Anda di halaman 1dari 48

TELAAH JURNAL KEPERAWATAN ANAK

“Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif terhadap Kejadian Pneumonia Balita


di Jawa Timur”

PROFESI KEPERAWATAN ANAK

OLEH

KELOMPOK M’19
Anggi Suganda,Skep
Tiara Linalti,S.Kep
Yusnita Angraini,S.Kep
Adila Yuliani,S.Kep
Rika Syubri Dewi,S.Kep
Yolanda Septina Fajri,S.Kep
Silvia Audia Putri,S.Kep
Yolly Risna Vonika,S.Kep
Meina Mustika Sari,S.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ANDALAS
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang maha pengasih dan maha

penyayang yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita sehingga kelompok dapat

menyelesaikan telaah jurnal yang berjudul “Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif terhadap

Kejadian Pneumonia Balita di Jawa Timur “

Telaah jurnal ini dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Anak serta

memperluas pengetahuan kelompok. Dalam penulisan telaah jurnal ini kelompok

menyampaikan terima kasih kepada dosen pembimbing dan pembimbing klinik yang telah

memberikan waktu, pikiran, bimbingan dan pengarahan pada mata kuliah Keperawatan Anak

ini. Telaah jurnal ini bersumber pada buku-buku ilmu pengetahuan dan jurnal yang berkaitan

dengan mata kuliah Keperawatan Anak.

Kelompok berharap semoga telaah jurnal ini dapat berguna bagi ilmu pengetahuan

dan bermanfaat bagi kita semua. Kelompok mengharapkan saran-saran untuk perbaikan dan

penyempurnaan makalah ini.

Padang, Juni 2019

Kelompok M’19
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang........................................................................................1
B. Rumusan masalah...................................................................................3
C. Tujuan......................................................................................................3
D. Manfaat Penulisan...................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Pneumonia………….................................................................5
B. Konsep Asi Eksklusif............................................................................13
BAB III TELAAH JURNAL
A. Telaah Penulisan.....................................................................................27
1. Judul Jurnal............................................................................................27
2. Abstrak...................................................................................................28
3. Pendahuluan...........................................................................................29
4. Latar Belakang.......................................................................................27
5. Studi Literatur........................................................................................31
6. Kerangka Konsep dan Hipotesis............................................................31
7. Metodologi ............................................................................................31
8. Populasi dan Sampel..............................................................................32
9 Instrument...............................................................................................32
10. Data Analisa….....................................................................................32
11.Hasil Pembahasan.................................................................................33
12. Kesimpulan..........................................................................................33
13. Implikasi...............................................................................................34
14. Daftar Pustaka......................................................................................34
B. Telaah Konten............................................................................................35
1. Pendahuluan..........................................................................................36
2. Metode Penelitian..................................................................................37
3.Hsil Penelitian.........................................................................................37
4. Pembahasan...........................................................................................38
5. Kesimpulan............................................................................................42
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan..........................................................................................43
B. saran.....................................................................................................43
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................48
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar pada anak di seluruh dunia.


Sebanyak 920.136 anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat pneumonia pada
tahun 2015. Pneumonia menyumbang sekitar 16 persen dari 5,6 juta kematian balita,
memakan korban sekitar 880.000 anak pada tahun 2016 (UNICEF, 2016).
Berdasarkan data pada Profil Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa jumlah
penemuan balita yang menderita pneumonia sebesar 568.146 balita. Provinsi yang
menduduki 3 teratas penemuan kasus pneumonia balita yaitu Jawa Barat (174.612
balita), Jawa Timur (93.279 balita), dan Jawa Tengah (59.650). Angka kematian
akibat pneumonia pada balita tahun 2016 sebesar 0,11% sedangkan tahun 2015
sebesar 0,16%. Provinsi dengan angka kematian balita akibat pneumonia tertinggi
adalah Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Kabupaten/kota di Jawa Timur
dengan penderita pneumonia tertinggi adalah Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Jember,
dan Kabupaten Gresik. Mortalitas akibat pneumonia pada anakanak sangat terkait
dengan faktor kemiskinan, seperti kekurangan gizi, kurangnya air bersih dan sanitasi,
polusi udara dalam ruangan dan akses yang tidak memadai ke perawatan kesehatan
(Kemenkes RI, 2017).
Upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi jumlah kematian akibat
pneumonia yakni melalui cakupan penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin
di pelayanan kesehatan. Pengendalian penyakit pneumonia memiliki kendala
diantaranya adalah penemuan kasus tersebut masih sangat rendah karena
pengendalian penyakit pneumonia bukan program prioritas di beberapa daerah.
Kendala tersebut dapat disebabkan karena anggaran untuk pneumonia jumlahnya
tidak memadai (Kemenkes RI, 2017). Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan
dalam lingkup penemuan pneumonia di atas 50% terlepas dari fakta bahwa itu belum
mencapai target nasional yang telah diputuskan. Target cakupan penemuan
pneumonia tahun 2016 ditetapkan sebesar 70% dengan ruang lingkup rujukan
pneumonia pada tahun 2016 sebesar 79,61% (Dinkesprov Jawa Timur, 2017).
WHO (2013) menyatakan perang melawan kematian akibat pneumonia pada
anak-anak bergantung pada triad pencegahan, perlindungan, dan pengobatan yang
ditata dalam Global Action Plan for the Prevention and Control of Pneumonia and
Diarrhoea (GAPPD). GAPPD menyediakan fondasi untuk menjaga anak-anak sehat
dan bebas dari penyakit yaitu dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
pertama ketika bayi dilahirkan (tanpa makanan tambahan atau cairan, termasuk air),
pemberian makanan pelengkap yang memadai dan menyusui terus menerus, serta
memberi suplemen vitamin A. Pemberian ASI eksklusif dapat melindungi bayi dari
penyakit dan menjamin mereka mendapatkan sumber makanan yang aman, bersih,
mudah didapatkan, dan disesuaikan secara sempurna dengan kebutuhan bayi.
Hampir sepertiga dari semua infeksi saluran pernapasan dapat dicegah dengan
meningkatkan pemberian ASI di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pemberian makanan pelengkap yang memadai dan menyusui bayi secara berkala
dapat mengakibatkan bayi memperoleh zat gizi yang cukup, sehingga sistem
kekebalan tubuh menjadi kuat dan memberikan perlindungan dari penyakit. Makanan
pendamping ASI yang sesuai pada balita berusia 6 bulan hingga 2 tahun dapat
mengurangi kematian yang disebabkan oleh pneumonia. Suplemen vitamin A dosis
tinggi pada anak dapat membantu menjaga sistem kekebalantubuh agar lebih kuat dan
dapat mengurangi semua penyebab kematian. (WHO & UNICEF, 2013). PP No. 33
tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif menganjurkan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan menyiratkan bahwa pemberian ASI selama 6 bulan tanpa didampingi
makanan atau minuman lain. Memberikan makanan atau minuman tambahan dapat
meningkatkan peluang masuknya bakteri patogen. ASI dapat memberikan semua
kebutuhan tubuh bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif
menurunkan angka kematian bayi baru lahir yang disebabkan oleh infeksi penyakit
yang umumnya mempengaruhhi anak-anak, seperti pneumonia. (Pemerintah Republik
Indonesia, 2012).
Ceria (2016) menyatakan bahwa kejadian pneumonia pada balita berkaitan
dengan factor yang melekat pada balita, yaitu status gizi, pemberian ASI secara
eksklusif, dan berat badan lahir. Rasyid (2013) menyatakan bahwa variable yang
memiliki hubungan timbal balik terhadap terjadinya pneumonia pada anak balita
adalah pengetahuan ibu, jenis kelamin anak balita, keadaan gizi anak balita, mata
pencaharian ibu, sokongan ASI eksklusif, dan pengimunan anak balita. Nur &
Marissa (2014) menyatakan bahwa riwayat menyusui pada dasarnya terkait dengan
tingkat penyakit infeksi pada balita. Balita yang disusui sampai usia 21 bulan
memiliki bahaya yang lebih besar tertular penyakit infeksi daripada 24 bulan. Balita
dengan ASI non-eksklusif mempunyai bahaya yang lebih besar menderita penyakit
infeksi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :

Bagaimana pengaruh pemberian asi ekslusif terhadap kejadian pneumonia pada balita

di jawa timur

C. Tujuan Penulisan

1. Tujuan umum

Telaah jurnal ini berfungsi untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI Ekslusif

terhadap Kejadian Pneumonia Balita di Jawa Timur

2. Tujuan khusus

a. Mengetahui telaah penulisan jurnal pengaruh emberian ASI Ekslusif terhadap

Kejadian Pneumonia Balita di Jawa Timur

b. Mengetahui telaah konten jurnal dan implikasinya bagi keperawatan.

D. Manfaat Penulisan

a. Bagi kelompok

Sebagai bahan pembelajaran mahasiswa dalam menelaah jurnal, mengetahui tata

cara penulisan jurnal yang benar, dan mendapatkan pengetahuan baru mengenai

keperawatan.

b. Bagi pasien

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dan dapat diterapkan oleh

perawat dalam merawat pasien pneumonia


c. Bagi RSUP Dr. M. Djamil Padang

Hasil penelitian yang diperoleh diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi bagi

rumah sakit dan dapat dipertimbangkan sebagai salah satu intervensi untuk pengaruh

pemberian asi ekslusif terhadap kejadian pneumonia

d. Bagi Fakultas Keperawatan Universitas Andalas

Hasil penelitian diharapkan meningkatkan wawasan mahasiswa profesi ners tentang

informasi terbaru mengenai pengaruh pemberian asi ekslusif terhadap kejadian

pneumonia
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Pneumonia
1. Definisi
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru
(alveoli) biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh
gejala klinis batuk, demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan
dinding dada bagian bawah ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan
Penyakit ISPA (P2ISPA) semua bentuk pneumonia baik pneumonia maupun
bronchopneumonia disebut pneumonia.
Pneumonia merupakan penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas
cepat. Napas sesak ditandai dengan dinding dada bawah tertarik ke dalam,
sedangkan napas cepat diketahui dengan menghitung tarikan napas dalam satu
menit. Untuk balita umur 2 tahun sampai 5 tahun tarikan napasnya 40 kali atau
lebih dalam satu menit, balita umur 2 bulan sampai 2 tahun tarikan napasnya 50
kali atau lebih per menit, dan umur kurang dari 2 bulan tarikan napasnya 60 kali
atau lebih per menit.

2. Etiologi
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh
bakteri, virus, mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan
protozoa.
1) Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai
usia lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah
Streptococcus pneumoniae sudah ada di kerongkongan manusia sehat. Begitu
pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri segera
memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi
pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut
jantungnya meningkat cepat.
2) Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus
yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV).
Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas,
pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya
sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.
Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat
dan kadang menyebabkan kematian.
3) Mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit
pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun
bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan
biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis
usia, tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian
sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
4) Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia
pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia
(PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur.
Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa
bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan
jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari
paru.

