Anda di halaman 1dari 9

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Kami
panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayahnya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Tutorial Psikososial
dalam Budaya Keperawatan ini.

Dalam penyusunannya, kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing kami


yang telah memberikan dukungan,kasih,dan kepercayaan yang begitu besar. Meskipun kami
berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun pasti selalu ada
kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
makalah ini dapat lebih baik lagi.

Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih dan memohon maaf apabila ada
kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini. Semoga hasil makalah ini dapat bermanfaat
bagi yang membacanya.

Jakarta, 12 September 2019

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. 1


DAFTAR ISI................................................................................................................................................ 2
STUDI KASUS 1 ......................................................................................................................................... 3
I. SKENARIO.......................................................................................................................................... 3
II. KLARIFIKASI ISTILAH ................................................................................................................. 3
III. IDENTIFIKASI MASALAH........................................................................................................... 3
IV. ANALISIS MASALAH .................................................................................................................... 4
V. HIPOTESIS ........................................................................................................................................ 5
VI. MERUMUSKAN KETERBATASAN DAN LEARNING ISSUES ............................................. 5
VII. SINTESIS MASALAH ................................................................................................................... 6
VIII. KESIMPULAN .............................................................................................................................. 8
IX. DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................... 9
STUDI KASUS 2 .......................................................................................... Error! Bookmark not defined.
I. SKENARIO........................................................................................... Error! Bookmark not defined.
II. KLARIFIKASI ISTILAH ................................................................. Error! Bookmark not defined.
III. DENTIFIKASI MASALAH ............................................................. Error! Bookmark not defined.
IV. ANALISIS MASALAH ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
V. HIPOTESIS ......................................................................................... Error! Bookmark not defined.
VI. MERUMUSKAN KETERBATASAN DAN LEARNING ISSUESError! Bookmark not defined.
VII. SINTESIS MASALAH .................................................................... Error! Bookmark not defined.
VIII. KESIMPULAN ............................................................................... Error! Bookmark not defined.
IX. DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ Error! Bookmark not defined.
STUDI KASUS 1

I. SKENARIO

Seorang wanita berusia 40 tahun di diagnosa menderita Ca Mamae. Seminggu yang


lalu, klien menjalani mastektomi pada payudara kirinya. Sejak saat itu klien tampak
lebih pendiam dan jarang berbicara. Pandangan klien selalu terarah ke sebelah kanan.
Klien tidak mau menoleh ke sebelah kiri karena tidak mau melihat payudaranya yang
telah diangkat. Klien mengatakan ia merasa menjadi orang yang tidak sempurna
karena kehilangan bagian tubuh yang paling berharga sebagai wanita.

II. KLARIFIKASI ISTILAH


1. Ca = istilah anatomi yang berarti kanker.
2. Mamae = istilah anatomi yang berarti payudara.
3. Mastektomi = istilah medis yang berarti operasi pengangkatan payudara.
4. Ca mamae = istilah medis yang berarti kanker payudara.

III. IDENTIFIKASI MASALAH


1. Seorang wanita berusia 40 tahun di diagnosa menderita Ca Mamae.
2. Setelah klien menjalani mastektomi pada payudara kirinya, klien tampak lebih
pendiam dan jarang berbicara.
3. Pandangan klien selalu terarah ke sebelah kanan dan tidak mau menoleh ke
sebelah kiri karena tidak mau melihat payudaranya yang telah diangkat.
4. Klien merasa menjadi orang yang tidak sempurna karena kehilangan bagian tubuh
yang paling berharga sebagai wanita.
Berdasarkan skenario yang didapatkan, kelompok menyimpulkan bahwa klien
tersebut mengalami masalah keperawatan sebagai berikut :
1. Gangguan citra tubuh.
2. Harga diri rendah (situasional).
3. Berduka.
Berdasarkan masalah keperawatan di atas, kelompok kami memutuskan bahwa harga
diri rendah (situasional) adalah masalah utama yang di alami klien.
IV. ANALISIS MASALAH

Ca. Mamae Mastektomi

Definisi : tumor ganas yang Definisi : operasi pengangkatan


terbentuk di jaingan payudar. payudara, tidak hanya dilakukan
Tumor ganas merupakan kumpulan untuk penderita ca. mamae.
sel kanker yang berkembang secara Namun juga bisa dilakukan
cepat ke jaringan disekitarnya. Sel Pasien dengan Ca. Mamae sebagai tindakan pencegahan
kanker dapat terbentuk di jaringan yang dilakukan mastektomi guna menekan resiko
lemak didalam payudara, kelenjar munculnya penyait tersebut.
susu (lobus) atau saluran susu
(duktus)

