Anda di halaman 1dari 19

I.

Pendahuluan

Gambar 1. Seismogram short-period 24 jam merekam sinyal seismik ketika terjadi pertumbuhan
kubah lava di Volcan de Colima, Meksiko.

Letusan magmatik, freatik, atau freato-magmatik dapat memicu timbulnya sinyal seismik.
Contoh sinyal seismik dapat dilihat pada gambar 1. Jenis-jenis letusan gunung api dapat
dibagi menjadi dua macam yaitu: volcanic magmatic explosions dan phreatomagmatic
explosions.

Zobin (2012) memaparkan beberapa jenis letusan yang termasuk volcanic magmatic
explosions, yaitu:

a. Strombolian (VEI 1-2): Gunung api denga jenis letusan tipe Strombolian merupakan
letusan yang biasanya terjadi pada gunungapi basaltik dan menghasilkan kolom erupsi
dengan ketinggian ratusan meter, letusannya dapat terjadi 3 hingga 5 kali perjam. Sifat
letusannya singkat (orde detik hingga menit), diskret, dan memproduksi kolom erupsi dan
lava fountains.

b. Vulcanian (VEI 2-4): Dapat terjadi pada gunung api andesitic dan dasitik. Periode
letusannya juga singkat dari orde detik hingga menit, letusannya diskret dan memproduksi
material erupsi yang volumenya kurang dari 1 km2, kolom erupsi dapat mencapai ketinggian
10-20 km.

c. Plinian (VEI 4-8): Sama dengan letusan Vulcanian, letusan Plinian dapat terjadi pada
gunungapi andesitik dan dasitik. Karakteristik letusannya juga sama seperti letusan Vulcanian
namun kekuatan letusannya lebih kuat.

Lalu, jenis yang kedua adalah letusan freato-magmatik yang merupakan letusan yang terjadi
ketika adanya ekspansi volumetrik dari air yang terpanaskan oleh magma. Letusannya
memiliki karakteristik adanya letusan eksplosif berupa debu (ash) dan kepulan uap.
II. Waveform and Spectra
Rekaman seismik terhadap letusan gunung api maupun gempa memiliki karakteristik yang
bervariasi, tetapi disaat yang sama juga dapat menghasilkan waveform yang serupa..

Zobin (2012) membahas tentang letusan: strombolian, vulcanian, dan freato-magmatik.

a. Letusan Strombolian

Terdapat 3 komponen ground


velocity pada rekaman kali ini
dan terdapat sinyal low-frequency
(LF) dengan frekuensi dominan 2
Hz dan fase utamanya bisa
mencapai 10 Hz

Gambar 2. Gambar ini menjelaskan tipikal rekaman seismogram


letusan strombolian tahun 1992 dengan rekaman 150 m dari
kawah.

b. Letusan Vulcanian

Rekaman kecepatan seismik gambar


(B) dan (D) merupakan rekaman
dari broadband seismometer yang
berasosiasi dengan letusan
Vulcanian dari Volcan de Colima
2003-2007.

Semua waveform ini memiliki


karakteristik adanya amplitudo yang
besar, dan sinyal high-frequency
pada fase utamanya.

Tipe 1: Fase utama didahului oleh


sinyal LF

Tipe 2: Fase utama didahhului oleh


sinyal frekuensi tinggi (HF)
Gambar 3. Gambar (A) dan (C) merupakan gambar dari video
station yang terletak pada jarak 15 km
Tipe 3: Didahului oleh sinyal
berfrekuensi tinggi + frekuensi
rendah

Tipe 4: Sinyal seismik yang


berasosiasi dengan letusan dapat
terekam tanpa sinyal yang
mendahului

Dominasi fase utama pada rekaman


seismik pada saat terjadinya letusan
memiliki puncak frekuensi antara 1 – 2
Hz.

Gambar 4. Ini adalah spektrum Fourier dari 4 tipe sinyal seismik (komponen
vertikal) yang berasosiasi dengan letusan Vulkanian Volcan de Colima pada
aktivitas 2003-2007. Spektrum Fourier imenunjukkan rentang frekuensi dan
jumlahnya pada domain waktu.
c. Letusan Freato-Magmatik

Memiliki karakteristik terdapat urutan


dari frekuensi tinggi dan frekuensi
rendah yang diduga terkait dengan
urutan peristiwa letusan yang sering
terjadi selama erupsi magmatik.

