Anda di halaman 1dari 10

Lampiran 101 Model Pembelajaran

MODEL PEMBELAJARAN 1-15


Model pembelajaran merupakan suatu kerangka berpikir yang dipakai sebagai panduan
untuk melaksanakankegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan tertentu .
Macam model pembelajaran meliputi :

1. Pembelajaran Kontekstual ( Contextual Teaching Learning/ CTL)


Pembelajaran Kontekstual adalah konsep pembelajaran yang mendorong guru
untuk menghubungkan antara materi yang diajarkan dan situasi dunia nyata peserta
didik. Dan juga mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Langkah-langkah Pembelajaran Kontekstual ;
a. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna
dengan cara bekerja sendiri dan mengkons-truksikan sendiri pengetahuan
dan keterampilan barunya.
b. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan Inkuiri (menemukan) untuk
semua topik.
c. Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya.
d. Ciptakan masyarakat belajar ( belajar dalam kelompok-kelompok).
e. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
f. Lakukan refleksi di akhir penemuan.
g. Lakukan penilaian nyata /yang sebenarnya dengan berbagai cara.
2. Pembelajaran Kooperatif (Cooperatif Learning)
Pembelajaran kooperatif, merupakan model pembelajaran dengan peserta didik
bekerja sama dalam kelompok kecil yang memiliki kemampuan heterogen. Mereka
saling membantu menyelesaikan permasalahan danmenerapkan pengetahuan dan
keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran kooperatif dilaksanakan mengikuti tahapan-tahapan sebagai
berikut :
a. Menyampaikan tujuan pembelajaran dan perlengkapan pembelajaran.
b. Menyampaikan informasi.
c. Mengorganisasikan peserta didik ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d. Membantu peserta didik belajar dan bekerja dalam kelompok.
e. Evaluasi atau memberikan umpan balik.
f. Memberikan penghargaan.
3. Belajar Memecahkan Masalah Dan Penemuan (Problem Solving, Discovery
Inquiri)
Model pembelajaran ini menerapkan pendekatan berbasis masalah (problem-based
approach). Kegiatan pembelajaran model ini dengan jalan melatih peserta didik menghadapi
berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk
dipecakan sendiri atau secara bersama-sama.
Strategi instruksional yang digunakan dalam model ini, pada dasarnya bertolak dari
esensi strategi :
a. Problem Solving Learning (Belajar Pemecahan Masalah)
b. Discovery Learning (Belajar Penemuan ; menekankan pada pemecahan masalah)
c. Inquiry Learning (Belajar Inquiri ; menekankan pada proses investigasi masalah)
Dalam hal ini ditetapkan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi Masalah Kebijakan Publik Dalam Masyarakat
b. Memilih Suatu Masalah Untuk Dikaji Oleh Kelas
c. Mengumpulkan Informasi Yang Terkait Pada Masalah Itu
d. Mengembangkan Portofolio Kelas
e. Menyajikan Portofolio
f. Melakukan Refleksi Pengalaman Belajar
4. Pembelajaran BerbasisMasalah (Problem Based Learning)
Pembelajaran Berbasis Masalah adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan
