Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Psor
Psorias
iasis
is adal
adalah
ah perad
peradan
anga
gan
n kuli
kulitt yang bersi
bersifa
fatt kron
kronik
ik resid
residif
if deng
dengan
an
karakteristik
karakteristik berupa plak eritematosa
eritematosa berbatas
berbatas tegas, skuama kasar,
kasar, berlapis,
berlapis, dan
 berwarna putih keperakan disertai oleh fenomena
f enomena tetesan lilin, tanda Auspitz,
tanda  Auspitz, dan
fenomena Koebner.1
Psoriasis dijumpai di seluruh dunia dengan prevalensi yang berbeda-beda
dipengaruhi oleh ras, geografis, dan lingkungan. Di Amerika erikat terjadi pada
!" dari populasi atau sekitar 1#$.$$$ kasus baru per tahun. %nsiden tertinggi di
Denmark &!,'"( sedangkan rerata di )ropa *tara sekitar !". Pada sebuah studi,
insidensi tertinggi ditemukan di pulau +aeroe yaitu sebesar !,". %nsidensi yang
rendah ditemukan di Asia &$,"( misalnya epang dan pada ras Amerika Afrika
&1,/"(. ementara itu psoriasis
psorias is tidak ditemukan pada suku Aborigin Australia
Australia dan
%ndian yang berasal dari Amerika elatan.1
%nsiden psoriasis pada pria lebih banyak dari pada wanita, psoriasis dapat
terjadi
terjadi pada
pada semua
semua usia,
usia, tetapi
tetapi umumn
umumnya
ya pada
pada orang
orang dewasa muda.!,/,  0nset
dewasa muda.
 penyakit ini umumnya kurang pada usia yang sangat muda dan orang tua. /,# Dua
kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara !$  /$ tahun dan yang
lebih sedikit pada usia antara #$  2$ tahun.  Psoriasis lebih banyak dijumpai
banyak terjadi pada musim hujan. #
 pada daerah dingin dan lebih banyak
Penyebab yang pasti psoriasis belum diketahui dengan pasti, namun, banyak 
faktor predisposisi yang memegang peran penting seperti predisposisi genetik dan
kelainan imunologis. 3alaupun etiopatogenesis psoriasis tidak diketahui dengan
 pasti, namun banyak faktor yang diduga sebagai pemi4u timbulnya psoriasis
sepe
sepert
rti5
i5 infe
infeks
ksii bakt
bakter
eria
ial,
l, trau
trauma
ma fisi
fisik,
k, stre
stress
ss psik
psikol
olog
ogis
is dan
dan gang
ganggu
guan
an
metabolisme.2,6
Dalam penatalaksanaan
penatalaksanaan psoriasis
psoriasis perlu diperhatikan
diperhatikan mengenai
mengenai luasnya
luasnya lesi
kulit, lokalisasi lesi kulit, usia penderita dan ada tidaknya kontraindikasi terhadap
obat yang diberikan. 1 7erdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik untuk 
membahas kasus psoriasis untuk memperdalam pemahaman dalam mendiagnosis
dan tatalaksana psoriasis
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1
2.1 Definisi
Psoriasis
Psoriasis adalah peradangan
peradangan kulit yang bersifat kronik residif dengan
dengan
karakteristik
karakteristik berupa plak eritematosa
eritematosa berbatas
berbatas tegas, skuama kasar, berlapis,
dan berwar
berwarna
na putih
putih kepera
keperakan
kan diserta
disertaii oleh
oleh fenom
fenomena
ena tetesan
tetesan lilin,
lilin, tanda
tanda
 Auspitz, dan fenomena Koebner.1
2.2 Epidemiologi
Psoriasis dijumpai di seluruh dunia dengan prevalensi yang berbeda-
 beda dipengaruhi oleh ras, geografis, dan lingkungan. Di Amerika erikat
terjadi pada !" dari populasi atau sekitar 1#$.$$$ kasus baru per tahun.
%nsiden tertinggi di Denmark &!,'"( sedangkan rerata di )ropa *tara sekitar 
!". Pada sebuah studi, insidensi tertinggi ditemukan di pulau +aeroe yaitu
sebesar
sebesar !,".
!,". %nside
%nsidensi
nsi yang
yang rendah
rendah ditemu
ditemukan
kan di Asia
Asia &$,"(
&$,"( misaln
misalnya
ya
epang dan pada ras Amerika Afrika &1,/"(. ementara itu psoriasis tidak 
ditem
ditemuk
ukan
an pada
pada suku
suku Abori
borigi
gin
n Austra
ustrali
liaa dan
dan %ndi
%ndian
an yang
ang beras
berasal
al dari
dari
Amerika elatan.1
%nsiden psoriasis pada pria lebih banyak dari pada wanita, psoriasis
dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya pada orang dewasa muda. !,/,
0nset penyakit
penyakit ini umumnya
umumnya kurang
kurang pada usia yang sangat muda dan orang
tua./,# Dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara !$  /$
tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara #$  2$ tahun.  Psoriasis lebih
 banyak dijumpai pada daerah dingin dan lebih banyak terjadi pada musim
hujan.#
2.3 Etiologi dn !"to# Pen$et%s
Penyebab penyakit psoriasis belum diketahui meskipun telah dilakukan
 penelitian dasar dan klinis se4ara
se4a ra intensif. Diduga merupakan interaksi antara
faktor genetik, sistem imunitas, dan lingkungan. edangkan tiga komponen
 patogenesis dari psoriasis adalah infiltrasi sel-sel radang pada dermis,
hiperplasia epidermis, dan diferensiasi keratinosit yang abnormal. 

2.3.1 !"to# &eneti" 


ekita
ekitarr 18/ orang
orang yang
yang terken
terkenaa psoria
psoriasis
sis melapo
melaporka
rkan
n riway
riwayat
at
 penyakit keluarga yang juga menderita psoriasis. Pada kembar 
mono9igot resiko menderita psoriasis adalah sebesar 6$" bila salah
seorang menderita psoriasis. 7ila orang tua tidak menderita psoriasis

!
maka risiko mendapat psoriasis sebesar 1!", sedangkan bila salah satu
orang tua menderita psoriasis maka risiko terkena psoriasis meningkat
menjadi /-/'".',1$ 7erdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe yaitu5
a. Psoriasis tipe % dengan awitan dini dan bersifat familial.
 b. Psoriasis tipe %% dengan awitan lambat dan bersifat nonfamilial.
:al lain yang menyokong adanya faktor genetik adalah bahwa
 psoriasis berkaitan dengan :;A. Psoriasis tipe % berhubungan dengan
:;A-71/, 716, 7w#6 dan <w2. Psoriasis tipe %% berkaitan dengan
:;A-7!6 dan <w!, sedangkan psoriasis pustulosa berkaitan dengan
:;A-7!6. %ndividu yang memiliki :;A-716 dan :;A-71/ memiliki
kemungkinan untuk menderita psoriasis # kali lebih banyak dari
individu normal. !,/,,11,1!,1/
2.3.2 !"to# Im%nologi
Defek genetik pada psoriasis dapat diekspresikan pada salah satu
dari ketiga jenis sel yaitu limfosit =, sel penyaji antigen &dermal( atau
keratinosit. Keratinosit psoriasis membutuhkan stimuli untuk 
aktivasinya. ;esi psoriasis umumnya ditemukan limfosit = di dermis
yang terutama terdiri atas limfosit = <D dengan sedikit limfositik 
dalam epidermis. edangkan pada lesi baru pada umumnya lebih
didominasis oleh sel limfosit = <D. Pada lesi psoriasis terdapat sekitar 
16 sitokin yang produksinya bertambah. el ;angerhans juga berperan
dalam imunopatogenesis psoriasis. =erjadinya proliferasi epidermis
dimulai dengan !$ adanya pergerakan antigen baik endogen maupun
eksogen oleh sel langerhans. Pada psoriasis pembentukan epidermis
lebih 4epat, hanya /- hari, sedangkan pada kulit normal lamanya !
hari. >i4koloff &1''( berkesimpulan bahwa psoriasis merupakan
 penyakit autoimun. ;ebih '$" dapat mengalami remisi setelah diobati
dengan imunosupresif. !,#
2.3.3 !"to# Pen$et%s
Penyebab dan patogenesis psoriasis vulgaris belum diketahui
dengan pasti, se4ara patologis terjadi proliferasi yang berlebihan pada
keratinosit dan peradangan kronis, sehingga penyakit ini bersifat
kronik-residif.
+aktor pen4etus ini dapat dibagi menjadi dua faktor yaitu faktor 
lokal dan sistemik. 1  +aktor pen4etus lokal terjadinya psoriasis antara

