Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PERILAKU ORGANISASI

KEPRIBADIAN DAN NILAI

MAKALAH PERILAKU ORGANISASI “ KEPRIBADIAN DAN NILAI ” DISUSUN OLEH : Kelas SKS 17-2 Andika Tri

DISUSUN OLEH :

Kelas SKS 17-2

Andika Tri Susanto Aditya Banu Ahmah Shifa Sriyanto

Dosen Pembimbing

Ropinov Saputro, S.E, M.M

SEKOLAH TINGGI ELEKTRONIKA DAN KOMPUTER SEMARANG

2019

KATA PENGANTAR

Puji syukur Tim Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya yang telah dilimpahkan kepada Tim Penulis, sehingga Tim Penulis dapat menyelesaiakan makalah yang berjudul “KEPRIBADIAN DAN NILAI” yang merupakan salah satu tugas PERILAKU ORGANISASI pada semester lima.

Dalam menyelesaikan makalah kami, kami mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah kami.

Tim Penulis berharap berharap dengan disusunnya makalah ini dapat memberikan pengetahuan bagi para pembaca.Tim Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah masih jauh dari sempurna.Maka dari itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, kami terima dengan senang hati.

Semarang, 17 Oktober 2019 Penyusun

DAFTAR ISI

Cover

i

Kata Pengantar

ii

Daftar Isi

iii

BAB I Pendahuluan

1

1.1.Latar Belakang

1

1.2.Rumusan Masalah

1

1.3.Tujuan

2

BAB II Pembahasan

3

2.1.Pengertian Kepribadian

3

2.2.Indikator Tipe Myers-Briggs

3

2.3.Model Kepribadian Lima Besar(Big Five Model)

4

2.4.Pengaruh Faktor 5 Besar Kepribadian Dalam Memprediksi Perilaku DiTempat Kerja

5

2.5.Kepribadian Dan Situasi

9

2.6.Nilai

10

2.7.Nilai-Nilai Pada Generasi

11

2.8.Nilai-Nilai Internasional

12

BAB III Penutup

14

3.1. Kesimpulan

14

Daftar Pustaka

15

1.1.LATAR BELAKANG

BAB 1

PENDAHULUAN

Etika merupakan cerminan dari kepribadian seseorang. Melalui cara beretika inilah seseorang dapat menilai dan mengetahui sifat dan ciri kepribadian dari orang lain.Dalam pembentukan etika ini banyak sekali faktor yang mempengaruhi. baik itu faktor internal maupun eksternal. Sifat baawaan dari lahir atau watak merupakan faktor internal yang paling berpengaruh pada etika seseorang. Secara ilmiah hal ini disebabkan oleh faktor keturunan atau genetika seseorang. Sedangkan dari faktor eksternal, etika seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana tempat seseorang itu berada.Apabila seseorang berada pada lingkungan yang baik dan beretika tinggi maka dapat dipastikan akan beretika tinggi layaknya orang-orang yang berada, dan sebaliknya apabila seseorang berada pada lingkungan yang beretika rendah maka dapat dipastikan pula akan beretika layaknya orang-orang disekitarnyaberada. Hal ini sangat sesuai dengan kata-kata bijak yang mengatakan “at the first you make habbit at the last habbit make you” ,yang berarti bahwa pada awalnya kamu membuat suatu kebiasaan ,pada akhirnya kebisaan inilah yang membentuk dirimu”

Pada dasarnya kepribadian dari diri seseorang merupakan suatu cerminan dari kesuksesan . Seseorang yang mempunyai kepribadian yang unggul adalah seseorang yang siap untuk hidup dalam kesuksesan. Sebab dalam kepribadian orang tersebut terdapat nilai-nilai positif yang selalu memberikan energi positif terhadap paradigma d a l am menghadapi tantangan dan cobaan kehidupan.Sebalikanya seseorang dengan kepribadian yang rendah adalah seseorang yang selalu dilingkupi dengan kegagalan. Sebab pada diri seseorang tersebut mengalir energi-energi negatif yang terhadap paradigma dalam menghadapi tantangan dan cobaan kehidupan.

