Anda di halaman 1dari 15

SISTEM MUSKULOSKELETAL

Sistem muskuloskeletal terdiri atas sistem otot (muscle) yang merupakan alat
gerak aktif dan sistem rangka (skeletal) yang merupakan alat gerak pasif. Fungsi utama
dari sistem muskuloskeletal adalah untuk mendukung dan melindungi tubuh dan organ-
organnya serta untuk melakukan gerak (Nurmianto, 2004).

SISTEM OTOT (muscle)

1. OTOT

Otot merupakan jaringan tubuh yang berfungsi mengubah energi kimia


menjadi kerja mekanik sebagai respon tubuh terhadap perubahan lingkungan.
Terdapat lebih dari 600 buah otot pada tubuh manusia. Sebagian besar otot-
otot tersebut dilekatkan pada tulang-tulang kerangka tubuh oleh tendon, dan
sebagian kecil ada yang melekat di bawah permukaan kulit (Gibson, 2003).

Fungsi dari sistem otot (muscle) (Gibson, 2003):

 Menghasilkan gerakan rangka


 Mempertahankan sikap dan posisi tubuh
 Menyokong jaringan lunak
 Mempertahankan suhu tubuh normal

Ciri-ciri sistem muskuler/otot (Gibson, 2003):

 Kontrakstilitas. Serabut otot berkontraksi dan menegang, yang dapat atau


tidak melibatkan pemendekan otot.
 Eksitabilitas. Serabut otot akan merespons dengan kuat jika distimulasi
oleh impuls saraf.
 Ekstensibilitas. Serabut otot memiliki kemampuan untuk menegang
melebihi panjang otot saat rileks.
 Elastisitas. Serabut otot dapat kembali ke ukuran semula setelah
berkontraksi atau meregang.

1
Jenis-jenis otot terbagi menjadi tiga, yaitu (Gibson, 2003):

a) Otot rangka, merupakan otot lurik, volunteer, dan melekat pada rangka.
 Serabut otot panjang, berbentuk silindris dengan lebar berkisar antara
10-100 mikron.
 Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer.
 Kontraksinya sangat cepat dan kuat.
Struktur Mikroskopis Otot Skelet/Rangka

• Otot skelet disusun oleh bundel-bundel paralel yang terdiri dari serabut-
serabut berbentuk silinder panjang, disebut myofiber /serabut otot.
• Setiap serabut otot sesungguhnya adalah sebuah sel yang mempunyai
banyak nukleus ditepinya.
• Cytoplasma dari sel otot disebut sarcoplasma yang penuh dengan
bermacam-macam organella, kebanyakan berbentuk silinder yang
panjang disebut dengan myofibril.
• Myofibril disusun oleh myofilament-myofilament yang berbeda-beda
ukurannya :
- yang kasar terdiri dari protein myosin
- yang halus terdiri dari protein aktin/actin.
b) Otot Polos merupakan otot tidak berlurik dan involunteer. Jenis otot ini
dapat ditemukan pada dinding berongga seperti kandung kemih dan uterus,
serta pada dinding tuba, seperti pada sistem respiratorik, pencernaan,
reproduksi, urinarius, dan sistem sirkulasi darah.
 Serabut otot berbentuk spindel dengan nukleus di central.
 Serabut ini berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi
pembuluh darah) sampai 0,5 mm pada uterus wanita hamil.
 Kontraksinya kuat dan lamban.
Struktur Mikroskopis Otot Polos

• Sarcoplasmanya terdiri dari myofibril yang disusun oleh myofilamen-


myofilamen.

2
Jenis otot polos

Ada dua kategori otot polos berdasarkan cara serabut otot distimulasi
untuk berkontraksi.

