Anda di halaman 1dari 18

Kromatografi kertas

Posted on 20 Agustus 2016 by pendidikankimiaunivriau

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengantar Kromatografi

Kromatografi merupakan suatu teknik pemisahan campuran yang didasarkan atas


pembagian beberapa bagian dari senyawa di suatu fase gerak dan fase
diam. Kromatografi adalah pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kecepatan zat
terlarut yang bergerak bersama-sama dengan pelarutnya pada permukaan benda
penyerap. Setiap zat kimiamempunyai kecepatan yang berbeda pada pelarut tertentu.
Hal ini disebabkan adanya perbedaan kelarutan setiap jenis zat yang akan dipisahkan.
Kromatografi dapat digunakan untuk memisahkan zat-zat penyusun yang terdapat
dalam suatu campuran. Kromatografi adalah kelompok metode penting yang meliputi
pemisahan, identifikasi dan penetapan kadar komponen-komponen dari campuran
yang komplek. Pada semua pemisahan kromatografi sampel dilarutkan dalam fase
gerak, yang dapat berupa gas atau cairan. Fase gerak kemudian bergerak melewati fase
diam yang tidak bercampur, yang berada di dalam kolom atau pada permukaan padat.

Dasar pemisahan kromatografi adalah perbedaan kecepatan migrasi


komponen (senyawa-senyawa) yang dibawa oleh fasa gerak (mobile phase) dan
ditahan secara selektif oleh fasa diam (stationary phase). Metode pemisahan ini
sangat dikenal di laboratorium kimia karena dasar pemikiran yang sederhana
dan mudah difahami. Hasil pemisahan yang dikehendaki tergantung untuk
keperluannya, sehingga dapat dipilih teknik kromatografi yang sesuai, dari yang
sederhana hingga yang sangat rumit.

Keuntungan dari kromatografi yaitu merupakan metode pemisahan yang cepat dan
mudah serta menggunakan peralatan yang murah dan sederhana. (Kecuali untuk
kromatografi gas) hingga campuran yang kompleks dapat dipisahkan dengan mudah.
Keuntungan lebih lanjut ialah hanya membutuhkan campuran cuplikan yang sangat
sedikit sekali, bahkan justru tak mungkin menggunakan jumlah yang besar dalam
kromatografi. Disamping itu pekerjaan dapat diulang.

1. Sejarah Kromatografi

Kromatografi dikenal pada waktu Runge, F.F (1834-1843) melakukan spot test
campuran zat warna dari ekstrak tumbuh-tumbuhan pada pita kain dan atau kertas.
Pada tahun 1850 ia memisahakan larutan garam dengan kertas. Selanjutnya Goppel
Sroeder, F (1868) menganalisis zat warna, hidrokarbon, alkohol-alkohol, beer, milk
pada minuman dan air minum menggunakan kertas. Sedangkan peneliti Schobeinc
menggunakan pita kertas untuk memeriksa cairan. Baru kemudian Day D.T (1897-
1903) menggunakan kolom yang diisi serbuk tanah untuk pemisahan. Namun yang
populer adalah kimiawan Rusia, Mikhail Tswett (1906-1907) telah berhasil memisahkan
pigment kloroplast dengan fase diam CaCO3 dan petroleum eter sebagai fase gerak.
Mulai saat itu konsep kromatografi lebih jelas. Kromatografi diturunkan dari bahasa
yunani, yaitu chromato (warna) dan grafe (tulisan) yang berarti penulisan dengan
warna (writing with colors). Metoda ini kemudian dipubikasikan pada 30 desember
1901 di kongres ke-11 Doktor dan Naturalist (XI съезд естествоиспытателей и врачей)
di Sain Petersburg. Tulisan deskriptif pertama dipaparkan pada tahun 1903, dalam
laporan rapat ‘Warsaw Society of Naturalists, section of biology’.

Dia menggunakan istilah kromatografi untuk pertama kalinya pada 1906 dalam 2
tulisan mengenai klorofil di Jurnal Botani Jerman, ‘Berichte der Deutschen Botanischen
Gesellschaft’. Pada 1907 dia mendemonstrasikan kerja kromatografinya untuk ‘German
Botanical Society’. Menariknya, nama panggilan Mikhail’s “Цвет” berarti “warna” dalam
bahasa Rusia, jadi ada kemungkinan bahwa penamaan dari prosedur kromatografi
(secara harfiah “Menulis Warna”) merupakan cara yang dia lakukan untuk
membuktikan bahwa dia adalah seorang rakyat biasa dari Kerajaan Rusia yang bisa
menjadi abadi karena karyanya.

