Anda di halaman 1dari 4

Tidak banyak buku yang mampu beredar dan terjual lebih dari 200 tahun dalam jumlah yang

cukup
masif. Encyclopaedia Britannica adalah salah satu di antaranya. Apalagi jika buku itu adalah
catatan “membosankan” atas pencapaian dan sejarah umat manusia, mulai dari perang hingga
penemuan penting dunia.
Menyebut Britannica sebagai buku barangkali tak begitu tepat. Bagi sebagian orang, ensiklopedi
itu adalah manifestasi pengetahuan manusia yang dicoba untuk direkam dalam tulisan—terlepas
dari segala kekurangannya—sekaligus bagian dari ambisi Barat untuk memetakan pengetahuan.
Britannica bukan upaya pertama. Sejak awal abad ke-18, sejumlah buku serupa ensiklopedi sudah
beredar di dunia. Seperti dituliskan Herman Kogan dalam The Great EB: The Story of The
Encyclopaedia Britannica (1958), di Eropa, Ephraim Chambers telah
menerbitkan Cyclopaedia atau Universal Dictionary of Arts and Sciences dalam dua volume pada
1728.
Seri tersebut menginspirasi dibuatnya Encyclopedie (ensiklopedi berbahasa Perancis) oleh Denis
Diderot pada 1750. Kogan menuliskan bahwa ensiklopedi ini bertujuan untuk “membelokkan
pembacanya kepada sudut pandang rasional dan ilmiah, bukan hanya untuk menanamkan
pengetahuan dan informasi” (hlm. 7)—suatu hal yang saat itu tidak lazim ditemukan.
Publikasi ensiklopedi Diderot ini sukses menimbulkan banyak diskusi dan perdebatan, pujian
maupun kritikan. Kontributornya pun tidak sembarangan. Sosok seperti Rousseau dan Voltaire
adalah beberapa di antaranya. Ensiklopedi inilah yang menjadi inspirasi langsung bagi
terbitnya Encyclopaedia Britannica.

Trio Skotlandia
Ide awal penerbitan Britannica muncul dari Andrew Bell dan seorang pria Skotlandia lainnya
bernama Colin Macfarquhar. Bell kala itu terkenal sebagai seorang pengukir, entah itu nama orang
di peti mati atau inisial di kalung anjing piaraan. Macfarquhar, sementara itu, adalah seorang
pebisnis di bidang percetakan.
Masih menurut The Great EB, Duo Skotlandia yang berasal dari kota Edinburgh tersebut melihat
bahwa 1768 merupakan tahun yang pas bagi mereka untuk membuat ensiklopedi.

Memanfaatkan momentum perdebatan akan Encyclopedie buatan Diderot dan melihat Edinburgh
kala itu dipenuhi banyak penulis dan orang terpelajar, keduanya ingin mendulang untung dari apa
yang menurut mereka kesalahan-kesalahan Diderot dan ensiklopedi lainnya.
Kedua pria Skotlandia itu sepakat untuk membuat ensiklopedi yang lebih terstruktur. Caranya
dengan membuat penataan pada ilmu-ilmu seni dan sains. Selain itu, ensiklopedi mereka juga akan
berisi risalah serta esai panjang, tidak melulu definisi singkat seperti yang lazim ditemukan pada
ensiklopedi lainnya.
Terstruktur dalam bayangan mereka adalah “setiap kesenian dan sains akan diperlakukan secara
utuh dan definitif dalam bentuk yang sistematis dan di bawah denominasi yang tepat, dengan
istilah-istilah teknis dan topik-topik bawahan juga dicantumkan menurut abjad” (hlm. 8).
Baik Bell maupun Macfarquhar, lanjut Kogan, ingin membuat Britannica menjadi ensiklopedi
yang tidak hanya praktikal namun juga filosofis dalam pembahasan isinya.
Pada momen inilah mereka memutuskan untuk melibatkan satu lagi warga Edinburgh bernama
William Smellie yang akan diplot sebagai editor. Kala itu, Smellie sudah memiliki reputasi sebagai
seorang yang jenius di kalangan kaum intelektual Edinburgh.

