Anda di halaman 1dari 30

PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)

BADAN LAYANAN UMUM


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
DIABETES MELLITUS
(Kode ICD X : E.11)
1. Definisi Suatu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oelh
hipergikemia akibat defek pada :
1. Kerja insulin (resistensi insulin) di hati (peningkatan
produksi glukosa hepatik) dan di jaringan perifer (otot
dan lemak)
2. Sekresi insulin oleh sel beta pankreas
3. Atau keduanya.

Klasifikasi Diabetes Melitus (DM)


I. DM tipe I (destruksi sel β, umumnya diikuti defisiensi
insulin absolut)
- Immune – mediated
- Idiopatik
II. DM tipe 2 (bervariasi mulai dari predominan resistensi
insulin dengan defisiensi insulin relatif sampai
predominan defek sekretorik dengan resistensi insulin)
III. Tipe spesifik lain
- Defek genetik pada fungsi sel β
- Defek genetik pada kerja insulin
- Penyakit eksokrin pankreas
- Endokrinopati
- Diinduksi obat atau zat kimia
- Infeksi
- Bentuk tidak lazim dari immune mediated DM
- Sindrom genetik lain, yang kadang berkaitan dengan
DM
IV. DM gestasional

2. Anamnesis  Keluhan khas DM : poliuria, polidipsia, polifagia


penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
sebabnya.
 Keluhan tidak khas DM : lemah, kesemutan, gatal,
mata kabur, disfungsi ereksi pada pria, pruritus
vulvae pada wanita

3. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik termasuk :


- Tinggi badan, berat badan, TD, lingkarpinggang
- Tanda neuropati
- Mata (visus, lensa mata dan retina)
- Gigi mulut
- Keadaan kaki (termsuk rabaan nadi kaki), kulit dan kuku

59
4. Kriteria Diagnosis Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa
1. Kadar glukosa darah sewaktu ( plasma vena) ≥ 200 mg/dL
atau
2. Kadar glukosa darah puasa (plasma vena) ≥ 126 mg/dL
3. Kadar glukosa plasma ≥ 200 mg/dL pada 2 jam sesudah
beban glukosa 75 gram pada TTGO

5. Diagnosis Kerja Diabetes Mellitus


6. Diagnosis Banding  Hiperglikemia reaktif
 Toleransi glukosa terganggu (TGT)
 Glukosa darah puasa terganggu (GDPT)
7. Pemeriksaan Pemeriksaan laboratorium :
Penunjang - Hb, leukosit, hitung jenis leukosit, laju endap darah
- Glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan
- Urinalisis rutin, proteinuria 24 jam, CCT ukur
- Kreatinin
- SGPT, Albumin/Globulin
- Kolesterol Total, kolesterol LDL, kolesterol HDL,
trigliserida
- A,C
- Albuminuria mikro

Pemeriksaan Penunjang lain:


EKG, foto thoraks, funduskopi
8. Tata Laksana Meliputi pemahaman tentang :
- Penyakit DM
- Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM
- Penyulit DM
- Intervensi farmakologis dan non-farmakologi
- Masalah khusus yang dihadapi

Perencanaan Makan
Standar yang dianjurkan adalah makanna dengan komposisi :
- karbohidrat 60 – 70 %
- protein 10 – 15 %
- lemak 20 – 25 %

Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 100 mg/hari.


Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak
jenuh (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid), dan
membatasi PUFA (Poly Unsaturated Faity Acid) dan asam
lemak jenuh. Jumlah kandungan serat ± 25 g/hr, diutamakan
serat larut.

Jumlah kalori basal per hari :


- laki – laki : 30 kal/kg BB idaman
- wanita : 25 kal/kg BB idaman

60
Penyesuaian (terhadap kalori basal/hari)
o BB gemuk - 20%
o Lebih - 10 %
o BB kurang + 20 %

- Umur > 40 tahun + (10 s/d 30%) Aktivitas :


o Ringan + 10 %
o Sedang + 20 %
o Berat + 30 %

- Hamil o Trimester I,II + 300 kal


o Trimester III + 500 kal

Rumus Broca
Berat badan idaman = (tinggi badan -100) – 10%*
Pria <160 cm dan wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10%
lagi
BB kurang : < 90 % BB idaman
BB normal : 90 – 110 % BB idaman
BB lebih : 110 – 120 % idaman
Gemuk : > 120 % BB idaman

Latihan jasmani :
Kegiatan jasmani sehari – hari dan latihan teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit). Prinsip Continous
– Rythmical - Interval – Progressive – Enduranc.

Intervensi Farmakologis
Obat Hipoglikemia Oral (OHO) :
 Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) :
sulfonilurea, glinid
 Penambah sensitivitas terhadap insulin : metformin,
tiazolidindion
 Penghambat absorbsi glukosa : penghambat
glukosidase alfa

Insulin
Indikasi :
 Penurunan berat badan yang cepat
 Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
 Ketoasidosis diabetik
 Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
 Hiperglikemia dengan asidosis laktat
 Gagal dngan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
 Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA,
Stroke)
 Kehamilan dengan DM / diabetes melitus gestasional

61
yang tidak terkendali dengan perencanaan makan
 Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
 Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO

Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis
rendah, untuk kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai
dengan respons kadar glukosa darah. Kalau dengan OHO
tunggal sasaran kadar glukosa belum tercapai, perlu
kombinasi dua kelompok obat hipoglikemik oral yang
berbeda mekanisme kerjanya.