Kemudian diikuti beberapa peneliti misalnya: Wilson, J.N. (1940) mempelajari tentang
teori pada kromatografi kertas. Tiselius, A (1941) pemenang hadiah nobel atas
penemuannya mengenai analisis adsorpsi dan elektroforesis. Martin, A.J.P. dan Synge,
R.L.M.(1941) mengajukan pertama kali model yang menjelaskan efesiensi kolom dan
mengembangkan kromatografi cair dan berhasil mendapatkan hadiah Nobel tahun
1952. Masih banyak lagi peneliti lain untuk disebut satu persatu, namun yang perlu
diingat adalah Van Deemter, J.J dkk yang mengembangkan teori kecepatan dengan
menyederhanakan hasil kerja Lapidus dan Ammundson pada fungsi distribusi Gauss.
Dari perkembangannya nama kromatografi tidak sesuai lagi karena sekarang tidak
hanya dilakukan pemisahan pada campuran senyawa berwarna saja.

1. Jenis-Jenis Kromatografi

Penggolongan kromatografi ada 3 yaitu :

1. Berdasarkan prinsip/mekanisme pemisahan

Kromatografi Berdasarkan prinsip/mekanisme pemisahannya pemisahannya,


kromatografi dapat dibedakan menjadi: kromatografi adsorpsi; kromatografi partisi;
kromatografi penukar ion; kromatografi eksklusi ukuran,kromatografi afinitas.

2. Berdasarkan fase yang digunakan

Kromatografi berdasarkan fase yang digunakan dapat dibedakan menjadi


kromatografi Padat cair; kromatografi Padat cair; kromatografi Cair cair (k.partisi);
kromatografi Gas cair.

3. Berdasarkan alat yang digunakan

Kromatografi Berdasarkan alat yang digunakan dapat dibedakan menjadi kromatografi


kertas, kromatografi lapis tipis, Kromatografi kolom Kromatografi
penukarion,Kromatografi cair kinerja tinggi dan kromatografi gas.

1. Istilah-istilah dalam kromatografi

Dalam kromatografi, dikenal beberapa istilah, antara lain:

1. Analit : zat yang dipisahkan.


2. Kromatogram : output visual yang diperoleh dari hasil pemisahan. Adanya puncak
karakterisitik yang berbeda menunjukkan adanya senyawa yang berbeda.
3. Kromatograf : peralatan yang dapat melakukan pemisahan yang bagus, semisal
pemisahan kromatografi gas atau pemisahan kromatografi cairan .
4. Eluen : pelarut yang digunakan untuk memisahkan analit.
5. Fasa gerak : fasa zat yang bergerak pada arah tertentu.
6. Fasa diam : fasa yang tetap pada tempatnya.
7. Waktu retensi : waktu yang diperlukan analit untuk melewati sistem.
8. Volume retensi : volume fasa gerak yang dibutuhkan untuk mengelusi komponen analit.
9. Fase pendukung : bahan padat netral terhadap linarut, berfungsi menahan fase diam
supaya berfungsi sesuai yang dikehendaki.
10. Elusi : proses awal hingga selesai digerakkan linarut oleh fase gerak menelusuri
fase diam.
11. Visualisasi : proses mendeteksi hasil pemisahan baik langsung dengan mata
atau melalui tahapan perlakuan terhadap hasil pemisahan tersebut. Misalnya dengan
sinar ultra lembayung ataupun dengan dengan reagen pewarna.

1. Pengertian Kromatografi Kertas

Kromatografi kertas adalah suatu metode pemisahan campuran dari substansinya


menjadi komponen- komponennya berdasarkan distribusi suatu senyawa pada dua fase,
yaitu fase diam dan fase gerak. Fasa diam dalam kromatografi berupa air yang terikat
pada selulosa kertas, sedangkan fasa geraknya berupa pelarut organik non polar
(pelarut yang sesuai). Kromatografi kertas sering dipakai untuk memisahkan zat-zat
warna penyusun tinta atau bahan perwarna lainnya. Kromatografi kertas yaitu suatu
pemisahan dimana fase diam berupa zat cair yang menggunakan zat padat untuk
menyokong fase diam yaitu kertas, kemudian diletakkan dalam bejana tertutup yang
berisi uap jenuh larutan. Ini adalah merupakan jenis dari sistem partisi di mana fase
diam adalah air, disokong oleh molekul-molekul selulosa dari kertas, dan fase bergerak
biasanya merupakan campuran dari satu atau lebih pelarut-pelarut organik dan air.
Kromatografi kertas adalah metode analitik yang digunakan untuk memisahkan zat atau
bahan kimia yang berwarna terutama pigmen. Hal ini juga dapat digunakan untuk
menganalisis warna primer atau sekunder pada percobaan tinta.

1. Prinsip Kromatografi Kertas

Prinsip kromatografi kertas adalah adsorbsi dan kepolaran, dimana adsorbsi didasarkan
pada panjang komponen dalam campuran yang diadsorbsi pada permukaan fase diam
dan kepolaran komponen berpengaruh karena komponen akan larut dan terbawa oleh
pelarut jika memiliki kepolaran yang sama serta kecepatan migrasi pada fase diam dan
fase gerak. Sedangkan prinsip kerja kromatografi kertas adalah pelarut bergerak lambat
pada kertas, komponen-komponen bergerak pada laju yang berbeda dan campuran
dipisahkan berdasarkan pada perbedaan bercak warna.