3. Klasifikasi
1) Batuk bukan pneumonia
Batuk dan nafas tidak cepat
2) Pneumonia
Tanda dan gejalanya :
a) Batuk
b) Pilek
c) Nafas cepat, apabila :
 < 2 bulan yaitu 60 atau lebih per menit
 2 bulan – < 12 bulan yaitu 50 atau lebih per menit
 12 bulan – < 5 tahun yaitu 40 kali lebih per menit
3) Pneumonia berat
Tanda dan gejalanya yaitu :
a) Batuk
b) Pilek
c) Adanya tarikan dinding dada ke dalam
d) Nafas cepat, apabila :
 < 2 bulan yaitu 60 atau lebih per menit
 2 bulan – < 12 bulan yaitu 50 atau lebih per menit
 12 bulan – < 5 tahun yaitu 40 kali lebih per menit
.

4. Patofisiologi
Pneumonia bakterial menyerang baik ventilasi maupun difusi. Suatu reaksi
inflamasi yang dilakukan oleh pneumokokus terjadi pada alveoli dan
menghasilkan eksudat, yang mengganggu gerakan dan difusi oksigen serta karbon
dioksida. Sel-sel darah putih, kebanyakan neutrofil, juga bermigrasi ke dalam
alveoli dan memenuhi ruang yang biasanya mengandung udara. Area paru tidak
mendapat ventilasi yang cukup karena sekresi, edema mukosa, dan bronkospasme,
menyebabkan oklusi parsial bronki atau alveoli dengan mengakibatkan penurunan
tahanan oksigen alveolar. Darah vena yang memasuki paru-paru lewat melalui
area yang kurang terventilasi dan keluar ke sisi kiri jantung tanpa mengalami
oksigenasi. Pada pokoknya, darah terpirau dari sisi kanan ke sisi kiri jantung.
Percampuran darah yang teroksigenasi dan tidak teroksigenasi ini akhirnya
mengakibatkan hipoksemia arterial.
Sindrom Pneumonia Atipikal. Pneumonia yang berkaitan dengan
mikoplasma, fungus, klamidia, demam-Q, penyakit Legionnaires’. Pneumocystis
carinii, dan virus termasuk ke dalam sindrom pneumonia atipikal.
Pneumonia mikoplasma adalah penyebab pneumonia atipikal primer yang
paling umum. Mikoplasma adalah organisme kecil yang dikelilingi oleh membran
berlapis tiga tanpa dinding sel. Organisme ini tumbuh pada media kultur khusus
tetapi berbeda dari virus. Pneumonia mikoplasma paling sering terjadi pada anak-
anak yang sudah besar dan dewasa muda.
Pneumonia kemungkinan ditularkan oleh droplet pernapasan yang
terinfeksi, melalui kontak dari individu ke individu. Pasien dapat diperiksa
terhadap antibodi mikoplasma. Inflamasi infiltrat lebih kepada interstisial
ketimbang alveolar. Pneumonia ini menyebar ke seluruh saluran pernapasan,
termasuk bronkiolus. Secara umum, pneumonia ini mempunyai ciri-ciri
bronkopneumonia. Sakit telinga dan miringitis bulous merupakan hal yang umum
terjadi. Pneumonia atipikal dapat menimbulkan masalah-masalah yang sama baik
dalam ventilasi maupun difusi seperti yang diuraikan dalam pneumonia bakterial.

5. Manifestasi Klinis
Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan
hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang
berat, mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga
memerlukan perawatan di RS.
Gejala infeksi umum seperti demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
napsu makan, dan keluhan gastrointestinal seperti mual, muntah, atau diare.
Gejala gangguan respiratori seperti batuk, sesak napas, retraksi dada,takipnea,
napas cuping hidung, air hunger, merintih, sianosis
Pneumonia pada neonatus dan bayi kecil
1) Sering terjadi akibat transmisi vertikal ibu-anak yang berhubungan dengan
proses persalinan
2) Infeksi terjadi akibat kontaminasi dengan sumber infeksi dari ibu, misalnya
melalui aspirasi mekonium, cairan amnion, atau dari serviks ibu.
3) Serangan apnea
4) Sianosis
5) Merintih
6) Napas cuping hidung
7) Takipnea
8) Letargi, muntah
9) Tidak mau minum
10) Takikardi atau bradikardi
11) Retraksi subkosta \
12) Demam
13) Sepsis pada pneumonia neontus dan bayi kecil sering ditemukan sebelum 48
jam pertama
14) Angka mortalitas sangat tinggi di negara maju, yaitu dilaporkan 20-50%
15) Angka kematian di Indonesia dan di negara berkembang lainnya diduga lebih
tinggi
Pneumonia pada balita dan anak yang lebih besar
1) Takipnea
2) Retraksi subkosta (chest indrawing)
3) Napas cuping hidung
4) Ronki
5) Sianosis
6) Ronki hanya ditemukan bila ada infiltrat alveolar
7) Retraksi dan takipnea merupakan tanda klinis pneumonia yang bermakna
8) Kadang-kadang timbul nyeri abdomen bila terdapat pneumonia lobus kanan
bawah yang menimbulkan infiltrasi diafragma
9) Nyeri abdomen dapat menyebar ke kuadran kanan bawah dan menyerupai
apendisitis.

6. Pemeriksaan Penunjang
1) Pemeriksaan Radiologis
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram
(airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae; bronkopneumonia
(segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan
pneumonia interstisial (interstitial disease) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi
infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman
aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat di
lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus
bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.
2) Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah
dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikoplasma atau pada infeksi yang berat sehingga
tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi
imunitas, misalnya neutropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S. aureus pada
pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu.
3) Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum
transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsi. Untuk tujuan terapi empiris
dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test dan Z. Nielsen.
4) Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer
tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai
tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.
7. Pencegahan
a. Menghindarkan bayi/anak dari paparan asap rokok, polusi udara dan tempat
keramaian yang berpotensi penularan.
b. Menghindarkan bayi/anak dari kontak dengan penderita ispa.
c. Membiasakan memberikan asi.
d. Segera berobat jika mendapati anak kita mengalami panas, batuk, pilek terlebih jika
disertai suara serak, sesak nafas dan adanya retraksi.
e. Periksakan kembali jika dalam dua hari belum menampakkan perbaikan dan segera
ke rumah sakit jika kondisi anak memburuk.
f. Pemberian vaksinasi
1) Vaksin pneumokokus (untuk mencegah pneumonia karena streptococcus
pneumonia)
2) Vaksin flu
3) Vaksin hib (untuk mencegah pneumonia karena haemophillus influenzae type b)

8. Perawatan dirumah
a. Rutin berkonsultasi dengan dokter
Penderita pneumonia dianjurkan untuk rutin berkonsultasi ke dokter hingga seluruh
gejalanya hilang total, karena resiko terkena infeksi sekunder sangat besar bagi
penderita pneumonia.
b. Beristirahat dengan cukup
Istirahat yang cukup sangat dibutuhkan untuk memperbaiki sistem imunitas pasien
penderita pneumonia dalam fase penyembuhan.
c. Menghirup udara yang bersih
Menghirup udara yang terpolusi akan memperburuk keadaan, bahkan mampu
meningkatkan frekuensi dan intensitas batuk penderita. Karena itu hindarilah area
berpolusi, asap rokok dan pakai masker untuk membantu melindungi paru-paru
anda.
d. Berada di ruangan yang lembap
Udara yang lembap baik untuk mereka yang sedang menjalani proses pnyembuhan
pneumonia. Humidifier dapat digunakan untuk mengatur kelembaban udara bila
memungkinkan dan dibutuhkan. Mandi air hangat juga akan membantu
menyejukkan paru-paru sekaligus mengurangi batuk anda.
e. Gunakan obat batuk berjenis expectorant, bukan jenis suppressant
Obat batuk berjenis suppresant bersifat menekan batuk dan menambah rasa sakit
pada penderita pneumonia.
f. Kurangi kontak dengan orang lain yang sedang sakit
Penderita pneumonia sangan berisiko untuk mengalami infeksi sekunder, karena itu
sebaiknya penderita menghindari orang-orang yang sedang sakit dan mengalami
infeksi saluran pernafasan.
g. Patuhi aturan konsumsi obat-obatan yang di berikan

9. Tindakan atau pengobatannya


a) Batuk Bukan Pneumonia
Tindakan/pengobatannya:
1) Beri pereda tenggorokan dan pereda batuk yang aman
2) Obati wheezing bila ada, apabila batuk > 14 hari rujuk untuk pemeriksaan batuk
karena sebab lain
3) Apabila batuk > 21 hari rujuk untuk pemeriksaan TB
4) Apabila wheezing berulang rujuk untuk pemeriksaan lanjutan
5) Nasihati kapan kembali segera
6) Kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan

b) Pneumonia
Tindakan/pengobatannya :
1) Beri amoksilin 2 kali sehari selama 3 hari atau 5 hari
2) Beri pelega tenggorokan dan pereda batuk yang aman
3) Obati wheezing bila ada
4) Apabila batuk > 14 hari atau wheezing berulang berulang. Rujuk segera
5) Nasihati kapan kembali segera
6) Kunjungan ulang 2 hari

c) Pneumonia Berat
Tindakan/pengobatannya :
1) Beri oksigen maksimal 2-3 Liter/menit dengan menggunakan nasal prong
2) Beri dosis pertama antibiotic yang sesuai
3) Rujuk segera
B. Konsep ASI Ekslusif
1. Pengertian
Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa
dan garam-garam anorganik yang di sekresi oleh kelenjar mamae ibu, yang
berguna sebagai makanan bagi bayinya (WHO, 2004).
ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan
lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak diberikan
dalam tahap ASI eksklusif ini (Depkes RI, 2004)
ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik.
Dengan demikian, ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat
bulan) sudah tidak berlaku lagi (WHO, 2001).

2. Manfaat ASI dan Menyusui


Keuntungan menyusui meningkat seiring lama menyusu eksklusif hingga
enam bulan. Setelah itu, dengan tambahan makanan pendamping ASI pada usia
enam bulan, keuntungan menyusui meningkat seiring dengan meningkatnya lama
pemberian ASI sampai dua tahun.
a. Manfaat ASI untuk bayi ASI merupakan makanan alamiah yang baik untuk
bayi, praktis, ekonomis, mudah dicerna untuk memiliki komposisi, zat gizi
yang ideal sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pencernaan bayi, dapat
juga melindungi infeksi gastrointestinal. ASI tidak mengandung beta-
lactoglobulin yang dapat menyebabkan alergi pada bayi. ASI juga
mengandung zat pelindung (antibodi) yang dapat melindungi bayi selama 5-6
bulan pertama, seperti: Immunoglobin Lysozyme, Complemen C3 dan C4
b. Manfaat ASI untuk ibu, Antistapiloccocus, lactobacillus, Bifidus,
Lactoferrin. ASI dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan bayi serta
meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan anak (bonding) (Gupte, 2004).
Suatu rasa kebanggaan dari ibu, bahwa ia dapat memberikan “kehidupan”
kepadabayinya dan hubungan yang lebih erat karena secara alamiah terjadi
kontak kulit yang erat, bagi perkembangan psikis dan emosional antara ibu dan
anak. Dengan menyusui, rahim ibu akan berkontraksi yang dapat
menyebabkan pengembalian rahim keukuran sebelum hamil serta
mempercepat berhentinya pendarahan post partum. Dengan menyusui
kesuburan ibu akan menjadi berkurang untuk beberpa bulan dan dapat
menjarangkan kehamilan. ASI juga dapat mengurangi kemungkinan kanker
payudara pada masa yang akan datang (Gupte, 2004).