Pengelolaan DM tipe 2 Gemuk :


Non – farmakologis → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai
keadaan klinis)

Jika sasaran tidak tercapai : Penekanan kembali tata


laksana non – farmakologis → evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran tidak tercapai + 1 macam OHO


Biguanid/Penghambat
glukosidase α / Glitazon
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran tidak tercapai Kombinasi 2 macam OHO, antara :


Biguanid / Penghambat
glukosidase α / Glitazon
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran tidak tercapai Kombinasi 3 macam OHO


Biguanid +Penghambat
glukosidase α + Glitazon atau
Terapi kombinasi OHO siang
hari + Insulin malam
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran terapi kombinasi 3 OHO tidak tercapai :


Kombinasi 4 macam OHO :
Biguanid +Penghambat
glukosidase α + Glitazon +
Secretagogue atau
Terapi kombinasi OHO siang
hari + Insulin malam
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

62
Sasaran terapi kombinasi 4 OHO tidak tercapai :
Insulin
Atau
Terapi kombinasi OHO siang
hari + Insulin malam

Sasaran terapi kombinasi OHO + Insulin tidak tercapai :


Insulin
Bila sasaran tercapai : teruskan
terapi terakhir

Pengelolaan DM tipe 2 Tidak Gemuk :


Non – farmakologis → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai
keadaan klinis) :

Jika sasaran tidak tercapai : non – farmakologis +


secretagogue → evaluasi 2 – 4 minggu (sesuai keadaan
klinis) :

Sasaran tidak tercapai Kombinasi 2 macam OHO, antara :


Secretagogue + Penghambat
glukosidase α /
biguanid/Glitazon
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran tidak tercapai Kombinasi 3 macam OHO


Secretagogue + Penghambat
glukosidase α /
biguanid/Glitazon
atau
Terapi kombinasi OHO siang
hari + Insulin malam
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran terapi kombinasi 3 OHO tidak tercapai :


Kombinasi 4 macam OHO :
Secretagogue + Penghambat
glukosidase α
+biguanid+Glitazon
atau
Terapi kombinasi OHO siang
hari + Insulin malam
→ evaluasi 2 – 4 minggu
(sesuai keadaan klinis) :

Sasaran terapi kombinasi 4 OHO tidak tercapai :


Insulin, atau
Terapi kombinasi OHO siang

63
hari + Insulin malam

Sasaran terapi kombinasi OHO + Insulin tidak tercapai :


Insulin

Bila sasaran tercapai : teruskan terapi terakhir


Penilaian hasil terapi :
1. Pemeriksaan glukosa darah
2. Pemeriksaan AIC
3. Pemeriksaan glukosa darah mandiri
4. Pemeriksaan glukosa urin
5. Penentuan Benda Keton Kriteria Pengendalian DM (lihat
tabel)

Tabel : Kriteria Pengendalian Sedang Buruk


DM Baik
GD puasa (mg/dL) 80 – 110 – ≥ 126
100 125
GD 2 jam PP (mg/dL) 80 – 145 – ≥ 180
144 179
A,C (%) < 6.5 6.5 – 8 ˃8
200Kolesterol total (mg/dL) < 200 200 – ≥ 240
239
Kolesterol LDL (mg/dL) < 100 100 – ≥ 130
129
Kolesterol HDL (mg/dL) ˃ 45
Trigliserida (mg/dL) < 150 150 – ≥ 200
199
IMT 18.5 – 23 – 25 ˃ 25
22.9
Tekanan darah (mmHg) < 130 / 130 – > 140
80 140
80 – 90
9. Edukasi 1. Gizi Seimbang
2. Olahraga Teratur
3. Obat teratur
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
13. Kepustakaan 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 5 tahun 2014 tentang
Panduan Praktik Klinis bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer,
2014.
2. PERKENI. Petunjuk praktis pengelolaan
dibetes mellitus tipe 2, 2002

64
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
KETOASIDOSIS DIABETIKUM
(KODE ICD X : E11.10)
1. Definisi Kondisi dekompensasi matabolik akibat defisiensi insulin
absolut atau relatif dan merupakan komplikasi akut diabetes
melitus yang serius. Gambaran klinis utama ketoasidosis
diabetikum (KAD) adalah hiperglikemia, ketosis dan asidosis
metabolik.
Faktor pencetus : infeksi, infark miokard akut, penkreatitis
akut, penggunaan obat golongan steroid, penghentian atau
pengurangan dosis insulin.

2. Anamnesis  Keluhan poliuri, polidipsi


 Riwayat berhenti menyuntik insulin
 Demam/infeksi
 Nafas berbau aseton
 Muntah
 Nyeri perut
 Kesadaran : kompos mentis, delirium, koma
 Pernapasan cepat dan dalam (Kussmaul)
 Dehidrasi (turgor kulit menurun, lidah dan bibir
kering)
 Dapat disertai gejala syok hipovolemik

3. Pemeriksaan Fisik Penurunana kesadaran (tidak selalu)


Pernafasan cepat dan dalam (Kussmaul)
Berbagai derajat dehidrasi
Nyeri abdomen
Adanya fokal infeksi (ISK, Pneumonia,
Kolesisititis, Apendisitis, Divertikulitis,
Perforasi usus, Abses gigi, sinusitis, dan
lain sebagainya)
4. Kriteria Diagnosis  Kadar gula : > 250 mg/dL
 pH : < 7.35
 HCO < 18
 Anion gap > 12,5
 Keton serum positif dan atau ketonuria
5. Diagnosis Kerja Ketoasidosis Diabetikum
6. Diagnosis Banding  Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik /
hyperglycemic hyperosmolar state
 Ensefalopati uremikum
 Asidosis uremikum
 Minum alkohol ketosis alkoholik
 Ketosis hipoglikemia

65
 Ketosis starvasi
 Asidosis laktat
 Asidosis hiperkloremik
 Drug-induced acidosis
 Ensefalopati karena infeksi, trauma kapitis.
7. Pemeriksaan Pemeriksaan cito : gula darah, elektrolit, ureum, kreatinin,
Penunjang aseton darah, urin rutin, analisis darah gas darah, EKG
8. Tata Laksana I. Cairan, Akses IV.2 jalur, salah satunya dicabang dengan 3
way:
 NaCl 0.9 % diberikan ±1-2 L pada 1 jam pertama,
lalu ± 1 L pada jam kedua., lalu ± 0.5 L pada jam
ketiga dan keempat, dan ±0.25 L pada jam kelima
dan keenam, selanjutnya sesuai kebutuhan.
 Jumlah cairan yang diberikan dalam 15 jam sekitar 5
L
 Jika Na+ > 155 mEq/L ganti cairan dengaan
NaCL 0.45 %
 Jika GD < 200 mg/dL gaanti cairan dengan
Dextrose 5%

II. Insulin (regular insulin = RI)


 Diberikan setelah rehidrasi memadai
 RI bolus 180 mU/kgBB IV, dilanjutkan
 RI drip 90 mU/kgBB/jam dalam NACL 0.9%
 Jika GD < 200 mg/dL : kecepatan dikurangi RI
drip 45 mU/kgBB/jam dalam NaCl 0.9%
 Jika GD stabil 200-300 mg/dL selama 12 jam RI
drip 1- 2 U/jam IV, disertai sliding scale setiap 6 jam:

