Anda di halaman 1dari 6

1.

TAMAN NASIONAL UJUNG KULON

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat Pulau Jawa, Indonesia.
Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil
di sekitarnya seperti Pulau Handeuleumdan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Kawasan
taman nasional ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut),
yang dimulai dari Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.

Semenanjung Ujung Kulon pada saat ini merupakan habitat terpenting dari Badak Jawa,
yang populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor, serta merupakan satu-satunya tempat di dunia
di mana secara alami Badak Jawa mampu berkembang biak pada dekade terakhir ini. Di taman
nasional ini diperkirakan ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata
seperti Badak, Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan
Tutul, Anjing Hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing Hutan, mamalia kecil seperti walang
kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, bintarung, berang-berang, tikus, trenggiling dan
jelarang. Di antaraPrimata terdapat dua jenis endemik, yaitu Owa dan Surili. Sedang jenis
Primata lain adalah Lutung (Presbytis cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Kera ekor
panjang (Macaca fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian
kawasan.

Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar dan terbanyak jumlah
populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung
Honje, serta tidak dijumpai di Pulau Panaitan. Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung
Kulon dan Gunung Honje terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas,dan di
Pulau Peucang tedapat dalam jumlah yang sangat banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan
perkembangan yang semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus muntjak)
dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh kawasan, tetapi celeng (Sus
verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje.

2. PENANGKARAN RUSA RANCA UPAS

Ranca Upas ini memiliki luas sekitar 215 Hektar, yang mana berada di ketinggian 1700
mdpl dengan suku rata-ratanya yaitu sekitar 17°C – 20°C. Bukan hanya itu, kawasan ini juga
sudah termasuk kedalam kawasan hutan lindung, mengapa demikian? Karna di kawasan
tersebut terdapat beberapa tumbuhan langka seperti pohon Huru, Hamirug, Jamuju, Kihujan,
Kitambang, Kurai, Pasang dan Puspa. Bukan hanya tumbuhan, di kawasan tersebut juga
terdapat beberapa binatang yang juga susah untuk di temukan.
Bumi Perkemahan Ranca Upas ini berdiri tegak di bawah naungan Perusahaan Hutan
Indonesia atau PERHUTANI, yakni sebuah badan usaha milik Negara. Sebagai salah satu
tempat wisata yang sudah lama berdiri ini, Ranca Upas juga menawarkan berbagai macam
fasilitas yang bisa Anda manfaatkan ketika Anda berkunjung ke kawasan tersebut.

Di Ranca Upas ini bukan hanya tersedia lapangan besar untuk melangsungkan camping
ground, di samping itu ada beberapa fasilitas lainnya yang bisa Anda gunakan, diantaranya
games, outbound, sampai penangkaran Rusa.

Dan bagi Anda yang ingin mengenal lebih jauh seperti apa Rusa itu, maka Anda bisa
datang ke kawasan tersebut untuk mencari tahu informasi lebih jauih. Bukan hanya itu, bahkan
Anda juga bisa bermain-main dengan Rusa tersebut dan memberinya makan.

3. TAMAN NASIONAL KOMODO

Taman Nasional Komodo terletak di daerah administrasi Provinsi Nusa Tenggara


Timur dan taman nasional ini juga sangat dekat dengan kepulauan Sumbawa provinsi Nusa
Tenggara Barat. Taman nasional ini terdiri atas tiga pulau besar Pulau Komodo, Pulau Rinca,
dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil. Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan
wilayah total adalah 1817 km².

Daya tarik utama Taman Nasional Komodo yaitu adanya reptil raksasa purba Biawak Komodo
(Varanus komodoensis), tetapi keaslian dan kekhasan alamnya, khususnya panorama Savana
dan Panorama bawah laut, merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari
misalnya, memancing, snorkeling, diving, kano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi
wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi
Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan
merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Loh Liang merupakan pintu masuk dan daerah wisata utama di Pulau Komodo. Aktivitas
yang dapat dilakukan di Loh Liang antara lain pengamatan satwa komodo, rusa, babi hutan,
pengamatan burung, pendakian (Loh Liang - Gunung Ara), penjelajahan (Loh Liang - Loh
Sebita), Photo hunting, video shooting, Menyelam dan snorkeling di Pantai Merah (Pink beach).

Pantai Merah merupakan pantai dangkal yang indah dengan terumbu karang yang
menawan. Aktivitas yang biasa dilakukan oleh turis yang berkunjung adalah snorkeling, diving
dan mandi matahari.
Loh Sebita merupakan daerah mangrove dan aktivitas yang cukup menarik untuk
dilakukan adalah pengamatan burung serta treking. Di Loh Liang terdapat fasilitas yang tersedia
bagi pengunjung yakni pondok wisata, pusat informasi, cafetaria, dermaga, shelter dan jalan
setapak.

4. TAMAN NASIONAL WAY KAMBAS


Taman Nasional Way Kambas adalah taman nasional perlindungan gajah yang
terletak di daerah Lampung tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur, Indonesia.
Selain di Way Kambas, sekolah gajah (Pusat Latihan Gajah) juga bisa ditemui di Minas, Riau.
Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang hidup di kawasan ini semakin berkurang
jumlahnya. Taman Nasional Way Kambas berdiri pada tahun 1985 merupakan sekolah gajah
pertama di Indonesia. Dengan nama awal Pusat Latihan Gajah (PLG) namun semenjak
beberapa tahun terakhir ini namanya berubah menjadi Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang
diharapkan mampu menjadi pusat konservasi gajah dalam penjinakan, pelatihan,
perkembangbiakan dan konservasi. Hingga sekarang PKG ini telah melatih sekitar 300 ekor
gajah yang sudah disebar ke seluruh penjuru Tanah Air. Di Way Kambas juga tedapat
International Rhino Foundation yang bertugas menjaga spesies badak agar tidak terancam
punah.
Di Taman Nasional Way Kambas ini terdapat hewan yang hampir punah di antaranya
Badak sumatera, Gajah Sumatra, Harimau sumatera, Mentok Rimba, Buaya sepit. Untuk
tanaman banyak diketemukan Api-api, Pidada, Nipah, pandan. Di bagian pesisir Taman
Nasional Way Kambas yang berawa juga sering ditemukan berbagai jenis burung antara lain
Bangau Tongtong, Sempidan Biru, Kuau raja, Burung Pependang Timur, dan beberapa burung
lainnya.
5. TAMAN NASIONAL LORENTZ