3. Komposisi ASI
Keadaan yang menguntungkan dari ASI meliputi asam amino dan
kandungan protein yang optimal untuk bayi normal. Asam lemak esensial dalam
jumlah yang berlimpah tetapi tidak berlebihan, kandungan natrium yang relatif
rendah tetapi adekuat, beban solut yang rendah dibandingkan dengan susu sapi,
dan absorbs yang sangat baik untuk zat besi, kalsium dan seng, yang menyediakan
jumlah yang adekuat dari zat-zat nutrisi ini untuk bayi yang disusui ASI secara
penuh selama 4-6 bulan (Merenstein, 2001). ASI tidak saja mengandung
makronutrien, vitamin,dan mineral tatapi juga faktor pertumbuhan, hormon, dan
faktor protektif. Paling sedikit terdapat 100 komponen pada ASI, termasuk zat
yang belum teridentifikasi dan belum jelas perannya. Dalam alquran, ASI disebut
sebagai “darah putih”. Hal ini merupakan penjelasan yang sangat tepat karena
susu awal memiliki lebih banyak sel darah putih daripada darah sendiri.
Sifat khas manusia adalah otak yang besar dan rumit, yang mengalami
banyak perkembangan selama 2 tahun pertama. ASI menyediakan laktosa, sistein,
kolestrol, dan tromboplastin yang diperlukan untuk sintesis jaringan system syaraf
pusat. Namun, karena ASI merupakan nutrisi yang sempurna, analisis
komponenya memungkinkan kita memproduksi pengganti untuk ditambahkan
kedalam susu formula. Maka dari itu, susu formula tidak akan secara sempurna
menyerupai ASI. Walaupun ASI mungkin dapat dianggap nutrisi yang sempurna,
komposisinya bervariasi. Komposisi ASI bervariasi dari orang ke orang, dari satu
periode laktasi ke periode lain, dan setiap jam dalam sehari. Adapun komposisi
ASI antara lain mengandung protein, lemak, karbohidrat, garam mineral, air,
Vitamin seperti pada kolostrum (Melvyn, 2006). Kolostrum mengandung zat
kekebalan, vitamin A yang tinggi, lebih kental dan berwarna kekuning-kuningan.
Oleh karena itu, kolostrum harus diberikan kepada bayi. Sekalipun produksi ASI
pada hari-hari pertama baru sedikit, namun mencukupi kebutuhan bayi. Pemberian
air gula, air tajin dan masakan pralaktal (sebelum ASI lancar diproduksi) lain
harus dihindari (Depkes RI, 2005). Kolostrum merupakan sekresi payudara yang
bersifat alkali, yang mungkin mulai dihasilkan selama bulan-bulan terakhir
kehamilan dan pada 2- 4 hari pertama setelah melahirkan. Mempunyai berat jenis
yang lebih besar (1,040 - 1,060), kandungan protein yang lebih tinggi, vitamin
larut lemak, mineral, kandungan karbohidrat, dan lemak yang lebih rendah
daripada ASI biasa. Kolostrum mengandung IgA sekretori, leukosit, dan zat-zat
imun lainnya yang berperan dalam mekanisme pertahanan neonatus (Merenstein,
2001).

4. Produksi ASI
Proses terjadinya pengeluaran air susu dimulai atau dirangsang oleh isapan
mulut bayi pada putting susu ibu. Gerakan tersebut merangsang kelenjar hipofisis
anterior untuk memproduksi sejumlah prolaktin, hormon utama yang
mengandalkan pengeluaran Air Susu. Proses pengeluaran air susu juga tergantung
pada Refleks Let Down atau refleks ejeksi susu , dimana hisapan putting dapat
merangsang kelenjar hipofisis posterior untuk menghasilkan hormon oksitosin, Di
bawah pengaruh oksitosin, sel-sel di sekitar alveoli berkontraksi, mengeluarkan
susu melalui system duktus kedalam mulut bayi (Bobak, 2005).
Laktasi dapat dianggap terdiri atas dua fase, laktogenesis, inisiasi laktasi, dan
galaktopoiesis, pemeliharaan sekresi air susu. Inisiasi laktasi berkaitan dengan
penurunan estrogen, progesteron, dari sirkulasi ibu saat persalinan. Dua hormon
terpenting yang berperan dalam laktasi adalah prolaktin yang merangsang
produksi air susu, dan oksitosin yang berperan dalam penyemprotan (ejeksi) susu
(Melvyn, 2006). Menurut (Arifin, 2004), berdasarkan waktu diproduksi ASI dapat
dibagi menjadi 3 yaitu:
1) Colostrum merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar
mamae yang mengandung tissue debris dan redual material yang terdapat
dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum dan segera sesudah
melahirkan anak. Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari
ketiga atau keempat, dari masa laktasi. Komposisi colostrum dari hari ke hari
dapat berubah, dan merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna
kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan ASI Mature. ASI juga
merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan meconeum usus bayi
yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan bayi untuk menerima
makanan selanjutnya. Dengan ASI Mature dimana protein yang utama adalah
casein pada colostrum protein yang utama adalah globulin, Lebih banyak
mengandung protein dibandingkan ASI Mature, tetapi berlainan sehingga
dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap infeksi. Lebih banyak
mengandung antibodi dibandingkan ASI Mature yang dapat
memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan pertama. Lebih rendah
kadar karbohidrat dan lemaknya dibandingkan dengan ASI Mature. Total
energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58 kalori/100 ml
colostrum. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam
air dapat lebih tinggi atau lebih rendah. Bila dipanaskan menggumpal, ASI
Mature tidak. PH lebih alkalis dibandingkan ASI Mature. Lemaknya lebih
banyak mengandung Cholestrol dan lecitin di bandingkan ASI Mature.
Terdapat trypsin inhibitor, sehingga hidrolisa protein di dalam usus bayi
menjadi kurang sempurna, yangakan menambah kadar antobodi pada bayi.
Volumenya berkisar 150-300 ml/24 jam.
2) Air Susu Masa Peralihan (Masa Transisi) Merupakan ASI peralihan dari
colostrum menjadi ASI Mature. Disekresi dari hari ke 4 – hari ke 10 dari masa
laktasi, tetapi ada pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi
pada minggu ke 3 – ke 5. Kadar protein semakin rendah, sedangkan kadar
lemak dan karbohidrat semakin tinggi serta volume semakin meningkat.
3) Air Susu mature merupakan ASI yang disekresi pada hari ke 10 dan
seterusnya, yang dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang
mengatakan bahwa minggu ke 3 sampai ke 5 ASI komposisinya baru konstan.
ASI matur ini juga merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi,
bahkan ada yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan
satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertamabagi bayi. Air susu matur
merupakan cairan putih kekuning-kuningan, karena mengandung casienat,
riboflavin dan karotin.Tidak menggumpal bila dipanaskan.Volume: 300 – 850
ml/24 jam. Terdapat anti microbaterial factor, yaitu: Antibodi terhadap bakteri
dan virus, Enzim (lysozime, lactoperoxidese), Protein (lactoferrin, B12
Ginding Protein), Faktor resisten terhadap staphylococcus, Complecement (
C3 dan C4.
5. Pola pemberian ASI
Agar pemberian ASI eksklusif dapat berhasil, selain tidak memberikan
makanan lain perlu pula diperhatikan cara menyusui yang baik dan benar yaitu
tidak dijadwal, ASI diberikan sesering mungkin termasuk menyusui pada malam
hari. Ibu menggunakan payudara kiri dan kanan secara bergantian tiap kali
menyusui. Disamping itu, posisi ibu bisa duduk atau tiduran dengan suasana
tenang dan santai. Bayi dipeluk dengan posisi menghadap ibu. Isapan mulut bayi
pada puting susu harus baik yaitu sebagian besar areola (bagian hitam sekitar
puting) masuk kemulut bayi. Apabila payudara terasa penuh dan bayi belum
mengisap secara efektif, sebaiknya ASI dikeluarkan dengan menggunakan tangan
yang bersih (Depkes RI, 2005). Keadaan gizi ibu yang baik selama hamil dan
menyusui serta persiapan psikologi selama kehamilan akan menunjang
keberhasilan menyusui. Seorang ibu yang menyusui harus menjaga ketenangan
pikiran, menghindari kelelahan, membuang rasa khawatir yang berlebihan dan
percaya diri bahwa ASI-nya mencukupi untuk kebutuhan bayi (Depkes RI, 1996).

