Anda di halaman 1dari 23

ETIKA BISNIS

SAP 8

ETIKA PERLINDUNGAN KONSUMEN DAN ETIKA


PERIKLANAN

Disusun oleh

Kelompok 1 :

Nius Gwijangge (1406305063)

I Gusti Agung Brawijaya (1607531079)

I Ketut Mandi Wira Putra (1607531081)

Ida Bagus Gede Wiswantara (1607531084)

Putu Agus Cahya Wira Putra (1607531097)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga kami dapat menyelesaikan paper ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Tidak lupa
kami juga mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
berkontribusi atas pembuatan paper ini baik itu dengan memberikan sumbangan materi maupun
pikirannya.

Dan kami harapkan semoga paper ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman
bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi
paper agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, kami yakin bahwa paper
ini belumlah sempurna dan masih banyak kekurangan dalam pembuatan paper ini baik dari
segi susunan kalimat maupun kata bahasanya, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan pembuatan paper
selanjutnya..

Ubud, 31 Oktober 2017

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................................ i

DAFTAR ISI....................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ........................................................................................................ 1


1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................... 2
1.3 Tujuan ..................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pasar dan Perlindungan Konsumen ........................................................................ 3


2.2 Hubungan Produsen dan Konsumen ....................................................................... 10
2.3 Gerakan Konsumen ................................................................................................. 11
2.4 Fungsi Iklan ............................................................................................................ 12
2.5 Beberapa Persoalan Etis dalam Iklan ...................................................................... 14
2.6 Makna Etis Menipu dalam Iklan ............................................................................. 16
2.7 Kebebasan Konsumen ............................................................................................. 17

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................................. 18


3.2 Saran ....................................................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam perkembangan dunia bisnis dewasa ini, kondisi konsumen yang banyak
dirugikan memerlukan peningkatan upaya untuk melindunginya, sehingga hak-haknya dapat
ditegakkan. Namun di sisi lain, perlindungan tersebut harus juga melindungi eksistensi
produsen yang sangat esensial dalam perekonomian negara. Oleh karena itu, diperlukan
perundang-undangan yang dapat melindungi kedua belah pihak. Permasalahan perlinungan
konsumen ini tidak akan pernah habis dan akan selalu menjadi bahan perbincangan di
masyarakat. Selama masih banyak konsumen yang dirugikan, masalahnya tidak akan pernah
tuntas. Oleh karena itu, masalah perlindungan konsumen perlu diperhatikan. Hak konsumen
yang diabaikan oleh pelaku usaha perlu dicermati secara seksama. Pada era globalisasi dan
perdagangan bebas saat ini, banyak bermunculan berbagai macam produk barang/pelayanan
jasa yang dipasarkankepada konsumen di tanah air, baik melalui promosi, iklan, maupun
penawaran barang secara langsung. Jika tidak berhati-hati dalam memilih produk barang/jasa
yang diinginkan, konsumen hanya akan menjadi objek eksploitas dari pelaku usaha yang tidak
bertanggung jawab. Tanpa disadari, konsumen menerima begitu saja barang/jasa yang
dikonsumsinya.

Selain itu, di dalam perkembangan dunia bisnis iklan merupakan salah satu kekuatan
terbesar yang dapat digunakan untuk menarik minat konsumen sebanyak-banyaknya terhadap
barang atau jasa yang ditawarkan oleh suatu perusahaan. Penekanan utama iklan adalah akses
informasi dan promosi dari pihak produsen kepada konsumen. Secara teoritik, iklan yaitu
sebagai suatu bentuk penyampaian pesan dalam komunikasi non personal yang mengikuti alur
teori yang berlaku pada ilmu komunikasi umumnya dan khususnya komunikasi massa. Dalam
kegiatan periklanan ada juga beberapa teori yang patut diingat dan dijadikan pegangan dalam
kegiatan periklanan tersebut.

Kegiatan periklanan ini juga tak lepas dari badan hokum dan etika yang harus ditaati
oleh para pelaku periklanan khususnya di Indonesia. Sebagaimana diketahui Pemerintah sudah
mengatur tata cara beriklan di dalam undang-undang pers di Indonesia, jadi etika dalam
periklanan ini harus selalu dijaga segala batasan-batasan dalam kegiatan periklanan hendaknya

1
harus ditaati dan dipatuhi oleh para pelaku periklanan khususnya di Indonesia jangan sampai
melanggar etika dan undang-undang tang telah ditetapkan oleh pemerintah.

1.2 Rumusan Masalah


o Apa itu pasar dan perlindungan konsumen?
o Bagaimana hubungan antara produsen dan konsumen?
o Apa itu gerakan konsumen?
o Apa saja fungsi dari iklan?
o Apa saja persoalan etis dalam iklan?
o Apa makna etis menipu dalam iklan?
o Bagaimana kebebasan konsumen?

1.3 Tujuan
o Untuk mengetahui apa itu pasar dan perlindungan konsumen
o Untuk mengetahui bagaimana hubungan antara produsen dan konsumen
o Untuk mengetahui apa itu gerakan konsumen
o Untuk mengetahui apa saja fungsi dari iklan
o Untuk mengetahui apa saja persoalan etis dalam iklan
o Untuk mengetahui apa makna etis menipu dalam iklan
o Untuk mengetahui bagaimana kebebasan konsumen

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pasar dan Perlindungan Konsumen

Pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual
beli barang atau jasa. Menurut ilmu ekonomi, pasar berkaitan dengan kegiatannya bukan
tempatnya. Ciri khas sebuah pasar adalah adanya kegiatan transaksi atau jual beli. Para
konsumen datang ke pasar untuk berbelanja dengan membawa uang untuk membayar
harganya. Stanton, mengemukakan pengertian pasar yang lebih luas.