GD RI
(mg/dL) (unit, subkutan)
< 200 0
200 – 250 : 5
250 – 300 : 10
300 – 350 : 15
˃ 350 : 20

 Jika kadar GD ada yang < 100 mg/dL : drip RI


dihentikan
 Setelah Sliding Scale tiap 6 jam, dapat
diperhitungkan kebutuhan insulin sehari dibagi
3 dosis sehari subkutan, sebelum makan (bila pasien
sudah makan)

III. Kalium
 Kalium (KCl) drip dimulai bersamaan dengan drip
RI, dengan dosis 50 mEq/6 jam. Syarat : tidak ada
gagal ginjal, tidak ditemukan gelombangn T yang
lancip dan tinggi pada EKG, dan jumlah urine cukup

66
adekuat.
 Bila kadar K+ pada pemeriksaan elektrolit kedua :

< 3.5 drip KCl 75 mEq/6 jam


3,0 – 4.5 drip KCl 50 mEq/6 jam
4.5 – 6.0 drip KCl 25 mEq/6 jam
> 6.0 drip dihentikan
 Bila sudah sadar, diberikan K+ oral selama seminggu

IV. Natrium bikarbonat

Drip 100 mEq bila pH < 7.0 disertai KCl 26 mEq drip
50 mEq bila pH 7.0 – 7.1, disertai KCl 26 mEq drip
Juga diberikan pada asidosis laktat dan hiperkalemi yang
mengancam.

V. Tatalaksana umum
 O2 bila PO2 < 80 mmHg
 Antibiotika adekuat
 Heparin : bila ada DIC atau hiperosmolar (>
380mOsm/L) terapi disesuaikan dengan pemantauan
klinik ;
 Tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan,
temperatur setiap jam,
 Kesadaran setiap jam
 Keadaan hidrasi (turgor, lidah) setiap jam
 Produksi urin setiap jam, balans cairan
 Cairan infus yangmasuk setiap jam

9. Edukasi Edukasi tentang pemantauan kadar glukosa darah tiap jam,


elektrolit tiap 6 jam dalam 24 jam pertama, tanda tanda vital,
status hidrasi dan awasi kemungkinan terjadinya DIC
(Disseminated Intravascular Coagulation)
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad malam
Ad Sanationam : dubia ad malam
Ad Fungsionam : dubia ad malam
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
13. Kepustakaan 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 5 tahun 2014 tentang
Panduan Praktik Klinis bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer,
2014.
2. PERKENI. Petunjuk praktis pengelolaan
dibetes mellitus tipe 2, 2002
3. Soewondo P. Ketoasidosis Diabetik. Dalam
prosiding simposium penatalaksanaan
kedaruratan di bidang Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : 2008 : 89-96

67
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
HIPOGLIKEMIA
(KODE ICD X: E16.2)
1. Definisi Kadar glukosa < 60 mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80
mg/dL dengan gejala klinis. Hipoglikemia pada DM terjadi
karena :
 Kelebihan obat/dosis obat : terutama insulinm atau obat
hipoglikemik oral
 Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun :
gagal ginjal kronik, pasca persalinan
 Asupan makan tidak adekuat : jumlah kalori atau waktu
makan tidak tepat
 Kegiatan jasmani berlebihan

2. Anamnesis  Penggunaan preparat insulin atau obat hipoglikemik


oral : dosis terakhir, waktu pemakaian terakhir,
perubahan dosis
 Waktu makan terakhir, jumlah asupan gizi
 Riwayat jenis pengobatan dan dosis sebelumnya
 Lama menderita DM, komplikasi DM
 Penyakit penyerta : gijal, hati, dll
 Penggunaan obat sistemik lainnya : penghambat
adrenergik β, dll

3. Pemeriksaan Fisik Pucat, diaphoresis, penurunan kesadaran, defisit neurologik


fokal transien.
4. Kriteria Diagnosis Kadar glukosa < 60 mg/dL, atau kadar glukosa darah < 80
mg/dL dengan gejala klinis
5. Diagnosis Kerja Hipoglikemia
6. Diagnosis Banding  Hiperinsulinisme endogen, insulinoma, kelainan sel β
jenis lain, sekretagogue (sulfonilurea), autoimun,
sekresi insulin ektopik
 Penyakit kritis : gagal hati, gagal ginjal, gagal
jantung, sepsis,starvasi dan inanisi
 Defisiensi endokrin : kortisol, growth hormone,
glukagon, epinefrin
 Tumor non-sel β: sarkoma, tumor adrenokortikal,
hepatoma, leukimia, limfoma, melanoma.
 Pasca-prandial : reaktif (setelah operasi gaster),
diinduksi alkohol

7. Pemeriksaan Kadar glukosa darah (GD), tes fungsi ginjal, tes fungsi hati,
Penunjang C-peptide
8. Tata Laksana Stadium permulaan (sadar)
 Berikan gula murni 30 gram (2 sendok makan) atau

68
sirop/permen gula murni (bukan pemanis pengganti
gula atau gula diet/gula diabetes) dan makanan yang
mengandung karbohidrat.
 Hentikan obat hipoglikemik sementara,
 Pantau glukosa darah sewaktu tiap 1-2 jam
 Pertahankan GD sekitar 200mg/dL (bila sebelumnya
tidak sadar)
 Cari penyebab.

Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar +


curiga hipoglikemia) :
1. Diberikan larutan Dekstrosa 40% sebanyak 2 flakon
(=50 mL) bolus intra vena
2. Diberikan cairan Dekstrosa 10% per infus, 6 jam per
kolf
3. Periksa GD sewaktu (GDs), kalau memungkinkan
dengan glukometer :
 Bila GDs < 50 mg/dL + bolus Dekstrosa
40% 50 mL IV
 Bila GDs < 100 mg/dL + bolus Dekstrosa
40% 25 mL IV
4. Periksa GDs setiap 1 jam setelah pemberian Dekstrosa
40%
 Bila GDs < 50 mg/dL + bolus Dekstrosa
40% 50 mL IV
 Bila GDs < 100 mg/dL + bolus Dekstrosa
40% 25 mL IV
 Bila GDs 100 – 200 mg/dL tanpa bolus
Dekstrosa 40%
 Bila GDs > 200 mg/dL pertimbangkan
menurunkan kecepatan drip Dekstrosa 10%
5. Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut – turut,
pemantauan GDs setiap 2 jam, dengan protokol sesuai
diatas. Bila Gds> 200 mg/dL pertimbangkan
mengganti infus dengan Dekstrosa 5% atau NaCl 0.9%
6. Bila GDs > 100 mg/dL sebanyak 3 kali berturut – turut,
pemantauan GDs setiap 4 jam, dengan protokol sesuai
diatas. Bila Gds> 200 mg/dL pertimbangkan
mengganti infus dengan Dekstrosa 5% atau NaCl 0.9%
7. Bila hipoglikemia belum teratasi, dipertimbangkan
pemberian antagonis insulin, seperti : adrenalin,
kortison dosis tinggi, atau glukagon 0.5-1 mg/IV/IM
(bila penyebabnya insulin)
8. Bila pasien belum sadar, GD sekitar 200mg/dL :
Hidrokortison 100 mg per 4 Jam selama 12 jam atau
Deksametason 10 mg IV bolus dilanjutkan 2 mg tiap 6
jam dan Manitol 1.5 – 2 g/kgBB IV setiap 6-8 jam.
Dicari penyebab lain kesadaran menurun

9. Edukasi Edukasi tentang pemakaian obat antidiabetes,


nutrisi, aktivitas fisik, dan pemantauan rutin

69
kadar glukosa pada pasien Diabetes Mellitus.
10. Prognosis Tergantung beratnya stadium dan cepatnya terapi
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
13. Kepustakaan 1. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 5 tahun 2014 tentang
Panduan Praktik Klinis bagi Dokter
di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer
2. PERKENI. Petunjuk praktis pengelolaan
dibetes mellitus tipe 2, 2002
3. Waspadji S. Kegawatdaruratan pada
Diabetes Mellitus. Dalam prosiding
Simposium Penatalaksanaan
Kegawatdaruratan di Bidang Ilmu Penyakit
Dalam. Jakarta : 2018

70
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
OSTEOARTRITIS
(Kode ICD X : M.19.90)
1. Definisi Osteortritis (OA) merupakan penyakit degeneratif yang mengenai
rawan sendi. Penyakit ini ditandai oleh kehilangan rawan sendi
progresif dan terbentuknya tulang baru pada trabekula dan tepi
tulang (osteofit)
2. Anamnesis  Nyeri sendi dengan aktivitas dan mereda saat
istirahat
 Hambatan Gerakan Sendi
 Kaku Pagi < 30 menit
 Bunyi gemeretak (krepitasi) pada sendi yang
sakit
 Pembesaran sendi (deformitas)
 Perubahan gaya berjalan
3. Pemeriksaan  Hambatan gerak
Fisik  Krepitasi
 Pembengkakan sendi yang seringkali asimetris
 Peradangan sendi
 Deformitas
 Perubahan gaya berjalan
4. Kriteria Diagnosis Kriteria diagnosis OA dapat ditegakkan dengan gambaran klinis
dan pemeriksaan radiologi. Pada pemeriksaan Radiografi
didapatkan:
 Penyempitan celah sendi yang seringkali asimetris
(lebih berat pada bagian yang menanggung beban
berat)
 Peningkatan densitas (sclerosis) tulang subkondral
 Kista tulang
 Osteofit pada pinggir sendi
 Perubahan struktur anatomi sendi

5. Diagnosis Kerja Osteoartritis


6. Diagnosis  Artritis remotoid
Banding  Artritis gout
 Artritis septic
 Spondilitis ankilosa
7. Pemeriksaan  LED (pada OA inflamatif, LED akan meningkat)
Penunjang  Analisi cairan sendi
 Radiografi sendi yang terserang
 Artroskopi
8. Tata Laksana 1. Penyuluhan tentang pola hidup yang baik, menurunkan berat
badan, terapi fisik dan rehabilitasi
2. Proteksi sendi, terutama pada stadium akut

71
3. Obat antiinflamasi non steroid, diantaranya : sodium
diklofenak 50 mg t.i.d, Piroksikam 20 mg o.d, Meloksikam
7.5 mg o.d dan sebagainya
4. Steroid intraartikular untuk OA inflamasi
5. Fisioterapi, terapi okupasi, bila perlu diberikan ortosis
6. Operasi untuk memperbaiki deformitas

9. Edukasi  Edukasi penyebab, pengobatan,


penatalaksanaan, dan prognosis
 Aktifitas fisik ringan, menurunkan berat badan
 Mengenal dan mengelola faktor biopsikososial
10. Prognosis Ad vitam: bonam
Ad sanationam: dubia ad malam
Ad Fungsionam: dubia ad bonam
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
13. Kepustakaan 1. Soeroso, dkk. 2010. Osteoartirits dalam Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : InternaPublising.

72
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
DEMAM TIFOID
(Kode ICD X : A01)
1. Definisi Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman
Salmonela thypi atau Salmonela partatyphi
2. Anamnesis Demam naik secara bertangga pada minggu pertama lalu
demam menetap (kontinyu) atau remiten pada minggu kedua.
Demam terutama sore/malam hari, sakit kepala, nyeri otot,
anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare
3. Pemeriksaan Fisik  Febris
 Bradikardia relatif (peningkatan suhu 1°C tidak diikuti
peningkatan denyut nadi 8x/menit)
 Lidah yag berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung
merah, serta tremor).
 Hepatomegali, splenomegali, nyeri abdomen.
4. Kriteria Diagnosis Memenuhi kriteria anamnesis, pemeriksaan fisik
dan penunjang.
5. Diagnosis Kerja Demam Tifoid
6. Diagnosis Banding Infeksi virus, malaria
7. Pemeriksaan Pada Pemeriksaan Penunjang dapat ditemukan
Penunjang  Lekopeni, lekositosis atau lekosit normal :
aneosinofilia, limfopenia
 Peningkatan LED
 Anemia ringan, trombositopenia, gangguan fungsi
hati.
 Kultur darah (biakan empedu) positif atau
peningkatan titer uji Widal ≥ 4 kali lipat setelah satu
minggu memastikam diagnosis.
 Kultur darah negatif tidak menyingkirkan diagnosis.
 Uji widal tunggal titer antibodi O 1/320 atau H 1/640
disertai gambaran klinis khas menyokong diagnosis.