Dapat dipastikan bahwa nilai-nilai kepribadian seseorang mengalami pasang surut seiring dengan besarnya tantangan dan cobaan yang dihadapi. Ada seseorang yang semakin ditempa oleh tantangan dan cobaan menjadi semakin kuat dan memiliki kepribadian yang dahsyat, namun ada pula seseorang yang semaki n besar tantangan dan cobaannya menjadi semakin terpuruk dan putus asa.

1.2.RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah yang membahas kepribadian dan nilai ini terdapat beberapa masalah diantaranya.

1. Apakah arti dari kepribadian dan nilai itu?

2. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi kepribadian?

3. Bagaimana cara menilai kepribadian

4. Apakah arti penting dari nilai?

1.3.TUJUAN

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mahasiswa mengetahui pengertian dari kepribadian dan nilai

2. Mahasiswa mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian

3. Mahasiswa mengetahui cara menilai kepribadian

4. Mahasiswa mengetahui arti penting dari nilai

2.1.KEPRIBADIAN

BAB II

PEMBAHASAN

Kepribadian (personality) adalah jumlah total cara-cara dimana seseorang

individu beraksi atas dan berinteraksi dengan orang lain. Pengukuran

kepribadian dalam proses perekrutan penting dilakukan agar manajer dapat

memprediksi siapa yang terbaik untuk sebuah pekerjaan.

Pembeda Kepribadian

Hereditas (heredity) adalah faktor yang ditentukan saat konsepsi; biologis,

fisik dan pembentukan psikologis inheren. Penelitian membuktikan bahwa

hereditas mempengarui sekitar 50% dari kesamaan kepribdian antara anggota

dan lebih dari 30% kesamaan dalam minat kerja dan hiburan.

2.2.Indikator Tipe Myers-Briggs (Myers-Briggs Type Indicator [MBTI])

Indikator tipe Myers-Briggs (Myers-Briggs Type Indicator [MBTI]) adalah

sebuah tes kepribadian yang mengelompkkan empat karakteristik dan

mengklasifikasikan orang dalam 1 dari 16 tipe pribadian.

- Ekstrover(ekstrovered-E) versus Introver (Intraverted-I).

Seseorang yang memiliki tipe ekstrovert cenderung ramah, pandai bergaul,

pandai bersosialisasi dan percaya diri.

Sedangkan seseorang yang memiliki tipe introver cenderung tenang dan

pemalu.

- Perasa (sensing - S) versus Intuitif (intuitive - N)

Seseorang yang memiliki tipe perasa cenderung praktis serta memilih rutin

dan urutan serta detail.

Sedangkan seseorang yang memiliki tipe intuitif bergantung pada proses tidak

sadar dan melihat pada gambaran besar.

- Pemikir (thinking - T) versus Perasa (feeling - F)

Seseorang yang memiliki tipe memikirkan biasanya menggunakan penalaran

dan logika untuk menangani masalah

Sedangkan seseorang yang memiliki tipe merasakan berpegang pada nilai-nilai

dan emosi pribadi mereka.

- Penilai (judging - J) versus Penerima (perceiving - P)

Seseorang memiliki tipe menilai menginginkan kendali dan memilih urutan

dan struktur

Sedangkan seseorang yang memiliki tipe menerima cenderung fleksibel dan

spontan.

Sebagai contoh, seseorang yang memiliki tipe INTJ (Introvert/Intiutif/Pemikir/Penilai) adalh visioner dengan pikiran asli dan dorongan yang kuat. Mereka skeptis, kritis, independen, berkemauan kuat dan seing kali sombong. Kemudian mereka yang mememiliki tipe ESTJ (Ekstrover/Perasa/Pemiikir/Penilai) adalah pengatur. Mereka realistis, logis, analitis danpembuat keputusan, cocok untuk bisnis atau mekanika.

2.3.MODEL KEPRIBADIAN LIMA BESAR(BIG FIVE MODEL)

Model Kepribadian Lima Besar (Big Five Model) merupakan sebuah

penelitian kepribadian yang mencakup lima dimensi dasar

- Ekstraversi. Dimensi ini menampilkan level kenyamanan didalam

hubungan. Ektrover cenderung ekspresif, percaya diri dan mampu

bersosialisasi. Selain itu mereka juga pemalu, penakut dan tenang.

