Anda di halaman 1dari 19

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Pendidikan Profesi Keguruan
Yang diampu oleh Bapak Aang Yudho Prastowo, M.Pd

Oleh:

Aprilia Riski Tri 1886206063


Blitztara Ammar 1886206027
Charisma Putri W. 1886206017
Imada Dhea Kirana 1886206004
Linda Lusi Sapsuha 1886206053
Yulia Pratiwi A. 1886206043
M Sultonudin 18862060

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA BLITAR
Oktober 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya,
kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Program Pendidikan
Profesi Guru”.Makalah ini merupakan inovasi pembelajaran untuk memahami
secara mendalam dan semoga dapat berguna untuk pelajar pada umumnya.
Kami juga menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna,
oleh karena itu kami sangat membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun dan pada intinya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan agar
dimasa yang akan datang lebih baik lagi.
Dengan selesainya penyusunan makalah ini, maka kami mengucapkan
terimakasih sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. HM. Zainuddin. M.Pd., selaku rektor Universitas
Nahdlatul Ulama.
2. Bapak Puji Wianto, M.Pd selaku wakil rektor Universitas Nahdlatul
Ulama.
3. Bapak Aang Yudho Prastowo, M.Pd selaku dosen pengampu matakuliah
Pendidikan Pendidikan Keguruan.
Semoga dengan terbitnya makalah ini, bisa menambah pengetahuan dan
wawasan kita dalam mencari ilmu.

Blitar, Oktober 2019

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................ . iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... . 1

1.1 Latar Belakang ................................................................................................ . 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... . 1

1.3 Tujuan ............................................................................................................. . 1

BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... . 2

2.1 Menjelaskan Naskah Akademik PPPG ........................................................... . 2

2.2 Menjelaskan Materi Untuk Pembekalan Calon Guru .................................... . 10

BAB III PENUTUP ............................................................................................. . 14

3.1 KESIMPULAN ............................................................................................... . 14

3.2 SARAN ........................................................................................................... . 14

DAFTAR RUJUKAN.......................................................................................... . 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Guru merupakan jabatan profesional dan memberikan layanan ahli yang
menuntut persyaratan kemampuan yang secara akademik dan pedagogis maupun
secara professional dapat diterima oleh pihak di mana guru bertugas, baik
penerima jasa layanan secara langsung maupun pihak lain terhadap siapa guru
bertanggung jawab.
Guru sebagai penyandang jabatan profesional harus disiapkan melalui
program pendidikan yang relatif panjang dan dirancang berdasarkan standar
kompetensi guru. Oleh sebab itu diperlukan waktu dan keahlian untuk membekali
para lulusannya dengan kompetensi, yaitu penguasaan bidang studi, landasan
keilmuan dari kegiatan mendidik, maupun strategi menerapkannya secara
profesional di lapangan.Untuk mewujudkan program tersebut, diperlukan
lembaga pendidikan profesi guru (PPG) yang memenuhi syarat tertentu.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana naskah akademik PPPG?
2. Apa materi untuk pembekalan calon guru?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui naskah akademik PPPG
2. Untuk mengetahui apa saja materi pembekalan calon guru

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Naskah Akademik PPPG


Guru merupakan jabatan profesional dan memberikan layanan ahli yang
menuntut persyaratan kemampuan yang secara akademik dan pedagogis maupun
secara professional dapat diterima oleh pihak di mana guru bertugas, baik
penerima jasa layanan secara langsung maupun pihak lain terhadap siapa guru
bertanggung jawab.

Guru sebagai penyandang jabatan profesional harus disiapkan melalui


program pendidikan yang relatif panjang dan dirancang berdasarkan standar
kompetensi guru. Oleh sebab itu diperlukan waktu dan keahlian untuk
membekali para lulusannya dengan kompetensi, yaitu penguasaan bidang studi,
landasan keilmuan dari kegiatan mendidik, maupun strategi menerapkannya
secara profesional di lapangan. Untuk mewujudkan program tersebut, diperlukan
lembaga pendidikan profesi guru (PPG) yang memenuhi syarat tertentu. Naskah
akademik ini menjelaskan tentang pendidikan profesi guru yang disusun
berdasarkan sebagai berikut :

