyah sama sama menganut paham Ahlussunah wal
jama'ah yang senantiasa komitmen mengikuti sunnah Nabi SAW. Akan tetapi
jamiyah washliyah perpegang teguh terhadap mazhab Imam Syafi'i. Namun
jamiyah washliyah bersifat terbuka dan masih menerima ajaran orang lain seperti
model pendidikan barat agar dapat mengikuti perkembangan zaman .

PUI bergerak dan beramal pada bidang Pendidikan, Sosial, dan Dakwah. Pada
perkembangannya, kini Persatuan Ummat Islam (PUI) mulai merintis bidang
Kesehatan, IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dengan sekolah. Gerakan
Al Washliyah hampir sama dengan PUI, menjalankan amal usahanya di bidang
pendidikan, dakwah dan amal sosial. Banyak buku yang sudah di terbitkan..

Persatuan Umat Islam (PUI) mempunyai ciri khas:

18
1. Sikap Tasamuh
2. Sikap Tawasuth dan I’tidal
3. Sikap Tawazun
4. Berani menegakkan Amar Ma’ruf dan Nahyi Munkar.

Adapun Jamiyah Wasliyah

1. Sifat gemar beribadah


2. Sifat senang bersilaturahmi
3. Sifat gemar berdakwah

PUI mempunyai garapan agar terciptanya ummatan wasathon, yaitu

1. Perbaikan `Aqidah
2. Perbaikan Ibadah
3. Perbaikan Tarbiyah
4. Perbaikan Rumah Tangga
5. Perbaikan Adat Istiadat/Budaya
6. Perbaikan Ummat
7. Perbaikan Ekonomi
8. Perbaikan Masyarakat

Al Washliyah menjadikan Islam sebagai asas organisasi sebagai wujud dari


komitmen organisasi ini terhadap perintah Allah dalam Q.S. al-Rûm: 43, Q.S.
Âli ‘Imrân: 19 dan 83, dan Q.S. al-Mâ’idah: 3.

Keempat ayat tersebut menegaskan bahwa:

1) Allah memerintahkan umat Islam menegakkan muka untuk agama yang


lurus;
2) agama yang lurus pada sisi Allah adalah agama Islam;
3) Allah rida dengan Islam sekaligus telah menyempurnakan agama tersebut;
4) amal para pencari agama selain agama Islam tidak akan diterima-Nya,
sehingga mereka akan menjadi orang-orang merugi.

19
Berdakwah untuk memperbaiki pendidikan yang ada di negeri ini, meluruskan
cara ibadah yang ada di masyarakat dan mensejahterakan ekonomi yang ada di
lingkungan sekitar

20
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Al Jam'iyatul Washliyah adalah salah satu organisasi Islam di Indonesia. Kata
Al jam'iyatul Washliyah berasal dari Bahasa Arab yang artinya Perkumpulan
atau perhimpunan yang menghubungkan, baik yang menghubungkan Manusia
dengan Allah (hablun minAllah) dan yang menghubungkan Manusia dengan
Manusia(hablun minannas).Al Jam'iyatul washliyah sekarang lebih di kenal
dengan Al Washliyah.Al wasliyah khusus aktif membela kemaslahatan umat
Islam dan Indonesia pada umumnya.

Persatuan Ummat Islam (PUI) adalah organisasi massa Islam di Indonesia yang
lahir pada 5 April 1952 di Bogor sebagai hasil fusi (penyatuan) dua organisasi
besar, yaitu Perikatan Ummat Islam (PUI) pimpinan K.H. Abdul Halim
Majalengka, yang berpusat di Majalengka, dengan Persatuan Ummat Islam
Indonesia (PUII) pimpinan K.H. Ahmad Sanusi yang berpusat di Sukabumi.
Pimpinan pusat PUI saat ini, Ketua Majelis Syuro Ustadz Dr. H. Ahmad
Heryawan, Lc, M.Si dan Ketua Dewan Pengurus Pusat, H. Nazar Harits, MBA
periode kepengurusan 2014-2019

B. SARAN
Dalam Islam muncul berbagai macam organisasi. Kemunculan ini tentu
dilatarbelakangai dengan berbagai kejadian. Akan tetapi, hal ini jangan sampai
mendatangkan sebuah perpecahan. Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar
di dunia, haruslah bisa menjaga keutuhan dan kedamaian. Maka dari itu,
diharapkan semua dapat menciptakan kerukunan, baik dalam menyikapi sebuah
perbedaan organisasi maupun perbedaan lainnya. Adapun munculnya sebuah
perbandingan jangan sampai dijadikan sebagai acuan untuk saling
membanggakan, tapi jadikanlah setiap perbandingan masing-masing organisasi
yang ada menjadi sebuah tambahan wawasan, termasuk mengenai perbandingan
antara organisasi Jam’iyyah Washliyah dan Persatuan Umat Islam (PUI).

21
DAFTAR PUSTAKA

Broegmans, Oostkust van Sumatera, Groningen: 1919.

Hasanuddin, Chalijah, Al-Jam’iyatul Washliyah 1930-1942; Api Dalam Sekam di


Sumatra Timur. Bandung: Pustaka, 1988.

Noer,Deliar Gerkan Modern Islam di Indonesia, Jakarta: LP2ES, 1980.

Pengurus Besar Al-Djamijatul Washlijah. Al-Djamijatul Washlijah ¼ Abad,


Medan: Pengurus Besar Al-Djamijatul Washlijah. 1956

Proyek Penerbitan Buku 70 Tahun Al-Washliyah, Al-Jam’iyatul Washliyah


Memasuki Millenium III Kado Ulang Tahun AL-Washliyah ke-69; Membangun
Kejayaan Dunia Melalui Kejayaan Islam di Indonesia, Jakarta: Proyek Penerbitan
Buku 70 Tahun Al-Washliyah. 1999.

Sulaiman, Nukman, AL-Washliyah. Medan: Majlis Pendidikan Pengajaran dan


Kebudayaan Pengurus Besar Al-Jam’iyatul Washliyah, 1967,

Ya’cubM Abu bakar, Sejarah Maktab Islamiyah Tapanuli, Medan: 1975.

http://hadifauzan.blogspot.com/2012/01/al-jamiyah-al-washliyah.html

http://puicenter.blogspot.com/2014/09/strategi-dan-program-pui.html
http://puicenter.blogspot.com/2014/09/visi-dan-misi-pui.html

22