- Keramahan. Dimensi ini merujuk pada kecenderungan seseorang

individu untuk memahami orang lain. Orang ramah yang kooperatif, hangat

dan mempercayai. Orang yang berskor rendah cenderung dingin, tidak ramah

dan antagonis.

- Kehati-hatian. Dimensi ini merupakan sebuah ukuran reabilitas. Orang

yang sangat hati-hati, bertanggung jawab, teratur, dapat diandalkan dan

persisten. Mereka yang memiliki skor rendah cenderung mudah dialihkan,

tidak teratur dan tidak dapat diandalkan.

- Stabilitas Emosional. Orang yang memiliki stabilitas emosional tinggi

cenderung tenang, percaya diri dan aman, sedangkan mereka yang memiliki

stabilitas emosional yang rendah cenderung gugup, cemas, depresi dan tidak

aman.

-

Keterbukaan pada pengalaman. Dimensi ini mencakup minat dan

ketertarikan atas inovasi. Orang yang sangat terbuka, kreatif, ingin tahu

dansecara artistik sensitif. Sebaliknya mereka yang berada diujung lainnya

dari kategori ini konvensional dan merasa nyaman dalan keadaan dikenal.

Model Sifat-Sifat Lima Besar Memengaruhi Kriteria Perilaku Organisasi

Sifat-Sifat Lima

   

Besar

Mengapa Itu Relevan ?

Apa Yang Dipengaruhinya ?

 

Lebih sedikit pemikiran

Kepuasan

hidup

dan

kerja

negatif dan emosi negatif

 

lebih tinggi

Stabilitas Emosional

Lebih tidak waspada yang

Level stres lebih rendah

 

berlebihan

   
 

Keahlian interpersonal lebih

Kinerja lebih baik

 

baik

Kepemimpinan lebih baik

Ekstraversi

Dominansi sosial lebih besar

Kepuasan

kerja

dan

hidup

Lebih ekspresif secara

lebih baik

emosional

 
 

Meningkatkan pembelajaran

Pelatihan kinerja

 

Keterbukaan

Lebih kreatif

 

Peningkatan kepemimpinan

Lebih fleksibel

Lebih

adaktif

terhadap

 

perubahan

 

Lebih disukai

 

Kinerja lebih baik

 

Keramahan

Lebih patuh dan taat

 

Level perilaku menyimpang

 

lebih rendah

 

Lebih

banyak

usaha

dan

Kinerja lebih baik

 

persistensi

 

Kepemimpinan lebih baik

Kehati-hatian

Lebih terdorong dan disiplin

Umur panjang

 

Lebih teratur dan terencana

 

2.4.PENGARUH FAKTOR LIMA BESAR KEPRIBADIAN DALAM MEMPREDIKSI PERILAKU DI TEMPAT KERJA

1. Stabilitas Emosinal

Dari ke lima faktor besar dalam kepribadian,faktor yang paling

mempengaruhi kepuasan hidup,kepuasan kerja,dan tingkat stress adalah stabilitas

emosional. Seseorang yang memilki tingkat stabilitas emosional yang tinggi

memilki emosi-emosi negatif yang lebih rendah dan lebih optimis,karena mampu

mengontrol stress lebih baik.

2.

Ekstrover

Selanjutnya adalah faktor ekstrover.Seseorang yang ekstrover cenderung ekspresif,memilki kepercayaan diri yang tinggi,dan mampu bersosialisasi,sehingga mereka memilki emosi-emosi positif dibandingkan orang yang introvert.Seseorang yang ekstrover memilki kinerja lebih baik,biasanya mereka memiliki lebih banyak teman dan lebih banyak keahlian daripada seorang introver,namun menurut beberapa studi seeorang ekstrover lebih cenderung

terlibat dalam perilaku berbahaya dan lebih cenderung untuk berbohong dalam wawancara kerja dibanding oarng introver.

3. Terbuka Pada Pengalaman

Dalam hal kepemimpinan,dibutuhkan seorang pemimpin yang terbuka pada pengalaman (memilki rasa ingin tahu dan ingin beriovasi),seseorang yang terbuka terhadap pengalaman memilki kreativitas yang lebih dalam berbagai hal. Dengan kreativitas yang lebih,seorang pemimpin lebih mampu menghadapi perubahan dalam organisasi (mampu beradaptasi dengan baik) dan mampu memimpin dengan efektif.

