Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MINI RISET

PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN

STRUKTUR ORGAN PENCERNAAN PADA BERBAGAI TINGKATAN


KLASIS HEWAN

OLEH:

SASTRI HANDAYANI
Nim : 4173141063
BIOLOGI DIK F 2017

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada saya ucapkan Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat
serta karunia-Nya kepada saya sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah Miniriset ini tepat
pada waktunya. Makalah Miniriset ini disusun sebagai pemenuhan tugas pada mata kuliah Struktur
Hewan (praktikum).
Saya menyadari bahwa makalah Miniriset ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu saya harapkan demi
kesempurnaan makalah Miniriset ini.
Akhir kata, saya sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
membantu saya menyusun makalah Miniriset ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang
Maha Esa senantiasa menyertai kita. AMIN.

Medan, 19 Oktober 2019

Sastri Handayani
NIM : 4173141063

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i


DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 1
1.3 Tujuan............................................................................................................................... 1
1.4 Manfaat ............................................................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN TEORITIS ............................................................................................. 2
BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................................... 4
3.1 Waktu dan tempat............................................................................................................. 4
3.2 Alat dan Bahan ................................................................................................................. 4
3.3 Prosedur kerja ................................................................................................................... 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................................................. 7
4.1 Hasil ................................................................................................................................. 7
4.2 Pembahasan .................................................................................................................... 12
BAB V KESIMPULAN ......................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 17
LAMPIRAN............................................................................................................................ 18

ii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Hasil pengamatan organ pencernaan Cyprinus carpio .......................................... 7


Gambar 1.2 Hasil pengamatan organ pencernaan Rana sp........................................................ 8
Gambar 1.3 Hasil pengamatan organ pencernaan Mabouya multifaasciata ............................ 9
Gambar 1.4 Hasil pengamatan organ pencernaan Gallus-gallus sp ....................................... 10
Gambar 1.5 Hasil pengamatan organ pencernaan Cavia cobaya ........................................... 11
Gambar 1.6 Hasil pembedahan pada Cyprinus carpio .......................................................... 18
Gambar 1.7 Hasil pembedahan pada Rana sp ....................................................................... 18
Gambar 1.8 Hasil pembedahan pada Mabouya multifaasciata ............................................ 19
Gambar 1.9 Hasil pembedahan pada Gallus-gallus sp ......................................................... 19
Gambar 1.10 Hasil pembedahan pada Cavia cobaya ........................................................... 20

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Sistem pencernaan adalah sistem saluran yang dimulai dari mulut, faring, kerongkongan
(esofagus), lambung. Usus halus, usus besar, dan anus. Bagian atau organ ini adalah organ yang
secara umum merupakan saluran pencernaan. Sistem pencernaan berfungsi mencerna makanan
sehingga dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai energi dalam melaksanakan aktifitas .
Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia terjadi di sepanjang saluran
pencernaan, dan dibagi menjadi 3 bagian yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi di
dalam mulit hingga lambung. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari-sari makanan yang terjadi
di dalam usus, kemudian proses pembuangan atau pengeluaran sisa-sisa makanan melalui anus.
Sistem pencernaan pada animalia adalah sistem organ dalam hewan multisel yang menerima
makanan, mencernanya menjadi energi dan nutrien, serta mengeluarkan sisa proses tersebut
melalui anus. Sistem pencernaan antara satu hewan dengan hewan yang lainnya bisa sangat
berbeda jauh. Struktur alat pencernaan berbeda-beda dalam berbagai jenis hewan, tergantung pada
tinggi rendahnya tingkat organisasi sel hewan tersebut terhadap makananya. Pada hewan
invertebrata alat pencernaannya umumnya masih sangat sederhana, dilakukan secara fagositosis
dan secara intrasel. Sedangkan pada hewan vertebrata sudah memiliki alat pencernaan yang
sempurna yang dilakukan secara ekstrasel.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Permasalahannya adalah ‘Bagaimana perbedaan mendasar struktur organ pencernaan pada
berbagai tingkatan klasis hewan?’
1.3 TUJUAN
Tujuan mini riset ini adalag ‘Untuk mengetahui perbedaan mendasar struktur organ
pencernaan pada berbagai tingkatan klasis hewan’
1.4 MANFAAT
Manfaat mini riset ini ‘Mahasiswa dapat mengetahui perbedaan struktur organ pencernaan
pada berbagai tingkatan klasis hewan’

