Anda di halaman 1dari 6

hukum ber kb dalam pandangan islam

Jumat, 13 Juli 2012

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Dewasa ini jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun semakin bertambah,
kalau kita cermati data yang ada di dinas Sensus Kependudukan Negara ini, dalam
setiap tahun, bulan bahkan hari selalu ada bayi yang lahir, hal ini sangat berpengaruh
pada perkembangan perekonomian Negara, apalagi Negara kita termasuk Negara
yang masih berkembang, dengan begitu melonjaknya jumlah penduduk dari tahun ke
tahun, pemerintah mencanangkan gerakan Keluarga Berencana sebagai salah satu
solusi untuk menghambat kelonjakan pertumbuhan penduduk tersebut, hakikatnya
dalam suatu keluarga berencana itu idealnya hanya memiliki dua orang anak.
Penduduk Indonesia yang mana mayoritas menganut agama islam mempunyai peran
yang sangat penting dalam menunjang setiap kebijakan-kebijakan yang ditetapkan
oleh pemerintah, dalam hal ini khususnya kebijakan tentang Keluarga Berencana.
Untuk itu diharapakan agar umat islam khususnya memperhatikan dan menerapkan
pentingnya keluraga berencana tersebut dalam setiap mereka melangsungkan
perkawinan, disini perlu kita ketahui bersama bahwa antara maksud dan tujuan agama
Islam (maqasih syari’ah) dari adanya pernikahan adalah untuk mendapatkan
keturunan (littanasul) dan menghindari suami atau isteri jatuh kepada perbuatan zina.
Oleh karena itu, dalam banyak hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw
memerintahkan ummatnya untuk menikahi wanita yang penyayang dan subur (untuk
memperoleh keturunan).
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Ahmad dari Anas bin Malik disebutkan
seperti di bawah ini:Artinya: “Dari Anas bin Malik, bahwasannya Rasulullah saw
memerintahkan kami untuk menikah, dan melarang dengan sangat keras untuk tidak
menikah. Beliau kemudian bersabda: “Nikahilah oleh kalian (perempuan) yang
penyayang dan subur untuk memperoleh keturunan, karena sesungguhnya saya kelak
pada hari Kiamat adalah yang paling banyak ummatnya” (HR. Ahmad).
Bahkan, bukan hanya itu, dalam sebuah hadits shahih lainnya yang diriwayatkan oleh
Imam Abu Daud dan Imam Nasai, dari Ma’qal bin Yasar, bahwa seorang laki-laki
datang kepada Rasulullah saw sambil berkata: “Ya Rasulullah, saya mendapatkan
seorang wanita dari keturunan yang sangat baik dan sangat cantik, akan tetapi dia
mandul (tidak dapat hamil), apakah saya boleh menikahinya?” Rasulullah saw
menjawab: “Nikahilah oleh kamu (perempuan) yang penyayang dan subur, karena aku
kelak pada hari Kiamat yang paling banyak ummatnya”.
Keluarga Berencana secara prinsipil dapat diterima oleh Islam, bahkan keluarga
berencana dengan maksud menciptakan keluarga sejahtera yang berkualitas dan
melahirkan keturunan yang tangguh sangat sejalan dengan tujuan syari`at Islam yaitu
mewujudkan kemashlahatan bagi umatnya. Selain itu, Kb juga memiliki sejumlah
manfaat yang dapat mencegah timbulnya kemudlaratan. Bila dilihat dari fungsi dan
manfaat KB yang dapat melahirkan kemaslahatan dan mencegah kemudlaratan maka
tidak diragukan lagi kebolehan KB dalam Islam.
BAB II
PERMASALAHAN
Dari latar belakang diatas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam makalah ini
adalah:
1. apakah keluarga berencana tersebut diatur dalam hukum islam?
2. apakah agama islam meperbolehkan keluarga berencana tersebut? Kalau hal itu
diperbolehkan sejauh mana batasannya?