/
lain trauma, paparan sinar ultraviolet, dan lokasi atau posisi anatomis.
7erbagai trauma baik fisik, kimiawi, bedah, infeksi dan peradangan
dapat memperberat atau men4etuskan lesi psoriasis. ;esi psoriasis yang
 berbentuk plakat dan terjadi pada tempat trauma disebut dengan
+enomena Koebner. +enomena Koebner adalah paparan sinar matahari
 juga mengakibatkan eksaserbasi melalui reaksi Koebner. 7eberapa
 penelitian menyatakan terjadinya peningkatan keparahan penyakit
seiring dengan meningkatnya paparan sinar matahari. 1,,1
edangkan faktor pen4etus sistemik antara lain5 infeksi, obat,
konsumsi alkohol, stres, endokrin, dan infeksi  Human
 Immunodeficiency Virus &:%?(. %nfeksi bakteri, virus, atau jamur dapat
men4etuskan terjadinya psoriasis vulgaris. 7akteri dapat menghasilkan
endotoksin yang berfungsi sebagai superantigen yang dikemudian hari
akan meningkatkan aktivasi sel limfosit =, makrofag, sel ;angerhans,
dan keratinosis. %nfeksi tenggorokan yang disebabkan oleh spesies
trepto4o44us @-hemoliti4us juga sering dikaitkan dengan eksaserbasi
 psoriasis. 7eberapa obat yang dapat men4etuskan perkembangan lesi
 psoriasis antara lain5 >A%D, lithium, A<) inhibitor, gemfribosil, dan
@-blo4ker. ekanisme eksaserbasi psoriasis akibat obat-obatan lainnya
 belum diketahui. Konsumsi alkohol juga dilaporkan dapat men4etuskan
 psoriasis walaupun mekanismenya belum diketahui. :ubungan antara
stres dan eksaserbasi psoriasis belum terlalu jelas namun diduga karena
mekanisme neuroimunologis. Psoriasis dilaporkan akan bertambah
 buruk dengan timbulnya stres yaitu pada /$- $" kasus. Pada saat
 periode premenstruasi, lesi psoriasis dikatakan sering kambuh. Angka
kejadian psoriasis meningkat pada waktu pubertas dan menopause dan
diduga peranan dari faktor endokrin. Psoriasis pada penderita :%? lebih
 berat karena terjadi defisiensi sistem imun.1#
2.' Im%noptogenesis Pso#isis
eperti telah diketahui bahwa penyebab dan patogenesis psoriasis
 belum diketahui dengan pasti, banyak sistem dalam tubuh berperan dalam
 patogenesis psoriasis, banyak komponen, elemen mediator yang terlibat
terhadap terjadinya atau kekambuhan psoriasis. '  >amun ada tiga hal yang


menjadi dasar patologis terjadinya psoriasis diantaranya gangguan
diferensiasi keratinosit, hiperproliferasi keratinosit dan imunologis.
2.'.1 &ngg%n Dife#ensisi
Keratinosit se4ara patologis, psoriasis ditandai dengan adanya
hiperproliferasi dan diferensiasi abnormal dari keratinosit epidermis,
infiltrasi limfosit yang terutama terdiri dari limfosit = dan berbagai
 perubahan vaskular endotel di lapisan dermis, seperti angiogenesis dan
dilatasi pembuluh darah. ;apisan epidermis berdiferensiasi berlebihan
yang berbeda dengan sel normal, keratinosit pada psoriasis membentuk 
amplop cornified  &<)( yang mudah terjadi pengelupasan, pembentukan
lapisan korneum yang berlebihan mengakibatkan epidermis menebal.
Pada fase akhir, kapilarisasi dermal yang luas menyebabkan infiltrasi
sel radang pada ikatan dermal-epidermal yang tampak sebagai
 papilomatosis, merupakan gambaran khas pada psoriasis.6
2.'.2 Hipe#p#olife#si Ke#tinosit
:iperproliferasi keratinosit adalah kategori kedua gejala psoriasis
vulgaris. 7eberapa penyebab biokimiawi yang mungkin menyebabkan
 produksi keratinosit berlebihan telah ditemukan pada lesi psoriasis5
 Epidermal Growth Factor   &)B+(,  Bone Morphogenetic rotein!" 
&7P-2(, #ransforming Growth Factor!alpha  &=B+-C(,  Acti$ating 
 rotein &AP-1( dan Mitogen!acti$ated protein %inase &APK(. 6
2.'.3 Im%nologis dn Inflmsi
=erjadi hiperproliferasi keratinosit akibat adanya aktivasi oleh
faktor pertumbuhan seperti epidermal growth factor, ner$e growth
 factor, endothelial growth factor   dengan target sel dendritik imatur di
epidermis menstimulasi sel = dari kelenjar getah bening sebagai respons
terhadap stimulasi unidentified antigen. Aktivasi sel =, =>+-C, dan sel-
sel dendritik adalah faktor patogenik yang distimulasi dalam respon
terhadap faktor pen4etus. %nfiltrat limfosit pada psoriasis kebanyakan
adalah sel = <D dan <D. etelah sel = menerima stimulasi
 pertamanya dan teraktivasi, menyebabkan terjadinya sintesis %;-2.
Peningkatan %;-2 dari sel = yang teraktivasi dan %;-1! dari sel
;angerhans menstimulasi %+>- , =>+-C, dan %;-2, yang bertanggung
 jawab dalam diferensiasi, maturasi, dan proliferasi sel = menjadi sel