peserta didik untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga
peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan
sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan masalah. Problem Based Learning
memadukan berbagai disiplin ilmu dalam memecahkanmasalah.
Langkah-langkah model Pembelajaran Berbasis Masalah:
a. Orientasi peserta didik kepada masalah
b. Mengorganisasikan peserta didik untuk belajar (mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah)
c. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok
d. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya (seperti laporan video dan model)
e. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Macam-Macam Pembelajaran Berdasarkan Masalah :
1) Pembelajaran Berdasarkan Proyek (Project-Based Learning) melalui proyek
tertentu
2) Pembelajaran Berdasarkan Pengalaman (Experience-Based Learning) melalui
praktik kerja terstruktur dan penempatan kerja
3) Belajar Otentik (Authentic Learning) melalui tugas-tugas otentik.
4) Pembelajaran Bermakna (Anchored Instruction) melalui kegiatan bermakna
5) Pembelajaran Berbasis Kerja (Work Based Learning) merasakan dunia kerja
5. Resource based learning (Pembelajaran Berbasis Sumber) Terdiri atas :
a. Open Learning (Belajar Terbuka) Belajar yang bebas dalam hal waktu, tempat,
langkah, cara belajar serta terbuka bagi semua orang, semuaumur tanpa terkecuali
b. Distance Learning (Belajar Jarak Jauh) Belajar dimana terdapat jarak antara
peserta didik dengan penyaji materi belajar. Sumber belajar yangdigunakan bisa
berupa buku, video, komputer, dll
c. Fleksible Learning (Belajar Fleksibel) Cara belajar dengan segala bentuk
sumber belajar untuk tujuan tertentu.
6. Quantum Learnuing
Pembelajaran Quantum merupakan pembelajaran dengan menciptakan interaksi
didalam dan disekitar momen belajar yang menyenangkan, konstruktif, komunikatif,
bermakna, serta mengedepankan unsur :kebebasan, santai, menakjubkan, menggairahkan.
Prinsip Pembelajaran Quantum :
a. Bawalah dunia mereka (pembelajar) ke dalam dunia kita (pengajar), dan antarkan
dunia kita (pengajar) kedalam dunia mereka (pembelajar)
b. Segalanya berbicara (semua hal mengirimkan pesan pembelajaran)
c. Segalanya betujuan (semua yang terjadi dalam proses pengubahan mempunyai
tujuan)
d. Berangkat dari pengalaman
e. Hargai setiap usaha yang dilakukan dalam pembelajaran
f. Rayakan setiap keberhasilan.
Kerangka pembelajaran quantum menggunakan konsep TANDUR yang merupakan
akronim dari :
Tumbuhkan : minat dengan mengatakan “Apa manfaatnya bagiku?
Alami : ciptakan pengalaman umun yang dapat dimengerti semua peserta didik
Namai : sediakan kata kunci, konsep, model, rumus, strategi, sebuah masukan
Demonstrasikan : sediakan kesempatan peserta didik untuk menunjukkan bahwa
mereka tahu.
Ulangi : tunjukkan kepada peserta didik cara mengulang materi dan menegaskan “aku
tahu bahwa aku memang tahu.
Rayakan : pengakuan untuk suatu penyelesaian, partisipasi, dan pemerolehan
pengetahuan dan ketrampilan.