BAB III
PEMBAHASAN

A. KELUARGA BERENCANA DALAM PANDANGAN ISLAM


1. Defenisi Keluarga Berencana
Keluarga berencana (KB) adalah istilah resmi yang dipakai dalam lembaga-lembaga
Negara kita seperti BKKBN. Keluarga Berencana juga mempunyai arti yang sama
dengan istilah arab ”tandhdimunnahli” yang artinya pengaturan kelahiran, bukan
”tahdziidhunnahli” yang artinya pembatasan kelahiran .
Sementara dalam literatur keluarga berencana berarti pasangan suami istri yang telah
mempunyai perencanaan yang kongkrit mengenai kapan anaknya diharapkan lahir
agar setiap anaknya lahir disambut dengan rasa gembira dan syukur dan
merencanakan berapa anak yang dicita-citakan, yang disesuaikan dengan
kemampuannya dan situasi kondisi masyarakat dan negaranya.

2. Keluarga Berencana Dalam Agama Islam


a. Pandangan Al-Qur’an Tentang Keluarga Berencana
Dalam al-Qur’an banyak sekali ayat yang memberikan petunjuk yang perlu kita
laksanakan dalam kaitannya dengan KB diantaranya ialah :
Surat An-Nisa’ ayat 9, yang artinya:
“Dan hendaklah takut pada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah. Mereka khawatir terhadap kesejahteraan
mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah
mereka mengucapkan perkataan yang benar”.
Selain ayat diatas masih banyak ayat yang berisi petunjuk tentang pelaksanaan KB
diantaranya ialah surat al-Qashas: 77, al-Baqarah: 233, Lukman: 14, al-Ahkaf: 15, al-
Anfal: 53, dan at-Thalaq: 7.
Dari ayat-ayat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa petunjuk yang perlu
dilaksanakan dalam KB antara lain, menjaga kesehatan istri, mempertimbangkan
kepentingan anak, memperhitungkan biaya hidup brumah tangga.

b. Pandangan al-Hadits Tentang Keluarga Berencana


Dalam Hadits Nabi diriwayatkan:
“sesungguhnya lebih baik bagimu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan
berkecukupan dari pada meninggalkan mereka menjadi beban atau tanggungan orang
banyak.”
Dari hadits ini menjelaskan bahwa suami istri mempertimbangkan tentang biaya
rumah tangga selagi keduanya masih hidup, jangan sampai anak-anak mereka menjadi
beban bagi orang lain. Dengan demikian pengaturan kelahiran anak hendaknya
dipikirkan bersama.

B. HUKUM KELUARGA BERENCANA


1. Menurut al-Qur’an dan Hadits
Sebenarnya dalam al-Qur’an dan Hadits tidak ada nas yang shoreh yang melarang
atau memerintahkan KB secara eksplisit, karena hukum ber-KB harus dikembalikan
kepada kaidah hukum Islam. Tetapi dalam al-Qur’an ada ayat-ayat yang berindikasi
tentang diperbolehkannya mengikuti program KB, yakni karena hal-hal berikut:
• Menghawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu. Hal ini sesuai dengan firman
Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 195, yang artinya:
“Janganlah kalian menjerumuskan diri dalam kerusakan”.
• Menghawatirkan keselamatan agama, akibat kesempitan penghidupan hal ini sesuai
dengan hadits Nabi:
“Kefakiran atau kemiskinan itu mendekati kekufuran”.
• Menghawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran anak
terlalu dekat sebagai mana hadits Nabi: “Jangan bahayakan dan jangan lupa
membahayakan orang lain.