#
memori efektor. Kemudian sel = bermigrasi ke kulit, dimana mereka
 berkumpul di sekitar pembuluh darah dermis. %ni merupakan perubahan
imunologik pertama yang menyebabkan diferensiasi dan proliferasi
keratinosit pada psoriasis akut.
etelah sel = men4apai kulit, maka terjadi aktivasi kembali sel =.
el = yang teraktivasi tersebut akan memproduksi sitokin yang dapat
menyebabkan terjadinya inflamasi. 7aik <DE dan <DE sama-sama
memproduksi sitokinin =h1. )kspresi yang berlebihan dari sitokin tipe-
1 seperti %;-!, %;-2, %;-, %;-1!, %+> dan =>+C menyebabkan
terjadinya akumulasi sel-sel netrofil. inyal utama dari =h1 adalah %;-
1! yang merangsang produksi %+> intraseluler. Pada psoriasis, sel =h
langsung mengatur sel 7 untuk menghasilkan autoantibodi, dan yang
menjadi target antigen adalah sel-sel kulit itu sendiri.
2.( &m)#n Klinis
Keluhan utama pasien psoriasis adalah lesi yang terlihat, rendahnya
keper4ayaan diri, gatal dan nyeri terutama jika mengenai telapak tangan,
telapak kaki dan daerah intertriginosa. elain itu psoriasis dapat mengganggu
aktivitas sehari-hari bukan hanya oleh karena keterlibatan kulit, tetapi juga
menimbulkan arthritis psoriasis. Bambaran klinis psoriasis adalah plak 
eritematosa sirkumskrip dengan skuama putih keperakan diatasnya dan tanda
Auspit9. 3arna plak dapat bervariasi dari kemerahan dengan skuama
minimal, plak putih dengan skuama tebal hingga putih keabuan tergantung
 pada ketebalan skuama. Pada umumnya lesi psoriasis adalah simetris.1
7eberapa pola dan lokasi psoriasis antara lain5
2.(.1 Pso#isis *%lg#is
erupakan bentuk yang paling umum dari psoriasis dan sering
ditemukan &$"(. Psoriasis ini tampak berupa plak yang berbentuk 
sirkumskrip. umlah lesi pada psoriasis vulgaris dapat bervariasi dari
satu hingga beberapa dengan ukuran mulai $,# 4m hingga /$ 4m atau
lebih. ;okasi psoriasis vulgaris yang paling sering dijumpai adalah
ekstensor ektremitas terutama siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral
 bagian bawah, pantat, dan genital. elain lokasi tersebut diatas,
 psoriasis ini dapat juga timbul di lokasi lain. Pada kuku dapat
ditemukan piting nail dan oil drop sign.

2
2.(.2 Pso#isis &%tt
=ampak sebagai papul eritematosa multipel berukuran $,#-1,# 4m yang
sering ditemukan terutama pada badan dan kemudian meluas hingga
ekstremitas, wajah dan s4alp. ;esi psoriasis ini menetap selama !-/
 bulan dan akhirnya akan mengalami resolusi spontan. Pada umumnya
terjadi pada anak-anak dan remaja yang seringkali diawali dengan
infeksi strepto4o44us.
2.(.3 Pso#isis P%st%los &ene#list +*on ,%m)%s$-
Psoriasis jenis ini tampak sebagai erupsi generalisata dengan eritema
dan pustul. Pada umumnya diawali oleh psoriasis tipe lainnya dan
di4etuskan oleh penghentian steroid sistemik, hipokalsemia, infeksi dan
iritasi lokal.
2.(.' Pso#isis P%st%los Lo"list
Kadang disebut juga dengan pustulosis palmoplantar persisten.
Psoriasis ini ditandai dengan eritema, skuama dan pustul pada telapak 
tangan dan kaki biasanya berbentuk simetris bilateral.

&m)# 2.1 Bambaran klinis Psoriasis vulgaris 5 &a( =ipe Plak ,&b( =ipe
Butatta dan &4( =ipe )ritrodermi 1

2./ Dignosis
Diagnosis psoriasis umumnya ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
gambaran klinis lesi kulit. Dari autoanamnesis pasien Psoriasis ?ulgaris
mengeluh adanya ber4ak kemerahan yang menonjol pada kulit dengan
 pinggiran merah, tertutup dengan sisik keperakan, dengan ukuran yang
 bervariasi, makin melebar, bisa pe4ah dan menimbulkan nyeri, bisa juga
timbul gatal-gatal.' Pada pemeriksaan fisik ditemukan plak eritema ditutupi

6
skuama berlapis-lapis, kasar dan berwarna putih, serta transparan. Plak 
eritematous yang tebal menandakan adanya hiperkeratosis, parakeratosis,
akantosis, pelebaran pembuluh darah dan inflamasi./, Pada stadium
 penyembuhannya sering eritema yang di tengah menghilang dan hanya
terdapat di pingir./ 7esar kelainan bervariasi dari milier, lentikular, numular,
sampai plakat, dan berkonfluensi, dengan gambaran yang beraneka ragam,
dapat arsinar, sirsinar, polisiklis atau geografis. =empat predileksi pada
ekstremitas bagian ekstensor terutama &siku, lutut, lumbosakral(, daerah
intertigo &lipat paha, perineum, aksila(, skalp, perbatasan skalp dengan muka,
telapak kaki dan tangan, tungkai atas dan bawah, umbilikus, serta kuku. !,/,,#
Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspit9 dan Koebner 
&isomorfik(./, Fenomena Tetesan Lilin dimana bila lesi yang berbentuk 
skuama dikerok maka skuama akan berubah warna menjadi putih yang
disebabkan oleh karena perubahan indeks bias.  Auspitz Sign ialah bila
skuama yang berlapis-lapis dikerok akan timbul bintik-bintik pendarahan
yang disebabkan papilomatosis yaitu papilla dermis yang memanjang tetapi
 bila kerokan tersebut diteruskan maka akan tampak pendarahan yang merata.
Fenomena Koebner  ialah bila kulit penderita psoriasis terkena trauma
misalnya garukan maka akan mun4ul kelainan yang sama dengan kelainan
 psoriasis umumnya akan mun4ul setelah / minggu. !,/,'

+enomena tetesan lilin dan Auspit9 merupakan gambaran khas pada lesi
 psoriasis dan merupakan nilai diagnostik, ke4uali pada psoriasis inverse
&psoriasis pustular( dan digunakan untuk membandingkan psoriasis dengan
 penyakit kulit yang mempunyai morfologi yang sama, sedangkan Koebner 
tidak khas, karena didapati pula pada penyakit lain, misalnya liken planus,
liken nitidus, veruka plana juvenilis, pitiriasis rubra pilaris, dan penyakit
Darier./,,# +enomena Koebner didapatkan insiden yang bervariasi antara /-
62 " pada pasien psoriasis./,'  Dua puluh lima sampai lima puluh persen
 penderita psoriasis yang lama juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku,
 berupa pitting nail   atau nail pit   pada lempeng kuku berupa lekukan-lekukan
miliar./,,#


30'0(
&m)# 2.2 Pitting >ail dan Psoriasis Arthritis

Antara 1$-/$ " pasien psoriasis berhubungan dengan atritis disebut


Psoriasis Artritis yang menyebabkan radang pada sendi. *mumnya bersifat
 poliartikular, tempat predileksinya pada sendi interfalangs distal, terbanyak 
terdapat pada usia /$-#$ tahun. endi membesar, kemudian terjadi ankilosis
dan lesi kistik subkorteks. !,#,1$
Pada kasus-kasus tertentu, dibutuhkan pemeriksaan penunjang seperti
 pemeriksaan laboratorium darah dan biopsi histopatologi. Pemeriksaan
 penunjang yang paling umum dilakukan untuk mengkonfirmasi suatu
 psoriasis ialah biopsi kulit dengan menggunakan pewarnaan hematoksilin-
eosin. elain biopsi kulit, abnormalitas laboratorium pada penderita psoriasis
 biasanya bersifat tidak spesifik dan mungkin tidak ditemukan pada semua
 pasien.
enurut Budjonsson dan )lder &!$1!( beberapa perubahan patologis
 pada psoriasis yang dapat terjadi pada epidermis maupun dermis adalah
sebagai berikut5
1. :iperkeratosis adalah penebalan lapisan korneum.
!. Parakeratosis adalah terdapatnya inti stratum korneum sampai hilangnya
stratum granulosum.
/. Akanthosis adalah penebalan lapisan stratum spinosum dengan elongasi
rete ridge epidermis.
. Branulosit neutrofilik bermigrasi melewati epidermis membentuk mikro
abses munro di bawah stratum korneum.
#. Peningkatan mitosis pada stratum basalis.
2. )dema pada dermis disertai infiltrasi sel-sel polimorfonuklear, limfosit,
monosit dan neutrofil.
6. Pemanjangan dan pembesaran papila dermis.