1
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

Pencernaan merupakan proses kimiawi dan fermentasi oleh mikrobiota yang ada di dalam usus.
Interaksi antara mikrobiota dan nutrisi sangat kompleks. Mikrobiota dapat mempengaruhi
pencernaan dan penyerapan nutrien. Produk hasil metabolisme mikroba juga merupakan nutrien
atau mempengaruhi kesehatan inangnya. Dengan kata lain, keseimbangan mikroba dalam sistem
pencernaan berperan penting bagi kesehatan, kecernaan pakan, dan efisiensi produksi (Putu, 2009)
Alat pencernaan merupakan salah satu organ tubuh yang penting untuk berlangsungnya proses
kehidupan hewan. Alat pencernaan berfungsi menampung, mencerna dan menyerap makanan dan
struktur alat pencernaan ini berkaitan dengan perilaku makan dan jenis pakan yang biasa
dimakannya. Ikan memiliki variasi morfologi alat percernaan yang berbeda-beda. Perbedaan
variasi disebabkan karena ikan memiliki perilaku makan, jenis pakan dan habitat yang berbeda-
beda pula. Alat pencernaan pada ikan terdiri atas dua bagian yaitu organ pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Organ pencernaan ikan terdiri atas rongga mulut meliputi lidah dan gigi, esofagus,
ventrikulus, intestinum dan anus sedangkan kelenjar pencernaan meliputi hepar dan pancreas
(Haraningtias dkk, 2018)
Sistem pencernaan merupakan salah satu komponen vital dalam menunjanng kehidupan sebab
sistem pencernaan terdiri dari semua organ yang berfungsi untuk mengunyah, menelan mencerna
dan mengabsorbsi makanan serta mengeliminasi makanan yang tidak dapat dicerna tubuh. Sistem
pencernaan terdiri atas saluran pencernaan, kelenjar-kelenjar yang berhubungan, susunan saluran
pencernaan terdiri atas rongga mulut, faring (tekak), esophagus (kerongkongan), lambungn, usus
halus, usus besar, rectum dan anus. Makanan mengalami proses pencernaan sejak berada didalam
mulut hingga proses pengeluaran sisa makanan hasil pencernaan.
Selama dalam proses pencernaan, makanan dihancurkan menjadi zat-zat sederhana yang dapat
diserap dan digunakan sel jaringan tubuh. Berbagai perubahan sifat makanan terjadi karena kerja
berbagai enzim yang terkandung dalam berbagai pencerna cairan. Setiap jenis zat ini mempunyai
tugas khusus menyaring dan bekerja atas satu jenis makanan dan tidak mempunyai pengaruh
terhadap jenis lainnya (Evelyn, 2008).
Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan, kelenjar-kelenjar yang berhubungan.
Susunan saluran pencernaan terdiri atas rongga mulut, faring (tekak), esophagus (kerongkongan),

