Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kimia Organik


Kimia organik merupakan bagian tidak terpisahkan dari kehidupan
kita sehari-hari. Karena penyusun utama makhluk hidup merupakan
senyawa organik yaitu protein, asam nukleat, lemak, karbohidrat,
hormon, dan enzim. Prinsip kimia organik dipakai dalam berbagai
bidang diantaranya adalah dalam bidang farmasi, kedokteran, biokimia,
mikrobiologi, pertanian dan banyak ilmu pengetahuan yang lain.
Dalam bidang lain senyawa organik juga merupakan bagian yang
sangat penting, dalam bidang pertanian misalnya, insektisida, pupuk,
dan sebagainya. Setiap hari kita juga menemui banyak golongan
senyawa organik, bensin, minyak goreng, sabun, plastik atau polimer.
Demikian luasnya bahasan tentang ilmu organik ini sehingga kimia
organik merupakan bagian dari perkembangan ilmu pengetahuan dan
peradaban manusia.
Sejarah kimia organik dimulai pada tahun 1700 dimana pada
awalnya kimia organik dikenal sebagai ilmu kimia yang mempelajari
benda hidup. Senyawa yang diperoleh dari benda hidup tersebut adalah
hewan, tumbuhan, dan manusia yang sangat mudah terurai atau
terdekomposisi dari pada senyawa yang diperoleh dari bahan bahan
mineral. Hal ini yang menyebabkan seorang ahli kimia dari Swedia,
Torbern Bergman, pada tahun 1770 menjelaskan sebagai perbedaan
antara senyawa organik dan anorganik. Senyawa organik pada saat itu
yang merupakan ciri khas dari senyawa yang berasal dari suatu makhluk
hidup.
Pada tahun 1828 Wohler menemukan bahwa urea, suatu senyawa
organik, yang sebelumnya ditemukan dalam urin manusia, dapat
disintesis dari senyawa anorganik, ammonium sianat. Hal ini makin
melemahkan teori vitalitas. Karbon ini menempati bagian utama dalam
studi ilmu kimia karena karbon adalah atom yang unik karena karbon
dapat terikat secara kovalen dengan atom karbon lain dan terhadap
unsur-unsur lain dengan berbagai macam cara. Senyawa-senyawa
karbon juga bervariasi yaitu dari senyawa yang paling sederhana yaitu
metana, sampai dengan asam nukleat yang menjadi pengemban kode
genetik.
Dalam kimia organik selain unsur karbon, unsur-unsur yang sering
kali ada adalah hidrogen, oksigen, dan unsur halogen, dan nitrogen.
Walaupun senyawa organik terbentuk dari sejumlah kecil unsur akan
tetapi keberadaan senyawa organik sangat berlimpah. Sekarang ini kita
hidup di jaman karbon karena setiap hari kita dikelilingi oleh senyawa-
senyawa karbon, kolesterol dan lemak tak jenuh, hormon pertumbuhan
dan steroid, insektisida, DNA dan kode genetic, dan masih banyak lagi
yang lainnya. Berdasarkan penemuan di atas senyawa organik kemudian
dapat didefinisikan sebagai senyawa karbon. Walaupun senyawa organik
dikenal sebagai senyawa karbon tetapi tidak semua senyawa yang
mengandung karbon adalah senyawa organik.
Senyawa organik merupakan senyawa hidrokarbon dan turunannya.
Senyawa hidrokarbon adalah senyawa yang tersusun dari hidrogen dan
karbon. Setiap senyawa organik merupakan anggota deret homolog atau
golongan senyawa tertentu. Deret homolog adalah urutan senyawa
organik yang membentuk kelompok dengan gugus dan struktur tertentu
yang teratur (Wardiyah, 2016).

2.2 Ekstraksi.
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
pembagian sebuah zat terlarut antara dua pelarut yang tidak dapat
tercampur untuk mengambil zat terlarut tersebut dari satu pelarut ke
pelarut yang lain. Seringkali campuran bahan padat dan cair tidak dapat
atau sukar sekali dipisahkan dengan metode pemisahan mekanis.
Misalnya saja, karena komponennya saling bercampur secara sangat
erat, peka terhadap panas, beda sifat-sifat fisiknya terlalu kecil, atau
tersedia dalam konsentrasi yang terlalu rendah. Dalam hal semacam itu,
seringkali ekstraksi adalah satu-satunya proses yang dapat digunakan
atau yang mungkin paling ekonomis. Sebagai contoh pembuatan ester
untuk pembuatan sirup atau minyak wangi, pengambilan kafein dari
daun teh, biji kopi atau biji coklat dan yang dapat dilihat sehari-hari
adalah pelarutan komponen-komponen kopi dengan menggunakan air
panas dari biji kopi yang telah dibakar atau digiling (Rahayu, 2008).
Pengertian lain dari ekstraksi adalah proses pemisahan komponen
terlarut dari suatu campuran komponen tidak terlarut dengan
menggunakan zat pelarut yang sesuai. Dengan kata lain, ekstraksi
merupakan proses pemisahan dengan pelarut yang melibatkan
perpindahan zat terlarut ke dalam pelarut. Kelarutan zat dalam pelarut
tergantung dari ikatan polar dan nonpolar. Zat yang polar hanya larut
dalam pelarut polar, sedangkan zat nonpolar hanya larut dalam pelarut
nonpolar.