Gambar (C) menunjukkan adanya


kelompok sinyal yang sama tetapi
frekuensi tinggi dapat diamati pada
seismogram short period.

Gambar (D) menunjukkan spektrum


Fourier dan terlihat bahwa terdapat
kesamaan pada interval 0.1 – 5 Hz yang
ditunjukkan dengan amplitudo yang
stabil.

Gambar 5 . Gambar D menunjukkan waveform seismik dari letusan freato-


magmatik yang direkam pada tahun 2000 saat erupsi lateral Gunung Usu dan
spektrum Fourier-nya.
III. Nature of Seismic Signals of Explosive Earthquakes

a. Letusan Strombolian

Gambar 6. Gambar di atas menunjukkan rekaman seismik dari 3 komponen broadband


seismometer pada gunung Stromboli pada Januari 2011 dengan rekaman video
kontemporer.

Seperti yang bisa dilihat pada gambar 6, gambar 6.(A) berkorespondensi dengan rekaman
seismik. Terlihat bahwa sinyal berfrekuensi rendah terekam sebelum produk letusan
gunungapi keluar dari kawah. Frekuensi tinggi dan amplitudo yang besar dari fase utama tiba
5 detik kemudian yang terekam tepat sebelum dan selama keluarnya produk vulkanik dari
kawah.
b. Letusan Vulcanian

Gambar 7. Gambar ini menjelaskan rekaman dari broadband seismic signals dan video
images dari Vulcanian explosion (tipe 3). Dipilih tipe 3 karena terdapat fase HF dan LF.

Gambar 1,2, dan 3 berkorespondensi dengan rekaman seismik dan terlihat ledakan yang
berasal dari kedalaman dangkal yang pertama ditunjukkan oleh gambar 2, muncul 26 detik
setelah munculnya sinyal seismik. Bagian awal dari fase LF dan HF dapat dianggap
dihasilkan oleh proses yang terjadi pada saluran gunung api sebelum terjadi ledakan.
IV. Nature of Seismic Signals of Explosive Earthquakes

a. Letusan Strombolian

Gambar 8. Gambar di samping menunjukkan rekaman seismik dari 3 komponen broadband


seismometer pada gunung Stromboli pada Januari 2011 dengan rekaman video
kontemporer.

Gambar A berkorespondensi dengan rekaman seismik. Terlihat bahwa sinyal berfrekuensi


rendah terekam sebelum produk letusan gunungapi keluar dari kawah. Frekuensi tinggi dan
amplitudo yang besar dari fase utama tiba 5 detik kemudian yang terekam tepat sebelum dan
selama keluarnya produk vulkanik dari kawah.
b. Letusan Vulcanian

Gambar 9. Gambar ini menjelaskan rekaman dari broadband seismic signals dan video images
dari Vulcanian explosion (tipe 3, lihat slide 9). Dipilih tipe 3 karena terdapat fase HF dan LF.

Gambar 1,2, dan 3 berkorespondensi dengan rekaman seismik. Terlihat ledakan yang berasal
dari kedalaman dangkal yang pertama ditunjukkan oleh gambar 2, muncul 26 detik kemudian
setelah munculnya sinyal seismik. Bagian awal dari fase LF dan HF dapat dianggap
dihasilkan oleh proses yang terjadi pada saluan gunung api sebelum ledakan.
V. Type of Waves Composing the Seismic Signal of an Explosion

Gambar 10 Gambar di atas menunjukkan gerakan partikel sinyal yang didahului oleh rekaman
seismik yang berfrekuensi rendah, terekam saat berasosiasi dengan gunungapi Stromboli.

Gambar di samping menunjukkan gerakan partikel sinyal yang didahuui oleh rekaman
seismik yang berfrekuensi rendah pada gunungapi Stromboli. Untuk menghindari noise high-
frequency, rekaman komponen vertikal dan radial diberi band-pass filter pada 0.5 Hz.
Gambar (C) menunjukkan gerak partikel elliptical retrograde yang mengindikasikan
gelombang Rayleigh.
b. Letusan Vulcanian

Gambar 11. Gambar ini menunjukkan gerakan partikel untuk sinyal frekuensi rendah
awal terekamnya ledakan di Volcan de Colima. Komponen vertikal dan radial diberi
low-pass filter pada 0.5 Hz.