'
&m)# 2. 3 Bambaran :istopatologi Psoriasis vulgaris hiperkeratosis,
akantosis serta peradangan di daerah dermis. 1

2. De#t Kep#-n Pso#isis


7anyak 4ara yang digunakan untuk mengukur tingkat keparahan
 psoriasis, namun yang sering digunakan adalah metode +redriksson =,
Pettersson * &1'6( yang telah banyak dimodifikasi oleh peneliti lain.
 soriasis Area and &e$erity Inde' &PA%( adalah metode yang digunakan
untuk mengukur intensitas kuantitatif penderita berdasarkan gambaran klinis
dan luas area yang terkena, 4ara ini digunakan ntuk mengevaluasi perbaikan
klinis setelah pengobatan.1 PA% merupakan baku emas pengukuran tingkat
keparahan psoriasis. 7eberapa elemen yang diukur oleh PA% adalah eritema,
skuama dan ketebalan lesi dari setiap lokasi di permukaan tubuh seperti
kepala, badan, lengan dan tungkai. 7agian permukaan tubuh dibagi menjadi 
 bagian antara lain5 kepala &1$"(, abdomen, dada dan punggung &!$"(,
lengan &/$"( dan tungkai termasuk bokong &$"(. ;uasnya area yang
tampak pada masing-masing area tersebut diberi skor $ sampai dengan 2,
seperti terlihat dalam tabel dibawah ini5 Karakteritis klinis yang dinilai
adalahF eritema &)(, skuama &(, dan ketebalan lesi8indurasi &=(. Karakteristik 
klinis tersebut diberi skor sebagai berikutF tidak ada lesi G$, ringanG1,
sedangG!, beratG/ dan sangat beratG. >ilai derajat keparahan diatas
dikalikan dengan weighting fa4tor sesuai dengan area permukaan tubuhF
kepala G $,1, tangan8lengan G $,!, badan G $,/, tungkai8kaki G $,. =otal nilai
PA% diperoleh dengan 4ara menjumlahkan keempat nilai yang diperoleh dari
keempat bagian tubuh. =otal nilai PA% kurang dari 1$ dikatakan sebagai

1$
 psoriasis ringan, nilai PA% antara 1$-/$ dikatakan sebagai psoriasis sedang,
dan nilai PA% lebih dari /$ dikatakan sebagai psoriasis berat.1,16

&m)# 2.' ;embar Psoriasis and severity indeH &PA%( 1,16

2. Dignosis Bnding


Bambaran klasik psoriasis biasanya mudah dibedakan dengan penyakit
kulit lainnya. >amun lesi yang atipikal atau bentuk lesi selain plak yang
klasik dapat menimbulkan tantangan bagi diagnosis psoriasis. Plak psoriasis
yang kronis seringkali menyerupai dermatitis kronis dengan likenifikasi pada
daerah ekstremitas. =etapi biasanya pada dermatitis kronis lesinya tidak 
 berbatas tegas serta skuama yang terdapat pada permukaan lesi tidak setebal
 pada psoriasis. Pada kasus psoriasis gutata, perlu dipertimbangkan diagnosis
 pityriasis rosea serta sifilis sekunder. Pityriasis rosea biasanya ditandai
dengan makula eritematosa berbentuk oval dengan skuama tipis yang
tersusun seperti pohon 4emara pada daerah badan, lengan atas serta tungkai

11
atas. ebagian besar kasus diawali dengan lesi inisial yang disebut herald
 pat4h. Pada sifilis sekunder biasanya disertai dengan adanya keterlibatan
telapak tangan dan kaki serta riwayat 4han4re oral atau genital yang tidak 
terasa nyeri. Psoriasis yang timbul pada skalp biasanya sulit dibedakan
dengan dermatitis seboroik. Pasien dengan skuama keputihan yang kering
serta menebal seperti mika, walaupun terdapat pada predileksi seboroik,
 biasanya merupakan psoriasis skalp. Psoriasis inversa8fleksural harus
dibedakan dengan eritrasma dan infeksi jamur. Pada eritrasma, lesi berupa
makula berbatas tegas berwarna merah ke4oklatan yang biasanya terdapat
 pada daerah aksila dan genital. %nfeksi jamur oleh kandida, lesi berupa
makula eritematosa berbatas tegas dengan lesi satelit disekelilingnya.
)ritroderma perlu dibedakan dengan limfoma kutaneus sel =. ;esi pada
limfoma kutaneus sel = biasanya berupa lesi diskoid eritematosa yang disertai
skuama dengan distribusi yang tidak simetris. 1
2.4 Pentl"snn
Psoriasis sebagai penyakit yang multifaktorial dengan penyebab belum
diketahui dengan pasti, sehingga penanganannya juga sangat bervariasi dan
setiap pusat pendidikan mempunyai a4uan yang berbeda. Ash4roft dkk., !$$$
mengemukakan bahwa terdapat berbagai variasi terapi psoriasis, mulai dari
topikal untuk psoriasis ringan hingga fototerapi dan terapi sistemik untuk 
 psoriasis berat. )dukasi kepada pasien tentang faktor-faktor pen4etusnya
 perlu disampaikan kepada pasien maupun keluarganya. Pengobatan promotif 
dapat berupa menenangkan pasien dan memberikan dukungan emosional
adalah hal yang sangat tidak terhingga nilainya. enekankan bahwa psoriasis
tidak menular serta suatu saat akan mengalami psoriasis akan remisi spontan
dan tersedianya pengobatan yang bervariasi untuk setiap bentuk dari
 psoriasis. Pengobatan preventif berupa menghindari atau mengurangi faktor 
 pen4etus, yaitu stres psikis, infeksi fokal, endokrin, seta pola hidup lain yang
dapat meningkatkan resiko penurunan sistem imun seperti seks bebas
sehingga bisa tertular penyakit A%D. 1 7eberapa regimen terapi yang sering
digunakan sebagai pengobatan kuratif berupa topikal maupun sistemik 
sebagai berikut51
A. Topi"l
1. P#ep#t T#

1!
0bat topikal yang biasa digunakan adalah preparat tar, yang efeknya
adalah anti radang. Preparat tar berguna pada keadaan-keadaan5 7ila
 psoriasis telah resisten terhadap steroid topikal sejak awal atau
 pemakaian pada lesi luas. ;esi yang melibatkan area yang luas sehingga
 pemakaian steroid topikal kurang tepat. 7ila obat-obat oral merupakan
kontra indikasi oleh karena terdapat penyakit sistemik. enurut asalnya
 preparat tar dibagi menjadi /, yakni yang berasal dari 5 +osil, misalnya
iktiol. Kayu, misalnya oleum kadini dan oleum ruski dan 7atubara,
misalnya liantral dan likuor karbonis detergens.
2. Ko#ti"oste#oid
Kerja steroid topikal pada psoriasis diketahui melalui beberapa 4ara,
yaitu5
a. ?asokonstriksi untuk mengurangi eritema.
 b. ebagai antimitotik sehingga dapat memperlambat proliferasi seluler.
4. )fek anti inflamasi, diketahui bahwa pada psoriasis terjadi
 peradangan kronis akibat aktivasi sel =.
7ila terjadi lesi plak yang tebal dipilih kortikosteroid dengan potensi
kuat seperti5 +luorinate, triam4inolone $,1" dan flu4inolone topikal
efektif untuk kebanyakan kasus psoriasis pada anak. Preparat
hidrokortison 1"- !,#" digunakan bila lesi sudah menipis.
3. Dit#nol +Ant#lin
:ampir sama dengan tar memiliki efek antiinflamasi ringan, sebab
dapat mengikat asam nukleat, menghambat sintesis D>A dan
menggabungkan uridin ke dalam I>A nukleus.
'. *itmin D nlog +5l$ipot#iol
<al4ipotriol ialah sintetik vitamin D yang bekerja dengan menghambat
 proliferasi sel dan diferensiasi keratinosit, meningkatkan diferensiasi
terminal keratinosit. Preparatnya berupa salep atau krim #$ mg8g, efek 
sampingnya berupa iritasi, seperti rasa terbakar dan menyengat.
(. T6#oten
erupakan molekul retinoid asetilinik topikal, efeknya menghambat
 proliferasi dan normalisasi petanda differensiasi keratinosit dan
menghambat petanda proinflamasi pada sel radang yang menginfiltrasi
kulit. =ersedia dalam bentuk gel, dankrim dengan konsentrasi $,$#"
dan $,1". 7ila dikombinasikan dengan steroid topikal potensi sedang
dan kuat akan memper4epat penyembuhan dan mengurangi iritasi. )fek 

