Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

DASA-DASAR PEMULIAAN TANAMAN


“sejarah perkembangan pemuliaan tanaman”

Oleh :

HERMANSYAH TONGASA
D1B1 12 055

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

JURUSAN AGROTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS HALU OLEO

2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pada mulanya kegiatan pemuliaan tanaman merupakan perpaduan seni

dan ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana memperbaiki genotipe

tanaman dalam populasi sehingga lebih bermanfaat bagi manusia. Pemuliaan

tanaman pada mulanya hanya didasarkan pada seni saja, yaitu pemilihan dalam

populasi tanaman didasarkan atas perasaan, keterampilan, kemampuan serta

petunjuk yang terlihat pada tanaman.

Tanaman yang terpilih selanjutnya dikembangbiakkan untuk dapat

memenuhi kebutuhan petani. Pemuliaan tanaman pada akhirnya dikembangkan

sebagai suatu teknologi yang merakit keragaman genetik menjadi suatu bentuk

yang lebih bermanfaat bagi manusia. Seleksi yang artinya memilih dilakukan

pada setiap tahap program pemuliaan, seperti: memilih plasma nutfah yang akan

dijadikan tetua, memilih metode pemuliaan yang tepat, memilih genotipe yang

akan diuji, memilih metode pengujian yang tepat, dan memilih galur yang akan

dilepas sebagai varietas.

Dijelaskan pula tentang tujuan pemuliaan tanaman, yang pada

perinsipnya adalah: merakit jenis baru yang berdaya hasil tinggi,

mengembangkan varietas yang lebih baik untuk lahan pertanian baru (seperti

lahan marginal), mengembangkan varietas baru yang tahan terhadap hama dan

penyakit, perbaikan kharakter agronomik dan hortikulturik tanaman, dan

peningkatan kualitas hasil tanaman.


B. Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka makalah yang

berjudul sejarah perkembangan pemuliaan Tanaman Rumusan masalah tersebut

dapat dijawab melalui pertanyaan pertanyaan sebagai berikut :

1. Apakah yang dimaksud dengan pemuliaan tanaman?

2. Bagaimanakah sejarah perkembangan pemuliaan tanaman itu?

C. Tujuan penulisan

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan,

tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Menjelaskan pengertian pemuliaan tanaman

2. Memahami sejarah perkembangan pemuliaan tanaman

D. Manfaat Penulisa

Harapan yang ingin dicapai dalam penulisan makalah ini adalah

bermanfaat, dan berguna sebagai :

1. Menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah perkembangan

pemuliaan tanaman

2. Hasil penyusunan makalah ini sebagai bahan referensi alternative


BAB II
PEMBAHASAN

1.1 Pengertian pemuliaan tanaman

Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu

maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan. Pemuliaan tanaman kadang-kadang

disamakan dengan penangkaran tanaman, kegiatan memelihara tanaman untuk

memperbanyak dan menjaga kemurnian; pada kenyataannya, kegiatan

penangkaran adalah sebagian dari pemuliaan. Selain melakukan penangkaran,

pemuliaan berusaha memperbaiki mutu genetik sehingga diperoleh tanaman yang

lebih bermanfaat.

Dan juga Kebutuhan akan pangan terus meningkat sejalan dengan

peningkatan penduduk di Indonesia maupun di dunia. Sejalan dengan itu

kebutuhan akan sandang, perumahan dan kebutuhan hidup lainnya, yang sebagian

dipenuhi dari kegiatan pertanian dalam arti luas, juga meningkat. Peningkatan

produksi merupakan upaya untuk dapat memenuhi kebutuhan pangan dan lain-

lain, dan salah satunya dengan menggunakan varietas unggul tanaman pertanian.

Perbaikan sifat-sifat tanaman akan menunjang peningkatan produktivitas tanaman.

