Anda di halaman 1dari 61

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Bulan Maret adalah bulan dimana terjadi musim hujan. Fenomena-
fenomena yang banyak ditemui sehari-hari di lingkungan disekitar kita, yakni
perilaku-perilaku masyarakat yang kurang mawas diri terhadap kebersihan
disekitar lingkungannya, seperti membuang sampah tidak pada tempatnya,
membiarkan barang bekas tergeletak disamping rumahnya, dan membiarkan
selokan mampet, bak mandi/tempat penampungan air yang jarang dibersihkan.
Hal ini menjadi suatu keprihatinan karena media-media tersebut dijadikan
untuk perkembangbiakan jentik-jentik nyamuk. Sehingga hari semakin hari
terjadi penyebaran koloni nyamuk yang bisa menyebarkan virus demam
berdarah.
Penyakit Dengue Haemorragic Fever (DHF)/Demam Berdarah Dengue
(DBD) adalah virus dengue yang berjenis Arthropod-Borne Virus, genus
Flavivirus, dan famili Flaviviradae. Ditularkan melalui gigitan nyamuk dari
ugenus Aedes, terutama Aedes aegypti atau aedes albopictus. Penyakit DBD
dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang seluruh kelompok umur.
Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat
(Kementrian Kesehatan RI, 2017). Insiden DBD menurut WHO (2018)
meningkat diseluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Jumlah aktual
kasus dengue tidak dilaporkan dan banyak kasus salah teridentifikasi.
Perkiraan menunjukan bahwa sebanyak 390 juta infeksi dengue pertahun
(interval kredibel 284-528 juta), dimana 96 juta dari 67-136 juta
bermanifestasi secara klinis dengan tingkat keparahan penyakit. Studi lain,
pravelansi demam berdarah, merperkirakan bahwa 3,9 miliar orang, di 128
negara, berisiko terinfeksi virus dengue. Kasus-kasus diseluruh Amerika, Asia
Tenggara dan Pasifik pada tahun 2008 melebihi 1,2 juta dan lebih dari 3,2 juta
pada tahun 2015. Di amerika dimana 10 dari 200 kasus didiagnosis menderita
demam darah parah mengakibatkan 1181 kematian (WHO, 2018). Menurut
2

Kemenkes RI (2017) kasus DBD diindonesia berjumlah 68.407 kasus, dengan


jumlah kematian 493 orang. Namun jumlah tersebut menurun cukup drastis
dari tahun sebelumnya, yaitu 204.171 kasus dan jumlah kematiannya 1.598
orang. Angka kesakitan DBD tahun 2017 menurun dibandingkan tahun 2016,
yaitu dari 78,85 menjadi 26,10 per 100.000 penduduk (Kementrian Kesehatan
RI, 2017).
Data dari rekam medis RSU Santa Maria Pemalang, menunjukan bahwa
pasien DBD di rawat jalan sebanyak 88 pasien pada satu tahun terakhir pada
tahun 2018.
Penanganan demam dapat dilakukan melalui modifikasi lingkungan
dengan cara menjaga agar ruangan tidak panas, yaitu dengan memasang kipas
angin, dan memakaikan pakaian yang mudah menyerap keringat dan
memakaikan baju yang tidak tebal. Hal ini dapat mengatur proses pengeluaran
panas melalui evaporasi sehingga suhu tubuh bayi atau anak akan semakin
menurun dan akan merasa nyaman (Yunanto, 2010).
Asuhan keperawatan dengan peningkatan suhu tubuh (demam),
dilakukan untuk mengatasi gangguan pemenuhan kebutuhan rasa nyaman
peningkatan suhu tubuh. Tindakan untuk memenuhi kebutuhan rasa nyaman
yaitu dengan menurunkan suhu tubuh mencakup intervensi farmakologis dan
atau non farmakologis. Intervensi yang paling sering adalah penggunaan
antipiretik untuk menurunkan set point (titik tetap) (Wong, Hockenberry, M,
Winkelsein,, & L, 2009).
Apabila penyakit tidak segera ditangani dan dirawat dengan baik akan
menimbulkan masalah-masalah seperti ensefalitis dan enselopati yang
menyebabkan perubahan kesadaran, kejang dan koma (Pediatrics and
International Child Health, 2012). Salah satu intervensi keperawatan yang
dapat dilakukan adalah melalui pendekatan model konservasi Levine.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada anak dengan demam di ruang
rawat infeksi anak RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta menunjukan
bahwa efektif dalam menurunkan demam. Berdasarkan latar belakang diatas,
3

penulis tertarik untuk melakukan pengelolaan kasus dengan model pendekatan


konservasi Levine terhadap anak yang demam.
B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah gambaran asuhan keperawatan demam model pendekatan
levine ada pasien anak?
C. TUJUAN STUDI KASUS
Mengetahui pengaruh intervensi keperawatan model pendekatan Levine
terhadap demam pada anak dengan DBD.
D. MANFAAT STUDI KASUS
Studi Kasus ini diharapan memberikan manfaat bagi:
1. Masyarakat.
Membudayakan pengelolaan pasien anak demam dengan menggunakan
model pendekatan model Levine.
2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan.
Menambah keluasan ilmu dan teknologi terapan bidang keperawatan
dalam model pendekatan Levine dalam menangani pasien demam pada
anak.
3. Bagi institusi pendidikan.
Dapat digunakan oleh rekan mahasiswa Akademi Keperawatan sebagai
bahan bacaan diperpustakaan yang mana dapat dimanfaatkan oleh
mahasiswa yang akan melakukan penelitian berikutnya.
4. Bagi Institusi rumah sakit.
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan pelayanan mutu pelayanan
kesehatan dan asuhan keperawatan bagi pasiennya serta meningkatkan
pengetahuan bagi perawat dirumah sakit tersebut
5. Penulis.
Memperoleh pengetahuan dalam mengaplikasikan hasil riset keperawatan,
khusunya studi kasus tentang pelaksanaan model pendekatan Levine
dalam menangani pasien anak demam.
4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini penulis akan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan tinjauan
pustaka sebagai dasar menjawab permasalahan peneliti yang terdiri dari beberapa
teori sebagai berikut:
A. DENGUE HEMORAGI FEVER
1. Anatomi fisiologi Darah.
Komponen darah meliputi:
a. Plasma darah.
Adalah suatu cairan berwarna bening kekuningan mempunyai suatu
unsur yang sama dengan sitoplasma. Terdiri dari 92% air dan
mengandung campuran kompleks zat organik dan anorganik.
a) Protein plasma mencapai 7% plasma dan merupakan satu-satunya
unsur pokok plasma yang tidak dapat menembus membran kapilar
untuk mencapai sel. Ada 3 jenis protein plasma yang utama:
albumin, globulin dan fibrinogen.
b) Kandungan plasma.
Plasma mengandung nutrien, gas, darah, elektrolit, mineral,
hormon, vitamin dan zat sisa.

Gambar 2.1 Sel Darah (Hartono, 2018)


5

b. Elemen pembentuk darah sebagai berikut.


a) Sel darah merah atau eritrosit.
Sel darah laki-laki yang sehat ah 4,2 -5,5 juta sel/mm3 sedangkan
pada perempuan yang sehat berjumlah 3,2-5,2 juta sel/mm3.
Untuk jumlah hematokrit pada laki-laki berkisar antara 42%-54%
sedangkan pada perempuan 38% -48%. Sel darah merah berfungsi
sebagi menstranspor oksigen keseluruh jaringan melalui
pengikatan hemoglobin terhadap oksigen. Hemoglobin sel darah
merah berikatan dengan karbon dioksida untuk ditranspor ke paru-
paru, teatpi sebagian besar karbon dioksida yang dibawa plasma
berada dalam bentuk ion bikarbonat. Suatu enzim (karbonat
anhidrase) dalam bentuk eritrosit memungkinkan sel darah merah
bereaksi dengan karbon dioksida untuk membentuk ion bikarbonat
berdifusi keluar dari sel darah merah dan kedalam plasma. Sel
darah merah juga penting dalam pengaturan pH darah karena ion
bikarbonat dan hemoglobin merupakan buiffer asam basa.
b) Leukosit atau sel darah putih.
Jumlah sel darah putih normal adalah 7000-9000/mm3.
Peningkatan jumlah total leukosit terjadi karena adanya
infeksi/kerusakan jaringan. Sel darah putih berfungsi sebagi
melindungi tubuh terhadap invasi benda asing, termasuk juga
bakteri dan virus. Sebagian besar aktivitas leukosit berlangsung
dalam jaringan hdan bukan dalam aliran darah.
c) Keping darah atau trombosit.
Trombosit berjumlah 250.000-400.000/mm3. Berfungsi sebagai
hemostasis (penghentian perdarahan) dan perbaikan pembuluh
darah yang robek. (Sloane, 2003)
2. Anatomi fisiologi cairan elektrolit.
Air beserta unsur-unsur di dalamnya yang diperlukan untuk kesehatan sel
disebut cairan tubuh, dan cairan ini sebagian berada di dalam dan sebagian
diluar sel.
6

Cairan intraseluler merupakan 50 % dari berat tubuh letaknya di dalam sel


dan mengandung elektrolit serta kalium dan fosfat dan bahan makanan
sperti glukose dan asam amino. Keja enzim dalam sel adalah konstan,
memecahkan dan membangun kembalai sebagaimana dalam semua
metabolisma untuk mempertahankan keseimbangan.
Cairan ekstraseluler atau cairan interstisiil membentuk 30 % dari cairan
dalam tubuh (kira-kira 12 liter). Air ini merupakan medium, di tengah-
tengah mana sel hidup. Sel menerima garam , makanan serta oksigen dan
melepaskan semuahasil buangannya ke dalam cairan itu juga.
Plasma darah merupakan 5% dari berat tubuh (sekitar 3 liter) dan
merupakan sistem transpor yang melauyani semua sel melalui medium
cairan ekstraseluler.
Pertukaran cairan dalam jaringan. Cairan dalam plasma berada dibawah
tekanan hidrostatik yang lebih besar dari pada tekanan interstisiil. Oleh
karena itu cairan itu condong untuk keluar dai pembuluh kapiler. Akan
tetapi didalam plasma ada protein, sedangkan cairan interstisiil tidak
mengandung itu. Protein plasma ini mengeluarkan tekananan osmotik
yang berusaha menghisap cairan masuk pembuluh kapiler.
Pertukaran antara cairan ekstraseluler dan intraseluler juga bergantung
pada tekanan osmotik. Akan tetapi membran juga mempunyai
permeabilitas yang slektif dan mengizinkan dilalaui oleh beberapa bahan
seperti oksigen, CO2 dan urea secara bebas, akan tetapi memompa bahan
lain masuk ataukeluar untuk memepertahankan pernbedaan konsentrasi
dalam cairan intra- dan ekstra seluler. Misalnya kalium dikonsentrasikan
dalam caiaran intraseluler, sedangkan natrium dipompa keluar.

3. Konsep demam.
Demam (pireksia) adalah keadaan suhu tubuh di atas normal sebagai
akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi
oleh IL-1. Pengaturan suhu pada keadaan sehat atau demam merupakan
keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas (Sumarmo, 2012).
7

Demam bukanlah suatu penyakit, tetapi merupakan suatu tanda atau gejala
dari suatu penyakit. Demam merupakan respon tubuh untuk melawan
infeksi kuman yang menyerang tubuh. Demam umumnya tidak berbahaya
tetapi dapat berbahaya bila terjadi demam tinggi. Demikian juga yang
disampaikan dalam Potter & Perry, (2010) bahwa demam tidak berbahaya
jika suhu tubuh dibawah 39 °C dan pengukuran tunggal tidak
menggambarkan demam. Dalam keadaan normal termostat di hipotalamus
selalu diatur pada set point sekitar 37 °C, setelah informasi tentang suhu
diolah di hipotalamus selanjutnya ditentukan pembentukan dan
pengeluaran panas sesuai dengan perubahan set point. Terdapat perbedaan
tingginya demam antara bayi kecil dan bayi disebabkan karena
kemampuan meningkatkan set-point, dimana bayi berumur kurang dari 3
bulan jarang mengalami peningkatan suhu tubuh lebih dari 40 °C. Bayi
berumur kurang dari 2 bulan lebih sering menunjukkan demam minimal
atau tidak demam sama sekali pada saat menderita infeksi .
Demam juga menjadi masalah yang sering dihadapi oleh tenaga
medis, perawat dan orangtua, baik di rumah sakit maupun di masyarakat.
Orangtua banyak yang menganggap demam berbahaya bagi kesehatan
bayi karena dapat menyebabkan kejang dan kerusakan otak (Avner, 2009).
Set point hipotalamus turun, menimbulkan respons
pengeluaranpanas. Kulit menjadi hangat dan kemerahan karena
vasodilatasi. Diaforesis membantu evaporasi pengeluaran panas. Ketika
demam “berhenti” klien menjadi afebris (Potter & Perry, 2010) Silbernagl,
2007 (Wilson, 2009) (Broom, 2007) (Sibernagl, 2007).
a) Kegunaan Demam.
Kegunaan demam mungkin dalam hubungannya untuk
mengatasi infeksi. Peningkatan suhu akan menghambat pertumbuhan
beberapa patogen, bahkan membunuh sebagian lainnya. Selain itu,
konsentrasi logam dasar di plasma, seperti besi, seng dan tembaga
yang diperlukan untuk pertumbuhan bakteri dikurangi. Selanjutnya,
sel yang rusak karena virus juga dimusnahkan sehingga replikasi virus
8

dihambat. Karena alasan ini, secara umum sebaiknya antipiretik hanya


digunakan bila demam menyebabkan kejang demam, biasanya pada
bayi dan anak-anak. Bila demamnya sangat tinggi (lebih 39 °C)
sehingga dikhawatirkan terjadi kejang (Sibernagl, 2007). Demam
merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh dalam
menghadapi berbagai mokroorganisme patogen termasuk virus dan
bakteri dengan cara menghambat replikasi mikroorganisme dan
membantu proses fagositosis/aktifitas bakterisida.
b) Komplikasi Demam.
Kerugian yang bisa terjadi pada bayi yang mengalami demam
adalah dehidrasi, karena pada keadaan demam terjadi pula
peningkatan pengeluaran cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan
tubuh kekurangan cairan. Pada kejang demam, juga bisa terjadi tetapi
kemungkinannya sangat kecil. Selain itu, kejang demam hanya
mengenai bayi usia 6 bulan sampai bayi usia 5 tahun. Terjadi pada
hari pertama demam, serangan pertama jarang sekali terjadi pada usia
< 6 bulan atau > 3 tahun. Gejala bayi tidak sadar, kejang tampak
sebagai gerakan2 seluruh tangan dan kaki yang terjadi dalam waktu
sangat singkat. Umumnya tidak berbahaya, tidak menyebabkan
kerusakan otak. Terkadang dalam hal ini orangtua sering sulit
membedakan antara menggigil dengan kejang. Pada saat bayi
menggigil, bayi tidak kehilangan kesadaran, tidak berhenti napasnya.
bayi menggigil karena suhu demamnya akan meningkat.

