Anda di halaman 1dari 8

MODUL II

PENGUKURAN BESARAN LISTRIK PADA SISTEM TIGA FASA-


EMPAT KAWAT
Muhammad Daris Nuha¹
¹ STT-PLN (2018-11-065)
E-mail: daris1811065@sttpln.ac.id

ABSTRACT
For 3 phase 4 wire the features are of 4 wire R, S, T and neutral, so you can use 1 phase
transformer. This 1 phase transformer is taken from 1 phase and is neutral. The purpose of this
practicum is 3 namely, first, to understand the theoretical concepts and methods of measuring
voltage, current, power and power factors in a 3-phase 4 wire system. Second, able to analyze
the results of measurements of electrical quantities in linear and nonlinear loads in a 3 phase 4
wire system. Third, Understanding the phenomenon of load imbalances and electrical quantities
on each load related to the phenomenon. In this practicum we will look for balanced and
unbalanced loads on incandescent lamps and electronic ballast lamps. Balanced load is a
condition in which the three current / voltage vectors are equal and the three vectors form an
angle of 120º to each other. Whereas what is meant by unbalanced load is a condition where one
or both conditions of a balanced state are not met.

Keywords: 3 Phase 4 Wire System

ABSTRAK
Untuk 3 fasa 4 kawat keistimewaannya dari 4 kawat R,S,T dan netral, sehingga bisa
menggunakan trafo 1 fasa. Trafo 1 fasa ini diambil dari 1 fasa dan netral. Tujuan dari praktikum
ini ada 3 yaitu pertama, memahami konsep teori dan metode pengukuran tegangan, arus, daya
dan faktor daya pada sistem 3 fasa - 4 kawat. Kedua, mampu menganalisa hasil pengukuran
besaran listrik pada beban linear dan nonlinear di sistem 3 fasa 4 kawat. Ketiga, Memahami
fenomena ketidakseimbangan beban dan besaran-besaran listrik pada tiap beban terkait
fenomena tersebut. Pada praktikum ini kita akan mencari beban seimbang dan beban tidak
seimbang pada lampu pijar dan lampu ballast elektronik. Beban seimbang adalah suatu keadaan
yaitu ketiga vektor arus / tegangan sama besar dan ketiga vektor saling membentuk sudut 120º
satu sama lain. Sedangkan yang dimaksud dengan beban tidak seimbang adalah keadaan dimana
salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi.

Kata kunci: Sistem 3 Fasa 4 Kawat


1. PENDAHULUAN
Untuk memenuhi kebutuhan dalam suplai daya listrik, sistem 1 phase dikembangkan
menjadi 3 phase. Sistem ini menggunakan 3 gelombang sinusoidal yang mempunyai perbedaan
sudut phase masing-masing 120 derajat. Di Indonesia, sistem 3 phase umumnya diterapkan pada
jaringan listrik yang disuplai oleh PLN mulai dari pembangkit sampai Jaringan Tegangan
Rendah (JTR) yang berada di depan rumah pelanggan. Pelanggan listrik perumahan dengan
daya dibawah 3500VA, menerima aliran listrik system 1 phase dengan menggunakan 2
penghantar yaitu kabel phase dan netral. Sedangkan pelanggan listrik daya diatas 3500VA, baik
perumahan atau industry, akan menerima aliran listrik 3 phase dengan menggunakan 4
penghantar yaitu 3 penghantar phase dan 1 netral. Sistem 3 phase yang diterapkan PLN
menggunakan tegangan 380V. Tetapi ada juga industry yang mempunyai pembangkit sendiri
menggunakan tegangan 400VAC, 480VAC atau 690VAC. Untuk 3 fasa 4 kawat
keistimewaannya dari 4 kawat R,S,T dan netral, sehingga bisa menggunakan trafo 1 fasa. Trafo
1 fasa ini diambil dari 1 fasa dan netral. Sedangkan pada sistem 3 fasa 3 kawat, ini karna tidak
ada kawat netral di sepanjang jaringan maka hanya menggunakan trafo 3 fasa yang besarnya
hingga 200 kVA.
Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik dalam
sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb/detik atau
Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang sangat lemah dalam
satuan mikro Ampere (μA) seperti di dalam jaringan tubuh hingga arus yang sangat kuat 1-200
kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada petir. Dalam kebanyakan sirkuit arus searah dapat
diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah konstan sehingga besar arus yang mengalir
dalam sirkuit bergantung pada voltase dan resistansi sesuai dengan hukum Ohm. Tegangan
listrik adalah perbedaan potensial listrik antara dua titik dalam rangkaian listrik, dan dinyatakan
dalam satuan volt. Besaran ini mengukur energi potensial dari sebuah medan listrik yang
mengakibatkan adanya aliran listrik dalam sebuah konduktor listrik. Tergantung pada perbedaan
potensial listriknya, suatu tegangan listrik dapat dikatakan sebagai ekstra rendah, rendah, tinggi
atau ekstra tinggi. Daya dalam fisika adalah laju energi yang dihantarkan atau kerja yang
dilakukan per satuan waktu. Daya dilambangkan dengan P.
Yang dimaksud dengan keadaan seimbang adalah suatu keadaan yaitu ketiga vektor
arus / tegangan sama besar dan ketiga vektor saling membentuk sudut 120º satu sama lain.
Sedangkan yang dimaksud dengan keadaan tidak seimbang adalah keadaan dimana salah satu
atau kedua syarat keadaan seimbang tidak terpenuhi. Ketidakseimbangan beban pada suatu
sistem distribusi tenaga listrik selalu terjadi dan ketidakseimbangan tersebut adalah pada beban-
beban satu fasa di pelanggan jaringan tegangan rendah. Akibat ketidakseimbangan beban
tersebut muncullah arus di netral trafo. Arus yang mengalir di netral trafo ini menyebabkan
terjadinya losses, yaitu losses akibat adanya arus netral pada penghantar netral trafo dan losses
akibat arus netral yang mengalir ke tanah.