Pasar memiliki sekurang-kurangnya tiga fungsi utama, yaitu fungsi distribusi, fungsi
pembentukan harga, dan fungsi promosi. Sebagai fungsi distribusi, pasar berperan sebagai
penyalur barang dan jasa dari produsen ke konsumen melalui transaksi jual beli. Sebagai fungsi
pembentukan harga, di pasar penjual yang melakukan permintaan atas barang yang dibutuhkan.
Sebagai fungsi promosi, pasar juga dapat digunakan untuk memperkenalkan produk baru dari
produsen kepada calon konsumennya.

Berikut ini masing-masing penjelasan terhadap jenis-jenis pasar tersebut:

1) Jenis-jenis pasar menurut fisiknya


o Pasar konkret (pasar nyata) adalah tempat pertemuan antara pembeli dan penjual
melakukan transaksi secara langsung. Barang yang diperjualbelikan juga tersedia di
pasar. Contohnya, pasar sayuran, buah-buahan, dan pasar tradisional.
o Pasar abstrak (pasar tidak nyata) adalah terjadinya transaksi antara penjual dan pembeli
hanya melalui telepon, internet, dan lain-lain berdasarkan contoh barang. Contohnya
telemarket dan pasar modal.
2) Jenis-jenis pasar menurut waktunya
o Pasar harian adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung setiap hari dan sebagian
barang yang diperjualbelikan adalah barang kebutuhan sehari-hari.
o Pasar mingguan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung seminggu sekali. Biasanya
terdapat di daerah yang belum padat penduduk dan lokasi pemukimannya masih
berjauhan.
o Pasar bulanan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung sebulan sekali. Biasanya
barang yang diperjualbelikan barang yang akan dijual kembali (agen/grosir).

3
o Pasar tahunan adalah pasar yang aktivitasnya berlangsung setahun sekali, misalnya PRJ
(Pasar Raya Jakarta).
3) Jenis-jenis pasar menurut barang yang diperjualbelikan
o Pasar barang konsumsi adalah pasar yang memperjualbelikan barang-barang konsumsi
untuk memenuhi kebutuhan manusia.
o Pasar sumber daya produksi adalah pasar yang memperjualbelikan faktor-faktor
produksi, seperti tenaga kerja, tenaga ahli, mesin-mesin, dan tanah.
4) Jenis-jenis pasar menurut luas kegiatannya
o Pasar setempat adalah pasar yang penjual dan pembelinya hanya penduduk setempat.
o Pasar daerah atau pasar lokal adalah pasar di setiap daerah yang memperjualbelikan
barang-barang yang diperlukan penduduk derah tersebut. Contohnya Pasar Gede di
Solo.
o Pasar Nasional adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli barang mencakup satu
negara contohnya pasar senen.
o Pasar Internasional adalah pasar yang melakukan transaksi jual beli barang-barang
keperluan masyarakat internasional. Contohnya pasar kopi di Santos (Brasil).

Pengertian Konsumen

 Menurut Undang-undang no. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen :

Pasal 1 butir 2 :

“ Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/ atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk
hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan”.

 Menurut Hornby :

“Konsumen (consumer) adalah seseorang yang membeli barang atau menggunakan


jasa; seseorang atau suatu perusahaan yang membeli barang tertentu atau menggunakan
jasa tertentu; sesuatu atau seseorang yang menggunakan suatu persediaan atau sejumlah
barang; setiap orang yang menggunakan barang atau jasa”.

Perlindungan Konsumen

Kata-kata “Perlindungan Konsumen” bukan lagi merupakan istilah atau kata baru
dalam kehidupan kita sehari-hari. Undang-Undang Perlindungan Konsumen pun telah

4
diundangkan sejak tahun 1999 di bawah Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen. Undang-Undang tersebut pun telah diberlakukan sejak tanggal
diundangkannya. Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia telah berdiri jauh sebelum Undang-
Undang Perlindungan Konsumen dibidani dan dilahirkan. Namun demikian perlindungan
konsumen di Indonesia masih jauh dari pengharapan. Tulisan ini dibuat untuk memberikan
pemahaman lagi bagi konsumen dan pelaku usaha di Indonesia mengenai pentingnya
perlindungan konsumen bagi semua, tidak hanya konsumen tetapi juga pelaku usaha, karena
eksistensi atau keberadaan perlindungan konsumen yang baik akan menciptakan sustainability
bagi pelaku usaha untuk jangka waktu yang panjang.

Yang dimaksud dengan perlindungan konsumen adalah “segala upaya yang menjamin
adanya kepastian hukum untuk memberikan perlindungan kepada konsumen . Jadi
perlindungan konsumen ini adalah suatu upaya (dalam lapangan hukum) yang diberikan
kepada konsumen pada saat konsumen tersebut mulai melakukan proses pemilihan serangkaian
atau sejumlah barang dan atau jasa tersebut dan selanjutnya memutuskan untuk menggunakan
barang dan jasa dengan spesifikasi tertentu dan merek tertentu, hingga akibat yang terjadi
setelah barang dan jasa tersebut dipergunakan oleh konsumen. Yang disebut terdahulu, yaitu
upaya perlindungan pada saat konsumen tersebut mulai melakukan proses pemilihan
serangkaian atau sejumlah barang dan atau jasa disebut upaya preventif; sedangkan upaya
selanjutnya disebut dengan upaya kuratif.

Konsumen dilindungi dari setiap tindakan atau perbuatan dari produsen barang dan atau
jasa, importer, distributor penjual dan setiap pihak yang berada dalam jalur perdagangan barang
dan jasa ini, yang pada umumnya disebut dengan nama pelaku usaha.Ada dua jenis
perlindungan yang diberikan kepada konsumen, yaitu perlindungan priventlf dan perlindungan
kuratif Perlindungan preventif adalah perlindungan yang diberikan kepada konsumen pada saat
konsumen tersebut akan membeli atau menggunakan atau memanfaatkan suatu barang dan atau
jasa tertentu, mulai melakukan proses pemilihan serangkaian atau sejumlah barang dan atau
jasa tersebut dan selanjutnya memutuskan untuk membeli, atau menggunakan atau
memanfaatkan barang dan jasa dengan spesifikasi tertentu dan merek tertentu tersebut.