Ilmu pemuliaan merupakan ilmu terapan dari ilmu genetika, dan bersama-sama

dengan ilmu-ilmu alam yang lain berkontribusi untuk menghasilkan varietas

unggul. Ilmu-ilmu lain tersebut diantaranya botani, fisiologi, penyakit, hama, dan

statistik.
1.2 sejarah perkembangan pemuliaan tanaman

Pemuliaan tanaman dimulai setelah berkembangnya kegiatan pertanian

oleh manusia primitif melalui gaya hidupnya dari memburu sampai menjadi

penghasil tanaman-tanaman dan hewan-hewan terpilih/terseleksi. Perubahan gaya

hidup dari pemburu menjadi produsen tidak terjadi mendadak tetapi melalui

proses dan waktu yang panjang. Mereka mengubah tanaman-tanaman yang hidup

bebas (termasuk tipe liar) menjadi tanaman yang dapat dibudidayakan, yang

dikenal sebagai varietas-varietas budidaya. Selama periode tersebut manusia

memburu, menemukan, menyeleksi dan menanam tanaman-tanaman terpilih.

Kegiatan ini merupakan teknik dasar pemuliaan tanaman yang disebut dengan

“seleksi”.

Adanya seni didalam membedakan variasi biologi dalam populasi untuk

mengidentifikasi dan menentukan varian-varian yang diinginkan. Seleksi

menunjukkan tergantung kepada adanya keragaman. Pada awal dari pemuliaan

tanaman, keragaman dimanfaatkan secara alamiah sehingga terbentuklah varian-

varian dan komoditas tanaman budidaya dari spesies kerabat liar. Varian adalah

bentuk yang berbeda dari individu-individu lainnya dalam populasi.

Perkembangan selanjutnya, seleksi didasarkan pada intuisi, pangalaman dan

keahlian para pelakunya. Bentuk seleksi tersebut dilakukan oleh para petani

dengan menyimpan benih-benih dari tanaman-tanaman yang kelihatan terbaik

untuk digunakan pada musim tanam berikutnya. Sekarang ini, teknik seleksi lebih

didasarkan pada ilmu pengetahuan khususnya genetika untuk membentuk proses

seleksi yang lebih tepat dan efisien.


1.3 Pemuliaan tanaman sebelum mendel

Para pemulia tanaman di masa lampau belum dapat membentuk varian-

varian baru tetapi tergentung pada yang sudah ada di alam. Akan tetapi, pemulia

tanaman moderen mampu membentuk varian-varian baru yang sebelumnya tidak

terjadi dalam populasi secara alamiah.

Berikut ini diuraikan ntentang tonggak-tonggak sejarah perkembangan

pemuliaan tanaman:

1). 700 sebelum Masehi; catatan purbakala menunjukkan bahwa bangsa

Assyrians dan Babylonia telah melakukan persilangan buatan pada tanaman

korma.

2). Tahun 1694; R.J. Camerarius (atau Rudolph Camerer) dari Jerman pertama

kali melaporkan reproduksi seksual pada tanaman. Melalui percobaannya, ia

menemukan bahwa serbuk sari dari bunga-bunga jantan sangat diperlukan untuk

terjadi pembuahan dan perkembangan biji pada tanaman betina.

3). Tahun 1769-1766; Joseph Koelreuter pertama kali memperkenalkan penelitian

secara sistimatik dengan menghibridisasi tanaman (persilangan tetua yang tidak

mirip secara genetik) dari sejumlah spesies tanaman.

4). Tahun 1717; Thomas Fairchild, seorang dari Inggris, melakukan suatu

persilangan antar spesies, yaitu antara Dianthus berbatus dengan D. caryophyllis.

5). Tahun 1716; seorang Amerika benama Cotton Mather mengamati pengaruh

tongkol jagung kuning yang tumbuh kemudian menghasilkan tongkol warna biru

atau merah dengan biji-biji juga berwarna biru dan merah. Hasil ini terjadi dari

penyerbukan silang secara alamiah.


6). Tahun 1707-1778; seorang ahli botani dari Swedia bernama Carolus Linnaeus

mengembangkan sistem klasifikasi binomial pada tanaman, yang sangat bernilai

dan digunakan saat ini.

7). Tahun 1856; Louis Leveque de Vilmorin, dari keluarga Vilmorin pengangkar

benih, mendirikan Institut Vilmorin Breeding di Prancis sebagai instituti pertama

yang berdedikasi pada bidang pemuliaan tanaman, dan juga menghasilkan

kultivar-kultivar baru. Dia menggunakan teknik pemuliaan, yang disebut Uji

Turunan (menanam turunan dari hasil suatu persilangan untuk tujuan evaluasi

genotipe-genotipe tetua) untuk meningkatkan kandungan gula dari bit gula

(sugarbeet) liar.