1. Tujuan Kromatografi Kertas

Tujuan kromatografi kertas adalah memisahan campuran dari substansinya menjadi


komponen-komponennya berdasarkan distribusi suatu senyawa pada dua fase, yaitu
fase diam dan fase gerak.

1. Peralatan Dan Bahan Dalam Kromatografi Kertas

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam pelaksanaan teknik pemisahan
menggunakan metode kromatografi antara lain yaitu pipa kapiler, gunting, tabung
gelas, penutup tabung gelas, penggaris, pensil, pipet tetes dan beberapa alat yang lain
yang mungkin dibutuhkan. Sedangkan bahan yang diperlukan antara lain yaitu kertas
whatman atau kertas selulosa sebagai fase diam, pelarut sebagai fase gerak dan
beberapa larutan lain yang diperlukan sesuai dengan komponen campuran yang akan
dipisahkan.

Hal–hal yang perlu diperhatikan :

1. Jenis Kertas
2. Kertas selulosa murni / kertas ini khusus dibuat untuk kromatografi, dapat
dipergunakan kertas whatman no. 1 dan no. 3 yang terdiri dari x-selulosa 98-99% dan
B-selulosa 0,3-1,0%.
3. Kertas selulosa yang telah dimodifikasi

 Dengan zat kimia, contoh : kertas diasetilasi dengan zat kimia untuk pemisahan steroid.
 Kertas yang di Impregnase, contoh : kertas di impregnasi dengan minyak untuk
pemisahan amina.
 Kertas yang diberi zat tambahan

1. Cara kerja Kromatografi kertas


2. Potong kertas saring 2×12 cm.
3. Tandai dengan menggunakan pensil dari tepi bawah (2 cm) dan tepi atas (1cm).
4. Totolkan tinta pada garis tepi bawah.
5. Masukkan akuades dalam gelas ukur.
6. Masukkan kertas saring ke dalam gelas ukur dengan posisi totolan tinta berada dibawah
(totolan tinta jangan sampai masuk ke dalam akuades).
7. Biarkan sampai terjadi elusi.
8. Tandai bercak dengan menggunakan pensil.
9. Ulangi cara kerja nomer 1 hingga 7 dengan menggunakan pelarut isopropyl alcohol.

Penjelasannya sebagai berikut :

Cara kerjanya cuplikan yang mengandung campuran yang akan dipisahkan diteteskan /
diletakkan pada daerah yang diberi tanda di atas sepotong kertas saring dimana ia akan
meluas membentuk noda yang bulat. Bila noda telah kering kertas dimasukkan dalam
bejana tertutup yang sesuai dengan satu ujung, dimana tetesan cuplikan ditempatkan,
tercelup dalam pelarut yang dipilih sebagai fasa gerak (jangan sampai noda tercelup
karena berarti senyawa yang akan dipisahkan akan terlarut dari kertas).

Pelarut bergerak melalui serat dari kertas oleh gaya kapiler dan menggerakkan
komponen dari campuran cuplikan pada perbedaan jarak dalam arah aliran pelarut.
Bila permukaan pelarut telah bergerak sampai jarak yang cukup jauhnya atau setelah
waktu yang telah ditentukan, kertas diambil dari bejana dan kedudukan dari
permukaan pelarut diberi tanda dan lembaran kertas dibiarkan kering. Jika senyawa-
senyawa berwarna maka mereka akan terlihat sebagai pita atau noda yang terpisah. Jika
senyawa tidak berwarna harus dideteksi dengan cara fisika dan kimia yaitu dengan
menggunakan suatu pereaksi–pereaksi yang memberikan sebuah warna terhadap
beberapa atau semua dari senyawa-senyawa. Bila daerah dari noda yang terpisah telah
dideteksi, maka perlu mengidentifikasi tiap individu dari senyawa. Metoda identifikasi
yang paling mudah adalah berdasarkan pada kedudukan dari noda relatif terhadap
permukaan pelarut, menggunakan harga Rf.

1. Jenis-Jenis Kromatografi Kertas

Berdasarkan arahnya kromatografi kertas terbagi atas dua yaitu kromatografi kertas
satu arah dan kromatografi kertas dua arah.

1. Kromatografi Kertas Satu Arah


Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang sangat seragam. Fase
gerak adalah pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Sampel tinta diteteskan pada
garis dasar pensil pada selembar kromatografi kertas. Beberapa pewarna larut dalam
jumlah yang minimum dalam pelarut yang sesuai, dan itu juga di teteskan pada garis
yang sama. Kertas digantungkan pada wadah yang berisi lapisan tipis pelarut atau
campuran pelarut yang sesuai didalamnya. Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut
berada dibawah garis pada bercak diatasnya. Kadang-kadang kertas hanya digulungkan
secara bebas pada silinder dan diikatkan dengan klip kertas pada bagian atas dan
bawah. Silinder kemudian ditempatkan dengan posisi berdiri pada bawah wadah.
Alasan untuk menutup wadah adalah untuk meyakinkan bahwa astmosfer dalam gelas
kimia terjenuhkan denga uap pelarut. Penjenuhan udara dalam gelas kimia dengan uap
menghentikan penguapan pelarut sama halnya dengan pergerakan pelarut pada kertas
(Khopkar, 1990).

