Anda di halaman 1dari 1

A.

Definisi Tanah Vertisol

Nama vertisol untuk jenis tanah liat berwarna kelam-hitam yang bersifat fisik berat ini diusulkan
oleh Soil survey staff USDA. Dalam Buckman dan Brady (1982), vertisols (berasal dari L.
Vertere; verto; vertic atau pembalikan) adalah jenis tanah mineral yang mempunyai warna abu
kehitaman, bertekstur liat dengan kandungan lempung lebih dari 30% pada horizon permukaan
sampai kedalaman 50 cm yang didominasi jenis lempung montmorillonit sehingga dapat
mengembang dan mengerut. Pada musim kering tanah ini membentuk retakan yang dalam dan
lebar, sehingga sejumlah bahan yang ada di lapisan atas tanah dapat runtuh masuk ke dalam
retakan, akan menimbulkan pembalikan sebagian massa tanah (invert). Jenis tanah ini dahulu
dikenal dengan nama grumusol yang diusulkan oleh Oakes dan Y. Thorp (1950), berasal dari
istilah gromus (gumpal keras) karena dapat membentuk gumpalan besar dan keras pada musim
kering.

B. Pembentukan Tanah Vertisol

Tanah vertisol umumnya terbentuk dari bahan sedimen yang mengandung mineral smektite dalam
jumlah tinggi, di daerah datar, cekungan hingga berombak (Driesen dan Dudal, 1989 dalam
Prasetyo, 2007). Bahan induknya terbatas pada tanah bertekstur halus atau terdiri atas bahan-bahan
yang sudah mengalami pelapukan seperti batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial dan abu
vulkanik. Pembentukan tanah vertisol terjadi melalui dua proses utama, pertama adalah proses
terakumulasinya mineral 2:1 (smektite) dan kedua adalah proses mengembang dan mengerut yang
terjadi secara periodik hingga membentuk slickenside atau relief mikro gilgai (vanWambeke, 1992
dalam Prasetyo, 2007).

Tanah ini sangat dipengaruhi oleh proses argillipedoturbation yaitu proses pencampuran tanah
lapisan atas dan bawah yang diakaibatkan oleh kondisi basah dan kering yang disertai
pembentukan rekahan-rekahan secara periodik (Fanning, 1989 dalam Prasetyo, 2007). Proses-
proses tersebut menciptakan struktur tanah dan pola rekahan yang sangat spesifik.