Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

TOLERANSI SEBAGAI PELAKSANAAN DARI PANCASILA

DOSEN PEMBIMBING

DINA PARAMITHA, SH., M. HUM

DISUSUN OLEH

NAMA: RAMA FRENGKY

KELAS: 1C

NPM: 171110011011022

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA


FAKULTAS HUKUM

2017/2018
Kata pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
karunianya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik, karena tanpa-Nya mustahil
makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun sebagai bahan pembelajaran kami, dalam mengenal lebih jauh
tentang agama islam. Terlebih ini adalah tugas dari guru yang harus kami kerjakan dan harus
kami selesaikan. Semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat memberikan banyak
manfaat, khususnya bagi kami, dan umumnya bagi semua yang membaca makalah ini.

Pada kesempatan ini kami ingin mengucapkan terima kasih kepada guru Pendidikan
Agama Islam (PAI) yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini, kepada
orang tua kami yang selalu mendo’akan kami, dan kepada seluruh pihak yang telah membantu
kami dalam menyelesaikan makalah ini, yang tak bisa kami sebutkan satu persatu tetapi tidak
mengurangi rasa hormat kami.

Samarinda 14 November 2017

PENYUSUN

RAMA FRENGKY
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Makalah ini dilatari oleh maraknya konflik sosial yang terjadi di belahan bumi Indonesia,
terutama yang berbasis isu agama. Beberapa tahun terakhir ini, kekerasan berbasis isu agama
begitu cepat menyebar ke berbagai lapisan masyarakat. Ketentraman hidup masyarakat sangat
terganggu oleh kerentanan yang luar biasa oleh kondisi keberagamaan tersebut. Sedikit saja ego
keagamaan disinggung, maka reaksi yang ditimbulkan sangat besar dan berlebihan. Reaksi
tersebut saat ini hampir selalu berupa kekerasan yang menciptakan kecemasan dan kaitannya
dengan hubungan antar umat beragama di masyarakat. Agama sering kali dijadikan titik
singgung paling sensitif dalam pergaulan masyarakat yang majemuk. Maka dari itu sangat perlu
usaha manusia untuk mewujudkan hubungan yang harmonis antar umat manusia, salah satu
caranya yaitu mengembangkan sikap toleransi terhadap masyarakat atau sesama manusia yang
bertanggung jawab.

1.2 Identifikasi Masalah

1. Pengertian toleransi dan kaitannya dengan toleransi antar umat beragama lainnya

2. Langkah untuk memupuk jiwa toleransi beragama lainnya

3. Demokrasi dan negara demokrasi

4. Masyarakat madani

1.3 Batasan Masalah

Agar masalah pembahasan tidak terlalu luas dan lebih terfokus pada masalah dan tujuan dalam
hal ini penulis membatasi masalah hanya pada ruang lingkup Toleransi Beragama.saja.

1.4 Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan penelitian kepustakaan, mengumpulkan data-data dan
keterangan melalui buku-buku dan internet saja.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 TOLERANSI

a. Pengertian Toleransi

Toleransi berasal dari kata ”tolerare” yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar
membiarkan sesuatu. Jadi pengertian toleransi secara luas adalah suatu sikap atau perilaku
manusia yang tidak menyimpang dari aturan, dimana seseorang menghargai atau menghormati
setiap tindakan yang orang lain lakukan terhadap sesamanya..

Toleransi juga dapat dikatakan istilah dalam konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap
dan perbuatan yang melarang adanya sikap diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang
berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Contohnya adalah
toleransi beragama dimana penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan
agama-agama lainnya yang ada di dunia.

Jadi toleransi antar umat beragama berarti suatu sikap manusia sebagai umat yang beragama dan
mempunyai keyakinan, untuk menghormati dan menghargai manusia yang beragama lain.