8. Tata Laksana Nonfarmakologis : tirah baring, makanan lunak rendah serat


Farmakologis :
• Simtomatis
• Antimikroba
- Pilihan utama : Kloramfenikol 4 x 500 mg sampai
dengan 7 hari bebas demam.

Alternatif lain :
- Tiamfenikol 4 x 500 mg (komplikasi hematologi lebih
rendah dibandingkan klorafenikol)
- Kotrimoksazol 2 x 2 tablet selama 2 minggu
- Ampisilin dan amoksisilin 50 – 150 mg/kgBB selama 2
minggu

73
- Sefalosporin generasi III ; yang terbukti efektif adalah
seftriakson 3-4 gram dalam dextrosa 100cc selama 2-
3 x 1 gram, sefoperazon 2 x 1 gram
- Fluorokuinolon (demam umumnya lisis pada hari III
atau menjelang hari IV) :
′ Norfloksasin 2 x 400 mg/hari selama 14 hari
′ Siprofloksasin 2 x 500 mg/hari selama 6 hari
′ Ofloxsasin 2 x 400 mg/hari selama 7 hari
′ Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari
′ Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari

• Kasus toksik tifoid (demam tifoid disertai gangguan


kesadaran dengan atau tanpa kelainan neurologis lainnya
dan hasil pemeriksaan cairan otak masih dalam batas
normal) langsung diberikan kombinasi kloramfenikol 4 x
500 mg dengan ampisilin 4 x 1 gram dan deksametason 3
x 500 mg

9. Edukasi Edukasi tentang kondisi klinis, diagnostik, dan


rencana terapi.
10. Prognosis Ad vitam : bonam
Ad Sanationam : bonam
Ad Fungsionam : bonam
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien baik
13. Kepustakaan Widodo, Djoko, 2010. Demam Tifoid dalam Ilmu
Penyakit Dalam Jilid III. Jakarta : Interna
Publisihing.

74
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
SEPSIS DAN RENJATAN SEPSIS
(Kode ICD X : R65.21)
1. Definisi Sepsis merupakan sindrom respons inflamasi sistemik (SIRS)
yang disebabkan oleh infeksi.
Sepsis berat merupakan gangguan fungsi organ atau
kegagalan fungsi organ termasuk penurunan kesadaran ,
gangguan fungsi hati, ginjal, paru – paru dan asidosis
metabolik.
Renjatan Septik merupakan sepsis dengan hipotensi, ditandai
dengan penurunan TDS < 90 mmHg atau penurunan > 40
mmHg dari TD awal, tanpa adanya obat-obatan yang dapat
menurunkan TD
2. Kriteria Diagnosis 1. SIRS ditandai dengan 2 gejala atau lebih berikut :
Sepsis • Suhu badan > 38° C atau < 36°C
• Frekuensi denyut jantung > 90 x/menit
• Frekuensi pernapasan > 24x/menit atau PaCO < 32
• Hitung lekosit > 12.000/mm³ atau < 4.000/mm³, atau
adanya > 10% sel batang

2. Ada fokus infeksi yang bermakna

3. Diagnosis Kerja Sepsis dan Renjatan Sepsis


4. Diagnosis Banding Renjatan Hipovolemik, Renjatan Kardiogenik
5. Pemeriksaan Hematologi lengkap, tes fungsi hati, ureum, kreatinin, gula
Penunjang darah, AGD, elektrolit, kultur darah adn infeksi fokal (urin,
pus, sputum,dll) disertai uji kepekaan mikroorganisme
terhadap anti mikroba, foto toraks
6. Tata Laksana Tatalaksana Suportif
1. Resusitasi dan stabilisasi kondisi pasien (Airway,
Breathing, Circulation)
2. Resusitasi cairan. Hipovolemia pada sepsis segera diatasi
dengan pemberian cairan kristaloid atau koloid. Volume
cairan yang diberikan mengacu pada respons klinis
(respons terlihat dari peningkatan tekanan darah,
penurunan frekuensi jantung, kecukupan isi nadi,
perabaan kulit dan ekstremitas, produksi urin, dan
perbaikan kesadaran) dan perlu diperhatikan ada tidaknya
tanda kelebihan cairan (peningkatan JVP, ronki, galop S
dan penurunan saturasi oksigen). Sebaiknya dievaluasi
dengan CVP (dipertahankan 8-12 mmHg), dengan
mempertimbangkan kebutuhan kalori perhari.
3. Oksigenasi sesaui kebutuhan, Ventilator diindikasikan
pada hipoksemia yang progresif, hiperkapnia, gangguan
neurologis atau kegagalan otot pernapasan
4. Bila hidrasi cukup tetapi pasien tetap hipotensi, diberikan
vasoaktif untuk mencapai tekanan darah sistolik ≥90

75
mmHg atau MAP 60 mmHg dan urin dipertahankan > 30
ml/jam. Dapat digunakan vasopresor seperti dopamin
dengan dosis > 8 mcg.kgBB/menit, norepinefrin 0.03-1.5
mcg/kgBB/menit , fenilefrin 0.5-8 mcg/kgBB/menit atau
epinefrin 0.1-0.5 mcg.kgBB/menit. Bila terdapat disfungsi
miokard, dapat digunakaan inotropik seperti dobutamin
dengan dosis 2-28 mcg/kgBB/menit, dopamin 3-8
mcg/kgBB/menit, epinefrin 0.1-0.5 mcg/kgBB/menit, atau
fosfodiesterase inhibitor (amrinon dan milrinon)
5. Transfusi komponen darah sesuai indikasi
6. Koreksi gangguan metabolik : elektrolit, gula darah dan
asidosis metabolik(secara empiris dapat diberikan bila
pH<7.2 atau bikarbonat serum < 9 mEq/l, dengan disertai
upaya perbaikan hemodinamik)
7. Nutrisi yang adekuat
8. Terapi suportif terhadap gangguan fungsi gunjal
9. Kortikosteroid bila ada kecurigaan insufisiensi adrenal
10. Bila terjadi DIC dan didapatkan bukti terjadinya
tromboemboli, dapat diberikan heparn dengan dosis 100
IU/kgBB bolus, dilanjutkan 15-25 IU/kgBB/jam dengan
infus kontinu, dosis lanjutan disesuaikan untuk mencapai
target aPTT 1.5-2 kali kontrol atau antiogulan lainnya.