Perlindungan kuratif adalah perlindungan yang diberikan kepada konsumen sebagai


akibat dari penggunaan atau pemanfaatan barang atau jasa tertentu oleh konsumen.Dalam hal
ini perlu diperhatikan bahwa konsumen belum tentu dan tidak perlu serta tidak boleh
dipersamakan dengan pembeli barang dan atau jasa, meskipun pada umumnya konsumen

5
adalah mereka yang membeli suatu barang atau jasa. Dalam hal ini seseorang dikatakan
konsumen, cukup jika orang tersebut adalah pengguna atau pemanfaat atau penikmat dari suatu
barang atau jasa, tidak peduli ia mendapatkannya melalui pembelian atau pemberian.

Dalam pendekatan pasar, terhadap perlindungan konsumen , keamanan konsumen


dilihat sebagai produk yang paling efisien bila disediakan melalui mekanisme pasar bebas di
mana penjual memberikan tanggapan terhadap permintaan konsumen. Dalam teori, konsumen
yang menginginkan informasi bisa mencarinya di organisasi-organisasi seperti consumers
union, yang berbisnis memperoleh dan menjual informasi. Dengan kata lain, mekanisme pasar
perlu menciptakan pasar informasi konsumen jika itu yang diinginkan konsumen.

Adapun kewajiban konsumen untuk melindungi kepentingannya ataupun produsen


yang melindungi kepentingan konsumen, sejumlah teori berbeda tentang tugas etis produsen
telah dikembangkan , masing- masing menekankan keseimbangan yang berbeda antara
kewajiban konsumen pada diri mereka sendiri dengan kewajiban produesn pada konsumen
meliputi pandangan kontrak, pandangan “ due care” dan pandangan biaya sosial.

1. Pandangan kontrak kewajiban produsen terhadap konsumen

Menurut pandangan kontrak tentang tugas usaha bisnis terhadap konsumen, hubungan
antara perusahaan dengan konsumen pada dasarnya merupakan hubungan kontraktual, dan
kewajiban moral perusahaan pada konsumen adalah seperti yang diberikan dalam hubungan
kontraktual. Pandangan ini menyebutkan bahwa saat konsumen membeli sebuah produk,
konsumen secara sukarela menyetujui “kontrak penjualan” dengan perusahaan. Pihak
perusahaan secara sukarela dan sadar setuju untuk memberikan sebuah produk pada konsumen
dengan karakteristik tertentu, dan konsumen juga dengan sukarela dan sadar setuju membayar
sejumlah uang pada perusahaan untuk produk tersebut. Karena telah sukarela menyetujui
perjanjian tersebut, pihak perusahaan berkewajiban memberikan produk sesuai dengan
karakteristik yang dimaksud. Teori kontrak tentang tugas perusahaan kepada konsumen
didasarkan pada pandangan bahwa kontrak adalah sebuah perjanjian bebas yang mewajibkan
pihak-pihak terkait untuk melaksanakan isi persetujuan. Teori ini memberikan gambaran
bahwa perusahaan memiliki empat kewajiban moral utama: kewajiban dasar untuk mematuhi
isi perjanjian penjualan, dan kewajiban untuk memahami sifat produk , menghindari
misrepesentasi, dan menghindari penggunaan paksaan atau pengaruh . Dengan bertindak sesuai
kewajiban-kewajiban tersebut,perusahaan berartim menghormati hak konsumen untuk
diperlakukan sebagai individu yang bebas dan sederajat atau dengan kata lain,sesuai dengan

6
hak mereka untuk memperoleh perlakuan yang mereka setuju untuk dikenakan pada mereka.
Meskipun demikian, teori kontraktual mempunyai kelemahan diantaranya. Pertama, teori ini
secara tidak realistis mengasumsikan bahwa perusahaan melakukan perjanjian secara langsung
dengan konsumen. Kedua, teori ini difokuskan pada fakta bahwa sebuah kontrak sama dengan
bermata dua. Jika konsumen dengan sukarela setuju untuk membeli sebuah produk dengan
kualitas- kualitas tertentu , maka dia bisa setuju untuk membeli sebuah produk tanpa kualitas-
kualitas tersebut. Atau dengan kata lain, kebebasan kontrak memungkinkan perusahaan
dibebaskan dari kewajiban kontrak dengan secara eksplisit menyangkal bahwa produk yang
dijual bisa diandalkan,bisa diperbaiki, aman dan sebagainya.

Jadi, teori kontrak ini mengimplikasikan bahwa jika konsumen memiliki banyak
kesempatan untuk memeriksa produk, beserta pernyataan penolakan jaminan dan dengan
sukarela menyetujuinya, maka diasumsikan bertanggungjawab atas cacat atau kerusakan yang
disebutkan dalam pernyataan penolakan, serta semua karusakan yang mungkin terlewati saat
memeriksanya. Ketiga, asumsi penjual dan pembeli adalah sama dalam perjanjian penjualan.
Kedua belah pihak harus mengetahui apa yang mereka lakukan dan tidak ada yang memaksa .
Kenyataanya, pembeli dan penjual tidak sejajar/ setara seperti yang diasumsikan .Seorang
konsumen yang harus membeli ratusan jenis komoditas tidak bisa berharap mengetahui segala
sesuatu tentang semua produk tersebut seperti produsen yang khusus memproduksi produk.
Konsumen tidak memiliki keahlian ataupun waktu untuk memperoleh dan memproses
informasi untuk dipakai sebagai dasar membuat keputusan.