2. Kromatografi Kertas Dua Arah

Kromatografi kertas dua arah dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah


pemisahan substansi yang memiliki nilai Rf yang sangat serupa. Pada
saat kromatogram dibuat dari bercak tunggal dari campuran yang ditempatkan ke
depan dari garis dasar. Kromatogram ditempatkan dalam sebuah pelarut sebelum dan
sesudah sampai pelarut mendekati bagian atas kertas (Khopkar, 1990).

Pada kromatografi kertas terdapat tiga metode yang digunakan dalam proses
kromatografi kertas, yakni :

1. Kromatografi kertas menurun-Pada jenis ini, pengembangan kromatogram adalah


menurun dengan membiarkan pelarut bergerak turun mengaliri kertas.
2. Kromatografi kertas menanjak-Di sini, pelarut bergerak mendaki kertas kromatografi.
Baik kromatografi kertas menurun maupun menanjak digunakan untuk pemisahan
bahan kimia organik dan anorganik.
3. Kromatografi kertas naik-turun-Merupakan gabungan kedua teknik di atas. Bagian atas
kromatografi menanjak dapat dilipat pada sebuah rol di bagian atas bejana, dan aliran
eluen akan menurun setelah melewati lipatan.
4. Kromatografi kertas radial-Disebut juga sebagai kromatografi sirkular. Di sini,
digunakan kertas saring berbentuk lingkaran, dan sampel ditotolkan di pusat kertas.
Setelah noda mengering, kertas saring diletakkan horisontal di atas cawan petri yang
berisi pelarut, sehingga sumbu kertas tercelup ke dalam pelarut. Pelarut mengalir naik
melalui sumbu dan komponen terpisah dalam bentuk zona-zona melingkar.
5. Kromatografi kertas dua dimensi-Dalam teknnik ini, digunakan kertas berbentuk bujur
sangkar. Sampel ditotolkan di salah satu sudut dan dikembangkan dengan sudut yang
tepat sesuai arah aliran yang diinginkan.

Berdasarkan arahnya kromatografi kertas terbagi atas dua yaitu kromatografi kertas
satu arah dan kromatografi kertas dua arah.

Sumber: klp1

Gritter, R.J., J.M. Bobbit dan A.E. Schwarting. 1991. Pengantar Kromatografi. ITB
Press. Bandung

Sastrohamidjojo, H. 1985. kromatografi. Liberty. Yogyakarta.

Khopkar, SM. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press. Jakarta.

Yazid, Estien. 2005. Kimia Fisik untuk Paramedis. ANDI. Yogyakarta.


Analisis dengan GC ( KROMATOGRAFI KERTAS
)
7 Agustus 2016 Fauzi

Kromatografi gas atau GC

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola pergerakan
antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa molekul) yang berada pada
larutan.

Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan melewati kolom yang merupakan fase diam.
Tswett adalah penemu kromatografi pada tahun 1903.

Perkembangan kromatografi antara lain:

1. kromatografi cair-padat (KCP).


2. Kemudian, pada akhir tahun 1930an dan pada awal tahun 1940an, cara ini mulai
berkembang.Dasar kromatografi lapis tipis (KLT) diletakkan oleh Izmailov.
3. Schraiber pada tahun 1938, dan kemudian diperhalus oleh Stahl pada
tahun 1958. Karya Martin dan Synge yang pada tahun 1041 membuahkan hadian Nobel,
tidak hanya merevolusikan kromatografi cair, tetapi juga secara umum meletakkan landasan
bagi perkembangan kromatografi gas dan kromatografi kertas.
4. Padatahun 1952,Martindan James mempublikasikan makalah pertamanya mengenaim
kromatografi gas. Antara tahun 1952 dan akhir tahun 1960 an kromatografi gas
berkembang menjadi alat analisis yang canggih.
5. Hal ini menjadi dasar ditemukannya kromatografi yang canggih yaitu kromatografi cair kinerja
tinggi (High Perfomance Liquid Chromatografi).
Kromatografi dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:

Kromatografi cair (Liquid Chromatography) merupakan teknik yang tepat untuk


memisahkan ion atau molekul yang terlarut dalam suatu larutan.

Terdapat beberapa jenis kromatografi cair, diantaranya: reverse phase chromatography, High
Performance Liquid Chromatography (HPLC), size exclusion chromatography, serta supercritical
fluid chromatography.

 Reverse phase chromatographymerupakan alat analitikal yang kuat dengan memadukan


sifat hidrofobik serta rendahnya polaritas fase stasioner yang terikat secara kimia pada
padatan inert seperti silika.
 High performance liquid chromatography(HPLC) mempunyai prinsip yang mirip dengan reverse
phase. Hanya saja dalam metode ini, digunakan tekanan dan kecepatan yang tinggi.