2
lambung (ventriculus), usus halus (intestinum minor), usus besar (intestinum mayor), rectum dan
anus. Makanan mengalami proses pencernaan sejak makanan berada di dalam mulut hingga proses
pengeluaran sisa makanan hasil pencernaan (Irianto, 2004).
Fungsi utama sistem pencernaan adalah menyediakan zat nutrisi yang sudah dicerna secara
berkesinambungan untuk di distribusikan ke dalam sel melalui sirkulasi dengan unsur-unsur air,
elektrolit dan zat gizi. Sebelum zat ini diserap oleh tubuh, makanan harus bergerak sepanjang
saluran pencernaan.
Saluran pencernaan pada ikan dimulai dari mulut (cavum oris). Di dalam rongga mulut terdapat
gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah dan lidah pada dasar mulut yang tidak
dapat digerakkan serta banyak menghasilkan lender, tetapi tidak menghasilkan air ludah (enzim).
Dari rongga mulut makanan masuk ke esophagus melalui faring yang terdapat di daerah sekitar
insang. Esofagus berbentuk kerucut, pendek, terdapat dibelakang insang dan bila tidak dilalui
makanan lumennya menyempit. Dari kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung,
lambung pada umunya membesar, tidak jelas batasnya dengan usus. Dari lambung makanan masuk
ke usus melalui pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya, usus bermuara di anus. Kelenjar
pencernaan pada ikan, meliputi hati dan pankreas (Syarifuddin, 2009).
Hati merupakan organ yang bersifat sensitif terhadap bahan atau zat yang bersifat toksik. Salah
satu fungsi hati yaitu detoksifikasi, dimana bahan obat maupun bahan yang bersifat toksik, setelah
diabsorbsi di usus halus dan masuk ke dalam peredaran darah kemudian mengalami detoksifikasi
dalam hati membentuk bahan yang tidak toksik dan menjadi lebih polar sehingga mudah untuk
dieksresikan (Rico dkk, 2014)
Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hamper sama dengan ikan, meliputi saluran
pencernaan dan kelenjar pencernaan salah satu binatang amphibi adalah katak makanan katak
berupa hewan-hewan kecil (serangga). Saluran pencernaan katak dimulai dari rongga mulut,
terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah menangkap mangsa, kemudian
ke esophagus yang berupa saluran pendek, kemudian menuju ke lambung yang berbentuk kantung
bila terisi makanan menjadi lebar, menuju usus usus dapat dibedakan usus halus dan tebal. Usus
halus meliputi: duodenum, jejunum, dan ileum, tetapi belum jelas batas-batasnya. Usus tebal
berakhir pada rektum dan menuju kloaka, dan kloaka merupaka muara bersama antara saluran
pencernaan makanan saluran reproduksi, dan urine (Gunarso, 1979)

3
BAB III
METODE

3.1 Waktu dan Tempat


 Praktikum pembedahan kelas pisces dilakukan pada hari Rabu, 04 september 2019
dan dilakukan di Laboratorium biologi Universitas Negeri Medan
 Praktikum pembedahan kelas Amphibi dilakukan pada hari Rabu, 08 september
2019 dan dilakukan di Laboratorium biologi Universitas Negeri Medan
 Praktikum pembedahan kelas Reptil dilakukan pada hari Rabu, 14 september 2019
dan dilakukan di Laboratorium biologi Universitas Negeri Medan
 Praktikum pembedahan kelas Aves dilakukan pada hari Rabu, 18 september 2019
dan dilakukan di Laboratorium biologi Universitas Negeri Medan
 Praktikum pembedahan kelas Mamalia dilakukan pada hari Rabu, 25 september
2019 dan dilakukan di Laboratorium biologi Universitas Negeri Medan

3.2 Alat dan Bahan


 Alat
No Nama Alat Jumlah
1. Gunting Bedah 5 buah
2. Pinset Bedah 5 buah
3. Preparat 2 buah

 Bahan
No Nama Bahan Jumlah
1. Cyprinus carpio 2 ekor
2. Bufo sp. dan Rana sp. 2 ekor
3. Mabouya sp. dan Calotes sp. 2 ekor
4. Gallus-gallus sp. dan Columba livia 2 ekor
5. Cavia cobaya 1 ekor

4
3.4 Metode Pembedahan
 Pada Pisces (Cyprinus carpio)
1. Letakkan preparat diatas bak paraffin, kepala berada disebelah kanan. Fiksasi (tusuk)
sirip punggung dan sirip ekor menggunakan jarum pentul pada bak paraffin agar ikan
berada pada posisi yang aman dan terikat.
2. Kemudian gunting bagian perut, dimulai dari 0,5 cm di depan lubang anus kea rah
dorsocranial hingga mencapai batas operculum. Dari awal yang sama, gunting bagian
ventral lurus kea rah cranial hingga mencapai bagian radii branchistegii.
3. Singkirkan bagian muskuler yang telah digunting. Amati seluruh bagian rongga dalam
tubuhnya terutama organ-organ dan saluran pencernaan.

 Pada Amphibia (Bufo sp. dan Rana sp.)


1. Bius preparat terlebih dahulu dengan cara menusukannya dalam botol bius berisi kapas
yang telah ditetesi ether atau kloroform. Letakkanlah preparat siatas bak paraffin dalam
posisi terlentang. Fiksasi (tusuk) keempat ekstremitasnya menggunakan jarum pentul pada
bak paraffin agar preparat berada pada posisi teap.
2. Kemudian gunting sedikit bagian perut, dimulai dari 0,5 cm di depan lubang anus.
Masukkan bagian ujung tumpul gunting ke dalam lubang tadi, gunting otot perut kea rah
cranial hingga mencapai batas mandibula, buka bagian muskuler yang telah digunting.
3. Amati seluruh bagian rongga dalam tubuh (situs viscerum abdominis dan thoracis)
terutama organ-organ dan saluran pencernaannya.