3. Berduka.
1. Gangguan citra tubuh.
Definisi: respon psikososial
Definisi: perubahan persepsi
yang ditunjukkan oleh klien
tentang penampilan, struktur, 2. Harga diri rendah (situasional).
akibat kehilangan (orang,
dan fungsi fisik individu.
Definisi : evaluasi atau perasaan objek, fungsi, status, bagian
Penyebab : perubahan
negative terhadap dri sendiri atau tubuh yang hilang atau
struktur/bentuk benda (misal
kemampuan klien sebagai respon hubungan).
amputasi, trauma, luka bakar,
terhadap situasi saat ini. Penyebab : kematian
obesitas), perubahan fungsi
keluarga tau orang yang
tubuh (missal proses penyakit, Penyebab : perubahan pada citra
berarti, antisipasi kematian,
kehamilan, kelumpuhan), tubuh, perubahan peran sosial,
kehilangan (objek, fungsi,
perubahan fungsi kongnitif, ketidakadekuatan pemahaman,
status, pekerjaan, bagian
gangguan psikososial, efek riwayat kehilangan, perilaku tidak
tubuh, hubungan sosial),
tindakan/ pengobatan (misal konsisten dengan nilai, transisi
antisipasi kehilangan
pembedahan, kemoterapi, terapi perkembangan.
(objek, fungsi, status,
radiasi)
pekerjaan, bagian tubuh,
hubungan sosial)

Depresi
Fisik atau cedera
Pasien berada dalam fase depresi dengan ciri menarik diri,
pasien tampak lebih pendiam dan jarang berbicara, klien Pasien mengalami kanker payudara
tidak mau melihat kearah sebelah kiri dimana payudaranya sebelah kiri yang mengharuskan
telah diangkat, klien juga mengatakan ia merasa menjadi dilakukannya pengangkatan
orang yang tidak sempurna karena kehilangan bagian tubuh payudara melalui tindakan
yang paling berharga mastektomi
V. HIPOTESIS
Berdasarkan skenario yang didapat, kelompok merumuskan beberapa hipotesis antara
lain :
1. Klien merasa harga dirinya rendah karena ia telah kehilangan salah satu
bagian tubuhnya yang paling berharga dalam hidupnya.
2. Klien merasa sedih karena mastektomi yang telah dijalaninya membuat ia
merasa menjadi wanita yang tidak sempurna.
3. Klien merasa sedih dan takut dengan keadaannya yang sekarang ini dapat
memungkinkan bahwa suaminya dapat meninggalkan dirinya.
4. Klien bingung merasa tidak tahu bagaimana bercerita tentang kesedihannya
kepada keluarga, teman terdekat, ataupun perawat yang merawat dirinya
sehingga pasien hanya berdiam diri menyimpan kesedihannya.