Eradikasi fokus infeksi


Antimikroba empirik, sesuai dengan :
 Tempat infeksi
 Dugaan kuman penyebab
 Profil antimikroba (farmakokinetik dan
farmakodinamik)
 Keadaan fungsi ginjal dan fungsi hati

Antimikroba definitif : bila hasil kultur mikroorganisme telah


diketahui, antimikroba dapat diberikan sesuai hasil uji
kepekaan mikroorganisme

7. Edukasi Edukasi mengenai kondisi klinis, diagnosis, dan


tatalaksana yang akan diberikan pada pasien.
8. Prognosis Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam
9. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
10. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
11. Kepustakaan 1. Guntur, A. Sepsis dalam Sudoyo AW dkk.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi IV
Jilid III. Jakarta Pusat Penerbitan
Departemen IPD FKUI : 2006p. 1852-5.
2. Dellinger RP, Levy MM, Carlet, JM, et al.
Surviving Sepsis Campaign : International
Guidlines for management of severe sepsis
and septic shock: 2008. Dalam Crit Care
Med 2008, 36: 1394-1396. Crit Care Med

76
2008 : 36 : 296-327.
3. Marx JA, et al. Editors. Rosern’s Emergency
Medicine Conceps and Clinical Practice 6th.

77
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
INTOKSIKASI OPIAT
(Kode ICD X : T36- T50)
1. Definisi Intoksikasi akibat penggunaan obat golongan opiat : morfin,
petidin, heroin, opium, pentazokain, kodein, loperamid,
dekstrometorfan
2. Anamnesis Informasi mengenai seluruh obat yang digunakan, sisa obat
yang ada
3. Pemeriksaan Fisik  Pupil miosis - pin point pupil
 Depresi napas
 Penurunan kesadaran
 Nadi lemah
 Hipotensi
 Tanda edema paru
 Needle track sign
 Sianosis
 Spasme saluran cerna dan bilier
 Kejang
4. Diagnosis Kerja Intoksikasi Opiat
5. Diagnosis Banding Intoksikasi obat sedatif : barbiturat, benzodiazepin, etanol
6. Pemeriksaan Laboratorium : opiat urin positif atau kadar dalam darah
Penunjang tinggi
7. Tata Laksana A. Penanganan kegawatan : resusitasi A-B-C (airway,
breathing,circulation) dengan memperhatikan prinsip
kewaspadaan universal. Bebaskan jalan napas, berikan
oksigen sesuai kebutuhan, pemasangan infus dan
pemberian cairan sesuai kebutuhan
B. Pemberian antidot nalokson
1. Tanpa hipoventilasi : dosis awal diberikan 0.4 mg IV
pelan – pelan atau diencerkan
2. Dengan hipoventilasi : dosis awal diberikan 1-2 mg
IV pelan – pelan atau diencerkan
3. Bila tidak ada respon, diberikan nalokson 1-2 mg IV
tiap 5 – 10 menit hingga timbul respons (perbaikan
kesadaran, hilangnya depresi pernapasan, dilatasi
pupil) atau telah mencapai dosis maksimal 10mg.
Bila tetap tak ada respon, diagnosis intoksikasi opiat
perlu dikaji ulang.
4. Efek nalokson berkurang dalam 20-40 menit dan
pasien dapat jatuh kedalam keadaan overdosis
kembali, sehingga perlu pemantauan ketat tanda vital,
kesadaran dan perubahan pupil selama 24 jam. Untuk
pencegahan dapat diberikan drip nalokson satu ampul
dalam 500 ml D5% atau NaCl 0.9% diberikan dalam
4-6 jam

78
5. Simpan sampel urin untuk pemeriksaan opiat urin dan
lakukan rontgen toraks
6. Pertimbangan pemasangan ETT bila : pernapasan tak
adekuat setelah pemberian nalokson yang optimal,
oksigenasi kurang meski ventilasi cukup atau
hipoventilasi menetap setelah 3 jam pemberian
nalokson yang optimal
7. Pasien dipuasakan 6 jam untuk menghindari aspirasi
akibat spasme pilorik, bila diperlukan dapat dipasang
NGT untuk mencegah aspirasi atau bilas lambung
pada intoksikasi opiat oral
8. Activated charcoal dapat diberikan pada intoksikasi
peroral dengan memberikan 240 ml cairan dengan 30
gram charcoal, dapat diberikan sampai 100 gram
9. Bila terjadi kejang dapat diberikan diazepam IV 5-10
mg dan dapat diulang bila perlu.
10. Pasien dirawat untuk penilaian keadaan klinis dan
rencana rehabilitasi
8. Edukasi Edukasi mengenai kondisi klinis, diagnosis, dan
tatalaksana yang akan diberikan pada pasien.
9. Prognosis Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad malam

10. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam


11. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
12. Kepustakaan 1. Olson KR, ed. Poisoning and drug overdose.
4th ed. New York: Mc Graw Hill ; 2014.
2. Mokhlesi B, Leiken JB, Murray P, Corbridge
CC. Adult Toxicology in critical care. Part 1;
General approch to intoxicated patient.
Chest 2003; 123 ; 577-92

79
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
INTOKSIKASI ORGANOFOSFAT
(Kode ICD X : T50-T51)
1. Definisi Intokskasi akibat zat yang mengandung organofosfat
2. Anamnesis Riwayat minum/kontak dengan zat yang mengandung
organofosfat, muntah
3. Pemeriksaan Fisik Bradikardia, pupil miosis, penurunan kesadaran, tanda –
tanda aspirasi
4. Kriteria Diagnosis Sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik
5. Diagnosis Kerja Intoksikasi Organofosfat
6. Diagnosis Banding -
7. Pemeriksaan Hematologi Lenkap, Elektrolit, rontgrn toraks, EKG,
Penunjang Pemeriksaan bahan muntah atau darah mengandung
organofosfat
8. Tata Laksana  Amankan Airway, Brething, Circulation
 Bilas lambung melalui NGT
 Atropinisasi
9. Edukasi Edukasi mengenai kondisi klinis, diagnosis, dan tatalaksana
yang akan diberikan pada pasien.
10. Prognosis Ad vitam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam
Ad fungsionam : dubia ad malam
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis Kondisi pasien membaik
13. Kepustakaan 1. Olson KR, ed. Poisoning and drug overdose.
4th ed. New York: Mc Graw Hill ; 2014.
2. Mokhlesi B, Leiken JB, Murray P, Corbridge
CC. Adult Toxicology in critical care. Part 1;
General approch to intoxicated patient. Chest
2003; 123 ; 577-92