2. Pandangan teori Due care

Teori ini menerangkan tentang kewajiban perusahaan terhadap konsumen didasarkan


pada gagasan bahwa pembeli dan konsumen tidak saling sejajar dan bahwa kepentingan-
kepentingan konsumen sangat rentan terhadap tujuan-tujuan perusahaan yang dalam hal ini
memiliki pengetahuan dan keahlian yang tidak dimiliki konsumen. Karena produsen berada
dalam posisi yang lebih menguntungkan, mereka berkewajiban untuk menjamin bahwa
kepentingan –kepentingan konsumen tidak dirugikan oleh produk yang mereka tawarkan.
Pandangan due care ini juga menyatakan bahwa konsumen harus bergantung pada keahlian
produsen, maka produsen tidak hanya berkewajiban untuk memberikan produk yang sesuai
klaim yang dibuatnya, namun juga wajib berhati-hati untuk mencegah agar orang lain tidak
terluka oleh produk tersebut sekalipun perusahaan secara eksplisit menolak
pertanggungjawaban ini bila mereka gagal memberikan perhatian yang seharusnya bisa

7
dilakukan dan perlu dilakukan untuk mencegah agar oranglain tidak dirugikan oleh
penggunaan suatu produk. Adapun kelemahan yang didapat dari teori ini adalah tidak adanya
metode yang jelas untuk menentukan kapan seseorang atau produsen telah memberikan
perhatian yang memadai. Kemudian, asumsi bahwa produsen mampu menemukan resiko –
resiko yang muncul dalam penggunaan sebuah produk sebelum konsumen membeli dan
menggunakannya. Pada kenyataannya ,dalam masyarakat dengan inovasi teknologi yang
tinggi, produk-produk baru yang kerusakannya tidak bisa dideteksi sebelum dipakai selama
beberapa tahun dan akan terus disalurkan ke pasar. Ketiga, teori ini terlihat paternalistik , yang
menggambarkan bahwa produsen adalah pihak yang mengambil keputusan –keputusan penting
bagi konsumen , setidaknya dalm kaitannya dengan tingkat resiko yang layak diterima
konsumen.

3. Pandangan teori biaya sosial

Teori ini menegaskan bahwa produsen bertanggungjawab atas semua kekurangan


produk dan setiap kekurangan yang dialami konsumen dalam memakai poroduk tersebut. Teori
ini merupakan versi yang paling ekstrem dari semboyan “ caveat venditor” (hendaknya si
penjual berhati- hati). Walaupun teori ini menguntungkan untuk konsumen, rupanya sulit
mempertahankannya juga. Kritik yang dapat diungkapkannya sebagai berikut:

a. Teori biaya sosial tampaknya kurang adil, karena menganggap orang


bertanggungjawab atas hal – hal yang tidak diketahui atau tidak bisa dihindarkan
b. Membawa kerugian ekonomis, bila teori ini dipraktekkan , maka produsen terpaksa
harus mengambil asuransi terhadap kerugian dan biaya asuransi itu bisa menjadi
begitu tinggi, sehingga tidak terpikul lagi oleh banyak perusahaan.

Perangkat Hukum Indonesia

UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik


Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan,
keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih
barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar
dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar
dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau
penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau
tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya.

8
Di Indonesia, dasar hukum yang menjadikan seorang konsumen dapat mengajukan
perlindungan adalah:

 Undang Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), pasal 21 ayat (1), Pasal 21 ayat (1), Pasal
27 , dan Pasal 33.
 Undang Undang No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran
Negara Republik Indonesia tahun 1999 No. 42 Tambahan lembaran Negara Republik
Indonesia No. 3821
 Undang Undang No. 5 tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan
Usaha Usaha Tidak Sehat.
 Undang Undang No. 30 Tahun 1999 Tentang Arbritase dan Alternatif Penyelesian
Sengketa
 Peraturan Pemerintah No. 58 Tahun 2001 tentang Pembinaan Pengawasan dan
Penyelenggaraan Perlindungan Konsumen
 Surat Edaran Dirjen Perdagangan Dalam Negeri No. 235/DJPDN/VII/2001 Tentang
Penangan pengaduan konsumen yang ditujukan kepada Seluruh dinas Indag
Prop/Kab/Kota
 Surat Edaran Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri No. 795
/DJPDN/SE/12/2005 tentang Pedoman Pelayanan Pengaduan Konsumen

Hukum Perlindungan Konsumen

Adalah : “Keseluruhan asas-asas dan kaidah-kaidah hukum yang mengatur dan


melindungi konsumen dalam Hubungan dan masalahnya dengan para penyedia barang dan/
atau jasa konsumen”.

Jadi kesimpulan dari pengertian –pengertian diatas adalah :

Bahwa Hukum perlindungan Konsumen dibutuhkan apabila kondisi para pihak yang
mengadakan hubungan hukum atau yang bermasalah dalam keadaan yang tidak seimbang.

 Pasal 2 UU No. 8/ 1999, tentang Asas Perlindungan Konsumen :

“Perlindungan konsumen berdasarkan manfaat, keadilan, keseimbangan, keamanan dan


keselamatan konsumen, serta kepastian hukum”.

 Sedangkan Pasal 3 UU No. 8/ 1999, tentang Tujuan Perlindungan Konsumen :

Perlindungan Konsumen bertujuan :

9
1) meningkatkan kesadaran, kemampuan dan kemandirian konsumen untuk
melindungi diri;
2) mengangkat harkat dan martabat konsumen dengan cara menghindarkannya dari
akses negatif pemakai barang dan/ atau jasa;
3) meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam memilih, menentukan, dan
menuntut hak-haknya sebagai konsumen;
4) menciptakan sistem perlindungan konsumen yang mengandung unsur kepastian
hukum dan keterbukaan informasi serta akses untuk mendapatkan informasi;
5) menumbuhkan kesadaran pelaku usaha mengenai pentingnya perlindungan
konsumen sehingga tumbuh sikap yang jujur dan bertanggung jawab dalam
berusaha;
6) meningkatkan kualitas barang dan/ atau jasa yang menjamin kelangsungan usaha
produksi barang dan/ atau jasa, kesehatan , kenyamanan, keamanan, dan
keselamatan konsumen

2.2 Hubungan Produsen dan Konsumen

Produsen ialah orang yang menghasilkan barang atau jasa untuk keperluan konsumen.
Barang atau jasa yang dihasilkan produsen disebut produksi, sedangkan yang memakai barang
dan jasa disebut konsumen. Dalam ilmu ekonomi dapat dikelompokkan pada golongan besar
suatu rumah tangga yaitu golongan Rumah Tangga Konsumsi (RTK), dan golongan Rumah
Tangga Produksi (RTP).