1/
sampingnya ialah iritasi berupa gatal, rasa terbakar, dan eritema pada
/$" kasus, juga bersifat fotosensitif.
/. H%me"tn dn Emolien
)fek emolien ialah melembutkan permukaan kulit dan mengurangi
hidrasi kulit sehingga kulit tidak terlalu kering. Pada batang tubuh
&selain lipatan(, ekstremitas atas dan bawah biasanya digunakan salep
dengan bahan dasar vaselin 1-! kali8hari, fungsinya juga sebagai
emolien dengan akibat meninggikan daya penetrasi bahan aktif. adi
emolien sendiri tidak mempunyai efek antipsoriasis.
. !otote#pi
 >arrowband *?7 untuk saat ini merupakan pilihan untuk psoriasis
yang rekalsitran dan eritroderma. inar ultraviolet masih menjadi
 pilihan di beberapa klinik. inar ultraviolet 7 &*?7( mempunyai efek 
menghambat mitosis, sehingga dapat digunakan untuk pengobatan
 psoriasis. <ara yang terbaik adalah dengan penyinaran se4ara alamiah,
tetapi tidak dapat diukur dan jika berlebihan maka akan memperparah
 psoriasis. Karena itu, digunakan sinar ulraviolet artifisial, diantaranya
sinar A yang dikenal sebagai *?A. inar tersebut dapat digunakan
se4ara tersendiri atau berkombinasi dengan psoralen &-
metoksipsoralen, metoksalen( dan disebut P*?A, atau bersama-sama
dengan preparat tar yang dikenal sebagai pengobatan 4ara Boe4kerman.
P*?A efektif pada #" kasus, ketika psoriasis tidak berespon terhadap
terapi yang lain.
elain itu *?7 juga dapat digunakan untuk pengobatan psoriasis
tipe plak, gutata, pustular dan eritroderma. Pada tipe plak dan gutata
dikombinasikan dengan salep likuor karbonis detergens &;<D( #-6"
yang dioleskan sehari !H. sebelum disinar di4u4i dahulu. Dosis *?7
 pertama 1!-!/m menurut tipe kulit kemudian dinaikan se4ara bertahap
1#" dari dosis sebelumnya selama seminggu / kali. =arget pengobatan
ialah pengurangan 6#" skor PA%. :asil baik yang di 4apai saat ini
hamper 6/" kasus, terutama tipe plak.
Dosis +ototerapi untuk psoriasis 5
%nitial dose J in4rease sampai J Boal dosage 0I '#" 4learing
0I batas maH &/$( J maintenan4e & doses 4learing (5
1. )rytema J diturunkan !#" - sampai hilang

1
!. >ew lesi L#" area tubuh J dinaikkan 1$" - sampai kembali
'#" 4lear.
/. +lare & lesi baru M#" area tubuh( J tingkatkan frekuensi
terapi.
Iespon lesi Psoriasis terhadap terapi 5

=ingkat Presentase Kriteria

$ $" =idak ada perubahan


1 #-!$" Perubahan minimal 5 skuama dan atau
eritema berkurang
! !$-#$" Perubahan tampak jelas 5 semua plak mulai
mendatar, skuama dan eritema berkurang
/ #$-'#" Perubahan berarti 5 semua plak datar
sempurna, tetapi tepi masih teraba.
 '#" 7ersih 5 semua plak mendatar termasuk
tepinya , tersisa hiperpigmentasi.

)fek samping fototerapi 5

• Kulit memerah
• =erasa gatal
• =ampak membengkak 
• Kulit melepuh

elain berbagai terapi yang disebutkan di atas, monitoring pasien


untuk mengevaluasi pengibatan dan monitoring efek samping obat
sangat diperlukan. elain itu konsultasi ke bagian lain juga dapat
dilakukan untuk men4ari fokus infeksi yang diduga dapat men4etuskan
 psoriasis.!,#

B. Sistemi" 
1. Ko#ti"oste#oid
Pemberian kortikosteroid sistemik masih kontroversial ke4uali yang
 bentuk eritrodermi, psoriasis artritis dan psoriasis pustulosa =ipe
Numbus4h. Dimulai dengan prednison dosis rendah /$-2$ mg &1-!
mg8kg778hari(, atau steroid lain dengan dosis ekivalen. etelah
membaik, dosis diturunkan perlahan-lahan, kemudian diberi dosis
 pemeliharaan. Penghentian obat se4ara mendadak akan menyebabkan
kekambuhan dan dapat terjadi Psoriasis Pustulosa Beneralisata.

1#
2. Sitostti" 
7ila keadaan berat dan terjadi eritrodermi serta kelainan sendi dapat
sitostatik yang biasa digunakan ialah metotreksat &=O(. 0bat ini
sering digunakan Psoriasis Artritis dengan lesi kulit, dan Psoriasis
)ritroderma yang sukar terkontrol. 7ila lesi membaik dosis diturunkan
se4ara perlahan. Kerja metotreksat adalah menghambat sintesis D>A
dengan 4ara menghambat dihidrofolat reduktase dan juga hepatotoksik 
maka perlu dimonitor fungsi hatinya. Karena bersifat menekan mitosis
se4ara umum, hati-hati juga terhadap efek supresi terhadap sumsum
tulang.
3. Et#etint +tegison0 tigson
)tretinat merupakan retinoid aromatik, derivat vitamin A digunakan
 bagi psoriasis yang sukar disembuhkan dengan obat-obat lain
mengingat efek sampingnya. )tretinat efektif untuk Psoriasis Pustular 
dan dapat pula digunakan untuk psoriasis eritroderma. Kerja retinoid
yaitu mengatur pertumbuhan dan diferensiasi terminal keratinosit yang
 pada akhirnya dapat menetralkan stadium hiperproliferasi. )fek 
samping dapat terjadi kulit menipis dan kering, selaput lendir pada
mulut, mata, dan hidung kering, kerontokan rambut, 4heilitis, pruritus,
nyeri tulang dan persendian, peninggian lipid darah, gangguan fungsi
hepar &peningkatan en9im hati(.
'. Si"lospo#in A
Digunakan bila tidak berespon dengan pengobatan konvensional.
)feknya ialah imunosupresif. Dosisnya 1-mg8kgbb8hari. 7ersifat
nefrotoksik dan hepatotoksik, gastrointestinal, flu like symptoms,
hipertrikosis, hipertrofi gingiva,serta hipertensi. :asil pengobatan untuk 
 psoriasis baik, hanya setelah obat dihentikan dapat terjadi kekambuhan.
(. TN!7ntgonis
#umor (ecrosis Factor   &=>+( alpha merupakan sitokin proinflamasi
yang memegang peran penting dalam patogenesis psoriasis. aat ini
sedang dikembangkan sebagai terapi yang memberi haparan baru.
ediaannya antara lain Adalimumab, %nfliHimab, etaner4ept, alefa4ept
dan efali9umab.
2.18 P#ognosis

12
Psoriasis dapat memburuk sepanjang waktu tetapi tidak dapat diprediksi
kapan mun4ul, meluas, ataupun menghilang. Penyakit psoriasis ini bersifat
residif sepanjang hidup penderita. engontrol keluhan dan gejala se4ara
tipikal memerlukan terapi seumur hidup. :ampir semua orang dengan
 psoriasis dapat hidup dengan normal dan tidak menyebabkan kematian.
7eberapa terapi yang paling efektif digunakan untuk mengobati psoriasis
 berat dapat menyebabkan meningkatnya risiko morbiditas termasuk kanker 
kulit, lymphoma dan li$er disease. =etapi, sebagian besar pengalaman pasien
 psoriasis yang memiliki lesi minor terlokalisir, terutama di siku dan lutut
dapat diobati dengan terapi topikal.