7. Model pembelajaran langsung


Pembelajaran langsung atau direct instruction dikenal dengan sebutan active teaching
ataujuga whole classteaching. Penyebutan tersebut mengacu pada gaya mengajar dimana
guru terlibat aktif dalam mengusung isi pembelajaran kepada peserta didik dan
mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas.
Ciri-Ciri pada Pembelajaran Langsung;
Model pembelajaran langsung mempunyai ciri-ciri, antara lain :
a. Proses pembelajaran didominasi oleh keaktifan guru.
b. Suasana kelas ditentukan oleh guru sebagai perancang kondisi.
c. Lebih mengutamakan keluasan materi ajar daripada proses terjadinya
pembelajaran.
d. Materi ajar bersumber dari guru.
Langkah – langkahnya sbb :
a. Fase establising set : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan peserta didik
b. Fase domonstrating : mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
c. Fase giuded practice : merencanakan dan memberi pelatihan awal
d. Fase feed back : mengecek pemahaman kemudian memberi umpan balik
e. Fase extended practice : memberi kesempatan melakukan pelatihan lanjutan,
dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam
kahidupan
8. Student Teams-Achievement Division (STAD)
STAD atau Tim Pebelajar-Kelompok Prestasi, merupakan jenis pembelajaran
kooperatif yang palingsederhana. Dalam STAD pebelajar dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok dengan anggota 4-5 orang,dan setiap kelompok haruslah heterogen. Pembelajar
menyajikan pelajaran, dan kemudian pebelajar bekerja didalam tim mereka untuk
memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran tersebut. Akhirnyaseluruh
peserta didik dikenai kuis tentang materi itu dengan catatan, saat kuis mereka tidak boleh
salingmembantu.
Dalam STAD, penghargaan kelompok didasarkan atas skor yang didapatkan
olehkelompok dan skor kelompok ini diperoleh dari peningkatan individu dalam setiap kuis.
Sumbangan poin peningkatan peserta didik terhadapkelompoknya didasarkan atas ketentuan :
Skor kelompok untuk setiap kelompok didasarkan pada sumbangan poin peningkatan
yang diperoleh olehsetiap anggota kelompok yaitu dengan menjumlah seluruh poin
peningkatan anggota kelompok dibagi dengan jumlah anggota kelompok. Satu periode
penilaian (3-4 minggu)
Secara singkat langkah-langkah pembelajaran STAD terdiri atas:
a. Membentuk kelompok heterogen antara 4-5 orang anggotanya
b. Guru menyajikan pelajaran
c. Guru memberi tugas kelompok
d. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab
kuis, tidak dibolehkan peserta didik saling membantu.
e. Memberi evaluasi
f. Penghargaan kelompok
g. Kesimpulan
9. Teams-Gamnes-Tournaments (TGT)
Dalam Kooperatif tipe TGT atau Pertandingan-Permainan-Tim, pebelajar memainkan
permainan dengananggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan poin pada skor tim
mereka. Tiap-tiap pebelajar akan mengambil sebuah kartu yang diberi angka dan berusaha
untuk menjawab pertanyaan yang sesuai denganangka tersebut.
Ada 5 (lima) komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
a. Penyajian kelas; Pada awal pembelajaran pembelajar menyampaikan materi
dalam penyajian kelas.
b. Kelompok (team); Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang pebelajar
yang anggotanya heterogen. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami
materi / mengerjakan tugas bersama teman kelompoknya dan lebih khususuntuk
mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada
saat game.
c. Game; Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji
pengetahuan yang didapat pebelajar dari penyajian kelas dan belajar kelompok.
Game dilakukan padatiap meja tournament. Secara bergiliran peserta didik
mengambil sebuah kartu nomor dan membacakan soal tersebut.
Peserta didik yang membaca soal mendapatkan kesempatan pertama untuk
menjawab pertanyaan tersebut. Peserta didik lain (sebagai penantang) yang
berada disebelah kirinya jika menganggap jawaban yang diberikan tadi salah,
maka ia boleh menantang dan memberikan jawaban yang berbeda. kemudian
jawaban peserta didik dicocokkandengan kunci jawaban yang telah tersedia
dimeja tournament.
Pemain yang memberikan jawaban yang benar menyimpan kartu tersebut.
Apabila tidak ada satu pun jawaban yang benar, kartu tersebut
dikembalikanketumpukan permainan berlanjut sampai waktu yang ditetapkan
guru, sampai jam pelajaran habis atautumpukan kartu habis.
d. Turnamen; Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit
setelah pembelajar melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan
lembar kerja. Pada turnamen pertama pembelajar membagi pebelajar ke dalam
beberapa meja turnamen. Tiga pebelajar tertinggi prestasinya
dikelompokkan pada meja I, tiga pebelajar selanjutnya pada meja II dan
seterusnya.
e. Team Recognize (penghargaan kelompok)

SKOR KUIS Poin Peningkatan

> 10 point di bawah skor dasar 5


1-10 point di bawah skor dasar 10
Skor dasar - 10 poin di atas skor dasar 20
> 10 poin di atas skor dasar 30
Hasil sempurna (tidak mempertimbangkan skor 30
dasar)