1.4 Pemuliaan Tanaman Masa Kini (setelah Mendel)

Pemuliaan tanaman modern tergantung pada dasar-dasar genetika yang

merupakan ilmu pewarisan sifat sebagaimana ditemukan oleh Gregor Mendel dan

dipublikasi tahun 1865. Digambarkan bagaimana faktor yang menentukan suatu

sifat yang spesifik diteruskan dari tetua ke generasi selanjutnya. Hasil kerja

Mendel ini ditemukan kembali tahun 1900, setelah dikonfirmasi oleh E. Von

Tschermak, C. Correns, dan H. de Vries. Hasil-hasil penelitian ini menjadi dasar

bagi genetika moderen. Studi Mendel melahirkan konsep gen, yaitu faktor yang

menyandikan sifat-sifat, dan diteruskan melalui proses seksual ke turunan. Hasil

percobaan Mendel diformulasikan sebagai aturan dasar pewarisan sifat menurun

yang disebut Hukum Mendel.

1). Tahun 1898; W.A. Orton, mengembangkan pemuliaan untuk ketahanan

terhadap penyakit, khususnya penyakit layu pada kapas


2). Tahun 1903; seorang ahli botani Denmark bernama Wilhelm Johannsen

menerapkan genetika pada pemuliaan dan mengembangkan teori galur murni

(pureline) pada tanaman buncis (bean). Hasil kerjanya menjadi dasar bagi para

peneliti lain tentang teknik seleksi yang digunakan untuk menghasilkan

keseragaman. Kultivar-kultivar hasil pemuliaan setelah melalui seleksi dari

turunan hasil persilangan sendiri (melalui selfing yang berulang) diperoleh galur-

galur dengan homozigositas tinggi.

3). Tahun 1904; G.H. Shull melakukan silang dalam (inbreeding) pada tanaman

jagung di New York dan menemukan adanya fenomena heterosis. Peneliti-peneliti

berikutnya menghasilkan jagung hibrida yang menunjukkan keberhasilan pada

tanaman menyerbuk silang. Vigor hibrida pada jagung ini selanjutnya

dimanfaatkan pada beberapa tanaman lain seperti sorghum, bawang sugarbeet,

tembakau dan bunga matahari.

4). Tahun 1919; D. F. Jones mengemukakan ide tentang persilangan tunggal

(single cross) yang selanjutnya diusulkan konsep persilangan ganda (double

cross), yang melibatkan suatu persilangan antara dua persilangan tunggal. Teknik

ini dilakukan untuk menghasilkan biji jagung hibrida komersial yang bernilai

secara ekonomi.

Penerapan genetika dalam perbaikan genetic tanaman mengalami

kesuksesan luar biasa beberapa tahun berikutnya. Perkembangan pesat pemuliaan

tanaman pada saat itu mendorong revolusi di bidang pertanian yang disebut

Revolusi Hijau.
5). Tahun 1970; N.E. Borlaug menerima hadiah Nobel karena kontribusinya bagi

produksi pangan dunia melalui pemuliaan tanaman dengan menghasilkan gandung

dengan hasil tinggi

6). Tahun 1962-1991; T.T. Chang, seorang pemulia padi yang bekerja pada

IRRI, suatu lembaga penelitian padi di Filipina, mengembangkan padi semi-kerdil

dengan daya hasil yang tinggi, yang meningkatkan hasil padi di Asia sebesar

42%.

7). Thaun 1940-an – 1990-an; Edgar E. Hartwig, seorang pemulia kedelai selama

setengah umurnya bekerja pada pemuliaan kedelai. Ia menghasilkan kedelai

berhasil tinggi dan tahan terhadap penyakit, nematoda dan serangga hama.

1.5 Penggunaan Teknologi untuk pemuliaan tanaman:

1). Tahun 1920-an; mutagenesis atau induksi mutasi menggunakan agen-agen

yang dapat menyebabkan mutasi (mutagenik), seperti radiasi dan bahan kimia,

menjadi suatu teknik untuk pemuliaan tanaman. Pada 1920-an para peneliti

menemukan bahwa radiasi dengan sinar-X meningkatkan variasi pada tanaman.