Gambar ini menunjukkan gerakan partikel untuk sinyal frekuensi rendah yang berasosiasi
dengan letusan Volcan de Colima. Gerakan elliptical retrograde menunjukkan karakteristik
gelombang Rayleigh.

VI. Sources of Explosion Earthquakes and Their Quantification

Identifikasi struktur sinyal seismik sama kompleksnya dengan identifikasi dari bentuk
sinyal alami. Untuk menyelesaikan masalah, banyak penelitian yang mempelajari sumber dari
kejadian letusan sebagai sumber yang menimbulkan sinyal seismik long period dan very-long
period dan mengabaikan komponen short period. Untuk menyelesaikan permasalahan ini,
banyak penelitian yang mempelajari sumber dari letusan gunungapi sebagai sumber yang
menimbulkan sinyal seismik long period dan very-long period. Rekaman dari seismometer
broadband diberi band-pass filter, sehingga meninggalkan getaran long period dan very-long
period. Pendekatan ini memberikan karakteristik letusan.
VII. Sources of Explosion Earthquakes and Their Quantification
a. Multiple Source of Explosion

Gambar 12. Rekaman sinyal seismik broadband Gunung Sakurajima, periode Agustus-
Desember 1999

Pada tahun 2002, Tameguri et al menganalisis rekamana sinyal seismik


broadband dari letusan eksplosif Gunung Sakurajima, Jepang yang terjadi pada
Agustus-Desember 1999. Rekaman tersebut didapatkan dari stasiun seismik yang
berlokasi 2.75 km dari Gunung Sakurajima. Tameguri membagi rekaman tersebut
menjadi 3 fase, yaitu fase utama (P), fase kedua (D), dan fase LP. Fase P dan D
diidentifikasi sebagai gelombang P dan fase LP sebagai gelombang Rayleigh.
Momen tensor yang dari fase-fase tersebut dihasilkan dari inversi waveform dari
14 letusan. Sumber dari fase P dikarakteristikkan dengan 3 komponen diagonal
dengan nilai positif yang sma besarnya untuk semua event. Hal ini menandakan
bahwa sumber mengalamai ekspansi yang sama besar ke segala arah (isotropis).

Gambar 13. Inversi waveform broadband dari fase P dan D


Sedangkan fase D dikarakteristikkan dengan dipol horizontal yang besarnya dua
kali lebih besar dibandingkan komponen vertikalnya. Hal ini cocok sesuai teori bahwa
ketika rasio yang dihasilkan oleh 3 komponen adalah 2:2:1, maka hal tersebut
disebabkan oleh perubahan volume oleh sumber dengan geometri berupa silinder.
Sumber yang menghasilkan fase P dan D berlokasi 2 km dibawah kawah. Fase LP
dihasilkan oleh 2 sumber, yaitu sumber dengan ekspansi isotropis dan kontraksi dalam
sumber horizontal dengan kedalaman yang dangkal (0.25-0.5 km) di bawah kawah.

Gambar 14. Inversi waveform broadband dari fase LP

Tameguri juga mengungkapkan bahwa origin time fase LP berasosiasi dengan


letusan. Penelitian lebih lanjut oleh Yokoo et al (2009) menunjukkan bahwa fase KP
dari letusan Sakurajima berkorelasi dengan low-amplitude phase dari gelombang
infrasonic. Terlihat pada gambar bahwa letusan Gunung Sakurajima terjadi sesaat
setelah dimulainya radiasi dari fase LP.