Pembelajar kemudian mengumumkan kelompok yang menang (total skor tertinggi/kartu


terbanyak dari perolehan anggota di tiap meja turnamen) dan memberikan
penghargaan/hadiah
10. Jigsaw (Tim Ahli)
Dalam penerapan kooperatif tipe jigsaw, peserta didik dibagi berkelompok dengan lima
atau enam anggotakelompok belajar heterogen. Setiap anggota bertanggung jawab untuk
mempelajari, menguasai bagian tertentu bahan yang diberikan kemudian menjelaskan pada
anggota kelompoknya.
Para anggota dari kelompok lain yang bertugas mendapat topik yang sama berkumpul
dan berdiskusi tentangtopik tersebut. Kelompok ini disebut kelompok ahli. Kemudian
anggota tim ahli kembali ke kelompok asal dan mengajarkan apa yang telah dipelajarinya dan
didiskusikan didalam klompok ahlinya untuk diajarkankepada teman kelompoknya sendiri.
Secara singkat, langkah-langkah pembelajaran Jigsaw terdiri atas :
a. Peserta didik dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen a 4-5 orang
b. Tim anggota dalam kelompok/tim diberi bagian materi yang berbeda
c. Anggota dari tim tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang
sama bertemu dalamkelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub
bab mereka
d. Jika kelompok ahli selesai mendiskusikan tugasnya, maka anggota kelompok
kembali ke kelompok asal/semula (home teams) untuk mengajar anggota lainnya
pada kelompok semula tentang sub bab yang iadiskusikan.
e. Tiap kelompok/tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
f. Guru memberi kesimpulan

11. Think-Pair-Share (TPS)


Kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS) atau berpikir-berpasangan-berbagi memiliki
prosedur yang ditetapkansecara eksplisit untuk memberi pebelajar waktu lebih banyak untuk
berpikir, menjawab, dan saling membantusatu sama lain. Think Pair Share terdiri dari 3
tahapan yakni : Tahap-1: Thinking (berpikir), Tahap-2: Pairing(berpasangan), Tahap-3:
Sharing (berbagi).
Ada beberapa variasi dari model think pair share ini yakni :
a. Export to think : menekankan pada kegiatan berfikir
b. Write pair share : menekankan pada kegiatan menulis berpasangan
c. Think pair square : menekankan pada berfikir oleh 4 orang
d. Write pair square : menekankan pada menulis oleh 4 orang
Langkah-langkah :
a. Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin dicapai
b. Peserta didik secara individu diminta untuk berfikir tentang materi/ permasalahan
yang disampaikan guru
c. Peserta didik diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang)
dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing
d. Guru memimpin pleno kecil diskusi, tiap kelompok membagikan /
mengemukakan hasil diskusinya
e. Berawal dari kegiatan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok
permasalahan dan menambahmateri yang belum diungkapkan para peserta didik
f. Guru memberi kesimpulan.