4. Definisi anak usia sekolah (Yusuf, 2009)


Usia sekolah adalah anak pada usia 6-12 tahun, yang artinya sekolah
menjadi pengalaman anak. Periode anak-anak dianggap mula bertanggung
jawab tas perilakunya sendiri dalam hubungan dengan orang tua mereka,
teman sebaya, dan orang lainnya. Usia sekolah merupakan masa anak
memperoleh dasar-dasar pengethuan untuk keberhasilan penyesuian diri
pada kehidupan dewasa dan memperoleh ketrampilan tertentu.
9

Pertumbuhan dan perkembangan anak usia sekolah (Yusuf, 2009)


Selama usia sekolah, pertumbuhan dan perkembangan anak relative
stabil dibandingkan masa bayi atau remaja yang sedang mengalami
pertumbuhan cepa. Pertumbuhan berat badan setiap tahun rata-rata sekitar
7 pounds (3-3,5) dan pertambahan tinggi badan setiap tahun rata-rata 2,5
inches (6 cm). Kecepatan pertumbuhan anak wanita dan laki-laki hampir
sama pada usia 9 tahun. Selanjutnya, antara usia 10-12 tahun,
pertumbuhan anak wanita mengalami percepatan lebih dulu karena
tubuhnya mengalami percepatan lebih dulu karena tubuhnya memerlukan
persiapan menjelang usia reproduksi. Sementara anak laki-laki baru dapat
menyusul 2 tahuan kemudian.
Perkembangan fisiologi sperti koordinasi motorik, kekuatan otot
dan stamina akan mengalami peningkatan secara progesif. Anak mulai
memiliki kemampuan untuk mengikuti aktivitas fisik seperti menari dan
olahraga. Meningkatkan koordinasi motorik akan meningkatkan
koordinasi motorik akan meningkatkan perkembangan dan keterampilan
makan pada anak. Anak mulai dapat menggunakan peralatan makan
sendiri, menyiapkan sendiri makanannya, dan membantu mengatur meja
makan. Kegiatan tersebut membuat anak mulai belajar untuk berperan
keluarga. Berikut akan lebih lanjut:
a. Perkembangan intelektual.
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup menjadi
dasar diberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan
pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan
dasar-dasar keilmuan seperti: membaca, menulis, dan berhitung.
Disamping itu anak juga diberikan pengetahuan tentang manusia,
hewan lingkungan alam sekitar dan sebagainya.
b. Perkembangan bahasa.
Bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Dalam
pengertian ini mencakup semua cara untuk berkomunikasi dimana
pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan, isyarat
10

atau gerak menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, tulisan.


Pada awal masa ini anak sudah menguasai skitar 2500 kata dan pada
masa akhir telah menguasai sekitar 5000 kata. Pada masa ini tingkat
berpikir anak sudah lebih maju , sudah banyak menanyakan soal waktu
dan sebab akibat. Oleh karean itu, kata tanya yang dipergunakan pun
yang smula hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan
“dimana”, “dari mana”, “kemana”, “mengapa”, dan “bagaimana”.
c. Perkembangan sosial.
Sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-
norma kelompok, tradisi dan moral (agama). Perkembanagn sosial
pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adanya perluasan
hubungan, disamping dengan keluarga mulai membentuk ikatan baru
dengan teman sebaya (peer grup) atau teman sekelas, sehingga ruang
gerak hubungan sosialnya telah tambah luas.
d. Perkembangan moral.
Anak mulai mengenal konsep moral (mengenal sah atau baik
buruk) pertama kali sari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin
anak tidak mengerti konsep moral ini. Tetapi lambat laun anak akan
memahaminya.
e. Perkembangan emosi.
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkayh
laku individu, dalam hal termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang
positif, sperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin
tempe akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya
terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru,
membaca buku, aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas dan disiplin
dalam belajat.
f. Perkembangan penghayatan keagamaan.
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaan ditandai
dengan ciri-cir berikut.
1) Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai pengertian.
11

2) Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional


berdasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator
lam semesta sebagai manifesytai dari keagungan-Nya.
3) Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan
kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
g. Kegiatan bermain.
Permainan yang disukai cenderung kegiatan bermain dilakukan
secara kelompok kecuali anak-anak yang kurang diterima di
kelompoknya dan cenderung memilih bermain sendiri. Bermain yang
sifatnya menjelajah, ketempat-tempat yang belum pernah dikunjungi
baik dikota maupun didesa mengasikan bagi anak. Permainan
konstruktif yaitu membangun atau membentuk atau membentuk
sesuatu adalah bentuk permainan yang disukai anak serat mapu
mengembangkan kreativitas anak. Bernyanyi merupakan bwnetuk
kegiatan kreatif lainnya. Selain itu bentuk permainan kelompok yang
disenangi merupakan permainan olahraga basket, sepak bola, voley
dan sebagainya. Jenis permainan ini membantu perkembangan otak
dan perkembangan tubuh.
5. Definisi Demam Berdarah.
Penyakit Dengue Haemorragic Fever (DHF)/Demam Berdarah
Dengue (DBD) adalah virus dengue yang berjenis Arthropod-Borne Virus,
genus Flavivirus, dan famili Flaviviradae. Ditularkan melalui gigitan
nyamuk dari ugenus Aedes, terutama Aedes aegypti atau aedes albopictus.
Penyakit DBD dapat muncul sepanjang tahun dan dapat menyerang
seluruh kelompok umur. Penyakit ini berkaitan dengan kondisi lingkungan
dan perilaku masyarakat (Kementrian Kesehatan RI, 2017).
Dengue Haemorhagic Fever adalah penyakit menyerang anak dan
orang dewasa yang disevkan oleh virus dengn manifestasi berupa demam
akut, perdarahan, nyeri otot dan sendi. Dengue adalah suatu infeksi
Arbovirus (Artropod Born Virus) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes
Aegepty atau oleh Aedes Albopictus (Lestari, 2016).
12

6. Etiologi Demam Berdarah.


Etiologi dari Dengue Haemorragic Fever adalah melelui gigitan
nyamuk Aedes Aegypti. Virus Dengue mempunyai 4 tipe, yaitu: DEN 1,
DEN 2, DEN 3, DEN 4, yang ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti.
Nyamuk ini biasanya hidup dikawasan tropis dan berkembang biak pada
sumber air yang tergenang. Keempatnya ditemukan di Indonesia dengan
DEN-3 serotipe terbanyak. Infeksi salah satu serotip akan menimbulkan
antibodi yang terbentuk terhadap serotipe yang laim sangat kurang,
sehingga tidak dapat memberikan perlindungan yang memadai terhadap
serotipe yang lain tersebut. Sesorang yang tinggal di daerah endemis
dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe selama hidupnya. Keempat
serotipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai daerah di Indonesia
(Sudoyo, 2010).
7. Manifestasi klinis demam berdarah.
a. Demam dengue.
Merupakan demam 2-7 hari, ditandai dengan dua lebih manifestasi
klien sebagai berikut:
1) Nyeri kepala.
2) Nyeri retro-orbital.
3) Mialgia/atralgia.
4) Ruam kulit.
5) Ptekie atau uji torniquet poitif.
6) Leucopenia.
7) Pemeriksaanm serologi dengue positif, atau ditemukan DD/DBD
yang sudah dikonfirmasi pada likasi dan waktu yang sama.
b. Demam berdarah dengue.
1) Demam atau riwayat demam akut 2-7 hari, biasanya beersifat
bifasik.
2) Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa:
a) Uji torniquet positif.
b) Petekie, ekimosis, atau purpura.
13

c) Perdarahan mukosa (epitaksis, perdarahan gusi), saluran cerna,


tempat bekas suntik.
d) Trombositopenia <100.00/ul.
3) Kebocoran plasma yang ditandai dengan.
a) Peningkatan nilai hematokrit >20% dari nilai baku sesuai umur
dan jenis kelamin.
b) Penurunan nilai hematokrit >20% setelah pemberian cairan
yang adekuat.
4) Tanda kebocoran plasma seperti:
a) Hipoproteinemia.
b) Asites.
c) Efusi pleura.
(Handayani, Wiwik, Hariwibowo, & Sulistyo, 2008)
8. Patofisiologi.
Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan
menimbulkan viremia. Hal tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat
pengatur suhu di hipotalamus sehingga menyebabkan (pelepasan zat
bradikinin, serotonin, trombin, histamin) terjadinya peningkatan suhu.
Selain itu viremia menyebabkan pelebaran pada dinding pembuluh darah
yang menyebabkan perpindahan cairan dan plasma dari intravascular ke
intersisiel yang menyebabkan hipovolemia. Trombositopenia dapat terjadi
akibat dari, penurunan produksi trombosit sebagai reaksi dari antibodi
melawan virus (Murwani & Arita, 2011).
Pada pasien dengan trombositopenia terdapat adanya perdarahan
baik kulit seperti petekia atau perdarahan mukosa di mulut. Hal ini
mengakibatkan adanya kehilangan kemampuan tubuh untuk melakukan
mekanisme hemostatis secara normal. Hal tersebut dapat menimbulkan
perdarahan dan jika tidak tertangani maka akan menimbulkan syok. Masa
virus dengue inkubasi 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari (Soegijanto & Soegeng,
2006).
14

Kemudian virus bereaksi dengan antibodi dan terbentuklah kompleks virus


antibodi. Dalam sirkulasi dan akan mengativasi sistem komplemen. Akibat
aktivasi C3 dan C5 akan akan di lepas C3a dan C5a dua peptida yang
berdaya untuk melepaskan histamin dan merupakan mediator kuat sebagai
faktor meningkatnya permeabilitas dinding kapiler pembuluh darah yang
mengakibtkan terjadinya pembesaran plasma ke ruang ekstraseluler.
Pembesaran plasma ke ruang ekstra seluler mengakibatkan kekurangan
volume plasma, terjadi hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoproteinemia
serta efusi dan renjatan (syok). Hemokonsentrasi (peningatan hematokrit
>20%) menunjukan atau menggambarkan adanya kebocoran (perembesan)
sehingga nilai hematokrit menjadi penting untuk patokan pemberian cairan
intravena (Nursalam, 2005).
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstra vaskuler di buktikan
dengan ditemukan cairan yang tertimbun dalam rongga serosa yaitu
rongga peritonium, pleura, dan pericardium yang pada otopsi ternyata
melebihi cairan yang diberikan melalui infus. Setelah pemberian cairan
intravena, peningkatan jumlah trombosit menunjukan kebocoran plasma
telah teratasi, sehingga pemberian cairan intravena harus di kurangi
kecepatan dan jumlahnya untuk mencegah terjadi edema paru dan gagal
jantung, sebaliknya jika tidak mendapat cairan yang cukup, penderita akan
mengalami kekurangan cairan yang akan mengakibatkan kondisi yang
buruk bahkan bisa mengalami renjatan. Jika renjatan atau hipovolemik
berlangsung lam akan timbul anoksia jaringan, metabolik asidosis dan
kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik (Murwani & Arita,
2011).
15

9. Pathway.

Virus Dengue terdapat pada


nyamuk aedes aeygypty

Nyamuk Aedes Aeygyoty


Menggigit Manusia

Masuk ke Aliran Darah

Viremia

Mekanisme Tubuh Untuk Melawan Komplemen Antigen dan Renjatan


Virus Melawan Virus Antibodi Meningkat
(Proses Immunologi)

Peningkatan Asam Pembebasan Histamin


Lambung Ke Pembuluh Darah
Peningkatan Permeabilitas dan ke Otak Melalui
Anoreksia, Mual, Muntah dinding pembuluh darah
Virus Berkembang di
Gangguan Pemenuhan Nutrisi dalam Darah
Kebocoran Plasma
Kurang Dari Kebutuhan
Hipertermi

Resiko Kekurangan Volume


Cairan Plasma Banyak Menguap
Perdarahan Ekstra Seluler
Pada Jaringan Intersstisial