Size exclusion chromatographyatau yang dikenal juga dengan gelpermeation atau filtration
chromatography biasa digunakan untuk memisahkan dan memurnikan protein.

Kromatografi pertukaran ion (ion-exchange chromatography) biasa digunakan untuk pemurnian


materi biologis, seperti asam amino, peptida, protein.

Berbagai teknik pemisahan campuran zat cair yang banyak digunakan diantaranya, destilasi (
fraksionasi, destilasi uap) dan ekstraksi.

Kromatografi merupakan teknik pemisahan yang lebih baik dan lebih cepat dari kedua teknik
tersebut di atas, teknik ini telah dikenal sejak abad ke-19.

Dasar pemisahan pada kromatografi adalah pendistribusian sampel di antara dua fase, yaitu fase
diam dan fase gerak.

Berdasarkan pemakaian fase gerak, kromatografi dapat dibagi menjadi : Kromatografi Cair da
Kromatografi Gas.

Kromatografi gas adalah teknik pemisahan yang didasarkan atas sampel di antara suatu fase gerak
yang bisa berupa gas dan fase diam yang juga bisa berupa caira ataupun suatu padatan.

Sedangkan kromatografi cair merupakan teknik pemisahan yang didasarkan atas sampel di antara
suatu fase gerak berupa cairan dan fase diam yang juga didasarkan atas sampel di antara suatu
fase gerak yang bisa berupa gas dan fase diam yang juga bisa berupa caira ataupun suatu padatan.

Hal ini dikarenakan adanya perbedaan polaritas dar fase diam dan fase gerak.

Banyaknya macam-macam kromatografi yang salah satunya adalah kromatografi gas, yang
merupakan metode kromatografi pertama yang dikembangkan pada zaman instrumen dan
elektronika.

Kromatografi gas dapat dipakai untuk setiap campuran dimana semua komponennya mempunyai
tekanan uap yang berarti, suhu tekanan uap yang dipakai untuk proses pemisahan.

Tekanan uap memungkinkan komponen menguap dan bergerak bersama-sama dengan fase gerak
berupa gas.

Kromatografi gas metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit.
Waktu yang dibutuhkan beragam, mulai dari beberapa detik untuk campuran sederhana sampai
berjam-jam untuk campuran yang mengandung 500-1000 komponen.

Metode ini sangat baik untuk analisis senyawa organik yang mudah menguap seperti hidrokarbon
dan eter.

Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan cairan, dengan
menggunakan fasecair standar yang diketahui efektif untuk berbagai senyawa.

Kromatografi gas (GC) adalah jenis umum dari kromatografi yang digunakan dalam kimia
analitikuntuk memisahkan dan menganalisis senyawa yang dapat menguap tanpa dekomposisi.

GC dapat digunakan untuk pengujian kemurnian zat tertentu, atau memisahkan komponen yang
berbeda dari campuran (jumlah relatif komponen tersebut juga dapat ditentukan).

GC dapat digunakan dalam mengidentifikasi suatu senyawa.

Kromatografi gas, berdasarkan fasa gerak dan fasa diamnya merupakan kromatografi gas-cair.

Dimana fasa geraknya berupa gas yang bersifat inert, sedangkan fasa diamnya berupa cairan yang
inert pula, dapat berupa polimer ataupun larutan. Adapun gambaran umum dari GC adalah sebagai
berikut :

Pengertian kromatografi menyangkut metode pemisahan yang didasarkan atas distribusi deferensial
diantara dua fasa mengacu pada beberapa sifat komponen sampel, yaitu :

 Melarut dalam cairan


 Melekat pada permukaan padatan halus
 Bereaksi secara kimia

Sifat-sifat tersebutlah yang dimanfaatkan dalam metode kromatografi ini, yaitu perbedaan migrasi
komponen-komponen di dalam sampel.

Pada prinsipnya pemisahan dalam GC adalah disebabkan oleh perbedaan dalam kemampuan
distribusi analit diantara fase gerak dan fase diam di dalam kolom pada kecepatan dan waktu yang
berbeda.

Kromatografi gas terdiri dari 2 yaitu kromatografi gas cairan dengan mekanisme pemisahan partisi,
yaitu:

1. Kromatografi gas–cair (KGC),


Fase diamnya berupa cairan yang diikatkan pada suatu pendukung sehingga solut akan terlarut
dalam fase diam. Partisi komponen cuplikan didasarkan atas kelarutan uap komponen bersangkutan
pada zat cair (fasa diam).

2. Kromatografi gas-padat (KGP)

Fase diamnya berupa padatan dan kadang-kadang berupa polimerik.Pada kromatografi gas-padat,
partisi komponen cuplikan didasarkan atas fenomena adsorpsi pada permukaan zat padat (fasa
diam).

Namun KGP jarang digunakan sehingga pada umumnya yang disebut dengan GC saat ini adalah
KGC.