12. Group Investigation (GI)


Pada model kooperatif tipe group investigation, sejak awal peserta didik dilibatkan
mulai dari tahap perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara untuk
mempelajarinya melalui investigasi.Pengelompokan peserta didik dapat didasarkan pada
kesenangan berteman atau kesamaan minat. Para pesertadidik memilih topik yang ingin
dipelajari, mengikuti/melakukan investigasi mendalam terhadap berbagaisubtopik yang telah
dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas
secarakeseluruhan. Secara singkat langkah-langkah group investigation adalah sbb. :
Langkah-langkah :
a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok @ 5-6 orang secara heterogen
b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu
materi/tugas yang berbeda darikelompok lain
d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif
yang bersifat penemuan.
e. Setelah selesai mengumpulkan informasi dan berdiskusi, juru bicara kelompok
menyampaikan hasil pembahasan kelompok.
f. Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi kesimpulan
13. Numbered-Head-Together (NHT)
Numbered-Head-Together (NHT) atau Penomoran-Berpikir-Bersama merupakan jenis
pembelajarankooperatif yang sejenis dengan TPS. Sebagai gantinya mengajukan pertanyaan
kepada seluruh kelas, pembelajar menggunakan 4 tahap dalam NHT yakni : Tahap
Penomoran, Tahap Mengajukan Pertanyaan,Tahap Berpikir Bersama., Tahap Menjawab.
Langkah-langkah :
a. Peserta didik dibagi dalam kelompok, setiap peserta didik dalam setiap kelompok
mendapat nomor
b. Guru memberikan tugas (pertanyaan) dan masing-masing kelompok
mengerjakannya
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota
kelompok dapatmengerjakannya/ mengetahui jawabannya
d. Guru memanggil salah satu nomor peserta didik dan peserta didik yang nomornya
dipanggil melaporkanhasil kerjasama diskusi kelompoknya atau menjawab
pertanyaan dari guru.
e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain, dst
f. Kesimpulan
14. Kepala Bernomor Struktur
Pembelajaran kooperatif yang merupakan modifikasi dari Numbered-Head-Together
(NHT).
Langkah-langkah :
a. Peserta didik dibagi dalam kelompok. Setiap peserta didik dalam setiap kelompok
mendapat nomor
b. Penugasan diberikan kepada setiap peserta didik berdasarkan nomor terhadap
tugas yang berangkai.Misalnya : peserta didik nomor satu bertugas mencatat soal.
Peserta didik nomor dua mengerjakan soaldan peserta didik nomor tiga
melaporkan hasil pekerjaan dan seterusnya.
c. Jika perlu, guru bisa menyuruh kerja sama antar kelompok. Peserta didik disuruh
keluar darikelompoknya dan bergabung bersama beberapa peserta didik bernomor
sama dari kelompok lain. Dalamkesempatan ini peserta didik dengan tugas yang
sama bisa saling membantu atau mencocokkan hasil kerjasama mereka
d. Laporkan hasil dan tanggapan dari kelompok yang lain
e. Kesimpulan
15. Kancing gemerincing (talking chips)
Model kooperatif ini mengembangkan hubungan timbal balik antara angota kelompok
dengan didasari adanyakepentingan yang sama. Tiap anggota mendapatkan chips yang
berbeda yang harus digunakan setiap l kalimereka ingin berbicara mengenai ; menyatakan
keraguan, menjawab pertanyaan, bertanya, mengungkapkanide, mengklarifikasi peryataan,
mengklarifikasi ide, merangkum, mendorong partisipasi angota lainnya. Modelini juga bisa
diterapkan pada peserta didik secara individu. Tiap peserta didik diberi 2-3 chips yang
nantinyadapat digunakan sampai beberapa kali pertemuan pembelajaran.
Langkah-langkah Pelaksanaan Tipe kancing gemerincing;
a. Pengelompokan peserta didik suatu kelas menjadi kelompok-kelompok kecil (@4-6
anak)
b. Menyiapkan satu kotak berisi benda-benda kecil seperti potongan sedotan, kelereng
kecil, dan sebagainyayang berfungsi sebagai tanda untuk anggota kelompok yang
akan mengemukakan pendapat.
c. Membagikan benda-benda kecil tersebut dengan jumlah yang sama kepada tiap
anggota kelompok.Jumlahnya tergantung pada tingkat kesulitan tugas yang
diberikan
d. Memulai proses belajar mengajar ; Pada proses ini setiap kali peserta didik
mengeluarkan pendapat dalam kelompoknya, dia harus menyerahkansalah satu
benda yang dipegangnya dengan diletakan ditengah-tengah kelompok. Apabila
benda yangdipegang seorang peserta didik telah habis, maka dia tidak bisa
mengemukakan pendapat lagi sampai semuatemannya dalam kelompok tersebut
menghabiskan benda yang dipegang mereka. Jika semua benda yangdipegang sudah
habis sedangkan tugas belum selesai, maka kelompok bisa mengambil kesepakatan
untuk membagi kembali benda-benda kecil tersebut dan mengulangi prosedurnya
kembali tanpa mengabaikanwaktu pengajaran. Guru pada proses ini berperan
sebagai fasilitator dan motivator.
e. Presentasi hasil diskusinya di depan kelas.
f. Melakukan evaluasi.