6. Masalah Pemberian ASI


1) Kegagalan pemberian ASI eksklusif akan menyebabkan kekurangan jumlah
sel otak sebanyak 15% – 20%, sehingga menghambat perkembangan
kecerdasan bayi pada tahap selanjutnya. Ada beberapa masalah menyusui
terkait dengan ibu yaitu : Pembengkakan Payudara Pembengkakan payudara
ialah respon payudara terhadap hormon-hormon laktasi dan adanya air susu.
Payudara mambengkak dan menekan saluran air susu, sehingga bayi tidak
memperoleh air susu. Rasa nyeri dapat menjalar ke aksila. Perawatan yang
lebih baik dapat dilakukan dengan menggunakan es yang diletakkan di
payudara. Es akan mengurangi pembengkakan,sehingga sejumlah air susu
yang cukup dapat dikeluarkan untuk membuat areola menjadi lunak (Bobak,
2005). Payudara dapat menjadi sangat bengkak jika bayi tidak sering menyusu
atau kurang efisien dalam mengisap selama beberapa hari pertama setelah ASI
keluar. Payudara memang sedikit bengkak disaat sedang mulai menyusui,
bengkak yang ekstrem menyebabkan pembengkakan dari duktus susu dalam
payudara dan pembuluh daerah di area dada (Juwono, 2004).
2) Putting yang luka
Puting susu dapat terasa nyeri pada beberapa hari pertama. Puting yang
luka dapat dicegah atau dibatasi dengan mengambil posisi yang benar dan
dengan menghindari pembengkakan sebelum hal ini terjadi (Bobak, 2005).
3) Saluran Yang Tersumbat
Kadang-kadang saluran air susu tersumbat, menimbulkan nyeri di
payudara, yang terlihat bengkak dan panas. Saluran yang tersumbat ini dapat
di sebabkan oleh pengosongan payudara yang tidak baik, pemakaian bra yang
terlalu ketat, posisi menyusui yang tidak benar, atau selalu menggunakan
posisi yang sama (Bobak, 2005).
4) Affterpains
Ibu yang menyusui dapat mengalami affterpains. Affterpains lebih sering
terjadi pada ibu multipara daripada ibu primipara. Affterpains Ini dapat cukup
kuat sehingga ibu merasa tidak nyaman dan ketegangannya dapat mengganggu
proses pemberian makan pada bayi (Bobak, 2005).
5) Persepsi Tentang Jumlah Susu Yang Tidak Adekuat Suplai air susu yang tidak
cukup jarang menjadi masalah, karena isapan menstimulasi aliran susu dalam
waktu cukup lama seharusnya dapat memberikan suplai susu dan jumlah besar
(Bobak, 2005).
6) Mastitis
Mastitis merupakan suatu infeksi payudara yang disebabkan oleh bakteri
dalam sisstem duktus. Mastitis menyebabkan bengkak, panas, dan nyeri,
biasanya hanya pada satu payudara, dan juga menyebabkan ibu menyusui
merasa demam dan sakit (Juwono, 2004).
7) Masalah pada Bayi.
Beberapa kondisi bayi bisa mempersulit tindakan menyusui pada bayi, salah
satu diantaranya adalah bayi tidak tahan terhadap laktosa atau fenilketonuria.
kelainan sumbing bibir atau langit-langit, dan kelainan bentuk mulut sehingga
bayi tidak dapat menghisap dengan baik.
7. Manajemen Laktasi
1) Manajemen laktasi adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk menunjang
keberhasilan menyusui. Dalam pelaksanaannya terutama dimulai pada masa
kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.
Menurut (Arifin, 2004), Adapun upaya-upaya yang dilakukan adalah sebagai
berikut : Pada masa Kehamilan (antenatal) Memberikan penerangaan dan
penyuluhan tentang manfaat keunggulan ASI, manfaat menyusui baik bagi ibu
maupun bayinya, disamping bahaya pemberian susu botol. Pemeriksaan
kesehatan, kehamilan dan payudara / keadaan putting susu, apakah ada kelainan
atau tidak. Disamping itu perlu dipantau kenaikan berat badan ibu hamil.
Lakukan perawatan payudara mulai kehamilan umur enam bulan
agar ibu mampu memproduksi dan memberikan ASI yang cukup.
Memperhatikan gizi/makanan ditambah mulai dari kehamilan trisemester kedua
sebanyak 1 1/3 kali dari makanan pada saat belum hamil. Menciptakan suasana
keluarga yang menyenangkan. Dalam hal ini perlu diperhatikan keluarga
terutama suami kepada istri yang sedang hamil untuk memberikan dukungan
dan membesarkan hatinya.
2) Pada masa segera setelah persalinan (prenatal)
Ibu dibantu menyusui 30 menit setelah kelahiran dan ditunjukkan cara
menysui yang baik dan benar, yakni: tentang posisi dan cara melakatkan bayi
pada payudara ibu. Membantu terjadinya kontak langsung antara bayi-ibu
selama 24 jam sehari agar menyusui dapat dilakukan tanpa jadwal. Ibu nifas
dapat diberikan kapsul vitamin A dosis tinggi (200.000S1 Makanan yang
dimakan seorang ibu yang sedang dalam masa menyusui tidak
secara langsung mempengaruhi mutu ataupun jumlah air susu yang dihasilkan.
Dalam tubuh terdapat cadangan berbagai zat gizi yang dapat digunakan bila
) dalam waktu dua minggu setelah melahirkan.
3) Pada masa menyusui selanjutnya (post-natal)
Menyusui dilanjutkan secara ekslusif selama 4 bulan pertama usia bayi, yaitu
hanya memberikan ASI saja tanpa makanan/minuman lainnya. Perhatikan
gizi/makanan ibu menyusui, perlu makanan 1 ½ kali lebih banyak dari biasa
dan minum minimal 8 gelas sehari. Ibu menyusui harus cukup istirahat dan
menjaga ketenangan pikiran dan keberhasilan menyusui. Menghindarkan
kelelahan yang berlebihan agar produksi ASI tidak terhambat. Pengertian dan
dukungan keluarga terutama suami penting untuk menunjang. Rujuk ke
Posyandu atau Puskesmas atau petugas kesehatan apabila ada permasalahan
menysusui seperti payudara banyak disertai demam. Menghubungi
kelompok pendukung ASI terdekat untuk meminta pengalaman dari ibu-ibu
lain yang sukses menyusui bagi mereka. Memperhatikan gizi/makanan anak,
terutama mulai bayi 4 bulan, berikan MP ASsI yang cukup baik kuantitas
maupun kualitas.

8. Faktor-faktor yang mempengaruhi Produksi ASI


1) Makanan Ibu
sewaktu-waktu diperlukan. Akan tetapi jika makanan ibu terus menerus tidak
mengandung cukup zat gizi yang diperlukan tentu pada akhirnya kelenjar-
kelenjar pembuat air susu dalam buah dada ibu tidak akan dapat bekerja
dengan sempurna, dan akhirnya akan berpengaruh terhadap produksi ASI.
Apabila ibu yang sedang menyusui bayinya tidak mendapat tambahan
makanan, maka akan terjadi kemunduran dalam pembuatan ASI. Terlebih
jika pada masa kehamilan ibu juga mengalami kekurangan gizi. Karena itu
tambahan makanan bagi seorang ibu yang sedang menyusui anaknya mutlak
diperlukan (Arifin, 2004).
Makanan yang harus dihindari oleh ibu menyusui adalah alkohol, merokok,
dan juga hindari makanan pedas seperti sambal dan makanan beraroma keras
karena dapat membuat bau tertentu pada ASI dan akan mengganggu bayi. Ini
juga bisa membuat bayi sakit perut (Gupte, 2004).
2) Ketentraman Jiwa dan Pikiran
Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang
selalu dalam keadaan gelisah, kurang percaya diri, rasa tertekan dan berbagai
bentuk ketegangan emosional, mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya.
Pada ibu ada 2 macam, reflek yang menentukan keberhasilan dalam
menyusui bayinya, reflek tersebut adalah reflek Prolaktin merupakan hormon
laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu.
Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan
dengan besarnya stimulus isapan, yaitu frekuensi, intensitas, dan lama bayi
mengisap. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-
down. Akibat stimulus isapan, hipotalamus melepaskan oksitosin dari
hipofisis posterior. Refleks let down dapat terjadi selama aktifitas seksual
karena oksitosin dilepas selama orgasme (Bobak, 2005) Let-down reflex
mudah sekali terganggu, misalnya pada ibu yang mengalami goncangan
emosi, tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Gangguan terhadap let
down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Bayi tidak cukup mendapat
ASI dan akan menangis. Tangisan bayi ini justru membuat ibu lebih gelisah
dan semakin mengganggu let down reflex (jurnal Arifin, 2004).
3) Pengaruh persalinan dan klini Bersalin
Banyak ahli mengemukakan pengaruh yang kurang baik terhadap
kebiasaan memberikan ASI pada ibu-ibu yang melahirkan di rumah sakit
atau klinik bersalin lebih menitik beratkan upaya agar persalinan dapat
berlangsung dengan baik, ibu dan anak berada dalam keadaan selamat dan
sehat. Masalah pemberian ASI kurang mendapat perhatian. Sering makanan
pertama yang diberikan justru susu buatan atau susu sapi. Hal ini
memberikan kesan yang tidak mendidik pada ibu, dan ibu selalu
beranggapan bahwa susu sapi lebih dari ASI. Pengaruh itu akan semakin
buruk apabila disekeliling kamar bersalin dipasang gambar-gambar atau
poster yang memuji penggunaan susu buatan (Arifin, 2004).
4) Penggunaan alat kontrasepsi yang mengandung estrogen. Bagi ibu yang
dalam masa menyusui tidak dianjurkan menggunakan kontrasepsi pil yang
mengandung hormon estrogen, karena hal ini dapat mengurangi jumlah
produksi ASI bahkan dapat menghentikan produksi ASI secara keseluruhan
oleh karena itu alat kontrasepsi yang paling tepat digunakan adalah alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yaitu IUD atau spiral. Karena AKDR
dapat merangsang uterus ibu sehingga secara tidak langsung dapat
meningkatkan kadar hormon oxitoksin, yaitu hormon yang dapat
merangsang produksi ASI (Arifin, 2004).
5) Perawatan Payudara
Perawatan fisik payudara menjelang masa laktasi perlu dilakukan, yaitu
memeriksa putting susu, mempersiapkan payudara dengan mengurut
payudara selama 6 minggu terakhir masa kehamilan. Pengurutan tersebut
diharapkan apablia terdapat penyumbatan pada duktus laktiferus dapat
dihindarkan sehingga
9. Faktor- faktor Kegagalan Pemberian ASI
Ada 2 hal yang mempengaruhi kegagalan dalam pemberian ASI yaitu faktor
internal dan faktor eksternal.
1) Faktor Internal
Adapun yang termasuk kedalam faktor Internal yaitu:
Pengetahuan
a. Pengetahuan adalah sejumlah informasi yang dikumpulkan yang
dipahami dan pengenalan terhadap sesuatu hal atau benda-benda secara
obyektif. Pengetahuan juga berasal dari pengalaman tertentu yang
pernah dialami dan yang diperoleh dari hasil belajar secara formal,
informal dan non formal (Notoatmodjo,2005). Dalam hal ini, banyak
sekali alasan kenapa orang tua memberikan MPASI < 6 bulan.
Umumnya banyak ibu yang beranggapan kalau anaknya kelaparan dan
akan tidur nyenyak jika diberi makan. Meski tidak ada relevansinya
banyak yang beranggapan ini benar. Karena, belum sempurnanya sistem
pencernaan sehingga harus bekerja lebih keras untuk mengolah dan
memecah makanan. Kadang anak yang menangis terus menerus
dianggap sebagai anak yang tidak kenyang. Padahal menangis bukan
semata-mata tanda anak yang kelaparan. Hal ini menunjukan bahwa
pengetahuan orang tua masih sangat rendah (Nurafifa, 2009).
b. Pendidikan. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu proses
pengembangan sumberdaya manusia. Menurut Martoyo (1996)
pendidikan adalah suatu proses pendidikan jangka panjang yang
dilakukan secara sistematis dan prosedurnya diorganisisr melalui konsep
belajar manajerial perorangan dan pengetahuan teoritis untuk
tujuan umum (Nurafifa, 2009). Pendidikan juga dapat diartikan sebagai
suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa
mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan
dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya
masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah
tingkah laku (Nurafifa, 2009). Dalam hal ini, banyak ahli pendidikan
setempat mempunyai program pendidikan yang lebih jelas meliputi
modal ‘pendidikan untuk hidup’ sebagai subjek (mata pelajaran)
akademik tambahan. Kapanpun dan dimana mungkin, bidan harus
dengan yakin menerima kesempatan untuk ikut berperan dalam kelas
“Pendidikan Kesehatan”, kursus perawatan Anak dan “Persiapan
Menjadi Orang Tua” yang sekarang dilaksanakan di banyak sekolah dan
pendidikan lanjut. Dapat terjadi pertukaran pikiran dan gagasan yang
bermanfaat dengan orang-orang muda yang merupakan generasi
berikutnya setelah orang tua mereka. Selain dari itu semua,
mendengarkan mereka, bersikap peka terhadap sesuatu yang tidak ingin
mereka katakan; mendorong mereka untuk menyatakan gagasan dan
tanggapan mereka, membantu mereka untuk mengungkapkan hambatan
dan emosi mereka. Apabila mungkin, izinkan mereka bertemu dengan
seseorang ibu yang baru melahirkan bersama bayinya, dan
membicarakan sikap ibu tersebut terhadap bayinya terutama dalam
hubungannya dengan pemberian air susu ibu
c. Pekerjaan ibu. Beberapa wanita karier mempunyai kecemasan lain, yaitu
bahwa memberikan air susu kepada bayi selama 4 sampai 6 bulan akan
mempengaruhi kegagalan profesi dan kemasyarakatan mereka dan
mungkin akan merusak prospek peningkatan karier. Ini semua
merupakan masalah besar yang telah berkembang pada kebudayaan dan
masalah ini sangat nyata bagi para wanita yang menghadapinya. Ibu
menyusui yang bekerja tidak perlu khawatir. Mereka tidak perlu berhenti
menyusui anaknya. Sebaiknya ibu bekerja tetap harus memberi ASI
eksklusif kepada bayinya hingga umur 6 bulan. Hal ini dikarenakan
banyaknya keuntungan yang diperoleh dibandingkan jika anak disusui
dengan susu formula. Tidak sulit untuk tetap menyusui bayi saat bekerja.
Jika memungkinkan, bayi dapat dibawa ke kantor ibu untuk disusui. Hal
tersebut akan sedikit terkendala jika di tempat bekerja atau di sekitar
tempat bekerja tidak tersedia sarana penitipan bayi atau pojok laktasi.
Bila tempat bekerja dekat dengan rumah, ibu dapat pulang untuk
menyusui bayi pada waktu istirahat atau bisa juga meminta bantuan
seseorang untuk membawa bayi ketempat bekerja. Lokasi kantor ibu
yang jauh dari rumah juga bukanlah penghalang untuk
tetap memberikan ASI ekslusif. Walaupun ibu bekerja dan tempat
bekerja jauh dari rumah, ibu tetap dapat memberikan ASI eksklusif
kepada bayinya. Sebelum pergi bekerja, ASI tersebut bisa dikeluarkan
dan dititipkan pada pengasuh untuk diberikan pada bayi. Di tempat
bekerja, ibu dapat memerah ASI 2-3 kali (setiap 3
jam). Pengeluaran ASI dapat membuat ibu merasa nyaman dan
mengurangi ASI menetes. ASI simpan di lemari es dan dibawa pulang
dengan termos es saat ibu selesai bekerja. Ibu juga bisa menyimpannya
dalam termos yang diberi es batu atau blue ice. Kegiatan menyusui dapat
dilanjutkan pada malam hari, pagi hari sebelum berangkat, dan waktu
luang ibu. Keadaan ini akan membantu produksi ASI tetap tinggi
(Surabaya, eHealth 2008).
d. Penyakit ibu. Pilihan untuk menyusui tidak terbuka untuk setiap ibu.
Beberapa ibu tidak bisa atau tidak boleh menyusui bayi mereka.
Alasanya bisa emosional atau fiscal, berkaitan dengan kesehatan ibu atau
bayi, bisa sementara (dimana kadang-kadang ibu bisa menyusui
sesudahnya) atau jangka panjang. Beberapa faktor yang paling
sering bisa mencegah atau menghalangi seorang ibu dari menyusui
termasuk: Penyakit serius yang melumpuhkan (misalnya gagal jantung
atau gagal ginjal, atau anemia yang parah) atau kekurangan berat badan
yang ekstrem meskipun beberapa ibu bisa mengatasi masalah ini dan
menyusui bayinya. Infeksi yang serius, misalnya tuberculosis (TBC)
aktif yang tidak dirawat (setelah dirawat selama dua minggu, ibu boleh
menyusui); untuk sementara waktu, payudara bisa dipompa dan air
susunya dibuang agar cadangan air susu sudah ada ketika tindakan
menyusui dimulai. Penyakit yang menahun yang memerlukan obat yang
akan memasuki air susu ibu dan membahayakan bayi,
misalnya obat-obat anti tiroid, antikanker, antihipertensi atau obat-obat
yang bisa mengubah suasana hati, misalnya lhitium, penenang, atau
sedatif. Pada beberapa kasus, perubahan obat atau jarak
makan obat bisa memungkinkan anda untuk menyusui. Kontak dengan
beberapa bahan kimia tertentu di tempat kerja. Infeksi AIDS atau HIV,
yang bisa ditularkan melalui cairan tubuh, termasuk air susu ibu.
Penyalahgunaan obat-obatan termasuk penggunaan obat penenang,
kokain, heroin, metadon, marijuana, atau penyalahgunaan alkohol.
penolakan yang mendalam terhadap menyusui. Beberapa kondisi bayi
bisa mempersulit tindakan menyusui, tatapi bukan tidak mungkin untuk
mencobanya (dengan dukungan medis yang benar). Termasuk
diantaranya adalah kelainan-kelainan seperti tidak tahan terhadap
laktosa atau fenilketonuria (PKU), di mana susu manusia maupun susu
sapi tidak bisa dicerna. Sumbing bibir dan atau langit-langit, dan
kelainan bentuk mulut lainya yang mengganggu penghisapan. Meskipun
keberhasilan menyusu sebagian tergantung dari jenis cacatnya, tetapi
dengan bantuan khusus, tindakan menyusui masih bisa dimungkinkan
(Murkoff, 2006).