Rumah Tangga Konsumsi ialah kelompok masyarakat yang memakai barang dan jasa,
baik secara perorangan, atau keluarga atau organisasi masyarakat. Tetapi kelompok rumah
tangga konsumsi ini juga merupakan kelompok yang memberikan beberapa faktor produksi:

a. Orang yang menyewakan tanah untuk keperluan perusahaan, pabrik, dan tempat
kedudukan perusahaan.
b. Orang yang menyerahkan tenaga kerja untuk bekerja pada suatu perusahaan atau
pabrik.
c. Orang yang menyertakan modal usaha untuk diusahakan.
d. Tenaga ahli dari masyarakat untuk perusahaan.

10
Sedangkan Rumah Tangga Produksi yang menerima faktor produksi (tanah, tenaga
kerja, modal, keahlian) dari masyarakat kemudian diolah dan diorganisir agar menghasilkan
barang dan jasa. Produksi (barang dan jasa) itu dijual pada masyarakat sehingga memperoleh
uang yang banyak dari hasil penjualan itu.

Akibatnya, antara konsumen dan produsen tidak bisa dipisahkan, artinya saling
mempengaruhi dan saling membutuhkan. Jika perusahaan menghasilkan suatu barang dan jasa
harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, kalau tidak, maka produksinya tidak akan laku
dijual. Namun, jika produsennya cukup pintar, mereka bahkan bisa menciptakan kebutuhan
konsumen tersebut dengan cara promosi dan iklan yang gencar. Sehingga kebutuhan konsumen
yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Cara tersebut disebut dengan inovasi, yaitu
menciptakan sesuatu yang belum ada atau menyempurnakan yang sudah ada sehingga
mempunyai fungsi yang lebih hebat lagi.

2.3 Gerakan Konsumen

Gerakan konsumen merupakan hal sangat penting dalam upaya riil mewujudkan
perlindungan konsumen dan keadilan dalam pasar. Pada prinsipnya sebuah gerakan konsumen
diawali dari kesadaran akan hak dan kewajiban konsumen. Pelanggaran dan tidak terpenuhinya
hak konsumen menjadi sumber utama bagi terjadinya permasalahan/sengketa konsumen.
Ketidakadilan bagi konsumen muncul dalam sengketa konsumen. Kesadaran akan kondisi
ketidakadilan tersebut menjadi salah satu penggerak bagi sebuah gerakan konsumen guna
mewujudkan keadilan pasar. Gerakan konsumen sendiri akan terwujud jika terbangun
solidaritas diantara konsumen. Untuk menuju sebuah kesadaran kritis dan tumbuhnya rasa
solidaritas tersebut memerlukan proses pendidikan yang terus menerus.

Untuk memperkenalkan gerakan konsumen tersebut, peserta diharapkan mampu


memahami makna dan tujuan dari gerakan konsumen. Beberapa cara untuk mengetahui dan
memahami gerakan konsumen antara lain dengan memahami istilah-istilah yang seringkali
rancu dan salah kaprah dalam penggunaannya (konsumerisme dengan konsumtivisme) dan
mengetahui sejarah gerakan konsumen di berbagai belahan dunia. Bahwa perlu dipahami juga
bagaimana gerakan konsumen telah pula dilakukan di negara lain mulai beberapa ratus tahun
yang lalu. Peserta diajak untuk semakin memiliki solidaritas dengan memahami pentingnya
sebuah pengorganisasian masyarakat.

11
2.4 Fungsi Iklan

Iklan merupakan sebuah proses untuk memberikan informasi mengenai sesuatu,


umumnya adalah produk-produk perusahaan, kepada masyarakat umum dengan menggunkan
media tertentu dan membutuhkan sejumlah biaya tertentu. Dewasa ini banyak sekali media
yang bisa digunakan untuk melakukan periklanan seperti televisi, radio, majalah, koran,
internet, website, blog, dan lainnya.

Pada umumnya kita menemukan dua pandangan berbeda mengenai fungsi iklan.
Keduanya menampilkan dua model iklan yang berbeda sesuai dengan fungsinya masing-
masing ,yaitu iklan sebagai pemberi informasi dan iklan sebagai pembentuk pendapat umum.

a. Iklan sebagai Pemberi Informasi

Pendapat pertama melihat iklan terutama sebagai pemberi informasi. Iklan merupakan
media untuk menyampaikan informasi yang sebenarnya kepada masyarakat tentang produk
yang akan atau sedang ditawarkan dalam pasar. Yang ditekankan di sini adalah bahwa iklan
berfungsi untuk membeberkan dan menggambarkan seluruh kenyataannya yang serinci
mungkin tentang suatu produk. Sasaran iklan adalah agar konsumen dapat mengetahui dengan
baik produk itu sehingga akhirnya memutuskan untuk membeli produk itu. Namun, apakah
dalam kenyataannya pembeli membeli produk tersebut atau tidak, itu merupakan sasaran paling
jauh. Sasaran dekat yang lebih mendesak adalah agar konsumen tahu tentang produk itu,
kegunaannya, kelebihannya, dan kemudahan-kemudahannya.