2. METODE PRAKTIKUM
Pada praktikum ini kita menggunakan beberapa alat, antara lain: Alat ukur listrik digital
Clampmeter, 3 buah lampu pijar, 3 buah lampu TL ballast magnetic, 3 buah lampu TL ballast
elektronik, dan Kabel penghubung/jumper.

Langkah-langkah praktikum:

1. Pengukuran Besaran-besaran Listrik pada Sistem Tiga fasa-empat kawat


dengan Beban Seimbang
DIAGRAM PENGKABELAN

L9

L10
R S T

I R
L11
II S
CAM STARTER
L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 L8
T L12

N
I II L13

Gambar 2
Rangkaian pengukuran besaran listrik fasa tiga beban seimbang.

L9

L10
R S T

I R
L11
II S
CAM STARTER
L1 L2 L3 L4 L5 L6 L7 L8
MCB T L12

N
I II L13

Gambar 3
Contoh pengkabelan paralel beban L1 dan L2

1. Baca dan Ikuti prosedur keamanan dan keselamatan penggunaan modul yang
tertera pada modul (mulai dari awal sampai akhir).
2. Siapkan tabel pengukuran, lihat kebutuhan daya dan jenis beban yang
digunakan sesuai tabel.
3. Siapkan lampu dengan jenis dan daya sesuai yang dibutuhkan di tabel
pengamatan. Misalkan untuk pengukuran dengan beban lampu pijar daya 100
watt, siapkan 3 buah bohlam lalu pasang ke 3 fitting lampu bohlam pada meja
tera.
4. Siapkan kabel jumper, hubungkan terminal tiap fasa sumber tegangan dengan
masing-masing terminal beban yang sesuai. Untuk kabel netral, hubungkan
terminal beban yang terpakai saja dengan terminal netral sumber tegangan.
5. Jika dibutuhkan beban paralel, hubungkan 2 terminal beban yang ingin
diparalelkan, lalu hubungkan salah satu dari terminal beban yang terparalel
dengan fasa sumber tegangan.
6. Pastikan rangkaian telah sesuai dan tidak ada yang terputus atau terhubung
singkat.
7. Nyalakan modul dengan menarik tuas MCB ke posisi ON dan lakukan
pengukuran parameter yang diminta.
8. Untuk pengukuran tegangan, ubah tuas power analyzer/ clamp meter ke mode
tegangan lalu pasang probe pengukuran pada terminal beban.
9. Untuk pengukuran arus dan sudut fasa, ubah tuas pengatur pada power analyzer
sesuai dengan parameter yang ingin diukur, kemudian masukkan kabel yang
ingin diukur arusnya ke capit clamp meter. Dan untuk pengukuran daya, pasang
kedua probe pengukur tegangan ke terminal beban yang diukur kemudian
pasang kabel ke capit clamp meter/power analyzer.
10. Ulangi langkah 1-8 sesuai dengan tabel pengamatan/jenis beban