2) Faktor Eksternal
Adapun hal yang termasuk dalam faktor eksternal yaitu :
a. Promosi Susu Formul Bayi
Tempat melahirkan memberikan pengaruh terhadap pemberian ASI
a) Eksklusif pada bayi karena merupakan titik awal bagi ibu untuk
memilih apakah tetap memberikan bayinya ASI Eksklusif atau
memberikan susu formula yang diberikan oleh petugas kesehatan
maupun non kesehatan sebelum ASI-nya keluar. Meskipun ada kode
etik internasional tentang pengganti ASI (susu formula),
pemasaran susu formula langsung ke rumah sakit saat ini semakin
gencar dan sangat mengganggu keberhasilan program ASI Eksklusif.
(Nurafifa, 2009). Selain itu adanya promosi susu formula juga bisa
menjadi kemungkinan gagalnya pemberian ASI walaupun mindset
awal sebenarnya ASI, promosi bisa berasal dari petugas kesehatan
misalnya pada saat pulang dibekali susu formula,
ataupun dari iklan-iklan di beberapa media baik cetak maupun
elektronik (jurnal Hikmawati, 2008).
b) Penolong Persalinan. Tenaga yang dapat memberikan pertolongan
persalinan dapat dibedakan menjadi dua yaitu tenaga kesehatan
profesional (dokter spesialis kebidanan, dokter umum, bidan,
pembantu bidan dan perawat bidan) dan dukun bayi (terlatih dan tidak
terlatih) (sugiarto, 2003). Kendala yang dihadapi dalam upaya
peningkatan penggunaan ASI adalah sikap sementara petugas
kesehatan dari berbagai tingkat yang tidak bergairah mengikuti
perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Konsep baru tentang
pemberian ASI dan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan ibu
hamil, ibu bersalin, ibu menyusui dan bayi baru lahir. Disamping itu
juga sikap sementara penaggung jawab ruang bersalin dan perawatan
dirumah sakit, rumah bersalin yang berlangsung memberikan susu
botol pada bayi baru lahir ataupun tidak mau mengusahakan agar ibu
mampu memberikan ASI kepada bayinya, serta belum diterapkannya
pelayanan rawat disebahagian besar rumah sakit atau klinik bersalin
(Arifin, 2004).
BAB III
TELAAH JURNAL

A. Telaah Penulisan
1. Judul Jurnal

Judul jurnal penelitian lebih dari 14 kata (kaidah penulisan jurnal yang baik yaitu
tidak lebih 14 kata dalam bahasa Indonesia ) (LIPI, 2013). Menurut LIPI (2013), judul
jurnal mengerucut ke bawah seperti piramida, dalam jurnal ini sudah ditulis benar.
Nama penulis jurnal dicantum tanpa gelar akademik dan ditempatkan di bawah
judul jurnal. Penulis harus mencantumkan institusi asal dan alamat email (bagi penulis
utama) untuk memudahkan komunikasi. Nama penulis utama berada urutan paling
depan (LIPI, 2013). Pada jurnal ini penulis nama sudah sesuai dengan kaidah
penulisan jurnal yang baik karena sudah mencantumkan alamat penulis utama, dan
nama di buat tanpa menggunakan gelar namun tidak menuliskan alat email untuk
memudahkan komunikasi.
2. Abstrak

A
b
strak dibuat dalam dua bahasa (inggris dan Indonesia), tidak melebihi 250 kata,
ditempatkan sebelum pendahuluan, diketik dengan jarak 1 (satu) spasi (Fakultas
Keperawatan UNAND, 2012). Pada jurnal ini menggunakan bahasa inggris dengan
203 kata, maka dari itu penulisan jurnal ini sesuai dengan kaidah penulisan jurnal
yang baik.
Abstrak dalam penelitian jurnal setidaknya memuat lima hal pokok yaitu
pendahuluan yang terdiri dari metode, hasil, analisis, pembahasan, dan kesimpulan
beserta saran. Pada jurnal ini terdapat tujuan penelitian, metode, hasil dan analisa serta
kesimpulan tetapi tidak menyantukmkan saran. Adapun poin-poin yang dimuat dalam
abstrak tersebut adalah sebagai berikut :

a. Tujuan
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui menganalisis pengaruh pemberian air
susu ibu secara eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita
b. Desain dan Metode Penelitian
Penelitian ini Desain penelitian ini menggunakan cross sectional. Penelitian ini
merupakan penelitian observasional analitik dengan menggunakan data sekunder yang
merupakan publikasi Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2016. Populasi
yang digunakan adalah data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2012-2016,
sedangkan sampelnya adalah data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur tahun 2016.
Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei tahun 2018.
c. Hasil
Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian ASI eksklusif
terhadap kejadian pneumonia balita dengan p = 0,00 (p < 0,05). ASI eksklusif
memiliki pengaruh sebesar 34,70% terhadap kejadian pneumonia balita dengan kuat
hubungan sedang
d. Kesimpulan
Ada pengaruh antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita di
Provinsi Jawa Timur tahun 2016
e. Kata kunci
Penulisan kata kunci dalam dua bahasa (Indonesia dan Inggris), ditempatkan di
bawah abstrak, terdiri dari dua sampai lima kata yang berfungsi untuk memudahkan
pencarian jurnal ini secara elektronik (LIPI, 2013). Berdasarkan uraian diatas, kata
kunci ditulis dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris dan memudahkan dalam
pencarian jurnal secara elektronik.

3. Pendahuluan
Pendahuluan tidak boleh terlalu panjang, tidak boleh melebihi 2 halaman
ketik (Fakultas Keperawatan UNAND, 2012). Itulah sebabnya, kalimat pada
pendahuluan ini harus padat dan berisi. Pembahasan dalam pendahuluan sudah sesuai
dengan kaidah penulisan jurnal yang baik yaitu tidak lebih dari 2 halaman ketik.