Taman Nasional Lorentz adalah sebuah taman nasional yang terletak di provinsi
Papua, Indonesia. Dengan luas wilayah sebesar 2,4 juta Ha; Lorentz merupakan taman
nasional terbesar di Asia Tenggara. Taman ini masih belum dipetakan, dijelajahi dan banyak
terdapat tanaman asli, hewan dan budaya. Pada 1999 taman nasional ini diterima sebagai Situs
Warisan Dunia UNESCO.

Wilayahnya juga terdapat persediaan mineral, dan operasi pertambangan berskala


besar juga aktif di sekitar taman nasional ini. Ada juga Proyek Konservasi Taman Nasional
Lorentz yang terdiri dari sebuah inisiatif masyarakat untuk konservasi komunal dan ekologi
warisan yang berada di sekitar Taman Nasional Loretz ini.
Dari tahun 2003 hingga kini, WWF-Indonesia Region Sahul Papua sedang melakukan
pemetaan wilayah adat dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Tahun 2003- 2006, WWF
telah melakukan pemetaan di Wilayah Taman Nasional Lorentz yang berada di Distrik
(Kecamatan) Kurima Kabupaten Yahukimo, dan Tahun 2006-2007 ini pemetaan dilakukan di
Distrik Sawaerma Kabupaten Asmat.

Taman nasional ini memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan ditunjang
keanekaragaman budaya yang mengagumkan. Diperkirakan kebudayaan tersebut berumur
30.000 tahun dan merupakan tempat kediaman Suku Nduga, Dani Barat, Suku Amungme,
Suku Sempan dan Suku Asmat. Kemungkinan masih ada lagi masyarakat yang hidup terpencil
di hutan belantara ini yang belum mengadakan hubungan dengan manusia modern.

Suku Asmat terkenal dengan keterampilan pahatan patungnya. Menurut


kepercayaannya, suku tersebut identik dengan hutan atau pohon. Batang pohon dilambangkan
sebagai tubuh manusia, dahan-dahannya sebagai lengan, dan buahnya sebagai kepala
manusia. Pohon dianggap sebagai tempat hidup para arwah nenek moyang mereka. Sistem
masyarakat Asmat yang menghormati pohon, ternyata berlaku juga untuk sungai, gunung dan
lain-lain.

Lorentz ditunjuk sebagai taman nasional pada tahun 1997, sehingga fasilitas/sarana
untuk kemudahan pengunjung masih sangat terbatas, dan belum semua objek dan daya tarik
wisata alam di taman nasional ini telah diidentifikasi dan dikembangkan.

Sebanyak 34 tipe vegetasi di antaranya hutan rawa, hutan tepi sungai, hutan sagu,
hutan gambut, pantai pasir karang, hutan hujan lahan datar/lereng, hutan hujan pada bukit,
hutan kerangas, hutan pegunungan, padang rumput, dan lumut kerak.

Jenis-jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain nipah (Nypa fruticans), bakau
(Rhizophora apiculata), Pandanus julianettii, Colocasia esculenta, Avicennia marina,
Podocarpus pilgeri, dan Nauclea coadunata. Jenis-jenis satwa yang sudah diidentifikasi di
Taman Nasional Lorentz sebanyak 630 jenis burung (± 70 % dari burung yang ada di Papua)
dan 123 jenis mamalia. Jenis burung yang menjadi ciri khas taman nasional ini ada dua jenis
kasuari, empat megapoda, 31 jenis dara/merpati, 30 jenis kakatua, 13 jenis burung udang, 29
jenis burung madu, dan 20 jenis endemik di antaranya cendrawasih ekor panjang (Paradigalla
caruneulata) dan puyuh salju (Anurophasis monorthonyx).
Satwa mamalia tercatat antara lain babi duri moncong panjang (Zaglossus bruijnii), babi
duri moncong pendek (Tachyglossus aculeatus), 4 jenis kuskus, walabi, kucing hutan, dan
kanguru pohon.

RANGKUMAN

Keanekaragaman hayati yang unik dan langka bisa ditemukan di sini. Terdapat sekitar
630 jenis burung di Taman Nasional Lorentz, di antaranya yakni, kasuari, megapoda, kakatua,
dan cenderawasih. Ada pula beberapa jenis hewan lainnya seperti walabi, kucing hutan,
kuskus, dan babi moncong pendek. Taman Nasional Lorentz juga memiliki 34 tipe vegetasi, di
antaranya adalah padang rumput, hutan rawa, hutan kerangas, dan hutan sagu. Menambah
keindahannya, ada ratusan jenis burung yang menghuni dan bernyanyi bersautan di surga
Papua itu. Kasuari dan Cendrawasih banyak ditemukan di sini.
PENANGKARAN HEWAN DI INDONESIA

OLEH:

NAMA : MUHAMMAD LINGGA ZAKARY NADYNDRA

KELAS : VI GAZA