80
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
PENYAKIT GINJAL KRONIK
(Kode ICD X : N18)
1. Definisi Kriteria :
1. Kerusakan ginjal yang terjadi selama 3 bulan atau lebih,
berupa kelainan struktur atau fungsi ginjal, dengan atau
tanpa penurunan laju filtrasi glumerulus (LFG),
berdasarkan :
- Kelainan patologik atau
- Petanda kerusakan ginjal, termasuk kelianan pada
komposisi darah atau urin atau kelainan pada
pemeriksaan pencitraan
2. LFG < 60 ml/menit/1.73 m² yang terjadi selama 3 bulan
atau lebih, dengan atau tanpa kerusakan ginjal.

2. Anamnesis Lemas, mual, muntah, sesak nafas, pucat, BAK berkurang

3. Pemeriksaan Fisik  Tekanan Darah Tinggi


 Kulit kering
 Edema tungkai atau palpebra
 Tanda bendungan paru

4. Kriteria Diagnosis Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, dan Pemeriksaan Penunjang


(Laju Filtrasi Glomerolus / LFG)

5. Diagnosis Kerja Penyakit Ginjal Kronik


6. Diagnosis Banding Gagal ginjal akut
7. Pemeriksaan Penunjang Hematologi Lengkap, ureum, kreatinin, Urin Lengkap,
elektrolit (Na, K, Cl, Ca, P, Mg),
Profil lipid, asam urat, gula darah, AGD, TIBC, feritin
serum, kormon PTH, albumin, globulin, USG ginjal,
pemeriksaan imunolog, foto polos abdomen, renogram, foto
thoraks, EKG, ekokardiografi, biopsi ginjal, HbsAG, Anti
HCV, anti HIV

81
8. Tata Laksana Non farmakologis :
 Pengaturan asupan protein :
- Pasien non dialisis 0.6-0.75 gram/kgBB ideal/hari sesuai
dengan CCT dan toleransi pasien
- Pasien hemodialisis 1-1.2 gram/kgBB ideal/hari
- Pasien peritoneal dialisis 1.3 gram/kgBB/hari
 Pengaturan asupan kalori : 3 kal/kg/BB ideal/hari
 Pengaturan asupan lemak : 30 – 40 % dari kalori total dan
mengandung jumlah yang sama antara asam lemak bebas
jenuh dan tidak jenuh
 Pengaturan asupan karbohidrat : 50 – 60% dari kalori total
 Garam (NaCl) : 2 – 3 gram/hari
 Kalsium : 1400 – 1600 mg/hari
 Fosfor : 5 – 10 mg/kgBB/hari. Pasien HD : 17 mg/hari
 Kalsium : 1400-1600 mg/hari
 Besi : 10 – 18 mg/hari
 Magnesium : 200-300 mg/hari
 Asam folat pasien HD : 5 mg
 Air : jumlah urin 24 jam + 500 ml (insensible water loss)

Pada CAPD air disesuaikan dengan jumlah dialisat yang


keluar. Kenaikan berat badan di antara waktu HD < 5% BB
kering
Farmakologis :
 Kontrol tekanan darah :
- Penghambat ACE atau antagonis reseptor angiotensin II
evaluasi kreatinin dan kalium serum, bila terdapat
peningkatan kreatinin > 35 % atau timbul hiperkalemi
harus dihentikan.
- Penghambat kalsium
- Diuretik
 Pada pasien DM, kontrol gula darah hindari
pemakaian metformin dan obat – obat sulfonilurea dengan
masa kerja panjang. Target HbA1C untuk DM tipe 1 0.2 di
atas nilai normal tertinggi, untuk DM tipe 2 adalah 6%
 Koreksi anemia dengan target Hb 10 -12 g/dl
 Kontrol hiperfosfatemi : kalsium karbonat atau kalsium
asetat
 Kontrol osteodistrofi renal : kalistriol
 Koreksi asidosis metabolik dengan target HCO, 20 – 22
mEq/l
 Koreksi hiperkalemi
 Kontrol dislipidemia dengan target LDL<100 mg/dl,
dianjurkan golonga statin
 Terapi ginjal pengganti / Hemodialisa

9. Edukasi Edukasi mengenai kondisi klinis, diagnosis, dan tatalaksana


yang akan diberikan pada pasien.
10. Prognosis Dubia
11. Penelaah Kritis SMF Penyakit Dalam

82
12. Indikator Medis Kondisi Klinis Membaik
13. Kepustakaan Suwitra, Ketut, 2010. Penyakit Ginjal Kronis
dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :
InternaPublishing.

83
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
HIPERTENSI
(Kode ICD X : I10)
1. Definisi Tekanan darah yang sama atau melebhi 140 mmHg sistolik dan/atau sama
atau melebihi 90 mmHg diastolik pada seseorang yang tidak sedang makan
obat antihipertensi
2. Anamnesis Riwayat Tekanan Darah tinggi, Riwayat Keluarga, Riwayat Pengobatan,
Riwayat Penyakit Kronis lainnya (Diabetes, Kolestrol, dll)

3. Pemeriksaan Tekanan Darah Tinggi


Fisik

4. Kriteria  Klasifikasi berdasarkan hasi rata – rata pengukuran tekanan darah yang
Diagnosis dialkukan minimal 2 kali tiap kunjungan pada 2 kali kunjungan atau lebih
dengan menggunakan cuff yang meliputi minimal 80% lengan ata pada
pasien dengan posisi duduk dan telah beristirahata 5 menit.
 Tekanan sistolik = suara fase 1 dan tekanan diastolik = suara fase 5
 Pengukuran pertama harus pada kedua sisi lengan untuk menghindarkan
kelainan pembuluh darah perifer
 Pengukuran tekanan darah pada waktu berdiri diindikasikan pada pasien
dengan risiko hipotensi postural (lanjut usia, pasien DM, dll)
 Faktor risiko kardiovaskular
- Hipertensi
- Merokok
- Obesitas (IMT > 30)
- Inaktivitas fisik
- Dislipidemia
- Diabetes melitus
- Mikroalbuminuria ata LFG < 60 ml/menit
- Usia (laki – laki > 55 tahun, perempuan > 65 tahun
- Riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular dini ( laki – laki <
55 tahun atau perempuan < 65 tahun)
 Kerusakan organ sasaran :
- Jantung : hipertrofi ventrikel kiri, angina atau riwayat infark miokard,
riwayat revaskularisasi koroner, gagal jantung
- Otak : strok atau transient ischemic attack (TUA)