Resti Syok Hemoglobin Turun Tubuh


Penekanan Syaraf
Nutrisi dan Oksigen ke
Edema
Jantung
MenurunJantung Gangguan Rasa Nyaman
Lemas

Intoleransi Aktivitas
16

10. Derajat demam berdarah.


Tabel 2.1 Derajat Demam Berdarah
Derajat Pertanda
I Demam disertai gejala yang tidak khas dan satu-satunya
manifestasi perdarahan ialah uji bendung.
II Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan
atau perdarahan lain.
III Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan
lambat, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kuran)
ataau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin dan
lembab, dan anak tampak gelisah.
IV Syok berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba, dan
tekanan darah yang tidak teratur.
Sumber: (Sodikin, 2012).
11. Komplikasi.
Menurut Smeltzer (2008), komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit
DHF antara lain.
a. Perdarahan.
Perdarahan mudah terjadi patda tempat fungsi vena, petekia dan
purpura. Selain itu dapat dijumpai epitaksis dan perdarahan gusi,
hematoemesis, dan melena.
b. Hepatomegali.
Bila terjadi peningkatan dari hepatomegali dan hati teraba kenyal,
harus diperhatikan kemungkinan akan terjadinya renjatan pada
penderita.
c. Renjatan (syok).
Syok biasanya dimulai dengan tanda-tanda kegagalamn sirkulasi yaitu
kulit lembab, dingin pada ujung hidung, jari tangan dan jari kaki serta
cyanosis disekitar mulut. Bila syok terjadi pada masa demam maka
biasanya menunjukan prognosis yang buruk.
17

d. Enselopati dengue.
Hal ini dapat terjadi karena adanya syok berkepanjangan dengan
perdarahan, tapi juga dapat terjadi pada DBD yang tidak disertai
syok. Apabila terjadi enselopati maka hal yang dapat terjadi ialah
gangguan metabolik seperti hipoksemia, hiponatremia, atau
perdarahan.
e. Kelainan ginjal.
Gagal ginjal akut umumnya terjadi pada fase terminal, sebagai
akibat dari syok yang tidak teratasi dengan baik. Dapat dijumpai
sindrom uremik hemolitik walaupun jarang.
f. Edema paru.
Edena paru adalah komplikasi yang mungkin terjadi sebagi akibat
terjadi sebagai akibat pemberian cairan yang berlebihan. Pemberian
cairan pada hari sakit ketiga sampai kelima sesuai panduan yang
diberikan, biasanya tidak akan menyebabkan edema paru oleh
karena pembesaran plasma masih terjadi. Tetapi pada saat terjadi
reabsorbsi plasma dari ruang ekstravaskuler, apabila cairan
diberikan berlebih (kesalahan terjadi bila hanya melihat penurunan
hemoglobin dan hematokrit tanpa memperhatikan hari sakit), pasien
akan mengalami distress pernafasan, disertai sembab pada kelopak
mata, dan ditunjang dengan gambaran edema paru pada foto rontgen
dada.
12. Pemeriksaan diagnostik.
a. Uji laboratorium.
1) Trombositopenia (100.000/ml atau kurang).
2) Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas
kapiler, dengan manifestasi:
a) Peningkatan hematokrit > 20% dai nilai standar.
b) Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan
dan efusi pleura/pericardial;, asites, serta hipoproteinemia
(Sodikin, 2012).
18

b. Tes torniquet/rumpel-Leede test.


Untuk menentukan ada tidaknya kecenderungan adanya
perdarahan pada pasien. Tes ini digunakan untuk menilai kerapuhan
dinding kapiler dan digunakan untuk mengidentifikasi terjadinya
trombositopenia (jumlah trombosit yang rendah). Tes ini dilakukan
dengan menempakan sebuah manset alat pengukur tekanan darah
(sphygmomanometer), untuk mengukur antara trekanan darah
sistolik dan tekanan darah diastolik selama 5 menit. Tes ini
dinyatakan positif jika ada 10 atau lebih ptekie per inchi persegi.
pada DBD biasanya memberikan hasil positif dengan diemukannya
20 ptekie atau lebih (Sodikin, 2012).
13. Penatalaksanaan demam berdarah.
a. Penatalaknaan DHF tanpa shock.
1) Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air
tajin, air sirup, susu, untuk mengganti cairan yang hilang akibat
kebocoran plasma, demam, muntah diare.
2) Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau
ibuprofen karean obat-obat ini merangsang perdarahan.
3) Berikan infus sesuai derajat dehidrasi, bila derajat sedang:
a) Berikan larutan (ringer laktat/asetat), kebutuhan cairan
parenteral harus disesuikan dengan kebutuhan (berat badan
< 15 kg=7 ml/kgBB/jam;berat badan 15-40 kg= 5
ml/kgBB/jam; dan berat badan > 40 kg = 3 ml/kgBB/jam).
b) Pantau tanda vital dan diuresisi setiap jam, serta periksa
laboratorium (hematokrit. Trombosit, leukosit, dan
hemoglobin) setiap 6 jam.
c) Bila terjai penurunan hematokrit dan klinis membaik,
yurunkan jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan
stabil. Cairan intravena biasanya hanya memerlukan waktu
24 -48 jam sejak kebocoran pembuluh darah kapiler setelah
pemberian cairan.
19

d) Bila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksanan sesuai


tata laksana syok terkompensasi (compensated shock).
b. Penatalaksanaan DHF dengan syok.
1) Perlakuan hal ini sebagai kasus gawat darurat. Berikan O2
sekitar 2-4 L/menit secara nasal.
2) Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti ringer laktat/asetat
secepatnya.
3) Bila tidak menunjukan perbaikan klinis, ulangi pemberian
kristaloid 20 ml/kgBB (maksimal 30 menit) atau
pertimbangkan pemberian koloid 10-20/kgBB/jam maksimal
30 ml/kgBB/24 jam.
4) Bila terdapat perbaikan klinis ( pengisian kapiler dan perfusi
mulai membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan
dikungai sampai 10 ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dab secara
bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai dengan kondisi klinis
dan laboratorium.
5) Pada banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah
36-48 jam.

B. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DEMAM BERDARAH


1. Pengkajian.
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari pengumpulan,
verifikasi, komunikasi dan data tentang pasien. Pengkajian ini didapat dari
dua tipe yaitu data subyektif dan persepsi tentang masalah kesehatan
mereka dan data obyektif yaitu pengamatan/pengukuran yang dibuat oleh
pengumpulan data.
Berdasarkan klasifikasi NANDA (Herdman, 2010), fokus
pengkajian yang harus dikaji tergantung pada ukuran, lokasi, dan etiologi
kalkulus:
20

a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala: keterbatasan aktivitas sehubungan dengan kondisi
sebelumnya, pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan
bersuhu tinggi.
b. Sirkulasi.
Tanda: peningkatan TD, HR, nadi, kulit hangat dan kemerahan.
c. Eliminasi.
Gejala: riwayat ISK, obstruksi sebelumnya, penurunan volume urin,
rasa terbakar. Tanda: oliguria, hematuria, piouria, perubahan pola
berkemih.
d. Pencernaan.
Tanda: mual-mual, muntah.
2. Diagnosa.
Diagnose keperawatan menurut NANDA (Herdman, 2010):
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses
penyakit (viremia).
2. Nyeri berhubungan dengan proses patologis penyakit.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan mual, muntah, anoreksi.
4. Kurangnya volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan
permeabilitas dinding plasma.
5. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri, terapi
tirah baring.
6. Resiko terjadinya syok hypovolemik berhubungan dengan kurangnya
volume cairan tubuh.
7. Resiko terjadinya perdarahan lebih lanjut berhubungan dengan
trombositopenia
21

3. Perencanaan.
Tabel 2.2 Perencanaan dan Evaluasi
No.Dx Kriteria hasil dan Intervensi Rasional
tujuan
1. Setelah dilakukan 1.Kaji saat timbulnya 1.Untuk
perawatan 3 x 24 demam mengidentifikasi
jam diharapkan 2.Observasi tandavital pola demam pasien.
suhu tubuh pasien (suhu,nadi,tensi, 2.Tanda vital
dapat berkurang/ pernafasan) 3.setiap 3 jam merupakan acuan
teratasi. Dengan Anjurkan pasien untuk untuk mengetahui
Kriteria hasil: banyak minum (2,5 liter/24 keadaan umum pasien.
1.Pasien jam) 3.Peningkatan suhu
mengatakan kondisi 4.Berikan kompres hangat tubuh mengakibatkan
tubuhnya nyaman 5. Anjurkan untuk tidak penguapan
2.Suhu 36,80C- memakai selimut dan tubuh meningkat
37,50C, 3.Tekanan pakaian yang tebal sehingga perlu
darah 120/80 6. Berikan terapi cairan diimbangi dengan
mmHg intravena dan obat-obatan asupan cairan
4.Respirasi 16-24 sesuai program yang banyak.
x/mnt, dokter 4.Vasodilatasi dapat
5.Nadi 60-100 meningkatkan
x/mnt. penguapan yang
mempercepat
penurunan suhu
tubuh.
5.Pakaian tipis
membantu mengurangi
penguapan tubuh.
6. pemberian cairan
sangat penting bagi
pasien
dengan suhu tinggi
2. Setelah dilakukan 1.Observasi tingkat nyeri 1.Mengindikasi
perawatan 3 x 24 pasien (skala, frekuensi, kebutuhan untuk
jam diharapkan durasi). intervensi dan juga
nyeri pasien dapat 2.Berikan lingkungan yang tanda-tanda
berkurang dan tenang dan nyaman dan perkembangan/resolusi
menghilang. tindakan komplikasi.
Dengan kriteria: Kenyamanan. 2.Lingkungan yang
1.Pasien 3.Berikan aktifitas hiburan nyaman akan
mengatakan yang tepat. membantu
nyerinya hilang, 4. Libatkan keluarga dalam proses relaksasi.
nyeri berada pada asuhan keperawatan. 3.memfokuskan
2.skala 0-3 5. Ajarkan pasien teknik kembali perhatian;
22

3.tekanan darah relaksasi. meningkatkan


120/80 mmHg 6. Kolaborasi dengan kemampuan untuk
3.Suhu 36,80C- dokter untuk pemberian menanggulangi nyeri.
37,50C obat analgetik. 4. Keluarga
4.Respirasi akan membantu proses
16-24 x/mnt penyembuhan dengan
5.Nadi 60-100 melatih pasien
x/mnt. relaksasi.
5. Relaksasi akan
memindahkan rasa
nyeri ke hal lain.
6. memberikan
penurunan nyeri.
3. Setelah dilakukan 1.Observasi keadaan umam 1. Mengetahui
tindakan pasien dan keluhan pasien. kebutuhan yang
keperawatan 2. Tentukan program diet diperlukan oleh
selama 3 x 24 jam dan pola makan pasien dan pasien.
diharapkan bandingkan dengan 2. Mengidentifikasi
perubahan status makanan yang dapat kekurangan dan
nutrisi kurang dari dihabiskan oleh pasien. penyimpangan dari
kebutuhan tubuh 3.Timbang berat badan kebutuhan terapeutik.
dapat setiap hari atau sesuai 3. mengkaji
teratasi. Dengan indikasi. pemasukan makanan
kriteria hasil: 4. Identifikasi makanan yang adekuat
1.Mencerna jumlah yang disukai atau (termasuk absorbsi
kalori dan nutrisi dikehendaki yang sesuai dan utilisasinya).
yang tepat. dengan program diit. 4. jika makanan yang
2.Menunjukkan 5. Ajarkan pasien dan disukai pasien
tingkat energi libatkan keluarga pasien dapat dimasukkan
biasanya. pada perencanaan dalam pencernaan
3.Berat badan stabil makan sesuai indikasi. makan, kerjasama ini
atau bertambah 6. Kolaborasi dengan dapat diupayakan
dokter untuk pemberian setelah pulang.
obat anti mual. 5. meningkatkan rasa
keterlibatannya;
Memberikan informasi
kepada keluarga untuk
memahami nutrisi
pasien
6. Kolaborasi dengan
dokter untuk
pemberian obat anti
mual.
4. Setelah dilakukan 1.Pantau tanda-tanda vital, 1. hipovolemia dapat
perawatan selama 3 catat adanya perubahan dimanisfestasikan oleh
x 24 jam tanda vital. hipotensi
23

diharapkan 2. Pantau pola nafas seperti dan takikardi.


kebutuhan cairan adanya pernafasan 2. Pantau pola nafas
terpenuhi. Dengan kusmaul. seperti adanya
kriteria hasil: 3. Pantau pola nafas seperti pernafasan kusmaul.
1.TD 120/80 adanya pernafasan 3. Merupakan
mmHg kusmaul. indicator dari
2.RR 16-24 x/mnt 4.Kaji nadi perifer, dehidrasi.
3.Nadi 60-100 pengisian kapiler, turgor 4. demam dengan kulit
x/mnt, kulit dan membran kemerahan, kering
4.Turgor kulit baik mukosa. menunjukkan
5.Haluaran urin 5. Pantau masukan dan dehidrasi.
tepat secara pengeluaran cairan. 5. Memberi
individu 6. Pertahankan untuk perkiraan akan cairan
6.Kadar elektrolit memberikan cairan paling pengganti, fungsi
dalam batas normal sedikit 2500 ml/hari ginjal, dan program
(Caroll, Judith, & dalam batas yang dapat pengobatan.
W.N, 2012). ditoleransi jantung. 6.Mempertahankan
7. Catat hal-hal seperti volume sirkulasi.
mual, muntah dan distensi 7. kekurangan cairan
lambung. dan elektrolit
8.Observasi adanya menimbulkan muntah
kelelahan yang meningkat, sehingga kekurangan
edema, peningkatan cairan dan elektrolit.
BB, nadi tidak teratur. 8. pemberian cairan
9. Berikan terapi cairan untuk perbaikan yang
normal salin dengan atau cepat berpotensi
tanpa dextrosa, menimbulkan
pantau pemeriksaan kelebihan beban
laboratorium(Ht, BUN, Na, Cairan.
K). 9. mempercepat proses
penyembuhan untuk
memenuhi kebutuhan
cairan