Dalam kaitan dengan itu, iklan sebagai pemberi informasi menyerahkan keputusan
untuk membeli kepada konsumen itu sendiri. Maka, iklan hanyalahmedia informasi yang netral
untuk membantu pembeli memutuskan secara tepat dalam membeli produk tertentu demi
memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena itu, iklan lalu mirip seperti brosur. Namun, ini tidak
berarti iklan yang informatif tampil secara tidak menarik. Kendati hanya sebagai informasi,
iklan dapat tetap dapat tampil menarik tanpa keinginan untuk memanipulasi masyarakat.

Sehubungan dengan iklan sebagai pemberi informasi yang benar kepada konsumen, ada
tiga pihak yang terlibat dan bertanggung jawab secara moral atas informasi yang disampaikan
sebuah iklan. Pertama, produsen yang memeiliki produk tersebut. Kedua, biro iklan yang
mengemas iklan dalam segala dimensi etisnya: etis, estetik, infomatif, dan sebagainya. Ketiga,
bintang iklan.

12
Dalam perkembangan di masa yang akan datang, iklan informatif akan lebih di gemari.
Karena, pertama, masyarakat semakin kritis dan tidak lagi mudah didohongi atau bahkan ditipu
oleh iklan-iklan yang tidak mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya. Kedua, masyarakat
sudah bosan bahkan muak dengan berbagai iklan hanya melebih-lebihkan suatu produk.
Ketiga, peran Lembaga Konsumen yang semakin gencar memberi informasi yang benar dan
akurat kepada konsumen menjadi tantangan serius bagi iklan.

b. Iklan sebagai pembentuk pendapat umum

Berbeda dengan fungsi iklan sebagai pemberi informasi, dalam wujudnya yang laik
iklan dilihat sebagai suatu cara untuk mempengaruhi pendapat umum masyarakat tentang
sebuah produk. Dalam hal ini fungsi iklan mirip dengan fungsi propaganda politik yang
berusaha mempengaruhi massa pemilih. Dengan kata lain, fungsi iklan adalah untuk menarik
massa konsumen untuk membeli produk itu. Caranya dengan menampilkan model iklan yang
manupulatif, persuasif, dan tendensius dengan maksud untuk menggiring konsumen untuk
membeli produk tersebut. Karena itu, model iklan ini juga disebut sebagai iklan manipulatif.

Secara etis, iklan manipulasi jelas dilarang karena iklan semacam itu benar-benar
memanipulasi manusia, dan segala aspek kehidupannya, sebagai alat demi tujuan tertentu di
luar diri manusia. Iklan persuasif sangat beragam sifatnya sehingga kadang-kadang sulit untuk
dinilai etis tidaknya iklan semacam itu. Bahkan batas antara manipulasi terang-terangan dan
persuasi kadang-kadang sulit ditentukan.

Untuk bisa membuat penilaian yang lebih memadai mengenai iklan persuasif, ada
baiknya kita bedakan dua macam persuasi: persuasi rasional dan persuasi non-rasional.
Persuasi rasional tetap mengahargai otonomi atau kebebasan individu dalam membeli sebuah
produk, sedangkan persuasi non-rasional tidak menghiraukan otonomi atau kebebasan
individu.

Suatu persuasi dianggap rasional sejauh daya persuasinya terletak pada isi argumen itu.
Persuasi rasional bersifat impersonal.ia tidak di hiraukan siapa sasaran dari argumen itu.yang
penting adalah isi argumen tepat.dalam kaitan dengan iklan,itu berati bahwa iklan yang
mengandalkan persuasi rasional lebih menekankan isi iklan yang mau disampaikan
.jadi,kebenaran iklan itulah yang ditonjolkan dan dengan demikian konsumen terdorong untuk
membeli produk tersebut.maka,iklan semacam itumemang berisi informasi yang benar,hanya
saja kebenaran informasi tersebut ditampilkan dalam wujud yang sedemikian menonjol dan

13
kuat sehingga konsumen terdorong untuk membelinya.dengan kata lain,persuasinya didasarkan
pada fakta yang bisa dipertanggung jawabkan.

Berbada dengan persuasi rassional, non-rasional umumnya hanya memanfaatkan aspek


(kelemahan) psikologis manusia untuk membuat konsumen bisa terpukau, tertarik, dan
terdorong untuk membeli produk yang diiklankan itu. Daya persuasinya tidak pada argumen
yang berifat rasional, melainkan pada cara penampilan. Maka, yang di pentingkan adalah kesan
yang ditampilkan dengan memanfaatkan efek suara (desahan), mimik, lampu, gerakan tubuh,
dan semacamnya. Juga logikaiklan tidak diperhatikan dengan baik.

Iklan yang menggunakan cara persuasi dianggap tidak etis kalau persuasi itu bersifat
non-rasional. Pertama, karena iklan semacam itu tidak mengatakan mengenai apa yang
sebenarnya, melainkan memanipulasi aspek psikologis manusia melalui penampilan iklan yang
menggiurkan dan penuh bujuk rayu. Kedua, karena iklan semacam ini merongrong kebebasan
memilih pada konsumen. Konsumen dipaksa dan didorong secara halus untuk mengikuti
kemauan pengiklan , bukan atas dasar pertimbangan yang rasional dan terbukti kebenaranya.

Menurut Terence A. Shimp yang merupakan seorang akademisi sekaligus praktisi


terkemuka asal Amerika Serikat yang sangat ahli dalam komunikasi pemasaran
mengemukakan bahwa periklanan memiliki fungsi penting, diantaranya:

1) Informing (memberikan informasi), memberikan pengetahuan kepada konsumen agar


mereka sadar akan produk perusahaan tersebut.
2) Persuading (mempersuasi), memberikan bujukan-bujukan kepada masyarakat umum
untuk mencoba produk yang diiklankan perusahaan.
3) Reminding (mengingatkan), memberikan stimulus-stimulus kepada masyarakat agar
senantiasa ingat terhadap produk yang diiklankan tersebut.
4) Adding Value (memberikan nilai tambah), iklan harus bisa memberikan nilai tambah
produk dan mempengaruhi persepsi konsumen (positif).
5) Assiting (mendampingi), salah satu fungsi utama dari iklan adalah mendampingi atau
manfasilitasi upaya-upaya perusahaan lainnya.