BAB III

LAP9:AN KASUS

3.1 Identits Psien


 >ama 5 
*mur 5 / tahun
enis Kelamin 5 ;aki-laki
Alamat 5 Kubutambahan, 7uleleng
uku 5 7ali
7angsa 5 %ndonesia
Agama 5 :indu
=anggal Pemeriksaan 5 !# 0ktober !$12

3.2 Anmnesis

16
Kel%-n Utm;
=imbul ber4ak-ber4ak kemerahan di tangan dan kaki.

Pe#lnn Pen<"it
Pasien mengeluh timbul ber4ak-ber4ak kemerahan di tangan dan kaki
sejak # tahun yang lalu disertai rasa gatal yang minimal. 7er4ak kemerahan
yang dialami pasien terjadi se4ara tiba-tiba dan semakin lama semakin
meluas. 7er4ak kemerahan dikatakan timbul pertama kali di kepala dan leher 
yang lama kelamaan meluas hingga ke badan, dan terakhir di tangan serta
kaki pasien. Keluhan tersebut tidak mengganggu aktivitas pasien. Pasien
mengatakan keluhan timbul dan semakin memberat ketika pasien merasa
kelelahan dan banyak pikiran. Keluhan ini tidak disertai dengan rasa nyeri,
 panas, nyeri sendi, badan lemas maupun demam. aat ini, pasien tidak dalam
kondisi mengkonsumsi obat-obatan.

:i=<t Pengo)tn
Pasien mulai berobat ke I*D 7uleleng sejak tahun !$1$. ebelumnya
 pasien belum pernah men4ari pengobatan untuk keluhannya ini.

:i=<t Atopi
Keluhan bersin pada pagi hari, gatal-gatal dan kemerahan pada kulit
setelah mengkonsumsi makanan disangkal oleh pasien.

:i=<t Pen<"it Te#d-%l%


Pasien pernah mengalami keluhan serupa saat masih A namun saat
itu hanya sedikit dan dirasakan ringan sehingga tidak men4ari pengobatan.
Iiwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung,
asma serta penyakit infeksi seperti =7, :%?8A%D disangkal oleh pasien.
Iiwayat alergi terhadap obat dan makanan disangkal oleh pasien.

:i=<t Pen<"it Kel%#g

1
=idak ada keluarga dengan keluhan serupa. Iiwayat atopi di keluarga
disangkal oleh pasien.

:i=<t Sosil
Pasien sehari-hari bekerja sebagai seorang nelayan dan petani.

3.3 Peme#i"sn !isi" 


Stt%s P#esent
Keadaan *mum 5 7aik  
Kesadaran 5 Kompos mentis
=ekanan darah 5 1!$8$ mm:g
 >adi 5 $ kali permenit
Iespirasi 5 12 kali permenit
=emperatur aksila 5 /2,# <
77 5 ## kg

Stt%s &ene#l
Kepala 5 >ormo4ephali
ata 5 anemis -8-, ikterus -8-
=:= 5 faring hiperemis &-(
;eher 5 Pembesaran kelenjar getah bening &-(
=horak 5 <or 5 1 ! tunggal regular , murmur &-(
Pulmo 5 vesikuler E8E , rhonki -8- , whee9ing -8-
Abdomen 5 Distensi &-(, hepar dan lien tak teraba
)kstremitas 5 hangat
Stt%s De#mtologi
1. ;okasi 5 =ungkai atas dan bawah kanan dan kiri, leher 
)ffloresensi 5 =ampak plak eritema multipel dengan batas
tegas bentuk geografika, ukuran bervariasi
$,6 4m H 1 4m  2 4m H 1$ 4m beberapa
 berkonfluen dengan distribusi simetris,
ditutupi skuama berwarna putih keperakan,
tipis, dan kasar 

1'
!. ukosa 5 hiperemis &-(
/. Iambut 5 rambut rontok &-(
. Kuku 5 pitting nail &-(
#. +ungsi Kelenjar Keringat 5 hiperhidrolisis &-(, anhidrosis &-(
2. Kelenjar ;imfe 5 pembesaran kelenjar limfe &-(
6. araf 5 penebalan saraf &-(

!$
3.' Dignosis Bnding
1. Psoriasis ?ulgaris
!. =inea Korporis
/. Dermatitis kontak 

3.( Peme#i"sn Pen%nng


Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

3./ :es%me
Pasien laki-laki, / tahun, mengeluh timbul ber4ak-ber4ak kemerahan di
tangan dan kaki sejak # tahun yang lalu disertai rasa gatal. >amun pasien
mengaku rasa gatal yang dirasakan minimal. 7er4ak kemerahan yang dialami
 pasien terjadi se4ara tiba-tiba dan semakin lama semakin meluas. Keluhan
tidak disertai nyeri, nyeri sendi, badan lemas, maupun demam. Pasien tidak 
dalam kondisi mengkonsumsi obat-obatan.
Pemeriksaan +isik5
Q tatus Present 5 dalam batas normal
Q tatus Beneral 5 dalam batas normal
Q tatus Dermatologis
;okasi 5 =ungkai atas dan bawah kanan dan kiri, leher 
)ffloresensi 5 =ampak plak eritema multipel dengan batas
tegas bentuk geografika, ukuran bervariasi
$,6H1 4m  2H 1$ 4m beberapa berkonfluen
dengan distribusi simetris, ditutupi skuama
minimal berwarna putih keperakan dan kasar 

3. Dignosis Ke#


Psoriasis ?ulgaris

3. Pentl"snn

• ;oratadin 1 H 1$ mg

!1
• alep 4ampuran 5

- DesoHymetason /$ g, asam salisilat /", asam ben9oat 2", olium 4adini


2", vaselin album 2$ g yang dioleskan ! kali sehari
• K%) tentang penyakit yang dialami pasien , penyebab, faktor pen4etus dan
rekurensi penyakitnya, terapi dan efek samping yang bisa ditimbulkan.