 Pada Reptilia (Mabouya multifasciata atau Calotes sp.)


1. Bius preparat lebih dahulu dengan cara memasukkannya dalam botol bius berisi kapas yang
telah ditetesi ether atau kloroform. Letakkanlah preparat siatas bak paraffin dalam posisi
terlentang. Fiksasi (tusuk) keempat ekstremitasnya menggunakan jarum pentul pada bak
paraffin agar preparat berada pada posisi yang aman dan terikat.
2. Selanjutnya, gunting sedikit bagian perut, dimulai dari 0.5 cm di depan lubang anus.
Masukkan bagian ujung tumpul gunting ke dalam lubang tadi, gunting bagian otot perut
kearah cranial hingga mencapai batas mandibula.

5
3. Buka bagian muskuler yang telah digunting. Amati seluruh bagian rongga dalam tubuh
(Situs viscerum abdominis dan thoracis)

 Pada Aves (Columba livia dan Gallus-gallus sp.)


1. Bius preparat terlebih dahulu dengan cara memasukkannya dalam botol bius berisi kapas
yang telah ditetesi ether atau kloroform. Dapat juga preparat disembelih, namun hal ini
mengakibatkan esophagus dan trachea terputus. Letakkan preparat diatas bak paraffin
dalam posisi terlentang. Fiksasi (tusuk) keempat ekstremitasnya jika perlu.
2. Selanjutnya basahi bulu-bulu dibagian perutnya hingga ke leher, agar pada waktu dicabut
dan dibersihkan tidak beterbangan. Cabut bulu di daerah perutt dan leher hingga tampak
permukaan kulitnya.
3. Buka kulit di bagian perut, dimulai dari 0,5 cm di depan lubnag anus ke arah cranial hingga
mencapai batas mandibular. Hati-hati menggunting di daerah ingluvies (tembolok).
4. Buka bagian muskuler berikut sternum et cingulum pectoral dengan cara mengguntingnya
ke arah kedua sisi tubuh, (situs viscerum abdominis et thorachis) dpaat diamati organ-organ
pencernaan dan saluran pencernaannya.

 Pada Mamalia (Cavia cobaya)


1. Bius preparat terlebih dahulu dengan cara memasukkannya ke dalam botol bius berisi
kapas yang ditetsi ether atau kloroform. Dapat juga preparat di putar lehernya untuk
mematahkan batang otak atau ditusuk tepat dibelakang kepala menggunakan sonde.
Namun cara ini tidak terlalu dianjurkan. Lletakkan preparat diatas bak paraffin dalam posisi
terlentang. Fiksasi (tusuk) keempat ekstremitasnya bila perlu.
2. Selanjutnya basahi rambut bagian perut hingga ke leher, agar pada waktu dicabut dan
dibersihkan tidak beterbangan.
3. Buka kulit di bagian perut dimulai dari 0,5 cm di depan lubang anus ke arah cranial hingga
mencapai batas mandibular. Buka bagian muskuler sepanjang abdomen dan thorax, amati
rongga dalam bagian tubuh (situs viscerum abdominis et thoracis) terutama organ-organ
dan saluran pencernaannya.

6
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
a) Organ pencernaan pada Pisces (Cyprinus carpio)

Gambar 1.1 Hasil pengamatan organ pencernaan Cyprinus carpio

Keterangan:
1. Cavum Oris (Rongga Mulut)
2. Esophagus (Kerongkongan)
3. Ventricculus (Lambung)
4. Intestenum (Usus)
5. Anus
6. Hepar (Hati)
7. Vesica Fellea (Kantung Empedu)

7
b) Organ pencernaan pada Amphibi (Rana sp. Dan Bufo sp.)

Gambar 1.2 Hasil pengamatan organ pencernaan Rana sp.

Keterangan :
1. Cavum oris (rongga mulut)
2. Pharynx (pangkal tenggorokan)
3. Esophagus (kerongkongan)
4. Ventriculus (lambung)
5. Intestenum (usus)
6. Cloaca
7. Hepar (hati)
8. Vesica fellea (kantung empedu)
9. Pancreas (pancreas)
10. Ductus Choledocus

8
c) System pencernaan pada Reptil (Mabouya multifasciata atau Calotes sp.)