Dalam pendahuluan sudah terpapar jelas alasan mengapa peneliti melakukan


intervensi Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif terhadap kejadian pneumonia balita di
jawa timur
4. Latar belakang dari penelitian jurnal :
Provinsi Jawa Timur merupakan provinsi yang menduduki peringkat ketiga
dengan kasus pneumonia balita terbanyak dan kematian akibat pneumonia tertinggi di
Indonesia. Pengendalian penyakit pneumonia memiliki kendala diantaranya adalah
penemuan kasus tersebut masih sangat rendah karena pengendalian penyakit pneumonia
bukan program prioritas di beberapa daerah. Kendala tersebut dapat disebabkan karena
anggaran untuk pneumonia jumlahnya tidak memadai (Kemenkes RI, 2017). Salah satu
faktor yang dapat mencegah pneumonia balita adalah dengan memberikan air susu ibu
secara eksklusif. WHO (2013) menyatakan perang melawan kematian akibat pneumonia
pada anak-anak bergantung pada triad pencegahan, perlindungan,
dan pengobatan yang ditata dalam Global Action Plan for the Prevention and Control of
Pneumonia and Diarrhoea (GAPPD). GAPPD menyediakan fondasi untuk menjaga
anak-anak sehat dan bebas dari penyakit yaitu dengan pemberian ASI eksklusif selama 6
bulan pertama ketika bayi dilahirkan (tanpa makanan tambahan atau cairan, termasuk air),
pemberian makanan pelengkap yang memadai dan menyusui terus menerus, serta
memberi suplemen vitamin A. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh
pemberian air susu ibu secara eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita pada Provinsi
Jawa Timur tahun 2016
.
5. Studi Literatur
Pada literature review sudah tergambarkan tentang tinjauan pustaka dan petunjuk
kriteria standarisasi dari tinjauan pustaka penelitian. Tinjauan pustaka terdapat pada
pendahuluan jurnal yang membantu untuk menguatkan data tentang permasalahan
yang akan diangkat. Pada jurnal ini sudah mencantumkan subjudul tentang rumusan
masalah ataupun membahas tinjauan pustaka yang seharusnya terdapat pada bagian
pendahuluan.
Tinjauan pustaka sudah berisikan semua teori yang memperkuat pembahasan
tentang penelitian dan menjelaskan semua variabel yang dibahas pada penelitian
tersebut.
6. Kerangka Konsep dan Hipotesis
Hipotesis penelitian merupakan dugaan sementara tentang hasil akhir dari
penelitian ini (Nursalam, 2011). Apapun hasil penelitian walaupun berbeda dengan
hipotesisnya tidak membuat penelitian menjadi kurang bermakna.

Hipotesis pada penelitian ini sudah dicantumkan yaitu,


pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap pneumonia di Jawa Timur.

7. Metodologi
Bagian metodologi ini umumnya terdiri dari beberapa bagian tergantung dari
besar kecilnya informasi yang akan diberikan. Pada penelitian besar dengan desain
yang agak kompleks, biasanya bagian ini agak panjang, mengingat banyak hal yang
perlu dijelaskan khususnya bagaimana penelitian dilakukan di lapangan termasuk
beragai metode pengukuran yang digunakan. Pada penlitian kecil dengan desain yang
sederhana biasanya hanya beberapa paragraf saja. Umumnya, bagian ini terdiri dari
beberapa bagian seperti : lokasi penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data,
dan analisis data.bagian-bagian lainnya bisa ditambahkan sesuai dengan keperluan
(LIPI, 2013).
Metode penilitian disesuaikan dengan jenis penilitian. Penelitian ini dilakukan
sebaga uji T Parsial, dan model regresi dapat diterangkan dengan menggunakan nilai
koefisien determinasi.

8. Populasi dan Sampel


Berisikan tentang siapa populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini.
Perlu dikemukakan mengapa peneliti memilih sampel seperti itu. Bila peneliti
menggunakan kriteria sampel maka harus dikemukakan dengan jelas bagaimana
sampel dipilih.
Dalam jurnal penelitian ini tercantum dan dijelaskan siapa yang menjadi subjek
penelitian yaitu dari 150 orang dibagi menjadi 6 kelompok, masing masing kelompok
25 orang dengan teknik purposive sampling. Di dalam jurnal ini telah dijelaskan
bagaimana teknik pengambilan sampel yang digunakan tetapi di jurnal ini tidak
dicantumkan besarnya sampel.

9. Instrument
Instrumen penilitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan data.
Instrumen penilitian dapat berupa kuesioner, formulir observasi. Formulir yang
berhubungan dengan pencatatan data (Nursalam 2011).
Dalam jurnal Data diambil dari profil kesehatan provinsi jawa timur tahun
2016. Namun di jurnal tidak dijelaskan bagaimana cara pengumpulan data dilakukan.
10. Data Analisis
Pada bagian ini harus dijelaskan bagaimana data yang telah dikumpulkan di
lapangan di analisis berbentuk tabel. Program statistik apa yang digunakan dan data
analisnya sudah di tampilkan sehingga kita dapat mengetahui bagaimana cara
penelitian menganalisis hasil penelitian.

11. Hasil dan Pembahasan


Penjelasan tabel atau gambar dalam narasi tidak boleh terlalu detail atau panjang.
Cukup memberikan keterangan singkat tentang isi dari tabel atau gambar. Dengan
demikian tidak ada pengulangan informasi dari tabel atau gambar dalam narasi (LIPI,
2013).
Usahakan jumlah tabel dan gambar tidak melibihi 5 buah. Untuk memperkecil
jumlah tabel, dalam satu tabel dapat dimuat beberapa variabel karakteristik responden
yang terdiri dari umur, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, suku, dan agama dalam
suatu tabel. Harus diperhatikan juga bahwa setiap tabel atau gambar harus dapat
menjelaskan dirinya sendiri. Jenis satuan, jumlah sampel, apakah berhubungan (nilai
p) harus bisa terlihat pada tabel tersebut. Tabel atau gambar yang dibuat untuk tulisan
jurnal harus diletakan pada bagian belakang dari manuskrip yang kita siapkan atau
setelah daftar pustaka. Setiap satu tabel atau gambar dimuat dalam satu halaman dan
tetap dibuat dalam 2 spasi.
Pada paragraf terakhir biasanya kita temukan kalimat yang berhubungan dengan
kesimpulan dan saran. Kalimat ini kadang dibuat tidak secara eksplisit namun
memberikan informasi kepada pembaca apa kesimpulan Yang tidak ditarik oleh tim
peneliti terhadap penelitian yang Telah dilakukan. Ini tentu merujuk pada hasil dan
pembahasan yang telah dilakukan sebelumnya. Saran dikemukakan juga dalam bentuk
yang sangat singkat. Biasanya semuanya dalam bentuk satu paragraph. Namun
demikian, pada beberapa jurnal ilmiah, bagian ini disendirikan. Pada keadaan
demikian, kita bisa memberikan kesimpulan dan saran dalam beberapa kalimat.
Pembahasan dalam jurnal ini sudah mencakup pembahasan masing-masing variabel
dan pembahasan hasil analisis bivariatnya.

12. Kesimpulan
Bagian ini adalah yang kadang ditampilkan dalam teks dan kadang pula
dicantumkan secara tidak langsung pada bagian akhir dari pembahasan. Patut diingat,
bahwa yang disampaikan dalam bagian ini adalah kesimpulan yang diputuskan oleh
peneliti setelah melihat hasil yang diperoleh dan pembahasan yang
mempertimbangkan semua aspek yang terkait dengan apa yang ada dalam penelitian
tersebut. Kesimpulan harus menjawab pertanyaan penelitian yang dinyatakan dalam
sub-bab pendahuluan. Saran mengikuti kesimpulan yang umumnya mengemukakan
rekomendasi kepada pihak pengambil kebijakan dalam menanggulangi masalah yang
di teliti serta saran untuk penelitian berikutnya. Kesimpulan dan saran disusun dalam
beberapa kalimat dan umumnya hanya satu paragraph (LIPI, 2013).
Kesimpulan dalam jurnal ini dibuat dalam satu paragraf, sehingga sudah sesuai
dengan pertanyaan dan tujuan penelitian.

13. Impikasi Penggunaan Hasil Penelitian


Penelitian ini sangat penting diketahui dan dipahami dimana secara keseluruhan,
temuan menunjukkan bahwa vitamin E dan madu efektif digunakan sebagai perawatan
OM pada anak yang di rawat di PICU. Hal ini dapat diterapkan oleh perawat yang
memberikan pelayanan di PICU untuk meningkatkan kesehatan mulut anak.