5. Setelah 1.Kaji dan identifikasi 1. Mengetahui derajat


dilakukanperawatan tingkat kekuatan otot pada kekuatan otot-otot
selama 3 x 24 jam kaki pasien. kaki pasien.
diharapkan pasien 2. Beri penjelasan tentang 2. pasien mengerti
dapat mencapai pentingnya melakukan pentingnya aktivitas
kemampuan aktivitas. sehingga dapat
aktivitas yang 3. Anjurkan pasien untuk kooperatif dalam
optimal. menggerakkan/mengangkat tindakan keperawatan.
Dengan Kriteria ekstrimitas 3.melatih otot – otot
hasil: 1.Pergerakan bawah sesui kemampuan. kaki sehingga
pasien bertambah 4.Bantu pasien dalam berfungsi dengan baik.
luas. memenuhi kebutuhannya. 4. agar kebutuhan
24

2.Pasien dapat 5. Kolaborasi dengan tim pasien tetap dapat


melaksanakan kesehatan lain: dokter terpenuhi.
aktivitas sesuai (pemberian 5. analgesik dapat
dengan kemampuan analgesic). membantu mengurangi
(duduk, berdiri, rasa nyeri.
berjalan). 3.Rasa
nyeri berkurang.
4.Pasien dapat
memenuhi
kebutuhan
sendiri secara
bertahap sesuai
dengan kemampuan
6. Setelah dilakukan 1.Monitor keadaan umum 1. memantau kondisi
perawatan 3 x 24 pasien. pasien selama masa
jam diharapkan 2. Observasi tanda-tanda perawatan terutama
tidak terjadi syok vital tiap 2 sampai 3 jam. pada saat terjadi
hipovolemik. 3. Monitor tanda perdarahan sehingga
Dengan Kriteria perdarahan. segera diketahui tanda
hasil : 4. Cek haemoglobin, syok dan dapat segera
1.TD 120/80 hematokrit, trombosit. ditangani.
mmHg 5. Berikan transfusi sesuai 2.tanda
2.RR 16-24 x/mnt, program dokter. tanda vital normal
Nadi 60-100 x/mnt, 6. Untuk menggantikan menandakan keadaan
3.Turgor kulit baik. volume darah serta umum baik.
4.Haluaran urin komponen darah yang 3.perdarahan cepat
tepat secara hilang. diketahui dan dapat
individu. diatasi sehingga pasien
5.Kadar elektrolit tidak sampai syok
dalam batas normal hipovolemik.
4. Untuk
mengetahui tingkat
kebocoran pembuluh
darah yang dialami
pasien sebagai acuan
melakukan tindakan
lebih lanjut.
5.Untuk menggantikan
volume darah serta
komponen darah yang
hilang.
6. Untuk mendapatkan
penanganan lebih
lanjut sesegera
mungkin.
25

7. Setelah dilakukan 1. Monitor tanda 1. penurunan trombosit


perawatan 3 x 24 penurunan trombosit yang merupakan tanda
jam diharapkan disertai gejala klinis. kebocoran pembuluh
tidak terjadi 2. Anjurkan pasien untuk darah.
perdarahan. banyak istirahat. 2. aktivitas
Derngan kriteria 3. Beri penjelasan untuk pasien yang tidak
hasil: segera melapor bila ada terkontrol dapat
1.Tekanan darah tanda perdarahan menyebabkan
120/80 mmHg lebih lanjut. perdarahan.
2.Trombosit 4. Jelaskan obat yang 3. Membantu pasien
150.000-400.000 diberikan dan manfaatnya. mendapatkan
penanganan sedini
mungkin.
4. Memotivasi pasien
untuk mau minum
obat sesuai dosis yang
diberikan.

4. Evaluasi.
No. Dx Kep Evaluasi
1. S: Pasien mengatakan kondisi tubuhnya nyaman
O:Suhu 36,8 0C-37,5 0C, Tekanan darah 120/80 mmHg,
Respirasi 16-24 x/mnt, Nadi 60-100 x/mnt.
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi.
2. S: Pasien mengatakan nyerinya hilang.
O:Nyeri berada pada skala 0-3, tekanan darah 120/80
mmHg, suhu 36,80C-37,50C, respirasi
16-24 x/mnt, nadi 60-100 x/mnt.
A:Masalah Teratasi.
P:Hentikan intervensi.
3. S:Pasien mengatakan nafsu makan bertambah.
O: Mencerna jumlah kalori dan nutrisi yang tepat,
menunjukkan tingkat energi biasanya, berat badan stabil
atau bertambah.
A:Masalah teratasi
P:Hentikan intervensi.
4. S:-
O: TD 120/80 mmHg, RR 16-24 x/mnt, Nadi 60-100
x/mnt, Turgor kulit baik, Haluaran urin tepat secara
individu, Kadar elektrolit dalam batas normal
A:Masalah teratasi
P:Hentikan intervensi
5. S:Pasien mengatakan nyeri berkurang dan dapat
melakukan aktivitas secara mandiri.
26

O: Pergerakan pasien bertambah luas, pasien dapat


melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan
(duduk, berdiri, berjalan), rasa nyeri berkurang, Pasien
dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai
dengan kemampuan.
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi.
6. S:-
O: TD 120/80 mmHg, RR 16-24 x/mnt, Nadi 60-100
x/mnt, turgor kulit baik, haluaran urin tepat secara
individu, Kadar elektrolit .dalam batas normal.
A:Masalah Teratasi.
P:Hentikan intervensi.
7. S:-
O: Tekanan darah 120/80 mmHg, Trombosit 150.000
400.000.
A:Masalah teratasi.
P:Hentikan intervensi.

C. Model konservasi Levine.


1. Model konservasi menururt levine (Yaeger, 2002).
Konsep sentral teori Levine adalah konservasi. Ketika sesorang
dalam keadaan konservasi itu berarti bahwa respon adaptif individu sesuai
perubahan secara produktif dan dengan sedikit pengeluaran usaha sambil
menjaga fungsi optimal dan identitas. Konservasi dicapai melalaui aktivasi
sukses jalur adaptif dan perilaku yang sesuai untuk berbagai respon yang
dibutuhkan oleh manusia.
Mira Levine menggambarkan empat prinsip itu berfokus pada
pelestarian kebutuhan individu. Dia menganjurkan bahwa keperawatan
adalah interaksi manusia dan prinsip-prinsip konservasi yang diusulkan.
Keempat konservasi itu berkaitandengan kesatuan dan keutuhan pribadi
yang meliputi energi, intregitas, struktur, intregitas pribadi dan intregitas
sosial.
27

a. Konservasi energi.
Mengacu pada masukan menyeimbangkan energi dan output
untuk menghindari kelelahan yang berlebihan ini mencakup istirahat
yang cukup, nutrisi dan olahraga.
b. Konservasi intregitas struktural.
Mengacu untuk memelihara atau memulihkan struktur tubuh
mencegah kerusakan fisik dan mempromosikan penyembuhan. Contoh
membantu pasiendalam latihan berjalan, pemeliharaan kebersihan
pribadi pasien.
c. Konservasi intregitas pribadi.
Mengakui individu sebagai salah satu yang berusaha untuk
penentuan, pengakuan, penghormatan, kesadaran diri, kepribadian dan
self. Contoh melindungi ruangan pasien dan memberi kenyamanan
kepada klien.
d. Konservasi intregitas sosial.
Seseorang individu diakui sebagai beberapa orang yangtinggal
bersama dalam sebuahkeluarga, komunitas, kelompok agama,elompok
etnis, sistem politik dan bangsa. Contohnya membantu individu untuk
mempertahankan tempatnaya dalam keluarga, komunitas dan
masyarakat.
2. Implikasi teori Myra Levine.
Praktik keperawatan diarahkan pada peningkatanwholness untuk
semua individu baikyang sehat maupaun yang sakit. Pasien atau klien
merupakan partner dalam asuhan keperawatan. Tujuan keperawatam untuk
mengakhiri ketergantungan secepat mungkin. Metodologi praktek menurut
Levine adalah proses keperawatan yang diarahkan menuju konservatif
yang terdiri dari 3 langkah (Yaeger, 2002)
a. Trophicognosis.
Levine merekomendasikan Trophicognosis sebagai suatu
alternative diagnosa keperawatan. Trophicognosisi merupakan formula
dalam asuhan keperawatan yang dicapai melalui metode ilmu
28

pengetahuan. Perawatan mengobservasi dan mengumpulkan data yang


akan mempengaruhi praktek keperawatan. Perawat mengkaji
konservasi energi pasien dengan menentukan kemampuan pasien untuk
menunjukan kebutuhan aktivitas tanpa menghasilkan kelemahan yang
berlebihan. Perawat serta pengalaman hidup dari pasien mengkaji
konservasi intregitas struktural dengan menentukan fungsi fisiknya.
Perawat mengkaji intregitas personal pasien dengan menentikan nilai
moral dan etis serta pengalaman hidup pasien. Perawat mengkaji
konservasi intregitas pasien dengan bberbicara dengan anggota
keluaraga pasien, teman dan lingkungan konseptual.
b. Intervensi atau tindakan.
Perawat mengimplementasikan rencana askep disesuaikann
dengan struktur kebijakan yang administrative, ketersediaan alatdan
pengembangan standar keperawatan. tipe intervensi keperawatan
meliputi: terapeutik, supportif. Intervensi dibangun dari 4 prinsip
konservasi yang terdiri konservasi energi, konservasi intregitas
struktural, konservasi intregasi personal dan intregitas sosial.
c. Evaluasi.
Perawat mengevaluasi pengaruh dan tindakan yang sudah
dilakukan serta merevisi topik jika dibutuhkan. Indikator keberhasilan
ditentukan dengan respon pasien.
3. Cara menilai tingkat keberhasilan model Levine.
Adanya tercapainya suatu kriteria hasil atau biasa disebut dengan respon
orgasmik.
.
29

BAB III
METODE PENELITIAN

A. DESAIN PENELITIAN
Dalam penelitian ini mengguanakan studi kasus, yaitu merupakan
rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara
intensif, dan bergantung pada keadaan kasus namun tetap mempertimbangkan
faktor penelitian waktu, sealain itu riwayat dan pola perilaku sebelumnya
biasnya dikaji seacara rinci(Nursalam, 2014).
Menurut Setiadi (2007), Case Study, yaitu jenis penelitian yang
dilakukan dengan cara meneliti melalaui suatu kasus yang terdiri dari unit
tangggal. Unit tunggal disini dapat diartikkan satu orang, kelompok penduduk
yang terkena suatu maslaah. Unit yang menjadi masalah tersebut secara
mendalam dianalisa baik dari segi yang berhubungan dengan kasusnya
sendirri , faktor risiko, yang mempengaruhi, kejadian yang berhubungan
dengan kasus maupun tidnakan dan reaksi dari kasus, tindakan dan reaksi
kasus terhadap suatu perlakuan atau pemparan tertentu,. Meskipun yang
ditelitri dalam kasus tersebut hanya berbentuk unit tunggal, namun dianalisis
seacara mendalam.
Penulis melakukan eksplorasi asuhan pada An.R berusia 6,5 tahun
dengan dengue hemorragi fever

B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITAN


1. Tempat Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Ruang Alamanda Rumah Sakit Santa Maria
Pemalang yang terletak di Pemalang. Ruang Alamanda merupakan
ruangan kelas 1 BPJS berjumlah 6 tempat tidur dan kelas 2 bejumlah 18
tempat tidur, ruangan VIP 2 tempat tidur. Ruangan isolasi dengan
kapasitas 4 kamar tidur. Jadi kapasitas tempat tidur ada di ruang alamanda
berjumlah 29 tempat tidur. Akreditasi rumah sakit tipe C, memiliki luas
tanah 12.126 dengan luas bangunan 10.070,1.
30

2. Waktu penelitian.
Penelitian dilakukan selama 3 hari dari tanggal 13-15 Maret 2019.

C. SUBJEK STUDY KASUS


Subjek penelitian dalam studi kasus ini adalah anak usia 1-7 tahun, dengan
demam.

D. FOKUS STUDI
Penerapan Model Levine pada pasien anak demam.

E. DEFINISI OPERASIONAL FOKUS STUDI.


1. Konsep sentral teori Levine adalah konservasi. Ketika sesorang dalam
keadaan konservasi itu berarti bahwa respon adaptif individu sesuai
perubahan secara produkdifdan dengan sedikit pengeluaran usaha sambil
menjaga fungsi optimal dan identitas. Konservasi dicapai melalaui aktivasi
sukses jaur adaptif dan perilaku yang sesuai untuk berbagai respon yang
dibutuhkan oleh manusia (Yaeger, 2002).
2. Demam (pireksia) adalah keadaan suhu tubuh di atas normal sebagai
akibat peningkatan pusat pengatur suhu di hipotalamus yang dipengaruhi
oleh IL-1. Pengaturan suhu pada keadaan sehat atau demam merupakan
keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas (Sumarmo, 2012).