1. b. Langkah Memupuk Jiwa Toleransi

Beberapa langkah dan strategis untuk memupuk jiwa toleransi beragama dan membudidayakan
hidup rukun antar umat beragama. Kiat-kiat itu adalah sebagai berikut :

1. Menonjolkan segi-segi persamaan dalam agama; tidak memperdebatkan segi-segi


perbedaan agama masing masing.

2. Melakukan kegiatan sosial yang melibatkan para pemeluk agama yang berbeda.

3. Mengubah orientasi pendidikan agama yang menekankan aspek sektoral fiqhiyah menjadi
pendidikan agama yang berorientasi pada pengembangan aspek universal-rabbaniyah.

4. Meningkatkan pembinaan individu yang mengarah pada terbentuknya pribadi yang


memiliki budi pekerti yang luhur dan akhlakul karimah.
5. Menghindari jauh-jauh sikap egoism dalam beragama sehingga mengklaim diri yang
paling benar saja.

2.2 NEGARA DEMOKRASI

1. a. Pengertian Demokrasi

Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya
mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh
pemerintah negara tersebut.

1. b. Negara Demokrasi

Indonesia adalah negara demokrasi konstitusional dan negara hukum, prinsip-prinsip yang
sebenarnya telah cukup kuat untuk menegakkan negara demokrasi dimana mekanisme mayoritas
dan minoritas dalam pengambilan keputusan dilaksanakan seiring dengan penghargaan pada
prinsip penghargaan hak-hak asasi manusia. Dengan perkataan lain, demokrasi (kedaulatan
rakyat) berjalan seiring dengan nomokrasi (supremasi hukum).

Salah satu pengertian penting dalam negara hukum adalah segala aturan hukum adalah guna
mewujudkan tujuan bernegara. Tujuan kita bernegara secara padat dan jelas terkandung di dalam
Pembukaan UUD 1945. Oleh karena itu setiap peraturan perundang-undangan harus
menghormati dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral, etik dan spiritual. Setiap peraturan
perundang-undangan menghormati hak-hak asasi manusia, membangun toleransi dan
berkeadaban. Setiap peraturan perundang-undangan membangun kerukunan dan persatuan
bangsa dan teritori negara dengan tetap menghormati kemajemukan kita masing masing.

1. c. Unsur Pokok Masyarakat Demokratis

Menurut cendikiawan muslim Nurcholish Madjid, ada enam norma atau unsur pokok yang
dibutuhkan oleh tatanan masyarakat demokratis :

1. Kesadaran akan pluralisme.

Kesadaran akan kemajemukan tidak sekedar pengakuan pasif akan kenyataan masyarakat
majemuk. Pengakuan akan kenyataan perbedaan harus diwujudkan dalam sikap orang maupun
kelompok lain, sebagai bagian dari kewajiban warga negara dan negara dan melindungi hak
orang lain untuk diakui keberadaannya juga.
1. Musyawarah.

Makna dan semangat musywarah ialah mengharuskan adanya keinsyafan dan kedewasaan warga
negara untuk secara tulus menerima kemungkinan untuk melakukan negoisasi dan kompromi-
kompromi sosial dan politik secara damai dan bebas dalam setiap keputusan bersama sama.

1. Cara haruslah sejalan dengan tujuan.

Norma ini menekankan bahwa hidup demokratis mewajibkan adanya keyakinan bahwa cara
haruslah sejalan dengan tujuan. Artinya demokrasi pada hakikatnya tidak hanya sebatas pada
pelaksanaan prosedur-prosedur demokrasi, tetapi harus dilakukan secara santun dan beradab,
yakni dengan melalui proses demokrasi yang dilakukan tanpa paksaan, tekanan dan ancaman
dari dan oleh siapa pun itu.

1. Norma kejujuran dalam pemufakatan.

Suasana masyarakat demokratis dituntut untuk menguasai dan menjalankan seni


permusyawaratan yang jujur dan sehat untuk mencapai kesepakatan yang memberi keuntungan
semua pihak. Karena itu, faktor ketulusan dalam usaha bersama mewujudkan tatanan sosial yang
baik untuk semua warga negara merupakan hal yang sangat penting dalam membangun tradisi
demokrasi di indonesia.