84
- Penyakit ginjal kronik ’penyakit ateri perifer
- Retinopati
 Penyebab hipertensi yang telah diidentifikasi : sleep apnea, alkibat obat
atau berkaitan dengan obat, penyakit ginjal kronik dan sindrom Cushing,
feokromositoma, koarktasi aorta, penyakit tiroid atau paratiroid

5.Diagnosis Hipertensi
Kerja
6.Diagnosa Peningkatan tekanan darah akibat white coat hypertansion, rasa nyeri,
Banding peningkatan tekanan intraserebral, ensefalitis, akibat obat, dll
7.Pemeriksaan Urinalisis, tes fungsi ginjal, gula darah, elekrolit, profil lipid, foto thoraks,
Penunjang EKG, sesuai penyakit ppenyerta : asam urat, aktivitas renin plasma,
aldosteron, katekolamin, urin, USG pembuluh darah besar, USG ginjal,
akekordiografi.
8.Tata Laksana  Pada penggunaan penghambat ACE atau antagonis reseptor All : evaluasi
kreatinin dan kalium serum, bila terdapat peningkatan kreatinin > 35%
atau timbul hiperkalemi harus dihentikan.
 Kondisi khusus lain :
Obesitas dan sindrom metabolik (tedapat 3 atau lebih keadan berikut :
lingkar pinggang laki – laki > 102 cm atau perempuan > 89 cm,
toleransi glukosa terganggu dengan gula darah puasa ³110 mg/dl,
tekanan darah minimal 130/85 mmHg, trigliserida tinggi ³150 mg/dl,
kolesterol HDL rendah < 40 mg/dl pada laki – laki atau < 50 mg/dl
pada perempuan) modifikasi gaya hidup yang intensif dengan
pilihan terapi utama golongan penghambat ACE. Pilihan lain adalah
antagonis reseptor All, penghambat kalsium, dan penghambat α
Hipertrofi ventrikel kiri tatalaksana tekanan darah yang agresif
termasuk penurunan berat badan, retriksi asupan natrium dan terapi
dengan semua kelas antihipertensi kecuali vasodilator langsung,
hidralazin dan minoksidil
Penyakit arteri perifer semua kelas anti hipertensi, tatalaksana
faktor risiko lain, dan pemberian aspirin.
Lanjut usia, termasuk penderita hipertensi sistolik terisolasi
diuretika (tiazid) sebagai lini pertama, dimulai dengan dosis
rendah 12.5 mg/ari. Penggunaan obat antihipertensi lain dengan
mempertimbangkan penyakit penyerta
Kehamilan pilihan terapi adalah golongan metildopa, penyekat
reseptor β, antagonis kalsium dan vasodilator. Penghambat ACE dan
antagonis reseptor AH tidak boleh digunakan selama kehamilan

85
9.Edukasi Menjaga Pola hidup yang sehat, olah raga teratur, menghindari makanan
yang mengandung tinggi lemak dan asin, hindari stress, hindari asap
rokok
10.Prognosis Dubia
11.Penelaan SMF Penyakit Dalam
Kritis
12. Indikator Kondisi Klinis Membaik
Medis
13.Kepustakaan 1. Yogiantoro, Mohammad. 2010. Hipertensi Esensia dalam Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jakarta : InternaPublishing
2. JNC 8

86
PANDUAN PRAKTIK KLINIS (PPK)
BADAN LAYANAN UMUM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH DOKTER AGOESDJAM
KABUPATEN KETAPANG
2019
KRISIS HIPERTENSI
(Kode ICD X : I16)
1. Definisi Adalah sejumlah kondisi kelainan klinis dengan atau tanpa kelainan
organ lain, yang disebabkan oleh hipertensi arterial.
2. Anamnesis  Pusing, kepala berat
 Nyeri dada
 Cepat lelah
 Berdebar-debar
 Sesak nafas
 Tanpa keluhan
 Kelemahan atau kelumpuhan sebagian atau
 seluruh anggota tubuh
3. Pemeriksaan Fisik TD sistolik > 180 mmHg atau TD diastolic 110 mm

4. Kriteria Diagnosis 1. Pemeriksaan fisik: Sesuai criteria JNC VII


2. Fototoraks : Kardiomegali
3. ECG : LVH, perubahan segmen ST
4. Echocardiografi :LVH, disfungsi diastolik + sistolik
5.Diagnosis Kerja Krisis Hipertensi
6.Diagnosa Banding 1. Cephalgia
2. Anxietas
3. CKD
4. Sindroma koroner akut
5. CVD
7.Pemeriksaan 1. EKG
Penunjang 2. Rontgen dada
3. Lab.: Hb, Ht, Leuko, Cr, Ur, GDS, Na+, K+,), OGTT (bila belum
diketahui DM), urinalisa
4. Skrining hipertensi endokrin
5. USG abdomen: ginjal
6. Echocardiografi
7. CT- scan kepala
8.Tata Laksana Hipertensi Urgensi

87
Hipertensi Emergensi

9.Edukasi 1. Edukasi jenis penyakit dan perjalanannya


2. Edukasi pengobatan
3. Edukasi Nutrisi/pola hidup
10.Prognosis Ad vitam : malam
Ad sanationam : malam
Ad fungsional : malam
11.Penelaan Kritis SMF Penyakit Dalam
12. Indikator Medis 80% pasien dirawat mencapai target MAP 25-30% dengan
menggunakan anti hipetensi intravena
13.Kepustakaan 1. PERKI, 2016. Panduan Praktis Klinis (PPK) dan Clinical Pathway
(CP) pada Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah.
2. Kasper DL, Braunwald E. Fauci A, Hauser S, Longo D, Jamerson
JL. Harrison Principles of Interna Medicine 16th ed. Philadelphia :
McGraw Hill, 2004

88