14. Daftar Pustaka

a. Daftar Pustaka harusnya tersusun berdasarkan abjad, dalam jurnal ini sudah
disusun sesuai abjad.
b. Daftar Pustaka dari internet harusnya dibuat nama penulis, kalau tidak ada nama
penulis dibuat “anonim”. Alamat website yang ditampilkan dalam sumber internet
tidak lengkap dan tidak semua ada tanggal dan waktu mengakses.
c. Judul buku dan jenis jurnal dalam daftar pustaka belum dicetak miring atau di
bold.
B. TELAAH KONTEN
1. Pendahuluan
Pneumonia adalah penyebab kematian terbesar pada anak di seluruh dunia.
Sebanyak 920.136 anak di bawah usia 5 tahun meninggal akibat pneumonia pada
tahun 2015. Pneumonia menyumbang sekitar 16 persen dari 5,6 juta kematian balita,
memakan korban sekitar 880.000 anak pada tahun 2016 (UNICEF, 2016).
Berdasarkan data pada Profil Kesehatan Indonesia menyatakan bahwa jumlah
penemuan balita yang menderita pneumonia sebesar 568.146 balita. Provinsi yang
menduduki 3 teratas penemuan kasus pneumonia balita yaitu Jawa Barat (174.612
balita), Jawa Timur (93.279 balita), dan Jawa Tengah (59.650). Angka kematian
akibat pneumonia pada balita tahun 2016 sebesar 0,11% sedangkan tahun 2015
sebesar 0,16%. Provinsi dengan angka kematian balita akibat pneumonia tertinggi
adalah Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Kabupaten/kota di Jawa Timur
dengan penderita pneumonia tertinggi adalah Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Jember,
dan Kabupaten Gresik. Mortalitas akibat pneumonia pada anakanak sangat terkait
dengan faktor kemiskinan, seperti kekurangan gizi, kurangnya air bersih dan sanitasi,
polusi udara dalam ruangan dan akses yang tidak memadai ke perawatan kesehatan
(Kemenkes RI, 2017).
Upaya pemerintah Indonesia untuk mengurangi jumlah kematian akibat
pneumonia yakni melalui cakupan penemuan kasus pneumonia balita sedini mungkin
di pelayanan kesehatan. Pengendalian penyakit pneumonia memiliki kendala
diantaranya adalah penemuan kasus tersebut masih sangat rendah karena
pengendalian penyakit pneumonia bukan program prioritas di beberapa daerah.
Kendala tersebut dapat disebabkan karena anggaran untuk pneumonia jumlahnya
tidak memadai (Kemenkes RI, 2017). Provinsi Jawa Timur mengalami peningkatan
dalam lingkup penemuan pneumonia di atas 50% terlepas dari fakta bahwa itu belum
mencapai target nasional yang telah diputuskan. Target cakupan penemuan
pneumonia tahun 2016 ditetapkan sebesar 70% dengan ruang lingkup rujukan
pneumonia pada tahun 2016 sebesar 79,61% (Dinkesprov Jawa Timur, 2017).
WHO (2013) menyatakan perang melawan kematian akibat pneumonia pada
anak-anak bergantung pada triad pencegahan, perlindungan, dan pengobatan yang
ditata dalam Global Action Plan for the Prevention and Control of Pneumonia and
Diarrhoea (GAPPD). GAPPD menyediakan fondasi untuk menjaga anak-anak sehat
dan bebas dari penyakit yaitu dengan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan
pertama ketika bayi dilahirkan (tanpa makanan tambahan atau cairan, termasuk air),
pemberian makanan pelengkap yang memadai dan menyusui terus menerus, serta
memberi suplemen vitamin A. Pemberian ASI eksklusif dapat melindungi bayi dari
penyakit dan menjamin mereka mendapatkan sumber makanan yang aman, bersih,
mudah didapatkan, dan disesuaikan secara sempurna dengan kebutuhan bayi.
Hampir sepertiga dari semua infeksi saluran pernapasan dapat dicegah dengan
meningkatkan pemberian ASI di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pemberian makanan pelengkap yang memadai dan menyusui bayi secara berkala
dapat mengakibatkan bayi memperoleh zat gizi yang cukup, sehingga sistem
kekebalan tubuh menjadi kuat dan memberikan perlindungan dari penyakit. Makanan
pendamping ASI yang sesuai pada balita berusia 6 bulan hingga 2 tahun dapat
mengurangi kematian yang disebabkan oleh pneumonia. Suplemen vitamin A dosis
tinggi pada anak dapat membantu menjaga sistem kekebalantubuh agar lebih kuat dan
dapat mengurangi semua penyebab kematian. (WHO & UNICEF, 2013). PP No. 33
tahun 2012 tentang pemberian ASI eksklusif menganjurkan pemberian ASI eksklusif
selama 6 bulan menyiratkan bahwa pemberian ASI selama 6 bulan tanpa didampingi
makanan atau minuman lain. Memberikan makanan atau minuman tambahan dapat
meningkatkan peluang masuknya bakteri patogen. ASI dapat memberikan semua
kebutuhan tubuh bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. Pemberian ASI eksklusif
menurunkan angka kematian bayi baru lahir yang disebabkan oleh infeksi penyakit
yang umumnya mempengaruhhi anak-anak, seperti pneumonia. (Pemerintah Republik
Indonesia, 2012).
Ceria (2016) menyatakan bahwa kejadian pneumonia pada balita berkaitan
dengan factor yang melekat pada balita, yaitu status gizi, pemberian ASI secara
eksklusif, dan berat badan lahir. Rasyid (2013) menyatakan bahwa variable yang
memiliki hubungan timbal balik terhadap terjadinya pneumonia pada anak balita
adalah pengetahuan ibu, jenis kelamin anak balita, keadaan gizi anak balita, mata
pencaharian ibu, sokongan ASI eksklusif, dan pengimunan anak balita. Nur &
Marissa (2014) menyatakan bahwa riwayat menyusui pada dasarnya terkait dengan
tingkat penyakit infeksi pada balita. Balita yang disusui sampai usia 21 bulan
memiliki bahaya yang lebih besar tertular penyakit infeksi daripada 24 bulan. Balita
dengan ASI non-eksklusif mempunyai bahaya yang lebih besar menderita penyakit
infeksi.

2. Metode penelitian
- Desain
Penelitian menggunakan cross sectional merupakan penelitian observasional
analitik menggunakan data sekunder
- Tempat dan partisipan
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah data Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Timur. Variabel dependen dalam penelitian ini merupakan kasus
pneumonia pada balita, sedangkan variabel independen dalam penelitian ini adalah
pemberian ASI eksklusif. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur, jumlah
kasus pneumonia pada balita didapatkan dari jumlah anak di bawah lima tahun di 38
kabupaten/kota yang ditemukan dan ditangani menderita pneumonia. Jumlah
pemberian ASI ekslusif didapatkan dari catatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur
mengenai jumlah bayi yang diberi ASI eksklusif.
Data dianalisis secara statistik menggunakan bantuan aplikasi statistik.
Analisis regresi linier memiliki asumsi yang perlu diuji yaitu data berskala interval
atau rasio, residual berdistribusi normal, ada hubungan yang berlangsung antara
variabel terikat dan variabel bebas, melakukan uji T Parsial, dan model regresi dapat
diterangkan dengan menggunakan nilai koefisien determinasi. Uji pengaruh yang
digunakan untuk mengetahui pengaruh pemberian ASI eksklusif terhadap pneumonia
di Jawa Timur.

3. Hasil Penelitian
1. Gambaran Kasus Pneumonia Balita dan ASI Ekslusif di Jawa Timur
Mayoritas kejadian pneumonia balita terjadi pada laki-laki. Selisih antara
balita penderita pneumonia pada jenis kelamin laki-laki dan perempuan cukup
banyak. Persentase pemberian ASI eksklusif pada balita laki-laki memiliki selisih
sebesar 0,01 % lebih banyak jika dibandingkan dengan balita perempuan.
Pneumonia balita dapat terjadi pada daerah perkotaan maupun pedesaan. pneumonia
balita paling banyak ditemukan pada Kabupaten Sidoarjo, disusul kemudian
Kabupaten Jember dan Kabupaten Gresik.
2. Analisis Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif terhadap Pneumonia Balita di Jawa
Timur
Hasil uji normalitas didapatkan p-value sebesar 0,86. Nilai p-value > α (0,05)
artinya
residual data berdistibusi normal (Tabel 3). Nilai koefisien korelasi (R) pada Tabel 3
adalah 0,59 artinya hubungan kedua variabel penelitian ada di kategori sedang.
Sedangkan nilai koefisien determinasi (R Square) menunjukkan seberapa baik
model regresi yang dibentuk oleh interaksi variabel bebas dan variabel terikat. R
Square bernilai 0,35 artinya ASI eksklusif memiliki pengaruh sebesar 35% terhadap
kejadian pneumonia balita dan 65% lainnya dipengaruhi oleh faktor lain diluar
variabel bebas. Nilai Durbin Watson digunakan untuk menguji kebebasan sisaan
(error). Nilai DW 1,84 dan nilai DW tabel dengan k=1 (variabel bebas) dan n=38
(jumlah kasus) didapatkan nilai DL 1,43 dan DU = 1,54 yang artinya sisaan tidak
saling bebas (asumsi terpenuhi). Sedangkan linieritas regresi dilihat berdasarkan uji
F atau nilai signifikansi (sig.) pada tabel ANOVA. Hasil table ANOVA
menunjukkan nilai signifikasnsi 0,00 < 0,05 yang berarti model regresi adalah linier.
Uji T digunakan untuk melihat dampak dari variabel bebas terhadap variabel terikat
secara parsial. Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 4. didapatkan nilai sig ASI
eksklusif 0,00 < 0,05 artinya variabel ASI eksklusif berpengaruh terhadap kejadian
pneumonia balita. Model regresi yang didapatkan adalah Y = 891,85 + 0,18 ASI
Eksklusif Konstanta sebesar 891,85 artinya jika ASI eksklusif (X) nilainya adalah 0
maka kasus pneumonia balita (Y) nilainya 891,85. Koefisien regresi ASI eksklusif
(X) sebesar 0,18 artinya jika pemberian ASI eksklusif mengalami kenaikan 1 angka
maka kasus pneumonia balita (Y) mengalami peningkatan sebesar 0,18.

