Anda di halaman 1dari 3

A.

Definisi CSR
Bowem dalam Totok Mardikanto (2014:86) dalam Bahar (2016) mendefinisikan CSR
sebagai kewajiban pengusaha untuk merumuskan kebijakan, membuat keputusan, atau
mengikuti garis tindakan yang diinginkan dalam hal tujuan dan nilai-nilai masyarakat. Definisi
tersebut, kemudian diperbarui oleh Davis (1960)yang menyatakanbahwa: keputusan dalam
tindakan bisnis diambil dengan alasan, atau setidaknya sebagian, melampaui kepentingan
ekonomi atau teknis langsung perusahaan.
The World Bussiness Council for Sustainable Development(WBCSD) dalam Bahar (2016)
mendefinisikan CSR sebagai komitmen untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi
berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, komunitas lokal
dan komunitas secara keseluruhan dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan.
Wibisono (2007:6) dalam Bahar (2016) mendefinisikan CSR sebagai tanggung jawab
perusahaan kepada pemangku kepentingan untuk berlaku etis, meminimalkan dampak negatif
dan memaksimalkan dampak positif yang mencakup aspek ekonomi dan sosial (triple bottom line)
dalam rangka mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan.
Pengertian Corporate Social Responsibility, CSR, atau sering kali disebut sebagai
tanggungjawab sosial perusahaan telah banyak disampaikan oleh para pakar maupun lembaga
internasional. Ada beberapa pengertian CSR menurut pakar ataupun lembaga, sebagai berikut
(Nurwahidah, 2016 ) :
a. Darwin (2008) mendefinisikan CSR sebagai mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara
sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya
dan interaksinya dengan stakeholders, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang
hukum.
b. Nugraha (2013) CSR merupakan suatu konsep terintegrasi yang menggabungkan aspek
bisnis dan sosial dengan selaras agar perusahaan dapat membantu tercapainya
kesejahteraan para Stakeholder, serta dapat mencapai profit maksimum sehingga dapat
meningkatkan harga saham
c. CSR menurut Sutanto dalam Mursitama dkk (2011:26), membagi CSR ke dalam dua golongan
besar tanggungjawab sosial, yaitu tanggungjawab internal dan tanggungjawab eksternal.
Tanggungjawab internal meliputi tanggungjawab kepada para pemangku kepentingan dalam
hal profit dan pertumbuhan, serta kepada para pekerja dalam hal pekerjaan dan
pengembangan karir yang menguntungkan pekerja dan perusahaan. Sedangkan
tanggungjawab eksternal menyajikan perusahaan sebagai pembayar pajak dan penyedia
pekerjaan yang berkualitas, meningkatkan kesejahteraan dan kompetensi masyarakat baik
dalam bidang bisnis yang sesuai dengan bisnis perusahaan maupun tidak, serta menjaga
lingkungan untuk generasi masadepan.
d. Menurut The World Bussiness Council for Sustainable Development (WBCSD) dalam
Rahmatullah dan Kurniati (2011:5), CSR merupakan komitmen bisnis untuk berkontribusi
dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan,
keluarga karyawan, berikut komunitas-komunitas setempat (lokal), masyarakat secara
keseluruhan, dalam rangka meningkat kualitas kehidupan.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa CSR merupakan suatu tindakan
yang dilakukan perusahaan sesuai dengan kemampuan perusahaan sebagai bentuk
tanggungjawab terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitar perusahaan itu berada. CSR juga
bukan merupakan beban bagi perusahaan, tetapi merupakan modal social perusahaan yang
dapat berkontribusi untuk keberlanjutanperusahaan dan membantu tercapainya kesejahteraan
stakeholders serta dapat meningkatkan profit.