1. Landasan Filosofis
Pendidikan merupakan kegiatan menyiapkan masa depan suatu bangsa
yang bukan hanya harus bertahan agar tetap eksis, tetapi dalam berbagai
dimensi kehidupan pada tataran nasional maupun internasional dapat
mengambil peran secara bermartabat. Pada hakikatnya pendidikan
merupakan bantuan pendidik terhadap peserta didik dalam bentuk
bimbingan, arahan, pembelajaran, pemodelan, latihan, melalui penerapan
berbagai strategi pembelajaran yang mendidik.
2. Landasan Historis
Pendidikan guru di Indonesia telah mengalami sejarah yang
panjang.Tuntutan kualifikasi terus meningkat, sehingga berdampak pada
lamanya seseorang menempuh pendidikan persiapan menjadi guru.
Misalnya untuk menjadi guru Sekolah Desa 3 tahun adalah lulusan CVO
(Cursus voor Volk Onderwijs, 2 tahun sesudah SD), untuk menjadi guru
SD Nomor Dua (5 tahun) adalah lulusan Normal School (4 tahun sesudah
SD), untuk menjadi guru HIS (Sekolah Dasar Belanda untuk orang

2
Indonesia dengan bahasa pengantar Bahasa Belanda lamanya 7 tahun)
adalah lulusan HIK (6 tahun setelah HIS); dan lulusan Hoofdt Acte untuk
menjadi guru MULO (SMP). Setelah kemerdekaan, pemerintah
mendirikan Sekolah Guru B (4 tahun sesudah SD) untuk mendidik calon
guru SD, selanjutnya mulai tahun 1957 persyaratan tersebut meningkat
menjadi minimal lulusan SGA (3 tahun setelah SMP).
Pada pertengahan tahun 1960an SGB dilikuidasi dan SGA berubah
menjadi Sekolah Pendidikan Guru (SPG) yang mendidik calon guru SD.
Bagi guru yang belum memenuhi syarat diwajibkan mengikuti
pendidikan yang sederajat, yakni Kursus Pendidikan Guru (KPG). Tahun
1989 persyaratan untuk menjadi guru SD ditingkatkan lagi menjadi
minimal lulusan program Diploma II (2 tahun setelah SMA/SPG),
sedangkan SPG dilikuidasi dan perangkat sumber dayanya diintegrasikan
ke Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan atau LPTK (IKIP/FKIP
Universitas/STKIP)1. Sebelum tahun 1954 SGA dimaksudkan untuk
mendidik calon guru SLP dan kursus B1 (1 tahun sesudah SMA) dan B2
(2 tahun sesudah SMA) untuk menjadi guru SLTA.Untuk memenuhi
kebutuhan guru SMA juga diangkat lulusan Candidat 1 (C 1) dan
Candidat 2 (C2) universitas dalam bidang studi yang relevan.
Penyelenggaraan pendidikan guru di tingkat perguruan tinggi mulai
berlangsung sejak tahun 1954 dengan didirikannya Pendidikan Tinggi
Pendidikan Guru (PTPG) di Bandung, Malang, Batu Sangkar, dan
Tondano untuk mendidik calon guru SLTA. Pada tahun 1957 PTPG
bergabung ke universitas menjadi FKIP.Selanjutnya pada tahun 1963
FKIP tersebut berdiri sendiri menjadi Institut Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (IKIP) dan kursus B1 dan B2 dilebur masuk IKIP.Jumlah
IKIP kemudian bertambah menjadi 10 buah, di luar itu di setiap propinsi
yang tidak ada IKIP.berkembang FKIP di bawah universitas negeri.
IKIP/FKIP yang semula dimaksudkan mendidik guru SLTA kemudian
juga mendidik guru SLTP dengan menyelenggarakan crash program
PGSLP dengan beasiswa pada tahun 1970an di samping juga
menyelenggarakan PGSLA.
3. Landasan Yuridis
a. Pendidikan profesi merupakan pendidikan tinggi setelah program
sarjana yang mempersiapkan peserta didik untuk memiliki