Gambar 1.3 Hasil pengamatan organ pencernaan Mabouya multifasciata

Keterangan:
1. Cavum Oris (rongga mulut)
2. Pharynx (pangkal tenggorokan)
3. Esophagus (kerongkongan)
4. Vemtriculus (lambung)
5. Intestenum (usus)
6. Hepar (hati)
7. Vesica fellea (kantung empedu)
8. Pancreas (pancreas)

9
d) System pencernaan pada Aves (Columba livia dan Gallus-gallus sp.)

Gambar 1.4 Hasil Pengamatan organ pencernaan Gallus-gallus sp.


Keterangan:
1. Rostrum (paruh)
2. Cavum oris (rongga mulut)
3. Esophagus (kerongkongan)
4. Ingluvies (tembolok)
5. Proventriculus (lambung kelenjar)
6. Ventriculus (lambung)
7. Intestenum tenue (usus halus)
8. Coeca (sepasang usus buntu)
9. Intestenum crasum (usus besar)
10. Hepar (hati)
11. Vesica fellea (kantung empedu)
12. Pancreas (pancreas)

10
e) System pencernaan pada Mamalia (Cavia cobaya)

Gambar 1.5 hasil pengamatan organ pencernaan Cavia cobaya


Keterangan:
1. Rima oris (celah mulut)
2. Cavum Oris (rongga mulut)
3. Dentes (gigi)
4. Esophagus (kerongkongan)
5. Ventriculus (lambung)
6. Intestenum Tenue (usus halus)
7. Coecum (usus buntu)
8. Intestenum crissum (usus besar)
9. Anus
10. Glandula salivales (kelenjar liur)
11. Hepar (hati)
12. Vesica fellea (kantung empedu)
13. Pancreas (pancreas)

11
4.2 Pembahasan
a) Sistem pencernaan Pisces pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)
Phyllum : Chordata
Subphyllum : Vertebrata
Classis : Osteichtyes
Ordo : Ostapriophysi
Familia : Cyprinidae
Genus : Cyprinus
Spesies : Cyprinus carpio

Saluran pencernaan pada ikan mas (Cyprinus carpio) dimulai dari rongga mulut. Di
dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah
dan lidah pada dasar mulut yang tidak dapat digerakan serta banyak menghasilkan lendir,
tetapi tidak menghasilkan ludah (enzim). Dari rongga mulut makanan masuk ke esophagus
melalui faring yang terdapat di daerah sekitar insang. Esofagus berbentuk kerucut, pendek,
terdapat di belakang insang, dan bila tidak dilalui makanan lumennya menyempit. Dari
kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung, lambung pada umumnya membesar,
tidak jelas batasnya dengan usus. Pada beberapa jenis ikan, terdapat tonjolan buntu untuk
memperluas bidang penyerapan makanan. Dari lambung, makanan masuk ke usus yang
berupa pipa panjang berkelok-kelok dan sama besarnya bermuara pada anus.
Kelenjar pencernaan pada ikan, meliputi hati dan pankreas. Hati merupakan kelenjar
yang berukuran besar, berwarna merah kecoklatan, terletak di bagian depan rongga badan
dan mengelilingi usus. Fungsi hati menghasilkan empedu yang disimpan dalam kantung
empedu untuk membantu proses pencernaan lemak. Kantung empedu berbentuk bulat,
berwarna kehijauan terletak di sebelah kanan hati, dan salurannya bermuara pada lambung.
Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan empedu. Fungsi pankreas, antara lain
menghasilkan enzim-enzim pencernaan dan hormon insulin (Gunarso, 1979)

b) Sistem pencernaan Amphibi pada Katak (Rana cancarivora)


Phyllum : Chordata
Subphyllum : Vertebrata
Superclassis : Tetrapoda
Classis : Amphibia