F. METODE PENGUMPULAN DATA


Teknik yang digunakan dalah wawancara, observasi dan dokumentasi.
Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan memberikan beberapa
pertanyaan secara langsung terhadap responden yang diteliti, sehingga
didapatkan hasil secara langsung (Hidayat & Azis, 2008). Dalam mencari
informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yakni autoanamnesa
(wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan
alloanamnesa(wawancara dengan keluarga responden) (Sugiyoni, 2008).
Dalam wawancara peneliti menggali dan menanyakan sesuai teori Levine
31

terkait konservasi energi, intregitas struktural, personal dan sosialisasi serta


menanyakan sudah berapa lama demam yang dialami, apa saja yang sudah
dilakukan untuk mengatasinya.
Observasi menurut Arikunto (2010) meliputi kegiatan permuatan
perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra.
Dalam penelitian ini observasi yang digunkan bersifat kuantitatif yakni dengan
mencatat jumlah peristiwa-peristiwa penting tingkah laku tertentu, dan secara
kualitatif terhadap keluhan yang dirasakan pasien. Sedangkan menurut
Dharms (2013), observasi adalah teknik pengumpulan data dengan
menggunakan panca indra (melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan
meraba). Dalam mengobservasi, peneliti melakukan observasi penurunan suhu
pre dan post sesudah dilakukan berdasarkan tindakan sesuai teori Levine.
Studi dokumentasi adalah salah satu teknik pengumpulan data untuk
memperoleh informasi melalui fakta yang tersimpan dalam bentuk data
sekunder (Supardi danRustika, 2013).

G. ANALISA DAN PENYAJIAN DATA


Data yang dikumpulkan dari hasil wawancara, observasi, dan
dokumentasi keperawatan yang ada di Ruang Alamanda pada tanggal 13-15
Maret 2019. Untuk menunjang data pada pasien, peneliti menggunakan hasil
laboratorium dan pemeriksaan diagnostik.
1. Pengumpulan data.
Data yang didapatkan untuk penelitian ini didapatkan dari hasil
wawancara langsung dengan pasien dan keluarga pasien. Dalam wawncara
didapatkan data mengenai keluhan utama serta riwayat penyakit.
Observasi langsung kepada pasien dengan mengamati penurunan suhu
dilakukan 2 jam sekali. Dokumentasi diperoleh dari rekam medis pasien
dan hasil pemeriksaan laboratorium.
a. Data yang sudah didapatkan keluhan utama dan penunjang lainnya
diseleksi dan dimasukan kedalam analisa data keperawatan.
32

b. Dari hasil analisa data dapat disusun menjadi diagnosa keperawatan


melalui tiga komponen yaitu problem (masalah), etiologi (penyebab),
dan sign/symptom (tanda dan gejala). Pengisian komponen pada
analisa data,didasarkan pada tanda dan gejala yang dibandingkan
dengan batasan karakteristik dan faktor yang berhubungan sesuai
dengan diagnosa keperawatan yang muncul.
2. Penyajian data.
Data-data hasil wawancara, observasi, dan studi dokumentasi disajikan
dalam bentuk tabel dan teks narassi. Untuk pengkajian, perencanaan,
implementasi, dan evaluasi, dituliskan dalam bentuk narasi agar data lebih
spesifik. Sedangkan pada diagnosa dan analisa data, disajikan dalam
bentuk tabel, agar mempermudah pengelompokan data. Kerahasiaan
identitas pasien, menggunakan inisial dalam menulis nama pasien dan
tidak mencatumkan nomor rekam medik.

H. ETIK PENELITIAN
Menurut Hidayat (2008), etika yang mendasari suatu penelitian terdiri dari:
1. Peneliti bertanggung jawab atas karyanya bahwa telah memenuhi aspek
legal dan terbebas dari fabrikasi (mengarang data), falsifikasi (mengubah
data), plagiasi (mengambil ide atau pendapat atau mengambil data tanpa
ijin atau tidak mencantumkan pengarang.
2. Adanya bukti Informed Consent sebagai legal aspek kesediaaan responden
yang diteliti.
3. Nama inisial (Anonim) merupakan usaha untuk menjaga kerahasiaan
tentang hal-hal yang berkaitan dengan responden. Artinya peneliti tdiak
akan mencatumkan nama subjek pada lembar pengumpulan data dalam
penelitian ini.
4. Kerahasiaaan (Confidentiality) semua informasi responden dijamin
kerahasiaannya, hanaya data tertentu saja yang akan dilaporkan dalam
hasil penelitian.
33

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam bab ini penulis akan menguraikan beberapa hal terkait hasil
pengumpulan data yang meliputi gambaran lokasi penelitian, karakteristik
partisipan (identitas pasien), dan data asuhan keperawatan. Selain ini peulis juga
akan menguraikan terkait pembahasan keperawatan yang meliputi pengkajian,
diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.

A. HASIL
1. Gambaran Lokasi Penelitian.
Penelitian ini dilakukan di Ruang Alamanda Rumah Sakit Pemalang.
Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit tipe C yang terletak di
Pemalang. Ruang Alamanda merupakan ruangan kelas 1 BPJS berjumlah
6 tempat tidur dan kelas 2 bejumlah 18 tempat tidur, ruangan VIP 2
tempat tidur. Ruangan isolasi dengan kapasitas 4 kamar tidur. Jadi
kapasitas tempat tidur ada di ruang alamanda berjumlah 29 tempat tidur.
Kasus Demam Berdarah berdasarkan dari rekam medis, pada tahun 2018
menunjukan data sebanyak 88 pasien menjalani rawat jalan.
2. Data Asuhan Keperawatan.
Pengkajian
a. Identitas Pasien
Nama : An. R.
Usia : 6,5 tahun
Pendidikan :Tk nol besar
Agama : Islam
Nama Ayah : Tn. F
Pekerjaan ayah : Wirasawasta
Pendidikan Ayah : Sd
Nama Ibu : Ny. S
Pekerjaan Ibu : Ibu Rumah Tangga
34

Pendidikan Ibu : Sd
Agama: Islam
Alamat : Loneng Suwiyu
Diagnosa Medis : Dengue Haemoragic Fever
Tangga Masuk Pasien: Rabu, 13 Maret 2019 / 03.00
b. Hasil Pengkajian
Pengkajian dilakukan pada tanggal 13 jam 7.30 didapatkan hasil
pengkajian sebagai berikut:
Pengkajian pola fungsional pada pola Nutrisi-pola metabolik.
Sebelum sakit:
2) BB : 17 kg, TB : 110 cm, LLA : 17 cm, LK : 48 cm, LD: 50 cm.
3) Tidak terkaji.
4) Tidak terkaji.
5) Orangtua pasien mengatakan makan 3x sehari setengah porsi
minum sedikit kurang lebih 500 ml.
Sesaat sakit:
1) BB : 15 kg, TB : 110 cm, LLA : 15 cm, LK : 48 cm, LD : 49 cm
2) WBC 5,99 103/µl, HGB 11, 3 g/dl
3) Bibir kering, akral teraba hangat.
4) Tidak nafsu makan, habis ¼ porsi makan.
c. Keluhan utama dan riwayat sakit.
1) Keluhan utama saat ini.
Pasien mengatakan mengeluh panas.
2) Riwayat penyakit sekarang.
Orangtua pasien mengatakan sebelumnya sudah pernah demam
lalu diperiksakan ke poliklinik pada hari hari sabtu kemarin. Suhu
anak anaik turun namun pada hari rabu suhu naik kembali. Lalu
pada jam 03.00 dibawa kerumah sakit santa maria. Pertama ke unit
gawat darurat, tindakan mengambil darah vena. Menunggu hasil
lab keluar pada jam 05.00. Dibawa keruang alamanda oleh tenaga
kesehatan.
35

3) Riwayat keluarga.

4.1 Gambar Genogram Keluarga An “R”


Keterangan:
: Laki-laki :Tinggal serumah
:Perempuan :Pasien
Keluarga tinggal serumah dengan mertua suami.
d. Hasil pemeriksaan diagnostik
1) Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 13 maret 2019 jam 12.00
WIB menunjukan pada segi pemeriksaan darah rutin menunjukan
bahwa sel darah putih 5.99 103/µL (nilai normal 4.00 – 11.00
103/µL), hemoglobin 11.3 g/dL (3.90-5.30 g/dL), Hematokrit
34.8% (nilai normal 30.0-40.0 %), Trombosit 146 103/µL ( 150-
450 103/µL).
2) Lalu pemeriksaan laboratorium pada tanggal 14 maret 2019 jam
14.00 WIB menunjukan pada segi pemeriksaan darah rutin
menunjukan bahwa sel darah putih 1.53 103/µL (nilai normal 4.00
– 11.00 103/µL), hemoglobin 12.0 g/dL (3.90-5.30 g/dL),
Hematokrit 37.2% (nilai normal 30.0-40.0 %), Trombosit 131
103/µL ( 150-450 103/µL).
3) Pemeriksaan laboratorium pada tanggal 15 maret 2019 jam 16.00
WIB menunjukan pada segi pemeriksaan darah rutin menunjukan
36

bahwa sel darah putih 2.10 103/µL (nilai normal 4.00 – 11.00
103/µL), hemoglobin 12.4 g/dL (3.90-5.30 g/dL), Hematokrit 35.8
% (nilai normal 30.0-40.0 %), Trombosit 128 103/µL ( 150-450
103/µL).
e. Pemeriksaan fisik.
1) Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum sakit sedang,
kesadaran composmentis, tekanan darah : 90/80 mmHg, nadi : 100
x/menit, suhu 39 0 C, berat badan 15 kg, tinggi badan 110 cm, IMT
: 15/(1.1)2 = 12,3 (kategori berat badan kurang atau kurus).
Lingkar kepala : 48 cm, lingkar dada : 50 cm, lingkar lengan atas :
17 cm.
2) Pada pemeriksaan kepala bentuk mesochepal, tidak ada kelainan,
rambut pendek berwarna hitam, tidak ada ketombe. Pada
pemeriksaan mata pasien, penglihatan pasien baik, konjunctiva
merah muda, sklera non icterik, pupil isokhor, tidak teraba tekanan
intrakranial. Pada pemeriksaan telinga tidak ada gangguan
pendengaran, telinga kanan dan kiri dapat mendengar dangan
jelas.
3) Pada pemeriksaan mulut klien, mukosa bibir kering, tidak ada
stomatitis, jumlah gigi lengkap, tidak ada caries, lidah agak kotor.
Pada pemeriksaan hidung, bentuk simetris, tidak ada pembesaran
polip, tidak ada gangguan pembauan. Pada pemeriksaan leher
klien, tidak ada pembesaran kelenjar tyroid.
4) Pada pemeriksaan dada inspeksi paru didapatkan pengembangan
dada kanan dan kiri simetris, bentuk dada simetris. Palpasi,
ekspansi dada kanan dan kiri sama, vokal fremitus kanan dan kiri
sama. Perkusi sonor di semua lapang peru. Auskultasi, suara nafas
bronkovesikuler, tidak ada suara tambahan ronchi dan wheezing.
Sedangkan pada pemeriksaan jantung dengan inspeksi, ictus
cordis terlihat, bentuk dada normal. Palpasi,ictus cordis teraba 1
jari. Perkusi, pekak disemua batas jantung yang meliputi batas
37

kanan atas di ICS II lines sternalis dekstra, kiri atas di ICS II linea
sternalis sinistra, kanan bawah di ICS IV linea sternalsis sinistra,
kiri bawah di ICS mid clavicula sinistra. Auskultasi, suara jantung
normal, irama reguler, tidak ada suara tambahan sperti murmur
dan gallop. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan inspeksi,
permukaan abdomen bersih, bentuk perut datar. Auskultasi, bising
usus 15 x/menit. Perkusi, tidak ada pembesaran hepar. Palpasi,
tidak ada nyeri tekan. Pada pemeriksaan punggung, tidak terlihat
sklerosis, lordosis, dan tidak ada luka. Pada pemeriksaan genetalia
klien berjenis kelamin laki-laki tidak terpasang kateter. Pada
pemeriksaan ekstremitas serta kulit dan kuku di dapatkan anggota
gerak lengkap, ekstremi0tas atas pada tanagn kiri terpasang infus
ringer laktat 20 tetes/menit, dengan kekuatan otot didapatkan data
tangan kanan dan kiri skala 5, kaki kanan dan kiri skala 5. Pada
kaki tidak teraba udema. Pada kulit didapatkan akral teraba
hangat, capilary refill kurang dari 2 detik, turgor kulit elastis,
kulit bersih, warna kulit sawo matang, kuku pendenk dan bersih.

f. Analisa data dan Diagnosa keperawatan


1) Analisa data.
Tabel 4.1 Analisa Data
Tgl/jam Data Fokus Problem Etiologi
13/3/2019 Ds:pasien Hipertermi Penyakit
08.00 mengatakan
demam.
Do:akral teraba
hangat
TTV: s:390C
N:100x/menit
RR:22x/menit
TD:100 /80
mmHg
Ds:Orang tua Ketidak Kurang asupan
pasien seimbangan makanan
mengatakan nutrisi kurang
38

makan habis ¼ dari kebutuhan


porsi.
Do: -pasien
tampak tidak
nafsu makan
-Mukosa bibir
kering
-Makan habis ¼
porsi
-IMT :15/(1,1)2 :
12,3
Ds:Orangtua Ansietas Perubahan
mengatakan besar (ststus
cemas terhadap kesehatan)
anaknya
Do: Orang tua
pasien memencet
bell. Dikira suhu
naik dan bingung
terhadap
perkembangan
kesehatan
anaknya.