2.5 Persoalan Etis dalam Iklan

Ada beberapa persoalan etis yang ditimbulkan oleh iklan, khususnya iklan manipulative
dan iklan pesuasif non-rasional yaitu :

14
Pertama, iklan merong-rong otonomi dan kebebasan manusia. Iklan membuat manusia
tidak lagi dihargai kebebasannya dalam menentukan pilihannya untuk memperoleh produk
tertentu. Banyak pilihan dan pola konsumsi manusia modern sesungguhnya adalah pilihan
iklan. Manusia didikte oleh iklan dan tunduk kepada kemauan iklan, khususnya iklan
manipultive dan persuasive non rasional. Ini justru sangat bertentangan dengan inferati moral
Kant bahwa manusia tidak boleh diperlakukan hanya sebagai alat demi kepentingan lain diluar
dirinya. Manusia harus dihargai sebagai makhluk yang mampu menentukan pilihannya sendiri,
termasuk dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Pada fenomena iklan
manipulative, manusia benar-benar menjadi objek untuk mengeruk keuntungan sebesar-
besarnya dan tidak sekedar diberi informasi untuk membantunya memilih produk tertentu.

Kedua, dalam kaitan dengan itu iklan manipulative dan persuative non rasional
menciptakan kebutuhan manusia dengan akibat manusia modern menjadi konsumtif. Secara
ekonomis hal itu baik karena akan menciptakan permintaan dan ikut menaikkan daya beli
masyarakat.bahkan dapat memacu produktivitas kerja manusia hanya demi memenuhi
kebutuhn hidupnya yang terus bertambah dan meluas.namun dipihak lain muncul masyarakat
konsumtif, dimana banyak dari apa yang dianggp manusia sebagai kebutuhannya yang
sebenarnya bukan kebutuhan yang hakiki.

Ketiga, yang juga menjai persoalan etis yang serius adalah bahwa iklan manipulative
dan persuative non rasional malah membentuk dan menentukan identitas atau ciri dari manusia
modern. Manusia modern merasa belum menjadi dirinya kalau belum memiliki barang
sebagimana di tawarkan iklan, ia belum merasa diri penuh kalau belum memakai minyak
rambut seperti diiklankan bintang film terkenal dan seterusnya. Identitas manusia modern
hanyalah identitas misal : serba sama, serba tiruan, serba polesan dan serba instan. Manusia
mengkonsumsi produk yang sama, maka jadilah identitas manusia modern jadinya hanyalah
rancangan pihak tertentu di fabricated. Yang di pujapun lebih banyak kali adalah kesan luar,
polesan, kepura-puraan

Keempat, bagi masyarakat modern tingkat perbedaan ekonomi dan social yang tinggi
akan merong-rong rasa keadilan sosial masyarakat. Iklan yang menampilkan yang serba
mewah sangat ironis dengan kenyataan sosial, dimana banyak anggota masyarakat masih
berjuang sekedar hiup. Iklan yang mewah trampil seakan-akan tanpa punya rasa solidaritas
dengan sesama yang miskin

15
Kendati dalam kenyatan prakts sulit menilai secara umum etis tidaknya iklan tersebut, ada
baiknya kami paparkan beberapa prinsip yang kiranya perlu diperhatikan dalam iklan, yaitu.
Pertama, iklan tidak boleh menyampaikan informasi yang palsu dengan maksud untuk
memperdaya konsumen. Masyarakt dan konsumen tidak boleh diperdaya oleh iklan untuk
membeli produk tertentu. Mereka juga tidak boleh dirugikan hanya karena telah diperdaya oleh
iklan tertentu. Kedua, iklan wajib menyampaikan semua informasi tentang produk tertentu,
khususnya menyangkut keamanan dan keselamatan manusia. Ketiga, iklan tidak boleh
mengarah pada pemaksaan, khususnya secara kasar dan terang-terangan. Keempat, iklan tidak
boleh mengarah pada tindakan yang bertentangan dengan moralitas : tindak kekerasan,
penipuan, pelecehan seksual, diskriminasi, perendahan martabat manusia dan sebagainya.

2.6 Makna Etis Menipu dalam Iklan

Entah sebagai pemberi informasi atau sebagai pembentuk pendapat umum, iklan pada
akhirnya membentuk citra sebuah produk atau bahkan sebuah perusahaan di mata masyarakat.
Citra ini terbentuk bukan terutama karena bunyi atau penampilan iklan itu sendiri, melainkan
terutama terbentuk oleh kesesuaian antara kenyataan sebuah produk yang diiklankan dengan
apa yang disampaikan dalam iklan itu, entah secara tersurat ataupun tersirat. Karena itu, iklan
sering dimaksudkan sebagai media untuk mengungkapkan hakikat dan misi sebuah perusahaan
atau produk.

Iklan yang membuat pernyataan yang salah atau tidak benar oleh pembuat iklan dan
produsen barang tersebut, dengan maksud memperdaya atau mengecoh konsumen adalah
bentuk sebuah tipuan dan arena itu dinilai sebagai iklan yang tidak etis dan etika. Menurut kant,
menipu adalah memberi pernyataan yang salah secara sengaja dengan maksud memperdaya
orang lain diantaranya :

 Pernyataan yang sengaja dengan maksud memperdaya orang lain.


 Pernyataan yang salah itu berkaitan dengan janji pihak yang dituju untuk mengatakan
apa adanya.
 Pernyataan salah itu diberikan kepada orang yang berhak mengetahui kebenaran.