Pemuliaan mutasi dipercepat setelah Perang Dunia II, ketika para ilmuwan

melibatkan partikel nuklir (seperti alpha, protons dan gamma) sebagai mutagen

untuk meginduksi mutasi. Selanjutnya mutagenesis lebih sukses digunakan untuk

mengembangkan sejumlah varietas mutan.

2). Tahun 1944; ditemukan DNA sebagai bahan genetik. Para ilmuwan kemudian

mulai memahami dasar pewarisan secara molekuler. Alat molekuler

dikembangkan untuk menfasilitasi pemuliaan tanaman.


Sekarang para ilmuan tidak perlu melalui proses seksual untuk mentransfer

gen-gen dari satu tetua ke tetua lainnya. Saat ini gen-gen dapat ditransfer dari

suatu jenis organisme ke organisme lainnya. Teknologi baru itu disebut rekayasa

genetika. Kesuksesan antara lain meliputi pengembangkan ketahanan hama pada

komoditas pertanian seperti jagung, dengan memasukan gen yang berasal dari

bakteri Bacillus thuringiensis. Kultivar-kultvar yang mengandung gen-gen asing

dari organisme spesifik untuk ketahanan terhadap hama disebut sebagai kulivar Bt

(Bacilius thuringensis), berasal dari nama bakteri tersebut. Tanaman dari aplikasi

teknologi transfer gen asing secara umum disebut sebagai tanaman yang

direkayasa secara genetik atau genetically modified (GM) plants atau tanaman

transgenik.

Bangsa Assyrians dan Babylonian pada permulaan tahun 700 sebelum

masehi, telah melakukan persilangan buatan pada tanaman sejenis palem. Bangsa

Indian Amerika telah melakukan kegiatan pemuliaan tanaman jagung, jauh

sebelum Bangsa Kulit Putih datang ke Amerika.

1. Hooke (1635-1703), Grew (1641-1712) dan Malpighi (1628-1694) merupakan

pengguna mikrokup untuk pertama kali, dan merupakan pelopor penelitian

permulaan dari sel.

2. Millington (1676) mengemukakan fungsi tepung sari, sebagai organ kelamin

jantan.

3. Camerarius (1694) untuk pertama kali mendemontrasikan organ seks pada

tanaman.

4. Cotton Mather (1716) menemukan persilangan alami pada tanaman jagung.


5. Fairchild (1717), Joseph Koelreuter (1760-1766) dan Andrew Knight (1757-

1835) melakukan persilangan pada tanaman untuk memperoleh jenis hibrida.

6. Brown (1831) menemukan inti sel.

7. Schleiden dan Schwann (1838-1839) mengemukakan teori sel.

8. Remak dan Vircow (1858) memberikan ketegasan bahwa semua sel itu terjadi

karena adanya pembelahan dari sel sebelumnya.

9. Schweigger-Seidel (1865) dan La Vallette St. George (1865) menyatakan

bahwa sel kelamin (gamet) merupakan sebuah sel.

10. Newport (1854) Pringsheim (1856), dan Thuret (1857) mengemukankan

pertama kalinya istilah fertilisasi yaitu bersatunya gamet-gamet.

11. Charles Darwin (1858) mengemukakan teori Seleksi Alam dan Evolusi.

12. Gregor Mendel (1822-1884) mengumumkan hasil penelitian dengan kacang

polong, yaitu berupa penurunan sifat dari induk (parents) kepada anak-anaknya

(filials), dan dikenal sebagai Hukum Mendel. Tetapi hasil penelitian tersebut

belum diakui oleh para ilmuan pada saat tersebut.

13. Strasburger (1875) melaporkan gambaran inti sel secara lengkap.

14. Hertwig (1875) menegaskan bahwa gamet-gamet yang bersatu itu berasal dari

induknya masing-masing.

15. Hertwig (1875) dan Strasburger (1877), menegaskan bahwa inti sel (nucleus)

mempunyai peranan penting pada fertilisasi maupun pembelahan sel. Dengan

demikian terciptalah konsep epigenesis yang menegaskan bahwa setiap organisme

baru itu merupakan kreasi baru yang dihasilkan oleh pertumbuhan zigot.

16. Waldeyer (1877) mengemukakan istilah gamet dan kromosom.


17. Fleming (1882) pertama kali memberikan nama kromatin untuk bagian

kromosom yang mudah mengisap zat warna.