VI. MERUMUSKAN KETERBATASAN DAN LEARNING ISSUES


Pokok Bahasan What I know What I don’t What I have to How I will
know prove learn
Klien Depresi adalah Karakteristik Mencari tahu Jurnal
mengalami kondisi yang pasien dengan apa saja penelitian.
beberapa digambarkan harga diri karakteristik
masalah antara sebagai suatu rendah pasien dengan
lain gangguan kelainan mood (situasional). harga diri
citra tubuh, yang rendah dan apa
harga diri menyebabkan saja yang
rendah perasaan sedih sesuai antara
(situasional), dan hilang teori dan
dan berduka minat yang pasien.
yang menetap.
mengakibatkan
klien
mengalami
depresi.
VII. SINTESIS MASALAH
Berdasarkan skenario yang didapat, dan hasil dari identifikasi masalah yang dialami
oleh klien, klien mengalami beberapa masalah yang mengakibatkan klien mengalami
depresi salah satunya adalah harga diri rendah (situasional). Ada beberapa
karakteristik klien dengan harga diri rendah (situasional), antara lain sebagai berikut :
1. Usia
Pasien dengan diagnosa harga diri rendah situasional sebagian besar berada
pada rentang usia dewasa, tepatnya usia 41 tahun. Semakin meningkat usia
seseorang semakin mengarahkan pada peran rasa tanggung jawab dan
hubungannya dengan orang lain dan semakin peka terhadap kebutuhan orang lain.
Berdasarkan tugas perkembangan yang harus dipenuhi pada usia ini adalah
melibatkan diri dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan pekerjaan. Pada usia
ini produktifitas manusia berada pada level yang optimal. Kegagalan memenuhi
tugas perkembangan pada usia ini menyebabkan timbulnya rasa frustasi yang
dapat mengakibatkan harga diri rendah. Ini sesuai dengan yang dikemukakan
Boyd dan Nihart (1998), orang dewasa yang berusia 25 – 44 tahun beresiko lebih
tinggi mengalami depresi. Dimana salah satu diagnosa keperawatan pada pasien
depresi adalah harga diri rendah. Jadi pasien dewasa berusia 25 – 44 tahun juga
beresiko tinggi mengalami harga diri rendah situasional.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa umur berpengaruh terhadap
kemampuan seseorang melakukan perannya dalam kehidupan sosial, karena umur
seseorang diantaranya dapat menunjukkan maturitas/kematangan seseorang
dalam berpikir dan bertindak (berperilaku) dalam hubungannya dengan orang
lain. Sehingga jika individu tidak mampu melakukan perannya di kehidupan
sosial dan tidak mampu menunjukan maturitas/ kematangan dapat mengakibatkan
individu mengalami harga diri rendah sesuai dengan situasi tersebut.
2. Jenis kelamin
Salah satu diagnosa keperawatan pada pasien dengan depresi adalah harga diri
rendah. Depresi kebanyakan dialami pada wanita. Ini sesuai dengan yang
dikemukakan Sosrosumihardjo (2007 dalam Hapsari 2007), kemungkinan wanita
mengalami depresi satu setengah kali sampai dua kali dibandingkan pria.
Berdasarkan atas definisi tersebut wanita memiliki kemungkinan mengalami
harga diri rendah karena penyakit fisik yang dialaminya.
3. Pendidikan
Tingkat pendidikan pada sebagian besar pasien yang didiagnosa harga diri
rendah situasional adalah SMP (36,36%). Pendidikan menjadi suatu tolok ukur
kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain secara efektif. Faktor
pendidikan mempengaruhi kemampuan seseorang dalam menyelesaikan masalah
yang dihadapinya. Pendidikan cenderung memberikan arah bagaimana seseorang
menyelesaikan masalah secara rasional di samping aspek emosionalnya, misalnya
mengambil keputusan untuk mencari bantuan dalam menyelesaikan masalahnya.
Pasien yang memiliki diagnosa harga diri rendah situasional ini sebagian besar
memiliki latar belakang pendidikan rendah sehingga memiliki sumber koping
yang kurang baik dalam menghadapi masalah. Jika dikaitkan dengan temuan di
atas, hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan rendah mendukung
terjadinya perilaku harga diri rendah karena sebagian besar pasien mengalami
penyakit fisik yang mengharuskan untuk dirawat yang menganggap bahwa
dirinya lemah, tidak berdaya karena proses penyakitnya, merasa tidak berguna,
tidak mampu berperan seperti sebelumnya, pikiran yang muncul berfokus kepada
pikiran negatif ditambah lagi karena sebagian besar berpendidikan rendah
sehingga mekanisme yang keluar adalah koping yang buruk, yang mengakibatkan
mereka merasa rendah diri karena kondisinya tersebut.
4. Pekerjaan
Sebagian besar pasien mempunyai riwayat tidak bekerja sebelum mengalami
sakit (57,57%). Menurut Hawari (2007) masalah pekerjaan merupakan sumber
stres pada diri seseorang yang bila tidak dapat diatasi dapat menyebabkan
seseorang jatuh sakit. Pekerjaan seseorang terkait erat dengan status sosial
ekonomi yang bersangkutan. Masalah yang ditemukan pada pasien harga diri
rendah situasional terkait dengan pekerjaan adalah adanya perasaan tidak mampu,
merasa diri bodoh, merasa tidak ada orang lain yang peduli dan tidak memiliki
ketrampilan serta tidak memiliki penghasilan. Analisa sesuai yang diatas terhadap
pasien harga diri rendah situasional bahwa memiliki pekerjaan identik dengan
keberhasilan dalam memperoleh keuangan secara mandiri.
5. Perkawinan
Pasien dengan diagnosa harga diri rendah situasional yang dikelola sebagian
besar (57,57%) menikah dan memiliki pasangan. Hawari (2007) menyatakan
bahwa berbagai permasalahan perkawinan merupakan sumber stres yang dialami
seseorang. Friedman (2010) menjelaskan bahwa terdapat 5 (lima) fungsi dalam
sebuah keluarga, yaitu fungsi afektif, fungsi sosialisasi dan penempatan sosial,
fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, serta memberikan pelayanan kesehatan bagi
seluruh anggota keluarga. Berbagai fungsi keluarga ini merupakan stresor setiap
orang yang berkeluarga sehingga ketidakmampuan dalam melaksanakan fungsi
tersebut menyebabkan terjadinya harga diri rendah.
Harga diri rendah yang dialami seseorang dapat menyebabkan seseorang
menjadi enggan berinteraksi dengan orang lain karena merasa tidak percaya diri.
Selain itu pasien yang memiliki karakteristik status perkawinan sudah menikah
(kawin) lebih berisiko terjadinya perilaku harga diri rendah. Hal ini terkait dengan
adanya ketegangan peran atau konflik tidak mampu menjalankan peran karena
mengalami keterbatasan/kelemahan fisik akibat penyakit fisik.
6. Lama Rawat dan Frekuensi Masuk Rumah Sakit
Roy (2008) menyatakan bahwa frekuensi dan lama rawat merupakan stimulus
kontekstual yang mempengaruhi kemampuan mous adaptasi pasiendalam
berperilaku. Rawat berulang merupakan stimulus residual bagi pasien karena
masih ada persepsi dan penilaian masyarakat tentang keparahan penyakit fisik
dan berhubungan dengan beban care giver dalam merawat pasien. Stimulus ini
mempengaruhi kemampuan adaptasi pasien terutamam subsistem kognator,
sehingga pasien mengalami gangguan konsep diri yaitu harga diri rendah
situasional. Stuart dan Laraia (2005) menyatakan bahwa waktu atau lamanya
terpapar stresor, yakni terkait sejak kapan, sudah berapa lama, dan berapa kali
kejadian (frekuensi) akan memberikan dampak adanya keterlambatan dalam
mencapai kemampuan dan kemandirian.
Berdasarkan teori, klien dalam skenario memiliki tiga karakteristik dari enam
karakteristik diantaranya usia, jenis kelamin, dan perkawinan.