Prinsip etika bisnis yang paling relevan di sini adalah prinsip kejujuran, yakni
mengatakan hal yang benar dan tidak menipu. Prinsip ini tidak hanya menyangkut kepentingan

16
banyak orang, melainkan juga pada akhirnya menyangkut kepentingan perusahaan atau bisnis
seluruhnya sebagai sebuah profesi yang baik.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa iklan yang dan karena itu secara moral dikutuk
adalah iklan yang secara sengaja menyampaikan pernyataan yang tidak sesuai dengan
kenyataan dengan maksud menipu atau yang menampilkan pernyataan yang bisa menimbulkan
penafsiran yang keliru pada pihak konsumen yang sesungguhnya berhak mendapatkan
informasi yang benar apa adanya tentang produk yang ditawarkan dalam pasar. Dengan kata
lain, berdasarkan prinsip kejujuran, iklan yang baik dan diterima secara moral adalah iklan
yang mem beri pernyataan atau informasi yang benar sebagaimana adanya.

2.7 Kebebasan Konsumen

Setelah kita melihat fungsi iklan, masalah etis dalam iklan, dan makna etis dari menipu
dalam iklan, ada baiknya kita singgung sekilas mengenai peran iklan dalam ekonomi,
khususnya pasar. Iklan merupakan suatu aspek pemasaran yang penting, sebab iklan
menentukan hubungan antara produsen dan konsumen. Secara lebih konkrit, iklan menentukan
pula hubungan penawaran dan permintaan antara produsen dan pembeli, yang pada gilirannya
ikut pula menentukan harga barang yang dijual dalam pasar.

Kode etik periklananan tentu saja sangat diharapkan untuk membatasi pengaruh iklan
ini. Tetapi, perumusan kode etik ini harus melibatkan berbagai pihak: ahli etika, konsumen
(atau lembaga konsumen), ahli hukum, pengusaha, pemerintah, tokoh agama dan tokoh
masyarakat tertentu, tanpa harus berarti merampas kemandirian profesi periklanan. Yang juga
penting adalah bahwa profesi periklanan dan organisasi profesi periklanan perlu benar-benar
punya komitmen moral untuk mewujudkan iklan yang baik bagi masyarakat. Namun, kalau ini
pun tidak memadai, kita membutuhkan perangkat legal politis, dalam bentuk aturan perundang-
undangan tentang periklanan beserta sikap tegas tanpa kompromi dari pemerintah, melalui
departemen terkait, untuk menegakkan dan menjamin iklan yang baik bagi masyarakat.

17
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Pasar adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk melakukan transaksi jual
beli suatu barang maupun jasa. Pasar memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi distribusi, fungsi
pembentukan harga, dan fungsi promosi. Di dalam suatu pasar terdapat istilah produsen dan
konsumen, yang dimana produsen ialah orang yang menghasilkan barang atau jasa untuk
keperluan konsumen. Barang atau jasa yang dihasilkan produsen disebut produksi, sedangkan
yang memakai barang dan jasa disebut konsumen. Lalu Perlindungan konsumen merupakan
perangkat yang diciptakan untuk melindungi dan terpenuhinya hak sebagai contoh para penjual
diwajibkan menunjukkan tanda harga sebagai tanda pemberitahuan kepada konsumen. Dengan
kata lain, segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan
kepada konsumen.

Iklan merupakan sebuah proses untuk memberikan informasi mengenai sesuatu,


umumnya adalah produk-produk perusahaan, kepada masyarakat umum dengan menggunkan
media tertentu seperti televisi, radio, majalah, koran, internet, website, blog, dan lainnya. Iklan
memiliki 2 fungsi yaitu sebagai pemberi informasi dan sebagai pembentuk pendapat umum.
Dan di dalam periklanan kita tidak dapat lepas dari teori yang diterapkan, etika, hukum dan
undang-undang yang berlaku. Dimana didalam iklan itu sendiri mencakup pokok-pokok
bahasan yang menyangkut reaksi kritis masyarakat khususnya di Indonesia tentang sebuah
iklan yang dapat dipandang sebagai kasus etika dalam periklanan. Sebuah perusahaan harus
memperhatikan etika dan estetika dalam sebuah iklan dan terus memperhatikan hak-hak
konsumen dan apa yang akan didapat dengan adanya iklan tersebut. Maka demikian menjaga
etika dalam kegiatan periklanan ini sangatlah penting karena dengan terciptanya iklan-iklan
yang baik dan mendidik maka akan baik pula citra periklanan khususnya di Negara Indonesia
yang dengan penduduknya berasal dari berbagai suku dan bahasa.

18
3.2 Saran

Dalam bisnis periklanan perlulah adanya kontrol tepat yang dapat mengimbangi
kerawanan tersebut sehingga tidak merugikan konsumen. Sebuah perusahaan harus
memperhatikan kepentingan dan hak – hak konsumen, dan tidak hanya memikirkan
keuntungan semata.

19
DAFTAR PUSTAKA

NP, Andiantari. 2016. “Pasar dan Perlindungan Konsumen”,


https://andiantarinp.wordpress.com/2016/01/12/pasar-dan-perlindungan-konsumen/, diakses
pada 1 November 2017.

Kurniawan, Gatot. 2015. “Iklan dan Dimensi Etisnya”,


http://gatotbukankaca.weebly.com/etika-bisnis-4.html, diakses pada 1 November 2017.

Nugraha, Redho. 2016. ” Etika Bisnis Didalam Pasar Dan Perlindungan Konsumen”,
http://redho-nugraha.blogspot.co.id/2016/10/etika-bisnis-didalam-pasar-dan.html, diakses
pada 1 November 2017.

Suhartawan, Ari. 2013. “Etika Bisnis”,


http://arisuhartawan.blogspot.co.id/2013/11/kebebasan-konsumen-dalam-etika.html, diakses
pada 1 November 2017.