4. Keramahan

Faktor keramahan juga memilki pengaruh yang besar terhadap perilaku pekerja di tempat kerja.Seorang pekerja yang ramah tentu saja akan mempunyai banyak teman,dan disukai oleh pekerja lainnya. Mereka cenderung taat terhadap peraturan,rentan terhadap kecelakaan kerja,dan lebih puas dalam pekerjaannya.Kemudian,seorang pekerja yang ramah juga mempunyai kinerja yang lebih baik dibanding pekerja lainnya dalam pekerjaan yang berorientasi interpersonal seperti layanan pelanggan.

5. Kehati-hatian

Seseorang yang memiliki tingkat kehati-hatian yang tinggi memiliki kenerja dan mampu memimpin dengan lebih baik,hal itu disebabkan mereka yang memiki kehati-hatian yang tinggi cenderung memilki usaha yang lebih dan persisten,kemudian mereka memiliki kedisplinan dan motivasi yang lebih,serta

lebih teratur dan terencana.

DARK TRIAD Faktor lima besar dalam kepribadian merupakan faktor-faktor yang diinginkan dalam dunia sosial,terdapat tiga faktor yang disebut Dark Triad,yaitu faktor-faktor yang tidak disukai dalam dunia sosial,faktor-faktor tersebut adalah machiavellianisme, narsisme,dan psikopat.

1. Machiavellanisme

Seorang individu yang memiliki kepribadian machiavellanisme cenderung menggunakan cara-cara yang kurang tepat demi mencapai hasil yang diinginkan, seorang yang termasuk kategori machiavellanisme mempercayai bahwa tercapainya tujuan atau hasil dapat membenarkan segala cara.Mereka cenderung berperilaku agresif dan kontraproduktif. Menurut beberapa riset,seorang machiavellanisme lebih sering memanipulasi,lebih banyak menang,serta mampu mempengaruhi orang lain.Namun kemenangan yang mereka raih hanya bersifat jangka pendek,karena maciavellanisme tidak disukai oleh banyak orang.

2. Narsisme

Narsisme ada suatu kepribadian seseorang dimana orang tersebut memilki rasa berlebihan akan pentingnya diri, ingin dikagumi secara lebih,dan cenderung angkuh. Seseorang yang narsis memiliki motivasi kerja,keterlibatan kerja,dan kepuasan hidup yang lebih tinggi dibanding orang lainnya.Selain itu mereka yang berkepribadian narsis mampu beradaptasi dan mengambil keputusan lebih baik ketika dihadapkan pada keputusan yang kompleks.Namun dalam konteks etis,seorang pemimpin yang memiliki kepribadian narsis dinilai tidak etis dan tidak efektif karena mereka cenderung berpikir mereka memimpin dengan lebih baik dibanding pemimpin-pemimpin lainnya,yang justru mampu menurunkan kinerja mereka sendiri.

3. Psikopat

Dalam konteks perilaku organisasi,psikopat didefinisikan sebagai perilaku kurang peduli terhadap orang lain,dan kurangnya rasa bersalah atas perilakunya

yang membahayakan orang lain. Seorang dapat dikatakan sebagai psikopat ketika mereka menilai motivasi seseorang dalam mematuhi norma sosial, kesiapan untuk menipu demi memperoleh hasil yang diinginkan, imulsivitas dan ketidakpedulian terhadap orang lain. Berdasarkan sebuah studi,kepribadian psikopat memiliki korelasi yang positif terhadap kemajuan organisasi namun tidak terkain dengan aspek yang

mempengaruhi kesuksesan dan efektivitas, hal itu disebabkan karena seorang psikopat cenderung berperilaku licik,dan menggunakan taktik-taktik keras seperti ancaman dan manipulasi,dan perilaku kerja bullying, dimana perilaku tersebut membantu mereka untuk memperoleh kekuasan dalam organisasi.