PRINSIP
Kromatografi gas mempunyai prinsip yang sama dengan kromatografi lainnya, tapi memiliki
beberapa perbedaan misalnya proses pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair
dan gas fase gerak dan pada oven temperur gas dapat dikontrol sedangkan pada kromatografi
kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.

Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solut-solut yang mudah menguap (dan
stabil terhadap panas) bermigrasi melalui kolom yang mengandung fase diam dengan suatu
kecepatan yang tergantung pada rasio distribusinya.

Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan
semua interaksi yang mungkin terjadi antara solute dengan fase diam.

Selain itu juga penyebaran cuplikan diantara dua fase.

Salah satu fase ialah fase diam yang permukaannya nisbi luas dan fase yang lain yaitu gas yang
mengelusi fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solute dari ujung kolom lalu
menghantarkannya ke detector.

Prinsip utama pemisahan dalam kromatografi gas adalah berdasarkan perbedaan laju migrasi
masing-masing komponen dalam melalui kolom. Komponen-komponen yang terelusi dikenali
(analisa kualitatif) dari nilai waktu retensinya (Tr).

Gas pembawa (biasanya digunakan Helium, Argon atau Nitrogen) dengan tekanan tertentu dialirkan
secara konstan melalui kolom yang berisi fase diam.

Selanjutnya sampel di injeksikan kedalam injektor (Injection Port) yang suhunya dapat diatur.

Komponen-komponen dalam sampel akan segera menjadi uap dan akan dibawa oleh aliran gas
pembawa menuju kolom.

Komponen- komponen akan teradopsi oleh fase diam pada kolom kemudian akan merambat
dengan kecepatan berbeda sesuai dengan nilai Kd masing- masing komponen sehingga terjadi
pemisahan.

Komponen yang terpisah menuju detektor dan akan terbakar menghasilkan sinyal listrik yang
besarnya proporsional dengan komponen tersebut.
Sinyal lau diperkuat oleh amplifier dan selanjutnya oleh pencatat (recorder) dituliskan sebagai
kromatogram berupa puncak.Puncak konsentrasi yang diperoleh menggambarkan arus detektor
terhadap waktu.

Secara sederhana prinsip kromatografi gas adalah udara dilewatkan melalui nyala hydrogen
(hydrogen flame) selanjutnya uap organik tersebut akan terionisasi dan menginduksi terjadinya
aliran listrik pada detektor, kuantitas aliran listrik sebanding dengan ion.

INSTRUMENTASI
Sistem peralatan dari kromatografi gas terdiri dari 6 bagian utama diantaranya:

1. Tabung gas pembawa

2. Pengontrolan aliran dan regulator tekanan

3. Injection port (tempat injeksi cuplikan)

4. Kolom

5. Detektor

6. Rek\order (pencatat)

Cara pemisahan dari sistem ini sangat sederhana sekali, cuplikan yang akan dipisahkan diinjeksikan
kedalam injektor, aliran gas pembawa yang inert akan membawa uap cuplikan kedalam kolom.

Kolom akan memisahkan komponen-komponen cuplikan tersebut.

Komponen-komponen yang telah terpisah tadi dapat dideteksi oleh detektor sehingga memberikan
sinyal yang kemudian dicatat pada rekorder dan berupa puncak-puncak (kromatogram).

1. Gas Pembawa
Gas pembawa ditempatkan dalam tabung bertekanan tinggi. Biasanya tekanan dari silinder
sebesar 150 atm. Tetapi tekanan ini sangat besar untuk digunakan secara Iansung.

Untuk memperkecil tekanan tersebut agar memenuhi kondisi pemisahan maka


digunakan drager yang dapat mengurangi tekanan dan mengalirkan gas dengan laju tetap.

Aliran gasakan mengelusi komponen-komponen dengan waktu yang karaterisitik terhadap


komponen tersebut (waktu retensi).

Karena kecepatan gas tetap maka komponen juga mempunyai volume yang karateristik untuk gas
pembawa (volume retensi).

Adapun persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh gas pembawa adalah :

1. Inert, agar tidak terjadi interaksi dengan pelarut.

2. Murni, mudah didapat dan murah harganya.

3. Dapat mengurangi difusi dari gas

4. Cocok untuk detektor yang digunakan.

Gas-gas yang sering dipakai adalah : helium, argon, nitrogen, karbon dioksida dan hidrogen.

Gas helium dan argon sangat baik, tidak mudah terbakar, tetapi sangat mahal. H2 mudah terbakar,
sehingga harus berhati-hati dalam pemakaiannya.Kadang-kadang digunakan juga CO2.

Pemilihan gas pengangkut atau pembawa ditentukan oleh detektor yang digunakan. Tabung gas
pembawa dilengkapi dengan pengatur tekanan keluaran dan pengukur tekanan.

Sebelum masuk ke kromatografi, (harusnya) ada pengukur kecepatan aliran gas serta sistem
penapis molekuler untuk memisahkan air dan pengotor gas lainnya.

