Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PROBLEM BASED LEARNING

2.1 Problem Based Learning


2.1.1 Pengertian PBL
Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)
adalah suatu model pembelajaran yang didasarkan pada prinsip menggunakan masalah
sebagai titik awal akuisisi dan integrasi pengetahuan baru. PBL adalah salah satu model
pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara menghadapkan para peserta
didik tersebut dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Dengan
pembelajaran model ini, peserta didik dari sejak awal sudah dihadapkan kepada berbagai
masalah kehidupan yang mungkin akan ditemuinya kelak pada saat mereka sudah lulus
dari bangku sekolah. (Marhamah, 2018).
Menurut Hung (2008) dalam Shofiyah (2018), Problem Based Learning (PBL)
adalah sebuah kurikulum yang merencanakan pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan
instuksional. PBL merupakan model pembelajaran yang menginisiasi siswa dengan
menghadirkan sebuah masalah agar diselesaikan oleh siswa. Selama proses pemecahan
masalah, siswa membangun pengetahuan serta mengembangkan keterampilan pemecahan
masalah dan keterampilan self-regulated learner. Dalam proses pembelajaran PBL,
seluruh kegiatan yang disusun oleh siswa harus bersifat sistematis. Hal tersebut
diperlukan untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang nanti
diperlukan dalam karier dan kehidupan sehari–hari.
Dengan adanya penerapan Metode Problem Based Learning, peran guru sebagai
pendidik harus bisa membangkitkan minat belajar siswa, motivasi belajar dan partisipasi
siswa dalam proses pembelajaran sehingga diharapkan prestasi belajar siswa akan
mengalami peningkatan dibandingkan dengan sebelumnya yang masih menerapkan
metode konvensional ceramah (Adriadi, 2016).
2.1.2 Prinsip-prinsip PBL
Menurut Amelia (2016) Ada tiga prinsip penting dalam pembelajaran PBL, yaitu :
1. Pembelajaran merupakan suatu proses konstruktif. (Learning should be a
constructive process)
Pembelajaran merupakan suatu proses di mana mahasiswa secara aktif
membangun pengetahuan mereka sendiri. Mahasiswa tidak lagi secara pasif
mendapatkan pengetahuan tentang fakta-fakta melalui perkuliahan satu arah
oleh guru (one-way lecture), mereka diharapkan dapat memahami tentang suat
teori
2. Pembelajaran merupakan suatu proses yang dimotori oleh keinginan
dari dalam diri sendiri (Learning should be a self directed process)
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa memiliki tanggung jawab
mulai dari perencanaan, monitoring, dan evaluasi proses belajar mereka
sendiri. Mahasiswa harus dapat menentukan tujuan belajar mereka, kemudian
mencari cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan membentuk suatu
pemahaman baru tentang suatu permasalahan.
3. Pembelajaran merupakan sesuatu yang diberikan kontekstual (Learning
should be a contextual process)
Proses pembelajaran dengan sistem PBL akan memfasilitasi peserta didik
untuk dapat belajar dengan permasalahan yang bersifat nyata, masalah yang
nantinya akan sering mereka jumpai pada saat mereka berada dalam
lingkungan nyata.

2.1.3 Karakteristik PBL

Berdasarkan teori yang dikembangkan Barrow, Min Liu (2005) dalam Marhamah (2013)
menjelaskan karakteristik dari PBL, yaitu :
1. Learning is student-centered
Proses pembelajaran dalam PBL lebih menitikberatkan kepada peserta didik sebagai
orang belajar. Oleh karena itu, PBL didukung juga oleh teori konstruktivisme dimana
peserta didik didorong untuk dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri.
2. Authentic problems from the organizing focus for learning

2
Masalah yang disajikan kepada peserta didik adalah masalah yang otentik sehingga
peserta didik mampu dengan mudah memahami masalah tersebut serta dapat
menerapkannya dalam kehidupan profesionalnya nanti.
3. New information is acquired through self-directed learning
Dalam proses pemecahan masalah mungkin saja peserta didik belum mengetahui dan
memahami semua pengetahuan prasyaratnya, sehingga peserta didik berusaha untuk
mencari sendiri melalui sumbernya, baik dari buku atau informasi lainnya.
4. Learning occurs in small groups
Agar terjadi interaksi ilmiah dan tukar pemikiran dalam usaha membangun
pengetahuan secara kolaboratif, maka PBL dilaksakan dalam kelompok kecil.
Kelompok yang dibuat menuntut pembagian tugas yang jelas dan penetapan tujuan
yang jelas.
5. Teachers act as facilitators.
Pada pelaksanaan PBL, guru hanya berperan sebagai fasilitator. Namun, guru harus
selalu memantau perkembangan aktivitas peserta didik dan mendorong peserta didik
agar mencapai target yang hendak dicapai.