3
pekerjaan dengan persyaratan keahlian khusus (Penjelasan Pasal 15
UU No.20/2003).
b. LPTK adalah perguruan tinggi yang diberi tugas oleh Pemerintah
untuk menyelenggarakan program pengadaan guru serta untuk
menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan
non kependidikan (UU No. 14/2005 Pasal 1 ayat (14)).
c. Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada
jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
d. Pendidik pada PAUD memiliki kualifikasi akademik sarjana (S1)
dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang anak usia dini,
kependidikan lain, atau psikologi, dan sertifikat profesi guru untuk
PAUD (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (1)). 5. Pendidik pada SD/MI
memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1) dengan latar
belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI,
kependidikan lain atau psikologi dan sertifikat profesi guru untuk
SD/MI (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (2)). 6. Pendidik pada
SMP/MTs memiliki kualifikasi akademik minimum sarjana (S1)
dengan latar belakang program studi yang sesuai dengan mata
pelajaran yang diajarkan, dan sertifikat profesi guru untuk
SMP/MTs (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (3)).
e. Pendidik pada SMA/MA memiliki kualifikasi akademik minimum
sarjana (S1) dengan latar belakang program studi yang sesuai
dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan sertifikat profesi guru
untuk SMA/MA (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (4)).
f. Pendidik pada SDLB memiliki kualifikasi akademik minimum
sarjana (S1) dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang
SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi, dan sertifikat profesi
guru untuk SDLB (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (5)).
g. Pendidik pada SMPLB/SMALB memiliki kualifikasi akademik
minimum sarjana (S1) dengan latar belakang program studi yang
sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan sertifikat profesi
guru untuk SMPLB/SMALB (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (5)).

4
h. Pendidik pada SMK/MAK memiliki kualifikasi akademik
minimum sarjana (S1) dengan latar belakang program studi yang
sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan, dan sertifikat profesi
guru untuk SMK/MAK (PP No. 19/2005 Pasal 29 ayat (6)).
4. Landasan Konseptual
Sosok utuh seorang lulusan program pendidikan profesi guru secara
generik tertuang dalam Standar Kompetensi Guru (Permen no. 16 tahun
2007). Kompetensi guru tersebut semula disusun secara utuh, namun
pada akhir proses peresmiannya menjadi peraturan menteri,
diklasifikasikan ke dalam 4 kategori kompetensi dengan judul seperti
tertera pada Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan. Kompetensi inti guru dijabarkan sebagai berikut:
Kompetensi Pedagogik
a. Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial,
kultural, emosional, dan intelektual.
b. Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang
mendidik.
c. Menguasai kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan
yang diampu.
d. Terampil melakukan kegiatan pengembangan yang mendidik
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
kepentingan penyelenggaraan kegiatan pengembangan yang
mendidik.
f. Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.
g. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta
didik.
h. Terampil melakukan penilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar.
i. Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan
pembelajaran.
j. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas
pembelajaran.

5
Kompetensi Kepribadian

a. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan


kebudayaan nasional Indonesia.
b. Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan
teladan bagi peserta didik dan masyarakat.
c. Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif,
dan berwibawa.
d. Menunjukkan etos kerja, tanggungjawab yang tinggi, rasa bangga
menjadi guru, dan rasa percaya diri.
e. Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.
Kompetensi Sosial
a. Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena
pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang
keluarga, dan status sosial ekonomi.
b. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama
pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
c. Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik
Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
d. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain
secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.
Kompetensi Profesional
a. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang
mendukung mata pelajaran yang diampu.
b. Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata
pelajaran/bidang pengembangan yang diampu.
c. Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.
d. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
melakukan tindakan reflektif.
e. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
berkomunikasi dan mengembangkan diri.
5. Kurikulum Pendidikan Profesi Guru
Sebagaimana dikemukakan pada landasan konseptual di depan dan
yang tertuang dalam Pasal 1 (13) PP No. 19/2005 tentang SNP,
kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
6
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan
pendidikan tertentu. Pasal 9 PP No. 19/2005 tentang SNP
mengemukakan bahwa kerangka dasar dan struktur kurikulum
pendidikan tinggi dikembangkan sendiri untuk setiap program studi.
Dengan demikian dalam penyusunan kurikulum PPG kompetensi yang
ingin dicapai dapat disederhanakan menjadi kompetensi akademik, dan
kompetensi profesional. Kompetensi akademik adalah seluruh bekal
yang bersifat basis keilmuan dari kegiatan mendidik yang akan
diaplikasikan secara otentik dalam melaksanakan tugas keprofesionalan
di lapangan.
Kompetensi profesional adalah seluruh kemampuan
mengaplikasikan prinsip-prinsip keilmuan dalam praktik nyata di sekolah
yang memiliki struktur, yang terdiri atas orientasi, latihan terbimbing,
latihan mandiri, mengatasi masalah-masalah belajar siswa, dan
berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan non mengajar yang terjadi di
sekolah. Sebelum menetapkan kurikulum yang akan diberlakukan untuk
PPG, perlu dianalisa terlebih dahulu apa saja kompetensi yang sudah
diperoleh mahasiswa lulusan S-1 kependidikan dan S-1/D-IV non
kependidikan. Analisis ini akan menentukan apa saja kegiatan
perkuliahan yang perlu ditambahkan untuk kedua program tersebut.
Tabel 1 : Analisis Kompetensi Lulusan S-1 Kependidikan
dan S-1/D-IV Non Kependidikan
No Kompetensi Lulusan S-1 Kependidikan Lulusan S-1/D- IV
Non Kependdidikan
1 Akademik Telah menguasai konsep Belum menguasai
dan landasan kependidikan konsep dan landasan
Telah memahami peserta kependidikan
didik secara baik Belum memahami
Telah menguasai bidang peserta didik
studi dan mampu Telah menguasi bidang
mengemas bidang studi studi tpi belum mampu
untuk pembelajaran mengemas bidang studi
Telah menguasai Belum menguasai
pengetahuan tentang pengetahuan tentang
pembelajaran dan segala pembelajaran dan