Menuju Edisi Pertama


Setelah Smellie bergabung, mereka bergegas membagi tugas. Bell dan Macfarquhar segera
menjelajah pelosok kota Edinburgh untuk mencari pendanaan, sementara Smellie mulai
mengerjakan isi ensiklopedi.
Pendanaan didapat dari sekelompok orang Skotlandia yang tertarik pada buku tersebut. Kelompok
itu kemudian memiliki nama “Society of Gentlemen.” Kendati pendanaan telah didapat, Smellie
mengatakan kepada mereka bahwa ia membutuhkan waktu agak lama untuk menyusun isi yang
lebih menyeluruh.
Namun, atas desakan Bell dan Macfarquhar serta para penyandang dana, Smellie akhirnya
menyerah. Alhasil, Encylopaedia Britannica edisi pertama ditelurkan secara periodik dalam tiga
tahun.
Seperti dituliskan Kogan, dua nomer awal diluncurkan pada 6 Desember 1768, tepat hari ini 250
tahun lalu. Sementara volume pertama (“Aa” hingga “Bzo”) rampung dan dijilid pada 1776.
Volume kedua (“Caaba” hingga “Lythrum”) rampung setahun setelahnya. Dan yang ketiga
(“Macao” hingga “Zyglophyllum”) selesai pada 1771.
Satu set lengkap ensiklopedi itu dijual dengan harga 12 poundsterling. Terdiri dari 2.659 halaman
kuarto yang juga berisikan 160 ilustrasi, termasuk sketsa kapal Nuh serta peta Amerika Utara, yang
diukir oleh Bell pada lempeng tembaga.
Pustakawan Dorothy Auchter dalam “The Evolution of the Encyclopaedia Britannica: From
Macropaedia to Britannica Online” (1999) menuliskan bahwa edisi pertama itu sukses terjual dan
edisi-edisi selanjutnya dikeluarkan secara reguler dengan isi yang yang semakin mutakhir.
Sejumlah ilmuwan ternama pun turut ambil bagian dalam penulisan artikel di Britannica. Sir
Walter Scott, Robert Malthus, hingga Albert Einstein pernah menyumbang tulisan pada
ensiklopedi tersebut.
Aucther menuliskan, ketika edisi ke-11 diterbitkan, Britannica telah ditahbiskan sebagai
ensiklopedi terhebat yang pernah dibuat manusia. Lebih lanjut, edisi ke-15 Britannica, yang
disebut dengan Britannica 3, menjadi edisi yang memakan investasi terbesar untuk sebuah buku
yang diterbitkan perusahaan swasta dengan memakan dana 32 juta dolar AS pada 1974.
Pada 1980-an penjualan Britannica 3 naik dua kali lipat tanpa adanya ensiklopedi pesaing di pasar.
Situasi ini membuat Encylopaedia Britannica Inc. sebagai sebuah perusahaan seolah-olah menatap
masa depan cerah tanpa adanya rintangan yang berarti
Hantaman Internet
Ketika teknologi komputer memulai eranya pada 1990-an, Britannica terlambat beradaptasi.
Alhasil, penjualannya merosot jauh dari 117.000 pada 1990 menjadi hanya 51.000 pada 1994.
Pada 1996, penjualan di AS hanya 17 persen dari tingkat penjualan pada 1990.

Terlebih kala itu, sejumlah ensiklopedi digital mulai bermunculan. Encarta besutan Microsoft,
kemudian ensiklopedi elektronik buatan Grolier menjadi pesaing utama Britannica. Pun ketika
mereka memutuskan untuk membuat Britannica secara digital, harga yang ditawarkan jauh di atas
para pesaingnya, yakni 1.200 dolar AS atau empat kali lipat harga Encarta. Ini membuat keadaan
perusahaan makin memburuk.
Baru ketika Britannica memutuskan untuk menurunkan harga jualnya menjadi “hanya” sebesar
125 dolar AS di tahun 1997, konsumen mau melirik produk Britannica. Pada
1998, Britannica memegang 25 persen pangsa pasar penjualan ensiklopedi digital dalam bentuk
CD.
Munculnya internet pun membawa sejumlah tantangan lebih bagi perusahaan itu. Dengan beragam
kemudahan akses untuk memperoleh pengetahuan secara gratis melalui internet,
hegemoni Britannica yang “menjual” ilmu pengetahuan kembali digoyang.
Pada 1997, hanya sekitar 12.000 orang yang berlangganan versi online ensiklopedi
tersebut, Britannica Online. Dari jumlah langganan itu, Britannica hanya memperoleh kurang dari
satu juta dolar AS dalam satu tahun.
Pada 2012, Britannica memutuskan untuk menyetop edisi cetak. Seperti dilaporkan New York
Times, keputusan itu diambil setelah melihat kenyataan yang ada di era digital serta adanya
kompetisi dari ensiklopedi gratis berbasis web yakni Wikipedia. Britannica mengatakan akan
beralih fokus pada versi online serta kurikulum pendidikan untuk sekolah-sekolah.
“Sejumlah orang akan merasa sedih karenanya dan akan bernostalgia. Tapi kita memiliki alat yang
lebih baik saat ini. Versi Web akan terus diperbarui. Versi tersebut juga jauh lebih komplit dan
punya multimedia,” jelas presiden Encycplopaedia Britannica Inc., Jorge Cauz.
Terkait Wikipedia, kompetitor utama saat ini, Cauz mengatakan bahwa Britannica memiliki
keunggulan tersendiri sebab mereka memiliki “sumber-sumber yang prestisius, konten yang diedit
dengan hati-hati” serta jenama yang terpercaya.
“Britannica tidak akan sebesar [Wikipedia], namun akan selalu benar secara faktual,” jelas Cauz.
Namun, masih dari New York Times, sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 2005
menyebutkan bahwa dari 42 entri artikel yang ada di kedua ensiklopedi tersebut, Wikipedia
membuat empat kesalahan rata-rata dalam setiap artikel sementara Britannica membuat tiga
kesalahan. Studi ini jelas membuat klaim Cauz menjadi kurang solid.
Lantas, bagaimana nasib Britannica di era digital? Tak ada yang tau persis. Tapi yang pasti, sejarah
panjang Britannica sebagai garda depan pencatat ilmu dan peradaban manusia jelas tidak dapat
diremehkan.
(tirto.id - Sosial Budaya)
Penulis: Ign. L. Adhi Bhaskara
Editor: Ivan Aulia Ahsan
https://tirto.id/sejarah-encyclopaedia-britannica-raksasa-tumbang-melawan-zaman-daPn