Pelarut yang biasa digunakan untuk proses ekstraksi dalam praktik
sehari-hari adalah air, misalnya dalam pembuatan sari buah dari
berbagai buah-buahan dan pembuatan santan dari kelapa parut. Pelarut
organik yang umum digunakan untuk memproduksi konsentrat, ekstrak,
absolut atau minyak atsiri dari bunga, daun, biji, akar, dan bagian lain
dari tanaman adalah etil asetat, heksana, petroleum eter, benzena,
toluena, etanol, isopropanol, aseton, dan juga air.
Tahap pertama di dalam proses ekstraksi pada umumnya adalah
penghancuran secara mekanis, yaitu bahan mentah dipotong atau
dihancurkan menjadi ukuran kecil yang dikehendaki agar mendapatkan
permukaan persentuhan yang luas untuk diekstraksi. Daya ekstraksi
akan semakin meningkat dengan semakin kecilnya ukuran bahan.
Namun, bahan yang terlalu halus dapat membentuk suspensi dengan
pelarut dan dapat terjadi penguapan senyawa yang berlebihan sebelum
proses ekstraksi. Istilah ekstraksi juga dikenal dalam pengolahan minyak
dan lemak, yaitu suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari
bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak. Cara ekstraksi
tersebut bermacam-macam, yaitu rendering, mechanical expression, dan
solvent extraction.
Rendering merupakan suatu cara ekstraksi minyak atau lemak dari
bahan yang diduga mengandung minyak atau lemak dengan kadar air
yang tinggi. Pada semua cara rendering, digunakan panas untuk
menggumpalkan protein pada dinding sel bahan dan untuk memecahkan
dinding sel tersebut sehingga mudah ditembus oleh minyak atau lemak
yang ada di dalamnya.
Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan
sejumlah air selama berlangsungnya proses tersebut. Rendering basah
dilakukan pada ketel terbuka atau tertutup menggunakan suhu tinggi,
tekanan 60 selama 6 jam. Alat yang digunakan untuk rendering basah
adalah otoklaf atau digester untuk menghasilkan minyak atau lemak
dalam jumlah yang besar.
Suhu rendah dalam rendering basah dilakukan jika ingin dihasilkan
minyak atau lemak. Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel
yang dilengkapi alat pengaduk. Air ditambahkan dan campuran tersebut
dipanaskan perlahan-lahan sampai suhu 50 ℃ sambil diaduk. Minyak
yang terekstrak akan naik ke atas dan dipisahkan.
Dry rendering dilakukan tanpa dilengkapi dengan pengaduk. Bahan
dipanasi sambil diaduk pada suhu 110 ℃. Ampas bahan yang telah
diambil minyaknya akan mengendap di dasar ketel. Pengambilan
minyak dilakukan dari bagian atas ketel.
Mechanical expression adalah suatu cara proses ekstraksi minyak
atau lemak terutama untuk suatu bahan dari suatu biji-bijian. Ekstraksi
dengan zat pelarut adalah ekstraksi dengan melarutkan suatu minyak
dalam sebuah zat pelarut pada suatu minyak dan lemak (Dwiari, 2008).
Syarat syarat pelarut yang dapat digunakan sbagai pelarut ekstraksi
adalah sebagai berikut
1. Selektivitas
Pelarat hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan, bukan
komponen-komponen lain dari bahan ekstraksi. Dalam praktek,
terutama pada ekstraksi bahan-bahan alami, sering juga bahan lain
ikut dibebaskan bersama-sama dengan ekstrak yang diinginkan.
Dalam hal itu larutan ekstrak tercemar yang diperoleh harus
dibersihkan, yaitu misalnya diekstraksi lagi dengan menggunakan
pelarut kedua.
2. Kelarutan
Pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan
ekstrak yang besar.
3. Kemampuan tidak saling bercampur pada ekstraksi cair-cair, pelarut
tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi.
4. Kerapatan
Terutama pada ekstraksi cair-cair, sedapat mungkin terdapat
perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dan bahan ekstraksi.
5. Reaktivitas
Pada umumnya pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan
secara kimia pada kornponen bahan ekstarksi. Sebaliknya, dalam
hal-hal tertentu diperlukan adanya reaksi kimia untuk mendapatkan
selektivitas yang tinggi. Seringkali ekstraksi juga disertai dengan
reaksi kimia.
Dalam hal ini pada bahan yang akan dipisahkan mutlak harus
berada dalam suatu bentuk larutan. Titik didih karena ekstrak dan
pelarut biasanya harus dipisahkan dengan cara penguapan, metode
destilasi, maka titik didih kedua bahan itu tidak boleh terlalu dekat.
Ditinjau dari segi ekonomi, akan menguntungkan jika pada proses
ekstraksi tersebut titik didih suatu zat pelarut tidak terlalu tinggi.
6. Kriteria yang lain pelarut yang dapat digunakan jadi zat pelarut.
a. Murah.
b. Tersedia dalam jumlah besar.
c. tidak beracun.
d. Tidak dapat terbakar.
e. Tidak eksplosif bila bercampur dengan udara.
f. tidak korosif.
g. Tidak menyebabkan terbentuknya emulsi.
h. memiliki viskositas yang rendah.
i. Stabil secara kimia dan termis.
Beberapa pelarut yang terpenting adalah air, asam-asam.organik dan
anorganik, hidrokarbon jenuh, toluena, karbon disulfit, eter, aseton,
hidrokarbon yang mengandung halogen, isopropanol, etanol.