2. Menurut Pandangan Ulama’


a. Ulama’ yang memperbolehkan
Diantara ulama’ yang membolehkan adalah Imam al-Ghazali, Syaikh al-Hariri, Syaikh
Syalthut, Ulama’ yang membolehkan ini berpendapat bahwa diperbolehkan mengikuti
progaram KB dengan ketentuan antara lain, untuk menjaga kesehatan si ibu,
menghindari kesulitan ibu, untuk menjarangkan anak. Mereka juga berpendapat
bahwa perencanaan keluarga itu tidak sama dengan pembunuhan karena pembunuhan
itu berlaku ketika janin mencapai tahap ketujuh dari penciptaan. Mereka mendasarkan
pendapatnya pada surat al-Mu’minun ayat: 12, 13, 14.

b. Ulama’ yang melarang


Selain ulama’ yang memperbolehkan ada para ulama’ yang melarang diantaranya
ialah Prof. Dr. Madkour, Abu A’la al-Maududi. Mereka melarang mengikuti KB
karena perbuatan itu termasuk membunuh keturunan seperti firman Allah:
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut (kemiskinan) kami
akan memberi rizkqi kepadamu dan kepada mereka”.

C. BATASAN KELUARGA BERENCANA DALAM ISLAM

Mengenai boleh atau tidaknya keluarga berencana dalam islam, terjadi pro dan kontra,
ada yang melarang dan ada yang memperbolehkan seperti yang diuraikan
sebelumnya. Walaupun demikian dalam makalah ini saya setuju dengan
dibolehkannya kelurga berencana, karena dengan begitu akan mempermudah
pemerintah untuk pemerataan perekonomian sebagai salah satu upaya pemerintah
dalam mensejahterakan warga negaranya.
Ada banyak pendapat mengenai boleh atau tidaknya KB dalam pandangan islam
antara lain:
Mahmud Syaitut berpendapat, kalau program KB itu dimaksudkan sebagai usaha
pembatasan anak dalam jumlah tertentu, misalnya hanya 3 anak untuk setiap keluarga
dalam segala kondisi tanpa kecuali, maka hal tersebut bertentangan dengan syariat
Islam, hukum alam dan hikmah Allah menciptakan manusia ditengah-tengah alam
semesta ini untuk kesejahteraan hidupnya. Tetapi jika kelahiran atau usaha
pencegahan kehamilan sementara atau untuk selamanya , sehubungan dengan kondisi
khusus, baik untuk kepentingan keluarga yang bersangkutan maupun untuk
kepentingan masyarakat dan negara tidak dilarang oleh agama. Misalnya suami/istri
menderita penyakit yang berbahaya yang bisa menurun kepada keturunannya.(Vide
Mahmud Syaitut, Al-Fatawa . Darul Qalam, s.a, hlm.294-297)
Jika program Keluarga Berencana (KB) dimaksudkan untuk membatasi kelahiran,
maka hukumnya tidak boleh. Karena Islam tidak mengenal pembatasan kelahiran
(tahdid an-nasl). Bahkan, terdapat banyak hadits yang mendorong umat Islam untuk
memperbanyak anak. Misalnya: Tidak bolehnya membunuh anak apalagi karena takut
miskin (QS. al-Isra’: 31), perintah menikahi perempuan yang subur dan banyak anak,
penjelasan yang menyebutkan bahwa Rasulullah berbangga di Hari Kiamat dengan
banyaknya pengikut beliau (HR. Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad), dan sebagainya.
Yang dikenal dalam Islam adalah pengaturan kelahiran (tanzhim an-nasl). Hal ini
didasarkan pada para sahabat yang melakukan azal di masa Nabi, dan beliau tidak
melarang hal tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim). Azal adalah mengeluarkan sperma
di luar rahim ketika terasa akan keluar, atau istilah medisnya Coitus interuptus atau
senggama terputus, yaitu dilakukan sewaktu berhubungan suami isteri , dimana
pengeluaran dari sperma dilakukan diluar vagina.
Beberapa alasan yang membenarkan pengaturan kelahiran antara lain: pertama,
kekhawatiran akan kehidupan dan kesehatan ibu jika ia hamil atau melahirkan,