PENDEKATAN-PENGHINDARAN Kerangka kerja pendekatan-penghindaran menggunakan motivasi sebagai karateristik kepribadian. Motivasi pendekatan dan penghindaran merupakan reaksi dari adanya rangsangan atau stimulus. Kerangka pendekatan-penghindaran membantu memprediksi perilaku kerja dan mencakup beragam motif kita saat bertindak. Contohnya tekanan kompetitif memunculkan motivasi pendekatan dan motivasi penghindaran, motivasi pendekatan berupa motivasi untuk bekerja lebih keras untuk memenangkan kompetisi,sedangkan motivasi penghindaran berupa pengalihan dan hilangnya motivasi karena rasa takut untuk kalah. Kinerja seorang individu dipengaruhi oleh motivasi yang mendominasi apakah motivasi pendekatan atau motivasi penghindaran.

SIFAT KEPRIBADIAN LAINNYA YANG RELEVAN DENGAN PERILAKU ORGANISASI Terdapat 3 faktor kuat dalam kepribadian yang mempengaruhi perilaku organisasi,yaitu 1.Evaluasi Inti Diri Evaluasi inti diri adalah evaluasi individu terhadap kemampuan,kompetensi,dan nilai mereka sebagai individu. Seseorang yang memilki evaluasi inti diri positif cenderung lebih menyukai dirinya,memandang dirinya efektif,mampu, dan dalam kendali atas lingkungannya. Sedangkan seseorang yang memilki evaluasi diri yang negatif cenderung tidak menyukai dirinya,ragu terhadap kemampuannya, dan merasa tidak berdaya atas lingkungannya. Orang yang memilki evaluasi diri positif, memilki kinerja lebih baik dibanding yang orang yang memilki evaluasi negatif,hal itu disebabkan mereka mampu menetapkan tujuan yang tepat, mampu berkomitmen atas tujuannya,dan mampu bertahan dalam proses pencapaian tujuannya. Selain itu mereka yang memiliki evaluasi diri positif mampu melayani pelanggan dengan lebih baik.

2.Pengawasan Diri Pengawasan diri adalah kemampuan seseorang untuk menyesuaikan perilakunya terhadap faktor-faktor situasional eksternal. Pengawasan diri yang tinggi menunjukkan kemampuan adaptasi yang baik,dapat menyesuaikan perilakunya terhadap perubahan situasi dan tuntutan faktor eksternal. Seorang yang memilki pengawasan diri yang tinggi memilki kinerja yang baik,dan lebih mungkin untuk menjadi seorang pemimpin. 3.Kepribadian Proakif Kepribadian proaktif adalah,ketika seseorang mengidentifikasi peluang,mengambil inisiatif dan tindakan, serta mampu bertahan sampai adanya perubahan yang berarti. Orang-orang yang memilki kepribadian proaktif lebih dibutuhkan oleh organisasi,karena mereka mampu mengindentifikasi peluang,megambil tindakan atas adanya peluang tersebut,dan mampu bertahan sampai adanya perubahan yang berarti. Selain itu,seorang yang memilki kepribadian proaktif lebih cepat memproleh pekerjaan,hal itu dikarenakan mereka mampu mempertimbangkan alternatif-alternatif (mengambil inisiatif dan tindakan) dalam menghadapi kegagalan.

2.5.KEPRIBADIAN DAN SITUASI Semakin meningkat, kita mempelajari bahwa efek sifat-sifat tertentu pada

prilaku organisasi tergantung pada situasi. Dua kerangka kerja teoretis membantu menjelaskan bagaimana ini bekerja, yaitu:

1)

Teori kekuatan situasi

Teori kekuatan situasi (situation-strength theory) mengindikasikan bahwa cara kepribadian bertranslasi ke dalam prilaku bergantung pada kekuatan situasi.Para peneliti telah menganalisis kekuatan situasi dalamorganisasi dari segi empat

elemen, yaitu:

Kejelasan

Konsistensi

Batasan

Konsekuensi

Namun tidak berarti bahwa aturan selalu dinginkan oleh organisasi untuk menciptakan situasi yang kuat bagi para pekerjanya, antara lain:

Pekerja dengan aturan-aturan yang luar biasa banyak dan proses yang dikendalikan sangat ketat bisa jadi membosankan dan menyebabkan penurunan motivasi.