2.1.4 Langkah-langkah PBL

Menurut Barret (2005) dalam Marhamah (2013) Terdapat beberapa langkah-langkah


pelaksanaan PBM sebagai berikut:
1. Peserta didik diberi permasalahan oleh guru (atau permasalahan diungkap dari
pengalaman peserta didik)
2. Peserta didik melakukan diskusi dalam kelompok kecil dan melakukan hal-hal
berikut.
a. Mengklarifikasi kasus permasalahan yang diberikan
b. Mendefinisikan masalah
c. Melakukan tukar pikiran berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki
d. Menetapkan hal-hal yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah
e. Menetapkan hal-hal yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah

3
3. Peserta didik melakukan kajian secara independen berkaitan dengan masalah yang
harus diselesaikan. Mereka dapat melakukannya dengan cara mencari sumber di
perpustakaan, database, internet, sumber personal atau melakukan observasi
4. Peserta didik kembali kepada kelompok PBM semula untuk melakukan tukar
informasi, pembelajaran teman sejawat, dan bekerjasama dalam menyelesaikan
masalah.
5. Peserta didik menyajikan solusi yang mereka temukan
6. Peserta didik dibantu oleh guru melakukan evaluasi berkaitan dengan seluruh
kegiatan pembelajaran. Hal ini meliputi sejauhmana pengetahuan yang sudah
diperoleh oleh peserta didik serta bagaimana peran masing-masing peserta didik
dalam kelompok.

2.1.3 Manfaat dan keunggulan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Menurut Marhamah (2013), Model pembelajaran Problem Based Learning dinilai


memiliki berbagai kelebihan sebagai berikut:
a. Dapat membuat pendidikan di sekolah menjadi lebih relevan dengan kehidupan,
khususnya dengan dunia kerja;
b. Dapat membiasakan para peserta didik menghadapi dan memecahkan masalah
secara terampil, yang selanjutnya dapat mereka gunakan pada saat menghadapi
masalah yang sesungguhnya di masyarakat kelak
c. Dapat merangsang pengembangan kemampuan berpikir secara kreatif dan
menyeluruh, karena dalam proses pembelajarannya, para peserta didik banyak
melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai aspek

2.1.4 Kelemahan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM)


Menurut Marhamah (2013) Beberapa kelemahan strategi pembelajaran berbasis
masalah antara lain:
a. Sering terjadi kesulitan dalam menemukan permasalahan yang sesuai dengan
tingkat berpikir para peserta didik. Hal ini terjadi, karena adanya perbedaan
tingkat kemampuan berpikir pada para peserta didik

4
b. Sering memerlukan waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan penggunaan
metode konvensional. Hal ini terjadi antara lain karena dalam memecahkan
masalah tersebut sering keluar dari konteksnya atau cara pemecahannya yang
kurang efisien.
c. Sering mengalami kesulitan dalam perubahan kebiasaan belajar dari yang semula
belajar dengan mendengar, mencatat dan menghafal informasi yang disampaikan
dosen, menjadi belajar dengan cara mencari data, menganalisis, menyusun
hipotesis, dan memecahkannya sendiri

5
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Problem Based Learning adalah sistem pembelajaran yang menggunakan suatu

permasalahan sebagai sumber pembelajaran. Dengan sistem ini siswa belajar untuk

memecahkan suatu masalah dengan pengetahuan yang dia miliki dan siswa juga akan

berusaha mengingat kembali pengetahuan yang pernah dia dapat untuk menyelesaikan

masalah tersebut.

Dalam PBL siswa dituntut untuk berpikir secara luas dan cerdas agar

mendapatkan solusi untuk permasalahan yang diajukan oleh guru.Siswa juga dituntut

untuk aktif berpartisipasi dalam pembelajaran.Dengan sistem PBL ini maka kegiatan

belajar akan lebih bermakna bagi siswa dan siswa akan lebih memahami dan mengerti

bahwa ilmu yang mereka dapat bisa mereka aplikasikan dalam kehidupan nyata.

Walaupun sistem PBL mempunyai kekurangan seperti membuat kelas terkadang

tidak kondusif, butuh waktu lama, dan siswa menjadi kurang mendapat pengetahuan

dasar secara utuh tetapi sistem ini cukup baik karena dapat mengembangkan potensi

siswa dan mengembangkan kecerdasan intelektual siswa.

B. SARAN
Kami berharap pembaca sudi memberi kritik dan saran yang membangun kepada

kami supaya bisa menyempurnakan kembali makalah ini. Semoga makalah ini tidak

hanya sebagai tugas saja melainkan dapat berguna bagi pembaca dan apa yang ada

didalamnya dapat diaplikasikan dalam kegiatan belajar mengajar pembaca.

6
DAFTAR PUSTAKA

Amelia, D.Fitri. 2016. Penerapan Problem Based Learnin (Pbl) Dalam Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jurnal JMJ: Vol. 4, Nomor 1. Hal: 95 –100

Adriadi, Ade. 2016. Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Dan Motivasi Siswa
Terhadap Hasil Belajar Pai Di SMP Negeri I Ciruas – Serang. Jurnal Kajian
Keislaman:Sanitifika Islamica. Vol.3. Hal. 15-38.

N. Shofiyah, F. E. Wulandari. 2018 . Model Problem Based Learning (Pbl) Dalam Melatih
Scientific Reasoning Siswa . JPPIPA (Jurnal Penelitian Pendidikan IPA), Vol. 3, No. 1,
33-38
Saleh, Marhamah. 2013. Strategi Pembelajaran Fiqh Dengan Problem-Based Learning. Jurnal
Ilmiah DIDAKTIKA . VOL. XIV NO. 1, 190-220.