berdasarkan pengalaman atau keterangan dari dokter yang terpercaya. Firman Allah:
“Dan janganlah kalian campakkan diri kalian dalam kebinasaan.” (QS. al-Baqarah:
195)., khawatir akan kesulitan materi yang terkadang menyebabkan munculnya
kesulitan dalam beragama, lalu menerima saja sesuatu yang haram dan melakukan
hal-hal yang dilarang demi anak-anaknya. Allah berfirman: “Allah menghendaki
kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan.” (QS. al-Baqarah: 185).
Ketiga, alasan kekhawatiran akan nasib anak-anaknya; kesehatannya buruk atau
pendidikannya tidak teratasi). Alasan lainnya adalah agar bayi memperoleh susuan
dengan baik dan cukup, dan dikhawatirkan kehadiran anak selanjutnya dalam waktu
cepat membuat hak susuannya tidak terpenuhi. Membatasi anak dengan alasan takut
miskin atau tidak mampu memberikan nafkah bukanlah alasan yang dibenarkan.
Sebab, itu mencerminkan kedangkalan akidah, minimnya tawakal dan keyakinan
bahwa Allah Maha Memberi rezeki. Allah Swt. berfirman: “Dan janganlah kalian
membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki
kepada mereka dan kepada kalian.” (QS. al-Isra: 31).
Seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa didalam Al-qur`an dan Hadist , yang
merupakan sumber pokok hukum Islam dan yang menjadi pedoman hidup umat islam,
tidak ada nas yang sharih (clear steatment) yang melarang ataupun yang
memerintahkan ber-KB secara eksplisit. Karena itu hukum ber-KB harus
dikembalikan kepada kaidah kaidah hukum islam yang menyatakan Pada dasarnya
segala sesuatu perbuatan itu boleh , kecuali ada dalil yang menunjukan
keharamannya.
Selain berpegang dengan kaidah hukum islam tersebut diatas , kita juga bisa
menemukan beberapa ayat Al-qur`an dan Hadist Nabi yang memberikan indikasi,
bahwa pada dasarnya Islam memperbolehkan orang ber-KB. Bahkan kadang-kadang
hukum ber-KB itu bisa berubah dari mubah (boleh) menjadi sunah, wajib makruh atau
haram , seperti halnya hukum perkawinan bagi orang islam yang hukum asalnya
mubah. Tetapi hukum mubah ini bisa berubah sesuai dengan kondisi dan situasi
individu muslim yang bersangkutan dan juga memperhatikan perubahan zaman,
tempat dan keadaan masyarajkat dan negara. Hal ini sesuai dengan kaidah hukum
islam yang artinya: hukum – hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan zaman
tempat dan keadaan.
Ayat-ayat Al-qur`an yang dapat dijadikan dalil untuk dibenarkan ber-KB antara lain:
• Surat An-nisa ayat 9 yang artinya
”Dan hendaklah orang-orang merasa khawatir kalau mereka meninggalkan dibelakang
mereka anak cucu yang lemah , yang mereka khawatir akan kesejahteraanya . oleh
karena itu hendaknya merka bertakwa kepada Allah dan hendaknya mengucapkan
yang benar”.
• Surat Al-Baqarah ayat 233 yang artinya :
”Para ibu hendaknya menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
orang yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan ayah berkewajiban memberi
makan dan pakaian kepada ibu dengna cara yang patut. Seseorang tidak dibebani
melainkan menurut kadar kesanggupannya . Janganlah seorang ibu menderita
kesengsaraan karena anaknya dan ahli warisnya berkewajiban demekian. Apabila
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengna kerelaan dari keduannya untuk
musyawarah , maka tidak adadosa atau keduanya. Dan jika ingin anaknya disusukan
oleh orang lain , maka tidak ada dosa baginya apabila kamu memberikan pembayaran