Dengan satu tahap ekstraksi tunggal, yaitu mencampur bahan
ekstraksi dengan pelarut satu kali, umumnya tidak mungkin seluruh
ekstrak terlarutkan. Hal ini disebabkan adanya kesetimbangan antara
ekstrak yang terlarutkan dan ekstrak yang masih tertinggal dalam bahan
ekstraksi. Pelarutan lebih lanjut hanya mungkin dengan cara
memisahkan larutan ekstrak dari bahan ekstraksi dan mencampurkan
bahan ekstraksi tersebut dengan pelarut yang baru. Proses ini harus
dilakukan berulang-ulang, hingga derajat ekstraksi yang diharapkan
tercapai. Ekstraksi akan lebih menguntungkan jika dilaksanakan dalam
jumlah tahap yang banyak. Setiap tahap menggunakan pelarut yang
sedikit.
Kerugiannya adalah konsentrasi larutan ekstrak makin lama makin
rendah, dan jurnlah total pelarut yang dibutuhkan menjadi besar,
sehingga untuk mendapat pelarut kembali biayanya menjadi mahal.
Yang lebih ekonomis adalah menggunakan proses dengan aliran yang
berlawanan. Dalam hal ini bahan ekstraksi mula-mula dikontakkan
dengan pelarut yang sudah mengandung ekstrak, dan baru pada tahap
akhir proses tersebut dikontakkan dengan suatu zat pelarut yang segar.
Dengan metode ini pelarut dapat dihemat dan konsentrasi larutan
ekstrak yang lebih tinggi dapat diperoleh. Meskipun demikian,
perbedaan konsentrasi yang cukup besar yang merupakan gaya
pendorong untuk ekstraksi yang tinggi masih dapat dipertahankan.
Permukaan, yaitu bidang antar muka untuk perpindahan massa antara
bahan ekstraksi dan pelarut, harus sebesar mungkin. Pada ekstraksi
padat-cair hal tersebut dapat dicapai dengan memperkecil ukuran bahan
ekstraksi, dan pada proses ekstraksi cair-cair dengan mencerai beraikan.
Tahanan yang menghambat pelarutan ekstrak sedapat mungkin bernilai
kecil. Tahanan tersebut terutama tergantung pada ukuran dan sifat
partikel dari bahan ekstraksi.
Semakin kecil partikel ini, semakin pendek jalan yang harus
ditempuh pada perpindahan massa dengan cara difusi, sehingga sernakin
rendah tahanannya. Pada ekstraksi bahan padat, tahanan semakin besar
jika kapiler-kapiler bahan padat semakin halus dan jika ekstrak semakin
terbungkus didalam sel. Di samping faktor-faktor tersebut, suhu juga
seringkali memainkan peranan penting dalam pengaruh ekstraksi.
Semakin tinggi suhu, semakinkecil viskositas fasa cair dan semakin
besar kelarutan ekstrak dalam pelarut. Selain itu kecenderungan,
pembentukan emulsi berkurang pada suhu yang tinggi.
Dalam ekstraksi terdapat beberapa proses ekstraksi diantaranya
adalah sebagai berikut.
1. Ekstraksi padat-cair
Pada ekstraksi padat-cair, satu atau beberapa kornponen yang
dapat larut dipisahkan dari bahan padat dengan bantuan pelarut.
Proses ini digunakan secara teknis dalam skala besar terutama di
bidang industri bahan alami dan makanan, misalnyauntuk
memperoleh bahan aktif dari tumbuhan atau organ binatang untuk
keperluan farmasi. Pada proses ini merupakan ekstraksi yang
digabungkan dengan reaksi kimia. Dalam hal ini ekstrak, dengan
bantuan suatu asam anorganik misalnya dikonversikan terlebih
dahulu ke dalam bentuk yang larut. Pembilasan filter dan pelarutan
pada proses rekristalisasi bahan padat juga dianggap sebagai
ekstraksi padat-cair dalam arti yang luas. Ekstrak yang akan
dipisahkan, berbentuk padat diuapkan, dapat terkurung dalam bahan
ekstraksi atau berada dalam sel-sel. Dalam keadaan-keadaan tersebut
bahan ekstraksi bukan merupakan substansi yang homogen,
melainkan berpori dan berkapiler banyak.
Pada ekstraksi, yaitu ketika bahan ekstraksi dicampur dengan
pelarut, maka pelarut menembus kapiler-kapiler dalam bahan padat
dan melarutkan ekstrak. Larutan ekstrak dengan konsentrasi yang
tinggi terbentuk di bagian dalam bahan ekstraksi. Dengan cara difusi
akan terjadi kesetimbangan konsentrasi antara larutan tersebut
dengan larutan di luar bahan padat. Karena adanya gaya adhesi
setelah pemisahan larutan ekstrak, akan selalu tertinggal larutan
ektrak dalam kuantitas tertentu di dalam bahan ekstraksi.
Untuk memperoleh efisiensi yang tinggi pada tiap tahap
ekstraksi, perlu diusahakan agar kuantitas cairan yang tertinggal
sekecil mungkin. Biasanya hal ini dapat dilakukan dengan
membiarkannya menetes keluar arang dengan cara penekanan.
Karena alasan ekonomi dan pelestarian lingkungan, seringkali sisa
pelarut yang tertinggal dipisahkan misalnya dengan pemanasan
langsung menggunakan kukus dan diambil kembali pada akhir
proses ekstraksi.
Untuk mencapai kecepatan ekstraksi yang tinggi pada ekstraksi
padat-cair, syarat-syarat berikut harus dipenuhi, yaitu karena
perpindahan massa berlangsung pada bidang kontak antara fasa
padat dan fasa cair, maka bahan itu perlu sekali memiliki permukaan
yang seluas mungkin. Ini dapat dicapai dengan rnemperkecil ukuran
bahan ekstraksi. Dalam hal itu lintasan-lintasan kapiler, yang harus
dilewati dengan cara difusi menjadi lebih pendek sehingga
mengurangi tahanannya.