7
aspeknya segala aspeknya

2 Profesional Telah memiliki kemapuan Belum memiliki


merencanakan dan kemampuan
melaksanakan merencanakan dan
pembelajaran dengan melaksanakan
segala aspeknya walaupun pembelajaran karena
belum sempurna tidak diprogramkan
dalam
pembelajarannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa struktur kurikulum


Pendidikan Profesi Guru pasca S1 kependidikan meliputi:
a. Pemantapan dan pengemasan materi bidang studi untuk
pembelajaran bidang studi yang mendidik (subject specific pedagogy
atau pendidikan bidang studi)
b. PPL kependidikan.
Struktur Kurikulum Pendidikan Profesi Guru pasca S1/D-IV non
kependidikan meliputi:
1. Kajian tentang teori pendidikan dan pembelajaran
2. Kajian tentang peserta didik,
3. Pengemasan materi bidang studi untuk pembelajaran bidang studi
4. Pembentukan kompetensi kepribadian pendidik
5.Matakuliah Kependidikan dan PPL kependidikan.
Beban belajar mahasiswa program PPG untuk menjadi guru pada
satuan pendidikan ditentukan sebagai berikut:
1. TK/RA/TKKh2 atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar
belakang sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan
untuk TK/RA/TKKh atau bentuk lainyang sederajat adalah 18
(delapan belas) sampai dengan 20 (dua puluh) satuankredit
semester.
2. SD/MI/SDKh atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar
belakang sarjana (S-1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan
untuk SD/MI/SDKh atau bentuk lain yang sederajat adalah 18

8
(delapan belas) sampai dengan 20 (dua puluh) satuan kredit
semester.
3. TK/RA/TKKh atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar
belakangsarjana/diploma empat (D-IV) kependidikan selain
untuk TK/RA/TKKh atau bentuk lain yang sederajat adalah 36
(tiga puluh enam) sampai dengan 40 (empat puluh) satuan kredit
semester.
4. SD/MI/SDKh atau bentuk lain yang sederajat yang berlatar
belakang
sarjana/diploma empat (D-IV) kependidikan selain untuk
SD/MI/SDKh atau bentuk lain yang sederajat adalah 36 (tiga
puluh enam) sampai dengan 40 (empat puluh) satuan kredit
semester.
5. TK/RA/TKKh atau bentuk lain yang sederajat dan pada satuan
pendidikan SD/MI/SDKh atau bentuk lain yang sederajat yang
berlatar belakang sarjana psikologi (S-1) adalah 36 (tiga puluh
enam) sampai dengan 40 (empat puluh) satuan kredit semester.
6. SMP/MTs/SMPKh atau bentuk lain yang sederajat dan satuan
pendidikan SMA/MA/SMAKh/SMK/MAK atau bentuk lain yang
sederajat, baik yang berlatar belakang sarjana (S-1) atau diploma
empat (D-IV) kependidikan maupun sarjana (S-1) atau diploma
empat (D-IV) nonkependidikan adalah 36 (tiga puluh enam)
sampai dengan 40 (empat puluh) satuan kredit semester.
Selanjutnya dalam mengembangkan kurikulum program pendidikan
profesi guru paling tidak harus mengacu pada :
1. Kompetensi yang berimplikasi kepada perancangan, pelaksanaan.
2. Berorientasi pada pengembangan yang lebih ditekankan pada aspek
pengembangan keterampilan yang kontekstual dengan profesi guru.
3. Pentingnya keterlibatan pihak-pihak pemangku kepentingan
(stakeholders), antara lain asosiasi profesi program studi dan pengguna
lulusan, dalam keseluruhan proses pengembangan kurikulum.