4. Pembahasan
Air Susu Ibu (ASI) adalah minuman alami bagi bayi baru lahir pada awal
kehidupan yang memiliki banyak manfaat dalam masa pertumbuhan. Komposisi ASI
sangat tepat untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang bertambah sesuai dengan usia
bayi (Lebuan & Somin, 2017). Pneumonia disebabkan oleh sejumlah infeksi,
termasuk virus, bakteri, dan jamur. Streptococcus pneumonia adalah salah satu bakteri
pneumonia pada anak. Haemophilus influenzae type b (Hib) penyebab kedua dari
bakteri pneumonia. Virus syncytial adalah virus penyebab pneumonia yang paling
umum. Seperempat dari seluruh kematian akibat pneumonia pada bayi dengan HIV
disebabkan oleh Pneumocystis jiroveci (UNICEF, 2016).
Hasil penelitian Nur & Marissa (2014) menyatakan ada hubungan antara
pemberian ASI eksklusif dengan penyakit infeksi yang dialami balita secara
signifikan. Balita diberi ASI noneksklusif sepanjang enam bulan berpotensi 1,40 kali
lebih besar mengalami penyakit infeksi. Sejalan dengan penelitian Ceria (2016) yakni
terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian pneumonia pada
anak balita. Anak balita dengan ASI tidak eksklusif berisiko mengalami pneumonia
3,13 kali dibandingkan anak balita yang diberikan ASI eksklusif. Anak balita yang
tidak berikan ASI secara eksklusif lebih berisiko mengalami penyakit karena tidak
mendapatkan manfaat ASI secara penuh yang lebih berpengaruh pada pembentukan
antibodi sebagai pertahanan dari penyakit. Anak dengan ASI eksklusif akan
mendapatkan manfaat seperti zat protektif, antibodi, imunitas seluler, dan zat anti
alergi yang melindungi tubuh dari kuman penyakit. Anak dengan ASI eksklusif akan
mempunyai status gizi yang baik karena tidak kekurangan nutrien yang dibutuhkan
tubuh.
Berbeda dengan Fikri (2016) yang menyatakan bahwa kelompok balita yang tidak
hanya mendapatkan ASI memiliki kesempatan 7,41 kali lebih tinggi untuk mengidap
pneumonia
dibandingkan kelompok balita yang diberi ASI eksklusif.
ASI dapat meningkatkan imunitas pada balita sehingga balita dapat memiliki
proteksi yang kuat pada tubuhnya. Sejalan dengan penelitian Luange, Ismanto, &
Karundeng (2016) bahwa ada hubungan antara pemberian Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI) dini untuk bayi baru lahir 0-6 bulan dengan kejadian ISPA. Bayi yang
diberi MP-ASI sejak dini (0-6 bulan) akan lebih mudah terpedaya kontaminasi
gastrointestinal, kontaminasi akses pernapasan serta mudah terjangkit alergi dan tidak
cocok susu formula. Tarsikah, Suharno, & Puji (2017) menyatakan pemberian MP-
ASI dini mempengaruhi frekuensi mordibitas bayi. Frekuensi morbiditas bayi yang
lebih banyak terjadi pada bayi yang diberikan MP-ASI pada usia 0-3 bulan. Bayi tidak
akan menerima immunoglobulin yang utama pada ASI sehingga bayi tidak dapat
dilindungi dari mikroorganisme patogen yang berasal dari sekitarnya. Bayi yang tidak
diberikan ASI tidak akan mendapatkan enzim yang berfungsi membantu pencernaan
bayi sebagai pengangkut logam (Fe, Mg, Zn, dan Se) serta berfungsi sebagai anti
infeksi. Pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini juga akan
meningkatkan angka kematian pada bayi. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan
oleh Efni, Machmud, & Pertiwi (2016) yang menyatakan bahwa kejadian pneumonia
pada balita tidak memiliki keterkaitan dengan pemberian ASI eksklusif.
Linda (2017) juga menyatakan tidak ada interaksi antara pemberian ASI
eksklusif dengan pneumonia balita. Saat ini sudah ada program pemerintah yaitu
pemberian suplementasi vitamin A pada balita umur 6-59 bulan. Vitamin A dapat
digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mengamankan saluran
pernapasan dari infeksi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh balita
meskipun tidak mendapatkan ASI secara eksklusif. Faktor dalam diri ibu berperan
penting terhadap ASI eksklusif yang diberikan pada bayi. Pemberian ASI eksklusif
dapat dipengaruhi oleh pendidikan ibu, stres yang dialami ibu, mata pencaharian ibu
dan peghasilan keluarga. Ibu yang memiliki pendidikan minimal SMA berpeluang
untuk memberikan ASI eksklusif yaitu 0,97 kali lebih besar daripada ibu yang
berpendidikan di bawah SMA. Ibu yang memiliki pendapatan lebih dari UMR (Upah
Minimum Regional) berpeluang untuk memberikan ASI eksklusif 1,39 kali lebih
besar daripada ibu dengan gaji kurang dari UMR. Ibu dengan stress psikologis
memiliki peluang untuk memberikan ASI eksklusif 0,74 kali lebih kecil daripada ibu
yang tidak menderita stres. Ibu yang mencari nafkah di luar rumah memiliki peluang
untuk memberikan ASI eksklusif 1,29 kali lebih kecil daripada ibu yang tidak mencari
nafkah (Lestari, Salimo, & Suradi, 2017).
Determinan pemberian ASI eksklusif pada ibu menyusui yang memiliki
hubungan signifikan menurut Astuti (2013) adalah ibu rumah tangga berpeluang 0,17
kali untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang bekerja, ibu
berpengetahuan tinggi berpeluang 5,94 kali untuk memberikan ASI eksklusif
dibandingkan ibu yang berpengetahuan yang rendah, ibu yang mempunyai sikap
positif berpeluang 8,78 kali untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang
bersikap tidak positif, ibu yang mempunyai peranan petugas berpeluang memberikan
ASI eksklusif sebanyak 9,45 kali dibandingkan ibu yang tidak mempunyai peranan
petugas, ibu yang terpapar media berpeluang 9,45 kali memberikan ASI eksklusif
dibandingkan ibu yang tidak terpapar media, dan ibu yang mendapatkan dukungan
suami berpeluang 9,87 kali memberikan ASI eksklusif daripada ibu yang tidak
memperoleh dukungan suami, serta ibu yang mempunyai peranan orang tua
mempunyai peluang 8,81 kali untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu
yang tidak mempunyai peranan orang tua. Anwar & Dharmayanti (2014) menyatakan
ibu yang berpendidikan rendah berisiko lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang
berpendidikan lebih tinggi memiliki anak yang terkena pneumonia. Pneumonia lebih
berisiko pada balita yang memiliki keluarga berpendapatan rendah daripada keluarga
berpendapatan tinggi. Hal ini dapat terjadi karena unit keluarga yang memiliki tingkat
pendapatan lebih baik mempunyai kapasitas yang lebih tinggi untuk memenuhi
kebutuhan mereka, meliputi perawatan kesehatan, peningkatan akses fasilitas
kesehatan, dan ibu yang memiliki edukasi lebih tinggi diyakini memiliki informasi
dan pemahaman yang lebih unggul termasuk dalam memahami masalah
kesejahteraan. Ibu yang bekerja seharusnya tidak menghambat pemberian ASI
eksklusif pada bayinya karena staf instansi dan pengelola sarana umum wajib
membantu program ASI eksklusif dengan cara menyediakan tempat privat untuk
menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan
(Pemerintah Republik Indonesia, 2012). Ibu yang memiliki pekerjaan cenderung tidak
melakukan pemberian ASI ketika bekerja.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak ibu memberikan MP-ASI lebih cepat dari
waktu yang telah ditentukan (Sulistiyowati & Siswantara, 2014). Sundari, Pratiwi, &
Khairudin (2014) menyatakan bahwa perilaku tidak sehat yang dilakukan ibu juga
dapat mengakibatkan balita berisiko terkena pneumonia. Perilaku tidak sehat ibu yang
berisiko menyebabkan pneumonia pada balita diantaranya ketika batuk tidak
menangkup hidung dan mulut, membiarkan anak berdekatan dengan orang yang
sedang sakit ISPA, tidak segera mencuci tangan dengan sabun setelah melakukan
kontak langsung dengan hidung dan mulut ketika batuk, tidak menjauhkan balita yang
sakit dari orang lain, tidak melakukan imunisasi secara lengkap pada balita, jarang
menyiapkan sayur dan buah pada menu makanan sehari-hari, dan belum sempat
memberi vitamin A pada bayi. Perilaku tidak sehat lain yang berkaitan dengan
penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan balita
adalah ibu tidak segera membawa balita yang sakit ISPA berobat ke fasilitas
kesehatan yang bahkan disertai gejala pneumonia. Perilaku tidak sehat lain yang
berkaitan dengan lingkungan serta berisiko terhadap penyakit pneumonia mencakup
jendela rumah tidak dibuka setiap hari, merokok dalam area rumah, mendekati anak-
anak ketika merokok, menjemur pakaian dan menempatkan buku dalam kamar tidur,
dan membakar sampah disekitar rumah.
Global Action Plan for the Prevention and Control of Pneumonia and Diarrhoea
(GAPPD) menetapkan kerangka terintegrasi dari intervensi kunci yang terbukti efektif
melindungi anak-anak, mencegah penyakit, dan memperlakukan anak yang sakit
pneumonia dan diare secara tepat. Cara yang dapat dilakukan untuk membuat anak
bebas penyakit adalah dengan cara memberikan ASI eksklusif, memberikan makanan
pendamping asi yang memadai disertai dengan pemberian asi eksklusif, dan
memberikan suplemen vitamin A. Upaya yang dapat dilakukan untuk membantu
menghentikan penularan penyakit yang membuat anak menjadi sakit adalah dengan
cara melakukan imunisasi, membersihkan lingkungan rumah, mengurasi polusi rumah
tangga, dan pencegahan HIV. Upaya untuk mengobati menyembuhkan anak yang
sakit dengan cara meningkatkan pencarian dan rujukan perawatan, menggunakan
antibiotik yang tepat, dan terapi oksigen (UNICEF, 2016). Upaya yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada balita yaitu tenaga
kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan bekerjasama dalam
memberikan informasi dan edukasi ASI eksklusif kepada ibu dan/atau anggota
keluarga dari bayi. Informasi dan edukasi ASI eksklusif yang diberikan dapat
mengenai keuntungan dan keunggulan pemberian ASI, gizi ibu dan bayi, persiapan
dan mempertahankan menyusui, serta akibat negatif pemberian makanan botol secara
parsial terhadap pemberian ASI (Pemerintah Republik Indonesia, 2012).
Masyarakat wajib mendukung keberhasilan program pemberian ASI eksklusif.
Dukungan dapat dilakukan dengan cara memberikan ide yang berhubungan dengan
penetapan kebijakan dan/atau pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif serta
menyebarluaskan pemberitahuan kepada masyarakat terkait fungsi utama pemberian
ASI eksklusif. Masyarakat juga dapat membantu, memantau, dan mengevaluasi
pelaksanaan program pemberian ASI eksklusif. Bagi perusahaan diharapkan mampu
menyediakan waktu dan ruangan untuk menyusui bagi ibu yang bekerja dalam
pemberian ASI ekskusif

5. Kesimpulan
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh signifikan pemberian
ASI eksklusif terhadap kejadian pneumonia balita di Provinsi Jawa Timur. ASI
eksklusif memiliki pengaruh sebesar 35% terhadap kejadian pneumonia balita dengan
kuat hubungan sedang.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli)
biasanya disebabkan oleh masuknya kuman bakteri, yang ditandai oleh gejala klinis batuk,
demam tinggi dan disertai adanya napas cepat ataupun tarikan dinding dada bagian bawah
ke dalam. Dalam pelaksanaan Pemberantasan Penyakit ISPA (P2ISPA) semua bentuk
pneumonia baik pneumonia maupun bronchopneumonia disebut pneumonia.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pemberian ASI eksklusif pada
balita yaitu tenaga kesehatan dan penyelenggara fasilitas pelayanan kesehatan bekerjasama
dalam memberikan informasi dan edukasi ASI eksklusif kepada ibu dan/atau anggota
keluarga dari bayi. Informasi dan edukasi ASI eksklusif yang diberikan dapat mengenai
keuntungan dan keunggulan pemberian ASI, gizi ibu dan bayi, persiapan dan
mempertahankan menyusui, serta akibat negatif pemberian makanan botol secara parsial
terhadap pemberian ASI

B. Saran
Penelitian ini harus melibatkan sampel yang lebih besar dan diperluas ke pusat-pusat

medis lainnya untuk benar-benar mengidentifikasi pengaruh pemberian ASI Ekslusif

terhadap Kejadian Pneumonia Balita di Jawa Timur


DAFTAR PUSTAKA

Risa Ayu Wulandari. 2018. Pengaruh Pemberian ASI Ekslusif terhadap Kejadian Pneumonia
pada Balita di Jawa Timur Jurnal Berkala Epidemiologi Volume 6 No 3. Surabaya :
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: Egc

Depkes Ri. Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat. Pusat Promosi
Kesehatanjakarta, 2007.

Kemenkes Ri. Manajemen Terpadu Balita Sakit (Mtbs). Jakarta. 2015

Price Dan Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Ed. 6 Vol 2.
Egc. Jakarta.

Wong, Donna L. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume 1. Jakarta: EGC

Profil Kesehatan Sumatra Barat (2017). Cakupan Pneumonia Balita di Provinsi Sumatera
Barat tahun 2017. Diakses
http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINSI_2014/
03_Sumatera%20Barat_2017.pdf

Kementerian Kesehatan RI. (2013). Riset Kesehatan Dasar 2013. Diakses


http://www.depkes.go.id/resources/download/general/Hasil%20Riskesdas%202013.p
df

Kementerian Kesehatan RI. (2017). Riset Kesehatan Dasar 2017.

Anwar, Athena & Dharmayanti, Ika.2014. Kejadian Pneumonia pada Anak Balita di
Indonesia. Jakarta: Percetakan Negara No. 29 Diakses
http://journal.fkm.ui.ac.id/kesmas/article/view/405

Sary, novita, dkk tahun 2019. Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Peningkatan
Pengetahuan Orang Tua Balita Tentang Pneumonia Di Wilayah Kota Padang Tahun
2018. Diakses file:///C:/Users/w7/Downloads/28-685-1-PB.pdf