VIII. KESIMPULAN
Dari hasil tutorial yang telah dilakukan oleh kelompok, kelompok dapat
menyimpulkan bahwa dari kasus skenario 1 klien mengalami beberapa masalah
terkait psiko-sosialnya. Klien merupakan seorang wanita berusia 40 tahun yang di
diagnosa mengalami Ca Mamae dan harus dilakukan tindakan mastektomi. Setelah
dilakukan tindakan mastektomi, klien tampak lebih pendiam dan jarang bicara.
Pandangan klien juga selalu terarah ke sebelah kanan dan tidak mau menoleh ke
sebelah kiri karena tidak mau melihat payudaranya yang telah diangkat serta klien
merasa menjadi orang yang tidak sempurna karena kehilangan bagian tubuh yang
paling berharga sebagai wanita.
Berdasarkan hal tersebut, terdapat 3 kemungkinan masalah yang dialami klien
yaitu gangguan citra tubuh, harga diri rendah (situasional), dan berduka. Namun,
masalah yang dapat diangkat menjadi masalah utama yaitu adalah harga diri rendah
(situasional).
Ada beberapa karakteristik klien dengan harga diri rendah (situasional) yaitu antara
lain usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, perkawinan, lama rawat serta
frekuensi masuk rumah sakit. Dari beberapa karakteristik tersebut, klien dalam
skenario memiliki 3 karakteristik diantaranya usia, jenis kelamin, dan perkawinan.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Nauli, Fathra Annis. 2012. Manajemen Spesialis Keperawatan Jiwa Pada Pasien
Harga Diri Rendah Situasional Dengan Pendekatan Model Adaptasi Roy Di RSUP
Persahabatan Jakarta. Jurnal Penelitian. Universitas Indonesia.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20358596-TA-Fathra%20Annis%20Nauli.pdf