9
2.2 Materi Untuk Pembekalan Calon Guru
2.2.1 Pengembangan Kompetensi Pendidik Dan Tenaga Kependidikan
Orstein dan Levine (1984) menegaskan bahwa pada dasarnya pekerjaan
mengajar dapat dikatagorikan ke dalam tiga, yaitu mengajar merupakan
semiprofession, emerging profession, dan full profession. Pertama, mengajar
dikatakan semi-professional, ketika mengajar ituhanya dapat dilakukan melalui
pelatihan dalam jangka pendek, bahkan mengajar dapat terjadi oleh siapapun
yang mengaku pernah diajar, karena itu mengajar cukup meniru saja tanpa
latihan yang memadai.
Kedua, mengajar dikatakan emerging profession, ketika mengajar di satu sisi
dikatakan suatu suatu profesi, di sisi lain dikatakan bukan suatu profesi, bahkan
bisa masuk katagori ambivalen. Di samping itu perlu diperjelas bahwa mengajar
merupakan suatu pekerjaan yang menuntut penyesuaian yang terus menerus,
sering dengan perubahan tuntutan masyarakat yang terus berkembang. Akhirnya,
mengajar dikatakan sebagai fullprofession, karena mengajar menuntut sejumlah
karakteristik, di antaranya sebagai berikut.
a. Rasa melayani masyarakat: suatu komitmen sepanjang waktu terhadap
karir.
b. Pengetahuan dan keterampilannya berada di atas kemampuan orang pada
umumnya.
c. Aplikasi riset dan teori terhadap praktek (berkenaan dengan problem
kemanusiaan).
d. Membutuhkan waktu yang panjang untuk latihan spesialisasi.
e. Adanya kontrol terhadap strandar lisensi dan persyaratan masuk.
f. Otonomi dalam membuat keputusan tentang bidang kerja pilihan.
g. Suatu penerimaan tanggung jawab terhadap penilaian yang dibuat dan
tindakan yang dipertunjukkan berkaitan dengan layanan yang diberikan
berupa seperangkat standar penampilan.
h. Komitmen terhadap kerja dan klien yang diindikasikan dengan
penekanan pada layanan yang diberikan.
i. Penggunaan administrator untuk menfasilitasi kerja profesional, sehingga
ada kebebasan yang relatif dari perlakuan supervisi.
j. Organisasi bersifat otonom dan terdiri atas anggota-anggota profesi.
k. Adanya Asosiasi Profesi dan kelompok elit yang memberikan
penghargaan terhadap prestasi individual.

10
l. Adanya kode etik yang membantu untuk mengklarifikasi masalah-
masalah atau hal-hal yang meragukan berkaitan dengan layanan yang
diberikan.
m. Tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap para praktisi secara
individual.
n. Prestise dan penghargaan ekonomik yang tinggi.
Di antara karakteristik-karakteristik di atas yang dipandang sangat penting
adalah:
a. Pengetahuan dan keterampilannya di atas kemampuan orang pada
umumnya,
b. Adanya kontrol terhadap standar lisensi dan persyaratan masuk menjadi
guru,
c. Otonomi dalam membuat keputusan tentang bidang kerja pilihan, dan
d. Prestise dan penghargaan ekonomik yang tinggi.
Jika memperhatikan beberapa karakteristik profesional dari suatu profesi
guru, maka dapat dimaklumi bahwa guru sebagai profesi harus didukung oleh
beberapa kompetensi. Broudy (Hager, 1993) menyatakan, the CBTE approach
mendefiniskan bahwa:
Definisi tersebut memperkuat keyakinan bahwa kompetensi pada hakekatnya
dapat diraih lebih baik melalui kegiatan praktis (pelatihan kompetensi) daripada
melalui kegiatan perkuliahan yang bersifat konvensional.Kompetensi juga dapat
dipahami sebagamana yang dinyatakan pada UU No.14 Tahun 2005 tentang
Guru dan Dosen bahwa Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru
dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Dengan demikian kompetensi pada
hakekatnya terdiri atas aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif.
2.2.2 Tuntutan Kompetensi Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Lebih khususnya berkenaan dengan kompetensi guru, pada RPP Guru, pasal 4
ayat (2) dinyatakan bahwa kompetensi guru terdiri atas empat komponen, yaitu
kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan
kompetensi personal.
Selanjutnya pada RPP Guru pada pasal 4 ada lima ayat (ayat (3) sd (7) yang
terkait dengan kompetensi guru. Secara rinci dapat uraikan sebagai berikut. Pada
pasal 4 ayat (3) dinyatakan bahwa kompetensi guru sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) bersifat holistik. Sedangkan ayat (4) menjelaskan bahwa Kompetensi