12
Ordo : Anura
Subordo : Phaneroglossa
Familia : Ranidae
Genus : Rana
Spesies : Rana sp

Sistem pencernaan makanan pada amfibi, hamper sama dengan ikan, meliputi saluran
pencernaan dan kelenjar pencernaan salah satu binatang amphibi adalah katak makanan
katak berupa hewan-hewan kecil (serangga). Saluran pencernaan katak dimulai dari rongga
mulut, terdapat gigi berbentuk kerucut untuk memegang mangsa dan lidah menangkap
mangsa, kemudian ke esophagus yang berupa saluran pendek, kemudian menuju ke
lambung yang berbentuk kantung bila terisi makanan menjadi lebar, menuju usus usus
dapat dibedakan usus halus dan tebal. Usus halus meliputi: duodenum, jejunum, dan ileum,
tetapi belum jelas batas-batasnya. Usus tebal berakhir pada rektum dan menuju kloaka, dan
kloaka merupakan muara bersama antara saluran pencernaan makanan saluran reproduksi,
dan urine.
Kelenjar pencernaan pada amphibi, terdiri atas hati dan pancreas. Hati berwarna merah
kecoklatan, terdiri atas lobus kanan yang terbagi lagi menjadi dua lobus. Hati berfungsi
mengeluarkan empedu yang disimpan dalam kantung empedu yang berwarna kehijauan.
Pankreas berwarna kekuningan, melekat diantara lambung dan ususdua belas jari
(duodenum). Pancreas berfungsi menghasilkan enzim dan hormone yang bermuara pada
duodenum (Syarifuddin, 2006).

c) Sistem pencernaan Reptil pada Kadal (Mabouya multifasciata)


Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Reptilia
Ordo : Squamata
Family : Scincidae
Genus : Mabouya
Species : Mabouya multifasciata

13
Saluran pencernaan pada kadal (Mabouya multifasciata) dimulai dari rongga mulut. Di
dalam rongga mulut terdapat gigi-gigi kecil yang berbentuk kerucut pada geraham bawah
dan memiliki lingua bifida, palatum membentuk alur longitudinal. Dari rongga mulut
makanan masuk ke esophagus melalui faring. Esofagus relative panjang. Dari
kerongkongan makanan di dorong masuk ke lambung, lambung terdiri dari cardia dan
pylorus. Dari lambung, makanan masuk ke usus yang berupa pipa panjang berkelok-kelok,
direkatkan oleh mensentrium. Pada intestenum dibedakan menjadi intestenum tenue (usus
halus, kecil memanjang) dan intestenum crasum (usus besar) berukuran lebih tebal dan
gela warnanya. Anatra usus halus dan usus besar terdapat tonjolan usus yang disebut
coecum, kemudian bermuara pada cloaca.
Kelenjar pencernaan pada ikan, meliputi hati, vessica fellea, pancreas dan ductus
choledocus. Hati merupakan kelenjar yang berukuran besar, berwarna merah kecoklatan,
terletak di bagian depan rongga badan dan mengelilingi usus. Fungsi hati menghasilkan
empedu yang disimpan dalam kantung empedu untuk membantu proses pencernaan lemak.
Kantung empedu berbentuk bulat, berwarna kehijauan terletak di sebelah kanan hati, dan
salurannya bermuara pada lambung. Kantung empedu berfungsi untuk menyimpan
empedu. Fungsi pankreas, antara lain menghasilkan enzim-enzim pencernaan dan hormon
insulin (Gunarso, 1979)

d) Sistem pencernaan aves pada merpati (Gallus-gallus sp.)


Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Aves
Ordo : Columbae
Family : Galliformes
Genus : Gallus
Species : Gallus-gallus sp.

Organ pencernaan pada ayam terbagi atas saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan.
Makanan bukung bervariasi berupa biji-bijian, hewan kecil, dan buah-buahan. Saluran
pencernaan burung dimulai dari paruh yang merupakan modifikasi gigi, rongga mulut

14
terdiri atas rahang atas yang merupakan penghubung antara rongga mulut dan tanduk.
Kemudian menuju faring berupa saluran pendek, esophagus pada ayam terdapat pelebaran
pada bagian ini disebut tembolok, berperan sebagai tempat penyimpanan makanan yang
dapat diisi dengan cepat. Kemudiang menuju ke lambung, lambung terdiri atas
proventrikulus (lambung kelenjar) banyak menghasilkan enzim pencernaan, dinding
ototnya tipis. Ventrikulus (lambung pengunyah), ototnya berdinding tebal. Pada burung
pemakan biji-bijian terdapat kerikil dan pasir yang tertelan bersama makanan. Kemudian
makanan menuju usus yang terdiri dari usus halus dan usus tebal yang bermuara pada
kloaka (Syarifuddin, 2006: 172).