3.4 P#ognosis

• ?itam 5 Dubia ad bonam

• +un4tionam 5 Dubia ad bonam

• anationam 5 Dubia ad malam

• <osmeti4am 5 Dubia ad malam

BAB I*
PE>BAHASAN

Psoriasis merupakan sebuah penyakit autoimun kronik residif yang mun4ul


 pada kulit. Penyakit ini menimbulkan warna kemerahan, plak bersisik mun4ul di
kulit, disertai oleh fenomena tetesan lilin, tanda Auspitz, dan Koebner. *mumnya
lesi psoriasis berdistribusi se4ara simetris dengan predileksi terutama di daerah
siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral, bokong dan genitalia. 1  Penegakan
diagnosis psoriasis vulgaris didasarkan atas anamnesis, pemeriksaan fisik kulit,
dan pemeriksaan histopatologi.
Dari anamnesis didapatkan bahwa pasien adalah seorang laki-laki berusia
/ tahun. Keluhan utama pada pasien ini mengeluh timbul ber4ak-ber4ak 
kemerahan di leher dan ekstremitas &tangan dan kaki( sejak # tahun yang lalu
disertai rasa gatal, namun keluhan yang dirasakan ini awalnya sudah dirasakan
sejak di bangku A, namun dirasakan ringan sehingga tidak berobat. aat ini
 pasien mengaku rasa gatal yang dirasakan minimal. 7er4ak kemerahan yang
dialami pasien terjadi se4ara tiba-tiba dan semakin lama semakin meluas.
7erdasarkan kepustakaan, psoriasis vulgaris merupakan bentuk yang paling

!!
umum dari psoriasis dan sering ditemukan &$"(. Psoriasis merupakan penyakit
autoimun kronik residif yang tampak berupa plak yang berbentuk sirkumskrip,
dapat disertai dengan rasa gatal. umlah lesi pada psoriasis vulgaris dapat
 bervariasi dari satu hingga beberapa. ;okasi psoriasis vulgaris yang paling sering
dijumpai adalah ekstensor siku, lutut, sakrum dan s4alp. >amun dapat juga terjadi
di tempat lainnya. :al ini menandakan sebaran lesi pada pasien sesuai predileksi
dan penyakit berjalan dalam kurun waktu yang tergolong kronis. Keluhan ini
dirasakan sejak A namun tidak sembuh sempurna,hal ini menandakan keluhan
 bersifat residif.
Penyebab penyakit psoriasis belum diketahui meskipun telah dilakukan
 penelitian dasar dan klinis se4ara intensif. Diduga merupakan interaksi antara
faktor genetik, sistem imunitas, dan lingkungan.   7erdasarkan anamnesis pasien
mengatakan tidak ada riwayat keluarga dengan keluhan serupa dan penyakit yang
sama. 7erdasarkan kepustakaan, bila orang tua tidak menderita psoriasis maka
risiko mendapat psoriasis sebesar 1!", sedangkan bila salah satu orang tua
menderita psoriasis maka risiko terkena psoriasis meningkat menjadi /-/'".
Pada kembar mono9igot resiko menderita psoriasis adalah sebesar 6$" bila salah
seorang menderita psoriasis.  ',1$ 7eberapa faktor pen4etus yang berhubungan
dengan psoriasis antara lain kelainan autoimun, trauma mekanik, infeksi
staphylo4o44us, stress psikologis, radiasi sinar ultraviolet, infeksi :%?, peran
obat, alkohol, perubahan hormonal dan profil lipid dalam darah. 1  7erdasarkan
anamnesis pasien bekerja sebagai nelayan dan petani mengatakan keluhannya
mun4ul dan memberat apabila kelelahan dan stress sehingga diduga faktor 
 pen4etus pada pasien ini adalah stress dan kelelahan. :ubungan antara stres dan
eksaserbasi psoriasis belum terlalu jelas namun diduga karena mekanisme
neuroimunologis. Psoriasis dilaporkan akan bertambah buruk dengan timbulnya
stres yaitu pada /$- $" kasus.
eperti telah diketahui bahwa penyebab dan patogenesis psoriasis belum
diketahui dengan pasti, banyak sistem dalam tubuh berperan dalam patogenesis
 psoriasis, banyak komponen, elemen mediator yang terlibat terhadap terjadinya
atau kekambuhan psoriasis. >amun ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh para
 peneliti, diantaranya gangguan diferensiasi keratinosit, hiperproliferasi keratinosit
dan imunologis. :al tersebut menjadi dasar patologis terjadinya psoriasis yang

!/
multifaktor tersebut, namun ketiganya tidak bekerja sendiri-sendiri melainkan
saling berkaitan.2
Pada pemeriksaan fisik umum ditemukan status present dan status general
dalam batas normal. edangkan pada pemeriksaan fisik khusus yaitu status
dermatologis ditemukan lesi yang berlokasi di tungkai atas dan bawah kanan dan
kiri, serta leher dengan effloresensi plak eritema multipel dengan batas tegas
 bentuk geografika, ukuran bervariasi $,6 4m H 1 4m  2 4m H 1$ 4m beberapa
 berkonfluen dengan distribusi simetris, ditutupi skuama minimal berwarna putih
keperakan dan kasar.
=emuan ini sesuai dengan gambaran klinis psoriasis vulgaris yang
dijelaskan pada kepustakaan yaitu pada psoriasis vulgaris terdapat plak 
eritematosa sirkumskrip dengan skuama putih keperakan diatasnya dan tanda
Auspit9. 3arna plak dapat bervariasi dari kemerahan dengan skuama minimal,
 plak putih dengan skuama tebal hingga putih keabuan tergantung pada ketebalan
skuama. Pada umumnya lesi psoriasis adalah simetris.1
Dua puluh lima sampai lima puluh persen penderita psoriasis yang lama
 juga dapat menyebabkan kelainan pada kuku, dimana perubahan yang dijumpai
 berupa  pitting nail   atau nail pit  pada lempeng kuku berupa lekukan-lekukan
miliar./, Disamping menimbulkan kelainan pada kulit dan kuku, penyakit ini
dapat pula menyebabkan kelainan pada sendi, tetapi jarang terjadi. /,# Antara 1$-/$
" pasien psoriasis berhubungan dengan atritis disebut Psoriasis Artritis yang
menyebabkan radang pada sendi. *mumnya bersifat poliartikular, tempat
 predileksinya pada sendi interfalangs distal, terbanyak terdapat pada usia /$-#$
tahun./,# Pada pasien ini tidak didapatkan kelainan pada kuku seperti pitting nail
dan kelainan pada sendi.
Bambaran klasik psoriasis biasanya mudah dibedakan dengan penyakit kulit
lainnya. >amun lesi yang atipikal atau bentuk lesi selain plak yang klasik dapat
menimbulkan tantangan bagi diagnosis psoriasis. Diagnosis banding pada pasien
ini meliputi tinea korporis dan dermatitis kontak.
Pada stadium penyembuhan psoriasis telah dijelaskan bahwa eritema dapat
terjadi hanya di pinggir, hingga menyerupai dermatofitosis. Pada dermatofitosis
skuama umumnya pada perifer lesi dan pada sediaan langsung ditemukan jamur. /
Disingkirkan karena dari anamnesis, pasien mengeluh gatal yang tidak terlalu