11
pedagogik sebagaimana dimaksud padaayat (2) merupakan kemampuan guru
dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya
meliputi:
a. pemahaman wawasan atau landasan kependidikan;
b. pemahaman terhadap peserta didik;
c. pengembangan kurikulum/silabus;
d. perancangan pembelajaran;
e. pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
f. pemanfaatan teknologi pembelajaran;
g. evaluasi hasil belajar; dan
h. pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi
yang dimilikinya.
Ayat (5) menegaskan bahwa Kompetensi kepribadian sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) sekurang-kurangnya mencakup kepribadian yang:
a. mantap;
b. stabil;
c. dewasa;
d. arif dan bijaksana;
e. berwibawa;
f. berakhlak mulia;
g. menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat;
h. secara obyektif mengevaluasi kinerja sendiri; dan
i. mengembangkan diri secara mandiri dan berkelanjutan.
Ayat (6) menegaskan pula bahwa kompetensi sosial sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat yang
sekurang-kurangnya meliputi kompetensi untuk:
a. berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat;
b. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; dan
c. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik
d. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
Mengingat orientasi makalah ini untuk calon guru, maka kompetensi yang
dirumuskan baru untuk profesi guru. Demikian juga, pembahasan ini belum
diorientasikan untuk profesi tenaga kependidikan, karena hingga kini belum ada
peraturan perundang-undanganyang menjadi dasar pijakan kompetensi tenaga

12
kependidikan, sebagaimana yang kompetensi pendidik, khususnya guru dan
dosen.
2.2.3 Upaya pengembangan kompetensi
Ada beberapa tahap pengembangan profesional pendidik, terutama guru yang di
antaranya sebagai berikut:
1. Fase persiapan awal.
Pada fase ini pelatihan yang diterima sebagai seorang calon guru adalah
sejumlah pengalaman, baik terkait dengan aktivitas di dalam atau di luar
kelas.
2. Fase induksi.
Pada fase ini, merupakan tahun pertama mengajar yang dimulai dengan
proses mensintesakan berbagai kewajiban yang dikehendaki oleh program
pendidikan terkait.
3. Fase pengembangan berkelanjutan.
Pada fase ini pembimbing berpartisipasi dalam kesempatan-kesempatan
pertumbuhan profesional di awal-awal tahunnya yang mampu mempertajam
keterampilannya dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
menemui kelompok setingkatnya serta mengembangkan rencana untuk tahun-
tahun berikutnya.
4. Fase pembaharuan.
Selama setiap fase, pembimbing mampu berpartisipasi dalam kegiatan-
kegiatan yang dapat berperan untuk memperbaharui kegiatannya baik secara
personal maupun profesional. Pembaharun dapat mengarahkan kepada
seorang profesional yang bermotivasi tinggi dan terlatih, sehingga dapat
memenuhi tuntutan pekerjaannya.
5. Fase rekrutmen dan seleksi.
Instruktur dan pembimbing bekerja dengan berbagai pihak yang terkait
dengan pekerjaan guru dalam mengembangkan program rekrutmen, sehingga
secara tidak langsung dapat membantu calon guru untuk menyiapkan diri
dalam proses rekrutmen. Mahasiswa didorong untuk mengejar pilihan
karirnya, sehingga pada akhirnya mereka bisa menampilkan diri secara
optimal.

13
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Guru merupakan jabatan profesional dan memberikan layanan ahli yang
menuntut persyaratan kemampuan yang secara akademik dan pedagogis maupun
secara professional dapat diterima oleh pihak di mana guru bertugas, baik
penerima jasa layanan secara langsung maupun pihak lain terhadap siapa guru
bertanggung jawab. Guru sebagai penyandang jabatan profesional harus
disiapkan melalui program pendidikan yang relatif panjang dan dirancang
berdasarkan standar kompetensi guru.

3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini penulis mengharapkan apabila ada kesalahan
dalam penulisan agar memberi tahu penulis. Karena segala kekurangan datang dari
kita dan kebenaran dari Allah SWT.

14
DAFTAR RUJUKAN

/sdcard/Download/Draft-Naskah-Akademik-PPG.pdf
http://lppmp.uny.ac.id/files/Materi%2520Pembekalan%2520PPL.pdf

15