 Otot polos unit ganda ditemukan pada dinding pembuluh darah


besar, pada jalan udara besar traktus respiratorik, pada otot mata yang
memfokuskan lensa dan menyesuaikan ukuran pupil dan pada otot
erektor pili rambut.
 Otot polos unit tunggal (viseral) ditemukan tersusun dalam lapisan
dinding organ berongga atau visera. Semua serabut dalam lapisan
mampu berkontraksi sebagai satu unit tunggal. Otot ini dapat
bereksitasi sendiri atau miogenik dan tidak memerlukan stimulasi
saraf eksternal untuk hasil dari aktivitas listrik spontan.
c) Otot Jantung
 Merupakan otot lurik
 Disebut juga otot serat lintang involunter
• Otot ini hanya terdapat pada jantung
• Bekerja terus-menerus setiap saat tanpa henti, tapi otot jantung juga
mempunyai masa istirahat, yaitu setiap kali berdenyut.
Struktur Mikroskopis Otot Jantung

• Mirip dengan otot skelet

Kerja Otot (Gibson, 2003)

• Fleksor (bengkok) >< Ekstentor (meluruskan)


• Supinasi(menengadah) >< Pronasi (tertelungkup)
• Defresor(menurunkan) >< Lepator (menaikkan)
• Sinergis (searah) >< Antagonis (berlawanan)
• Dilatator(melebarkan) >< Konstriktor (menyempitkan)
• Adduktor(dekat) >< Abduktor (jauh)

3
2. TENDON
Menurut Pearce & Evelyn (1992), tendon adalah urat atau tali daging yang
kuat dan fleksibel tersusun atas fibrous protein (kolagen). Tendon memiliki
fungsi untuk melekatkan tulang dengan otot atau otot dengan otot.

3. LIGAMEN
Ligamen merupakan jaringan elastis penghubung yang terdiri atas
kolagen. Ligamen ini membungkus tulang dengan tulang yang diikat olah
sendi (Gibson, 2003).
Ligamen terbagi menjadi dua tipe, yaitu (Gibson, 2003):
a. Ligamen Tipis
Merupakan ligamen kolateral pembungkus tulang dan kartilago yang ada
di lutut dan siku serta memungkinkan adanya gerakan.
b. Ligamen Jaringan Elastik Kuning
Merupakan ligamen yang dipererat oleh jaringan yang membungkus dan
memperkuat sendi, seperti pada tulang bahu dengan tulang lengan atas.

4
SISTEM RANGKA (skeletal)

Rangka merupakan bagian dari tubuh yang terdiri atas tulang, tulang rawan
(kartilago) dan sendi sebagai tempat menempelnya otot (muscle) (Gibson, 2003).

Fungsi sistem skeletal (Gibson, 2003):

1. Memproteksi organ- organ dalam dari trauma mekanis


2. Membentuk kerangka sebagai penyangga tubuh dan melekatnya otot
3. Berisi dan melindungi sum-sum tulang merah yang merupakan salah satu
jaringan pembentuk darah.
4. Merupakan tempat penyimpanan bagimineral seperti calcium daridalam darah
misalnya.
5. Hemopoesis

1. TULANG

Struktur Tulang (Gibson, 2003):

• Tulang terdiri dari sel hidup yang tersebar diantara material tidak hidup
(matriks).
• Matriks tersusun atas osteoblas (sel pembentuk tulang).
• Osteoblas membuat dan mensekresi protein kolagen dan garam mineral.

5
• Jika pembentukan tulang baru dibutuhkan, osteoblas baru akan dibentuk.
• Jika tulang telah dibentuk, osteoblas akan berubah menjadi osteosit (sel
tulang dewasa).
• Sel tulang yang telah mati akan dirusak oleh osteoklas (sel perusakan tulang).

Jaringan tulang terdiri atas (Gibson, 2003):

a. Kompak (sistem harvesian  matrik dan lacuna, lamella intersisialis)


b. Spongiosa (trabecula yang mengandung sumsum tulang dan pembuluh
darah)
Klasifikasi Tulang berdasarkan penyusunnya (Gibson, 2003):

1. Tulang Kompak

a. Padat, halus dan homogen

b. Pada bagian tengah terdapat medullary cavity yang mengandung ’yellow bone
marrow”.

c. Tersusun atas unit : Osteon  Haversian System

d. Pada pusat osteon mengandung saluran (Haversian Canal) tempat pembuluh


darah dan saraf yang dikelilingi oleh lapisan konsentrik (lamellae).