2) Diagnosa keperawatan
a) Hipertensi b.d penyakit
Ds: :pasien mengatakan demam.
Do:akral teraba hangat, TTV: s:390C N:100x/menit
RR:22x/menit, TD:100 /80 mmHg.
b) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d kurang
asupan makanan.
Ds:Orang tua pasien mengatakan makan habis ¼ porsi. Do:
Pasien tampak tidak nafsu makan, Mukosa bibir kering, Makan
habis ¼ porsi, IMT :15/(1,1)2 : 12,3
c) Ansietas b.d perubahan besar (status kesehatan).
Ds:Orangtua mengatakan cemas terhadap anaknya
Do: Orang tua pasien memencet bell. Dikira suhu naik dan
bingung terhadap perkembangan kesehatan anaknya.
39

g. Perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.


1) Diagnosa pertama.
Diagnosa yang pertama penulis tegakan adalah hipertermi yang
berhubungan dengan penyakit. Penulis menuiskan tujuan dari
diagnosa ini adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2x24 jam, diharapkan suhu kembali normal. Dengan
kriteria hasil sushu dalam batas norma; 36,5 0C – 37,5 0C,
kening anak tidak teraba panas skala target outcome
dipertahankan pada skala 2, ditingkatkan ke skala 4.
Rencana yang dapat dilakukan adalah dengan monitor tekanan
darah, nadi, suhu dan status pernafasan yang tepat untuk
mengetahui suhu, tekanan darah, suhu status pernafasan yang
tepat. Kompres air hangat klien oada lipat paha dan aksila,
karena panas akan berkonduksi. Berikan pakaian yang tipis dan
berbahan halus untuk mempermudah evaporasi. Dorong
konsumsi cairan, cairan yang adekuat mencegah dehidrasi.
Kolaborasi dengan tim dokter pemberian antipiretik, antipiretik
akan mempengaruhi ambang panas hipotalamus.
Implementasi mulai dilakukan pada tanggal 13 april 2019 yaitu
pada pukul 07.30 mengkaji klien dengan respon klien
0
mengatakan panas, suhu : 39 C, RR : 22x/menit, Nadi
100x/menit, TD : 100/80 mmHg.
Pukul 08.00 memberikan kompres air hangat hangat pada aksila
dengan respon klien mengatakan mau dikompres, klien
mengapit kompres bagian kanan dan kiri aksila.
Pukul 08.15 menganjurkan menggunakan pakaian yang tipis dan
menyerap keringat dengan respon klien mengatakan mau diganti
baju, pasien ganti baju.
Pukul 09.00 menganjurkan agar minum yang banyak dengan
respon klien menagtakan mau minum air hangat/teh, klien
dibantu oleh neneknya ketika minum.
40

Pukul 10.00 mengobservasi TTV dengan respon klien


mengatakan mau diperiksa, suhu :38,2, rr: 21x/menit, nadi :
110x/menit, td :100/80 mmHg.
Pukul 11.00 mengobservasi TTV dengan respon klien klien mau
diperiksa, suhu :37,5 0C, nadi : 100x/menit, rr: 20x/menit, td :
90/80 mmHg.
Pukul 13.00 mengobservasi TTV dengan respon klien
mengatakan klien mengeluh panas, suhu: 37,5 0 C, rr :19x/menit,
nadi : 98x/menit.
Pada tanggal 14 april 2019 yaitu pada pukul 7.45 melakukan
mengkaji pasien dan memantau suhu dengan respon klien
mengatakan klien sudah mendingan panasnya, suhu : 37,5 0C, rr:
22x/menit, nadi : 100x/menit, td: 100/70 mmHg.
Pukul 08.15 menganjurkan minum yang banyak denagn respon
klien mengatakan mau minum air hangat, klien minum dibantu
oleh neneknya habis 1 gelas.
Pukul 10.00 mengobservasi TTV dengan respon klien
0
mengatakan sudah tidak panas, suhu : 36,5 C, nadi :
100x/menit, rr :21x/menit, td : 100/80 mmHg.
Pukul 12.00 memantau suhu dengan respon kloien mengatakan
mau diperiksa, suhu : 36,4 0C, nadi :110 x/menit, rr: 21x/menit,
td: 90/80 mmHg.
Evaluasi diagnosa hipertermi dilakukan pada tanggal 13 april
2019 pukul 14.00 mendapatkan hasil klien mengatakan agak
panas turun, suhu : 37,5 0C, nadi : 98x/menit, rr:19x/menit,
masalah teratasi sebagian, lanjutkan intervensi 1, 4, 5.
Tanggal 14 april 2019 jam 14.15 mendapatkan hasil klien
0
mengatakan sudah tidak panas, suhu : 36,5 C, nadi :
100x/menit, rr : 21x/menit, 100/80 mmHg, masalah teratasi,
hentikan intervensi.
41

2) Diagnosa kedua
Diagnosa yang kedua penulis tegakan adalah ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan. Penulis menuliskan tujuan dari
diagnosa ini adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan
selama 2x24 jam, diharapkan nafsu makan dapat meningkat.
Dengan kriteria hasil klien makan setengah porsi, nafsu makan
meningkat, skala outcome dipertahankan pada 2, ditingkatkan
pada 3.
Rencana yang dapat dilakukan adalah dengan Monitor perubahan
nafsu makan dan aktivitas akhir-akhir ini untuk mengetahui
tingkat nafsu makan klien. Berikan makanan sedikit selagi masih
hangat karena agar kebutuhan nutrisi tercukupi. Edukasi klien
tentang kebutuhan nutrisi, kebutuhan nutrisi sangat penting untuk
proses penyembuhan. Anjurkan keluarga membawa makanan
favorit pasien, menambah nafsu makan klien.
Implementasi mulai dilakukan pada tanggal 13 april 2019 yaitu
pada pukul 10.15 mengkaji perubahan nafsu makan dengan respon
klien mengatakan klien mengatakan habis ¼ porsi, makanan
terlihat habis ¼ porsi.
Pukul 10.20 menganjurkan keluarga membawa makanan favorit
dengan respon klien mengatakan senag makan pisang, terlihat
nenek membawakan pisang lalu dimakan.
Pukul 10.25 mengedukasikan tentang kebutuhan nutrisi klien
dengan respom klien mengatakan mau makan buah-buahan dan
sayur-sayuran supaya sehat.
Pukul 11.35 memberikan makanan yang sudah dipilih dengan
respon klien mengatakan habis makan ¼ porsi, ¼ porsi makan
habis
Pada tanggal 14 april 2019 yaitu pada pukul 8.00 memberikan
injeksi via IV ondansentron 3 mg dengan respon klien mau
disuntik, obat masuk lewat infsu via IV.
42

Pukul 08.20 mengkaji pola makan pasien dengan respon klien


mengatakan makan habis ¼ porsi, ¼ porsi makan habis.
Pukul 08.30 menganjurkan keluarga membawa makanan favorit
dengan respon klien mengatakan ingin makan pisang, klien makan
pisang habis 2 buah.
Pukul 12.00 memberikan makanan yang terpilih dengan respon
klien mengatakan makan habis ¼ porsi makan.
Pukul 12.30 menganjurkan keluarga membawa makan favorit
klien saat dirumah sakit, memberi sediiit tapi sering selagi hangat
Evaluasi diagnosa ketidak seimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan dilakukan pada tanggal 13 april 2019 pukul 14.00
mendapatkan hasil klien mengatakan kalau makan habis makan ¼
porsi, makan habis ¼ porsi, masalah belom teratasi, lanjutkan
intervensi 1, 2, 3, 4.
Tanggal 14 april 2019 jam 14.15 mendapatkan hasil klien
mengatakan makan habis ¼ porsi, makan habis ¼ porsi, masalah
belom teratasi, lanjutkan intervensi 1, 2, 3, 4..

3) Diagnosa ketiga
Diagnosa yang ketiga penulis tegakan adalah ansietas
berhubungan dengan perubahan besar (status terkini). Penulis
menuiskan tujuan dari diagnosa ini adalah setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama 2 jam, diharapkan kecemasan
berkurang. Dengan kriteria hasil keadaan wajah orangtua tenang,
tidak bingung, skala outcome dipertahankan pada 1 ditingkatkan
ke 4.
Rencana yang dapat dilakukan adalah dengan berikan informasi
tentang anaknya, mengetahui kondisi terkini tentang anknya.
Jelaskan prosedur keperawatan, mengetahui prosedur perawatan
yang dilakukan. Berikan kesempatan orangtua untuk
mengungkapkan perasaannya, agar dapat mengurangi cemas,
43

berikan motivasi untuk merawat anaknya, agar dapat merawat


anaknya pada saat terjadi hal yang sama.
Implementasi mulai dilakukan pada tanggal 13 april 2019 yaitu
pada pukul 10.30 memberikan informasi tentang perkembangan
kesehatan cucu kepada neneknya, dengan respon neneknya
mengatakan bingung terkait kondisi cucunya, nenek klien terlihat
bingung dan cemas.
Pukul 10.35 memberikan motivasi kepada orang tua perawatan
anak dirumah, dengan respon nenek klien mengatakan paham akan
perawatan apa saja dibutuhkan, nenek pasien terlihat paham.
Pukul 12.00 memberikan kesempatan pada orangtua tentang
perasaannya dengan respon nenek klien mengatakan cemas pada
cucunya karena panasnya naik, wajah nenek terlihat sedih.
Pada tanggal 14 april 2019 yaitu pada pukul 09.00 memberikan
informasi tentang perkembangan kesehatan cucu kepada
neneknya, dengan respon nenek klien mengakui sangat bersyukur,
wajah nenek tenang.
Evaluasi diagnosa ansietas dilakukan pada tanggal 13 april 2019
pukul 14.00 mendapatkan hasil nenek klien mengatakan khawatir
akan kondisi anaknya apabila suhu naik, wajah klien tampak
cemas, masalah belum teratasi, lanjutkan intervensi 1.
Tanggal 14 april 2019 jam 14.15 mendapatkan hasil nenek klien
mengatakan sangat bersyukur tentang kondisi cucunya, wajah
neneknya tampak rileks, masalah teratasi, hemtikan intervensi.
44

B. PEMBAHASAN
Pada langkah ini akan membahas teori dengan praktek yang penulis ambil
yaitu batita pada An. R umur 6,5 tahun dengan demam berdarah
menggunakan model konservasi Mira Levine untuk mengatasi demam.
1. Hipertermi berbuhungan dengan proses penyakit.
a. Pengkajian secara umum.
Keluhan utama yang didapatkan dari anak pasien
akurat(autoanamnesa). Data ini akurat karena sumber data primer
adalah keluham utama yang dirasakan klien yang ditulis secara
singkat dan jelas (dua atau tiga kata) dan dikaji saat itu juga
merupakan keluhan yang membuat klien membutuhkan bantuan
pelayanan kesehatan. Sedangkan nenek klien adalah adalah termasuk
sumber data sekunder.
Sumber data sekunder adalah data yang diperoleh dari keluarga
orang terdekat, teman dan orang lain yang tahu tentang stastus
kesehatan klien. Klien tidak menagalami gangguan bicara sedangkan
sumber data primer harus didapatkan untuk memperoleh data
keluhan utama kien (Rohmah & Syaiful, 2014).
Pada pengkajian riwayat sekarang seharusnya penulis menuliskan
secara rinci klien sudah sakit sejak kapan dan tanda-tanda vital saat
diperiksa di IGD pada tanggal 13 April 2019 oleh dokter serta
tindakan atau terapi yang sudah diberikan di IGD apakah pengobatan
mengatasi keluhan pasien masuk Rumah sakit sampai penulis
melakukan pengkaijan sudah dilakukan apa saja selama menjalani
rawat inap dua hari. Hal ini karena dalam pengkaijan riwayat
sekarang setiap keluhan utama harus ditanyakan kepada klien
sedetail-detailnya dan semua diterangkan seperti sejak kapan
keluhan dirasakan, berapa lama dan berapa kali terjadi, adakah usaha
untuk mengatasi keluhan ini sebelum minta pertolongan, berhasil
atau tidaknya usaha tersebut.
45

b. Diagnosa Keperawatan
Mekanisme panas pada pasien DHF sebagai berikut virus dengue
yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia. Hal
tersebut akan menimbulkan reaksi oleh pusat pengatur suhu di
hipotalamus sehingga menyebabkan (pelepasan zat bradikinin,
serotonin, trombin, histamin) terjadinya peningkatan suhu. Alasan
diagnosa ini diangkat karena demam adalah respon tubuh melawan
virus apabila tidak ditangani dengan baik dapat menyebabkan kejang
dan kerusakan otak (Murwani & Arita, 2011). Hal ini menjadi alasan
penulis memprioritaskan masalah ini sebagai diagnosa yang utama.
Perumusan diagnosa yang dibuat sudah tepat.