e) Sistem pencernaan pada mamalia pada Marmut (Cavia cobaya)


Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Family : Caviidae
Genus : Cavia
Species : Cavia cobaya

Tidak berbeda dengan hewan sebelumnya, letak perbedaan hanya pada struktur
giginya, pada mencit makanan di kunyah kemudian masuk ke dalam mulut, kemudian
menuju kerongkongan dari kerongkongan makanan menuju lambung, pada lambung proses
fermentasi atau pembusukan makanan dilakukan oleh bakteri terjadi pada sekum yang
banyak mengandung bakteri. Kemudian meuju ke usus dan bermuara pada anus
(Syarifuddin, 2006: 169).

15
BAB V
KESIMPULAN
Pada pengamatan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa Sistem pencernaan adalah sistem saluran
yang dimulai dari mulut, faring, kerongkongan (esofagus), lambung. Usus halus, usus besar, dan
anus. Bagian atau organ ini adalah organ yang secara umum merupakan saluran pencernaan.
Sistem pencernaan berfungsi mencerna makanan sehingga dapat dimanfaatkan oleh tubuh sebagai
energi dalam melaksanakan aktifitas
Perbedaan yang mendasar struktur organ pencernaan pada berbagai tingkatan klasis hewan
Antara lain pada kelas pisces dari intestenum langsung menuju anus sedangkan pada kelas ampibi
dari intestenum menuju cloaca, yaitu muara bersama saluran makanan, saluran kencing dan saluran
kelamin kemudian baru ke anus. Kemudian kelenjar pencernaan pada kelas pisces hanya ada hepar,
vesica fellea dan pancreas. Sedangkan pada kelas amphibi terdapat penambahan ductus choledocus
yaitu saluran bersama yang bermuara di duodenum. Struktur organ pencernaan pada kelas amphibi
pada intestenumnya dapat dibedakan menjadi intestenum tenue dan intestenum crasum begitu pula
pada kelas reptile hanya saja pada kelas reptile terdapat tonjolan usus yang disebut coecum.
Berbeda dari kelas yang lain, struktur organ pencernaan pada kelas aves dimulai dari rostrum
(paruh), kemudian juga terdapat ingluvies yang merupakan pelebaran dari esophagus dan
berfungsi sebagai reservoir makanan. Terdapat proventriculus (lambung kelenjar) yang berfungsi
sebagai tempat mencampur makanan dengan saliva. Sedangkan pada kelas mamalia tidak ada
perbedaan berarti terhadap kelas lainnya. Yang membedakan adalah pada kelenjar pencernaannya
terdapat glandula salives (kelenjar ludah) dan glandula mucosae yang terdapat di ventriculus.

16
DAFTAR PUSTAKA

Evelyn, C., Pearce. (2008). Anatomi dan fisiologi untuk para medis. Jakarta: PT Gramedia

Gunarso, Wisnu. (1979). Dasar-Dasar Histologi. Jakarta: Erlangga

Haraningtias dkk. (2018). Anatomi Dan Biometri Sistem Pencernaan Ikan Air Tawar Famili
Cyprinidae Di Telaga Ngebel Ponorogo. Prosiding seminar Nasional
Irianto, A. (2004). Pengantar Pangan dan Gizi, Jakarta: Penebar Swadaya

K, Putu. (2009). Pemanfaatan Mikroorganisme Sebagai Probiotik Untuk Meningkatkan Produksi


Ternak Unggas Di Indonesia, Jurnal: Pengembangan Inovasi Pertanian, Vol 2(3)
Rico dkk. (2014). Gambaran Histopatologi Hati Tikus Wistar Yang Diberikan Boraks, Jurnal: e
biomedik, Vol 2(3)

Syarifudin, A. (2009). Metode Penelitian, Jakarta : Pustaka Pelajar

17
LAMPIRAN

Gambar 1.6 hasil pembedahan pada Cyprinus cario

Gambar 1.7 hasil pembedahan pada Rana sp.

18
Gambar 1.8 pembedahan pada Maboya multifusciata

Gambar 1.9 pembedahan pada Gallus-gallus sp.

19
Gambar 1.10 pembedahan pada Cavia cobaya

20