2. Pengukuran Besaran-besaran Listrik pada Sistem Tiga fasa-empat kawat


dengan Beban Tak Seimbang
1. Baca dan Ikuti prosedur keamanan dan keselamatan penggunaan modul yang
tertera pada modul (mulai dari awal sampai akhir).
2. Siapkan tabel pengukuran, lihat kebutuhan daya dan jenis beban yang
digunakan sesuai tabel.
3. Siapkan lampu dengan jenis dan daya sesuai yang dibutuhkan di tabel
pengamatan.
4. Siapkan kabel jumper, hubungkan terminal tiap fasa sumber tegangan dengan
masing-masing terminal beban yang sesuai.
5. Jika dibutuhkan beban paralel, hubungkan 2 terminal beban yang ingin
diparalelkan, lalu hubungkan salah satu dari terminal beban yang terparalel
dengan fasa sumber tegangan.
6. Pastikan rangkaian telah sesuai dan tidak ada yang terputus atau terhubung
singkat.
7. Nyalakan modul dengan menarik tuas MCB ke posisi ON dan lakukan
pengukuran parameter yang diminta.
8. Untuk pengukuran tegangan, ubah tuas power analyzer/ clamp meter ke mode
tegangan lalu pasang probe pengukuran pada terminal beban.
9. Untuk pengukuran arus dan sudut fasa, ubah tuas pengatur pada power analyzer
sesuai dengan parameter yang ingin diukur, kemudian masukkan kabel yang
ingin diukur arusnya ke capit clamp meter. Dan untuk pengukuran daya, pasang
kedua probe pengukur tegangan ke terminal beban yang diukur kemudian
pasang kabel ke capit clamp meter/power analyzer.
10. Ulangi langkah 1-8 sesuai dengan tabel pengamatan/jenis beban.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
TABEL 1. BEBAN SEIMBANG
LampuPijar Lampu Elektronik
L1 :40 W L2 :40W L3 :40W L1 :36W L2 :36W L3 :36W
DAYA
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK R S T R S T
W 34 41 35 29 36 28
VA 43 47 43 49 38 52
VAR 26 -22 -24 -39 -45 -43
PF 0,79 0,872 0,813 0,591 0,62 0,538
ARUS
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK R S T N R S T N
A RMS 0,2 0,23 0,19 0,13 0,23 0,20 0,24 0,38
TEGANGAN
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK VRN VSN VTN VRN VSN VTN
V RMS 216,3 207 219,2 216,7 210,4 210,4
TABEL 2. BEBAN TAK SEIMBANG
LampuPijar Lampu Elektronik
L1 :40W L2 :40W L3 :100W L1 :36W L2 :36W L3 :72W
DAYA
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK R S T R S T
W 38 -41 89 34 38 64
VA 47 48 91 54 49 102
VAR 27 24 -18 -41 -45 -79
PF 0,868 -0,854 0,978 0,629 0,644 0,627
ARUS
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK R S T N R S T N
A RMS 0,18 0,23 6,42 0,26 0,25 0,28 0,47 0,56
TEGANGAN
BESARAN LAMPU PIJAR BALLAST ELEKTRONIK
LISTRIK VRN VSN VTN VRN VSN VTN
V RMS 218,6 218 218,7 216,6 211 217,8

Hasil yang saya peroleh dari praktikum yang sudah dilakukan, hal-hal yang mempengaruhi adanya arus di penghantar netral pada beban
seimbang maupun beban tak seimbang adalah beban tidak seimbang yaitu keadaan dimana salah satu atau kedua syarat keadaan seimbang tidak
terpenuhi. Syarat yang dimaksud adalah suatu keadaan yaitu ketiga vektor arus / tegangan sama besar dan ketiga vektor saling membentuk sudut 120º satu
sama lain. Yang mempengaruhi juga adalah adanya harmonisa yaitu ganggunan distribusi listrik atau distorsi pada sebuah instalasi listrik, juga faktor daya
terbelakang (lagging) dan faktor daya terdahulu (leading). Bandingkan arus netral dari masing-masing pengujian di sistem beban tidak seimbang pada
setiap jenis beban yang diujikan, terjadi perbedaan adalah karena mempunyai komponen LC jadi nya terbentuk harmonisa. Harmonisa
merupakan salah satu faktor adanya arus di penghantar netral.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan data yang diambil, praktikan dapat memahami konsep teori dan metode pengukuran
tegangan, arus, daya dan faktor daya pada sistem 3 fasa - 4 kawat yaitu untuk 3 fasa - 4 kawat
keistimewaannya dari 4 kawat R,S,T dan netral. Praktikan dapat menganalisa hasil pengukuran besaran
listrik pada beban linear dan nonlinear di sistem 3 fasa 4 kawat. Praktikan dapat memahami fenomena
ketidakseimbangan beban dan besaran-besaran listrik pada tiap beban terkait fenomena tersebut.
Saran untuk praktikum kali ini adalah agar alat-alat lebih sering di perhatikan agar dapat
berguna dengan semestinya.

UCAPAN TERIMAKASIH
Saya berterimakasih kepada seluruh asisten laboratorium sistem kontrol dan pengukuran STT-
PLN Jakarta yang sudah membantu saya dan memberi dukungan dalam mengusun laporan praktikum ini.

DAFTAR PUSTAKA
[1] https://infopromodiskon.com/news/detail/210/memahami-sistem-3-phase-dalam-kelistrikan.html
[2] https://taleoflia.wordpress.com/2016/02/15/kenapa-jawa-tengah-dan-sekitarnya-menggunakan-
sistem-3-fasa-4-kawat/
[3] https://cahyokrisma.wordpress.com/2010/07/23/pert-i-pengertian-daya-arus-dan-tegangan/
[4] https://dokumen.tips/documents/beban-seimbang-dan-tidak-seimbang.html
[5] http://ejournal-polnam.ac.id/index.php/JurnalSimetrik/article/view/43