1. Kebebasan nurani, persamaan hak dan kewajiban.

Pengakuan akan kebebasan nurani (freedom of conscience), persamaan hak dan kewajiban bagi
semua (egalitarianism) merupakan norma demokrasi yang harus diintegrasikan dengan sikap
percaya pada iktikad baik orang dan kelompok lain (trust attitude). Norma ini akan berkembang
dengan baik jika ditopang oleh pandangan positif dan optimis terhadap manusia. Sebaliknya,
pandangan negatif dan pesimis terhadap manusia dengan mudah akan melahirkan sikap enggan
untuk saling terbuka, saling berbagi kemaslahatan bersama atau untuk melakukan kompromi
dengan pihak-pihak yang berbeda di skitarnya.

1. Trial dan error (percobaan dan salah) dalam berdemokrasi.

Demokrasi bukanlah sesuatu yang telah selesai dan siap saji, tetapi ia merupakan suatu proses
tanpa henti. Dalam kerangka ini, demokrasi membutuhkan percobaan-percobaan dan kesediaan
semua pihak untuk menerima kemungkinan ketidaktepatan atau kesalahan dalam praktik
demokrasi di indonesia.
2.3 MASYARAKAT MADANI

1. a. Pengertian Masyarakat Madani

Istilah masyarakat madani dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah civil society pertama kali
dikemukakan oleh Cicero dalam filsafat politiknya dengan istilah societies civilis yang identik
dengan Negara negara.

Dalam perkembangannya istilah civil society dipahami sebagai organisasi-organisasi masyarakat


yang terutama bercirikan kesukarelaan dan kemandirian yang tinggi berhadapan dengan negara
serta keterkaitan dengan nilai-nilai atau norma hukum yang dipatuhi masyarakat masyarakat

Bangsa Indonesia berusaha untuk berusaha untuk mencari bentuk masyarakat sipil yang
demokrasi dan agamis/religius. Dalam kaitannya pembentukan masyarakat madani di Indonesia,
maka warga Negara Indonesia perlu dikembangkan untuk menjadi warga Negara yang cerdas,
demokratis dan religius dengan bercirikan imtak, kritis, argumentatif, dan kreatif, berfikir dan
berperasaan secara jernih sesuai dengan aturan, menerima semangat Bhinneka Tunggal Ika,
berorganisasi secara sadar dan bertanggung jawab, memilih calon pemimpin secara jujur-adil,
menyikapi mass media secara kritis dan objektif, berani tampil dan kemasyarakatan secara
profesionalis, berani, berani dan mampu menjadi saksi, memiliki pengertian kesejagatan. Mampu
dan mau silih asah-asih-asuh antara sejawat, memahami daerah Indonesia saat ini, mengenal cita-
cita Indonesia di masa mendatang dan sebagainya.

b. Karakteristik Masyarakat Madani

Free Public Sphere (ruang publik yang bebas) :

Yaitu masyarakat memiliki akses penuh terhadap setiap kegiatan publik, mereka berhak
melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat, berserikat, berkumpul serta
mempublikasikan informasi kepada public puklic.

1. Demokrasi :
Yaitu proses untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi sehingga mewujudkan masyarakat
yang demokratis. Untuk menumbuhkan demokratisasi dibutuhkan kesiapan anggota masyarakat
berupa kesadaran pribadi, kesetaraan, dan kemandirian serta kemampuan untuk berperilaku
demokratis kepada orang lain dan menerima perlakuan demokratis dari orang lain. Demokratisasi
dapat terwujud melalui penegakkan pilar-pilar demokrasi yang meliputi :

a) Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)

b) Pers yang bebas

c) Supremasi hukum

d) Perguruan Tinggi

e) Partai politik

Toleransi :

Yaitu kesediaan individu untuk menerima pandangan-pandangan politik dan sikap sosial yang
berbeda dalam masyarakat, sikap saling menghargai dan menghormati pendapat, serta aktifitas
yang dilakukan oleh orang/kelompok lain.