Pada ekstrak terkurung dalarn sel-sel seringkali perlu dibentuk
kontak langsung dengan pelarut melalui dinding sel yang
dipecahkan. Pemecahan dapat dilakukan misalnya dengan menekan
atau menggerus bahan ekstraksi. Untuk alat-alat ekstraksi tertentu
harus dijaga agar pada pengecilan bahan ekstraksi, ukuran partikel
yang diperoleh tidak menjadi terlalu kecil. Bila hal itu terjadi, tidak
dapat dipastikan bahwa bahan ekstraksi cukup permeabel untuk
pelarut. Kecepatan alir pelarut, sedapat mungkin besar dibandingkan
dengan laju alir bahan ekstraksi, agar ekstrak yang terlarut dapat
segera diangkut keluar dari permukaan bahan padat. Tergantung
pada jenis ekstraktor yang digunakan, hal tersebut dapat dicapai baik
dengan pengadukan secara turbulen.
2. Ekstraksi padat-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana bahan ekstraksi padat dicampur
beberapa kali dengan pelarut segar di dalam sebuah tangki
pengaduk. Larutan ekstrak yang terbentuk setiap kali dipisahkan
dengan cara penjernihan atau penyaringan. Proses ini tidak begitu
ekonomis, digunakan misalnya di tempat yang tidak tersedia
ekstraktor khusus atau bahan ekstraksi tersedia dalam bentuk serbuk
sangat halus, sehingga karena bahaya penyumbatan, ekstraktor lain
tidak mungkin digunakan. Ekstraktor yang sebenamya adalah
tangki-tangki dengan pelat ayak yang dipasang di dalamnya. Pada
alat ini bahan ekstraksi diletakkan diatas pelat ayak. Dengan bantuan
suatu distributor, pelarut dialirkan dari atas ke bawah. Dengan
perkakas pengaduk yang dapat dinaik turunkan, pencampuran
seringkali dapat disempurnakan, atau dapat dikeluarkan dari tangki
setelah berakhirnya ekstraksi.
Ekstraktor semacam ini hanya sesuai untuk bahan padat dengan
partikel yang tidak terlalu halus. Yang lebih ekonomis lagi adalah
penggabungan beberapa ekstraktor yang dipasang seri dan aliran
bahan ekstraksi berlawanan dengan aliran pelarut. Dalam hal ini
pelarut dimasukkan kedalam ekstraktor yang berisi campuran yang
telah mengalami proses ekstraksi paling banyak. Pada setiap
ekstraktor yang dilewati, pelarut semakin diperkaya oleh ekstrak.
Pelarut akan dikeluarkan dalam konsentrasi tinggi dari ekstraktor
yang berisi campuran yang mengalami proses ekstraksi paling
sedikit. Dengan operasi ini pemakaian pelarut lebih sedikit dan
konsentrasi akhir dari larutan ekstrak lebih tinggi. Cara lain adalah
dengan mengalirkan larutan ekstrak yang keluar dari pelat ayak ke
sebuah destilasi, menguapkan pelarut di situ, menggabungkannya
dalam sebuah kondensor dan segera mengalirkannya kembali ke
ekstraktor untuk dicampur dengan bahan ekstraksi.
Dalam destilasi konsentrasi larutan ekstrak terus menerus
meningkat. Dengan metode ini jumlah total pelarut yang diperlukan
relatif kecil. Meskipun demikian, selalu terdapat perbedaan
konsentrasi ekstrak yang maksimal antara bahan ekstraksi dan
pelarut. Kerugiannya, adalah pemakaian banyak energi karena
pelarut harus diuapkan secara terus menerus. Pada ekstraksi bahan-
bahan yang peka terhadap suhu terdapat sebuah bak penampung
sebagai pengganti ketel destilasi. Dari bak tersebut larutan ekstrak
dialirkan ke dalam alat penguap vakum. Uap pelarut yang terbentuk
kemudian dikondensasikan, pelarut didinginkan dan dialirkan
kembali ke dalam ekstraktor dalam keadaan dingin.
3. Ekstraksi padat-cair kontinyu
Cara ekstraktor ini serupa dengan ekstraktor-ekstraktor yang
dipasang seri, tetapi pengisian, pengumpanan pelarut dan juga
pengosongan berlangsung secara otomatik penuh dan terjadi dalam
sebuah alat yang sama. Oleh karena itu dapat diperoleh output yang
lebih besar dengan jumlah kerepotan yang lebih sedikit. Tetapi
karena biaya untuk peralatannya besar, ekstraktor semacam itu
kebanyakan hanya digunakan untuk bahan ekstraksi yang tersedia
dalam kuantitas besar misalnya biji-bijian minyak, tumbuhan. Dari
beraneka ragam konstruksi alat ini, berikut akan di bahas ekstraktor
keranjang dan ekstraktor sabuk. Pada ekstraktor keranjang, bahan
ekstraksi terus menerus dimasukkan ke dalam sel-sel yang berbentuk
juring dari sebuah rotor yang berputar lambat mengelilingi poros.
Bagian bawah sel-sel ditutup oleh sebuah pelat ayak. Selama satu
putaran, bahan padat dibasahi dari arah berlawanan oleh pelarut atau
larutan ekstrak yang konsentrasinya meningkat. Pelarut atau larutan
tersebut dipompa dari sel ke sel dan disiramkan ke atas bahan padat.
Akhirnya, bahan dikeluarkan dan keseluruhan proses ini berlangsung
secara otomatik. Pada ekstraktor ini, bahan ekstraksi diumpankan
secara kontinu di atas sabuk ayak yang melingkar. Di sepanjang
sabuk bahan dibasahi oleh pelarut atau larutan ekstrak dengan
konsentrasi yang meningkat dan arah aliran berlawanan. Setelah itu
bahan dikeluarkan dari ekstrakor.