18. Hjalman Nilson (1890) mengembangkan varietas baru yang berasal dari

seleksi turunan tanaman menyerbuk sendiri, dengan cara tersebut pemulia

tanaman mulai menggunakan dasar ilmiah untuk pertama kali.

19. Hugo de Vries, Carl Correns dan Tschermak (1900) melakukan kembali

penelitian sama dengan yang dilakukan oleh Gregor Mendel, tetapi pada lokasi

yang berbeda. Hasil penelitian ketiga ilmuan tersebut, menunjukkan prinsip yang

sama dengan yang dihasilkan oleh Gregor Mendel. Sejak itu Hukum Mendel baru

diakui kebenarannya, dan sejak itu pula penelitian Genetika, Sitologi, dan

Pemuliaan Tanaman berkembang dengan pesat.

20 Bateson (1900), mengemukakan istilah allerlomorf, homosigot, dan filial.

21. Punnet dan Bateson (1902) menunjukkan adanya peristiwa linkage pada

organisme.

22. Shull (1904) mengembangkan galur inbrida pada tanaman jagung. Dan

mengusulkan istilah heterosis untuk ketegaran hibrida.

23. Haris (1912) mengusulkan penggunaan.Chi-square.

24. Winkler (1912) mengusulkan nama genoom untuk sepasang kromosom.

25. Edward East`dan Donald F. Jones (1918) mengembangkan varietas hibrida

untuk kepentingan para petani.

26. T.J. Jenkin (1919) mengembangkan varietas sintetis pada jagung.

27. Mishiyama (1929) meneliti lebih mendalam tentang sitogenetik tanaman

avena.
28. Dustin (1934) menemukan senyawa alkaloid Colchisin.

29. Love (1934), menerangkan rancangan percobaan dan sidik ragam.

30. Crik dan Watson (1953) menemukan molekul DNA sebagai penentu

pewariasan sifat pada organisme, dan dari sejak itu pula genetika moderen/

rekayasa genetika berkembang dengan pesat.

31. IRRI (1965) telah melepas varietas unggul padi dengan nama PB5 (IR5) dan

IR8 (PB8). Varietas ini berumur genjah, berdaun tegak, respon terhadap

pemupukan dan potensi produksi tinggi, dan mempunyai andil besar dalam

revolusi hijau (greenrevolution).


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari hasil pembahasan mengenai sejarah perkembangan pemuliaan

tanaman, maka dapat di ambil kesimpulan sbb:

1). Pemuliaan tanaman adalah kegiatan mengubah susunan genetik individu

maupun populasi tanaman untuk suatu tujuan.

2). Tujuan pemuliaan tanaman, yaitu pada perinsipnya adalah: merakit jenis baru

yang berdaya hasil tinggi, mengembangkan varietas yang lebih baik untuk lahan

pertanian baru (seperti lahan marginal), mengembangkan varietas baru yang tahan

terhadap hama dan penyakit, perbaikan kharakter agronomik dan hortikulturik

tanaman, dan peningkatan kualitas hasil tanaman.

3). Sejarah perkembangan pemuliaan tanaman Pemuliaan tanaman dimulai

setelah berkembangnya kegiatan pertanian oleh manusia primitif melalui gaya

hidupnya dari memburu sampai menjadi penghasil tanaman-tanaman dan hewan-

hewan terpilih/terseleksi.

4). Sejarah pemuliaan tanaman sebelum mendel, pemuliaan tanaman masa kini

(setelah mendel), penggunaan teknologi pemuliaan tanaman.

B. saran

Saya berharap semoga kedepanya kegiatan pemulian tanaman ini bisa

lebih di mengerti oleh semua pihak.


DAFTAR PUSTAKA

https://id.wikipedia.org/wiki/Pemuliaan_tanaman Diakses pada tanggal 25 Maret

2016

http://simonraharjo.blogspot.co.id/p/plant-breeding.html Diakses pada tanggal 25


Maret 2016
http://indrarevlis.blogspot.co.id/2013/12/pemuliaan-tanaman.html Diakses pada
tanggal 25 Maret 2016
Wayan Sudarka, Sang Made Sarwadana, I Gde Wijana, Ni Made Pradnyawati.
2009. Pemuliaan Tanaman. Program Studi Agronomi Jurusan Budidaya
Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Udayana.