Berdasarkan model konseptual oleh Isihara (1985, 1990), sekuen seismik


sumber berkoreasi dengan proses eruptif. Pertama, Gas - gas dihasilkan dari
exsolution volatile di dapur magma dangkal (2 km) yang menghasilkan fase P dan D,
lalu gas-gas tersebut naik ke permukaan melalui konduit dan menghasilkan fase LP.
Selanjutnya, letusan terjadi, diikuti oleh keluarnya material-material vulkanik seperti
gas, abu, dan blok-blok vulkanik yang ditunjukkan dengan koda dari fase LP.
Gambar 14. Time sequence of origin times dan kedalaman dari 4 sumber yang mengahsilkan
fase P,D, dan LP

VIII. Two-Stage Model of Explosive Proces

Model ini diusulkan oleh Zobin et al (2006) untuk letusan Vulkanian tipe 1,
yang mendeskripsikan proses letusan ada 2 tahap. Yang pertama adalah naiknya
fragmen magma ke permukaan yang memicu letusan, dan yang kedua adalah letusan
sub-sekuen. Berdasarkan model ini, rekaman seismik yang berasosiasi dengan letusan,
dapat dibagi menjadi 2 fase, yaitu pre-explosion (LF, HF, atau LF+HF) dan co-
explosion (fase utama). Untuk semua rekaman seismik, gaya reaksi dapat diestimasi
dari memodelkan fase LF dan energy letusan yang didapatkan dari perhitungan fase
co-explosion.
Parameter sumber dihasilkan dari 120 letusan Gunung Colima dan 26 Gunung
Popocatepetl (Zobin et al, 2009), yang bervariasi terhadap 4 variabel, yaitu waktu dari
pergerakan magma yang terfragmentasi bervariasi dari 1-13 detik (D1), counter force
(F), durasi letusan dalam konduit dari 11-65 detik (D2), dan energy letusan (E).
a. Hubungan antara counter force dan energy letusan

Gambar 15. Grafik hubungan antara counter force vs energi pada Gunung Colima dan Gunung
Popocatepetl

Terlihat pada gambar diatas bahwa energi letusan dan counter force
memiliki hubungan yang sebanding. Dalam kasus ini, letusan besar maupun kecil
menunjukkan skala magnitude yang sama antara gaya yang mengontrol
pergerakan magma sebelum letusan dan energi letusan.

b. Hubungan antara counter force dan durasi sumber

Gambar 16. Grafik hubungan antara counter force vs durasi sumber pada Gunung Colima dan
Gunung Popocatepetl
Scaling law pertama yang diusulkan oleh Nishimura dan Hamaguchi (1993)
untuk berbagai gunung di dunia menghasikan hubungan antara puncak amplitude
dari single counter force F dan durasi sumber dengan menggunakan rekaman
seismik dari letusan gunung api yang besar. Hasil yang didapatkan dari Zobin et
al (2009) dengan menggunakan scaling law untuk letusan Gunung Colima dan
Popocatepetl adalah garis regresi terpisah untuk letusan besar dan kecil.

c. Hubungan antara ukuran parameter dari letusan dan durasi letusan

Gambar 17. Grafik hubungan antara ukuran parameter dari letusan dan durasi letusan pada
Gunung Colima dan Gunung Popocatepetl

Durasi letusan 2 tahap, yaitu termasuk didalamnya pergerakan magma


terfragmentasi dalam konduit dan proses eksplosif, merupakan model konseptual
Zobin et al (2009) yang dideskripsikan dengan D1 dan D2. Waktu pergerakan magma
yang terfragmentasi tidak bergantung terhadap counter force F. Maka dari itu energi
letusan tidak berkorelasi dengan waktu dari pergerakan magma.
Durasi letusan D2 memiliki hubungan yang negatif (berbanding terbalik)
dengan ukuran dari counter force F dan energi E. Dapat disimpulkan bahwa durasi
pergerakan magma dalam konduit (D1) tidak berkorelasi dengan durasi letusan (D2)
IX. Relationship Between the Seismic Moment of Preliminary LP Phase and the
Energy of Explosions for Sakurajima Volcano

Gambar 18. Rekaman seismik Gunung Sakurajima oleh Tameguri et al (2002)

Rekaman seismik dari 14 letusan Gunung Sakurajima digunakan untuk


menghasilkan hubungan antara momen seismik Mzz dari fase LP yang diestimasi oleh
Tameguri et al (2002) dan energi letusan yang diestimasi oleh Zobin et al (2006).
Rekaman seismik tersebut merupakan rekaman yang dihasilkan oleh stasiun KUR
yang berjarak 4.1 km dari kawah. Rekaman tersebut digunakan untuk menghitung
besar energi letusan. Hubungan antara Mzz vs E terlihat pada gambar (B). Komponen
Mzz berkorelasi baik dengan energi letusan yang kecil (E > 108 J). Tidak dilakukan
observasi untuk energi letusan E < 108 J.