mneurut yang patut. Bertakwalah kepada Allh dan ketahuilah bahwa Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan”.
• Surat Luqman ayat 14, yang artinya:
”Dan Kami amanatkan kepada manusia terhadap kedua orang tuanya. Ibunya yang
telah mengandung dalam keadaan lemah dan telah menyapihnya dalam dua tahun .
bersyukurlah kepada-KU dan kepada orang tuamu. KepadaKu-lah kamu kembali.”
Dari ayat-ayat diatas memberi petunjuk kepada kita bahwa kita perlu melaksanakan
perencanaan keluarga atas dasar mencapai keseimbangan antara mendapatkan
keturunan dengan:
• Terpeliharanya kesehatan ibu anak, terjaminnya keselamatan jiwa ibu karena beban
jasmani dan rohani selama hamil , melahirkan, menyusui dan memelihara anak serta
timbulbya kejadian-kejadian yang tidak diinginkan dalam keluarganya.
• Terpeliharanya kesehatan jiwa , kesehatan jasmani dan rohani anak serta tersedianya
pendidikan bagi anak
• Terjaminnya keselamatan agama orang tua yang dibebani kewajiban mencukupkan
kebutuhan hidup keluarga
Dalan ber-KB islam membolehkan untuk Kb coitus Interuptus, IUD dan laktasi, tetapi
untuk KB yang sifatnya sterilisasi seperti vasektomi dan tubektomi yang berakibat
pemandulan tetap hal ini dilarang dalam agama, karena ada beberpa hal yang
prinsipal, yaitu:
Sterilisasi bertentangan dengan tujuan pokok perkawinan menurut islam , yakni :
perkawinan lelaki dan wanita selain bertujuan unutk mendapatkan kebhagiaan suami
istri dalam hidupnya dunia akhirat, jiga unutk mendapatkan keturunan yang sah yang
diharapakan menjadi anak yang saleh sebagai penerus cita-citanya.
Mengubah ciptaan Tuhan dengan jalan memotong dan menghilangkan sebagian tubuh
yang sehat dan berfungsi (saluran telur)
Melihat aurat orang lain (aurat besar), karena pada dasarnya islam melarang orang
melihat aurat orang lain meskipun sama jenis kelaminnya, kecuali dalam keadaan
emergency/ darurat.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Akhirnya dari pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat ditarik
kesimpulan:
1. didalam Al-qur`an dan Hadist , yang merupakan sumber pokok hukum Islam dan
yang menjadi pedoman hidup umat islam, tidak ada nas yang sharih (clear steatment)
yang melarang ataupun yang memerintahkan ber-KB secara eksplisit. Karena itu
hukum ber-KB harus dikembalikan kepada kaidah kaidah hukum islam yang
menyatakan Pada dasarnya segala sesuatu perbuatan itu boleh , kecuali ada dalil yang
menunjukan keharamannya.
2. keluarga berencana dalam islam, terjadi pro dan kontra, ada yang melarang dan ada
yang memperbolehkan seperti yang diuraikan sebelumnya. Walaupun demikian dalam
makalah ini saya setuju dengan dibolehkannya kelurga berencana, karena dengan
begitu akan mempermudah pemerintah untuk pemerataan perekonomian sebagai salah
satu upaya pemerintah dalam mensejahterakan warga negaranya.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman Umran, Islam dan KB (PT Lentera Basritama: jakarta. 1997.

Ali Hasan, Masail Fiqhiyah, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. 1997.

Chuzamah, T. Yangro dkk. (ed), Problematika Hukum Islam Kontemporer, Pustaka


Firdaus, Jakarta. 2002.

Masjfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, PT Toko Gunung Agung, Jakarta, 1997


Musthafa Kamal, Fiqih Islam, Citra Karsa Mandiri, Yogyakarta. 2002.
Rahimahullah,(2004, 4 Desember). Hukum KB dalam islam. Diakses 5 Desember
2010, dari http://blog.vbaitullah.or.id/2003/02/22/48-hukum-kb-dalam-islam/