4. Ekstraksi cair-cair
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari
suatu campuran dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini
digunakan secara teknis dalam skala besar misalnya untuk
memperoleh vitamin, bahan-bahan penyedap, produk minyak bumi
dan garam. Proses inipun digunakan untuk membersihkan air limbah
dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran
dengan cara destilasi tidak mungkin dilakukan atau tidak ekonomis.
Seperti ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas
sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran bahan ekstraksi dengan
pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna mungkin.
Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertarna dan masuk ke dalam pelarut
kedua. Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut
tidak.
Agar terjadi perpindahan masa yang baik yang berarti
performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar terjadi
bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut.
Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil.
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh, karena akan
menyebabkan terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar
sekali dipisah. Turbulensi pada saat mencampur tidak perlu terlalu
besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai gaya penggerak
pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah
terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas.
Pada saat pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-
tetes menyatu kembali menjadi sebuah fasa homogen dan
berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup besar dapat dipisahkan
dari cairan yang lain.
Kecepatan Pembentukan fasa homogen ikut menentukan zat
keluar sebuah ekstraktor cair-cair. Kuantitas pemisahan persatuan
waktu dalam hal ini semakin besar jika permukaan lapisan antar fasa
di dalam alat semakin luas. Sama haInya seperti pada ekstraksi
padat-cair, alat ekstraksi tak kontinu dan kontinu yang akan dibahas
berikut ini seringkali merupakan bagian dari suatu instalasi lengkap.
Instalasi tersebut biasanya terdiri atas ekstraktor yang sebenarnya
dan sebuah peralatan yang dihubungkan di belakangnya untuk
mengisolasi ekstrak atau memekatkan larutan ekstrak dan
mengambil kembali pelarut
5. Ekstraktor cair-cair tak kontinu
Dalam hal yang paling sederhana, bahan ekstraksi. Yang cair
dicampur berulangkali dengan pelarut segar dalam sebuah tangki
pengaduk. Larutan ekstrak yang dihasilkan setiap kali dipisahkan
dengan cara penjernihan. Yang konstruksinya lebih menguntungkan
bagi proses pencampuran dan pernisahan adalah tangki yang bagian
bawahnya runcing yang dilengkapi dengan perkakas pengaduk,
penyalur bawah, maupun kaca intip yang tersebar pada seluruh
ketinggiannya. Alat tak kontinu yang sederhana seperti itu
digunakan misalnya untuk mengolah bahan dalam jumlah kecil, atau
bila hanya sekali-sekali dilakukan ekstraksi. Untuk pemisahan yang
dapat dipercaya antara fasa berat dan fasa ringan, sedikit-sedikitnya
diperlukan sebuah kaca intip pada saluran keluar di bagian bawah
tangki ekstraksi. Selain itu penurunan lapisan antar fasa seringkali
dikontrol secara elektronik dengan perantaraan suatu alat ukur
konduktivitas, secara optik dengan bantuan detektor cahaya hatas
atau secara mekanik. Peralatan ini mudah digabungkan dengan
komponen pemblokir dan perlengkapan alarm, yang akan
menghentikan aliran keluar atau memberikan alarm, segera setelah
lapisan tersebut melampaui kedudukan tertentu. Agar fasa ringan
tidak masuk ke dalam saluran pembuangan air, pencegahan yang
lebih baik dapat dilakukan dengan memasang bak penampung
dibelakang ekstraktor.
6. Ekstraktor cair-cair kontinu
Operasi kontinu pada ekstraksi cair-cair dapat dilaksanakan
dengan sederhana, karena tidak saja pelarut, melainkan juga bahan
ekstraksi cair secara mudah dapat dialirkan dengan bantuan pompa.
Dalam hal ini bahan ekstraksi berulang kali dicampur dengan pelarut
atau larutan ekstrak dalam arah berlawanan yang konsentrasinya
senantiasa meningkat. Fasa dipisalikan dengan cara penjernihan.
Bahan ekstraksi dan pelarut terus menerus diumpankan ke dalam
alat, sedangkan larutan ekstrak dikeluarkan secara kontinu.
Ekstraktor yang paling sering digunakan adalah kolom-kolom
ekstraksi, di samping itu juga digunakan perangkat pencampur-
pemisah. Alat-alat ini terutama digunakan bilabahan ekstraksi yang
harus dipisahkan berada dalam kuantitas yang besar, atau bila bahan
tersebut diperoleh dari proses-proses sebelumnya secara terus
menerus (Rahayu, 2008).

2.3 Destilasi
Kolom destilasi merupakan komponen proses yang penting baik
dalam industri besar minyak bumi dan gas, sampai industri menengah
dan kecil seperti industri minyak atsiri, alkohol biasanya kolom distilasi
ini disebut menara distilasi.
Menara distilasi tipe bertingkat, menara ini terdiri dari banyak
piringan yang memungkinkan kesetimbangan terbagi dalam
setiap piringannya. Menara distilasi tipe kontinu yaitu menara distilasi
dimana keseimbangan fasa gas dan cair terjadi sepanjang kolom. Dalam
lingkungan industri kecil dan menengah misalnya minyak atsiri, kolom
distilasi merupakan komponen penting dalam proses pembuatan minyak
atsiri, sehingga pemahaman dan penggunaan kolom distilasi menjadi
penting perkembangan kebutuhan dunia akan minyak atsiri saat ini
cukup tinggi. Pemurnian minyak atsiri diperlukan dengan menggunakan
proses destilasi fraksionasi, yaitu proses destilasi dengan memperhatikan
titik didih setiap komponen penyusunnya.