e. Tulang kompak dan spongiosa dikelilingi oleh membran tipis yang disebut
periosteur, membran ini mengandung:

 Bagian luar percabangan pembuluh darah yang masuk ke dalam tulang


 Osteoblas
2. Tulang Spongiosa

a. Tersusun atas ”honeycomb” network yang disebut trabekula.

b. Struktur tersebut menyebabkan tulang dapat menahan tekanan.

c. Rongga antara trebakula terisi ”red bone marrow” yang mengandung


pembuluh darah yang memberi nutrisi pada tulang.

6
d. Contoh, tulang pelvis, rusuk,tulang belakang, tengkorak dan pada ujung
tulang lengan dan paha.

Klasifikasi Tulang berdasarkan Bentuknya (Gibson, 2003):

1. Tulang panjang, contoh: humerus, femur, radius, ulna


2. Tulang pendek, contoh: tulang pergelangan tangan dan pergelangan kaki
3. Tulang pipih, contoh: tulang tengkorak kepala, tulang rusuk dan sternum
4. Tulang tidak beraturan: contoh: vertebra, tulang muka, pelvis
Pembagian Sistem Skeletal (Gibson, 2003):

1. Axial / rangka aksial, terdiri dari :


 tengkorak kepala / cranium dan tulang-tulang muka
 columna vertebralis / batang tulang belakang
 costae / tulang-tulang rusuk
 sternum / tulang dada
2. Appendicular / rangka tambahan, terdiri dari :
 tulang extremitas superior
a. korset pectoralis, terdiri dari scapula (tulang berbentuk segitiga) dan
clavicula (tulang berbentuk lengkung).
b. lengan atas, mulai dari bahu sampai ke siku.
c. lengan bawah, mulai dari siku sampai pergelangan tangan.
d. tangan
 tulang extremitas inferior: korset pelvis, paha, tungkai bawah, kaki.
2. SENDI
Sendi adalah hubungan antar dua tulang untuk memudahkan terjadinya
pergerakan (Pearce & Evelyn, 1992).
Sendi terbagi menjadi tiga yaitu (Pearce & Evelyn, 1992).:
1. Synarthrosis (suture)
Hubungan antara dua tulang yang tidak dapat digerakkan, strukturnya
terdiri atas fibrosa. Contoh: Hubungan antara tulang di tengkorak.

7
2. Amphiarthrosis

Hubungan antara dua tulang yang sedikit dapat digerakkan, strukturnya


adalah kartilago. Contoh: Tulang belakang

3. Diarthrosis
Hubungan antara dua tulang yang memungkinkan pergerakan, yang terdiri
dari struktur sinovial. Contoh: sendi peluru (tangan dengan bahu), sendi
engsel (siku), sendi putar (kepala dan leher), dan sendi pelana (jempol/ibu
jari).

MUSKULOSKELETAL DISORDERS

PENGERTIAN CEDERA

Cedera merupakan rusaknya jaringan akibat adanya kesalahan teknis, benturan,


atau aktivitas fisik yang melebihi batas beban latihan, sehingga menimbulkan rasa sakit
akibat dari pembebanan latihan yang terlalu berat sehingga otot dan tulang tidak lagi
dalam keadaan anatomis (Cava, 1995).

Cedera olahraga adalah rasa sakit akibat olahraga yang dapat menimbulkan cacat,
luka dan rusak pada otot atau sendi serta bagian lain dari tubuh baik saat latihan atau
sesudah latihan (Sudijantoko, 2000).

JENIS-JENIS CEDERA

Menurut Taylor (1997), jenis cedera yang sering dialami terbagi menjadi dua jenis
yaitu:

a. Trauma akut
Merupakan cedera berat yang terjadi secara mendadak, seperti goresan,
robeknya ligamen, atau patah tulang. Cedera akut biasanya memerlukan
pertolongan yang profesional dengan segera.

8
b. Overuse syndrome
Sindrom ini bermula dari adanya kekuatan abnormal dalam level yang rendah
atau ringan, namun berlangsung secara berulang-ulang dalam jangka waktu
yang lama.