B. Manfaat CSR
Menurut Indrawan (2011) dalam Pratiwi ( 2017 ) dalam menjalankan tanggung jawab
sosialnya, perusahaan memfokuskan perhatiannya kepada tiga hal, antara lain :
a. Profit
Diperolehnya laba, perusahaan dapat memberikan dividen bagi pemegang saham,
mengalokasikan sebagian laba yang diperoleh guna membiayai pertumbuhan dan
mengembangkan usaha di masa depan, serta membayar pajak kepada pemerintah.
b. Lingkungan
Memberikan perhatian kepada lingkungan sekitar, perusahaan dapat ikut berpartisipasi
dalam usaha-usaha pelestarian lingkungan demi terpeliharanya kualitas kehidupan umat
manusia dalam jangka panjang. Perusahaan juga ikut mengambil bagian dalam aktivitas
manajemen bencana. Manajemen bencana disini bukan hanya sekedar memberikan bantuan
kepada korban bencana,namun berpartisipasi dalam usaha-usaha mencegah terjadinya bencana
serta meminimalkan dampak bencana melalui usaha-usaha pelestarian lingkungan sebagai
tindakan preventif untuk meminimalisir bencana.
c. Sosial atau masyarakat
Perhatian terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan cara melakukan aktivitas-aktivitas
serta pembuatan-pembuatan kebijakan yang dapat meningkatkan kompetensi yang dimiliki di
berbagai bidang seperti pemberian beasiswa bagi pelajar di sekitar perusahaan, pendirian sarana
pendidikan dankesehatan, dan penguatan ekonomi lokal.
Menurut Waryanto (2010) dalam Pratiwi (2016) ada beberapa manfaat dari praktik dan
pengungkapancorporate social responsibility(CSR) bagi perusahaan,yaitu :
a. Pengelolaan sumber daya korporasi secara amanah dan bertanggungjawab akan
meningkatkan kinerja korporasi secara sustainable.
b. Perbaikan citra korporasi sebagai agen ekonomi yang bertanggung jawab (good corporate
citizen) sehingga meningkatkan nilai perusahaan (value of the firm).
c. Peningkatan keyakinan investor terhadap korporasi sehingga menjadi lebih atraktif sebagai
target investasi.d.Memudahkan akses terhadap investasi domestik dan asing.e.Melindungi
direksi dan dewan komisaris dari tuntutan hukum.
C. Model Corporate Social Responsibility
Model atau pola CSR yang umum diterapkan oleh perusahaan-perusahaan di indonesia
menurut Said dan Abidin dalam Edi (2006) dalam Wahidah (2016) yaitu:
a. Keterlibatan langsung, perusahaan menjalankan program CSR secara langsung dengan
menyelenggarakan sendiri kegiatan sosial atau menyerahkan sumbangan ke masyarakat
tanpa perantara. Menjalankan tugas ini, biasanya perusahaan menugaskan salah satu pejabat
seniornya, seperti corporate secretary atau public affair manager atau menjadi bagian dari
tugas pejabat public relation.
b. Melalui yayasan atau organisasi sosial milik perusahaan, perusahaan mendirikan sendiri
yayasan dibawah perusahaan atau groupnya. Model ini merupakan adopsi yang lazim
dilakukan di negara maju. Perusahaan menyediakan dana awal, dan rutin atau dana abadi
yang dapat digunakan untuk operasional yayasan.
c. Bermitra dengan pihak lain, perusahaan menyelenggarakan CSR melalui kerjasama dengan
lembaga atau organisasi non pemerintah, instansi pemerintah, universitas atau media masa,
baik dalam mengelola dana maupun dalam melaksanakan kegiatan sosialnya.
d. Mendukung atau bergabung dalam satu konsorium, perusahaan turut mendirikan, menjadi
anggota atau mendukung suatu lembaga social yang didirikan untuk tujuan sosial tertentu.
Pihak konsorium yang dipercaya oleh perusahaan-perusahaan yang mendukungnya akan
secara proaktif mencari kerjasama dari berbagai kalangan dan kemudian mengembangkan
program yang telah disepakati.