Pada dasarnya kecepatan alir gas diatur melalui pengatur tekanan dua tingkat yaitu pengatur kasar
(coarse) pada tabung gas dan pengatur halus (fine) pada kromatograf.

Tekanan gas masuk ke kromatograf (yaitu tekanan dari tabung gas) diatur pada 10 s.d 50 psi (di
atas tekanan ruangan) untuk memungkinkan aliran gas 25 s.d 150 mL/menit pada kolom terpaket
dan 1 s.d 25 mL/menit untuk kolom kapiler.

Laju alir gas pembawa mempengaruhi resolusi.Laju alir yang minimum diperlukan untuk resolusi
maksimum.

Namun, perlu diketahui bahwa pada laju alir yang sangat lambat resolusinya secara dramatis
menurun oleh karena faktor-faktor: packing tidak teratur, ukuran partikel, diameter kolom, dan lain-
lain.

Laju alir harus dikontrol dengan tepat.Tekanan dari silinder gas bertekanan pada gas pembawa
harus cukup untuk mendorong gas melewati kolom packing.

Flow controller atau needle valve harus ada pada sistem GC dan sering disatukan dalam bagian
depan instrumen.
Laju alir harus dapat diatur secara hati-hati sehingga dapat diketahui berapa laju alir optimumnya
dan harus dapat disamakan dalam percobaan berikutnya.

Berbagai flow meter tersedia, dan kadang-kadang oleh pabrik pembuat instrumen disatukan di
dalam instrumen sehingga laju alir terpantau secara kontinyu dan dapat diatur lagi (bila perlu)
dengan memutar needle valve.

Bila tidak ada flow meter maka flow meter gelembung sabun sering digunakan, flow
meter gelembung sabun tersusun dari pipet ukur (measuring pipet), tabung gelas (glass tubing), dan
pipet bulb.

Dengan perangkat flow meter gelembung sabun, stop watch digunakan untuk mengukur waktu pada
gelembung yang bergerak di antara dua tanda garis, misalnya 0–2 ml.

Dengan demikian laju alir gas pembawa (ml/menit) dapat dihitung.

2. Tempat Injeksi

Dalam pemisahan dengan GLC cuplikan harus dalam bentuk fase uap.

Gas dan uap dapat dimasukkan secara langsung.Tetapi kebanyakan senyawa organik berbentuk
cairan dan padatan.

Hingga dengan demikian senyawa yang berbentuk cairan dan padatan pertama-tama harus
diuapkan.Ini membutuhkan pemanasan sebelum masuk dalam kolom.

Tempat injeksi dari alat GLC selalu dipanaskan.Dalam kebanyakan alat, suhu dari tempat injeksi
dapat diatur.

Aturan pertama untuk pengaturan suhu ini adalah bahwa suhu tempat injeksi sekitar 50°C lebih
tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan yang mempunyai titik didih yang paling tinggi.

Bila kita tidak mengetahui titik didih komponen dari cuplikan maka kita harus mencoba-coba.

Sebagai tindak lanjut suhu dari tempat injeksi dinaikkan.

Jika puncak-puncak yang diperoleh lebih baik, ini berarti bahwa suhu percobaan pertama terlalu
rendah. Namun demikian suhu tempat injeksi tidak boleh terlalu tinggi, sebab kemungkinan akan
terjadi perubahan karena panas atau penguraian dari senyawa yang akan dianalisa.

Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom dengan cara menginjeksikan melalui tempat injeksi. Hal ini
dapat dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering disebut “a gastight syringe“.

Perlu diperhatikan bahwa kita tidak boleh menginjeksikan cuplikan terlalu banyak, karena GC sangat
sensitif.

Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada waktu kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml gas dan
0,2 – 20 ml untuk cairan.

Ketepatan volum injeksi menjadi sangat penting untuk analisa kuantitatif di mana jumlah analit yang
diukur oleh detektor tergantung pada konsentrasi analit dalam cuplikan.

Apabila prosedur dikehendaki hanya untuk identifikasi (analisis kualitatif), maka ketepatan volum
injeksi menjadi kurang penting.
Untuk mengisi alat injeksi dapat dipakai teknik sebagai berikut:

 Alat injeksi dibersihkan.

 Alat injeksi dikuras dengan menghisap cuplikan beberapa kali (dan mengeluarkan isinya di luar
tempat cuplikan).

 Jumlah cuplikan yang diperlukan dihisap. Cara untuk mengeluarkan gelembung-gelembung


udara yang masih tertinggal pada tabung injeksi adalah dengan jalan menekan torak injeksi
secepatnya beberapa kali dan ujung jarum harus selalu berada di dalam cairan.

 Udara 1/10 dari volum maksimum dihisap lagi.

 Jarum bagian luar dibersihkan dengan kain yang tidak mudah lepas serat- seratnya.

 Cuplikan diinjeksikan dengan menusukkan jarum menembus septum, dan menekan penghisap
sampai ujungnya dengan gerakan yang cepat dan tidak terputus-putus, kemudian tarik jarum
keluar dari septum.