Menurut Sudijantoko (2000), secara umum cedera olahraga diklasifikasikan


menjadi 3 macam, yaitu:

a. Cedera tingkat 1 (Cedera ringan)


Penderita tidak mengalami keluhan yang serius, namun dapat mengganggu
penampilan dari penderita. Misalnya: lecet, memar, sprain yang ringan.
b. Cedera tingkat 2
Tingkat kerusakan jaringan lebih nyata berpengaruh pada performa penderita.
Keluhan bisa berupa nyeri, bengkak, gangguan fungsi (tanda-tanda inflamasi)
misalnya: lebar otot, strain otot, tendon-tendon, robeknya ligamen (Sprain
grade I).
c. Cedera tingkat 3 (Cedera berat)
Cedera tingkat ini memerlukan penanganan yang intensif, istirahat total dan
mungkin perlu tindakan bedah jika robekan lengkap atau hampir lengkap
ligamen (sprain grade III) dan atau fraktur tulang.

MACAM-MACAM CEDERA

Menurut Sloane (2003) secara umum cedera yang terjadi saat olahraga maupun saat
pembelajaran penjasorkes antara lain:

a. Memar (kontusio)
Rusaknya jaringan dibawah permukaan kulit dan pecahnya pembuluh darah
kecil sehingga darah dan cairan seluler merembes ke daerah sekitarnya. Hal
tersebut dapat terjadi karena adanya benturan benda keras terhadap jaringan
lunak tubuh (Sloane. 2003).

9
b. Kram Otot
c. Lepuh (Blisters)
Timbulnya benjolan di kulit yang berisi cairan bening akibat penggunaan
peralatan yang tidak pas, peralatan masih baru, atau peralatan yang lama seperti
sepatu yang terlalu kecil (Sloane, 2003).

d. Perdarahan pada kulit (lecet)


Perdarahan pada kulit atau perdarahan eksternal adalah perdarahan
yang dapat dilihat berasal dari luka terbuka (Sloane, 2003).
e. Kehilangan kesadaran atau syncope
Menurut Sloane (2003), pingsan adalah keadaan kehilangan kesadaran yang
bersifat sementara karena kurangnya suplai oksigen dan aliran darah menuju ke
otak.

10
f. Cedera pada Otot Tendo dan Ligamen
Menurut Sloane (2003), strain adalah cedera yang menyangkut cedera otot dan
tendon. Strain dapat dibagi menjadi tiga tingkatan yaitu:
1) Tingkat I
Strain tingkat ini tidak ada robekan, hanya terdapat kondisi inflamasi ringan.
Meskipun pada tingkat ini tidak ada penurunan kekuatan otot, tetapi pada
kondisi tertentu cukup mengganggu atlet.
2) Tingkat II
Strain pada tingkat ini sudah terdapat kerusakan pada otot atau tendon
sehingga dapat mengurangi kekuatan otot.
3) Tingkat III
Strain pada tingkat ini sudah terjadi kerobekan yang parah atau bahkan
sampai putus sehingga diperlukan tindakan operasi atau bedah dan
dilanjutkan dengan fisioterapi dan rehabilitasi.
g. Dislokasi
Menurut Sloane (2003), dislokasi adalah terlepasnya sebuah sendi dari
tempatnya yang seharusnya. Sendi yang pernah mengalami dislokasi, ligamen
akan menjadi kendor. Akibatnya, sendi itu akan mudah mengalami dislokasi
kembali.
h. Patah tulang
Patah tulang adalah suatu keadaan dimana tulang mengalami, pecah, atau patah,
baik pada tulang rawan (kartilago) maupun tulang keras (osteon) (Sloane,
2003).