!
 jelas namun akan bertambah jika pasien berkeringat. Pada pemeriksaan,tidak 
didapatkan adanya 4entral healing dan pinggiran meninggi yang merupakan
gambaran khas dari tinea. =inea korporis adalah dermatofitosis pada kulit yang
tidak berambut & gla)rous s%in( ke4uali telapak tangan, telapak kaki, dan lipat
 paha. Dermatofitosis adalah infeksi jamur yang disebabkan oleh jamur 
dermatofita yaitu )pidermophyton, y4rosporum dan =ry4ophyton. =erdapat
lebih dari $ spesies dermatofita yang berbeda, yang menginfeksi kulit dan salah
satu penyakit yang disebabkan jamur golongan dermatofita adalah tinea korporis.
Bambaran klinis dimulai dengan lesi bulat atau lonjong dengan tepi yang aktif 
dengan perkembangan kearah luar, ber4ak-ber4ak bisa melebar dan akhirnya
memberi gambaran yang polisiklik. Pada bagian pinggir ditemukan lesi yang aktif 
yang ditandai dengan eritema, adanya papul atau vesikel, sedangkan pada bagian
tengah lesi relatif lebih tenang. =inea korporis yang menahun, tanda-tanda aktif 
menjadi hilang dan selanjutnya hanya meninggalkan daerah hiperpigmentasi saja.
Bejala subyektif yaitu gatal, dan terutama jika berkeringat dan kadang-kadang
terlihat erosi dan krusta akibat garukan. 1
Plak psoriasis yang kronis seringkali menyerupai dermatitis kronis dengan
likenifikasi pada daerah ekstremitas. =etapi biasanya pada dermatitis kronis
lesinya tidak berbatas tegas serta skuama yang terdapat pada permukaan lesi tidak 
setebal pada psoriasis. Pada dermatitis kontak, biasanya terdapat paparan terhadap
 bahan iritan maupun alergen sebelumnya mun4ulnya lesi. 1
Pada pasien ini tidak diusulkan untuk melakukan pemeriksaan penunjang
karena gambaran klinis telah 4ukup jelas mengarah psoriasis vulgaris. Predileksi
lesi pada pasien ini adalah di lengan atas dan bawah serta siku kanan dan kiri,
tungkai atas dan bawah serta leher, dimana sesuai dengan predileksi psoriasis
vulgaris. 7erdasarkan anamnesis tersebut diatas, didapatkan bahwa perjalanan
 penyakit yang diderita oleh pasien bersifat kronik dan sifatnya sering kambuh
&residif(. :al ini sesuai dengan sifat dari psoriasis vulgaris yang kronik residif.
elain itu gambaran klinis yang ditemukan pada pasien 4ukup khas yakni plak 
eritema dengan skuama putih dan kasar. 7erdasarkan kepustakaan pemeriksaan
 penunjang dilakukan apabila klinis kurang jelas dengan melakukan pemeriksaan
histopatologi.1 Pada pemeriksaan histopatologi akan ditemukan hiperkeratosis,
 parakeratosis, akanthosis, granulosit neutrofilik bermigrasi melewati epidermis

!#
membentuk mikro abses munro di bawah stratum korneum, peningkatan mitosis
 pada stratum basalis, edema pada dermis disertai infiltrasi sel-sel
 polimorfonuklear, limfosit, monosit dan neutrofil, serta pemanjangan dan
 pembesaran papila dermis. Pemeriksaan laboratorium pada psoriasis tidak 
ditemukan kelainan yang spesifik. Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk 
menganalisis penyebab proriasis terutama pada kasus psoriasis pustular general
serta eritroderma psoriasis dan pada plak serta psoriasis gutata.
Pada pasien psoriasis dapat diberikan pengobatan topikal antara lain5
anthralin, vitamin D/ &<al4ipotriol(, preparat tar, kortikosteroid topikalF
 pengobatan sistemik antara lain5 kortikosteroid, methotreHate, siklosporin,
retinoid, DD &diaminodifenilsulfon(F dan fototerapi. !,/, Pada pasien ini diberikan
terapi salep 4ampuran &DesoHymethason /$ gr, Asam alisilat /", 0lium 4adini
'" dan vaselin album 2$ g( dan ;oratadin 1$ mg yang dikonsumsi tiap ! jam
 jika merasa gatal. 7erdasarkan kepustakaan, kerja steroid topikal pada psoriasis
diketahui melalui beberapa 4ara, yaitu vasokonstriksi untuk mengurangi eritema,
sebagai antimitotik sehingga dapat memperlambat proliferasi seluler, efek anti
inflamasi, diketahui bahwa pada psoriasis terjadi peradangan kronis akibat
aktivasi sel =. ekanisme kerja preparat tar adalah mensupresi sintesis D>A dan
menurunkan aktivitas mitotik pada basal epidermis dan memiliki aktivitas anti
inflamasi. Preparat tar berguna untuk keadaan psoriasis yang telah resisten
terhadap steroid topikal sejak awal atau pemakaian pada lesi luas. Pada kasus ini
 preparat tar yang digunakan adalah olium 4adini yang ditambahkan dengan asam
salisilat /" dan desoHymethason /$ gr, untuk memudahkan absorpsi 4oal tar dan
menambah efek anti inflamasi yang dimiliki glukokortikoid. Preparat topikal ini
ditambahkan dengan vaselin album sebagai emolien untuk melembabkan kulit
serta meningkatkan penetrasi dari bahan aktif. alep ini diberikan pada malam
hari karena pengaruh dari tar adalah photosensitif. ebagai pengobatan sistemik 
diberikan ;oratadin 1$ mg sebagai antihistamin untuk mengurangi gatal-gatal
yang dirasakan pasien.
Pada pasien ini  prognosis *uo ad $itam  adalah dubia ad bonam karena
se4ara keselurahan pasien ini tidak memiliki penyakit lain yang menyertai
 psoriasis vulgaris. Penyakit psoriasis vulgaris sendiri tidak mengan4am jiwa.

!2
 rognosis *uo ad functionam adalah dubia ad bonam. >amun jika tidak 
dilakukan terapi pada beberapa jenis Psoriasis, komplikasi yang diakibatkan dapat
menjadi serius, seperti pada Psoriasis artropi yaitu Psoriasis yang menyerang
sendi, Psoriasis bernanah &Psoriasis Postulosa(.  rognosis *uo ad sanationam
adalah dubia ad malam karena pasien ini telah mengalami keluhan ini untuk kedua
kali dan lesinya luas pada hampir seluruh tubuh.  rognosis *uo ad cosmeticam
adalah du)ia ad malam karena sisik putih tranparan pada lesi menimbulkan bekas
dan tidak dapat hilang seutuhnya. 1
.

BAB *
SI>PULAN

Psoriasis adalah peradangan kulit yang bersifat kronik residif dengan


karakteristik berupa plak eritematosa berbatas tegas, skuama kasar, berlapis, dan
 berwarna putih keperakan disertai oleh fenomena tetesan lilin, tanda Auspitz, dan
fenomena Koebner.
Penyebab yang pasti psoriasis belum diketahui dengan pasti, namun, banyak 
faktor predisposisi yang memegang peran penting seperti predisposisi genetik dan
kelainan imunologis. 3alaupun etiopatogenesis psoriasis tidak diketahui dengan
 pasti, namun banyak faktor yang diduga sebagai pemi4u timbulnya psoriasis
seperti5 infeksi bakterial, trauma fisik, stress psikologis dan gangguan
metabolisme.
Diagnosis psoriasis umumnya ditegakkan berdasarkan anamnesis dan
gambaran klinis lesi kulit. Pada kasus-kasus tertentu, dibutuhkan pemeriksaan
 penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah dan biopsi histopatologi.
Psoriasis vulgaris memiliki beberapa diagnosis banding yakni pitiriasis rosea,
tinea korporis, dermatitis kontak, eritroderma akibat obat.
Psoriasis sebagai penyakit yang multifaktorial dengan penyebab belum
diketahui dengan pasti, sehingga penanganannya juga sangat bervariasi.
Pengobatan promotif dapat berupa menekankan bahwa psoriasis tidak menular 
serta suatu saat akan mengalami psoriasis akan remisi spontan dan tersedianya
 pengobatan yang bervariasi untuk setiap bentuk dari psoriasis. Pengobatan
 preventif berupa menghindari atau mengurangi faktor pen4etus, yaitu stres psikis,

!6
infeksi fokal, endokrin, seta pola hidup lain yang dapat meningkatkan resiko
 penurunan sistem imun. 7eberapa regimen terapi yang sering digunakan sebagai
 pengobatan kuratif berupa topikal maupun sistemik. 1

!