Pluralisme :

Yaitu sikap mengakui dan menerima kenyataan masyarakat yang majemuk disertai dengansikap
tulus, bahwa kemajemukan sebagai nilai positif dan merupakan rahmat dari Tuhan Yang Maha
Esa.

Keadilan sosial (social justice) :

Yaitu keseimbangan dan pembagian yang proposional antara hak dan kewajiban, serta tanggung
jawab individu terhadap lingkungannya.

Partisipasi sosial :

Yaitu partisipasi masyarakat yang benar-benar bersih dari rekayasa, intimidasi, maupun
intervensi penguasa pihak lain, sehingga masyarakat memiliki kedewasaan dan kemandirian
berpolitik yang bertanggung jawab.
Supremasi Hukum :

Yaitu upaya untuk memberikan jaminan terciptanya keadilan. Keadilan harus diposisikan secara
netral, artinya setiap orang memiliki kedudukan dan perlakuan hukum yang sama tanpa kecuali.

c. Tantangan Penerapan Masyarakat Madani di Indonesia :

Masih rendahnya minat partisipasi warga masyarakat terhadap kehidupan politik Indonesia
dan kurangnya rasa nasionalisme yang kurang peduli dengan masalah-masalah yang dihadapi
Negara Indonesia sehingga sulit untuk menerapkan masyarakat yang memiliki akses penuh
dalam kegiatan public, melakukan kegiatan secara merdeka dalam menyampaikan pendapat,
berserikat dan berkumpul serta menyampaikan informasi kepada publik.

Masih kurangnya sikap toleransi baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama.

Masih kurangnya kesadaran individu dalam keseimbangan dan pembagian yang proposional
antara hak dan kewajiban.

d. Kendala dalam Mewujudkan Masyarakat Madani di Indonesia diantaranya :

1. Belum tertanamnya jiwa kemandirian bangsa Indonesia

2. Kualitas SDM yang belum memadai karena pendidikan yang belum merata.

3. Masih rendahnya pendidikan politik masyarakat.

4. Kondisi ekonomi nasional yang belum stabil pasca krisis moneter.

5. Tingginya angkatan kerja yang belum terserap karena lapangan kerja yang
terbatas.

6. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak dalam jumlah yang besar.

7. Kondisi sosial politik yang belum pulih pasca reformasi.

e. Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia :


1. Meningkatkan jiwa kemandirian melalui kegiatan perekonomian dengan adanya
bapak angkat perusahaan.

2. Meningkatkan kesadaran hukum melalui berbagai media sosialisasi politik.

3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan.

4. Menciptakan perangkat hukum yang memadai dan berkeadilan sosial.

5. Meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai kegiatan.

6. Mengembangkan media komunikasi politik di berbagai lingkungan kerja.

7. Menanamkan sikap positif pada proses demokratisasi di Indonesia pada setiap


warga Negara.

f. Ringkasan Umum

Dapat disimpulkan bahwa masyarakat madani pada prinsipnya yaitu : demokrasi, transparansi,
toleransi, potensi, aspirasi, motivasi, partisipasi, komparasi, koordinasi dan integrasi, namun
yang paling dominan adalah masyarakat yang demokratis. Pengertian pemberdayaan masyarakat
madani perlu ditingkatkan dan mendapat perhatian sungguh-sungguh dari setiap penyelenggara
Negara.