Setiap orang itu berbeda, pekerjan yang menurut orang itu baik mungkin terlihat buruk bagi yang lainya.

Situasi yang kuat mungkin menekan kreativitas, inisiatif, dan keleluasan yang disebabkan oleh beberapa budaya.

Pekerja semakin kompleks dan tekait secara global.

2) Teori aktivitas sifat Teori aktivitas sifat (trait activation theory [TAT]) memprediksi bahwa beberapa situasi, pristiwa, atau intervensi mengaktivasikan sebuah sifat lebih dariyang lain.

2.6.NILAI

Nilai (value) menunjukkan alasan dasar bahwa “cara pelaksanaan atau keadaan akhir tertentu lebih disukai secara pribadi atau sosial dibandingkan cara pelaksanaan atau keadaan akhir yang berlawanan.” Nilai memuat elemen pertimbangan yang membawa ide-ide seorang individu mengenai hal-hal yang menyampaiakn yang baik, benar, atau diinginkan. Nilai memiliki sifat isi dan intensitas. Sifat menyampaikan bahwa cara pelaksanaan atau keadaan akhir dari kehidupan adalah penting. Sifat intensitas menjelaskan betapa pentingnya hal tersebut. Ketika menggolongkan nilai seorang individu menurut intensitasnya, kita mendapatkan sistem nilai orang tersebut.

Pentingnya Nilai Nilai penting terhadap penelitian perilaku organisasional karena menjadi dasar pemahaman sikap dan motivasi individu, dan karena hal tersebut perpengaruh terhadap kita. Individu memasuki suatu organisasi dengan pendapat yang telah terbentuk sebelumnya tentang apa yang “seharusnya” dan apa yang “tidak seharusnya” terjadi. Secara umum, nilai mempengaruhi sikap dan perilaku. Misalnya, anda memasuki sebuah perusahaan dan memiliki pandangan bahwa pengalokasian berdasarkan prestasi kerja adalah benar, sementara pengalokasian imbalan berdasarkan senioritas adalah salah.

Nilai terminal (terminal value) adalah hasil akhir yang dinginkan dari keberadan, sasaran yang ingin dicapai seseorang dalam hidupnya. Nilai instrumental (instrumental value) adalah mode prilaku yang lebih disukai, atau alat untuk mencapai nilai terminal seseorang.

2.7.NILAI-NILAI PADA GENERASI Para peneliti telah mengintegrasikan beberapa analisis terbaru dari nilai-nilai kerja ke dalam kelompok atau generasi berbeda dalam angkatan kerja AS, seperti yang ditampilkan pada tabel berikut :

Generasi

Memasuki

Perkiraan Umur Sekarang

Nilai-nilai

Angkatan

Kerja Dominan

Kerja

 

Lonjakan bayi

1965-1985

Pertengahan

40-an

Kesuksesan, pencapaian, ambisi, ketidaksukaan akan otoritas, kesetiaan pada karier

sampai pertengahan

60-an

X

1985-2000

Akhir 20-an sampai awal 40-an

Keseimbangan kerja/hidup, orientasi tim, tidak menyukai aturan, setia pada hubungan

Milenium

2000-sekarang

Di bawah 30

Percaya diri, kesuksean financial, mengandalkan diri tetapi berorientasi tim; kesetiaan pada diri maupun hubungan

Berdasarkan tabel nilai-nilai kerja dominan pada angkatan kerja di atas, ternyata klasifikasi ini belum cukup didukung oleh riset yang solid. Tinjauan terkini menyatakan banyak terjadi generalisasi yang dilebih-lebihkan atau tidak benar. Satu studi yang menggunakan sebuah desain longitudinal menemukan bahwa nilai yang ditempatkan pada kesenangan telah meningkat selama generasi dari generasi lonjakan bayi ke generasi milenium dan sentralis kerja telah menurun, tetapi ia tidak mendapati bahwa generasi milenium memiliki nilai kerja yang lebih

altruistik seperti yang diharapkan. Klasifikasi generasional bisa membantu kita memahami generasi kita sendiri dan generasi lainnya dengan lebih baik, tetapi kita juga harus mengapresiasi batasan-batasannya.