c. Perencanaan.
Rencana yang disusun sudah sesuai rencana, kriteria hasil yang
dibuat sudah sesuai SMART (S=Pecific, M=Measurable,
A=achievable, R=rational/realistic, T=Timebound), rasional yang
dibuat sudah tepat, tidak ada tambahan intervensi untuk mengatasi
masalah keperawatan yang sudah diterapkan dan dapat dilakukan
sebagai berikut:
1) Konservasi energi
Perawat melakukan kompres hangat pada lipat paha/axila,
menganjurkan anak untuk banyak minum. Merawat anak,
memantau, mencatat melaporkan adanya perubahan suhu, nadi,
pernapasan. Dengan melakukan konservasi energi terhadap
pasien dapat menurunkan hipertermia karena didalam aksila
terdapat kelenjar getah bening yang penting untuk daya tahan
tubuh, dan pembuluh darah yang besar pada waktu dikompres
(konduksi). Memvasodilatasi peredaran darah terjadi peredaran
darah inti sehingga menyebabkan (evaporasi). Sehingga lebih
efektif memberikan kompres air hangat di aksila dibandingkan
dikening.
46

2) Konservasi Intregitas Struktural


Mengukur tanda-tanda vital, tanda infeksi dan melakukan
kolaborasi sampel darah atau pemeriksaan penunjang yang lain.
Memberikan terapi sesuai program dokter. Tujuan tanda-tanda
vital dan melihat hasil lab digunakan untuk mengetahui adanya
perubahannya. Apabila ada tanda-tanda vital maupun hasil lab
yang abnormal seperti suhu diatas normal dan leukosit yang
meningkat maka diperlukan tindakan yeng tepat dengan
memberikan medikasi secara farmakologis seperti pemberian
antibiotik. Sehingga masalah hipertermi dapat teratasi dengan
baik.
3) Konservasi Intergritas Personal
Keluarga diberi kesempatan mengungkapkan apa yang dirasakan
ketika anak mengalami demam yang tidak kunjung turun,
keluarga perlu diberi dukungan baik perkembangan klien dapat
difasilitasi dengan memberikan terapi maupun aktivitas yang
bersifat terapeutik, misalnya dengan menyusun jadwal aktifitas
harian, berdiskusi tentang perawatan nanti ketika pulang
kerumah. Dengan melakukan hal ini penulis mengetahui apa saja
hal-hal yang dirasakan keluarga, keluarga mengetahui
perkembangan anaknya sehingga dapat menurunkan intensitas
kecemasan yang dialami keluarga.
4) Konservasi Integritas Sosial
Perawat menganjurkan keluarga untuk berada disamping anak
secara bergantian dengan keluarga yang lain, memberi
kesempatan mereka untuk merawat, menyentuh, berbicara, dan
mendoakan klien ketika berkunjung, memotivasi keluarga dalam
merawat anak sudah diperbolehkan nanti. Dilihat dari sisi anak
yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua hal ini dapat
memberikan kenyamanan, rasa aman ketika keluarga disisi
pasien.
47

Didalam naskah publikasi intervensi keperawatan yang


dilakukan pada An. Alt. adalah memantau keadaan umum anak,
tanda-tanda vitalmulai dari suhu tubuh, frekuensi pernapasan,
irama jantung, status pernapasan. Telah dilakukan intervensi
keperawatan: dengan cara mempertahankan suhu lingkungan
tetap sejuk, menganjurkan orangtua untuk membantu agar
anaknya dapat menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap
keringat, mengompres dengan air hangat, mengatur posisi tirah
baring, kolaborasi pemberian parasetamol, mengukur suhu
setiap jam, mengidentifikasi penyebab peningkatan suhu tubuh
(faktor infeksi: hasil laboratorium: nilai leukosit dan kultur
darah), memantau status hidrasi (keseimbangan cairan, kondisi
membran mukosa dan turgor kulit), kolaborasi pemberian
antibiotic(Hartini, 2012). Intervensi sudah dilakukan sesuai
dengan naskah publikasi.

d. Implementasi.
Implementasi yang dilakukan sudah sesuai apa yang telah
direncanakan. Namun didalam kaidah pendokumentasian terdapat
banyak coretan, untuk penulisan waktu, dan sudah diparaf.
Rencana tindakan kemudian diimplementasikan berdasarkan konsep
konservasi energi, integritas struktural, integritas personal, dan
integritas sosial tersebut. Dari konservasi energi didapatkan pasien
mau minum, dan mengkompres air hangat di bagian aksila. Respon
pasien mau dikompres bagian axila, pasien mengapit kompres
sebelah kanan dan kiri. Melakukan observasi penurunan suhu
dilakukan setiap 2 jam sekali untuk mengetahui tingkat keberhasilan
sebelum dan sesudah dilakukan kompres. Hasilnya terdapat
penurunan suhu dari 39 0C menjadi 36,5. Respon pasien mengatakan
sudah tidak panas. Selama implementasi tidak ada kendala yang
dihadapi.
48

Konservasi intregitas struktural dilakukan pemeriksaan tanda-tanda


vital dan tanda infeksi selama 2 hari, tidak ada peningkatan suhu,
dan tanda-tanda vital yang abnormal. Respon pasien mau diperiksa,
hasil tanda-tanda vital sebagai berikut suhu : 36,4 0C, nadi :110
x/menit, rr: 21x/menit, td: 90/80 mmHg. Hasil lab menunjukan sel
darah putih 2.10 103/µL (nilai normal 4.00 – 11.00 103/µL). Tidak
ada kendala selama dilakukan implementasi.
Konservasi intregitas personal yang dilakukan adalah memberikan
terapi sesuai anjuran dokter memberikan terapi parenteral seperti
paracetamol 200 mg. Respon pasien mau diinjeksi, obat masuk via
iv, terjadi penurunan suhu terhitung dari jam 08.00-12.00, dari suhu
39 0C menjadi 37,5 0C. Tidak ada kendala yang ditemui. Namun
penulis lupa menuliskan di implementasi tentang pemberian terapi
obat paracetamol, intunal syrup, aplasis.
Konservasi intregitas sosial, didalam hal ini pasien terlihat ditunggui
oleh keluarga dan merawat, mengajak berbicara pasien. Tidak ada
kendala yang ditemui.
Didalam naskah publikasi Implementasi keperawatan yang
dilakukan pada An. Alt. adalah memantau keadaan umum anak,
tanda-tanda vitalmulai dari suhu tubuh, frekuensi pernapasan, irama
jantung, status pernapasan. Telah dilakukan implementasi
keperawatan: dengan cara mempertahankan suhu lingkungan tetap
sejuk, menganjurkan orangtua untuk membantu agar anaknya dapat
menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat,
mengompres dengan air hangat, mengatur posisi tirah baring,
kolaborasi pemberian parasetamol, mengukur suhu setiap jam,
mengidentifikasi penyebab peningkatan suhu tubuh (faktor infeksi:
hasil laboratorium: nilai leukosit dan kultur darah), memantau status
hidrasi (keseimbangan cairan, kondisi membran mukosa dan turgor
kulit), kolaborasi pemberian antibiotic(Hartini, 2012).
Implementasiyang dilakukan sudah sesuai naskah publikasi.
49

e. Evaluasi.
Evaluasi yang dilakukan berhasil teratasi dengan didapatkan
penurunan suhu dari 39 0C menjadi 36,5 0C. menunjukkan bahwa
rata – rata suhu tubuh sesudah diberikan kompres air hangat adalah
37,4 ºC dan suhu sesudah pemberian kompres air hangat adalah
37,3ºC. Sedangkan rata – rata suhu tubuh sebelum pemberian sponge
bath 37,6 ºC dan suhu tubuh sesudah pemberian sponge bath 37,3ºC.
Hal ini sesuai dengan teori Hockenberry (Wilson, 2009)
Mempertahankan intervensi sesuai tujuan dan kriteria hasil. Namun
didalam naskah publikasi didapatkan hasil evaluasi setelah 3 minggu
dilakukan intervensi: Ibu mengatakan anak masih panas, kesadaran
0
apatis, suhu masih tinggi, tidak pernah turun di bawah 38 C, anak
terkadang kejang twitcing 1-2 dtk, kulit ektremitas atas dan bawah
tampak kemerahan, anak tampak dikompres hangat di keningnya,
ibu tampak membasuh tubuh anak dengan air hangat. Lingkungan
ruangan ada AC diatur sesuai kebutuhan anak. Kolaborasi untuk
pemberian terapi penurun panas: paracetamol 2x250 drip bila suhu
di atas 39 0C dan pemberian antibiotik: Piptazobactam 4x750 mg IV.
Trophicognosis peningkatan suhu tubuh (demam) belum teratasi
(Hartini, 2012). Dikarenakan kondisi anak Alt yang sudah kronis
infeksi sudah sepsis diagnosa dengan bronkopenemoni. Suhu tidak
pernah dibawah 38 0C.

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan


kurang asupan makanan.
a. Pengkajian secara umum
Pada pengkajian perlu di tambahkan sebelum sakit pada nutrisi
metabolik seharusnya menanyakan bagaimana kondisi pasien pada
saat itu, apakah orangtua benar-benar sudah menimbang berat badan
akurat dengan timbangan, berapa kali dalam seminggu
50

menimbangnya, dan menanyakan kondisi tubuh pasien pada saat


dirawat dan sebelum, apakah tanda-tanda penurunan berat badan.
b. Diagnosa keperawatan
Ketika virus masuk kedalam tubuh akan timbul mekanisme
pertahanan tubuh sehingga menyebabkan adanya peningkatan asam
lambung lalu terajdi perubahan nafsu makan seperti mual, anoreksia,
muntahsehingga terjadi ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan kurang asupan makanan (Murwani &
Arita, 2011). Apabila intake nutrisi yang terganggu tidak segera
diatasi adalah kebutuhan tubuh akan energi tidak terkucupi, tubuh
menjadi kurus, mudah terserang penyakit karena daya tahan tubuhnya
menurun. Ini menjadi alasan penulis memprioritaskan masalah ini
sebagai diagnosa yang kedua.
c. Perencanaan
Rencana yang disusun sudah sesuai rencana, kriteria hasil yang dibuat
sudah sesuai SMART (S=Pecific, M=Measurable, A=achievable,
R=rational/realistic, T=Timebound), rasional yang dibuat sudah tepat,
tidak ada tambahan intervensi untuk mengatasi masalah keperawatan
yang sudah diterapkan dan dapat dilakukan seperti sebagai berikut:
1) Konservasi energi
Memberi makanan sedikit tapi sering selagi masih hangat.
Makanan yang hangat meningkatkan nafsu makan pasien dan
sedikit demi sedikit nutrisi yang diperlukan dapat terpenuhi.
2) Konservasi Intregitas Struktural
Monitor perubahan nafsu makan dan aktivitas akhir-akhir ini.
Perubahan nafsu makan sangat berpengaruh pemenuhan intake
nutrisi, diperlukan adanya hal ini jika tidak maka hal yang terjadi
adalah pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan.
51

3) Konservasi Intergritas Personal


Edukasi pasien tentang kebutuhan nutrisi, anjurkan keluarga
membawa makanan favorit pasien. Dengan membawa favorit
pasien, maka pasien pasien mau makan banyak.
Di dalam naskah publikasi kolaborasi dengan tim gizi dalam
perencanaan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Selanjutnya adalah
mengkaji status nutrisi terkait asupan nutrisinya, memberikan nutrisi
sesuai dengan usia dan program, memantau output nutrisi dan
melakukan penimbangan berat badan(Haritini, 2012). Intervensi yang
dilakukan sesuai naskah publikasi.
d. Implementasi
Implementasi yang dilakukan sudah sesuai apa yang telah
direncanakan. Namun didalam kaidah pendokumentasian terdapat
banyak coretan, untuk penulisan waktu, dan sudah diparaf.
Rencana tindakan kemudian diimplementasikan berdasarkan konsep
konservasi energi, integritas struktural, integritas personal, dan
integritas sosial tersebut.
Didalam melakukan implementasi konservasi energi sperti memberi
makanan sedikit tapi sering selagi masih hangat dan berupa makanan
yang disenangi pasien adalah pisang. Disini mengalami kendala
pasien hanya mampu menghabiskan ¼ porsi makan saja. Dikarenakan
di dalam konservasi struktural menunujukan nafsu makan pasien yang
tidak bertambah dan sudah menjadi pola kebiasaan makan makanan
yang sedikit ketika dirumah. Implementasi konservasi intregitas
personal pasien paham apa saja makanan yang dubutuhkan dan dapat
menjawab pertanyaan yang diajukan. Dalam hal ini tidak terdapat
kendala. Didalam naskah publikasi didapatkan kolaborasi dengan tim
gizi dalam perencanaan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Selanjutnya
adalah mengkaji status nutrisi terkait asupan nutrisinya, memberikan
nutrisi sesuai dengan usia dan program, memantau output nutrisi dan
52

melakukan penimbangan berat badan(Hartini, 2012). Implementasi


yang dilakukan sudah sesuai dengan naskah publikasi.

e. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan belum teratasi, makan hanya ¼ porsi.
Didalam jurnal mengatakan bahwa didalam pemenuhan nutrisi belum
bisa teratasi karena nafsu makan pasien kurang(Hartini, 2012).
pertahankan intervensi sesuai tujuan dan kriteria hasil.