Oleh karena itu, masyarakat madani kiranya perlu terus dikembangkan sejalan dengan demokrasi
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Salah satu cara untuk mewujudkan
itu adalah dengan demokratisasi pendidikan, yang berguna untuk mempersiapkan anak bangsa
agar terbiasa bebas berbicara dan mengeluarkan pendapat secara bertanggung jawab dan turut
bertanggung jawab serta terbiasa mendengar dengan baik dan menghargai pendapat orang lain,
menumbuhkan keberanian moral yang tinggi, terbiasa bergaul dengan sesame, ikut merasa
memiliki, sama-sama merasakan suka dan duka dengan masyarakatnya dan mempelajari
kehidupan bermasyarakat. Dengan kata lain, saling menjaga keseimbangan untuk menegakkan
hukum yang sehat dan demokrasi.
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Indonesia merupakan negara multikultural. Kemajemukan tersebut pada satu sisi merupakan
kekuatan sosial dan keragaman yang indah apabila satu sama lain bersinergi dan saling bekerja
sama untuk membangun bangsa. Sebaliknya apabila tidak dikelola dan dibina dengan tepat akan
menjadi pemicu dan penyulut konflik dan kekerasan yang dapat menggoyahkan sendi-sendi
kehidupan berbangsa dan bernegara adil dan makmur.

Toleransi adalah sikap tenggang rasa yang berarti rukun dan tidak menyimpang dari aturan
dimana seseorang harus saling menghargai dan saling menghormati. Toleransi beragama sangat
diperlukan pada kehidupan sehari-hari untuk menjalin hubungan yang harmonis, rukun dan
sejahtera bagi kita semua.

Untuk mewujudkan masyarakat madani maka dibutuhkan kearifan setiap individu sehingga
mampu bersikap dan memainkan peran menghargai pluralitas, perbedaan dan saling percaya
(trust) antar masyarakat. Peran berbagai elemen civil society (tokoh masyarakat, tokoh agama
dan pemerintah) diperlukan untuk memberikan pencerahan dan penyadaran akan arti pentingnya
menghargai perbedaan dalam toleransi beragama. Sikap toleransi bisa ditunjukkan melalui sikap
menghargai perbedaan pandangan, keyakinan dan tradisi orang lain dengan kesadaran tinggi
bahwa perbedaan adalah rahmat Tuhan yang harus disyukuri oleh kita semua.
3.2 SARAN

1. Perlunya sikap toleransi yang harus kita kembangkan dalam kehidupan beragama
maupun bermasyarakat agar mencapai kehidupan harmonis, rukun dan sejahtera.

2. Negara yang demokratis tidak dapat dilakukan sendiri oleh masyarakat madani, tetapi
harus ada keinginan politik dari pemerintah karena banyak karakteristik dari demokrasi
yang memang menjadi kewajiban negara. Diharapkan pemerintah dan MPR/DPR saling
menjaga keseimbangan untuk menegakkan hukum yang sehat dan demokrasi.
Masyarakat juga harus mengontrol kinerja pemerintah dan para wakilnya agar tidak
bertentangan dengan kehendak masyarakat madani.

3. Maaf sebelumnya saya minta pendapat teman teman atas makalah saya ini masukan saran
teman teman sangat saya butuhkan untuk memperbaiki yang ada kesalahan dalam
makalah saya ini. Dengan ini saya mengucapkan banyak terimakasih kepada teman teman
terutama pada dosen pembimbing mata kuliah pancasila.

4. Dalam toleransi beragama, perlu diadakannya dialog dengan cendikiawan dan para tokoh
agama dan merangkul mereka untuk melakukan reinterpretasi atas doktrin-doktrin
keagamaan ortodoks yang sementara ini dijadikan dalih untuk bersikap eksklusif
sehinnga konsep multikulturalisme dapat diterima dengan baik di tengah tengah
masnyarakat.

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

Hartono Yudi, Abdul Rozaqi dkk. 2002.Agama dan Relasi Sosial. LKiS : Yogyakarta

Kahmad Dadang. 2000. Sosiologi Agama. Pt Remaja Rosdakarya : Bandung.

Ubaedillah, Abdul Rozak dkk. 2008. Pendidikan Kewargaan Demokrasi, Hak Asasi Manusia
dan Masyarakat Madani. ICCE UIN Syarif Hidayatullah : Jakarta dan Kencana Prenada Media
Group : Jakarta.