 Torak injeksi ditarik kembali sedikit dan lihat berapa banyak cairan yang masih tertinggal.

 Diameter kolom yang digunakan tetap diperhatikan dalam melakukan pemisahan agar sesuai
dengan batasan volum penyuntikan. Tabel berikut memperlihatkan hal itu

3. Kolom

Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Bentuk dari kolom dapat lurus,bengkok,
misal berbentuk V atau W, dan kumparan/spiral.

Biasanya bentuk dari kolom adalah kumparan. Kolom ini dapat terbuat dari :

1. Tembaga (murah dan mudah diperoleh)


2. Plastik (teflon), dipakai pada suhu yang tidak terlalu tinggi.
3. Baja (stainless steel), (mahal)
4. Alumunium
5. Gelas

Panjang kolom dapat dari 1 m sampai 3 m. Diameter kolom mempunyai berbagai ukuran, biasanya
pengukuran berdasarkan diameter dalam dari kolom gelas yaitu antara 0,3 mm hingga 5 min.

Kebanyakan kolom yang digunakan berupa stainles steel dengan diameter luar (OD) dari I/S atau
1/4 inch (0,3 atau 0,6 cm).

Pada GSC kolom diisi dengan penyerap (adsorbent), sedangkan pada GLC kolom diisi dengan
“solid support” (padatan pendukung) yang diikat oleh fase diam.

Instrumen GC didisain supaya kolom dapat diganti secara mudah dengan melepaskan fitting di
dalam oven.

Fitting ini tidak hanya memudahkan penggantian fasa diam yang berbeda, tetapi juga mengijinkan
operator mengganti kolom yang lebih panjang yang berisi fasa diam yang sama.
Ide penggantian kolom yang lebih panjang adalah memberikan kesempatan kontak lebih lama
antara campuran komponen dengan fasa diam yang pada gilirannya memperbaiki pemisahan.

Interaksi campuran komponen dengan cairan fasa diam memainkan peran kunci dalam proses
pemisahan sehingga sifat-sifat fasa diam menjadi penting.

Berbagai jenis kolom biasanya menyebutkan nama komersialnya, komposisi, dan klasifikasi
senyawa untuk penggunaannya (kaitannya dengan polaritas).

Ada 2 jenis kolom yang digunakan dalam kromatografi gas secara umum, yaitu kolom jejal (packed
columns) dan kolom tubuler terbuka (open tubular columns).

Kolom jejal (packed columns) adalah kolom metal atau gelas yang diisi bahan pengepak terdiri dari
penunjang padatan yang dilapisi fase cair yang tidak menguap (untuk kromatografi gas-padatan).

Kolom tubuler terbuka sangat berbeda dengan kolom jejal, yaitu gas yang mengalir sepanjang
kolom tidak mengalami hambatan, karena kolomnya merupakan tabung tanpa bahan pengisi.

Kolom jejal umumnya mempunyai panjang yang berkisar antara 0,7 sampai 2 meter, sedangkan
kolom tubuler terbuka dapat mempunyai panjang dari 30 sampai 300 meter.

Kolom yang panjang ini biasanya dibuat dalam bentuk melilit bergulung seperti spiral.

Kemampuan memisahkan komponen per meter kolom pada kolom tubuler terbuka tidak jauh
berbeda dengan pemisahan pada kolom jejal.

Meskipun demikian, penggunaan kolom yang sangat panjang bersama-sama dengan waktu analisis
yang relatif cepat merupakan alat penolong yang berharga bagi para ahli kimia untuk dapat
memisahkan komponen-komponen yang perbedaannya kecil didalam sifat-sifat fisiknya.

Ada 2 jenis kolom tubuler terbuka, yaitu WCOT (Wall Coated Open Tubular Columns) dan SCOT
(Support Coated Open Tubular Columns).

4. Detektor

Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen yang telah dipisahkan dari kolom
secara terus-menerus, cepat, akurat, dan dapat melakukan pada suhu yang lebih tinggi.

Detektor harus dapat dipercaya dan mudah digunakan.

Fungsi umumnya mengubah sifat-sifat molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian
arus listrik tersebut diteruskan ke rekorder untuk menghasilkan kromatogram.

Detektor yang diinginkan adalah detektor yang mempunyai sensitifitas yang tinggi, noisenya rendah,
responnya linear, dapat memberikan respon dengan setiap senyawa, tidak sensitif terhadap
perubahan temperatur dan kecepatan aliran dan juga tidak mahal harganya.

Detektor dalam GC digunakan untuk memunculkan sinyal listrik hasil elusi gas pembawa dari
kolom.Berbagai jenis detektor dibuat untuk melakukan deteksi.

Tidak hanya berupa variasi disain, tapi juga variasi sensitivitas dan selektivitas.
Sensitivitas mengacu pada kuantitas terkecil komponen campuran di mana sensitivitas
menghasilkan sinyal yang masih teramati. Sementara, selektivitas mengacu pada jenis senyawa di
mana sinyalnya dapat dimunculkan.