3. Ansietas berhubungan dengan perubahan besar (status kesehatan).


a. Pengkajian secara umum
Pada pengkajian seharusnya menambahkan perasaan yang
dirasakan orang tua terhadap anak yang tidak kunjung sembuh.
b. Diagnosa keperawatan
Ketika demam belum kunjung turun sehigga menyebabkan
keluarga cemas apabila tidak diatasi maka yang terjadi cemas yang
berkelanjutan (Murwani & Arita, 2011). Ini menjadi alasan penulis
memprioritaskan masalah ini sebagai diagnosa yang ketiga.
c. Perencanaan
Rencana yang disusun sudah sesuai rencana, kriteria hasil yang
dibuat sudah sesuai SMART (S=Pecific, M=Measurable,
A=achievable, R=rational/realistic, T=Timebound), rasional yang
dibuat sudah tepat, tidak ada tambahan intervensi untuk mengatasi
masalah keperawatan yang sudah diterapkan dan dapat dilakukan
sebagai berikut:
1) Konservasi Intergritas Personal dan Sosial
Keluarga diberi kesempatan mengungkapkan apa yang
dirasakan ketika anak mengalamai demam yang tidak kunjung
turun, keluarga perlu diberi dukungan baik perkembangan
klien dapat difasilitasi dengan memberikan terapi maupun
aktivitas yang bersifat terapetuk, misalnya dengan meyusun
53

jadwal aktifitas harian, berdiskusi tentang perawatan nanti


ketika pulan kerumah. Perawat menganjurkan keluarga untuk
berada disamping anak secara bergantian dengan keluarga
yang lain, memberi kesempatan mereka untuk merawat,
menyentuh, berbicara, dan mendoakan klien ketika
berkunjung, memotiavasi keluarga dalam merawat anak sudah
diperbolehkan nanti. Dengan melakukan hal ini setidaknya
dapat menurunkan tingkat kecemasan yang dialami
keluarganya.
Didalam naskah publikasi Trophicognosis untuk gangguan pada
integritas sosial ternyata tidak hanya muncul pada kasus utama,
tetapi pada semua kasus muncul masalah kecemasan pada
orangtua dan anak. Kecemasan pada orangtua ini dialami oleh
semua orangtua kasus kelolaan residen. Hal ini terjadi karena
ketidaktahuan, kurang paham, tidak mengerti, dan salah
menginterpretasikan informasi. Hal ini terjadi karena orangtua
klien terutama ibu yang pendidikannya di bawah SMA atau
sederajat namun tidak paham tentang perawatan dan medis atau
kedokteran. Peran residen untuk dapat menjadi mediator,
menjelaskan, menyediakan waktu untuk mendengar mereka.
Residen saat seperti ini berperan sebagai pendidik(Hartini, 2012).
Intervensi yang dilakukan sudah sesuai dengan naskah publikasi.
d. Implementasi
Implementasi yang dilakukan sudah sesuai apa yang telah
direncanakan. Namun didalam kaidah pendokumentasian terdapat
banyak coretan, untuk penulisan waktu, dan sudah diparaf. Pada
penatalaksanaan konseravasi intregitas personal dan sosial dengan
memberikan informasi tentang perkembangan anaknya dan
memberi kesempatan untuk mengekpresikan perasaannya sesuai
kriteria waktu yang ditentukan dapat meminimalisir tingkat
kecemasan oleh neneknya. Respon yang secara subjektif keluarga
54

pasien paham akan perkembangan cucunya dan mampu


mengekspresikan perasaan yang dirasakannya. Selama
penatalaksanaannya tidak terdapat kendala. menurut naskah
publikasi didapatkan didalam pelaksanaan yang dilakukan,
kecemasan orangtua bertambah karena anaknya tak kunjung
membaik dalam waktu yang lama(Hartini, 2012). Implementasi
yang dilakukan sudah sesuai dengan naskah publikasi.
e. Evaluasi
Evaluasi yang dilakukan berhasil teratasi dengan didapatkan nenek
pasien mengaku sangat senang, wajah orang tua rileks. Didapatkan
dalam naskah publikasi terdapat kecemasan orang tua belum
teratasi karena kondisi anaknya tak kunjung membaik(Hartini,
2012). Karena anak sudah menjalani perawatan selama kurang
lebih 3 minggu. Menghentikan intervensi ketika tujuan dan kriteria
hasil sudah tercapai.
55

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Penulis melakukan penelitian pada An “R” dengan Demam Berdarah

diruang Alamanda Rumah Sakit Santa Maria Pemalang yang dimulai pada tanggal

13 Maret – 14 Maret 2019, dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan

yang mencangkup pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaa,

penatalaksanaan keperawatan, serta evaluasi.

A. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, asuhan keperawatan demama

berdarah pada anak “R”, dari pengkajian didapatlkan 3 diagnosa

keperawatan yang menjadi prioritas yaitu hipertermi berhubungan dengan

penyakit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan

dengan kurang asupan makanan, ansietas berhubungan dengan perubahan

status terkini.

Pada diagnosa keperawatan hipertermi berhubungan dengan penyakit

Evaluasi yang dilakukan berhasil teratasi Dari konservasi energi didapatkan

pasien mau minum, dan mengkompres air hangat di bagian aksila. Respon

pasien mau dikompres bagian axila, mengapit kompres sebelah kanan dan

kiri. Melakukan observasi penurunan suhu dilakukan setiap 2 jam sekali

untuk mengetahui tingkat keberhasilan sebelum dan sesudah dilakukan

kompres. Hasilnya terdapat penurunan suhu dari 39 0C menjadi 36,5.

Respon pasien mengatakan sudah tidak panas. Selama evaluasi tidak ada

kendala yang dihadapi. Konservasi intregitas struktural dilakukan


56

pemeriksaan tanda-tanda vital dan tanda infeksi selama 2 hari, tidak ada

peningkatan suhu, dan tanda-tanda vital yang abnormal. Respon pasien

mau diperiksa, hasil tanda-tanda vital sebagai berikut suhu : 36,4 0C, nadi

:110 x/menit, rr: 21x/menit, td: 90/80 mmHg. Hasil lab menunjukan sel

darah putih 2.10 103/µL (nilai normal 4.00 – 11.00 103/µL). Tidak ada

kendala selama dilakukan implementasi. Konservasi intregitas personal

yang dilakukan adalah memberikan terapi sesuai anjuran dokter

memberikan terapi parenteral seperti paracetamol 200 mg. Respon pasien

mau diinjeksi, obat masuk via iv, terjadi penurunan suhu terhitung dari jam

08.00-12.00, dari suhu 39 0C menjadi 37,5 0C. Tidak ada kendala yang

ditemui.dengan didapatkan penurunan suhu dari 39 0C menjadi 36,5 0C.

menunjukkan bahwa rata – rata suhu tubuh sesudah diberikan kompres air

hangat adalah 37,4 ºC dan suhu sesudah pemberian kompres air hangat

adalah 37,3ºC. Sedangkan rata – rata suhu tubuh sebelum pemberian

sponge bath 37,6 ºC dan suhu tubuh sesudah pemberian sponge bath

37,3ºC. Hal ini sesuai dengan teori Hockenberry (Wilson, 2009).

Mempertahankan intervensi sesuai tujuan dan kriteria hasil.

Sedangkan diagnosa ketidakseimbangan nutrisi kurang dari

kebutuhan berhubungan dengan kurang asupan makanan. Evaluasi yang

dilakukan belum teratasi, Didalam melakukan evaluasi konservasi energi

sperti memberi makanan sedikit tapi sering selagi masih hangat dan berupa

makanan yang disenangi pasien adalah pisang. Disini mengalami kendala

pasien hanya mampu menghabiskan ¼ porsi makan saja. Dikarenakan di


57

dalam konservasi struktural menunujukan nafsu makan pasien yang tidak

bertambah dan sudah menjadi pola kebiasaan makan makanan yang sedikit

ketika dirumah. Implementasi konservasi intregitas personal pasien paham

apa saja makanan yang dubutuhkan dan dapat menjawab pertanyaan yang

diajukan.makan hanya ¼ porsi. Didalam jurnal mengatakan bahwa didalam

pemenuhan nutrisi belum bisa teratasi karena nafsu makan pasien

kurang.(Hartini, 2012). Mempertahankan intervensi sesuai tujuan dan

kriteria hasil.

Pada diagnosa ansietas berhubungan dengan perubahan status terkini.

Evaluasi yang dilakukan berhasil teratasi pada penatalaksanaan konseravasi

intregitas personal dan sosial dengan memberikan informasi tentang

perkembangan anaknya dan memberi kesempatan untuk mengekpresikan

perasaannya sesuai kriteria waktu yang ditentukan dapat meminimalisir

tingkat kecemasan oleh neneknya. Respon yang secara subjektif keluarga

pasien paham akan perkembangan cucunya dan mampu mengekspresikan

perasaan yang dirasakannya. Didapatkan dalam jurnal dengan melakukan

intervensi sedemikian rupa dapat menimalisir tingkat kecemasan pasien(

Hartini).Menghentikan intervensi ketika tujuan dan kriteria hasil sudah

tercapai.
58

B. Saran

Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan dan penelitian ini,

panulis akan memberikan saran kepada seluruh pembaca khususnya kepada

tenaga kesehatan dan masyarakat.

1. Bagi peneliti selanjutnya

Dengan kekurangan yang telah dilakukan penulis dalam

pembuatan study kasus ini diharapkan untuk peneliti selanjutnya

melakukan pengkajian lebih mendalam untuk mengetahui ada atau

tidaknya indikasi yang sesuai untuk model pendekatan Levine

sehingga mendapatkan hasil akhir yang maksimal.

2. Bagi rumah sakit

Diharapkan rumah sakit dapat memberikan kebijakan kepada

perawat dalam penerapan model pendekatan Levine terhadap pasien

anak dengan demam.

3. Bagi perawat

Diharapkan perawat dapat menerapkan model pendekatan

Levine dalam intervensi keperawatan untuk mengatasi Demam.


59

DAFTAR PUSTAKA

Alligood, & Tomey. (2010). Nursing Theories and Their Work. USA: Elsevier.

Avner. (2009). Acute fever. Pediatric Review.

Broom. (2007). Physiology Of Fever. Pediatric Nursing.


Caroll, Judith, & W.N. (2012). Rencana Asuhan Keperawatan Maternal . Jakarta:
EGC.

Dinarti. (2009). Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: trans Info Media.

Handayani, Wiwik, Hariwibowo, & Sulistyo, A. (2008). Buku Ajar Keperawatan


Pada Klien Dengan Gangguan Sistem Hematologi. Jakarta: Salemba
Medika.

Hartono, J. (2018, Juni 4). Biologi. Retrieved from Biomagz: https://encrypted-


tbn0.gstatic.com/images?q=tbn%3AANd9GcT71ogmGCOIlZWXDny_sK
0m3wQbbBpk9bsjviGD9iGLf7VMuE80

Hidayat, & Azis, A. (2008). Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah.
Jakarta: Salemba Medika.

Hutahean. (2010). Konsep dan Dokumentasi proses Keperawatan. Jakarta: Trans


Info Media.

Kementrian Kesehatan RI. (2017). Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017.


Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Retrieved from
http://www.kemkes.go.id

Lestari, T. (2016). Asuhan Keperawatan Anak. Yogyakarta: Nuha Medika.

Murwani, & Arita. (2011). Perawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha


Medika.

Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta: Salemba


Medika.
60

Nursalam. (2014). Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salaemba


Medika.

Pediatrics and International Child Health. (2012, May 22-27). Dengue Fever and
Dengue haemorrhagic fever in aolescents and adults. Retrieved from
NCBI: https://www.ncbi.nih.gov/pmc/articles/PMC3381442/

Potter, & Perry. (2010). Fundamentals of nursing: fundamental keperawatan;


buku 2 edisi 7. . Jakarta: Salemba Medika.

Price, SA, Wilson, & LM. (2005). Patofisiologi: Konsep Proses-proses Penyakit.
Volume 2 Edisi 6 . Jakarta: EGC.

Rohmah, & Syaiful. (2014). Proses Keperawatan : Teori dan Aplikasi. Jakarta:
Ar-Ruzz Media.

Sibernagl. (2007). Teks dan Berwarna Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Sloane, E. (2003). Anatomi Fisiologi Untuk Pemula. Jakarta: EGC.

Smeltzer, C, Bare, S., & Brenda. (2008). Buku Ajar Medikal Bedah, Volume 2,
Edisi 8. Jakarta: EGC.

Sodikin. (2012). Prinsip Perawatan Demam Pada Anak. Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Soegijanto, & Soegeng. (2006). Demam Berdarah Dengue. Surabaya: Airlangga


University Press.

Sudoyo, A. W. (2010). Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta: Interna
Publishing.

Sugiyoni. (2008). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,


Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sumarmo. (2012). Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.

Tarwoto, & Wartonah. (2015). Kebutuhan Dasar manusia dan Proses


Keperawatan. Jakarta: EGC.
61

WHO. (2018). Dengue and Severe Dengue. Dipetik Maret 17, 2019, dari World
Health Organization: http://www.who.int/news-room/fact-
sheets/detail/dengue-and-severe-dengue

Wilson, H. &. (2009). Essential Of Pediatric Nursing. St.Luis: Mosby Elseiver.

Wong, D. L., Hockenberry, M, W. D., W. M., & L, S. P. (2009). Bukui


Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Yaeger, S. (2002). Model Konservasi Myra Levine. Retrieved from


http//www.scribd.com

Yunanto. (2010). BUku Neonatologi. Jakarta: Ikatan Bayi Indonesia.

Yusuf, S. (2009). Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

Hartini Sri. (2012). Skripsi Aplikasi Model Konservasi Myra E. Levinedalam


Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Demam Di Ruang Rawat Infeksi Anak
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto Mangunkusumo Jakarta. Fakultas
keperawatan ilmu kesehatan universitas indonesia:Jakarta.