11
SKENARIO:

Osas adalah sorang mahasiswa kedokteran gigi semester 3 yang hendak melakukan
aktifitas lari pagi bersama temannya. Sebelum berlari, Osas memulai olahraga dengan
melakukan pemanasan terlebih dahulu, sedangkan temannya langsung berlari
mengelilingi lapangan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Setelah beberapa putaran
dilalui, tiba-tiba teman osas jatuh dan berteriak kesakitan sembari memegangi kaki
kirinya. Dengan segera osas menghampiri temannya tesebut, terlihat otot-toto diarea
betis spasme, terasa sakit dan sulit untuk berdiri. Sebagai mahasiswa kedokteran gigi,
osas mengetahui bahwa apa yang dialami oleh temannya adalah suatu kondisi kram
otot, berbekal pengetahuannya osas memabantu dengan sigap.

Berdasarkan skenario di atas, maka poin yang akan dibahas adalah mengenai
musculoskeletal disorder yaitu kram otot.

Pengertian

Gerakan yang dilakukan pada keadaan otot tidak siap sehingga mengakibatkan
ketegangan berlebihan yang tidak dapat dikendalikan pada otot, atau yang sering
disebut juga sebagai kram otot (Sudarsono, 2003). Kram otot adalah kontraksi dari otot
secara tidak sadar dan mendadak sehingga otot kaku dan terasa nyeri (TBM, 2015).
Kram otot merupakan kontraksi otot tertentu yang berlebihan dan terjadi secara
mendadak dan tanpa disadari (Mohammad, 2003). Kram otot adalah tertariknya atau
konstraksi otot yang sangat hebat tanpa disertai adanya relaksasi sehingga
mengakibatkan rasa sakit yang sangat hebat (Januardi, 2011).

Etiologi

Kram otot diduga disebabkan oleh hal yang berkaitan dengan


ketidakseimbangan mineral dalam tubuh, khususnya natrium. Keadaan kekurangan
cairan serta kelelahan otot juga dipercaya berpengaruh terhadap kemungkinan
terjadinya kram otot. Studi lain mendapatkan bahwa usia tua, lari jarak jauh, berat

12
badan berlebih, kurang peregangan dan riwayat kram dalam keluarga juga berperan
dalam mengakitakan terjadinya kram otot (Sudarsono, 2003). Menurut Kartono
Mohammad (2001), kram otot terjadi karena letih, biasanya terjadi saat malam hari
atau karena kedinginan, dan dapat pula karena panas, dehidrasi, trauma pada otot yang
bersangkutan atau kekurangan magnesium. Kram otot terjadi karena terjadinya
penumpukan asam laktat diotot karena mengalami kelelahan (Taylor, 1997). Penyebab
pasti dari kram otot belum bisa diketahui, namun kemungkinannya yaitu dehidrasi,
kadar garam dalam tubuh rendah, kadar karbohidrat rendah, otot dalam keadaan kaku
badan kurangnya pemanasan (Januardi, 2011).

Mekanisme

Mekanisme kram otot yaitu diawali dengan kontraksi otot yang berlebihan
tanpa adanya suatu relaksasi atau istirahat. Ketika otot berkontraksi maka terjadilah
suatu metabolisme glikogenensis yang merubah glikogen pada otot untuk dijadikan
asam piruvat dan ATP, namun apabila kontraksi dilakukan terus menerus
otomatis glikogen yang akan dirombak mengalami penurunan sehingga dalam tubuh
terjadi homeostatis walaupun kadar glikogen menipis dengan cara mengubah glikogen
menjadi asam laktat. Namun apabila otot terus berkontraksi ketika sudah terbentuk
asam laktat maka pembentukan asam laktat ini terus dilakukan hingga terjadi
penempukan (Januardi, 2011).
Dalam hal penumpukan inilah asam laktat mampu mengiritasi serabut-serabut
saraf otot sehingga terjadi rasa nyeri, ketika sudah timbul rasa nyeri namun otot dipaksa
untuk terus bekerja maka otot akan mengalami spasme atau kejang otot, sehingga otot-
otot tersebut mengalami ketegangan yang berlebih dan berhenti secara mendadak.
Ketegangan otot yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan dampak berbahaya
seperti kerusakan pada jaringan di sekitarnya dan menyebabkan robek.
Untuk itu pengontrolan kontraksi otot perlu dilakukan ketika otot-otot mulai terasa
nyeri, Relaksasi yang dilakukan saat otot mengalami kelelahan memainkan proses
metabolisme yang merubah sebagian asam laktat oleh enzim laktat dehidrogenase
untuk dijadikan sebuah energi dalam bentuk glikogen yang dilakukan oleh organ hati,

13
namun sebagian asam laktat yang menumpuk lainnya dibuang dan netralkan oleh hati
karena bersifat racun. Sehingga proses relaksasi sangat diperlukan otot dalam
mencegah kekejangan otot (Januardi, 2011).

Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya kram otot yaitu dengan (Sudarsono, 2003) :
1. Menjaga kondisi tubuh.
2. Melakukan peregangan otot secara baik dan teratur, khususnya otot yang
sering mengalami kram.
3. Cukup minum, cukup mineral, cukup karbohidrat.
Anjuran minum pada kegiatan berolahraga: cukup minum sebelum
berolahraga dengan cara minum 2 gelas sebelum tidur, dan 2 gelas pada
pagi hari saat berolahraga, minum sedikit setiap 15 – 20 menit atau jika
terasa haus setelah selesai berolahraga, minum 2 gelas air atau sampai rasa
haus hilang. Minuman yang dianjurkan untuk seseorang yang berolahraga
adalah minuman yang mengandung gula dan mineral khususnya garam.
4. Perhatikan pemulihan kondisi tubuh setelah berlatih berat, yaitu dengan
memperhatikan jumlah cairan, masukan garam serta istirahat yang cukup
untuk otot.

Penanggulangan
Jika terjadi kram otot, maka penanggulangannya adalah (Sudarsono, 2003):
1. Hentikan kegiatan – relaksasikan otot
2. Regangkan otot yang mengalami kram secara pasif dengan cara menarik sendi
yang terkait ke arah yang berlawanan, hingga panjang otot kembali normal dan
kedutan otot tidak lagi tampak
3. Usap/massage daerah yang mengalami kram ke arah jantung
4. Minum cairan yang mengandung elektrolit (natrium)
5. Jika kram tidak dapat diatasi, mintalah pertolongan dokter di fasilitas gawat
darurat

14
Pembahasan skenario

Teman Osas mengalami spasme otot atau kram otot. Sesuai dengan pengertian dari
kram otot yang merupakan kontraksi dari otot yang berlebihan, terjadi mendadak dan
tanpa disadari. Teman Osas berolahraga tanpa melakukan peregangan otot terlebih
dahulu sehingga otot badan yang masih kaku langsung berkontraksi mendadak dan
dengan kecepatan yang cukup tinggi sehingga teman osas tersebut mengalami spasme
atau kram otot. Kram otot tersebut terjadi diawali dengan kotraksi otot yang berlebihan,
pada saat otot kontraksi terjadi metabolisme glikogenesis yang mengubah glikogen
menjadi asam piruvat dan ATP. Kontraksi berlangsung terus menerus sehingga terjadi
penurunan glikogen dan dalam tubuh terjadi homeostasis dengan mengubah glikogen
menjadi asam laktat. Apabila kontraksi tetap berlanjut ketika sudah terbentuk asam
laktat, maka akan terjadi penumpukan asam laktat. Penumpukan tersebut dapat
mengiritasi serabut-serabut saraf sehingga timbul rasa nyeri atau kram otot. Seharusnya
sebelum berolahraga teman Osas melakukan peregangan terlebih dahulu seperti Osas
agar tidak terjadi kram otot, kemudian sebelum berolahraga minum dengan cukup.
Osas sebagai mahasiswa kedokteran gigi berbekal pengetahuannya dapat membantu
temannya dengan meregangkan otot yang mengalami kram secara pasif dengan cara
menarik sendi yang terkait ke arah yang berlawanan, hingga panjang otot kembali
normal dan kedutan otot tidak lagi tampak; usap/massage daerah yang mengalami kram
ke arah jantung; minum cairan yang mengandung elektrolit (natrium); jika kram tidak
dapat diatasi, membawa temannya ke dokter.

15