X. Volcanic Explosive Process as a Source of Hybrid Earthquakes


Gempa hybrid yang teramati selama erupsi Gunung Redoubt, Alaska memiliki
tipe sinyal high-frequency onset dan extending low-frequency coda. Menurut Lahr
(1994), kemungkinan event hybrid dihasilkan dari adanya zona patahan yang brittle
yang retak karena terisi atau terlewati fluida. Benson et al (2010) menjelaskan bahwa
event seismik yang hybrid kemungkinan dihasilkan dari 2 proses, yaitu yaitu retakan
saat nukleasi dan deformasi yang menghasilkan high-frequency onset dan pergerakan
fluida melalui retakan yang menghasilkan resonansi dengan frekuensi rendah (dapat
dilihat dalam coda).
XI. Location of Explosion Earthquakes
Rekaman seismik dari letusan suatu gunung api cukup rumit dan sumber dari
letusan tersebut dapat dianggap sebagai sekuen dari sub-event. Oleh karena itu, penting
untuk mengetahui lokasi dari sub-event tersebut.

a. Location of the Initial Sub-Events from Waveform Inversion

Gambar 19. Lokasi broadband seismic dan stasiun infrasonic pada Gunung Tungurahua

Dengan melakukan inversi waveform untuk seluruh rekaman seismik, kita


mendapatkan posisi tengah yang berintegrasi dengan sumber dan tidak dapat
diaplikasikan disini. Akan tetapi, hanya hasil yang dihasilkan untuk fase utama dari
sinyal seismik yang akan didiskusikan disini. Kumagai et al (2011) menjelaskan
lokasi sumber dari letusan Gunung Tungurahua, Ekuador pada 11 Februari 2010
dengan menggunakan inversi waveform untuk fase utama (5-7 detik). Mereka
mendapatkan posisi sumber yang terletak sekitar 5 km di bawah kawah.

XII. Explosion Sequences


Rekaman seismik dari gempa letusan menghasilkan bentuk gelombang yang
relative sama (Johnson et al., 1998; Rowe et al.,2000). Terdapat perulangan bentuk
gelombang yang terekam saat terjadi letusan Strombolian Gunung Erebus.
Gambar 20. Ilustrasi rekaman seismik dari letusan Gunung Erebus

Gambar di bawah menunjukkan distribusi dari 364 letusan Gunung Erebus,


Antartika. Terlihat adanya lengkunga tajam pada gambar (B) yang berkorelasi dengan
puncak dari histogram pada gambar (A).

Gambar 21. Histogram dari intensitas letusan vs log10 (A) dan log10 dari intensitas bulanan vs log10
dari amplitudo seismik

XIII. Explosion Earthquakes in Eruptive Process


Gambar dibawah menunjukkan variasi dari letusan Gunung Karymsky. Laju rata-
rata emisis lava selama episode eruptif terlihat pada gambar dibawah. Emisi lava
dikarakteristikkan dengan adanya peningkatan frekuensi gempa letusan. Pada saat yang
bersamaan, tidak ada ketergantungan antara volume emisi lava dan jumlah maksimum
event seismik.

Gambar 22. Intensitas gempa letusan per bulan (A) dan laju rata-rata emisi lava (dalam kg/s) selama
periode eruptif di Gunung Karymsky selama 1970-1980

Tanaka et al. (1972) mempelajari gempa letusan yang terjadi di Gunung Akita-
Komaga-take, Jepang saat erupsi 1970-1971. Erupsi dimulai dengan letusan Strombolian
dan emisi lava basaltic pada 18 September 1970 – 25 Januari 1971. Sekitar 33000
letusan terekam saat itu. Itu merupakan sinyal seismik utama dalam erupsi ini.
Sedangkan gempa volcano-tectonic tunggal dengan jumlah yang sangat banyak juga
terekam. Gambar di bawah menunjukkan jumlah gempa letusan yang terobservasi dari
awal erupsi.

Gambar 23. Jumlah letusan perhari (A) dan volcano-tectonic earthquake (B) Gunung Akita-Komage,
Jepang.