Dalam kolom destilasi fraksionisasi, komponen penyusun yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu baru
kemudian disusul oleh komponen yang memiliki titik didih yang lebih
tinggi (Arman & Prasetya, 2014).
Jenis jenis destilasi adalah sebagai berikut
1. Destilasi sederhana
Destilasi sederhana atau destilasi biasa adalah teknik pemisahan
kimia untuk memisahkan dua atau lebih komponen yang memiliki
perbedaan titik didih yang jauh. Suatu campuran dapat dipisahkan
dengan destilasi biasa ini untuk memperoleh senyawa murni.
Senyawa yang terdapat dalam campuran akan menguap saat
mencapai titik didih masing-masing.
2. Destilasi bertingkat
Sama prinsipnya dengan destilasi sederhana, hanya destilasi
bertingkat ini memiliki rangkaian alat kondensor yang lebih baik,
sehingga mampu memisahkan dua komponen yang memiliki
perbedaan titik didih yang berdekatan. Untuk memisahkan dua jenis
cairan yang sama mudah menguap dapat dilakukan dengan destilasi
bertingkat.
Destilasi bertingkat adalah suatu proses destilasi berulang. Proses
berulang ini terjadi pada kolom fraksional. Kolom fraksional terdiri
atas beberapa plat dimana pada setiap plat terjadi pengembunan. Uap
yang naik plat yang lebih tinggi lebih banyak mengandung cairan
yang lebih atsiri sedangkan cairan yang yang kurang atsiri lebih
banyak kondensat.
3. Destilasi azeotrop
Memisahkan campuran azeotrop yaitu pemisahan dari campuran
dua zat atau lebih komponen yang sulit di pisahkan, biasanya dalam
prosesnya digunakan senyawa lain yang dapat memecah ikatan
azeotrop tersebut atau dengan menggunakan tekanan tinggi.
4. Destilasi uap
Untuk memurnikan senyawa cair yang tidak larut dalam air, dan
titik didihnya cukup tinggi, sedangkan sebelum zat cair tersebut
mencapai titik didihnya, zat cair sudah terurai, teroksidasi atau
mengalami reaksi pengubahan, maka zat cair tersebut tidak dapat
dimurnikan secara destilasi sederhana atau destilasi bertingkat,
melainkan harus didestilasi dengan destilasi uap.
Destilasi uap adalah istilah yang secara umum digunakan untuk
destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam air,
dengan cara mengalirkan uap air kedalam campuran sehingga bagian
yang dapat menguap berubah menjadi uap pada temperatur yang
lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Untuk destilasi
uap, labu yang berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan
dengan labu pembangkit uap. Uap air yang dialirkan ke dalam labu
yang berisi senyawa yang akan dimurnikan, dimaksudkan untuk
menurunkan titik didih senyawa tersebut, karena titik didih suatu
campuran lebih rendah dari pada titik didih komponennya.
5. Destilasi Vakum
Destilasi vakum merupakan pemisahkan dua kompenen atau
senyawa yang titik didihnya sangat tinggi, pada motode yang
digunakan adalah dengan menurunkan tekanan permukaan lebih
rendah dari 1 atm, sehingga titik didih senyawa juga menjadi rendah,
dalam prosesnya suhu yang akan digunakan untuk mendistilasi
komponen tidak perlu terlalu tinggi (Walangare & Lumenta, 2013).
2.4 Cengkeh
Indonesia memiliki luas area tanaman cengkeh terluas di dunia, yaitu
sekitar 241.800 ha atau lebih dari 70% luas area tanaman cengkeh di
dunia. Produksi minyak cengkeh terdapat di Jawa Tengah, Jawa Barat,
Jawa Timur, Sumatra Barat, Bali, dan Sulawesi Selatan. Produksi
minyak cengkeh Indonesia pada tahun 2007 sekitar 2.500 ton dengan
perkiraan pemakaian dunia sekitar 3.500 ton dalam setahun. Minyak
cengkeh terdiri dari beberapa komponen yaitu eugenol, metil eugenol,
dan eugenol asetat. Komponen terbesar minyak cengkeh adalah eugenol
atau propena.
Pada eugenol terdapat gugus-gugus fungsi yang dapat diubah secara
kimia, pada prinsipnya eugenol merupakan bahan awal yang sangat
berguna bagi sintesis senyawa-senyawa yang lebih bermanfaat. Salah
satu turunan dari eugenol adalah senyawa isoeugenol, yang merupakan
bahan dasar dalam industri farmasi, kosmetika, serta industri perisa
untuk makanan dan minuman (Riyanto, 2015).
Cengkeh merupakan tanaman asli Maluku yang merupakan tanaman
herbal telah lama digunakan di negara-negara Timur Tengah dan Asia.
Cengkeh digunakan sebagai obat tradisional dalam penyembuhan
berbagai macam penyakit, dan juga penyedap masakan. Aroma cengkeh
yang khas dihasilkan oleh senyawa eugenol, yang merupakan senyawa
utama.
Minyak cengkeh berasal dari tanaman cengkeh baik dari bunga,
batang, daun, dan gagang cengkeh. Cengkeh yang banyak ditanam di
beberapa negara termasuk Indonesia.Minyak atsiri ini memiliki aktivitas
biologis seperti antibakteri, anti jamur, insektisida dan antioksidan, dan
digunakan sebagi sumber aroma dan bahan antimikroba dalam makanan.
Minyak cengkeh juga memiliki efek terapi untuk asma dan beberapa
alergi.
