Anda di halaman 1dari 3

Mengacu pendapat (Soekirman, 2003), beberapa hal yang harus diperhatikan

dalam fortifikasi pangan yaitu

a. Pangan merupakan makanan yang sering dan banyak dikonsumsi


penduduk termasuk penduduk miskin,

b. Pangan hasil fortifikasi, sifat organoleptiknya tidak berubah dari sifat


aslinya,

c. Pangan yang difortifikasi, aman untuk dikonsumsi dan ada jaminan


terhadap kemungkinan efek samping negatip,

d. Pangan yang difortifikasi, diproduksi dan diolah oleh produsen yang


terbatas jumlahnya,

e. Tersedia teknologi fortifikasi sesuai dengan pangan pembawa dan


fortifikan yang digunakan,

f. Harus ada sistim monitoring yang tegas terhadap pabrik-pabrik


fortifikasi,

g. Ada kerjasama yang nyata antara pihak pemerintah, non pemerintah dan
swasta,

h. Perlu mekanisme untuk melakukan evaluasi perkembangan fortifikasi

i. Pangan hasil fortifikasi, harganya tetap terjangkau oleh kelompok target.

j. Dari sisi konsumen diyakini tidak akan terjadi konsumsi berlebihan.

Klasifikasi fortifikasi bahan pangan


a) Fortifikasi sukarela (voluntary)
Fortifikasi sukarela dilakukan atas prakarsa pengusaha produsen
pangan untuk meningkatkan nilai tambah produknya sehingga lebih
menarik konsumen. Upaya ini tanpa diharuskan oleh undang-undang
atau peraturan pemerintah. Dasar pertimbangan fortifikasi sukarela
lebih banyak mengacu kepada segi bisnis dan komersial daripada gizi
dan kesehatan, meskipun dalam promosinya segi kesehatan ini yang
ditonjolkan. Produsen menentukan sendiri komoditi makanan yang
akan difortifikasi. Sasaran fortifikasi sukarela adalah semua orang
yang mampu dan mau membeli komoditi yang difortifikasi.
Contohnya, produk makanan dan minuman yang ada di supermarket
(Soekirman, 2011).
b) Fortifikasi wajib (mandatory)
Fortifikasi wajib diharuskan oleh undang-undang dan peraturan
pemerintah. Sasaran utama program fortifikasi wajib adalah
masyarakat miskin, meskipun masyarakat lain yang tidak miskin juga
tercakup. Oleh karena itu, fortifikasi wajib lebih banyak menjadi
perhatian pemerintah sebagai bagian tanggung jawabnya untuk
mensejahterakan masyarakat. Dalam Repelita VI telah ditetapkan
beberapa zat gizi sebagai fortifikan yang penting, yaitu zat besi,
vitamin A, dan iodium. Di Indonesia, fortifikasi zat besi misalnya
telah wajib diberlakukan pada beberapa produk pangan seperti mie
instant, susu bubuk dan terigu (Soekirman, 2011).

Syarat untuk fortifikasi wajib adalah

1. Makanan yang umumnya selalu ada disetiap rumah tangga dan


dimakan secara teratur dan terus-menerus oleh masyarakat
termasuk masyarakat miskin.

2. Makanan itu diproduksi dan diolah oleh produsen yang terbatas


jumlahnya, agar mudah diawasiproses fortifikasinya.

3. Tersedianya teknologi fortifikasi untuk makanan yang dipilih.

4. Makanan tidak berubah rasa, warna dan konsistensi setelah


difortifikasi.

5. Tetap aman dalam arti tidak membahayakan kesehatan. Oleh


karena itu program fortifikasi harus diatur oleh undang-undang
atau peraturan pemerintah, diawasi dan dimonitor, serta dievaluasi
secara teratur dan terus menerus.

6. Harga makanan setelah difortifikasi tetap terjangkau daya beli


konsumen yang menjadi sasaran.(Soekirman.2011)
Atas dasar persyaratan tersebut, makanan yang umumnya
difortifikasi (wajib) terbatas pada jenis makanan pokok (terigu,
jagung, beras), makanan penyedap atau bumbu seperti garam,
minyak goreng, gula, kecap kedele, kecap ikan, dan Mono Sodium
Glutamat (MSG).
c) Forifikasi khusus
Fortifikasi khusus sama dengan fortifikasi wajib, hanya
sasarannya kelompok masyarakat tertentu, seperti anak-anak, balita
atau anak sekolah (Soekirman, 2003)

Soekirman (2003). Fortifikasi dalam Program Gizi, Apa dan Mengapa. Jakarta:
Koalisi Fortifikasi Indonesia.

Soekirman. 2011. Perkembangan Fortikasi di Indonesia.


http://www.kfindonesia.org/index.php?pgid=11&contentid=12