Mengaitkan Kepribadian dan Nilai-nilai individu di Tempat Kerja

Kecocokan Orang-Pekerjaan Teori kecocokan kepribadian-pekerjaan (personality-job fit theory) merupakan teori John Holland yang mengidentifikasi enam tipe kepribadian dan mengusulkan bahwa kecocokan antara tipe kepribadian dan lingkungan pekerjaan menentukan kepuasan dan perputaran.

Kecocokan Orang-Organisasi Teori ini berpendapat bahwa orang-orang tertarik pada dan dipilih oleh organisasi yang sesuai dengan nilai-nilai mereka, dan mereka meninggalkan organisasi yang tidak cocok dengan kepribadiannya. Beberapa riset membuktikan bahwa kecocokan orang-organisasi lebih penting dalam memprediksi perputaran pekerja di Negara kolektivistik (India) daripada di Negara yang lebih individualistis (Amerika Serikat).

2.8.NILAI-NILAI INTERNASIONAL Terdapat lima nilai dimensi oleh Hofstede dari budaya nasional, antara lain :

Jarak kekuasaan (power distance), merupakan suatu atribut budaya nasional

yang menjelaskan tingkat dimana orang-orang dalam suatu negara menerima bahwa kekuasaan dalam institusi dan organisasi menyebar tidak merata. Individualisme versus kolektivisme. Individualisme (individualism), merupakan suatu atribut budaya nasional yang menjelaskan tingkat dimana orang- orang lebih memilih untuk bertindak sebagai individu dibandingkan sebagai anggota dari kelompok. Kolektivisme (collectivism), merupakan suatu atribut budaya nasional yang menjelaskan sebuah kerangka social ketat di mana orang- orang mengharapkan yang lain dalam kelompok yang menjadi bagiannya untuk merawat dan melindungi mereka. Maskulinitas versus femininitas. Maskulinitas (masculinity), merupakan tingkat dimana budaya menyukai peran-peran maskulin tradisional seperti pencapaian, kekuasaan, dan kendali, berlawanan dengan pandangan pria dan

wanita adalah sama. Femininitas berarti budaya melihat sedikit perbedaan antara peran pria dan wanita serta memperlakukan wanita sama dengan pria dalam segala hal.

Penghindaran ketidakpastian, menjelaskan bahwa tingkat di mana orang-orang

dalam suatu Negara lebih memilih situasi yang terstruktur atau tidak terstruktur menentukan penghindaran ketidakpastian mereka.

Orientasi jangka panjang versus jangka pendek. Orang-orang dalam budaya

dengan orientasi jangka panjang melihat masa depan dan mengurangi kebijaksanaan, persistensi, serta tradisi. Dalam orientasi jangka pendek, orang- orang menilai di sini dan saat ini mereka lebih siap menerima perubahan dan tidak melihat komitmen sebagai rintangan untuk berubah.

Dimensi budaya Hofstede telah berpengaruh besar dalam para peneliti perilaku organisasi dan manajer. Meskipun risetnya telah dikritik, namun Hofstede telah menjadi salah seorang ilmuwan sosial yang paling banyak dikutip dan kerangka kerjanya telah meninggalkan jejak abadi dalam perilaku organsasi.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan Kepribadian (personality) adalah jumlah total cara-cara dimana seseorang individu beraksi atas dan berinteraksi dengan orang lain. Pengukuran kepribadian dalam proses perekrutan penting dilakukan agar manajer dapat memprediksi siapa yang terbaik untuk sebuah pekerjaan. Indikator tipe Myers-Briggs (Myers-Briggs Type Indicator [MBTI]) adalah sebuah tes kepribadian yang mengelompkkan empat karakteristik dan mengklasifikasikan orang dalam 1 dari 16 tipe pribadian. Secara umum, nilai mempengaruhi sikap dan perilaku. Misalnya, anda memasuki sebuah perusahaan dan memiliki pandangan bahwa pengalokasian berdasarkan prestasi kerja adalah benar, sementara pengalokasian imbalan berdasarkan senioritas adalah salah.

Daftar Pustaka

1. Robbins, Stephen P. dan Timothy A. Judge. 2015. Perilaku Organisasi. (Terj.) Ratna Saraswati dan Febriella Sirait. Jakarta: Salemba Empat.