Kandungan terbesar minyak cengkeh adalah eugenol, Eugenol
bermanfaat dalam pembuatan vanilin, eugenil metil ester, dan eugenil
asetat. Vanilin merupakan bahan pemberi aroma pada makanan, permen,
coklat dan parfum. Pada dasarnya minyak cengkeh dapat diproduksi
menggunakan distilasi kukus, distilasi air, dan distilasi uap. Secara
tradisional, metode yang sering digunakan di pedesaan di Indonesia
adalah distilasi kukus.
Kelebihan metode-metode distilasi tersebut yaitu rendahnya biaya
produksi, tetapi pada penggunaan suhu tinggi dan adanya air dapat
menyebabkan kerusakan minyak cengkeh karena panas yang tinggi dan
terjadinya reaksi hidrolisis dengan air, sehingga dapat menurunkan
kualitas minyak cengkeh. Penelitian sebelumnya terkait distilasi minyak
cengkeh telah dilakukan beberapa peneliti. Perbedaan metode isolasi
berpengaruh pada mutu minyak yang dihasilkan.
Kekurangan metode distilasi dapat diatasi dengan metode ekstraksi
yang menggunakan pelarut. Suhu ekstraksi dapat dilakukan pada suhu
ruang dan tidak melibatkan air dalam proses pengambilan minyaknya.
Beberapa jenis pelarut yang sering digunakan yaitu etanol, heksana,
benzena, aseton, metanol dan iso propil alkohol. Dipilih etanol dan n-
heksana sebagai pelarut. Etanol mempunyai titik didih yang rendah dan
cenderung aman.
Etanol juga tidak beracun dan berbahaya, selain itu etanol juga
mempunyai kepolaran tinggi sehingga mudah untuk melarutkan
senyawa resin, lemak, minyak, asam lemak, karbohidrat, dan senyawa
organik lainnya. Sedangkan heksana merupakan pelarut non polar yang
bersifat stabil dan mudah menguap, selektif dalam menguapkan zat,
mengekstrak zat pewangi dalam jumlah yang besar. Dengan demikian
sekaligus dapat dibandingan kelarutan minyak cengkeh terhadap pelarut
yang bersifat polar dan non polar (Pratiwi, 2016).
Eugenol juga memiliki sifat antiseptik dan anestetik. Minyak atsiri
dari cengkeh mempunyai sifat kimiawi dan efek farmakologis yang
berfungsi sebagai anestetik, antimikrobial, antiseptik, antioksidan, dan
imunomodulator. Pada senyawa fenolik daun cengkeh juga bertanggung
jawab terhadap suatu aktivitas senyawa antioksidan dan suatu senyawa
flavonoid yang bertindak sebagai suatu penangkal radikal bebas.
Kandungan senyawa ekstrak daun yang dapat memicu imunitas
spesifik dan non spesifik serta dapat mengaktifkan komponen seluler
dari sistem imun, misalnya fungsi fagositosis tanpa berpengaruh pada
imunitas humoral maupun seluler. Masyarakat mulai memilih obat
tradisional untuk meningkatkan sistem imun agar tidak mudah terserang
berbagai macam penyaki.
Induksi respon imun mencit dilakukan dengan Salmonella
typhimurium. Salmonella telah banyak digunakan sebagai model untuk
mempelajari respon imun bawaan dan adaptif, terutama aktivasi
makrofag. Salmonella mampu mengaktifkan sistem imun seluler inang
yang diperankan oleh makrofag dan sel sebagai eksekutor imun non
spesifik dan sel T sebagai mediator imun spesifik. Eugenol merupakan
bahan awal yang sangat berguna untuk sintesis senyawa lain yang lebih
bermanfaat. Kandungan utama dari minyak cengkeh adalah eugenol
yang digunakan sebagai antiseptik pada obat kumur dan analgesik pada
sakit gigi. Eugenol telah diketahui memiliki aktivitas farmakologis
imunomodulator. Minyak cengkeh memiliki sifat anti bakteri sehingga
dapat diterapkan untuk luka ringan dan bekas gigitan serangga. Senyawa
utama yang terkandung dalam ekstrak daun cengkeh adalah eugenol
yang merupakan komponen utama terhadap peran imunomodulator dan
anti inflamasi (Wael, 2018).
Minyak cengkeh pada umumnya memiliki kandungan zat seperti
eugenol, eugenil asetat, dan sisanya adalah zat-zat lain. Eugenol
berbentuk minyak tidak berwarna dan memiliki warna bening hingga
kuning pucat, mudah larut dalam pelarut organik, berat molekul 164,20
gr/mol dan titik didih hingga 256°C. Eugenol diketahui memiliki
aktivitas antioksidan yang tinggi sehingga mampu menyingkirkan
radikal bebas dengan sangat baik, mencapai hampir 60%.
Kadar eugenol dari minyak cengkeh dipengaruhi oleh asal
minyaknya. Konsentrasi eugenol yang terkandung dalam minyak
cengkeh menurut Standar Nasional Indonesia 06-2387-2006 minimal
78%. Namun pada umumnya minyak cengkeh hasil destilasi hanya
mengandung kadar eugenol sekitar 70%. Kadar eugenol pada minyak
cengkeh dapat ditingkatkan melalui adsorpsi yakni proses difusi suatu
komponen pada suatu permukaan.
Beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya oleh
penggunaan asam sitrat 0,6% dapat meningkatkan kualitas dari minyak
cengkeh dengan EDTA pada metode kompleksometri. Selain itu
penelitian lain yang dilakukan oleh Perwitasari melalui proses adsorpsi
pada kondisi berat zeolit 25 gram selama 60 menit dapat meningkatkan
kadar eugenol dari 58,69% menjadi 89,94%. Hasil penelitian yang
dilakukan oleh Lutfy yang memaparkan dengan metode saponifikasi
menggunakan NaOH dengan konsentrasi 0,8 N pada suhu 220º dapat
menaikan kadar eugenol menjadi 89,65% (Putri & Firdausi, 2016).

2.5 Eugenol
Prinsip transformasi eugenol menjadi isoeugenol adalah reaksi
isomerisasi, dimana ikatan rangkap pada gugus alkenil pindah ke posisi
konjugasi dengan ikatan rangkap pada cincin benzena eugenol.
Isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol merupakan reaksi katalitik yang
membutuhkan panas dan katalis, baik katalis basa dan katalis logam
transisi.
Reaksi isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol secara konvensional,
menggunakan katalis basa kuat pada suhu yang tinggi dan waktu yang
lama. Metode ini tidak efisien sehingga kemudian berkembang metode
menggunakan pemanasan gelombang mikro. Dengan metode panas
gelombang mikro dapat mempercepat waktu reaksi isomerisasi hingga
beberapa kali. Namun metode pemanasan gelombang mikro ini
membutuhkan energi yang tinggi sehingga apabila diterapkan pada skala
besar belum efisien. Oleh karena itu, perlu dicari metode lain yang lebih
efisien.
Salah satu metode yang belum dilakukan adalah metode sonikasi,
yaitu metode yang memanfaatkan energi gelombang ultrasonik. Sonikasi
merupakan aplikasi dari penggunaan energi gelombang ultrasonik untuk
berbagai aplikasi. Beberapa pemanfaatan ultrasonik pada industri antara
lain adalah ekstraksi, kristalisasi, pengeringan, degassing, defoaming,
cutting, drilling, soldering, filtrasi, homogenisasi, desolusi, dan
deagregasi serbuk. Sonikasi berarti memberi perlakuan ultrasonik pada
suatu bahan dengan kondisi tertentu, sehingga bahan tersebut mengalami
reaksi kimia akibat perlakuan tersebut.
Proses sonikasi dilakukan dengan cara menggunakan gelombang
ultrasonik dengan rentang frekuensi 20 kHz sampai 10 MHz ke dalam
medium. Energi yang akan diberikan gelombang ultrasonik akan
menggetarkan partikel dalam medium hingga bisa memecah ikatan antar
molekul. Getaran yang ditimbulkan oleh energi gelombang ultrasonik
diharapkan akan dapat memindahkan ikatan rangkap pada gugus alkenil
pindah ke posisi konjugasi dengan ikatan rangkap pada cincin benzena
eugenol sehingga eugenol terkonversi menjadi isoeugenol (Riyanto,
2015)
Beberapa cara peningkatan kadar eugenol.
1. Pengukuran kadar eugenol menurut SNI 06-2387-2006.
Minyak cengkeh untuk masing-masing konsentrasi diuji satu
persatu dengan mencampurkannya dengan senyawa KOH.Mula-
mula minyak cengkeh diukur di dalam labu cassia sebanyak 10 mL,
kemudian ditambahkan larutan KOH 4% hingga 2/3 volume.
Dilakukan pengocokan selama 30 menit dan didiamkan, setelah itu
akan terjadi pemisahan lapisan antara eugenol dan air, kemudian
tambahkan KOH 4% hingga 100 mL.
2. Pengukuran dengan polarisasi cahaya
Pengukuran perubahan polarisasi cahaya pada berbagai variasi
kadar eugenol menggunakan dua buah polarisator, dan sumber
cahaya berupa lampu pijar 100 Watt dengan panjang gelombang
cahaya tampak berkisar antara 381,5 nm sampai dengan 751,2 nm.
Pada proses pengukuran polarisasi juga digunakan berbagai filter,
untuk menguji senyawa, apakah ada kaitannya dengan panjang
gelombang. Asumsi awal adalah besarnya polarisasi sebanding
dengan besarnya konsentrasi pada eugenol (Putri & Firdausi, 2016).
DAFTAR PUSTAKA
Arman, M., & Prasetya, A. (2014). Desain Sistem Instrumentasi Proses
Distilasi Fraksinasi Batch Berbasis Kendali Suhu. 71–79.
Dwiari, Sri Dini. (2008). Teknologi Bahan Alam.
Pratiwi, L. (2016). Ektraksi Minyak Atsiri Dari Bunga Cengkeh Dengan
Pelarut Etanol Dan N-Heksana. 655–661.
Putri, N. P., & Firdausi, K. S. (2016). Analisis Peningkatan Kadar Eugenol
Pada Minyak Cengkeh Menggunakan Metode Polarisasi. 2(1).
Rahayu, Suparni Setyowati. (2008). Kimia Industri Untuk Sekolah
Menengah Kejuruan.
Retty Liana Putri , Nur Hidayat, N. L. R. (2014). Pemurnian Eugenol Dari
Minyak Daun Cengkeh Dengan Reaktan Basa Kuat Koh Dan Ba(Oh)2,
3(1), 1–12.
Riyanto, A. (2015). Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol Dengan
Metode Sonikasi. 37–44.
Wael, S. (2018). Pengaruh Ekstrak Daun Cengkeh Terhadap Limfosit.
23(July), 79–83.
Walangare, & Lumenta. (2013). Rancang Bangun Alat Konversi Air Laut
Menjadi Air Minum Dengan Proses Destilasi Sederhana Menggunakan
Pemanas Elektrik.
Wardiyah. (2016). Kima Organik.